Author : demisemiquaver
Title : Should I?
Length : Continue / One Shot
Genre : Angst, Romance, Friendship

Cast : Goo Sarang, Choi Seung Hyun (TOP), Han Hye Ra

xxx

 

Seoul, South Korea 1992

 

Mobil hitam dengan kecepatan penuh itu menembus hujan deras di malam hari. Kemudian suara berdecit keluar ketika berhenti di persimpangan jalan berbentuk salib. Dia mendekap sesuatu di dadanya dengan erat, dan berhenti di tengah persimpangan jalan tersebut.

Wanita paruh baya itu membuka bungkusan yang tengah didekapnya.

 

Kotak dengan kayu jati miliknya diletakkan di samping kakinya, dia tersenyum lirih. Mengeluarkan pisau kecil, kemudian menggoreskannya tepat pada lengan kirinya. Darah mulai berjatuhan menuju kotak itu, mengalir dengan lembut di sekitar ukirannya, berjalan terus perlahan menuju ke arah  pembuka kotak berbentuk salibnya. Darah itu perlahan berhenti begitu juga dengan hujan derasnya.

Hanya saja hujan itu berhenti di sekitar persimpangan jalan itu saja.

 

Angin berhembus kencang seolah menyambut sesuatu yang dahsyat. Wanita dengan gaun hitam selututnya mundur selangkah karena angin kencang ini. Dia menutupi wajahnya dengan tangan kiri yang berdarah itu.

 

Awan di atasnya berubah menjadi sebuah pusaran besar, lalu sesosok pria tampan dengan sayap abu abunya turun dan tersenyum manis padanya.

“Kau datang tepat waktu” katanya dengan bahasa Yunani Greek yang lancar. Si wanita mengangguk pelan. “Apalagi sekarang sweetheart?”

Pria tampan bersayap itu turun, rambut peraknya ber-ayun ayun seiring gerakannya.

Dia berdiri tepat di depan wajah si wanita. Wanita itu meneguk salivanya pelan. Dia tahu, kalau dia sampai tertarik dengan ketampanan pria ini, dia akan terhipnotis dan hilang seperti abu.

 

“Anakku….aku ingin anakku kembali” ucapnya lirih, dia menoleh sebentar ke mobilnya, di mana anaknya yang sudah tidak bernyawa ada di sana.

 

“Namanya?” si pria memakai kaca mata besarnya, mengeluarkan pena bulu merah dengan jentikkan jari. Lalu mengeluarkan buku merah besar sebesar rentangan tangan dirinya sendiri.

“Namanya…Choi Seung Hyun”

 

“Lalu jaminannya?”

 

Si wanita kembali menelan ludahnya. Sebut dia pengkhianat atau bajingan, tapi saat ini pikirannya kalut sekali. “Apapun asal aku tidak menjadi pelayanmu atau budakmu dan asal aku bisa hidup tenang”

 

Pria itu menjatuhkan penanya, “Kau sangat egois….ckckck…kasihan sekali anak itu”

“Terserah”

 

“Baiklah, dia akan terus selamat, dia tidak akan terluka, tapi dia akan mati jika jatuh cinta. Karena Satan tidak pernah punya cinta. Dia akan menjadi budak abadi…bawa dia kemari ketika umurnya 20 tahun” bisiknya lirih.

 Dia menuliskan nama dan syarat di buku merah besar itu lagi. Buku yang bernama Satan’s Red Book itu kemudian masuk ke kantung celananya yang kecil.

 

“Bye” ucapnya cepat, dia berbalik dan terbang, dalam terbangnya dia membuka kulitnya, kembali menjadi satan yang buruk rupa.

 

**

 

Seoul, South Korea, 2004

 

Seung Hyun berlari di sekitar lorong sambil terus tertawa puas, dia merapatkan tas punggungnya dan mempercepat larinya, tubuhnya tertabrak sesuatu yang keras sampai badannya terpelanting ke belakang.

“Ya!” teriaknya frustasi.

Dia melirik kearah benda yang di tabraknya, setumpuk buku berserakan di sebelah kakinya.

Kemudian matanya menelusuri siapa yang membawa buku itu.

Matanya menangkap perempuan sekelasnya yang di bencinya, okay, semua anak sekelas memang di bencinya.

 

“Bangkit!” suruhnya kesal.

Si perempuan ini berjengit. “Bantu aku dong! Dasar gak peka!” teriaknya, dia berdiri kesal sambil menepuk roknya.

 

“Kau bolos lagi ya Seung Hyunnie?!” selidik perempuan di depannya.

“Sejak kapan semua hidupku menjadi urusanmu, hei-gadis-yang-tidak-kukenal”

 

Gadis ini memerah, bukan malu, tapi marah, dia memukul lengan pria itu keras keras.

“Bodoh! Kita tiga tahun bersama dan kau tidak tahu namaku?!”

 

Seung Hyun mengibaskan lengan blazernya. “Jangan sentuh sentuh! Lagipula aku tidak berniat tahu namamu, jelek” Seung Hyun berbalik dan berjalan menghindarinya.

 

“NAMAKU GOO SARANG! G-O-O-S-A-R-A-N-G! DASAR OM-OM MENYERAMKAN!”

 

Seung Hyun menghentikan langkahnya. “Jangan panggil aku menyeramkan!” bentaknya.

 

Gadis yang mengeja namanya ini berhenti berteriak. Dia tersenyum meremehkan. “Itu kenyataan kan Om-Om menyeramkan?!”

 

Seung Hyun berbalik. “Dasar dada rata!” ejeknya meninggalkan gadis itu sendiri.

 

“SEUNG HYUN SIALAN!” Seung Hyun terkekeh kecil begitu mendengar teriakan gadis di belakangnya.

Dia berjalan santai lagi sampai akhirnya matanya bertumbuk pada seseorang di lantai dua. Gadis yang ada di klub music itu kadang menyita perhatiannya. Membuatnya lebih memilih bolos dibandingkan mendengarkan pelajaran Sejarah dan semacamnya. Seung Hyun tau, dia sangatlah tidak pantas jika berdiri di samping gadis sempurna itu. Han HyeRa. Gadis andalan klub music. Pemegang biola elektrik yang handal.

 

Seung Hyun, dalam tiga tahun sekolah di sini, hanya sekali dia berbicara dengan gadis itu.

Tapi bolehkah Seung Hyun berharap akan keajaiban dalam hidupnya?

 

Dia sudah cukup tersiksa dengan lambing budak setan di pergelangan tangannya. Dia sudah cukup sakit dengan kenyataan bahwa ibunya mengorbankan dirinya sendiri untuk kelangsungan hidupnya.

Dia lebih memilih dirinya terkubur di tanah itu daripada hidup dengan kesakitan nantinya.

 

Wajahnya yang terlalu menakutkan –mungkin- untuk orang orang sudah sangat membuatnya terrpukul. Mulut tajamnya, dan soal bahwa dia tidak bisa terluka.

 

Seung Hyun berjengit senang saat gadis itu menatap matanya dari lantai atas dan tersenyum padanya! Okay, sebenarnya Seung Hyun tidak boleh terlalu berharap.

 

**

 

Goo Sarang menyukai Choi Seung Hyun? Err.. satu sekolahan juga mengetahui hal itu.

Hanya saja Seung Hyun, pria itu terlalu tidak peduli pada keadaan sekitar.

 

Gadis itu sedih? Tidak. Gadis itu sakit? Tidak.

 

Yang Sarang tahu adalah bahwa laki-laki itu tidak menyukai wanita manapun saat ini.

Jadi dia punya kesempatan kan untuk memperbaiki hubungannya dengan Seung Hyun?

 

Hanya saja, ini pertama kalinya Sarang menyukai seorang pria, ini pertama kalinya dia merasakan rasa aneh ini. Jadi, yang bisa dia lakukan hanya memperburuk keadaan. Memberi pemahaman pada Seung Hyun kalau gadis ini sama sekali buruk untuknya.

 

“Hye Ra!” teriak Sarang melambai pada gadis yang sedang berdiri di lorong ruang klub music.

 

“Ah, Sarang-ya” Hye Ra menaikkan tali tas biola itu di punggungnya dan berlari menghampiri Sarang.

 

“Kau ada kegiatan klub lagi?”

 

Hye Ra menggeleng. “Kita pulang saja, okay?”

 

Sarang mengangguk cepat, menarik tangan gadis yang lebih pendek daripadanya dan membawanya menjauh dari pandangan Seung Hyun yang ada di halaman di luar sana.

 

**

 

“Kau mau apa eh?” Sarang berhenti menyuapkan ice creamnya begitu melihat siapa yang ada di pintu masuk kedai milik appanya.

 

“Aku mau beli ice cream! Memangnya ada yang melarangku?!” jawab acuh Seung Hyun sambil memilah daftar rasa di sana.

 

Hye Ra mencuri pandang menatap Seung Hyun sesekali.

Dia tersenyum lembut, dan walaupun Sarang sudah berkali kali melihat temannya ini tersenyum. Tapi gadis ini bisa merasakan hal yang lain dari senyumnya.

 

“Kenapa kau?”

 

Hye Ra tersentak. Dia menggeleng. “Tidak, tidak ada apa-apa” jawabnya cepat.

 

“Baguslah, cepat habiskan ice cream-mu, kita makan rasa yang lain!”

 

“Tapi ini sudah mangkuk ke-tiga”

 

“Kau mengerikan hei gadis-yang-tidak-ingin-kukenal”

 

“Cih! Memangnya aku peduli. Kalau sudah selesai membeli nya cepat pergi sana!”

 

Seung Hyun mengendikkan bahunya. “Bye gadis rata, bye Hye Ra”

 

Saat itu, Sarang tahu bagaimana rasanya terjatuh dari lantai paling atas gedung pencakar langit.

 

“Dia tahu namaku?” kejut Hye Ra. “Bagaimana caranya? Aigo…”

 

Entah lampunya yang terlalu terang, atau wajah mereka berdekatan. Tapi Sarang bisa melihat rona merah di wajah temannya. Dan dia merasa hal itu menjadi jarum di jantungnya.

 

**

 

Sarang membuang kaleng soda kosong yang ada di tangannya. Dia menoleh kesamping sebentar.

Tidak peduli akan angin musim gugur yang berhembus di sekitar tubuhnya. Dia menatap langit malam dengan tatapan sayu.

 

“Kau minum soju gadis rata?”

 

Sarang merasa dia segar kembali. Dia menatap pria dengan jaket tebal berwarna coklat tua itu.

“Mau apa kau?”

 

Seung Hyun berdecak. “Ini taman umum, siapa saja boleh ada di sini”

 

Sarang tertawa pelan, dan Seung Hyun –bukan melebihkan- merasa mendengar nyanyian lembut.

 

“Aku merasa kesepian, dan kakiku membawa aku ke sini” ucapnya pelan, dia mendudukkan tubuhnya di ayunan di sebelah Sarang.

 

“Kau ada soju lagi?”

 

Sarang mengangguk, dia mengambil kantung plastic di samping kakinya, mengeluarkan dua buah kaleng soju.

 

“Kau harus menggantinya besok”

 

“Dasar pelit”

 

Sarang tertawa kecil. Dia membuka kalengnya dan meneguknya perlahan, membiarkan rasa panas mengalir di kerongkongannya.

 

Sarang melirik kearah tangan kiri Seung Hyun yang agak sedikit terbuka.

“Itu tattoo?”

 

Seung Hyun berhenti meminum sojunya. Dia memandang lambang itu, lalu tertawa miris.

 

“Indah bukan?”

 

Sarang menggeleng. “Indah apanya? Itu seperti lambang…”

 

“Ne,  slave of Demon”

 

Sarang tercekat. “Kenapa kau memilih tattoo itu?”

 

Seung Hyun tersenyum lagi, dan ini kali pertamanya Sarang bisa melihat hal yang berbeda dari pria berusia tujuh belas tahun itu.

 

“Aku tidak pernah memilihnya, takdir yang membuat tattoo ini ada di lenganku”

 

Sarang berhenti meminum sojunya kembali. “Kau…tidak ingin bilang kalau itu kau dapatkan karena berjanji dengan—“

 

“Sayangnya iya Goo Sarang”

 

Sarang mengangguk lemas. Tapi kemudian semangat. “Kau tahu namaku?!”

 

Seung Hyun mencibir. “Tentu saja…kau saja yang acuh padaku”

 

“He?”

 

“Yeah, sewaktu di semester pertama kau mengacuhkan aku yang memanggilmu, kau lebih memilih dengan para fansmu itu”

 

Sarang memiringkan kepalanya, dia tertawa manis. “Jinjja? Aigoo…maafkan aku kalau begitu”

 

“Forget it”

 

“Kau…soal itu…apa perjanjianmu dengan..”

 

“Ibuku yang memintaku hidup lagi, ketika umurku lima tahun aku kecelakaan. Tulang rusukku semuanya patah, dan aku tahu eomma terlalu kalut saat itu. Aku tidak pernah menyalahkannya. Aku tidak marah padanya. Tapi aku kecewa…”

 

Seung Hyun menghela nafasnya berat.

 

“Kenapa saat itu ibuku memilihku agar menjadi pengikatnya? Kenapa harus aku yang dikorbankan? Aku tidak pernah meminta agar aku bisa hidup dua kali…”

 

Sarang mengisak pelan, dia bangkit dari ayunannya dan menghampiri tubuh yang sekarang terlihat rapuh itu. “Semua akan baik baik saja Choi Seung Hyun” ucapnya miris. Dia mengeratkan pelukannya pada pria itu, mengelus rambutnya mengirimkan rasa tenang.

 

“Aku yakin, semua akan baik baik saja”

 

“Tidak akan baik baik saja, Sarang…”

 

Sarang menelan ludahnya, suara pria ini begitu menderita di telinganya.

 

“Aku menyukai seseorang…dan aku tidak bisa melanjutkan tahap perasaanku untuk mencintai”

 

Sarang tahu, ini akan sangat menyakitkan. Dan dia bukanlah gadis tidak tahu apa-apa.

Dia tahu soal Hye Ra yang menyukai Seung Hyun, walaupun dia belum mendapatkan kebenarannya.

Dia tidak ingin bertanya. Dia tidak ingin mengetahui hal hal yang akan menyakitkannya.

 

“Aku tidak akan bisa mencintai seseorang, Sarang” Seung Hyun mengeratkan genggamannya pada ujung jaket gadis itu. Dia cukup kaget, karena berani menceritakan hal ini, tapi dia membiarkannya, entahlah, dia merasa menjadi sosok yang lemah begitu berhadapan dengan Goo Sarang. Menjadi seseorang yang ingin di lindungi.

 

**

 

Hujan kembali membasahi bumi, 13 September, hari yang tepat ketika kau ingin mengadakan perjanjian dengan setan di persimpangan jalan. Dan hari ini, Sarang membiarkan sekolahnya, dia merapatkan jas hujannya.

 

Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan bahwa di jalanan ini sepi kendaraan. Mengingat kalau ini pagi hari dan hujan deras.

 

Sarang baru saja meletakkan kotaknya. Tapi sesuatu melingkar di pinggangnya dan menariknya menjauh sampai dia terjatuh. Dia bisa mendengar makian dari pengendara mobil dengan jelas.

 

Tapi matanya, dia menatap mata coklat itu lagi. “Seung Hyun…bagaimana..?”

 

Sarang bahkan tidak memperdulikan kalau mereka sekarang ada di pinggir jalan dengan posisi tidur dan berpelukan.

 

“Seung Hyun” Sarang berjengit merasakan sesuatu yang anyir menusuk hidungnya.

Bukan darahnya, tapi darah pria ini.

Sarang menoleh ke sisi kanan, dan dengan jelas dia melihat lengan pria itu yang robek sepanjang pensil.

 

“Seung Hyun-a!” teriaknya lagi, tapi pria itu masih menunduk. Dan Sarang melihat semuanya.

Melihat bagaimana luka itu menutup dengan perlahan, dan kulitnya kembali menjadi seperti semula.

 

“Kenapa—“

 

“Sudah ku bilang, aku bukan manusia, Sarang-ah” Seung Hyun akhirnya berdiri dan mengulurkan tangannya. “Lain kali, berfikirlah lebih waras” katanya datar kemudian berjalan mendahului Sarang.

 

Gadis ini mengerenyit sebal. Dia mengambil kotaknya dan mengikuti langkah lebar Seung Hyun.

 

“Bagaimana kau tahu aku ada di sini?”

 

“Ya…setelah kau mendengar ceritaku pasti kau akan gila dan ke sini”

 

Seung Hyun menatap Sarang, menghentikan langkah mereka berdua.

“Kenapa kau juga akan membuat perjanjian eh?”

 

Sarang menoleh, mengabaikan tatapan Seung Hyun yang membuatnya semakin pusing.

“Terserah aku!”

 

Mereka kembali berjalan masih ditemani hujan deras mengguyur tubuh keduanya.

 

“Seung Hyun-a”

 

“Hm..”

 

“Kapan… kau akan di ambil ‘dia’?”

 

Sarang bisa mendengar tawa datar pria itu. “Kau tahu?”

 

“Sayangnya iya, aku ini baca al-kitab Seung Hyun-a, di sana tertulis jelas”

 

“20”

 

Sarang berhenti berjalan lagi. “20 tahun?! Artinya 3 tahun lagi?!”

 

Seung Hyun mengangguk. “Cepatlah, aku kedinginan” Sarang mengangguk, dia tahu ini pasti sangat dingin. Mengingat pria itu hanya memakai kemeja sekolahnya.

 

**

 

Goo Sarang, gadis itu tersenyum lirih. “Kau bilang kau tidak akan bisa jatuh cinta pada orang ini…”

Seung Hyun hanya mengalihkan pandangannya. Ada sebagian dirinya yang membuatnya sakit ketika melihat mata gadis di hadapannya ini.

 

“Tapi aku tidak mau melepaskannya, bukankah setan itu egois? Jadi selama aku bisa memilikinya aku akan mengikatnya”

 

“Cukhae, semoga berbahagia”

 

Sarang membungkuk dan berbalik. Menghindari Seung Hyun, mungkin untuk selamanya.

 

**

 

Seung Hyun berlari di lorong rumah sakit. Ini sudah ke sekian kalinya dia menjadi panic.

Yang dia tahu, gadisnya –HyeRa- bukanlah gadis yang gampang terserang penyakit.

Tapi gadis itu sudah bolak balik ke rumah sakit.

 

Dan hari ini, ketika Seung Hyun memikirkan semuanya, dia akhirnya tahu apa sebabnya.

 

Bukankah dia tidak boleh jatuh cinta?

 

Dia sudah akan bertekad untuk mempertahankan Han Hye Ra dalam hidupnya.

Tapi kalau sampai Hye Ra terbawa arus masalahnya, dia sungguh tidak tahu harus bagaimana.

 

Di satu sisi dia ingin melepaskan Hye Ra untuk kebaikannya, dan di sisi lain dia ingin terus bersama gadis itu.

 

“Hye Ra…”

 

“Seung Hyunnie, maaf aku jatuh sakit lagi ya…”

 

Seung Hyun tersenyum lelah. “Hye Ra, sebenarnya…”

 

**

Seoul, South Korea, 2007

 

Ini sudah memasuki tahun ketiga Sarang di ambang kematiannya.

Dan begitu dia melihat kalender –hanya itu yang di lakukannya selama tiga tahun- dia tersentak.

Gadis itu menguncir rambutnya dan keluar dari apartmentnya.

 

Dia mengerenyit melihat kotak suratnya terisi sesuatu.

Yang di ketahuinya dia sama sekali tidak pernah berhubungan dengan orang luar lagi selama tiga tahun –kecuali orang di minimarket-.

 

Dengan ragu Sarang mengambil surat di kotaknya dan membukanya.

Tidak perlu waktu lama sampai sendinya mati, pikirannya tidak berfungsi lagi

 

Waktu kematian Choi Seung Hyun tinggal tiga minggu lagi dan pria itu malah akan menikahi gadisnya di akhir minggu ini? Hell~o! Mimpi apa Sarang semalam?!

 

Dan bagaimana bisa dia masih memikirkan untuk bertemu pria itu?

 

“Aku terlalu baik” gumam Sarang dalam tangisnya. Dia tersenyum perih. Perih sekali.

 

**

 

“Seung Hyun-a” pria itu menoleh kaget. “Sarang?!”

 

Sarang hanya tersenyum. Dia menyuruh pria itu untuk menghampirinya.

 

“Beraninya kau muncul di hadapanku setelah tiga tahun menghilang eh?!”

 

Sarang tidak membalas perkataannya. Tubuhnya sudah terlalu hancur untuk berbicara dengan pria di hadapannya kini.

 

“Selamat ya…menikah dengan gadis yang kau cintai…dan di umur ke dua puluh ini masih sehat”

 

Itu saja cukup membuatnya kembali mengeluarkan air mata.

 

“Terima kasih”

 

“Seung Hyun…”

 

“Ne?”

 

“Bisa temui aku nanti? Di persimpangan jalan itu tiga minggu lagi? Kita kesana jam tiga kan?”

 

Seung Hyun menatapnya tidak percaya. “Kau?”

 

“Aku hanya ingin melihatnya, apa tidak boleh?”

 

Seung Hyun menggeleng. “Ah ya…” Sarang mengusap air matanya. “Hye Ra bagaimana? Apa yang di lakukan setan itu dengannya?”

 

Seung Hyun menunduk. “Dia sekarang kembali ada di rumah sakit. Dia memakai kursi roda. Tapi dia gadis yang kuat”

 

Sarang mengadahkan kepalanya ke langit mendengar hal itu.

“Dia memang gadis yang kuat. Karena aku temannya, jadi aku tahu hal itu”

 

Seung Hyun tersenyum. “Dia merindukanmu. Dia berkali kali memaksaku untuk ke apartmentmu. Tapi tubuhnya tidak stabil sekarang”

 

“Tidak apa…bye Seung Hyun”

 

“Sarang-ya!”

 

Sarang menoleh, dan hatinya kembali sakit melihat mata Seung Hyun.

 

“Boggoshipeo!”

 

Dia hanya tersenyum, membiarkan hal lembut itu mengalir di telinganya.

 

**

 

Tidak, terlalu sakit untuk ke sana. Dan Sarang memutuskan untuk berdiri di sini. Di luar gerbang rumah mereka berdua.

 

Bahkan berdiri di sini saja sudah cukup membuatnya sakit.

 

Dia bisa merasakan aura kebahagiaan dari dalam sana. Tapi tidak. Dia tidak bisa tersenyum untuk temannya dan terlebih untuk orang yang di cintainya.

 

Mereka berdua telah menjadi satu di altar sana.

Keduanya telah bertukar cincin dan mengikat janji.

Sarang ragu, apa setelah ini dia masih bisa tersenyum lagi.

Sarang ragu, apakah hidupnya masih bisa di katakan hidup

 

Sarang selama tiga tahun ini memutuskan sesuatu yang sangat berat.

Tapi dia yakin setelah ini akan menjadi ringan.

 

**

 

Jam tangannya menunjukkan pukul tiga pagi. 13 September, tanggal yang bagus untuk bertukar janji dengan Satan persimpangan jalan.

Sarang merapatkan jaketnya. Musim semi memang sudah tiba, tapi mungkin hatinya terlalu dingin di keadaan seperti ini.

 

Mobil berhenti tepat di depan gedung apartmentnya.

 

“Hai” Sarang berusaha tersenyum melihat Seung Hyun. Berusaha mengalirkan rasa nyaman pada pria yang sudah memiliki istri sejak tiga minggu yang lalu.

 

Sarang berjalan pelan, di susul Seung Hyun di belakangnya. Jalanan persimpangan ini memang sepi dari dulu. Jadi tidak masalah kalau Seung Hyun memarkirkan mobilnya di tengah jalan.

 

Gadis dengan jaket hitamnya menaruh kotak di tengah jalanan itu. Mengiris tangannya sampai berdarah. Dia menangis lagi. Bahkan rasa sakit di jarinya tidak terasa.

 

“Sarang-ya! Apa yang kau lakukan?!” teriak Seung Hyun menghampiri gadis itu.

 

Seung Hyun memang tahu soal perjanjian dengan setan di persimpangan jalan ini. Tapi dia tidak tahu menahu soal ritualnya. Dan ini menyebabkan dia agak shock.

 

“Kau mau ap—“

 

Angin besar membuat perkataannya terhenti. Dia menutup wajahnya dengan tangan kirinya.

Dia mengerenyit aneh melihat gadis di sampingnya terlihat menikmati hal ini.

 

“Ah, Kau Choi Seung Hyun…eh? Tapi kenapa ada gadis ini juga?” Seung Hyun menatap pria dengan sayap abu abu ini aneh. ‘Ini satannya? Tampan sekali’

 

Pria tampan itu tertawa. “Aku memang tampan Choi Seung Hyun. Nah, kau gadis kecil? Ada urusan apa?”

 

“Dia menyelakku, aku terlebih dulu di sini. Aku ingin menukar perjanjian denganmu”

 

Seung Hyun tercekat. Kerongkongannya terasa perih.

 

“Sarang…apa—“

 

“Baiklah…namamu?”

 

“Aku Goo Sarang, aku ingin pria di sampingku tetap hidup. Imabalannya bawa aku sekarang juga menjadi budakmu selamanya”

 

“Sarang!”

 

Gadis ini tersenyum menatap Seung Hyun, masih dalam misi memberikan rasa nyaman.

 

“Sudahlah Seung Hyun…kau harus menjaga Hye Ra kan?”

 

Seung Hyun tidak bisa berkata apa apa lagi saat gadis ini menerima uluran tangan satan itu.

 

Sarang mendekatkan tubuhnya. Seung Hyun bisa merasakan bibir itu pada pipinya. Dan dia bisa merasakan kedinginan dari bibir Sarang.

 

“Namakan anakmu Sarang juga ya?”

 

Seung Hyun tidak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya terlalu kaku.

 

Setelah sosok itu menghilang selamanya. Seung Hyun merasa kekosongan yang sangat di dalam jantungnya. Seolah olah senyum Sarang membuat lubang di hatinya. Meninggalkan jejak di sana.

 

Dan mungkin tidak akan tertutup lagi. Bahkan oleh Hye Ra sekalipun.

 

Dia berbalik, dari balik gedung besar itu dia bisa melihat matahari mulai menampakkan sinarnya.

Seung Hyun tahu ini hanya awal permulaan cerita.

 

Haruskah…dia melupakan Sarang?

 

Seung Hyun-a, terkadang cinta menjadi sangat egois ya?

Dan terkadang cinta menjadi sangat menyakitkan. Tapi setelah ini aku pasti akan merasakan sakit yang lain. Sakit yang menurutku lebih baik daripada sakit bersamamu.

Aku tahu. Karena aku ini gadis pintar jadi aku tahu.

Semua akan baik baik saja.

Jangan pernah salahkan dirimu atau keadaan. Kita hanya korban permainan Takdir.

Semoga berbahagia Seung Hyun-a’

 

**

 

END

 

**