Hai semua!! ^^

Ji Soon udah nyelesaiin nih part 4-nya nih, hohohohho… >o<

Mian ya lama banget Ji Soon baru bisa nge-postnya…

Ini dikarenakan banyak banget tugas yang selalu menghalangi Ji Soon untuk melanjutkan FF ini…

(Ckckck… kata-katanya puitis banget…) ==”

Kali ini Ji Soon juga mau nanya pendapat kalian, kira-kira asyik atau rame gak ya kalo di FF yg ini kita buat polling, jd dmna pilihannya itu adalah yang menurut kalian dalam couple FF disini (Love In SEOUL) yang paling serasi. Atau kalian bisa juga mau kasih polling tt apa, entah mslnya pasangan tergokil atau sampe pasangan tergila, hahha… 😀

Mmm, mikirinnya nanti dulu deh..

Smbil dibaca aja ya dulu, hehhe… ^^

Enjoy It ALL…! ^.^

=====================================##################=======================================

 

Title             :     Love In SEOUL

Genre         :     Friendship,romantic, and school life

Chapter      :     4

Cast             :     –  Ji Soon (author)

–   Jang Hyun Ra (Tam. P/author)

–   Lee Seung Yeon (Dicta/author)

–   Park Jae Soon (Olvi/reader)

–   Dong Woon (BEAST)

–   Hyun Seung (BEAST)

–   Yo Seob (BEAST)

–   Jun Hyung (BEAST)

And other cast…

 

Yaa~! Apa-apaan ini?? Kenapa nasibku malang sekali, apa mesti aku harus berjalan-jalan dengan mereka berdua, si narsis dan si pemalu?? Ahh.., benar-benar gak asyik banget deh, huhh…! -__-“

Batin Seung Young dalam hati sambil mengikuti kemana mereka berjalan agar tidak tersesat. Ya, memang sial sekali, karena sejak dari tadi setelah makan siang bersama mereka, mereka ternyata juga membawa Seung Young dan Hyun Ra ke taman bermain yang tak jauh dari restoran itu tanpa sepengetahuan mereka berdua. Sungguh menyebalkan, pikir Seung Young dalam hati. Sedangkan Hyun Ra malah tidak berpihak padanya sama sekali, sekarang ia sedang asyik bermain flying fox dan bianglala sambil makan es krim bersama yang lainnya. Hanya ada satu dari mereka yang sepertinya tidak tertarik dengan permainan tersebut, dan sekarang ia menghampiri Seung Young yang semenjak tadi sedang duduk santai sambil menyeruput segelas lemon tea-nya.

“Kau tidak ikut bermain?” tanyanya kepada Seung Young, namun tidak didengarnya karena ia sedang asyik memandang sebuah kebahagiaan yang terjadi di depannya, yaitu sepasang kekasih yang saling menyuapkan popcorn dengan penuh kasih sayang dan tawa lepas. Di saat seperti ini Seung Young merasa teringat kembali dengan masa lalunya, masa lalu yang sangat indah namun berakhir menyedihkan.

“Yaa~!! Apa yang sedang kau pikirkan??” tanyanya lagi penasaran sambil melambaikan kedua tangannya di hadapan wajah Seung Young. Kali ini Seung Young pun tersadar dan segera memasang wajah juteknya kembali.

“Kau sedang melamun apa tadi? Sepertinya kau kelihatan sedih sekali…” tanyanya lagi dengan wajah yang agak sedih. Seung Young bersikeras menyangkalnya, dan untung saja ia bisa memahaminya. Karena tak mau berlarut-larut dalam kesedihan itu lagi, akhirnya ia pun menggandeng tangan Seung Young ( Seung Young sempat merasa gugup) dan mengajaknya bermain beberapa permainan, terutama roller-coaster, arung jeram, dan bianglala. Awalnya Seung Young menolak keras ajakannya itu, apalagi saat ia tahu permainan yang hendak mereka naiki adalah permainan yang benar-benar menantang nyali dan paling ditakuti oleh Seung Young. Namun karena ia juga bersikeras untuk mengajaknya bahkan sampai merayu Seung Young sebisanya, akhirnya Seung Young hanya bisa pasrah dan siap-siap berdoa menunggu kematiaannya sebentar lagi.

“Yuuhhuuu~! I’m so ready, hahha… Apa kau juga sudah siap?” tanyanya bersemangat sekali, namun saat ditengoknya wajah Seung Young yang sangat pucat dan diam terus dari tadi, ia pun sedikit panik.

“Yaa~! Gwaenchana..? …. Tenanglah, aku bersamamu.” Hiburnya sambil menggenggam tangan Seung Young yang gemetaran semenjak tadi, Seung Young pun sedikit kebingungan dengan sikap pria yang di sampingnya sekarang itu. Tapi anehnya, saat bersamanya (terlebih saat ia menggenggam tangan Seung Young) ia merasa tenang dan nyaman sekali, seperti ada sesuatu yang akan selalu menjaganya. Dan semenjak itu juga jantung Seung Young berdetak makin cepat dan juga gugup. Itulah yang dirasakan olehnya sekarang.

Tak lama kemudian, kereta roller-coaster pun berjalan perlahan sedikit demi sedikit dan menaiki rel yang cukup curam. Tangan Seung Young pun semakin kuat memegang tangan pria itu dan tanpa disadari olehnya. Terlebih saat kereta mereka telah mencapai puncak dan akan turun dengan kecepatan yang benar-benar menguji nyali mereka masing-masing. Seung Young pun semakin ketakutan dan berteriak sekeras mungkin sambil tetap mempererat genggaman pria itu, yang sepertinya sedari tadi tidak menikmati permainannya kali ini karena merasakan hal yang sama dengan Seung Young, yaitu kegugupan yang membuatnya hampir mati gaya. Sesaat kedua mata mereka bertemu dalam tatapan yang dalam, hal itu bisa menghilangkan ketakutan yang tengah dirasakan Seung Young sekarang ini. Semua ketakutan yang semula dirasakan oleh Seung Young kini menghilang, entah mengapa ia merasa tatapan matanya itu bisa menenangkan hatinya.

Setelah beberapa lama kemudian, mereka pun sama-sama tersadar dari tatapan magic itu saat roller-coaster berhenti. Mereka pun sebelumnya tidak sadar bahwa ada beberapa orang yang kini mengamati mereka berdua, ada yang dengan tatapan kaget dan ada juga dengan tatapan sinis dan penuh benci yang sepertinya ditujukan kepada Seung Young. Seung Young menatap bingung ke arah mereka semua, dan namja itu segera menarik tangan Seung Young dan berlari kecil menggandengnya. Seung Young pun semakin kebingungan dengan semua yang terjadi. Bahkan, ia pun kini menutupi wajah Seung Young di balik jaketnya yang hangat dan harum itu. Seung Young tidak bisa berkata apa-apa, hingga akhirnya mereka pun tiba di sebuah tempat yang sepi, seperti sebuah taman tapi sepi dengan pengunjung.

“Yo Seob-ssi…”

“SSSTT! Nanti saja kita bicaranya…” potong namja itu sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Seung Young yang merah itu. Seung Young pun merasakan sesuatu yang aneh lagi seperti tadi.

Untuk beberapa saat mereka berdua bersembunyi di balik semak di taman itu, hingga akhirnya semua orang yang tadi mengejar mereka tersesat mencari mereka berdua. Kini suasana menjadi tegang karena kini tatapan mereka saling bertemu lagi, sebelum akhirnya datang dua orang, yang tak lain adalah Hyun Ra dan Hyun Seung, yang masing-masing sambil membawa gulali dan minuman di tangan mereka. Kini mereka berdua pun mati gaya.

Hyun Ra POV

 

Apa-apaan ini? Berduaan di sini kayak mau ngapain aja… Wah, bahaya nih!

“SEUNG YOUNG!! Lagi ngapain kalian di sini??” tanyaku menginterogasinya dengan sedikit tidak percaya dengan apa yang terjadi. Aku pun segera menarik tangan Seung Young dan menyeretnya ke tempat yang agak jauh dari mereka sehingga mereka tidak bisa mendengar apa-apa perkataan kami.

“Yaa~! Seung Young, apa kamu udah gila ya? Masa berduaan di balik semak, wah…, bahaya nih kalo gitu!” curigaku kepadanya dan beringsut menjauh sedikit darinya.

“YAA!! Apa-apaan sih pikiranmu? Jangan berpikiran yang macam-macam dong! Trus ngapain juga kamu jauh-jauh dari aku, emang aku apaan, hantu apa?” bantah Seung Young dengan keras sambil merebut gulali dan minuman yang sedang kupegang.

“YAA, YAA~!! Boleh aja sih bentak-bentak, tapi jangan nyolong punyaku juga donggg…!!” teriakku sambil mengejar Seung Young yang sudah dari tadi nyelonong kabur dariku.

—Hyun Ra POV End—

Mereka berdua (Hyun Seung dan Yo Seob) yang sedari tadi bingung dengan tingkah laku mereka, ditambah dengan adegan saling mengejar padahal di sini adalah tempat umum, sungguh memalukan.

“Emangnya ngapain kalian ngumpet di balik semak, kayak dikejar wartawan aja…” tanya Hyun Seung sambil melahap habis gulali yang baru dibelinya tadi bersama Hyun Ra.

“Emang!” jawab Yo Seob singkat tanpa panjang lebar.

“MWO!!? Kenapa bisa? Gimana ceritanya tuh…, wahh, bahaya juga nih! Masa masih zaman sih wartawan sampe ngejar di taman bermain seluas ini… Benar-benar gila ya, kita gak bisa… HMMMFT! HMMMFFT!!” segera Yo Seob membungkam mulut Hyun Seung yang cerewetnya sudah mulai keluar.

“YAA! Mau diceritain atau gak nih? Sekarang bukan saatnya buat hyung pidato, arraseo?!” tegas Yo Seob yang masih membungkam erat mulut Hyun Seung yang nyerocos aja seperti bebek itu. (#PLAKK, ditampar Hyun Ra eonni)

Setelah Hyun Seung mengerti kesalahannya dan segera meminta maaf, Yo Seob pun segera menceritakan semuanya tentang insiden pengejaran oleh beberapa fans dan wartawan tadi.

“… Yang paling bahayanya lagi, tadi ada beberapa dari mereka yang sempat mengambil gambar kami tanpa kami sadari. Sekarang bagaimana? Apa reaksi Doo Joon hyung dan manager nantinya? Aku benar-benar takut.” Kata Yo Seob sedikit gugup dan gemetar karena ketakutannya saat ini.

“Tenanglah, aku akan membantumu. Bahkan jika nantinya mereka butuh penjelasan, aku bisa berbohong untuk menutupi semua ini. Yang penting sekarang tenangkanlah dirimu dan bersikaplah seperti biasanya. Kalau kamu begini terus, semuanya pasti curiga…” Hyun Seung mencoba menasihatinya sambil menepuk-nepuk pundaknya temannya itu agar sedikit tenang. Yo Seob yang akhirnya sedikit merasa tenang hanya bisa menganggukan kepalanya dan tersenyum kepada temannya itu sebagai wujud dari terima kasihnya.

Kini mereka berdua pun kembali bercanda lagi seperti biasanya. Tiba-tiba, seseorang mengejutkan mereka…

“Aissh~! Kalian mengejutkan kami saja… Lalu, kenapa kalian jadi kotor begini?” tanya Yo Seob kepada mereka.

“Huhh…, tidak usah dibahas lagi! Aku ingin pulang sekarang!!” jawab Seung Young sewot.

“Alah~! Makanya jangan suka nyolong punya orang dong, jadinya kecebur di kubangan lumpur kayak gini deh, hahahahha…”

“Sudah, sudah~! Jangan bertengkar lagi, ya sudah.., ayo sekarang kita pulang! Kasihan Seung Young nanti masuk angin loh…” sela Yo Seob mencegah perdebatan di antara mereka lagi.

“Aiggoo~~! Gak usah sok perhatian gitu deh, gombal banget jadi cowok!” Seung Young memalingkan mukanya.

“Aisshh! Sombong banget jadi cewek sih, masih untung lagi dia mau perhatian sama kamu biarpun udah gak pantas buat dilihat gitu…” ingat Hyun Ra dengan bermaksud menantangnya kembali.

“YAA~!! Cari masalah banget sih jadi orang, dasar gak setia kawan!!” gertak Seung Young hingga menimbulkan efek menegangkan di antara mereka semua. Kini mereka saling bertatap muka.

“Sudah, sudah! Jangan berkelahi lagi… Kalian ini kan bersahabat, kenapa mesti berkelahi terus sih? Seharusnya kan…”

DIAMMM!!

Hyun Seung hanya bisa melongo dan terkejut mendengar bentakkan mereka berdua. Yo Seob tidak mau tahu dan ikut campur kejadian ini, dia yang membayangkannya saja sudah merinding, bagaimana kalau dia yang mengalaminya… (hmmm, gimana ya kira-kira? Jangan-jangan nangis duluan, hahha… XD) *kabur dikejar Seung Young eonni* T.T

“Ahh, mianhaeyo Hyun Seung-ah~! Aku tidak bermaksud membentakmu, aku hanya terbawa emosi…” mohon maaf Hyun Ra kepada Hyun Seung yang masih melongo dan merasakan kakinya mulai gemetaran. Sedangkan Seung Young hanya bisa memandang sinis adegan itu.

“Yaa~! Udah deh, gak usah sok dramatis kayak gini! Bukannya kamu bilang hari ini kita ada urusan penting yang harus diselesaikan?” seperti biasa, kerjaan Seung Young hanya merusak suasana yang tidak ia suka. Seperti saat ini pun, ia tidak mau membiarkan sedikit pun untuk Hyun Ra lebih dekat lagi dengan Hyun Seung. Respon dari Hyun Ra hanyalah mendengus kesal dan segera menyuruh mereka semua, termasuk dirinya sendiri, untuk langsung pergi dari tempat itu, dan kembali lagi ke gedung agency.

Sementara itu di tempat lain…

 

“Oppa!!!” seseorang berlari kencang ke arah orang yang dipanggilnya, memecah keramaian yang ada.

“Ji Soon-ah!” seseorang itu adalah Ji Soon yang segera berlari saat melihat kakak laki-laki kesayangannya telah kembali. Ji Soon pun memeluk erat kakaknya itu, melepas semua kerinduan di antara mereka. Jae Soon hanya bersikap biasa melihat pemandangan seperti ini.

“Yaa~! Jae Soon-ah! Lama tidak berjumpa. Kau terlihat berbeda sekali dengan yang dulu, bukannya kau dulu…”

“Ya, ya, iya… Arraseo, dulu aku gendut dan pendek kan? Waeyo? Bermaksud mengejek lagi ya? Aissh~! Ji Soon-ah, kakakmu ini benar-benar mau nyari mati ya…?” Jae Soon mulai emosi dan mukanya pun mulai memerah.

“Hahhahha… baru gitu aja udah ngambek, aku kan cuma nanya dan pastiin aja. Tapi, by the way, apa rahasianya sampai sekarang bisa jadi kayak Yuri SNSD gini? Hahha..” kakak Ji Soon mulai tertawa dan menggoda Jae Soon lagi. Kini Jae Soon pun kupingnya mulai memanas. Ji Soon hanya bisa menahan tawanya yang kalau mulutnya tidak ditutup oleh tangannya bakal berubah menjadi tawa nenek sihir.

“YAA~!! Jo Hyun oppa, neol jinjja…”

“Sudahlah eonni, oppa! Jangan bertengkar di sini dong, malu tau… Lagipula Jae Soon sekarang jadi kayak gini kan karena usahanya sendiri. Dibandingin Yuri SNSD, menurutku Jae Soon eonni lebih baik kok…” Ji Soon mencoba menghibur eonninya kembali, walaupun harus berbohong sedikit dan jadinya Jae Soon kegeeran deh. Oppa Ji Soon pun tertawa geli dalam hatinya.

Mereka bercanda sambil berjalan keluar dari bandara dan menuju mobil mereka. Bahkan karena saking asyiknya, dalam perjalanan pulang pun mereka sempat masih bercanda bersama hingga tak sadar cepat sekali perjalanan pulang mereka.

Hingga malamnya…

 

“Aigoo~! Capek banget hari ini! … Hmm, enak banget ya kamu bisa tinggal di sini, sedangkan aku harus pergi kesana-kemari mengadakan konser tunggalku dan latihan hampir setiap malam. Lagipula aku sangat suka kota ini, Seoul adalah tempat terakhir kita bersama eomma menghabiskan waktu bersama-sama. Oh ya, apa kau masih sering mengunjungi makam eomma di Daegu (kampung halaman sang ibunda)? … Ji Soon-ah~!” panggil oppanya yang bernama Jo Hyun itu.

“Ne…?” jawab Ji Soon singkat.

“Aissh~! Ternyata kau tidak mendengarku dari tadi ya? Memangnya lagi ngapain sih? Kok kayaknya serius banget sih…” tanya oppanya penasaran.

“Jeongmal?! Mianhae oppa… Aku cuma lagi liatin album foto kita waktu kecil dulu. Oppa mau liat juga?” tanya Ji Soon balik mengajak oppanya bergabung dalam nostalgianya. Oppanya tersenyum dan langsung menghampiri Ji Soon yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri tadi.

“Oppa, apa kau masih ingat foto ini? Ini foto favoritku, sekaligus foto terindah yang pernah kumiliki di dunia ini.” kata Ji Soon mengingatkan kembali kenangan akan foto itu dalam benak Jo Hyun (oppanya Ji Soon).  Jo Hyun mengingat-ingat kembali foto itu, di mana tergambar dalam foto itu gambar diri mereka berdua waktu kecil bersama dengan seorang perempuan tua, yang tak lain adalah ibu mereka. Di dalam foto itu terlihat mereka berdua bersama-sama mencium pipi ibunya yang sedang meniup lilin untuk kue ulang tahunnya, di mana mereka semua dengan senang hati merayakan ulang tahun ibu mereka tercinta yang ke-30.

“Ya, aku masih mengingatnya! Tapi sayangnya appa tidak ada bersama kita waktu itu…” jawab Jo Hyun masih terpaku menatap foto itu. Ji Soon pun terlarut dalam kenangan yang pahit namun terkadang indah itu. Kenangan pahit di mana kenyataannya mereka berdua sejak lahir tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, sehingga ibunyalah yang harus menanggung semua kehidupan mereka dengan susah payah. Masih teringat akan kenangan indah bersama ibu mereka, di mana saat mereka bertiga bisa tertawa gembira dan tersenyum bahagia melihat prestasi yang mereka (Jo Hyun dan Ji Soon) dapat.

“Hahha…” tiba-tiba Ji Soon tertawa garing.

“Kenapa tertawa? Perasaan gak ada yang lucu deh…” Jo Hyun kebingungan. Ji Soon pun menatap oppanya dengan penuh perasaan, kemudian ia tersenyum manis. Jo Hyun semakin kebingungan saja karenanya.

“Oppa…” panggil Ji Soon.

“Waeyo?” jawab Jo Hyun.  Jo Hyun mengira sepertinya dongsaeng kesayangannya ini akan mengatakan sesuatu yang penting, maka ia pun sudah bersiap-siap untuk mendengarkannya.

“Oppa… Aku… Aku ngantuk…”

GUBRAKKK…

“JI SOON-AH! Kau ini… Aissh~! Jeongmal pabo, bikin orang penasaran aja ternyata cuma itu yang mau diomongin. Aigoo~~” Jo Hyun mengacak-acak rambutnya saking kesalnya. Ji Soon memanyunkan bibirnya karena dibilang pabo oleh oppanya.

“Trus, kalo ngantuk mau ngapain kamu?” tanya Jo Hyun dengan nada masih kesal.

“Aku ingin tidur di bahu oppa sambil oppa memainkan lagu pengantar tidur untukku dengan piano. Oppa, jebal…” Ji Soon memohon kepada Jo Hyun. Jo Hyun yang masih kesal kini hatinya meluluh juga karena tidak ingin mengecewakan adik kesayangannya ini. Lagipula memang itulah kebiasaan yang sering ia lakukan untuk adiknya jika mau tidur. Ibunyalah yang sejak kecil selalu mengajarkan kebiasaan ini kepada anak-anaknya.

Jo Hyun melihat Ji Soon prihatin. Karena sudah dua tahun sejak kepergiannya ke Amerika demi mengejar cita-citanya, yaitu menjadi seorang pianis terhebat, persis seperti apa yang diimpikan oleh eommanya.

Maka mereka pun segera berjalan keluar ke ruang tengah, di mana terletak sebuah piano klasik ukuran sedang yang berwarna putih. Mereka berdua segera duduk bersebelahan di kursi tersebut. Alunan nada Mozart (Pachelbel-Canon in D) mulai dimainkan Jo Hyun. Ji Soon pun perlahan merebahkan kepalanya di bahu oppanya yang sedang memainkan piano tersebut. Dan perlahan-lahan juga mata Ji Soon terpejam. Jo Hyun hanya tersenyum meliriknya, dan ia pun terbawa suasana dengan lagu yang ia mainkan. Ia mengenang kembali masa di mana mereka berdua selalu tertidur saat ibunya memainkan sebuah lagu pengantar tidur untuk mereka dengan piano juga.

“Ji Soon-ah~! Eodi…yo?” Jae Soon berteriak memanggil Ji Soon, namun saat ia melihat pemandangan yang ada di depannya, ia pun segera mengecilkan suaranya dan langsung meminta maaf kepada Jo Hyun.

“Waeyo Jae Soon-ah?” tanya Jo Hyun dan bermaksud mewakili Ji Soon, adiknya.

“Anni~! Hanya saja kami berdua harus segera pergi ke gedung agency SM Entertainment karena sesuatu harus kami selesaikan di sana sekarang juga. Bolehkah aku…” Jae Soon menggantungkan kat-katanya sambil mengarahkan lirikkan ke arah Ji Soon yang sedang tertidur sekarang. Jo Hyun segera mengerti syarat yang ditunjukkan Jae Soon, maka ia pun mengiyakannya.

“YAA~! JI SOON-AH!! BANGUN!!!!” teriak Jae Soon sambil menggoyangkan badan Ji Soon yang masih tertidur. Tapi tidak ada satu pun reaksi dari Ji Soon. Maka Jae Soon segera menarik badannya dan memberdirikannya. Ji Soon yang masih setengah sadar marah dan merengek-rengek kesal kepada siapa yang membangunkannya.

“Oppa, bantu aku ya…” Jae Soon meminta tolong kepada Jo hyun, segera Jo Hyun paham akan maksud Jae Soon. Ia pun segera mengangkat Ji Soon seperti seorang penculik yang sedang menggendong (dengan memaksa) seorang anak kecil (mangsanya). Ji Soon spontan kaget dan berteriak keras agar menurunkannya segera. Tapi mereka berpura-pura tidak tahu dan segera menuju ke bagasi.

Di dalam mobil…

 

 “Yaa~! Eonni, ngomong-ngomong kita mau ngapain datang ke gedung agency sekarang? Padahal kan aku mau tidur, capek tahu… Mana lagi bangunin orang secara paksa, gimana gak bikin orang kesal apa?! “ keluh Ji Soon.

“Hehh, kamu pikir cuma kamu aja apa yang capek, aku juga tahu! Ini juga kalo bukan tentang program debut kita, mana mau aku datang tepat waktu… Ini kan juga udah hampir tengah malam, kalo aku berangkat sendiri ya mana berani lah…” jawab Jae Soon ikut mengeluh.

“Makanya, kalo emang penakut jangan sering nonton Death Bell atau Muoi dong… Sok aja berani nonton, tapi pas udah selesai, eh ternyata…”

“Yaa! Yaa! Yaaa! Gak usah buka aib deh, nyebelin banget sih…” Jae Soon memperingatkan Ji Soon yang sekarang sudah tertawa ngakak karena mengingatnya. Mobil yang mereka kendarai kini tak terasa sudah sampai di halaman gedung tujuan mereka. Mereka pun segera keluar dan menuju gedung itu, kecuali Ji Soon yang sepertinya tidak mau dan bermalas-malasan melangkahkan kakinya. Jae Soon berpura-pura tidak melihatnya dan segera masuk ke dalam gedung itu dengan langkah pasti dan cepat.

“YAA~!! Eonni! … Aissh~!  Sengaja banget sih ninggalin aku di sini, bermaksud mau balas dendam ya…? Awas aja nanti kalo sampe rumah, bisa kupenggal kepalanya.” bisik Ji Soon dan membayangkannya sambil tertawa dalam hati. Ji Soon pun segera melangkahkan kaki menyusul Jae Soon, namun ia kehilangan jejak. Sedangkan ia sendiri pun tidak tahu di manakah sahabatnya itu, karena sebelumnya ia tidak diberitahu akan ke ruangan mana. Awalnya Ji Soon berpikir akan menungguinya di lobi saja, tapi karena di sana sudah sepi dan Ji Soon tidak bisa menunggu sabar, ia pun memaksakan diri. Ia menaiki lift yang ada dan mencoba asal memencet angka pada tombol lift yang ada dengan perasaan was-was, karena ia memang tidak tahu harus kemana sekarang ditambah lagi dengan suasana malam yang mencekam di gedung itu.

Dalam hati Ji Soon berpikir, tumben sekali Jae Soon berani berjalan sendiri di tengah suasana gedung yang benar-benar membuat bulu kuduk merinding. Pintu lift pun terbuka, tapi Ji Soon tidak tahu di manakah dia sekarang. Sebuah suara mengalihkannya, dan Ji Soon pun mencari sumber suara tersebut. Suara seorang laki-laki yang sangat merdu sekali mengalun di sepanjang koridor tersebut. Sungguh indah, pikirnya, kenapa suara tersebut bisa membuatku merasa nyaman dan tidak takut lagi.

Kini ia pun sudah berada di depan pintu sebuah ruangan. Ji Soon yakin benar sumber suara itu berasal dari ruangan tersebut. Di bukanya perlahan pintu tersebut. Awalnya Ji Soon berpikir tidak akan mengetuk pintu terlebih dahulu karena hanya bermaksud untuk mengintip saja, tidak mengganggunya. Betapa terkejutnya ia, saat yang dilihatnya dalam ruangan itu adalah orang yang pernah ditemuinya sebelumnya. Ji Soon membungkam mulutnya yang hampir berteriak karena terkejut. Tapi hal itu telah diketahui oleh orang tersebut.

“Neo?” sapanya kebingungan memanggil Ji Soon.

“A…a..ahh, mianhaeyo, aku tidak sengaja, beneran aku gak sengaja, mianhaeyo…” Ji Soon meminta maaf sambil membungkukkan badannya dengan sopan karena sikapnya yang lancang itu. Ji Soon sudah dapat memastikan pasti orang ini akan marah besar, tapi yang terjadi malah kebalikkannya. Kini ia tersenyum dan mengulurkan tangannya yang benar-benar mulus sekali itu.

“Mwo?” tanya Ji Soon kebingungan.

“Choneun Lee Tae Min imnida, neo?” katanya sambil tersenyum. Ji Soon tidak dapat berkata apa-apa, ia telah mendapatkan senyuman maut dari orang yang ada di hadapannya sekarang ini. Pria yang bernama Tae Min itu kini hanya bisa tertawa melihat Ji Soon yang terdiam di depannya.

“Ahh, mianhaeyo… Choneun Kang Ji Soon imnida. Umm.., kau bukannya orang yang kemarin…”

“Ne, kita yang kemarin bertabrakan tanpa sengaja itu…” selanya mengingatkan kejadian waktu itu.

“Ohh, ternyata kau masih mengingatnya ya… Aku kira kau sudah lupa hal itu, hehhe…”

“Memangnya kenapa kalo aku masih mengingatnya?” tanya namja yang bernama Tae Min itu lagi, sedikit menyelidiki apa yang sedang dipikirkan Ji Soon dan kemudian tersenyum polos kepada Ji Soon. Ji Soon langsung membalikkan badannya membelakangi Tae Min, dan memukul kepalanya sendiri dengan tangannya karena sifatnya yang ceplas-ceplos itu.

“Neol gwaenchana?” tanya Tae Min kebingungan sekaligus lucu melihat tingkah Ji Soon itu. Ji Soon pun segera membalikkan badannya kembali dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Waktu demi waktu pun berlalu, mereka berdua pun akhirnya sudah tidak canggung lagi, mereka bercanda dan berbincang layaknya seperti bertemu kembali dengan sahabat yang sudah lama tidak berjumpa. Di saat seperti itu, tiba-tiba handphone Ji Soon berdering. Ji Soon permisi sebentar untuk menjawab panggilan itu, dan begitu mendengar suara dari seberang sana, Ji Soon pun tersentak.

“YAA~! Ji Soon-ah, eodiyeyo? Kemana aja kamu, hahh?? Cepat kemari, kau harus segera tanda tangan kontrak kita…”

“Eonni? … YAA~! Eonni itu yang kemana aja, hahh?! Masa langsung ninggalin orang gitu aja sih, mana lagi di sini kan gelap, mau bikin orang mati ketakutan ya..?” balas Ji Soon tak mau kalah.

“Ya, ya, ya… Arraseo! Mianhaeyo… Sudahlah, cepat sekarang kamu pergi ke ruang direksi di lantai 5, gak pake lama ya, bye-bye!” panggilan pun berakhir. Ji Soon menghela nafas panjang karenanya, begitu menyusahkan sekali sahabatnya yang satu ini. Benar-benar membuat orang naik darah. Sudah ditinggalkan sendirian, sekarang malah nyuruh cepat-cepat datang ke tempat di mana yang tidak Ji Soon ketahui. Ia melihat sekelilingnya, benar-benar mengerikan pikirnya. Suasana gelap dan sepi seperti ini membuat Ji Soon tidak tahan untuk segera pergi melangkahkan kaki keluar dari gedung ini.

Lama  Ji Soon melihat sekelilingnya, dan tiba-tiba saja sebuah tangan melambai di depan wajah Ji Soon. Ia pun spontan terkejut dan berteriak karenanya sambil menutupi wajahnya karena ketakutan setengah mati.

“Wae, Ji Soon-ah, ada apa? Apa yang terjadi? Apakah aku membuatmu takut?”Ji Soon menoleh ke arah orang itu dan akhirnya ia baru sadar bahwa telah melupakan seseorang yang sejak dari tadi bersamanya.

“Ahh, mianhaeyo Tae Min-ah… Aku hanya terkejut saja, aku pikir tangan siapa tadi…” jawab Ji Soon masih belum tenang.

“Mwo? Kau pikir aku hantu ya?” tanya Tae Min yang keheranan karena pernyataan Ji Soon tadi. Ji Soon hanya nyengar-nyengir malu karena Tae Min benar menebaknya. Kembali perasaan Ji Soon takut dan ia pun bingung bagaimana caranya ia bisa berjalan sendiri di tengah kesunyian di gedung ini dengan perasaannya sekarang ini.

“Mmm… Tae Min-ah, apa kau bisa mengantarkanku ke ruang direksi di lantai 5? Bisa kan?” mohon Ji Soon sambil mengeluarkan gaya imutnya.

“Buat apa ke sana? Mmm… tapi kayaknya aku gak bisa deh, aku harus…”

“Ohh, ya udah deh, gak apa-apa aja, aku bisa pergi sendiri kok…” sela Ji Soon kecewa dan segera berjalan, perlahan dan tidak pasti, karena ketakutan yang menyelimuti dirinya sekarang ini.

“Baiklah, aku akan mengantarmu…” Ji Soon menghentikan langkahnya, dan segera berbalik badan.

“Jeongmal??!” mata Ji Soon pun terbinar-binar. Tae Min mengangguk dan tersenyum memastikan kepada Ji Soon. Ji Soon pun terpana sejenak karenanya.

“Kajja!” ajak Tae Min sambil berjalan cepat dan menggandeng tangan Ji Soon, yang sepertinya secara spontanitas. Muka Ji Soon pun memerah. Malam ini Ji Soon merasakan ada yang lain, aliran darah dalam tubuhnya sangat deras. Ji Soon tidak dapat menguasai keadaan lagi. Dirinya yang biasanya cerewet dan keras kepala terhadap semua orang, kini menjadi seperti orang dungu yang tidak tahu apa-apa saat berhadapan dengan namja yang ada bersamanya sekarang ini.

Keesokan harinya pukul 06.00 KST…

 

Di rumah Seung Young dan Hyun Ra

 

S.E.O.U.L hamkke oochyeobwayo

Gummi irwojil areumdaun sesang

“YAA~!HYUN RA, CEPAT KELUAR!! Udah gak tahan nih..! Gak usah pake nyanyi segala, ampun deh, aku udah gak kuat lagi… HYUNN RAAAA!!!!” teriak Seung Young sambil memukul dan mengetok lemas, karena kesakitan. Ya, sejak dari tadi Seung Young yang menunggu di luar kamar mandi, hanya bisa menahan sakit perutnya karena kebiasaan Hyun Ra yang tidak bisa dihilangkannya, yaitu berkaraoke di kamar mandi.

“Sabar, 5 menit lagi…” jawab Hyun Ra santai, seolah-olah tidak menghiraukan apa yang Seung Young derita saat ini dan kembali melanjutkan syair lagu SNSD dan Suju yang ia nyanyikan tadi.

“AIGOOO~~! Lima menitnya berapa tahun bu?! Keburu perutku meledak di sini dulu nanti… Huhh!” keluh Seung Young kesal. Saking kesalnya, Seung Young pun punya akal licik. Ia pun mengeluarkan handphone-nya dari saku piyamanya.

“Yoboseyo? … Ahh, Hyun Seung-ah? … Waeyo? … Hyun Ra? … Mmm, Hyun Ra-nya lagi sibuk tuh… Sebenarnya sibuk mandi sih, tahu gak sibuknya apaan? … Sibuk nya….” tiba-tiba Hyun Ra keluar dari kamar mandi dengan handuk seadanya yang menutupi tubuhnya hingga paha dan rambut yang masih penuh dengan shampo. Segera ia menarik handphone  Seung Young dari tangannya.

“Yoboseyo! Hyun Seung-ah? … Yoboseyo? … Yoboseyo?!” Hyun Ra tidak mendengar suara apapun dari seberang sana. Terdengar tawa licik Seung Young dari belakang yang segera masuk dan menutup pintu kamar mandi, atau lebih tepatnya mengunci.

“YAA~! Seung Young-ah!!! Jahat sekali kau! Aku belum selesai mandi, tahu?! Cepat keluar sekarang!!!” kini giliran Hyun Ra yang ingin segera masuk ke kamar mandi.

“AHHHH!!! PEDIH!!!” teriak Hyun Ra merintih pedih karena matanya terkena shampo yang masih belum dibilasnya dari rambutnya.

“Omona~! Hyun Ra, kenapa kayak gini sih? Malu-maluin aja kamu ini…” datanglah omma yang akhirnya menuntun Hyun Ra berjalan menuju dapur untuk membilas rambutnya di washtaffle. Hyun Ra terus merintih dan mengadu kejahilan Seung Young kepada ommanya itu. Sedangkan Seung Young (yang sedari tadi berada di dalam kamar mandi) hanya menahan tawa mengingat kejahilan dan kelicikan yang telah ia lakukan terhadap Hyun Ra tadi.

Beralih ke rumah Ji Soon dan Jae Soon…

 

KRINGGG… KRINGGG… KRINGGG…

“HOAHHMM~!” Jae Soon yang baru keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian rapi, lalu memperhatikan Ji Soon yang masih tertidur pulas di sampingnya.

“Ya ampun, udah jam segini masih ngorok aja… Eh, kebo! Ayo, bangun!” tidak ada respon dari Ji Soon sama sekali. Jae Soon mulai kesal dan mencoba cara lain, yaitu menggelitiki telapak kakinya.

“Tikk-kitikk-kitikk…” kata Jae Soon sambil menggelitiki kaki Ji Soon. Mulailah ada respon dari Ji Soon, tapi respon yang sangat tidak diharapkan oleh Jae Soon, yaitu tendangan mautnya yang mengenai muka Jae Soon hingga badannya jatuh tersungkur di lantai. Rambutnya yang sudah rapi pun kini menjadi berantakan.

“Ji Soon-ah! Lihat pembalasan dariku ya~!” HYAAA!!!” Emosi Jae Soon meluap. Segera ia berlagak seperti seorang petinju yang hendak memukul lawannya. Caranya kali ini benar-benar kejam. Jae Soon menarik selimut yang Ji Soon pakai sekencang-kencangnya sehingga Ji Soon pun terjatuh di lantai.

“ADOOOH~!!! Sakit, monyong!” teriak Ji Soon merintih kesakitan. Sedangkan Jae Soon hanya bisa tertawa sekeras-kerasnya ala Pahlawan Bertopeng atas kemenangannya.

“EONNI!! Kepalaku benjol, tahu!!! Jahat banget sih!” rintih Ji Soon masih sakit dan mewek-mewek. Jae Soon tidak menghiraukannya dan langsung menghampiri kaca rias yang ada di belakangnya dan membenarkan kembali rambutnya yang berantakan. Ji Soon yang melihatnya tingkah centil Jae Soon hanya bisa cemberut dan menggerutu dalam hati.

Di sekolah, pukul 08.30 …

 

“Selamat datang semuanya! Senang sekali bisa kita bisa berjumpa dalam pesta besar yang hanya diadakan sekali setahun di sekolah kita, bahkan satu-satunya acara yang akan menampilkan penyanyi-penyanyi Korea yang sekarang sedang naik daun. Mau tahu siapakah mereka? … Inilah penampilan pertama dari BEAST!!!” sorak-sorai penonton menyambut boyband terkenal itu pun menggelegar di dalam aula sekolah yang kira-kira cukup luas untuk menampung dua kali lipat seluruh penghuni sekolah.

Alunan lagu Fiction pun membawa semua penonton terhanyut dalam suasana. Ada sebagian yang bertepuk tangan dan berteriak histeris memanggil nama idola mereka, dan ada juga yang menangis karena terlalu terbawa dalam suasana penuh haru itu, bahkan ada juga yang sampai pingsan karena sangat gugup untuk bertemu dengan idolanya langsung.

Di tempat yang lain (masih di lingkungan sekolah) …

 

“Ji Soon-ah! Ji Soon-ah!!!” Ji Soon menghentikan langkahnya saat mendengar teriak seseorang dari arah belakang sambil berlari menghampirinya, yang tak lain adalah Jin Woo, teman sekelas Ji Soon yang menjadi koordinator untuk seksi acara kegiatan yang sekarang ini sedang diselenggarakan.

“Yaa, Ji Soon-ah! Apa kau tahu siapa yang memberikan surat ini?” tanya Jin Woo sembari memberikan secarik kertas berisi tulisan yang entah apa isinya. Saat Ji Soon membacanya, ia pun kebingungan dan penasaran.

“Beauty? Siapa mereka?” tanya Ji Soon penuh heran.

“Aku juga tidak tahu siapa mereka. Tapi yang memberikan surat ini tadi adalah Jae Soon…” jelasnya kepada Ji Soon.

“MWO? Jae Soon eonni? … Apa maksudnya ini semua?” Ji Soon tidak percaya dan masih bingung, sebenarnya apa yang dirahasiakan oleh sahabatnya itu.

“Ji Soon-ah, eotteokhae? Apakah kita harus merubah susunan acaranya?” tanya Jin Woo meminta pendapat Ji Soon yang mewakili ketua dan wakil ketua OSIS yang tidak bisa hadir pada waktu itu karena mengikuti olimpiade nasional di kotanya.

“Ya sudah, kalo begitu turuti aja apa yang mereka bilang di surat itu. Kalo memang harus merubah, ya rubahlah saja… Aku ingin melihat siapakah mereka dan alasan apa yang mendasari mereka melakukannya…” jelas Ji Soon merinci dengan membawa sifat kewibawaannya dalam mengambil keputusan. Jin Woo pun menuruti kata Ji Soon dan segera pergi melaksanakan tugasnya. Ji Soon pun mencari Jae Soon dan mencoba menghubungi handphone-nya, tapi sedang tidak aktif. Hal ini membuat Ji Soon semakin penasaran dan penuh tanya dalam hatinya sebenarnya apa yang sedang dilakukan dan direncanakan oleh sahabatnya itu.

àTo Be Continueß

Nah, panjang banget kan FF-nya? Hehe… J

Ini Ji Soon udah adakan pollingnya, jadi bagi yang sudah membaca ini cerita, harap menyumbangkan suaranya dan jangan lupa untuk komentnya (itu yang terpenting), hehe… ^^

Di sini juga ada alasan kalian kenapa memilih Couple itu, dan bagi alasan yang paling menarik, kalian bakalan dibuatkan FF khusus buat kalian yang memenuhi kriteria tsb. Dan FF-nya bakalan dibikinin sama Cast cewek (Ji Soon, Jae Soon, Seung Young, Hyun Ra)  yang udah kalian pilih sebelumnya.

So, gimana nih? Tertarik gak?

Kalo kamu tertarik, jangan lupa ya isi pollingnya di bawah ini! ^^

Buat komentnya (termasuk kritik, saran, atau pendapat), Ji Soon pasti terima kok…

Don’t Forget yaww!! 😀

Mian,baru bisa buat polling…

Kalo mau nulis alsannya di komentnya aja ya… ^^

 

Iklan