[HeeSeira Couple]  Epilog: You and Me, End?

 

Title     : [HeeSeira Couple] Epilog: You and Me, End?

Author : Seichiko a.k.a Dhitia

Length : Oneshot

Genre  : Romance, Comedy

Cast     :

Kim Heechul

Kim Seira

Other Cast

 

:):(:|

“Oppa, kau itu menyebalkan! Apa kau tahu jika aku mual setiap melihat adegan kisseu yang kau lakukan pada saat konser?! Tidak bisakah kau menahan diri sedikiiit saja agar tidak menyentuh para member yang lain? Ck~ fanservice macam apa? Lalu apa lagi itu, Lady Hee Hee? Kau selalu berpakaian seksi persis seperti Lady Gaga. Yaa! Oppa, tidak bisakah kau menyukai Dong Yi saja? Dengan begitu, kau tidak perlu memamerkan tubuhmu, kau hanya perlu memakai Hanbok. Aissh, jinjja!”

“…”

“Satu lagi, aku sangat membenci sikap temperamenmu itu! Sekarang kau baik padaku, lalu sepuluh menit kemudian berubah galak. Apa kau tahu jika aku tekanan batin karena berpacaran denganmu?!”

“…”

“Ah Ani, ada satu hal lagi… kau itu sangat childish! Bersikap aneh setiap waktu. Jika mood sedang buruk, maka akan berteriak sesuka hati. Kau ingin telingaku tuli ya oppa?!”

“…”

“Eh tidak, tidak. Masih ada banyak hal yang harus aku katakan padamu. Tiga point tadi masih kurang.”

“…”

“Kau selalu menyuruhku untuk bermain games, padahal kau tahu jika aku bukan maniak games sepertimu. Dan berhenti mengatakan pada dunia jika tipe wanita idealmu itu yang bisa bermain games! Sungguh, kau membuatku merasa terpojok!”

“…”

“Jangan pernah menyembunyikan rokok dan minuman dibelakangku. Aku tahu kadang kau tidak bisa menahan diri. Tapi jebaaal, aku benci namja yang suka merokok. Aissh, aku bingung kenapa wajahmu bisa mulus seperti porselen, padahal kau itu sangat tidak menyehatkan!”

“…”

“Tidak bisakah sekaliii saja, kau mendengarkan ceritaku tanpa menyela? Saat aku ingin curhat, oppa selalu menyelaku. Sudah berapa kali hal itu terjadi? Akhirnya, aku tidak jadi cerita kan? Waktuku habis hanya untuk mendengarkanmu!”

“…”

“Kau selalu memarahiku karena Jino, wae? Kau tahu kan jika Jino itu sahabatku sejak kecil. Dia sangat baik padaku, selalu mengantarku kemanapun. Ia berbeda denganmu, kau selalu sibuk sebagai artis oppa. Jadi jangan salahkan aku, jika waktuku lebih banyak bersama Jino daripada denganmu.”

“…”

“Aku sudah pernah mengatakan, jangan pernah buka akun twitterku! Tapi apa, kau selalu membukanya kan?! Dan apa balasan yang aku dapat? Kau memarahiku! Hanya karena aku berfoto gaya ulzzang bersama Jino. Sedangkan kau? Kau selalu berfoto dengan banyak wanita. Sebenarnya aku tidak peduli, namun sikapmu itu sangat tidak adil. Berfoto dengan Jino sudah menjadi hobi, jadi jangan memarahiku hanya karena foto-fofo itu!”

“…”

“Jangan pernah menyuruhku untuk menjadi Petals! Kau tahu jika aku seorang Fishes sejati, dan sampai kapanpun pendirianku tidak akan berubah. Kecuali jika kau melemparku dari Dorm lantai sebelas.”

“…”

“Dan terakhir, hahhh… kita hentikan saja oppa. Berhenti menjadi sepasang kekasih. Kau sangat mengidolakan Sohee, dan aku sangat akrab dengan Jino. Sampai kapanpun, hubungan kita hanya menjadi pengganggu. Seandainya hubungan ini tidak ada, maka… pasti… akan… jauh lebih baik.”

“…”

*****

 

“Cukup!” seru Seira merasa puas. Pelajaran sebelum berperang selesai. Seira segera mengembalikankan ekspresi wajahnya seperti biasa. Setelah setengah jam tadi berlatih, Seira merasa jika wajahnya sedikit kaku. Dengan cepat Seira merebahkan dirinya diatas kasur yang lembut dengan kaki yang menyentuh lantai. Ia takut jika pakaiannya berubah kusam.

Seira mengingat kembali kalimat panjang yang baru saja ia keluarkan, tangannya mengambil sebuah pena dan menuliskan beberapa kalimat dikertas kecil sebagai contekan.

“Jadi aku harus menjelaskan dulu alasan kenapa aku membencinya. Lalu yang terakhir… ya… memutuskannya.” Tangan Seira berhenti menulis sejenak. Wajahnya berubah seketika.

Putus. Satu kata yang selalu mengitari otak Seira sejak setahun yang lalu, atau yang lebih tepatnya sejak ia berpacaran dengan Heechul.

Putus memang hal yang paling Seira inginkan didunia ini melebihi apapun, namun sampai detik ini belum terlaksana. Entah karena tidak ada kesempatan atau memang Seira yang takut.

Semua kalimat panjang diatas tadi, itu juga tidak pernah Seira katakan pada Heechul. Hanya dapat ia pendam dalam hati. Seira malas bertengkar dengan Heechul. Tapi putus ya?

“Seira-ya, Heechul oppamu itu sudah datang. Ppalli nawa!” teriak eomma dari lantai bawah.

“Mwo, tadi eomma bilang Heechul oppa siapa? Heechul oppaku? Aissh, aku tidak rela!!!” ucap Seira setengah menjerit. Eomma sangat keterlaluan, mau membuat Seira malu juga ada batasnya.

Dengan langkah malas Seira turun kelantai bawah, tentu saja setelah merapikan rambut dan seragam sekolah gadungannya terlebih dahulu.

“Oppa annyeong…” sapa Seira dengan wajah datar.

Namja bernama Heechul itu menatap Seira tajam, seperti sedang memperhatikan sesuatu. “Sei-ya, itu… seragam sekolah siapa yang kau pakai?” tanya Heechul menyelidik.

“Ah, ini. “ Seira memegang ujung rok sekolahnya seakan menunjukan seragam barunya. “Ini punya Mi Rae. Aku meminjamnya kemarin. Aku bosan memakai seragam yang kau berikan oppa.”

“Ah, begitu. Tapi seragam itu terlihat cocok untukmu. Kau terlihat manis,” puji Heechul tulus, namun Seira malas menanggapi.

Wajah Seira kembali membeku, lalu berjalan kearah eomma yang masih berada didekat mereka, sibuk menguping. “Eomma, aku pergi dulu. Mungkin aku akan pulang sekitar jam delapan, karena kami ingin menonton film.”

“Ne ahjumma, kami pamit.” Heechul membungkukkan kepalanya hormat, dan segera menyusul Seira yang sudah berjalan meninggalkannya sampai pintu.

“Hati-hati…” eomma Seira melambaikan tanganya dengan penuh cinta, salah, tapi dengan penuh waspada tingkat tinggi. Mengingat putrinya pergi bersama Heechul.

Seira masuk kedalam mobil yang terparkir manis didepan pintu pagar rumahnya, tanpa menunggu kekasihnya itu membukakan pintu.

Kini saat berhadapan langsung dengan Heechul, nyali Seira benar-benar ciut. Ia takut mengeluarkan kata putus. Jujur Seira bukan takut karena cinta, namun takut jika Heechul akan melemparnya ke jalan raya yang ramai atau jurang sedalam 100 meter, sehingga Seira akan menjadi korban keganasan Heechul. Sangat tidak lucu kan jika besok pagi Seira menjadi headline dengan judul ‘MAHASISWI SEOUL UNIVERSITY TEWAS KARENA DILEMPAR KEKASIHNYA SENDIRI’, cissh~ mau ditaruh dimana wajahnya?

Seira terus mengeluh dalam hati. Seira babo, cepat katakan! Paling tidak, ini masih dihalaman rumah. Jadi Kim Heechul tidak akan mencelakaimu jika kau memutuskannya. Atau paling tidak, kau bisa berteriak pada eomma jika Heechul tidak terima dan mencekikmu. Ayolah… bukankah kalimat itu sudah kau rangkai dengan baik. Jadi kau tidak perlu berpura-pura baik lagi pa

“Yaa! Pakai safetybelt-nya.” Tiba-tiba tangan milik Heechul menjuntai kearah bangku Seira. Seketika Seira menjauhkan tubuhnya hingga terjepit diantara Heechul dan pintu mobil. Cissh~ menyebalkan! Jika ingin Seira mati muda, jangan begini caranya!

Click!

Safetybelt sudah terpasang, Heechul kembali menarik tangannya yang sempat berdekatan dengan Seira. Wajahnya tiba-tiba terasa panas, mungkin karena AC yang belum dinyalakan, mungkin.

Seira terpaku. Selama beberapa detik tadi, jantung Seira sempat dibuat menggila hanya karena perhatian dan jarak dekat antara dirinya dan Heechul. Sial! Saat Seira ingin memutuskannya, kenapa Heechul malah baik begini?

*****

…Gwangjin Park, 08.20 PM…

 

Seira berjalan mengekor dibelakang Heechul yang kini lebih terlihat mirip buronan dibanding artis. Memakai masker, jaket hitam, kacamata hitam dan topi berwarna abu-abu. Sedangkan Seira sendiri, ia terlihat seperti anak sekolah yang sedang tersesat. Atau anak sekolah yang bolos hanya karena ingin mendapat uang saku dari orang tuanya.

“Ah, pengap! Uhuk…” Heechul membuka semua perlengkapannya itu karena mulai merasa sesak nafas. Apalagi taman ini sangat sepi, jadi untuk apa Heechul menyamar.

“Oppa tidak mau menyamar lagi?” tanya Seira basa basi.

Heechul menggeleng pelan. “Aku bosan menyamar seperi ini terus, apalagi saat bersamamu. Kau juga pasti bosan kan?” tanya Heechul yang kini memperhatikan seragam sekolah Seira yang ditutupi hoodie.

Sejak awal pacaran, Heechul sudah memutar otak agar dirinya dan Seira bisa jalan bersama tanpa ketahuan oleh netizen. Biasanya saat kencan dengan beberapa wanita dulu, Heechul lah yang selalu menyamar menjadi perempuan. Namun untuk Seira, Heechul tidak ingin melakukannya. Ia ingin dipandang sebagai laki-laki dewasa. Karena itu Heechul berinisiatif untuk memberikan Seira seragam sekolah dan kacamata hitam berbingkai besar untuk menyamar. Tidak akan ada yang menyangka jika Seira adalah gadis berusia dua puluh satu tahun, karena wajahnya itu sangat babyface.

Seperti tadi sore. Mereka berdua menonton film dan berjalan beriringan tanpa ada yang sadar bahwa mereka sepasang kekasih. Karena kelihatannya, Heechul lebih mirip ahjussi saat Seira memakai seragam sekolah.

“Lalu?” tanya Seira singkat. Dalam hati, Seira sibuk berdoa agar Heechul berniat menyampaikan rasa bosannya, kemudian mereka akan putus dengan sempurna. Dengan begitu dosa Seira akan berkurang karena tidak jadi memutuskan Heechul duluan.

Heechul menatap gadis mungil yang sedang menaiki ayunan dan berjarak lima meter darinya. Dengan langkah pelan Heechul mendekat, dan ikut menjatuhkah diri pada ayunan yang ada disebelah Seira.

“Sei-ya, apa kita tidak dapat berubah?”

“Ne?” alis Seira keriting, lalu seulas senyum terlukis disudut bibir Seira. Asiiik, oppa akan memutuskanku, oppa akan memutuskanku!

“Ehm,” Heechul berdahak sebentar, merasa bahwa tenggorokannya mulai kering. Meski sudah satu tahun bersama, namun Heechul tidak dapat mengatasi rasa canggung dan malu saat bersama Seira. Gadis itu berhasil membuat detak jantungnya naik turun dengan cepat. “Sei-ya, ada satu hal yang ingin aku katakan padamu…” ujar Heechul yang sudah bisa menahan emosinya.

“Ne oppa, katakan saja.” Seira tertawa puas dalam hati. Jika perkiraannya tepat, maka malam ini akan menjadi malam terindah bagi Seira. Karena mulai malam ini, Seira tidak akan berpacaran dengan namja aneh itu lagi. Yaa! Donghae oppa, I’m cominggg

“Uri…”

“Ne?” Seira tidak sabar.

“Tidak dapat berpisah,” kata Heechul pada akhirnya.

“NE???” nada suara Seira yang tadinya datar, kini berubah nyaring karena ucapan Heechul.

“Yaa! kau mau membuatku tuli ya?!” omel Heechul sambil memegang telinganya yang sempat berdengung karena teriakan Seira.

Tanpa mempedulikan Heechul, Seira berkata lantang. “Oppa jangan bercanda!”

“Nugu? Nan? Aigoo~ sejak kapan aku bercanda jika menyangkut hubungan kita. Aku serius, aku tidak ingin kita berpisah, hubungan kita sudah cukup lama bukan? Aku malas jika harus mengulang lagi dari awal dengan yeoja lain.”

“Tapi, tapi, tapiii…” blas! Suara Seira nyaris menghilang. Perkiraannya ternyata tidak tepat, salah besar. Rasanya Seira ingin memukul kepalanya yang sangat babo ini, tapi Seira takut jika Heechul curiga. Seira babo, babo, babooo!!! Kau pikir ia akan memutuskanmu, hah? Yaa! babo gateun!

Heechul memandang wajah dihadapannya yang kini hanya menunduk, dan sesekali kakinya memainkan pasir putih hingga ujung sepatunya sedikit kotor. Entah apa yang ada diotak babo gadisnya itu. Seingat Heechul, sepuluh menit yang lalu wajah Seira masih cerah. Lalu kenapa sekarang berubah? Apa ada yang salah dengan perkataan Heechul.

“Sei-ya, neo gwaenchana?” tanya Heechul dan mendaratkan tangannya pada kening Seira.

Dengan wajah murung Seira melepaskan tangan Heechul dari keningnya. “Ne, nan gwaenchanayo.”

Dasar yeoja pelit! Skinship seperti itu saja tidak mau! Heechul kembali mengeluh pada sifat pelit Seira. Hello, mereka sudah berpacaran selama satu tahun. Jadi wajar kan jika Heechul ingin hubungan mereka ada kemajuan? Bukan hanya jalan beriringan. Heechul sudah dewasa dan Seira juga sudah dewasa (seharusnya), jika hanya bersentuhan sedikit Heechul yakin tidak akan ada masalah.

Mendadak Heechul ingat sesuatu. Sebuah benda yang sejak seminggu yang lalu ingin ia berikan pada Seira. “Sei-ya, chakkaman. Ada sesuatu yang ingin aku ambil dimobil, kau jangan kemana-mana dulu. Arasseo?”

Seira mengangguk tanda setuju. Baru setelah itu Heechul berjalan kearah mobil. Masalahnya, Heechul tidak berani pergi jika Seira belum mengangguk setuju. Gadis itu, menakutkan! Kadang ia bisa pergi meninggalkan Heechul hanya karena merasa bosan, atau menyelinap diam-diam saat Heechul mengalihkan pandangannya dan mengobrol sebentar ketika bertemu temannya dijalan. Ya, itulah KIM SEIRA.

Seira masih menunduk dan menatap sepatunya yang dipenuhi pasir saat ada kotak besar berwarna biru yang tiba-tiba jatuh kepangkuannya. Seira menoleh, ternyata kotak itu dari Heechul.

“Bukalah,” Heechul memgizinkan Seira untuk membukanya, karena kotak itu memang untuk Seira.

“Mwo?” mata Seira melebar saat mengetahui apa isi dari kotak tersebut. Sebuah boneka Doraemon berukuran 20 centimeter yang sedang memegang baling-baling bambu dan mulutnya yang tersumpal dorayaki. Boneka yang belum ada dilemari tempat Seira menyimpan semua koleksinya yang berbau Doraemon.

“Bagus tidak?”

Seira menunduk, kemudian menarik ujung bibirnya sehingga membentuk sebuah senyuman. “Bagus, ini lucu sekali oppa. Gomawoyo…” untuk sesaat, rasa kesal yang tadi melanda hilang dari otak Seira. Jika Heechul mau membelikan boneka Doraemon setiap hari, Seira bersumpah tidak akan memutuskannya. Tapi kalau setiap hari!

“Kemarin malam saat pulang syuting, aku tidak sengaja melihatnya. Doraemon itu terpajang disebuah lemari kaca yang letaknya agak tinggi, untung aku melihatnya. Saat itu aku hanya berpikir jika… kau pasti menyukainya.”

“Lalu?”

“Lalu aku membelinya.” Heechul mengalihkan pandangannya pada pohon besar, ia malu jika Seira melihat wajahnya yang sudah berubah warna.

Seira tersenyum hambar dan ikut memalingkan wajahnya hingga mereka berdua saling membelakangi. Selaluuu saja seperti ini. Saat Seira bertekad untuk memutuskan Heechul, selalu saja ada satu moment yang membuat Seira membatalkan niatnya itu. Hari ini sama saja. Seira sudah merangkai kalimat panjang tadi siang, dan kalimat itu harus ia pendam lagi untuk yang kesekian kali.

Seira memandang Doraemon yang sedang mengeluarkan evil smile kearahnya, lalu menjitak kepala boneka itu dengan pelan. Aigoo~ selalu seperti ini. Setiap aku mau memutuskannya, sifat oppa selalu berubah. Mungkin otak Heechul oppa memang pintar! Hah Dora-ya, ini SANGAT MENYEBALKAN! Sejak bertemu tadi, Heechul oppa selalu bersikap baik padaku. Saat menonton film ia membeli makanan dua kali lipat untuk kami berdua. Lalu ia memberikanku boneka yang sangat lucu sepertimu. Tadi ia juga bilang, ia membelimu saat perjalanan pulang setelah syuting. Bukankah itu hampir tengah malam? Ia masih sempat membeli sesuatu yang sangat kusukai, padahal aku tahu jika ia pasti merasa sangat lelah. Jika sudah seperti ini, aku harus bagaimana lagi. Ottokhae?

“Omoo~ sudah jam sembilan!” jerit Heechul saat pandangannya tidak sengaja mengarah pada jam tangannya. Sebelum kena lemparan sepatu, sebaiknya Heechul segera memulangkan Seira. Aissh, sebentar lagi appa dan eonnie Seira akan pulang. Heechul pasti akan ditanya yang macam-macam oleh mereka berdua. Tipe appa dan eonnie yang (terlalu) posesif. Pantas saja anak itu masih bersikap childish, karena ia sangat disayang dan dimanja layaknya anak yang baru puber.

“Sei-ya, ayo kita pulang.” Heechul menepuk pundak Seira karena merasa gadis itu mulai berubah menjadi batu.

“Ne?” tanya Seira bingung, otaknya masih tertuju pada Doraemon. Ia bahkan tidak sadar jika Heechul berteriak panik sejak tadi.

“Aissh, jinjja! Yaa! Ayo kita pulang sekarang, atau wajahku yang tampan dan mulus ini akan terkena lemparan sepatu kulit appamu atau high heels eonniemu,” jawab Heechul jujur. Sepertinya sifat narsis sudah mendarah daging pada diri Heechul, sehingga ia menganggap bahwa itulah kenyatannya. (-_-”)

“Jangan berbohong padaku, Heechul-ssi. Hanya yeoja babo yang menganggapmu tampan!” ujar Seira dengan wajah datar dan bangkit dari ayunan, berjalan perlahan meninggalkan Heechul sendiri. Heechul segera menarik ujung hoodie yang Seira pakai hingga ia berjalan mundur lagi dan membuatnya berdiri tepat dihadapan Heechul. Kemudian Heechul menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Seira. Omonaaa, jantung Seira ingin loncat! Dalam jarak sedekat ini… “YAA! APPO!!!” jerit Seira saat ujung jari Heechul menyentil kening Seira dan membuat poninya jatuh menutupi mata.

“Itulah balasan jika menentangku, Kim Seira-ssi.” Heechul kembali menegakkan tubuhnya hingga membuat tubuh Seira terlihat mungil jika disejajarkan dengannya.

“Kau jahat!” Seira menantang Heechul. Bagus, kini energi kemarahan Seira kembali terisi. Sekarang misi ‘memutuskan’ bisa terlaksana, beban kebaikan Heechul tadi telah berganti mejadi kemarahan.

Tadinya Heechul hanya ingin mengerjai Seira, namun saat melihat wajah gadis itu berubah merah karena kesal, Heechul membatalkan niatnya. Demi apapun, Heechul ingin berubah menjadi dewasa karena usianya yang sebentar lagi akan bertambah. “Sei-ya, mianhae. Aku tidak sengaja. Ah ani, tanganku memang sengaja melakukannya. Tapi aku hanya bercanda, dan aku tidak menyangka kalau kau akan semarah itu.”

Tuh kan, lagi!!! Seira menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa sikap Heechul oppa berubah baik lagi?

“Oppa, jujurlah padaku!” seru Seira lantang.

“Mwo? Jujur apa?”

“Kenapa hari ini oppa berubah baik? Setiap membuatku kesal, oppa akan meminta maaf. Oppa juga memberikanku boneka, padahal aku tidak memintanya. Yaa! Apa yang sudah Teuki oppa lakukan padamu? Atau…” Seira menatap Heechul dengan pandangan menyelidik, lalu melanjutkan kembali kalimatnya. “Sudah berapa bulan Siwon oppa menceramahimu?”

Heechul menggelengkan kepalanya dengan gerakan yang seirama. “Ckckck~ baik itu memang sifat dasarku kan?”

Seira merangkul Doraemon lebih erat, merasa mual karena mendengar perkataan Heechul. Kapan ia bisa menghentikan sifat narsisnya itu? Eomma, please help me!

Hikkk!

Mulut Seira cegukan karena menahan mual. Sebaiknya Seira pergi dari taman sekarang juga. Paling tidak jika Heechul meneruskan kenarsisannya dimobil, Seira bisa menyumpal telinganya dengan earphone dan mendengarkan lagu B2ST – Shock dengan volume super kencang. Usaha ampuh untuk meredam kalimat narsis yang semakin lama membuat kepala Seira over dosis.

“Yaa! Kenapa meninggalkanku?” Heechul masih mengatur nafasnya yang sedikit terkuras akibat mengejar Seira yang sampai duluan didepan mobil.

“Karena kalimat narsis oppa selalu membuatku mual, hikkk…” Seira kembali cegukan, dan menahannya dengan menutup mulut.

“Ah, sudahlah.” Heechul membuka pintu mobil dan menyuruh Seira masuk. Karena letak taman ini yang tidak terlalu jauh dari rumah Seira, jadi Heechul membiarkan saja saat Seira menolak memakai safetybelt.

Seira bersiap memakai earphone dan bernyanyi gila-gilaan, tepat saat Heechul mengatakan sesuatu padanya.

“Sei-ya, kau tahu?”

Seira menoleh sebentar, lalu menggeleng pasti. “Mwo?”

Perlahan tangan Heechul mendekat, menarik hood yang Seira kenakan hingga terlepas, dan mengacak rambut Seira agak lama. Membuat poni Seira sudah tidak berbentuk lagi, bahkan ada rambut nakalnya yang mencolok mata. “Yaa! Oppa!” pekik Seira sambil berusaha menyingkirkan rambutnya dan menatanya kembali seperti semula.

“Aku rindu bertengkar denganmu…”

“…”

“Sudah lama kita tidak bertengkar.”

“Cissh~ oppa jangan berlebihan, bukankah lima menit yang lalu kita baru saja bertengkar?”

“Kekeke~ kau benar.”

“…”

“Sei-ya, didunia ini bukan hal-hal romantis yang aku butuhkan. Cukup dengan melihat dan menghabiskan waktu denganmu, meskipun selalu bertengkar, aku sudah merasa senang. Aigoo~ ternyata hal sepele seperti ini bisa membuatku bahagia sampai terbawa mimpi,” ujar Heechul jujur dengan senyum lebar, hingga garis tawanya muncul kepermukaan.

Jika dalam keadaan baik seperti ini, harus Seira akui jika wajah Heechul terlihat tampan. Ah ani, sangat tampan malah. Tapi mendengar kalimat jujur barusan, Seira jadi ingin menanyakan sesuatu pada Heechul. “Oppa, bagaimana jika suatu saat nanti… hubungan kita berakhir? Ini hanya perumpamaan saja ya oppa.”

“Yaa! Aku kan sudah bilang jika hubungan kita tidak akan berakhir.” Heechul mengerutkan kening karena ulah Seira.

“Ini kan hanya perumpamaan oppa. Kenapa kau sangat terkejut,” ucap Seira enteng. Jika Heechul menganggap sungguhan juga tidak apa-apa, itu akan sangat membantu.

“Aissh, jinjja!” Heechul mengusap dadanya yang sempat terkena serangan jantung mendadak. “Kalau hubungan kita sampai berakhir, akan kupastikan tanganmu masuk kedalam mulut harimau!”

“Jangan bercanda oppa!”

“Aku serius.”

“…”

“Yaa! Kau tidak mendengarkanku, hah?!”

“Every day I just can’t control. Every night the loneliness my love…” Seira mulai bernyanyi dengan suara kencang.

“Kim Seira-ssi, kau minta kuhajar rupanya! Yaa! Berhenti menyanyikan lagu boyband lain!”

“…”

Seira mengacuhkan Heechul dan beralih menatap pemandangan luar mobil yang hanya disinari cahaya lampu berwarna jingga. Kegagalan bukan hal baru bagi Seira. Sekarang ia mulai terbiasa malah, berencana putus – menyiapkan kalimat yang bagus – lalu gagal mengatakannya lagi. Berjalan sesuai dengan takdir. Bagaimanapun, ada yang sudah mengatur jalan hidup Seira melebihi kemampuan Seira yang sebatas manusia biasa. Dan jika Heechul yang harus ada dihadapannya untuk saat ini, maka Seira hanya bisa menerimanya.

“Aissh, oppa berisik. Ayo cepat pulang, atau sepatu kulit appa dan high heels eonnie akan melayang diwajahmu yang… terkadang tampan!” ujar Seira dengan tatapan merendahkan, dan mengutip kalimat yang tadi Heechul katakan.

 “Yaa! Yaa! Yaa! Kim Seira menyebalkan!”