Title: Bus Accident
Author: sungraekyuri
Genre: Romance, Fluff, Comedy (garing)
Rating: PG-13
Main Casts: Cho Kyuhyun (Super Junior), Choi Hyunjoon (OC)
Minor Casts: Jung Insa (OC), Kim Soorin (OC)
Disclaimer: Cho Kyuhyun punya dirinya sendiri, Choi Hyunjoon punya eonni saya, Jung Insa dan Kim Soorin punyanya otak saya (?)
Anyway, FF ini pernah dipublish di blog pribadi saya: boxandtreasure.wordpress.com

Annyeong haseyo yeorobeun~ ^^ saya writer freelance baru, ini FF pertama saya yang dipublish di FFL~
Joneun Aufa imnida, nama korea saya Lee Sungra *kekeke*, boleh dipanggil Aufa, Auf, Fa, Sungra, Vape, Vap, Vapai (yang Vape dan cs-csnya jangan tanya darimana, ceritanya panjanggg *emang ada yang mau tanya?*), dipanggil chingu atau author juga boleh. Terserah readers sajo~

Selamat menikmati (?) eh maksud saya selamat membaca, chingudeul!

(Not evil couple scene :))

Pluk!

Aku merasakan sesuatu yang hangat menutupi wajahku, hingga aku terpaksa bangun dari aktivitas tidur siang di bus-ku. Tanganku sudah hampir menyingkirkan benda yang mengganggu nafasku itu saat terdengar suara dari sebelahku

“Cih, bisa-bisanya ketiduran di bus. Pakai acara mangap pula,”

Aku menggerutu dalam hati. Apa salahnya sih tidur di bus?
Eh, tapi memangnya aku tadi mangap ya? Berarti dia — orang di sebelahku — lihat, dong?
Huaaaaa, eotteohkae? Tapi mulutku mingkem gini kok ._.

“Yeoja bodoh,” katanya lagi.

Tunggu. Suara namja? Pantas saja ‘sesuatu’ yang menutupi wajahku ini menguarkan aroma parfum maskulin bercampur keringat yang rada apek.
Hajiman… sepertinya aku kenal parfum ini…

Aku buru-buru mengusir pikiran itu. Namja yang pakai parfum kayak gitu kan gak cuma satu, babo Hyunjoon-a! Mungkin saja parfum itu sama dengan punya namjachingunya eonni yang sering ngapel itu, atau mungkin salah satu anak di kelasku, atau appa, eh, appa nggak mungkin pakai parfum ABG kayak gini!

Aku masih sibuk sendiri dengan pikiranku saat bus berhenti dan namja di sebelahku beranjak dari kursinya

Yah, kok pergi sih?

Setelah memastikan namja itu betul-betul turun, dengan leluasa aku menarik ‘sesuatu’ itu dari wajahku dan mengamatinya.
Sweater, sepertinya seragam sekolah. Aku mencari logo sekolahnya.

Dari Gangnam High School.

Sebentar. Itu kan sekolahku? Berarti namja tadi satu sekolah denganku? Gila, malu-maluin! Refleks aku menggeplak kepalaku sendiri, dan sukses membuat beberapa penumpang memandangku dengan tatapan aneh.

Masa bodolah. Toh yang digeplak kan kepalaku. Aku melanjutkan aktivitas mengamati sweater itu dan menemukan nama pemiliknya, terbordir rapi dengan benang putih di bagian dada kiri.

Cho Kyuhyun

“GYAAAAAAAAAA!” setengah sadar, aku berteriak kaget. Semua orang menoleh kepadaku, beberapa malah cekikikan sambil menunjukku terang-terangan.

Ups.

“Mianhamnida, mianhamnida!”

Darah mengalir deras ke pipiku. Sial. Pasti wajahku sudah semerah kepiting rebus sekarang

Setelah turun dari bus, aku masih harus berjalan ke rumahku yang berjarak sekitar 100 meter dari halte. Biasanya jarak segitu terasa dekat, tapi dengan mood hancur begini jaraknya jadi berlipat-lipat.
Sambil berjalan, tanganku mendekap sweater cokelat yang sukses mempermalukanku di bus tadi. Selain karena udara dingin –sekarang musim semi, tapi hawa musim dingin masih lumayan terasa, ditambah hujan deras yang kadang turun– aku juga malas memasukkan sweater keparat itu ke tas.

Kira-kira orang itu kedinginan nggak ya? Duh, aku jadi merasa bersalah padanya, si Kyuhyun itu. Tapi kan salahnya sendiri, kenapa tadi dia menutupi wajahku dengan sweaternya?

Eh, tapi dia kan sudah menyelamatkan wajah memalukanku dari khalayak umum ._.

Tentang Kyuhyun, dia sekelas denganku di Gangnam, kelas 3-1 –sarang para jenius, katanya–. Yah, kuakui dia memang jenius, beda denganku yang untung-untungan saja bisa masuk 3-1. Ia pernah memenangkan olimpiade matematika, dan karena itu –plus wajahnya yang lumayan– dia jadi idola sekolah. Tapi sikapnya pada para yeoja yang menggilainya, ampuuuuun~ dingin sekali!
Dia juga terkenal jahil, master of evil kalau kata namja-namja di kelasku. Hampir semua orang pernah merasakan dijahili oleh seorang Cho Kyuhyun, tapi anehnya tidak ada yang protes dengan sikapnya yang satu ini.

Selain itu, dia tak pernah bisa lepas dari handheld console-nya. Aku sering memergokinya main PSP saat pelajaran. See, si ‘murid teladan’ ternyata suka nyambi-nyambi waktu belajar.

Kalian pasti bertanya-tanya dari mana aku bisa tahu sedetil itu, kan?
Bukan. Bukan karena aku termasuk pengagum sejatinya macam para yeoja kecentilan itu. Yeah, aku, sialnya, duduk di sebelah Cho Kyuhyun berdasar hasil undian pembagian tempat duduk semester ini. Makanya aku merasa familiar dengan aroma parfum tadi.

Hal itu juga yang membuat para anggota KFC –Kyuhyun Fans Club, tapi aku lebih sering menganggapnya Kentucky Fried Chicken– menghadiahiku tatapan ganas dan sindiran pedas saat awal-awal aku duduk di sebelahnya, yang sama sekali tak kutanggapi

Kayak aku bangga saja duduk di sebelahnya. Yang ada juga seperti bersebelahan dengan patung yang jenius matematika, bisa bergerak, makan, minum, dan kentut. Kami jarang berbicara satu sama lain — satu yang kuingat adalah saat ia meminjam bolpoinku tempo hari, yang bahkan sampai detik ini belum dikembalikan.

Apa sebagai balasan untuk bolpoinku, sweater ini nggak usah kukembalikan, ya?

Aish, kenapa sudah pagi lagi?
Selesai mandi dan berpakaian, aku menyambar tasku dan memasukkan sweater Kyuhyun yang sudah dicuci dan terlipat rapi. Rencana menahan sweater ini sampai bolpoinku kembali kugagalkan. Aku juga masih punya hati nurani -____-

Sambil menuruni tangga, aku merapikan seragam. Lalu aku menyapa eomma yang masih sibuk di dapur, berpamitan, dan mengambil setangkup roti bakar di meja makan sebelum berjalan keluar rumah. Dari kecil aku terbiasa sarapan sambil menunggu bus di halte.

Tepat setelah aku melahap potongan roti terakhir, bus yang menuju sekolahku datang dan aku segera naik ke bus.
Hmm, pagi yang normal. Normal~ sekali. Semoga hari ini berjalan seperti biasa

Baru saja pintu lokerku kututup ketika beberapa yeoja menghampiriku. Aku melengos sambil menggerutu dalam hati begitu mengenali para yeoja itu. Mereka fans fanatik Kyuhyun yang paling fanatik, dan salah satu dari mereka, Kim Soorin, adalah ‘pendiri’ KFC (padahal sampai sekarang aku masih bingung, apa coba yang bisa dikagumi dari seorang Cho Kyuhyun? Kebetulan saja dia pintar dan wajahnya tampan. Kelakuan? Nol besar!)

Kakiku sudah mulai melangkah saat suara cempreng Soorin terdengar.

“Choi Hyunjoon-a, tunggu sebentar!”

Aku terpaksa berbalik. Sumpah, aku malas berurusan dengan gerombolan yeoja sok ini. Dan sekarang, Soorin tersenyum padaku dengan senyum palsu memaksanya. Hmm, pasti ada sesuatu di balik senyuman itu…

“Tolong berikan ini pada Kyuhyun oppa,” katanya sambil menyerahkan sebuah kotak kecil warna pink

Tuh, kan?

Dan apa-apaan itu? Kado? Seingatku ulang tahun Kyuhyun dan Valentine sudah lewat, tapi kenapa dia dapat kado?
Bahkan saat ulang tahunku minggu lalu tidak ada yang memberiku hadiah! Dunia memang tidak adil.

Oh, oke. Kembali ke kenyataan.

Aku mengambil kotak itu dan mengangguk kecil, lalu kembali berjalan ke kelas tanpa mempedulikan reaksi Soorin. Toh dia juga tak bakal mau repot-repot mengucapkan terima kasih padaku

Begitu memasuki kelas, aku langsung duduk di kursiku. Si Tuan Cho itu belum datang. Aku hapal tabiatnya yang selalu masuk mepet beberapa menit sebelum bel. Ah, sebodo amat!

Beberapa saat kemudian, terdengar ribut-ribut dari arah koridor. Teriakan histeris yeoja-yeoja terdengar keras sekali. Pasti Kyuhyun.

Dalam hati aku mulai menghitung. 5, 4, 3, 2, 1… dan pintu terbuka. Kyuhyun masuk dengan wajah kusut. Ia melempar tasnya ke meja di sebelahku dan menghempaskan tubuhnya ke kursi sambil membuka jaketnya.

“Cih, para yeoja itu ribut sekali. Telingaku sakit.” desisnya. Aku hanya diam dan menaruh kotak pink Soorin di depannya.

“Dari Soorin, Kim Soorin,” kataku cepat, takut dia GR mengira kado itu dariku. Kyuhyun tidak mengatakan apapun, ia hanya memasukkan kotak itu ke laci mejanya.

“Aish, tidak cukup,” gerutunya. Aku ikut melongok ke lacinya. Gila, laci Kyuhyun penuh kotak berwarna-warni. Pasti kado dari fansnya o.o
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku buru-buru merogoh tas dan mengambil kain wol cokelat yang terlipat rapi.

“Nih, sweatermu. Erm, gomawo,” kataku pelan, pelaaaaaan sekali, berharap ia tak mendengarnya
“Ne, cheonmaneyo,” balasnya. Lah, dia denger? O.O Telinganya tajam juga ternyata

“Lain kali, kalau tidur di bus jangan pakai mangap,” tambahnya.
IGE MWOYA?!
“Ya! Shikkeuro!”
“Masih mending aku menutupi wajahmu dengan sweaterku. Eh, tunggu, kamu nggak ngiler, kan?” dia membalik sweaternya. Kurang ajar!
“Enak saja, itu sudah dicuci!” aku melotot marah

“Harusnya kemarin kau kufoto dulu, lalu ditempel di mading sekolah,” ia tertawa lepas. Tumben dia ketawa di depanku, ada juga biasanya cuma diam sambil mantengin PSP.
Aku menggembungkan pipiku dan membuang muka. Seharusnya sweater itu nggak usah aku kembalikan –”

Aku meliriknya yang masih tertawa. Cih, apa sih yang lucu sampai dia bisa tertawa selama itu?

Eh, tapi saat tertawa wajahnya jadi makin tampan…
Lho? Aku mikir apaan sih?
Spontan aku menepuk-nepuk pipiku yang memanas. Aigoo~ aku ini kenapa?

Kim seonsaengnim memberesi peralatannya, memberi salam lalu keluar kelas. Aku meregangkan tubuhku yang pegal dan menengok ke sebelah kiri.

Ealah~ makhluk babo itu tertidur dengan earphone terpasang di telinganya. Bisa-bisanya ia tidur saat pelajaran Kim seonsaengnim yang terkenal killer itu -…..-

Aku jadi mengamatinya tanpa sadar. Kulitnya putih banget, mendekati pucat. Rambut ikal acak-acakan yang menutupi alis dan beberapa jerawat di pipi. Tch, nobody’s perfect, kekekeke

Wajahnya saat tidur polos sekali, sudut bibirnya agak tertarik ke atas dan membentuk segaris senyum tipis. Aura evil dan sok cool-nya menghilang. Aku jadi merasa dia lebih mendingan dalam keadaan tidur ._. Tanpa sadar aku ikut tersenyum kecil saat mengamati sosoknya yang sedang tidur

“Ya, jangan memandangi orang yang baru tidur seperti itu. Nanti kau jadi suka,” kata Kyuhyun.

Eh?

“Siapa yang memandangi orang yang baru tidur?” aku mengelak.
“Sambil senyum senyum kayak orang gila juga,” tambahnya, masih dengan mata tertutup. Huaaaa, dari mana dia tahu?
“Kau terpesona padaku, kan?” katanya lagi. Dasar PD akut -….-
“Terserah kau sajalah!” gumamku kesal. Ia terkekeh dan menegakkan tubuhnya sambil mengucek-ucek mata. Kyaaaaaa, kayak anak kecil! Kyeopta! Apalagi dengan rambut acak-acakannya itu…

Err, Choi Hyunjoon, berhenti memujinya! Kataku dalam hati sambil (lagi-lagi) menggeplak kepalaku sendiri

“Ya! Ya! Ya! Kau ini kenapa?” desis Kyuhyun, tangannya menahan tanganku yang sudah setengah jalan menuju kepala.
Huah, wajahku~ jangan memerah, jebal!

Istirahat. Perutku sudah keroncongan dan aku langsung kabur ke kantin sambil menarik Insa, sahabatku. Aku kadang heran bagaimana bisa aku yang cuek ini tahan berteman dengan Insa yang sensi dan feminin. Nasib, mungkin?

Aku memesan jjajangmyeon dan Insa ddeokbokki. Kami segera menuju satu meja yang kosong dan mulai makan.

“Sebenarnya ada apa antara kau dan Kyuhyun?” tanya Insa di sela-sela kesibukannya melahap ddeokbokki.
“Tidak ada apa-apa!” jawabku cepat bercampur kepedasan. Jjajangmyeon buatan Lee ahjumma –koki kantin– pedas sekali!
Insa menatapku dengan pandangan menyelidik. Pasti dia akan bertanya lagi.

“Tadi pagi kau memberikan sesuatu ke dia, kan?”
“Itu dari Soorin, Insa-ya!”
“Kau jadi kurir? Kasihan,” kata Insa asal. Hampir saja aku melemparnya dengan sumpitku -…….-

“Ah, tadi juga aku lihat dia memegang tanganmu. Wajahmu merah sekali, lho!”
Lah, dia malah meledekku kan sekarang –”

“Insa-ya, diam!” satu sumpit melayang ke kepala Insa, sayangnya tidak kena ._.
Ah, sayang sekali. Aku jadi tak bisa menghabiskan jjajangmyeonku!

“Hyunjoon-a, kau menyukainya kan? Aku rasa dia juga menyukaimu. Jadian sana!”

Sumpit kedua melayang dan tepat mengenai kepala Insa. Tahu rasa dia.

Akhirnya bel pulang berbunyi. Beginilah keseharian anak SMA, masuk pagi cuma untuk menunggu bel pulang sore harinya.

Setelah Shin seonsaengnim keluar kelas, anak-anak 3-1 juga ikut menghambur keluar. Ini hari Jumat dan besok libur, weekend sudah menanti!

Aku sibuk mengemasi barang-barangku. Kyuhyun? Masih duduk di sebelahku dengan PSP di tangannya. Ia selalu menunggu keadaan di sekitar kelas sepi sebelum keluar, sama sepertiku.

Di kelas hanya tersisa aku dan Kyuhyun. Err, aku jadi kepikiran kata-kata Insa di kantin tadi. Huah, apa wajahku memerah lagi sekarang?
Apa aku benar-benar menyukai seorang Cho Kyuhyun?

Aku buru-buru menghapus pikiran itu. Jangan mikir yang kayak gitu kalau orangnya ada di sebelahmu, Hyunjoon babo!

Iseng-iseng aku melongok keluar jendela. Uwaaa, mendung! Aku buru-buru memasukkan bukuku ke tas. Aku tidak mau kehujanan saat menuju halte nanti ._.

Setelah semuanya rapi, aku segera beranjak dari kursiku.

“Hyunjoon-a, ayo barengan!” ajak Kyuhyun.
Heh? Serius? Dia kesambet setan apaan sampai mengajakku pulang bareng ._.

“Tumben,” kataku pelan. Speechless o.o
Kyuhyun diam saja. ia hanya berdiri lalu berjalan ke pintu kelas, matanya masih tertuju ke layar PSP di tangannya. Bahkan ia tak sadar kalau aku masih terpaku di tempat. Gimana sih dia itu -….-

“Babo! Ayo pulang!” teriak Kyuhyun tiba-tiba. Ia masih berdiri di depan pintu.
Akhirnya dia sadar juga ._.

Yeah. Heboh!
Saat aku dan Kyu berjalan di koridor, anak-anak yang melihat langsung heboh. Beberapa yeoja malah berteriak marah ke arahku.
Ya ampun. Padahal kami tidak jalan bersebelahan, apalagi gandengan. Tapi tetap saja mereka heboh setengah mati. Aigoo -.-

Aku melihat Insa yang baru keluar dari ruang guru. Ia terbelalak saat melihat pemandangan di depannya, tapi kemudian terkekeh. Ia lalu berbicara tanpa suara padaku.

“Nanti sore aku telepon. Jelaskan semuanya!” begitu katanya. Aku melengos dan memutar bola mataku kesal. Sekilas aku melihatnya mengacungkan jempol ke arah Kyuhyun, dan Kyuhyun mengangguk ke arahnya.
Ada apa antara mereka berdua?

Lalu aku melihat Soorin. Sumpah, wajahnya dan gerombolannya benar-benar nggak enak dilihat. Tatapan mereka tajam sekali, langsung menghujam ke arahku tanpa filter

Eomma~ eotteohkaeyo?

Kyuhyun yang sadar kalau aku berjalan di belakangnya –juga kalau kami jadi pusat perhatian– berhenti. Ia berbalik dan menghampiriku, dan tiba-tiba tanganku sudah ditarik olehnya. Aku terpaksa berjalan di sebelahnya.
Suasana makin ramai, beberapa orang berteriak, ‘Chukhahae Kyuhyun-a! Chukhahae Hyunjoon-a!’

Apaan sih –”

“Sudah, diam dan tenang saja,” gumamnya. Kalau kau tahu Cho Kyuhyun, tanganmu yang membuatku tidak tenang -.-

“Apa-apaan kau ini?” aku mendesis kesal. “Yang lain ngeliatin kita, babo!”
“Kalau aku babo, kamu apaan?” balas Kyuhyun.
Menohok =_=

Berjalan di koridor sampai keluar gerbang sekolah yang harusnya hanya memakan waktu 5 menit terasa seperti 5 abad. Aaaah, aku benci jadi pusat perhatian seperti ini!

Akhirnya aku –kami– keluar gerbang sekolah. Aku masih tak habis pikir, apa maksud tindakan si Kyuhyun sialan tadi?
Aku menggerakkan tanganku yang digenggam olehnya. Gerah ._.

Kyuhyun tiba-tiba melepaskan genggamannya. Semburat pink muncul di pipinya yang putih pucat. Bisa malu juga dia~

Tapi kenapa aku agak kecewa saat ia melepaskan genggamannya?

Kami berjalan menyusuri jalan menuju ke halte. Awan mendung masih menggantung di langit. Jalanan sepi, pasti orang-orang lebih memilih diam di dalam ruangan daripada kehujanan

“Hei,” kataku, berusaha memecah keheningan antara kami berdua. “Kau tadi kenapa menggandeng ta…”

CTAAARRR!!
Huah, petir? Kalau hujan gimana? Badanku merinding seketika. Aku takut petir >.<

Aku melirik ke arah Kyuhyun. Dia malah berjalan dengan santai sambil mendengarkan lagu dari iPodnya. Babo saram!

“Ya, Kyuhyun-a! Palliwa! Keburu hujan!” teriakku. Dia kok bisa cuek banget sama keadaan di sekitarnya sih -_-

Petir kembali terlihat. Refleks aku memeluk lengan Kyuhyun sambil bergidik ngeri. Ia menoleh.

“Kamu… takut petir?” tanyanya. Aku mengangguk kecil dan melepaskan tangannya canggung. Habislah aku kali ini ditertawakan olehnya ==”

Bukannya tertawa, ia malah melepas salah satu earphonenya dan memasangkannya di telingaku. Mau ngapain dia?

“Tutupi telingamu yang satunya,” perintah Kyuhyun
“Nggak sekalian dua-duanya nih earphonenya?” tanyaku. Dia malah menoyor kepalaku.
“Masih mending aku pinjemin itu earphone! Dasar gak tau malu!”

Aku cengengesan sambil menutup telingaku yang tidak dipasangi earphone. A lot better lah jadinya.

“Ini lagunya siapa?” tanyaku.
“Udah, dengerin dulu,”jawabnya singkat.

Aku diam lagi, berusaha mendengarkan lagu itu. Intronya dentingan piano selama beberapa detik, baru terdengar suara penyanyinya
Sebentar… kok suaranya familiar? Mirip… suaraku?

“Lho, ini kan laguku waktu kemarin penilaian menyanyi?”
Kyuhyun cuma cengengesan sambil memandang ke arah lain, wajahnya memerah.

“Kau segitu ngefansnya padaku sampai punya rekaman nyanyianku ini? Aigoo~” aku terbahak, berusaha menutupi rasa malu dan senang. Malu karena suaraku tidak terlalu bagus –cenderung fals malah, rasanya memalukan mendengar suara nyanyianku sendiri– dan senang karena… karena dia mau repot-repot merekam suaraku. Nggak repot juga sih, tinggal tekan tombol ‘record’ di iPod dan beres. Tapi kan tetap saja~

Ada satu perasaan senang yang berbeda. Maksudku, buat apa dia menyimpan rekaman itu? Kenapa aku? Mungkin kalau dia punya file rekaman anak-anak sekelas, aku nggak akan terlalu merasa seperti ini.

Atau jangan-jangan ia cuma mau mengejekku?

Aku masih sibuk berspekulasi saat lagu’ku’ selesai. Beberapa detik kemudian, kembali terdengar dentingan piano dan suara seseorang

Suara Kyuhyun?

Saat penilaian kemarin aku memang tidak terlalu memperhatikan penampilan anak-anak yang lain. Aku sibuk di pojok ruang musik dengan beberapa jilid komik dan earphone di telinga .___. jadi aku tak tahu suaranya bagus atau tidak.

Tapi ini betulan suara Kyuhyun?

Suaranya bagus sekali~ lembut tapi kuat. Aku tidak mendengar satu nada fals-pun. Daebak!
Aku mendengarnya menyenandungkan lagu itu. Ternyata live version-nya lebih bagus daripada versi rekaman, padahal tidak ada iringan musik sama sekali. Pelan-pelan, aku melepaskan earphone dan menikmati senandungnya.

“Kenapa dilepas?” tanyanya saat melihatku menggenggam sebelah earphone. Aku meringis, bingung mau menjawab apa. Kalau aku jujur –aku suka suaranya– nanti penyakit over PD-nya itu kambuh lagi -……-

“Kalau ada petir dan kau takut lagi, aku tidak mau tahu!” ia mengambil earphone itu dan memasangnya di telingaku. Omongan dan tindakannya terbalik. Orang aneh…

Tunggu. Aku merasa kami benar-benar seperti orang pacaran. Padahal kan sebenarnya tidak! Aku sendiri heran kenapa ia bisa bersikap seperti itu padaku. Biasanya juga boro-boro ngobrol, saling sapa saja jarang –”

Suara Kyuhyun sudah tidak terdengar lagi dari earphone. Digantikan lagu ‘beneran’, bukan rekaman macam tadi.

Berarti cuma ada rekaman suaraku dan Kyuhyun, ya? Oke, aku mulai berspekulasi lagi. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa hanya suaraku yang direkam olehnya?

“Kyu…” perkataanku terpotong karena setitik air jatuh di hidungku. Kyuhyun menengadahkan kepalanya.
“Hujan,” gumamnya. Hee? Tenang sekali dia!
“Ayo cepat! Nanti kita kehujanan!” teriakku separo gemas
“Tenang saja, ini masih gerimis. Haltenya juga sudah dekat,” ia menunjuk ke depan. Eh, benar. Jaraknya cuma sekitar 10 meter dari tempat kami berdiri =……=

Tepat saat kami mencapai halte, hujan turun makin deras. Meski halte itu beratap, tetap saja tampias hujan mengenai badan dan kepalaku.
Sebisa mungkin aku menutupi kepalaku dengan tangan agar tidak basah. Aku tidak mau sakit, sebentar lagi ada ujian!

Kyuhyun malah menarik tanganku. Mulutku sudah separo terbuka, siap meluncurkan protes. Tapi tiba-tiba ada yang menutupi kepalaku. Jaket?

“Hyaaa, badanmu bisa kedinginan nanti!” aku menarik jaket itu, tapi Kyuhyun justru memasangkannya di kepalaku lagi.
“Aku tahan dingin kok. Kalau kau sakit, aku yang repot,” katanya. Apa maksudnya? Kenapa malah dia yang repot?

Akhirnya –sebagai jalan tengah– aku menarik bagian belakang jaket yang menutupi punggungku dan meletakkannya di atas kepala Kyuhyun. Susah, tinggi kami berbeda jauh –”
Kyuhyun pasrah saja. Ia menunduk sedikit agar tanganku lebih mudah menjangkau kepalanya. Aku merapikan letak jaketnya sedikit, memastikan kepala makhluk aneh itu tertutup sempurna.
Sebenarnya hoodie-nya saja sudah cukup buatku kok ._.

“Gomawo jaketnya,” gumamku. Ia hanya tersenyum kecil sambil mengacak rambutku. Aigoo~ tuh kan, sikapnya itu seperti sikap seorang namja ke yeojachingunya!

Sepi. Di halte hanya ada beberapa orang termasuk kami berdua. Alunan lagu dari iPod Kyuhyun masih terdengar dari sebelah earphone yang kupakai

Jalanan juga lengang. Beberapa bus sudah singgah di halte tapi bukan yang ke arah rumahku. Aku lalu mengalihkan pandanganku dari jalanan ke arahnya. Dari tadi ia menggosok telapak tangannya. Tahan dingin apaan? Bohong kalau dia bilang tidak kedinginan!

Entah apa yang merasukiku, aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Ia tampak kaget, tapi tetap diam

“Aku bertingkah seperti yeojachingu-mu, eh?” gumamku canggung. Aku tidak ingin melepaskan tangannya, entah kenapa.
“Mm, ne. Sudah, jangan dilepas. Dingin.” katanya. Wajahnya yang pucat bersemu merah

Kami diam. Aku memainkan jari-jarinya yang panjang kurus dan pucat itu. Tangannya masih terasa dingin.

“Hei… kalau kau jadi yeojachinguku saja, gimana?”

Heh? Dia, erm, nembak orang kayak ngajak main! Aku tidak pernah bisa mengerti jalan pikiran orang ini.

Dan dia… dia bilang ke aku? Ke seorang Choi Hyunjoon yang nggak ada apa-apanya ini?

“Nggak lucu, Kyu,” aku mendesis pelan tapi tajam, bercampur takut. Aku takut dia cuma bercanda, aku takut dia tidak serius mengatakan hal itu saat aku sudah terlanjur -ehm- senang.
“Lah, siapa yang bercanda emangnya?” katanya tenang.

Eh?

Mulutku menganga lebar. Dia hanya tersenyum, senyuman yang berbeda. Bukan senyum mengejek, atau menahan tawa, atau apapun itu. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum setulus dan sehangat itu. Khusus untukku!
Aku bisa dihabisi oknum KFC kalau mereka tahu!

“Yah, aku tak akan merelakan sweaterku digunakan untuk menutupi wajah memalukan seseorang saat aku sendiri bisa saja kedinginan, kecuali orang itu istimewa untukku,”
Aku terdiam. Dia… serius?
Sebisa mungkin aku menghindari kontak mata dengannya. Aku mengedarkan pandangan ke sekitarku.
Lho, sejak kapan hanya ada kami berdua di halte ini?

“Aku tidak pernah mengajak orang lain pulang bersama, kecuali orang yang spesial~,”
Aku menunduk, tak mampu mengangkat kepalaku, apalagi melirik ke arahnya.

“Aku tak akan menggandeng tangan orang yang tidak aku sukai. Aku tak akan pernah mau repot-repot merekam suara seseorang, kecuali aku ingin mendengar suaranya tiap hari. Aku tidak pernah membagi earphoneku dengan orang lain, kecuali aku ingin atau memang dekat dengannya. Aku tak mau membagi jaketku dengan orang di sebelahku, kecuali aku tak ingin dia jadi sakit dan aku… menyayanginya.” katanya. Huaaaaa, aku tak tahu seperti apa ekspresi wajahku sekarang >.<

“Dan aku…”
“Cukup, Kyu!” aku memukul lengannya. Ia tertawa kecil

“Jadi?”
“Jadi apanya?”
“Kau mau tidak?”
“Mau apa?”

Ia mendecak sebal sambil melotot ke arahku. Kenapa sih?
“Kamu pura-pura nggak tau apa emang nggak tau sih?” dia menyentil dahiku. Sakit!
“Nggak tau beneran. Emang apaan?”

Aku benar-benar nggak tau apa yang dia maksud -….-

Kyuhyun menarik nafas, berusaha menyabarkan diri. Ya maaf kalau aku agak lemot, lapar sih ._.

“Kau mau jadi yeojachinguku tidak?”
Bilang kek dari tadi kalau mau nanya yang itu =_=

Aku mengangguk kecil, malas menjawab. Malu juga sih, hehehe…

Kyuhyun menghela nafas lega. Sedetik kemudian tangannya sudah melingkari badanku, dan kepalanya bersarang (?) di pundakku

“Gomawo, gomawo, gomawo…” bisiknya. Reaksiku?
Terdiam kaku. Aku belum pernah dipeluk namja selain appa dan harabeoji serta ahjusshiku!
Lagipula ini baru pertama kalinya aku punya namjachingu. Salahkan sifat cuekku yang membuat orang-orang enggan dekat denganku >.<

“Kau ini tidak pernah dipeluk orang ya?” kata Kyuhyun tiba-tiba. “Badanmu kaku! Santai saja~”

Aku mencibir dan menjitak kepalanya. Ia mengaduh pelan sambil mengelus kepala dan melepas pelukannya.

“Uuh, kasihan~ sakit ya?” tanyaku sambil memasang wajah (sok) aegyo.
Kyuhyun menatapku seolah ia ingin muntah saat itu juga.
“Jangan pasang wajah seperti itu lagi. Aku jijik!” ia mendorong wajahku menjauh. Sadis.

Aku tergelak. Aku sendiri juga benci ber-aegyo-ria.

“Kau ini yeoja yang nggak ada manis-manisnya, ya,” ia ikut tertawa. Aku menoyor kepalanya. Kurang ajar sekali dia!

“Tapi untung juga sih kau bukan seorang yeoja yang manis. Tidak bakal ada namja yang mendekatimu, aman jadinya!” ia menjulurkan lidahnya, puas sekali bisa meledekku habis-habisan. Tapi aku senang mendengar kalimat terakhirnya, kekeke~

Aku melirik ke arah jam tanganku sekilas. Sudah lama kami menunggu di halte, tapi busnya belum datang juga.

“Babo, busnya kok lama?” tanyaku ke Kyuhyun. Ia melihat jam tangannya lalu mengangkat bahu.
“Kena macet, kali,” jawabnya seenaknya. Kebiasaan!

Aku memutar bola mataku dan kembali memandangi jalanan lengang di depan. Kami diam lagi.

“Kau tahu? Aku yang memaksa pengurus kelas agar bisa mendapat tempat duduk di sebelahmu,” katanya tiba-tiba.
“Kau bersekongkol dengan Insa berarti?” tanyaku. Pantas saja tadi Insa mengacungkan jempolnya ke arah Kyuhyun. Dasar!

“Ya semacam itulah. Kenapa? Kau cemburu ya?” ia menyenggol lenganku pelan
“Yeee, kata siapa?” aku mendengus sebal. Kumat deh PD tingkat dewanya =.=
“Wajahmu yang bilang!”
“Ngapain juga cemburu ke seorang Cho Kyuhyun?”
Ia diam dan menatapku tajam. Oke, aku mulai takut dengan situasi ini!

Aku berusaha mengacuhkan tatapannya dan menendang-nendang batu kecil di sekitar kakiku. Tapi lama kelamaan nggak enak juga ditatap langsung seperti itu -o-

“Kyuhyunnie, jangan menatapku seperti…” aku menoleh dan terdiam. Wajahnya dekat sekali! Aku merasakan mukaku memanas seketika

Ia masih menatapku tajam. Eotteohkaeeee?! Kenapa dia mendadak marah begini sih?

Aku memejamkan mataku, tak tahan melihat tatapannya yang menusuk. Huaaaa, dia menyeramkan kalau marah! >.<

Tiba-tiba daguku ditarik dan aku merasakan sesuatu menyentuh bibirku. Omo, benda apa itu? Jangan sampai bibirku jadi tidak suci lagi!
Pelan-pelan aku membuka mata, dan melihat wajah Kyuhyun tepat di depanku.

Mwoyaaaaa? Berarti benda itu…

Kyuhyun membuka matanya. Aku bisa merasakan bibirnya membentuk evilsmirk kebanggaannya itu sebelum akhirnya lepas dari bibirku.

“Gotcha!” katanya penuh kemenangan. Aneh, aku tak bisa berteriak marah padanya. Padahal aku sudah ingin menonjok wajahnya yang sok tanpa dosa itu!

“Cho Kyuhyun! Babo gateun!” teriakku akhirnya. Ia terkekeh.
“First, ya? Ups, maaf!” katanya di sela-sela tawanya. Jelas sekali kalau ia tidak merasa bersalah. Makhluk iniiii~!

“Eommaaaa, aku tak suci lagi~” keluhku
“Apaan coba! Aku hanya menciummu, bodoh!”
Sama saja bagiku T.T

“Kau tidak ikhlas ya?” tanyanya. Aku diam saja dan menggembungkan pipiku. Ngambek dimulai!

“Aku juga tidak ikhlas kalau begitu. Kembalikan!”
Aku spontan menoleh. Yang benar saja?

“Kau…”
“Itu yang pertama, beneran,” ia memalingkan wajah. Telinganya merah, kekekeke!

“Jinjjayo?”
“Jinjja!”
Aku tertawa pelan melihatnya yang berusaha menutupi rasa malunya.

“Neee, aku percaya,” kataku, takut dia keburu ngambek. Aku menarik-narik lengannya. Males amat kalau dia ngambek -3-

Akhirnya Kyuhyun menoleh dan menatapku heran
“Kenapa? Dingin?”
“Nggak, itu busnya,” jawabku sambil menunjuk ke ujung jalan.
“Sudah datang?” tanyanya sambil menjulurkan kepalanya keluar dari perlindungan atap halte. Kebasahan deh, dasar bodoh =.=

Aku menarik jaket dari kepalaku dan meletakkannya di atas kepala makhluk babo itu.
“Keringkan rambutmu dulu!” perintahku galak saat melihatnya akan melepaskan jaket itu dari kepalanya. Dia tidak berani protes, hahaha xD

Beberapa menit kemudian bus kami berhenti di depan halte. Aku sudah hampir berlari ke bus itu saat ia menahan tanganku dan memberiku salah satu ujung jaketnya.

“Kau mau hujan-hujanan dan basah kuyup?” tanyanya sambil memelototiku. Ampun!

Beruntung busnya cukup sepi, kami bisa duduk dan tidak perlu berdiri. Kyuhyun bersikeras ingin duduk di sebelahku, dan berhubung aku sedang malas berdebat kubiarkan saja dia.

Aku benar-benar ngantuk. Merem sebentar boleh dong~

Saat aku sudah separo tertidur, kepalaku ditarik oleh seseorang. Sontak mataku terbuka lebar.

“Eh, maaf~” kata orang itu. Dasar Kyuhyun sialan! Udah enak tidur masih saja diganggu!
“Jeongmal mianhae! Tidur lagi sana…” ia menarik kepalaku dan meletakannya di pundaknya. Gimana aku bisa tidur kalau begini caranya -.-

Aku bisa mencium bau parfumnya samar-samar. Masih parfum yang sama dengan yang ada di sweater itu.

“Kau bau!” celetukku asal
“Enak saja!” ia menjitak kepalaku. Anarkis T.T

Sepertinya ada yang aneh pada Kyuhyun selain sikapnya padaku. Apa ya?
Ah~ aku tahu! Kemana PSPnya?

“Kau tidak main game?” tanyaku penasaran.
“Tidak, bosan,” jawabnya. Bisa bosan juga ternyata dia sama game-gamenya itu.
“Lagipula daripada main game lebih seru mengganggumu kok!” lanjutnya sambil tertawa. Aku mencibir. Enak sajaaaa =3=

Bus berhenti. Seingatku, ini halte tempat Kyuhyun turun kemarin.

“Eh, kamu nggak turun?”
“Aku turun setelah ini,”
“Bukannya kemarin kamu turun di sini?”
“Aku cuma ingin memastikan makhluk di sebelahku ini sampai rumah dengan selamat dan nggak ketiduran sambil mangap di bus,” ia terbahak.
Sialan. Kenapa aku mau jadi yeojachingunya sih -……-

Sepi kembali. Suara Kyuhyun tak terdengar lagi. Untunglah~
Bahuku terasa berat. Aku menoleh. Lah, kenapa malah dia yang tidur –”
“Kan, kamu ngeliatin orang yang baru tidur lagi,” gumamnya.
Elaaaah, siapa yang ngeliatin coba?

Aku diam saja dan memandang ke luar jendela bus. Hujan sudah reda, tapi langitnya masih gelap. Uah, diluar pasti dingin sekali!

Omong-omong dingin, bahuku yang disandari Kyuhyun terasa basah. Dia nggak ngiler kan? O.O
Aku melirik ke arahnya. Matanya terpejam dan terdengar dengkuran halus dari mulutnya. Yah, tidur beneran dia. Untung saja dia nggak ngiler di bahuku.

Tanpa sadar, aku menyentuh kepalanya. Rambutnya masih setengah basah gara-gara kejadian di halte tadi.
Aku mengambil jaket yang ada di pangkuannya dan memakainya untuk mengeringkan rambutnya. Lumayan, daripada sebasah tadi ._.

“Hyunjoon-a…”
Aku menoleh, dan mendapatinya masih memejamkan mata. Lho? Dia ngelindur apa pura-pura tidur? Tapi si babo itu masih mendengkur kok.
“Johahaeyo…”
Orang bilang, kalau ada orang ngelindur, apa yang dia bilang itu benar-benar jujur. Huahahaha, aku senang sekaliii~

Beberapa menit menjelang halte tempatku turun, aku membangunkannya.
“Ireona,” aku menggoyangkan tubuhnya pelan.
“Mm?” Kyuhyun membuka matanya. “Nanti…”
“Sudah hampir sampai, babo!” aku menggeser kepalanya dari bahuku. Mau tak mau ia terpaksa bangun. Matanya masih separo tertutup. Aku hanya tertawa melihatnya yang seperti anak kecil.

Bus berhenti dan kami turun.
“Kita masih harus jalan 100 meter lagi,” aku memberitahunya. Ia hanya mengangguk dan menggandeng tanganku. Skinship lagi, skinship lagi~

“Besok kamu ada acara?” tanyanya. Aku menggeleng. Kenapa? Apa dia mau mengajakku pergi?
“Begitu,” gumamnya. “Eh, nomor handphone-mu… berapa?”

Namjachingu macam apa dia itu -……-

Tunggu. Aku sendiri juga tidak punya nomor handphonenya. Aaaaah, aku sama saja dengannya! Wajar saja sih, kami kan tidak dekat sama sekali sebelumnya…

Kyuhyun menyodorkan Galaxy Ace-nya (ngarang). Aku mengetik sebaris nomor dan mengembalikannya. Beberapa detik kemudian, handphoneku berbunyi.

“Itu nomorku. Kau tidak punya, kan?”
Hah, aku merasa tersindir =,=

“Jangan pakai nama yang aneh!” kataku.
“Kau juga!”

Aku berusaha mengintip ke layar handphonenya. HyunBabo? Apa-apaan dia ituuuu?
“Ya! Ganti namanya!” aku memukul tangannya
“Coba lihat punyamu!” dia mengelak.
“Sebentar!” aku mengetikkan sesuatu. “Nah, kalau begini baru impas!”

Kyuhyun merebut Blackberryku dan membaca sesuatu di layarnya, lalu terbahak.

“BaboKyu? Oke! Berarti namamu tidak perlu diganti, ne?”
Aku nyengir kuda. Sebut saja kami couple aneh atau apa, toh kami menikmatinya~

Aku dan Kyuhyun kembali berjalan. Sesekali ia mengayunkan tangannya yang menggenggam tanganku sambil mengobrol ringan.

“Kau suka game?”
“Mm, tidak terlalu,”
“Berarti bisa main? Game apa?”
“Kadang aku main Starcraft atau Call of Duty lawan namjachingunya eonni atau lawan yeodongsaengku,”
“Waaaa~ kau bisa main Starcraft? Daebak!” dia tertawa senang. Matanya berbinar.
“Kalau menyangkut game saja~” aku menyindirnya. Ia meringis.
“Kapan-kapan ayo kita tanding main game! Biar kulihat seperti apa caramu bermain!” ajaknya semangat.

Obrolan kami terus mengalir. Aku jadi tahu kalau dia anak bungsu dari 2 bersaudara. Ia punya satu nuna yang berbeda beberapa tahun darinya. Tentang sikap dinginnya ke para yeoja, dan sebagainya. Aku hanya menceritakan sedikit tentang keluargaku –aku anak tengah dari 3 bersaudara, yeoja semua. Appaku ada di luar negeri mengurus perusahaannya. Eomma? Beliau ibu rumah tangga biasa–, tentang pertemananku dengan Insa, dan kalau dia namjachinguku yang pertama. Dan Kyuhyun hanya tertawa saat aku beri tahu masalah namjachingu itu ._.

Rasanya seperti kami baru saja kenal.
Padahal sudah hampir 3 tahun aku satu sekolah dengannya.
Padahal sudah 2 kali aku sekelas dengannya –kelas 1 dan 3 sekarang ini.
Padahal sudah sebulan dia bersebelahan denganku.
Dan padahal kami sudah resmi jadian! Oke, ini gila.

“Ya, kau ini kenapa?” suara Kyuhyun membuyarkan lamunanku. Aku menggelengkan kepala.

“Aniyo, aniyo. Mm… kenapa selama ini kau dingin sekali padaku?” tanyaku. “Kita dekat aja nggak, kamu main nembak aja kekeke.”

Dia terdiam sebelum menghela napas
“Janji tak akan tertawa?”
Aku mengangguk.
“Kalau kau tertawa, awas ya!”
Oke, aku nggak janji sekarang, kataku dalam hati. Tapi aku tetap mengangguk.

“Sebenarnya, eh, aku bingung harus bersikap seperti apa. Ditambah lagi kamu cuek nggak ketulungan, makin canggung aku,”
Sesederhana itu? Tawaku meledak seketika.
“Ya! Ya! Kau sudah janji tak akan tertawa!” Dia membekap mulutku.

Aku masih terkekeh geli. Huah, si makhluk sok cool itu bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu! Hancurlah imagenya di hadapanku, kekekekeke~
Ia memalingkan wajahnya. Lho, ngambek? Elah, childish sekali dia -…….-

“Kyu, ayo!” aku menarik lengannya. Tak ada reaksi.
“Kyuhyun-a~”
Ia menggelengkan kepalanya
“Kyuhyunnie~”
“Ppoppo!”
Hya?!
“SHIRHEO!” aku menggeplak kepalanya.
“Di pipi saja~” ia merajuk. Aku menggeleng kuat-kuat
“Nggak mau! Pipimu jerawatan, nanti aku ketularan!”
Kyuhyun mendengus kesal. Ngambeknya naik satu tingkat. Aku baru nggak mood ngurusin orang ngambek ini –”

“Arasseo, di pipi!” aku mengalah. Ia tersenyum penuh kemenangan. Dasar ._.
Aku meraih kepalanya canggung. Kenapa dia gak nunduk sih? Harusnya dia tahu, dengan beda tinggi badan hampir 20 cm, aku harus berjinjit agar bisa menggapai kepalanya. Huuuh -o-

Saat jarak di antara kami sudah dekat, ia tiba-tiba berbalik, menahan daguku dan menunduk lalu mencium bibirku sekilas.
Sialaaaaaaan, ia mencuri-curi kesempatan ternyata -………….- sudah dua kali hari ini! Sekali lagi bisa dapat piring cantik kusambit pakai sepatu dia!

“Kurang ajar,” gumamku. “Dua kali, Cho Kyu…”
“Tiga.”
Eh, tiga? Apa maksudnya?
“Ne, tiga kali. Yang di halte itu yang kedua. Barusan yang ketiga. Yang pertama… waktu kamu ketiduran kemarin.” jelasnya dengan wajah tanpa dosa. “Kau benar-benar tidak merasakannya, ya? Syukurlah.”

Berarti saat aku tidur kemarin…? Huah, kurang ajar sekaliiiii!
Aku berjalan mendahuluinya. Dia buru-buru menyusulku, mudah saja baginya dengan kaki panjang dan langkah lebarnya itu –”

“Kau marah, ya?” ia menahan tanganku. “Mian, aku kan cuma ingin jujur!”
Kubungkam mulutku. Kyuhyun makin gencar minta maaf.
“Hyunjoonie, mianhae! Jeongmal mianhaeee! Yang saat kau tidur itu masih tetap first kissku kok!”

Lah, yang itu juga aku nggak mau tau –”

Rengekannya mulai mengganggu telingaku. Aku berbalik dan menatapnya sinis.
“Hyunjoonie?”
“Ne,”
“Huaaa, jangan berbicara dengan nada datar seperti itu!”

Memangnya hanya dia saja yang bisa ngambek?

“Mana maafnya?” aku memandang lurus ke matanya.
“Mianhaeyo, Choi Hyunjoon. Jeongmal mianhae.” katanya sambil membungkuk. Kena dia, kkkkkk~
“Arayo, tapi kalau besok terulang lagi aku tak akan pernah memaafkanmu!”
“Neeee~” ia mengacak rambutku sambil terkekeh senang.
“Hyaaaaa! Cho Kyuhyun!”

“Yah… ini rumahku.”
Kyuhyun hanya mengangguk dan melepas genggaman tangannya.
“Erm, mau mampir dulu?” tanyaku
“Nggak, nggak usah,” dia menggeleng lalu mendorongku ke arah pintu rumah. “Kamu masuk sana….”
“Lah, kamu pulangnya gimana?”
“Tenang saja, aku pasti selamat sampai rumah.”

Aku memutar bola mataku. “Huss, cepat pulang! Keburu hujan lagi!”
“Nggak ada goodbye kiss?” Kyuhyun nyengir. Kusentil dahinya, mau mulai lagi?
Ia mendorong dahiku pelan. Aku balas menatapnya dengan tatapan cepat-pulang-atau-kubunuh-kau.

“Oke, aku pulang saja sebelum ada perang dunia ketiga disini. Annyeong~”
Tangannya mencubit pipiku sebelum ia balik badan dan pergi. Sakit T.T

Kulangkahkan kakiku masuk rumah.
“Aku pulaaaang,” teriakku sambil melepas sepatu. Eomma yang baru nonton TV menoleh.

“Ah, Hyunjoon-a. Bagaimana sekolahmu?”
“Begitulah…” aku duduk di sofa dan mengambil bungkusan keripik di pangkuan eomma. Pasti eonni dan dongsaengku belum pulang.

“Tadi pulangnya sama siapa?”

Eh? Eomma tahu?

“Sama… Kyuhyun…”
“Yang punya sweater kemarin itu?”
Aku mengangguk, mulutku penuh keripik kentang

“Dia namjachingumu? Kenapa tidak diajak masuk?”
Aku tersedak keripik kentang. Pertanyaan eomma tepat sasaran sekali!
Eomma menepuk-nepuk punggungku sambil tertawa pelan. Anaknya tersedak kok diketawain sih -…….-

“Ah~ dia benar-benar namjachingumu ya?” tanya eomma lagi. Aku mengangguk, masih batuk-batuk. Kan gak boleh bohong sama ortu~

“Hyaaaa, akhirnya uri Hyunjoonie punya namjachingu!” eomma memelukku erat. Seneng amat -.-
“Eomma, sesaaaak!”
“Habisnya sifat cuekmu itu kan sudah benar-benar akut. Teman dekatmu juga cuma Jung Insa kan? Eomma saja pesimis kau bakal pacaran waktu SMA, makanya eomma benar-benar bersyukur,”
Apa maksudnya ini? Bahkan eommaku sendiri meledekku T.T

Keripik di tanganku sudah habis. Aku berdiri, membersihkan bajuku dan beranjak ke kamar.

“Undang dia ke rumah untuk makan siang besok!” teriak eomma dari bawah.
“Ne~” jawabku sekenanya sebelum menutup pintu kamar

Handphoneku berbunyi. Mengganggu aktivitas tidur siangku saja –”

SMS?

Sender: BaboKyu
Kau sampai rumah dengan selamat tidak?

Aku mencibir. Bukannya terbalik?

To: BaboKyu
Seperti yang kau lihat tadi. Kau sendiri?

Sender: BaboKyu
Aku utuh sampai rumah, kekekeke~
Besok nggak ada acara kan?

Acara? Aku jadi ingat perintah eomma tadi ._.

To: BaboKyu
Tidak, tapi eomma menyuruhmu datang besok saat makan siang. Eotte?

Semoga dia tidak bisa, semoga dia tidak bisa~

Sender: BaboKyu
Jinjja? Arayo, aku datang sekitar jam 10. Tapi setelah itu kita pergi ya~ kekeke

Mwo? Dia bisa datang? Mati aku!

To: BaboKyu
Kau tak usah datang, jebal~ nanti eommaku pasti akan menanyaimu macam-macam. Ya?

Sender: BaboKyu
Kau ini bagaimana? Kan yang mengundang eommamu, bukan kamu –”
Aku juga ingin bertemu calon mertuaku :p

To: BaboKyu
Yaaaa! Calon mertua, kaupikir sudah berapa lama kita pacaran? Bodoh!

Sender: BaboKyu
Hmm, kurang lebih 2 jam?
Itu pandangan ke masa depan tahu, ha-ha-ha

To: BaboKyu
Terserah kau sajalah. Aku mau tidur lagi. Kau menggangguuu!

Sender: BaboKyu
Tidur? Tidur siang? Tapi ini sudah sore, agasshi

To: BaboKyu
Aku mau tidur sore. Di bus tadi aku tidak jadi tidur. Jangan menggangguku atau kau kubunuh besok

Sender: BaboKyu
Kau tak akan tega membunuh Cho Kyuhyunmu tersayang ini, kkk
Jaljjayo~ tak perlu memimpikanku. Eh, kalau kau mau juga tak apa sih. Haha

To: BaboKyu
Aku tega kok. Lihat saja besok. Hitung-hitung mengurangi populasi orang bodoh di dunia ini.
Dan satu lagi, aku tak akan memimpikanmu. Tidak, terimakasih.

Sender: BaboKyu
Katanya kau mau tidur? –”
Sana cepat tidur, nanti kau tidak tambah tinggi lho. Masa’ aku harus menunduk terus kalau menciummu? Kekeke
Saranghaeyo Choi Hyunjoon~

To: BaboKyu
HYA! MESUM!
Iya iya. Aku tidur sekarang. Nado saranghae Cho Kyuhyun :p jangan SMS lagi, nanti aku nggak jadi tidur. Haha

Aku menaruh gemini putihku di meja. Mataku butuh istirahat sekarang ._.

Handphoneku berdering lagi. Kalau ini si Kyuhyun sialan itu, aku benar-benar akan membunuhnya besok!

Aku membaca Caller ID-nya. Insa?
Ah, dia pasti menagih hutang ceritaku. Aku mengangkat teleponnya.

“Yoboseyo?”
“Hyunjoonie! Ada apa tadi?” terdengar suara Insa. “Ceritakan semuanya dari awal sampai akhir, jangan ada yang terlewat!”

Aku menghela napas kesal. Selamat tinggal tidur sore!