Title: Kyuhyun’s Behind the Story [Sequel of Bus Accident]
Author: sungraekyuri
Genre: Friendship, Romance
Rating: G
Character: Cho Kyuhyun, Choi Hyunjoon, dan beberapa peran pembantu karakter lainnya.

Annyeong haseyo yeorobeun~ saya balik lagiii😄
Kali ini cerita tentang kenapa Kyuhyun suka sama Hyunjoon. Banyak yang penasaran kan kan kan kan? *pede tingkat dewa*

Sebelum author disambit, selamat membaca chingudeul~

[10th-grade Kyu’s Mind]

Semua yeoja di dunia ini sama saja. Cerewet, suka teriak-teriak nggak jelas, apalagi kalau aku lewat di depan mereka. Aku tahu aku ini tampan, tapi biasa saja kenapa?

Nunaku, Cho Ahra, selalu bilang kalau sikap dinginku itu yang membuatku belum pernah pacaran sampai sekarang, saat aku memulai kehidupan sekolahku sebagai siswa SMA.
Sebenarnya kalau menurutku bukan karena itu, tapi karena sampai sekarang aku belum pernah ada satu yeoja yang menarik perhatianku. Jangan beranggapan orientasi seksualku menyimpang, aku masih 100% normal!

Menurut perkiraanku, sepertinya aku mencari (?) yeoja yang berbeda dari yeoja lainnya. Dan aku belum menemukannya, jadi wajar saja kan kalau aku belum pernah pacaran? Ya kan? Ya kan? Ngapain coba aku pacaran sama orang yang nggak kusukai?

Aku Cho Kyuhyun. Baru masuk SMA, dan sekarang sedang berada di tengah ratusan siswa baru Gangnam High. Hari ini upacara penyambutan murid baru, setelah itu akan ada orientasi sekolah selama beberapa hari, baru pelajaran biasa. Setidaknya itulah yang kutangkap dari pidato Kepala Sekolah yang entah sudah berjalan berapa menit.

Aku duduk di sebelah yeoja yang sedari tadi tampak acuh dengan pidato itu. Earphone terpasang di telinganya dan ia menunduk, sembunyi-sembunyi membaca novel di tangannya. Sumpah, nggak sopan banget! Meski aku pribadi sudah amat-sangat-bosan mendengarkan cuap-cuap Kepala Sekolah, tapi setidaknya kan aku tetap menghormati beliau. Beda dengan yeoja aneh ini –“

Entah kenapa, aku jadi ingin menyapa yeoja ini. Tapi bagaimana caranya? Bisa-bisa aku dikira sok kenal sok dekat sok akrab kalau langsung menyapanya tanpa basa-basi. Err -_-
Tiba-tiba satu ide terlintas di benakku, dan aku langsung menerapkannya tanpa pikir panjang.

“Eh, agasshi…” aku menepuk pundaknya. Ia menoleh dan menatapku dengan tatapan apaan-sih-ganggu-orang-aja.
“Ne, wae?” tanyanya, jelas ia tak rela kesibukannya kuganggu.
“Itu… lebih baik kau simpan novelmu, salah satu seonsaengnim di depan sana melihat ke arahmu terus dari tadi.” jelasku sambil menunjuk barisan kursi terdepan.

100% bohong. Tak ada satupun seonsaengnim di depan yang melihat ke arah murid-murid baru. Tapi yeoja itu dengan bodohnya percaya dan buru-buru menyimpan novelnya di tas.

“Ah, kamsahamnida…” ia mengernyit, sepertinya berusaha membaca nametag-ku. “Cho Kyuhyun-ssi.”
Aku memasang evilsmile-ku yang bisa membuat yeoja-yeoja berteriak histeris, tapi yeoja di sebelahku itu tak menunjukkan reaksi apapun. Tidak ada perubahan drastis di wajahnya.
“Cheonmaneyo, Choi Hyunjoon-ssi.” kataku singkat. Ia membalas senyumku dengan senyum sekedarnya, lalu kembali menghadap ke depan.

Choi Hyunjoon, gumamku dalam hati. Choi Hyunjoon, Choi Hyunjoon, Choi Hyunjoon.
Yeoja yang satu ini entah kenapa agak menarik perhatianku.

“1-1?”
Aku membaca papan nama kelas di atas pintu. Oke, sudah benar. Mulai hari ini dimulailah kehidupan seorang Cho Kyuhyun sebagai pelajar SMA.

Kulangkahkan kakiku ke kelas yang sudah ramai. Ralat, sudah penuh. Hanya ada satu kursi kosong di sebelah… yeoja yang tadi?
Bahkan ia masih membaca novel yang sama.
Ragu-ragu aku berjalan mendekati yeoja itu dan berdeham, membuatnya (sekali lagi) menoleh dari novelnya dan menatapku, kali ini dengan tatapan oh-orang-ini-lagi.

“Sepertinya… kursi yang kosong tinggal ini?” kataku. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, lalu mendesah pelan.
“Kukira… ya.” katanya. “Duduk saja.”

Aku meletakkan tasku di sebelahnya dan duduk di kursi yang kosong. Tanpa sadar kuulurkan tanganku ke arahnya.
“Cho Kyuhyun imnida.” kataku.
“Aku sudah tahu.” gumamnya. “Dan kupikir kau sudah tahu namaku, jadi apa aku masih perlu memperkenalkan diri?”
Aku terkesiap. Baru kali ini aku menemukan yeoja seperti ini. Yang tidak histeris atau menampakkan wajah sangat gembira saat berbicara denganku.
“Ah… tak perlu.” balasku. Ia mengangguk singkat dan kembali sibuk dengan novelnya, meninggalkanku yang masih dalam fase separo-cengo melihat sikapnya barusan.

Dan tanpa aku sadari, sepertinya aku mulai tertarik dengan yeoja ini.

 

[11th-grade Kyu’s Mind]

Ada 2 berita tahun ini.
Berita bagusnya: I’m an 11th-grader now!
Berita buruknya: kelasku dan kelas Hyunjoon berbeda.

Tunggu. Poin kedua membuatku terlihat seperti seseorang yang sedang terserang love-sick. Atau memang aku sedang terserang penyakit itu?

Setahun sekelas dengannya membuatku sadar kalau aku memang menyukainya. Tolong digaris bawahi: menyukainya.
Aku menyukai sikapnya yang aneh. Kepribadiannya yang berbeda dari orang lain. Caranya menatapku, caranya berbicara denganku, fakta kalau ia tak terlalu cerewet, dan tingkahnya yang kadang lebih mirip namja daripada yeoja. Juga penyakit cuek-parahnya yang sudah mendarah daging itu.

Tapi sampai akhir semester dan kenaikan kelas aku belum juga berniat ‘nembak’ dia. Aku tidak bisa membaca perasaannya dari sikapnya kepadaku dan aku tak ingin mempermalukan diri. Mau ditaruh dimana mukaku ini kalau misalnya ia menolak?

Keragu-raguanku itu terus berlanjut sampai tahun ajaran baru dimulai, dan sekarang aku hanya bisa menyesali kebodohanku. Beda kelas berarti kesempatan bertemu juga berkurang, iya kan?
Penyesalanku makin bertambah setelah sadar kalau Hyunjoon bisa dibilang cukup populer di kalangan para namja. Seperti yang kudengar pagi ini saat aku masuk kelas.

“Kau tahu Choi Hyunjoon kelas 2-8?” tanya Minhyuk, salah satu anak 2-1.
“Oh, yang itu? Yang cantik, rambutnya sebahu itu?” timpal Jiyong. Aku hanya diam dan duduk di salah satu kursi yang masih kosong, tapi tetap menajamkan pendengaran.

“Dia lumayan kan? Cuma sayangnya dia acuh-tak-acuh kalau menyangkut urusan namja. Aneh.” sahut Minhyuk lagi.
Tanpa sadar aku mengepalkan tanganku menahan kesal. Aish, seandainya aku nggak pakai acara gengsi-gengsian. Aigoyaaaa, aku bodoh sekali!

Kulangkahkan kaki keluar gerbang sekolah. Seperti biasa, hari ini aku pulang naik bus. Aslinya sih aku sudah bisa menyetir mobil, tapi tidak ada lahan parkir mobil di sekitar sekolahku, jadi aku tak bisa pergi sekolah naik mobil.

“Kau pulang naik bus, Joon-ah?”
Terdengar suara seorang yeoja dari belakangku. Aku berhenti. Joon-ah? Hyunjoon? Ada di dekatku?
Diam-diam aku mengedarkan pandangan ke sekeliling dan mataku menangkap sosok seseorang yang kucari-cari sedang berdiri di dekat gerbang dengan satu yeoja lain. Setahuku namanya Insa, dulu dia anak 1-1 juga.

“Ne Insa-ya, mulai hari ini Eomma tidak bisa mengantar-jemputku, sibuk di rumah. Hehehe…” ia menggaruk kepalanya. Aku tersenyum kecil mendengarnya. Kalau Hyunjoon pulang naik bus, berarti kami akan menunggu di halte dan naik bus yang sama, karena rumah kami searah –seingatku.

“Oh. Selamat naik bus, Joon-ah~” kata Insa, lalu ia pergi, entah mau kemana. Hyunjoon juga langsung bergerak menuju halte.
Aku menunggu hingga jarakku dan Hyunjoon cukup jauh, lalu mulai berjalan seperti biasa, seolah tak ada yang salah. Tapi –mungkin karena terlalu bersemangat—aku mempercepat langkahku hingga jarak di antara kami menyempit lagi.

Tiba-tiba Hyunjoon berbalik, dan ia tampak terkejut saat melihatku ada di belakangnya.
“Kau…?” katanya ragu. Aku memasang ekspresi dinginku dan tetap berjalan.
“Halte bus itu tempat umum, Choi Hyunjoon-ssi.” kataku saat aku melewatinya. “Dan aku tidak mengikutimu. Jangan salah sangka dulu.”
“Siapa yang berpikir seperti itu, Cho Kyuhyun-ssi?”

Aku berhenti dan berbalik hingga berhadapan dengannya. “Kau, mungkin?”

Susah payah aku menahan senyum yang hampir terulas di bibirku. Berada di dekatnya membuatku salah tingkah dan aku tak ingin terlihat konyol di depannya.

Menyenangkan sekali bisa bertemu dan mengganggumu lagi, Choi Hyunjoon.

 

 

[12th-grade Kyu’s Mind]

“Kau betul-betul menyukainya, ya?”
Insa menatapku dengan pandangan separo kasihan. Aku mengangkat bahu.
“Mungkin. Sampai aku rela memohon dengan sangat padamu seperti ini. Menurutmu?”
“Sepertinya ya.” ia menghela napas. “Tapi kalau permintaanmu seperti ini… aku tak yakin.”
“Kau tak ingin Hyunjoon punya namjachingu?”
“Aigoo, kau ini percaya diri sekali!” Insa menggelengkan kepalanya. “Baiklah, sepertinya bisa. Apa bayarannya?”
“Nanti kalau semua sudah pasti saja. Kekekekeke.”

Insa mengangkat bahu. “Tch. Oke, semester ini kau duduk di sebelah Hyunjoon. Puas?”
Aku memasang senyum iblisku. “Puas. Sangat puas.”

Sudah sebulan aku duduk di sebelahnya, dan lagi-lagi ia masih bersikap seperti biasa. Ya Tuhan, apa dosaku sampai bisa menyukai yeoja cuek macam dia?

Aku merutuki nasibku sambil berjalan menuju halte yang penuh. Aku paling malas dengan keadaan seperti ini, apalagi dengan mood yang baru ngedrop. Bisa-bisa orang (atau barang) yang tidak berdosa jadi korban pelampiasan amarahku -_-

Tepat saat aku mencapai halte, bus yang menuju rumahku datang. Aku segera melompat naik dan mencari tempat duduk yang kosong…
Yang kebetulan ada di sebelah Hyunjoon, yang kumat penyakit pelor (nempel-molor)nya. Yak, baru saja dia naik dan sekarang sudah tidur? Hebat banget =_= mana mangap pula tidurnya! Dasar, emang nggak ada manis-manisnya ini cewek satu ==

Aku duduk di sebelahnya, lalu melirik ke arahnya lagi. Pulas sekali tidurnya. Aku tersenyum kecil dan mengambil sweaterku, berniat menutupinya.
Tanpa sadar aku mendekatkan kepalaku ke kepalanya, dan saat wajahku sudah dekat dengannya lagi-lagi terlintas ide di kepalaku.

Sekalian saja, kan?😄

HUAAAAAAA ABAL!
ampun chingudeul, saya bener-bener buntu dan gak ada ide nih T.T jadi maaf kalau jelek, gak mutu, gak lucu, gak romantis, gak gaul *eh
bikinnya juga tanpa plot jadi maap ya kalau aneh + berantakan *sujud sujud*
dan… gomawo buat yang udah baca Bus Accident! Mau yang komen, yang silent reader, yang numpang liat judul doing (?) dll, makasiiiih XDD *ciumin kaki readers satu satu*