Author : Lolillo

Title : Heart’s Desire

Length : Continue

Genre : fantasy, romance

Cast : Sooyun (own character), Junho (2PM)

Support cast: MBLAQ member & 2PM member (Seungho, G.O, Mir, Joon, Cheondoong, Taecyeon, Chansung, Junsu, Nichkhun, Wooyoung), Jung Jihoon (Rain), Park Jinyoung (JYP), Miss A Min.

Mianhaeyo, readerrr… kemaren sempet hiatus. Hahaha. Baru sekarang update part 5 FF ku 🙂

Gidaejuseyo~

Comment, kritik, dan saran sangat ditunggu 😀

Happy reading!


Part 5

                Sooyun berkonsentrasi, mengumpulkan sisa tenaganya, dari kedua telapak tangannya muncul pusaran angin yang makin membesar. Ia mendorongnya ke tembok di sampingnya dan terjadi guncangan besar. Tembok di sampingnya retak.

                “Arrrghhh…” Sooyun mengeluarkan pusaran angin dari telapak tangannya, dan kembali mengarahkannya ke tembok yang retak. Temboknya rontok perlahan dan terlihat lubang kecil karena bata-bata yang runtuh. Belum menyerah, Sooyun mengumpulkan kekuatannya lagi, membuat lubang di tembok hingga badannya bisa lewat.

                Setelah berusaha keras, terbentuk lubang kecil dan Sooyun berhasil keluar lewat lubang itu. meski harus lecet dimana-mana karena lubang yang berukuran kecil. Pakaiannya, pakaian yang sama dengan pakaian saat dia dibawa ke rumah ini, robek karena tersangkut dan tangannya tegores besi hingga terluka. Sooyun tidak perduli, yang penting sekarang ia sudah bebas!

                Ia menemukan dapur dan ruang keluarga di rumah itu, suasana hening dan sepi karena semua penghuni rumah sudah terlelap dalam tidurnya. Sooyun mengamati rumah bergaya eropa klasik itu dengan warna dinding didominasi putih tulang, dengan penerangan lampu berwarna kuning yang minim di malam hari.

                Sooyun hendak mencari pintu keluar ketika tiba-tiba pandangannya mengabur, berangsur menghitam dan kepalanya terasa pusing. Aigooo, kenapa harus kekurangan darah sekarang, sih? Sepertinya ia kehilangan banyak tenaga saat membuat lubang di ruangan tempatnya dikurung. Dan sekarang ia jadi kekurangan darah.

                Sooyun langsung menuju dapur, melihat banyak stok darah segar di kulkas. Namun rasanya, ia mual melihatnya. Tapi ia butuh darah sekarang juga. Aku ingin darah vampir itu, batinnya. Tapi aku harus pergi dari sini sekarang juga, sebelum ada penghuni rumah yang terbangun.

                Nekad, Sooyun malah menaiki tangga ke lantai dua, tempat kamar tidur. Aku akan mencari vampir itu, menghisap darahnya, lalu langsung kabur dari sini. Ya, aku akan melakukannya dengan cepat, sebelum ia sadar dan menangkapku lagi.

                Kakinya berjingkat pelan menaiki tangga, menyusuri lorong dengan pintu kamar di kiri dan kanannya. Sinar bulan penuh malam ini memberi sedikit penerangan dari balik jendela kaca besar di ujung lorong. Lampu-lampu berwarna kuning menyala dan melekat di tembok. Membuat kegelapan sedikit berkurang.

                Sooyun menghirup nafas dalam-dalam, mengendus udara di sekitarnya, bau darah vampir itu… kenapa tercium sangat jelas, ya? Bau darah yang berbeda. Sooyun menyusuri lorong hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu warna coklat gelap. Mungkin ini kamarnya…

                Cklek. Dengan hati-hati dan perlahan dibukannya pintu kamar itu, dan menemukan sosok Junho sedang berbaring di tempat tidur dengan tiang-tiang di keempat sisinya, dan seprai warna putih bersih. Ia tertidur lelap dengan hanya mengenakan celana panjang hitam, dan bertelanjang dada. Sooyun berjalan mendekat dengan perlahan, takut membangunkan vampir ini.

                Di balik kegelapan, Sooyun menemukan leher Junho. Oke, aku akan melakukannya dengan sangat cepat, batin Sooyun. Ia merasakan rasa takut nggak karuan, dan jantungnya berdegup sangat kencang. Tapi ia benar-benar butuh darah, bukan sembarang darah, tapi darah Junho.

 Ia menaiki sisi tempat tidur bagian kiri, bersiap menggigitnya ketika semuanya terjadi begitu cepat. Junho tiba-tiba terbangun, dan dengan cepat berbalik, menarik tangan Sooyun, dan membantingnya ke tempat tidur di sisi kirinya, badannya hampir menimpa Sooyun kalau tangan kirinya nggak menahan badannya yang lebih besar dari badan Sooyun yang jauh lebih mungil darinya. Wajah mereka sekarang hanya terpaut jarak beberapa centimeter.

Jantung Sooyun berdebar nggak karuan, nafasnya tersengal-sengal, tapi ia nggak bisa bergerak sama sekali. Cowok di hadapannya ini juga hanya terdiam, matanya terus memandangi wajah vampir di depannya ini, matanya yang berkilat kebiruan dan bibirnya yang semakin pucat karena kekurangan darah.

Keduanya terdiam lama, saling menatap, tidak bergerak, hingga tiba-tiba Junho tersadar, “kamu? Gimana caranya kamu bisa ada disini?”

Belum sempat menjawab, Junho menarik paksa tangan Sooyun, membuka laci di samping tempat tidurnya, tepat dimana ia menyimpan sepasang borgol, memasangnya di pergelangan tangan Sooyun, sedangkan satunya ia kaitkan pada besi di tempat tidurnya. “Kau tunggu disini.” I segera mengambil hoodie yang disampirkan di sisi ranjang dan berjalan keluar kamar.

Sooyun, kau benar-benar bodoh! Kenapa tadi nggak langsung kabur aja, sih? Sekarang… harapanku untuk kabur sudah benar-benar pupus…

*

                “Ada apa?” Wooyoung terbangun dari tidurnya dan menemukan Junho di depan kamarnya, seperti terburu-buru.

                “Aku harus mengecek ke bawah.” Junho berjalan dengan tergesa menuruni tangga, disusul Wooyoung dan juga Taecyeon yang terbangun, juga ingin tau apa yang baru saja terjadi. Ketiganya menyusuri lorong disamping dapur, dan berhenti di depan sebuah tembok dengan lubang berdiameter kurang lebih 30 cm dengan serpihan bata merah dan tembok tersebar di lantai.

                “Anak itu… membuat lubang sebesar ini?” Wooyoung mengerjapkan mata nggak percaya, “hebat juga kekuatannya.”

                “Ya! Kau lupa dia bisa melemparku hingga menabrak tembok itu?” Taecyeon menyenggol lengan adiknya, “lalu… anak itu kabur?”

                “Nggak, dia ada di kamarku sekarang.”

                “Mwo?” Keduanya terbelalak, “kok bisa?”

                Junho mengangkat kedua bahunya, lalu berjalan menjauh dari situ. “lebih baik kita cari tau bareng-bareng.”

                “Langit masih gelap kenapa kalian sudah membuat keributan, sih?” Junsu menyambut mereka di ruang tamu, mengenakan piyama katun warna hijau gelapnya.

                “Emangnya ada apa?” Tanya Nichkhun sambil melongok ke dalam kulkas, mencari darah segar di dalamnya.

                “Anak itu,” Junho buka mulut, sampai sekarang ia dan kelima saudaranya nggak tau nama orang yang mereka sandera. “Aku menemukannya menyelinap ke kamarku dan hampir saja menghisap darahku untuk yang kedua kalinya. Untung saja aku terbangun. Dan dia juga membuat lubang di tembok bawah dan berhasil kabur.”

                “Jagoan juga dia,” Komentar Junsu, “kemarin dia berani menggigit Junho, sekarang dia berani mencoba kabur.”

                “Gadis bodoh,” Chansung mencibir, “kalo aku jadi dia, aku langsung kabur untuk kembali ke rumahku. Kenapa dia harus ke kamar Junho segala?”

                “Tadi kan Junho bilang ia hampir menghisap darahnya. Mungkin… ia sedang butuh darah? Melubangi tembok itu bukan pekerjaan mudah. Pasti dia kehilangan banyak tenaga.” Wooyoung menginterupsi singkat.

                “Sepertinya… dia memang butuh darah, bola matanya kebiruan, dan wajahnya pucat.” Junho mengingat setiap detil wajah vampir cewek yang sedang terborgol di kamarnya itu. “tunggu, tadi dia terlihat sangat pucat. Jangan-jangan ia sudah kena blood coma!

                “Ah, biarkan saja… Siapa suruh dia nekad menjebol tembok—”

“Ya! Junho-yah, kau mau kemana?” Tanya Nichkhun waktu Junho refleks meninggalkan mereka dan berlari menuju tangga keatas.

                “Memeriksanya. Wooyoung-ah, ayo ikut aku.” Junho berteriak sambil menaiki tangga, disusul Wooyoung menuju kamar tidur Junho.

                Pintu kamar terbuka, di dalam kamar, Sooyun tertidur di tempat tidur dengan posisi melintang dan satu tangan terborgol pada besi tempat tidur. “Cewek ini seenaknya banget tidur di tempat tidurku.” Cibirnya.

                “Dia sudah terkena blood coma, lihat titik hitam di lehernya.” Wooyoung memeriksa leher Sooyun. Di sisi kanan lehernya terdapat 2 titik kecil berwarna hitam. Secara perlahan, muncul titik hitam yang ketiga. Jika vampir tidak juga meminum darah hingga tenaganya benar-benar habis, mereka akan jatuh pingsan dan terlihat seperti tertidur. Namun secara perlahan muncul titik berwarna hitam di sisi kanan leher mereka.

                Jika tak disembuhkan, titik hitam di leher mereka perlahan akan bertambah, dan jika sudah ada 5 titik hitam di lehernya, maka vampir itu akan terbakar dan berubah menjadi debu. Dan yang bisa menyembuhkan blood coma ataupun menghilangkan titik hitam di leher itu, hanyalah vampir dengan kekuatan menyembuhkan.

                “Wooyoung-ah, kau bisa menyembuhkannya?” Junho melirik kakaknya yang duduk di sisi tempat tidur.

                “Kenapa kita harus menolongnya?” Tanya Wooyoung datar.

                “K-ka-karena…,” Junho tergagap, “aku nggak tau. Hanya saja, aku rasa dia belum layak untuk mati. Lagipula, kita berenam akan dihakimi oleh keluarga Volturi jika mereka tau kita membiarkan anak ini mati karena blood coma. Itu namanya pembunuhan.”

                Wooyoung mengangguk singkat, lalu memegang sisi kanan leher Sooyun yang tertidur. Wooyoung berkonsentrasi, menyalurkan energinya hingga secara perlahan titik hitam di leher Sooyun menghilang.

                “Haaaahhhhh…” Wooyoung menghela nafas berat, badannya lemas seketika. Junho melirik, dan melihat bola mata kakaknya ini berubah warna menjadi merah.

                “Lebih baik kau langsung minum darah setelah ini,” Junho dan Wooyoung keluar bersamaan dari kamar tidur Junho, menuju dapur di lantai bawah.

                “Anak itu aneh sekali,” Junho berkomentar sambil meraih sebotol darah dari kulkas, dan memberikannya ke Wooyoung, “dia harusnya bisa langsung kabur dari rumah ini, tapi dia malah mencelakakan dirinya sendiri dengan masuk ke kamarku.”

                “Dia butuh darah, Junho-yah. Kau kan lihat sendiri tadi, katamu bola matanya kebiruan dan wajahnya pucat. Dia benar-benar kekurangan darah sampai terkena blood coma nggak lama setelah kau memborgolnya.”

                “Tapi kan… dia bisa mengambil darah dari kulkas.” Junho mendebat dengan polos. Tiba-tiba, Wooyoung tersenyum simpul.

                “Kenapa tersenyum?” Tanya Junho nggak mengerti.

                “Dia ingin darahmu, bukan darah-darah yang ada di sini. Makanya dia mengambil resiko menyelinap ke kamarmu dan berniat menggigitmu.” Wooyoung berhenti, lalu menatap adiknya serius. “Tebakanku nggak mungkin salah, kalian berdua… sudah memiliki Ikatan Darah.”

*

                Sooyun membuka matanya perlahan-lahan. Tubuhnya menggeliat di tempat tidur, rasanya sudah lama sekali nggak tidur di tempat senyaman ini! Tapi, ini dimana? Sooyun memandangi setiap sudut kamar, dan menemukan sebuah borgol diletakkan di meja di samping tempat tidur ini.

                Perlahan-lahan, Sooyun mengingat kejadian tadi malam. Ia menjebol tembok dengan kekuatannya, kekurangan darah, nekad menyelinap kesini yang berakhir dengan bangunnya si pemilik kamar, membuat Sooyun diborgol, dan semuanya perlahan menghitam. Tiba-tiba ia terbangun sedang tertidur memeluk bantal dan berselimut tebal.

                Ia memandangi setiap sudut kamar ini, didominasi warna coklat gelap dengan lampu gantung warna kuning yang temaram. Kamar yang rapi dengan berbagai ukiran-ukiran di tembok dan langit-langit kamar. Serta Sooyun bisa melihat hiasan berbentuk bintang berbahan fosfor agar berpendar dalam gelap ditempel di sekeliling dinding kamar.

                “Selamat pagi, Nona.” Seorang pelayan muda menginterupsinya, ia membawa beberapa helai baju bersih dan menaruhnya di tepi tempat tidur. “Lebih baik anda segera mandi, para tuan muda menunggu anda untuk sarapan.”

                Mandi? Sarapan? Para tuan muda? Kenapa ia tiba-tiba jadi diperlakukan terhormat seperti ini, kemarin-kemarin ia diberi makanan sisa, tidur di kasur yang keras, dan nggak mandi sama sekali! Tiba-tiba ia disuruh mandi…

                “Dan karena para tuan muda tidak punya adik perempuan, maka untuk baju gantimu, ini ada beberapa pilihan, baju para tuan muda yang berukuran kecil. Anda boleh memilihnya, Nona.”

                Ragu-ragu, Sooyun meraih celana panjang hitam, jaket hoodie putih, dan kaus warna putih. Biarpun masih kebesaran untuknya, tentunya baju-baju ini masih lebih baik daripada baju yang dipakainya berhari-hari ini, sudah kotor, dan robek di beberapa bagian.

                Bahkan, Sooyun hampir lupa rasanya mandi. Ia mengeringkan rambut basahnya dengan handuk setelah mengenakan pakaian gantinya. Pakaian ini benar-benar membuatnya ‘tenggelam’ dan terihat mungil. Padahal untuk ukuran perempuan, Sooyun termasuk tinggi, dan latihan-latihan fisik yang keras dari Appanya membuat badannya nggak bisa dibilang ‘mini-size’.

                Kalung apa ini? Sooyun menyadari ada yang aneh saat menatap bayangannya di kaca. Di lehernya tergantung sebuah kalung rantai kecil berwarna hitam dengan bandul besi ringan berwarna perak. Kayaknya Sooyun nggak pernah punya kalung seperti ini.

                “Itu… Tuan Muda Junho yang memakaikannya, saat Nona masih tidur.” Sang pelayan buka suara, seakan tau isi pikiran Sooyun. Junho siapa? Kenapa harus memberiku kalung? Banyak banget pertanyaan di benak Sooyun yang nggak terjawab.

                Sementara itu, Junsu dan kelima adiknya berkumpul di ruang makan. Menunggu makan pagi mereka disiapkan. Seluruh jendela yang bisa menjadi jalan masuknya sinar matahari ditutup, dan ruangan diberi penerangan lampu-lampu gantung kecil di langit-langit.

                “Menurutmu… aman jika melepasnya seperti itu? dikurung saja dia bisa mencoba kabur.” Junsu buka suara, tentu saja yang dimaksud adalah ‘tawanan’ mereka.

                “Justru, sekarang kita perlakukan anak itu dengan baik, agar dia nggak kabur lagi. Mungkin dia bisa melupakan keluarganya perlahan-lahan.” Jawab Taecyeon yang punya ide dadakan menjelang pagi tadi. “Dan kita bisa menggunakannya untuk menjadi senjata kita.”

                “Kau nggak takut dia menyerangmu dengan kekuatannya? Vampir berkekuatan angin itu bukan vampir yang bisa diremehkan, lho.”

                “Kalo itu, tenang saja, Hyung.” Junho buka suara, “aku memakaikannya kalung, yang membuat kekuatannya nggak berfungsi. Ia nggak akan bisa mengeluarkan kekuatannya selama memakai kalung itu. Dan yang bisa melepaskan kalung itu, hanya aku.” Junho tersenyum penuh arti.

                “Silahkan, Nona.” Seorang pelayan membuka pintu ruang makan, dan Sooyun hanya berdiri di ambang pintu, menatap keenam cowok yang duduk di meja makan dengan tatapan kosong. Baju di badannya terlihat kebesaran. Mereka… akan menyiksaku lagi, kah?

                “Hei,” Wooyoung bangkit dari duduknya, menghampiri Sooyun. “ayo duduk, kami sudah menunggumu dari tadi untuk sarapan bersama.” Ia menggengam pergelangan tangan Sooyun, lalu memintanya duduk di kursi kosong di sebelahnya. Sooyun hanya menurut dan duduk dalam diam, menatap dengan takut-takut setiap dari mereka.

                “Ah, kami belum tau namamu. Namamu siapa?” Tanya Wooyoung lagi. “Aku Wooyoung, ini Taecyeon Hyung, di sebelahnya Chansung, lalu Junsu Hyung, dan Nichkhun Hyung.” Lanjutnya, mengenalkan masing-masing saudaranya, lalu ia menunjuk cowok yang duduk berseberangan dengan Sooyun, “kalau yang ini, kau pasti sudah tau, kan? Namanya Junho.”

                Sooyun diam, menundukkan kepalanya dan nggak berani menatap satupun dari mereka. Mengingat kemarin-kemarin mereka menyiksanya begitu parah. Hanya saja, ia merasakan aura bersahabat dari Wooyoung, vampir yang nggak pernah ia lihat menyiksanya.

                “Lebih baik lupakan saja rencana itu.” Bisik Junsu sambil menatap Taecyeon dan Wooyoung. Merasa usaha mereka buat ngebaik-baikin cewek ini nggak akan membuahkan hasil.

                “Dia masih ketakutan, Hyung. Kalian kan pernah menyiksanya sampai hampir sekarat.” Wooyoung mencibir santai. “Jadi, siapa namamu?” Ia kembali menengok ke Sooyun.

                Dengan ragu ia menatap ke Wooyoung, “S-s-soo… Sooyun imnida.”

                Wooyoung mengangguk-angguk, “Sooyun, nama yang bagus. Nah, Sooyun. Sekarang makanlah yang banyak. Kau pasti lapar setelah terkena blood coma pagi tadi.”

                Sooyun menatap Wooyoung dengan kening berkerut, “blood coma?”

                “Iya, tadi pagi. Apa kau tidak ingat, kau kekurangan darah hingga menyelinap ke kamar Junho dan mau menggigitnya.” Wooyoung tersenyum, “tapi tenang saja, aku sudah menyembuhkanmu, kok.”

                Sooyun tertunduk, wajahnya terasa panas dan merah, malu banget! Apalagi vampir yang diincarnya duduk persis di seberangnya. Nggak lama kemudian, beberapa pelayan memasuki ruang makan sambil membawa makan pagi mereka. Sooyun terbelalak, ia melihat sup sayur, daging panggang, kimchi, dan banyak macam makanan enak lainnya. Ia hampir lupa kapan terakhir kali ia melihat dan menyantap makanan seperti ini.

                “Makanlah, kau pasti lapar.” Wooyoung tiba-tiba menyenggol lengan Sooyun yang masih bengong, masih bertanya-tanya, semua ini mimpi atau kenyataan?

                “Ne,” Sooyun mengangguk pelan, lalu mengambil sumpit besi dan mulai makan. Aku nggak tau harus takut atau percaya sama mereka, yang jelas, sekarang yang penting makan dulu!

*

                Malam semakin larut, kemeriahan makin terasa di BlueDragon. Musik yang diputar oleh DJ menambah kehebohan malam itu. Semakin banyak pengunjung berdatangan untuk sekedar bertemu teman-teman sambil melepas penat, juga makhluk-makhluk lain yang mengincar mangsa di malam ini, vampir.

                Seungho menenggak segelas whisky di meja, ia dan keempat adiknya duduk di sofa berbentuk setengah lingkaran yang diletakkan di sisi kanan ruangan, berdekatan dengan bar. Ia berpaling ke adik-adiknya, “Sooyun… apa kabar ya?”

                Joon tertunduk lemas, G.O juga, Mir terlihat sedikit tenang, “aku bisa melihat, Sooyun masih hidup.” Katanya sambil memejamkan kedua matanya, “hanya saja, aku nggak tau dia ada dimana. Ada satu kekuatan yang memblokirnya sehingga nggak bisa kulihat dalam visiku.”

                “Dia baik-baik saja, kan? Apa dia menderita? Disakiti?” Tanya Cheondoong.

                “Nggak usah lagi diculik mereka, di rumah kita juga dia sering menderita dan disakiti, bukan?” G.O menimpali dengan sarkastis.

                “Tenang saja, dia baik-baik saja. Aku bisa merasakannya. Meskipun… aku masih merasa khawatir sekali dengan keadaannya.” Jawab Mir canggung.

                “Bau darah,” Joon mengendus udara di sekitarnya, “ada mereka di sini!”

                “Maksudmu Taecyeon, Chansung, dan Nichkhun?” Tanya Seungho.

                “Kok… tau?”

                “Itu, aku melihat mereka disana.” Seungho menunjuk ke satu arah dengan dagunya, adik-adiknya menengok dan menemukan ketiga cowok itu disana, mengenakan setelan semi formal dengan jaket dan jeans.

                “Ah, lebih baik aku mencari mangsa dulu sebelum ada dari mereka yang mereka merebutnya,” G.O beranjak dari duduknya, lalu berburu di tengah lantai dansa. Joon menyusul, dan dengan segera menemukan seorang cewek yang menarik dengan balutan dress warna merah terang.  Sialnya, Taecyeon mendahuluinya.

                “Kau mau cari mati disini, HAH?” Joon menarik kerah baju Taecyeon dan menyeretnya ke pinggir ruangan.

                Taecyeon menyeringai, ia mengelap sisa darah di bibirnya, “kalian semua memang keluarga yang payah…”

                “Kau!” Joon membuka telapak tangannya, dari tangannya muncul kobaran api kecil dan didekatkannya pada wajah Taecyeon, “aku nggak akan segan-segan membakar wajahmu.”

                “Hey, jangan bermain api di sini, Lee Joon…” Dengan cool, Taecyeon menghardik tangan Joon. “kau ingin membakarku… atau masih ingin melihat adik bungsumu hidup?”

                Joon terdiam, kobaran api di tangannya perlahan mengecil, lalu menghilang. Melihat reaksi itu, Taecyeon tersenyum dengan angkuh. “Sesuatu yang SANGAT buruk akan terjadi pada adik bungsumu, jika kalian membuat kami marah. Berbaikhatilah, maka kau masih punya kesempatan untuk bertemu adik bungsumu hidup-hidup.” Ia menepuk pundak Joon, lalu berjalan meninggalkannya.

                “SIAAAAL!” Joon meninju tembok di sisinya, sekarang mereka menggunakan Sooyun untuk memaksa kami. Aku harus melakukan sesuatu, mereka nggak akan selamanya di atas angin seperti ini… kita lihat saja.

*