Annyeong!!!

Author lagi punya ide nih… Kalo udah punya ide ya gini! Oke, deh. Ini dia OneSHot ku!!!

————————————————————————————————–

Main casts:

– Park Sandara

– Taeyang

– Ji Yong

Other casts:

– Park Bom

– Thunder

– Dara’s dad

– Lee Chaerin

Notes:

– Don’t be silent readers!

– Made by Rahina only!

– Happy reading!

– Illustration by: Diyan Yuska

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Ji Yong… Kemana kau?” Dara terus bergumam dan mengetukan jari-jarinya di meja. Hampir setengah jam dia menunggu Ji Yong, namjachingunya. Kerongkongannya sudah kering karena niatnya untuk memesan minuman saat Ji Yong datang. Rasa bosan tak juga dirasakannya karena suasana bar yang memang dia suka sejak pertama kali datang di bar ini. Bisa dibilang, dia pelanggan tetap. Ada dua bartender yang dikenalnya. Taeyang dan Thunder. Mereka mulai saling kenal saat waktu itu Dara menangis di cafe ini dan tidak mau pulang. Sejak saat itu, Taeyang menyimpan rasa.

Dara melipat tangannya di meja. Kepalanya itu terasa berat. Akhirnya dia letakkan kepalanya di atas meja dan terbenam dalam dua tangannya. Dua sampai tiga menit kemudian, matanya tertutup dan dia pun tertidur.

***

“Noona! Noona!”

Perlahan Dara membuka matanya. Tampak Thunder duduk di depannya. Dara langsung duduk tegal dan merapikan rambutnya. “Aku ketiduran, ya?” tanya Dara. “Ne. Bar sudah tutup,” Taeyang menghampiri. “Jinja? Kenapa tidak membangunkanku?!” protes Dara seraya menatap jam tangannya. “Aku takut menganggu. Dari tadi belum minum, ya? Kau mau ku buatkan coctail?” tawar Taeyang seraya berjalan menuju balik meja bar. “Kalian belum pulang?” tanya Dara. “Kami memang tinggal di sini,” ungkap Thunder yang membuat Dara terkejut. “Tenang saja. Gaji kami sedikit berbeda. Kami juga menjaga di sini,” Taeyang menenangkan Dara. “Lagipula… bagaimana kami bisa pulang kalau ada pelanggan?” lanjutnya. Thunder terkikik mendengarnya. Karena dia tahu, alasan sebenarnya adalah karena Taeyang tak mau meninggalkan yeoja tercintanya sendirian. Taeyang datang meletakkan minuman yang disebutnya ‘coctail’ di meja Dara. Dara mencobanya. “Ini orange juice,” protes Dara. “Huh… Minum coctail saja kau sudah mabuk,” Thunder duduk menyamping. “Oh, iya. Dia sudah datang?” tanya Dara tiba-tiba. “Siapa?” Taeyang malah bingung. “Ji Yong,” jawab Dara. “Namjachingumu? Memangnya kalian ada janji pukul berapa?” tanya Thunder. Taeyang langsung berjalan menuju balik meja bar dan membersihkan meja. “Sudah malam. Lebih baik aku pulang,” kata Dara sambil bergegas. “Lho, noona. Di sini dulu!” tahan Thunder. “Sudahlah. Biar dia pulang,” Taeyang yang sudah bad mood tak mau melihat Dara lagi untuk malam ini. “Kalau begitu… biar Taeyang mengantarmu, ya?” tawar Thunder. “Sireo. Kau saja,” Taeyang menjadi dingin. “Ah… baiklah,” Dara dan Thunder berlalu begitu saja. Seandainya kau tahu, Park Sandara…

 

Dara dan Thunder sudah sampai. “Baiklah, sampai di sini saja. Oh, iya. Taeyang itu kenapa?” tanya Dara sambil memberikan helm pada Thunder. “Gwenchana… Lekaslah masuk. Nanti ahjussi marah,” kata Thunder. “Huh… Dia tidak akan memperhatikanku,” Dara menjadi sedikit kecewa tapi berusaha menahannya. “Wae?” tanya Thunder. “Ah, aniyo…. Sampai jupa besok, saeng!” Dara langsung berlari menuju rumahnya. Sebenarnya Dara anak adopsi. Dia tinggal dengan ayah tirinya dan adik tirinya, Park Bom. Di rumah, hanya Park Bom yang memperlakukannya dengan baik. Ayah tirinya hanya menganggapnya numpang hidup saja.

 

Dara membuka pintu pelan. “Aku pulang,” sapanya. Terlihat hanya ada Park Bom yang tertidur di ruang tamu karena menunggunya pulang. “Bommie? Bommia-ah?” Dara duduk di samping Park Bom dan menggoyangkan pundak dongsaengnya. “Uh, eonnie. Eonnie pulang? Bagaimana malam eonnie dengan Ji Yong?” tanya Park Bom. “Kau ini. Seperti aku bersama Ji Yong saja,” Dara terkikik. “Apa maksud eonnie?” Park Bom langsung menatap mata eonnienya. “Sudahlah. Kau mau ku buatkan makanan. Kau pasti lapar. Ppali!”

 

***

Dara duduk di balkon kamarnya pukul enam pagi. Udara masih sangat dingin. Senyumnya sedikit mengembang. “Adikku itu… siapa?” tanyanya pada diri sendiri seraya mengeluarkan sebuah liontin dan menatap foto dua orang anak, namja dan yeoja.

Flashback

Dara berjalan menuju kamar Park Bom tanpa mengetuk pintu. Terlihat jelas Park Bom menyembunyikan sesuatu. “Bommie, apa itu?” tanya Dara. “Ah… aniyo…,” Park Bom hanya bisa mati kutu. “Kau ini!” Dara langsung merebut sesuatu yang ada di tangan Bom. Sebuah liontin. Dara membuka liontin itu. “Ini… aku? Ini… adikku?” tanya Dara saat melihat seorang namja di samping fotonya. “Ah, eonnie… Eonnie ingat saat kebakaran itu?” tanya Park Bom. Dara hanya diam. “Yang ditemukan hanya jasad orang tua eonnie saja. Adik eonnie… belum dipastikan sudah meninggal atau belum. Tapi ku dengar… dia masih hidup. Eonnie masih ingat? Ini liontin yang kalian kenakan…” “Huh?”

End of Flashback

 

Drrt~ Drrt~

Ponsel Dara berdering. “Hm? Ji Yong-ssi?” Dara langsung menanggapi. “Annyeong, jagiya!!!” sapa Dara. “Oh, annyeong… Semangat sekali. Jagiya, ayo ke bar!” ajakan Ji Yong membuat Dara cemberut. “Jagiya…,” panggil Dara manja. “Ne?” tanggap Ji Yong tanpa mengingat apa yang terjadi tadi malam. “…,” Dara hanya diam dan menghembuskan nafas. “YA!!! TADI MALAM KEMANA SAJA??? KENAPA SEKARANG KAU TIDAK MINTA MAAF!!!” Dara berteriak. “Hm? Jagiya, jangan berteriak. Memangnya ada apa? Tadi malam kenapa?” Ji Yong masih santai. Dara meneteskan air mata. Tanpa berpikir panjang langsung dia banting ponselnya. Dan tangisnya pun meledak.

“Eonnie, gwenchana?” Park Bom memasuki kamar. “Ah, Bommie-ah, kenapa kemari?” tanya Dara seraya mengusap air matanya. “Huh… Eonnie… Certitakan padaku… Waeyo?” Park Bom menghampiri eonnie nya. “Aku sudah tahu tentang tadi malam dari Thunder. Gwenchana eonnie… Jangan menangis… Mungkin dia sibuk…,” Park Bom memeluk Dara. “Tapi, Bommie-ah, dia melupaka semuanya…,” Dara memberi alasan. Park Bom tak bisa berkata lagi dan hanya bisa memeluk kakaknya itu.

 

“Annyeonghaseo…,” sapa Park Bom pada appa yang sedang bersiap kerja. “Sudah bangun Bom-ah?” sapa appa. “Kenapa eonnie tidak di sapa?” tanya Park Bom. Appa menatap Dara sinis. “Appa pergi dulu, ya?” pamit appa. “APPA!” tiba-tiba saja Park Bom membentak. “Lee Park Bom! Beraninya kau!” appa balas membentak. Park Bom kecewa karena appa melanggar janjinya pada mendiang eomma untuk tidak mengucapkan nama asli Park Bom. “A.. appa? Appa berani-beraninya melanggar janji appa pada eomma! Betapa munafiknya appa!” Park Bom meneteskan air mata. “Saat eomma masih ada, appa bersikap baik. Tapi saat eomma tidak ada, appa berubah. Appa tega! Appa, aku tak mau tinggal di sini lagi!” Park Bom beranjak naik diikuti dengan Dara. “Bommie-ah, waeyo? Bommie, kenapa kau bicara seperti itu?” Dara berusaha mengejar Park Bom. “Eonnie… ayo pergi!” ajak Park Bom. “Bommie-ah?” Dara masih bingung. “Bersiaplah, ppali!” Park Bom mulai menangis. “Tapi kita ke mana?” Dara masih mencari alasan untuk tinggal. “Ke mana saja! Ppali!” Dara tak bisa menolak. Pada kenyataannya dia juga sengsara. Tapi dia tahu, Park Bom melakukan itu untuknya.

 

***

“Eonnie, hotel apa yang eonnie mau?” tanya Park Bom. “Hotel? Andwe!” Dara menolak seraya mengemudi. “Kita ke mana?” tanya Park Bom. “Ke suatu tempat,” jawab Dara dengan senyum. “Tempat yang aman.”

“Kenapa… di sini? Ini kan… bar,” kata Park Bom saat tahu kalau Dara berhenti di bar. “Tenang saja. Kkaja!” Dara langsung turun dari mobil.

 

“Annyeong, saeng!” sapa Dara pada Thunder dan Taeyang. “Siapa itu, eonnie?” tanya Park Bom. “Temanku,” kata Dara. “Noona? Kami belum buka,” kata Taeyang dengan senyum manisnya. “Kami bukannya mau pesan minuman. Tapi kau bisa bantu aku?” tanya Dara. “Hm?” Thunder langsung datang. “Kami butuh tempat tinggal,” kata Dara dengan lirih. “Kami? Oh, siapa dia?” tanya Thunder sambil melirik ke arah Park Bom. “Ini Park Bom. Dia dongsaengku,” kata Dara. “Oh… Tapi, noona, kau butuh tempat tinggal? Wae?” tanya Thunder. “Kami diusir,” Park Bom menyela. “Ya, jangan begitu. Kau yang minta,” kata Dara. Park Bom hanya diam. “Oh, Bommie, ini Taeyang dan Thunder,” kata Dara. Park Bom hanya tersenyum. “Taeyang, bisakah kita tinggal di sini bersama kalian?” tanya Dara. “Ya! Noona, kau gila? Andwe! Tidak baik,” tolak Taeyang. “Aish! Kalau begitu carikan aku apartment,” pinta Dara. “Hm… Baiklah. Nanti kita cari sama-sama.”

 

***

“Bagaimana, noona?” tanya Taeyang seraya menunjukkan apartment yang didapatkannya. “Bommie-ah, bagaimana?” tanya Dara pada Park Bom. Park Bom mengelilingi apartment itu. “Hm… Aku mau lihat kamarnya dulu,” kata Park Bom seraya berjalan menuju sebuah kamar. “Uwaa!!! Daebakk! Ayo lihat lemarinya!” Park Bom membuka pintu lemari. “Uwaa!!! Daebakk, daebakk! Eonnie, aku mau ini!”

 

***

Tiga hari sudah Dara tinggal di apartment barunya bersama Park Bom. Selama tiga hari itu pula lah dia tidak bertemu Ji Yong. Sama sekali tak ada telpon dari Ji Yong. Apa karena waktu itu?, pikir Dara. Tapi segera ditinggalkannya pikiran itu saat mendengar bel berbunyi. “Siapa itu???” tanya Dara seraya bergegas. Dara membuka pintu perlahan. “Ji Yong??!!” Dara terperanjat. Terlihat jelas Ji Yong di depannya membawa sebuket bunga mawar dan berpakaian rapi. “Masuklah,” ajak Dara.

 

“Kau tahu tempat ini dari siapa?” tanya Dara seraya memberi teh. “Dari Taeyang,” jawab Ji Yong. “Siapa, eon?” tanya Park Bom. “Mwo? Ji Yong-ssi! Pergi!!! Kau tega ya! Meninggalkannya pada malam hari dan lupa minta maaf!” tiba-tiba saja Park Bom melemparkan bantal kecil yang dibawanya dari kamar. “Bom-ah, waeyo???” tanya Ji Yong. Tanpa berpikir panjang, Park Bom langsung menyerang Ji Yong tanpa ampun. “Awas kau!!!” ucapnya. “Aigo~ Bommia-ah, sudah, eh… sudah,” lerai Dara. Tapi Park Bom tetap tak mau mendengarkan. “CUKUP!!!” Dara berteriak lantang. Semua berhenti melakukan kegiatan begitu juga Taeyang dan Thunder yang baru datang dan sedang membuka pintu. Sayang, Ji Yong sudah terlanjur babak belur.

 

“Kelihatannya sedang ada perang,” kata Thunder. “Oh, saeng? Kkaja! Kita ke lantai atas saja. Sepertinya di sini kacau. Ppali!” ajak Dara seraya membiarkan Park Bom dan Ji Yong melanjutkan pertengkaran. Taeyang dan Thunder hanya bisa melihat Dara tak berkedip.”Ppali!!!” bentak Dara panjang lalu tiba-tiba menjadi normal lagi.

“Ji Yong tidak minta maaf untuk yang malam itu?” tanya Taeyang pada Dara saat Dara meletakkan dua cangkir teh di meja. “Begitulah. Tiga hari kita kehilangan kontak. Mungkin karena aku marah padanya,” Dara masih santai. “Sebenarnya kau ini masih menyukainya atau tidak, noona?” tanya Thunder. “Molla yo. Mungkin agak…,” Dara tersenyum seraya mengambil tehnya. Thunder melihat sebuah liontin ada di samping Dara. “Noona?” tanya Thunder. Thunder terus mengulurkan tangannya ke samping Dara. “Saeng, wae?” tanya Dara. Thunder dengan cepat meraih liontin itu. “Oh, itu liontin ku dan adikku yang hilang,” kata Dara. Tiba-tiba saja mata Thunder berkaca-kaca. “Noona?” panggil Thunder. “Waeyo?” Dara mendekati Thunder dan duduk di sampingnya. Thunder mengeluarkan sebuah liontin yang sama, lalu membukanya. Foto itu sama persis dengan yang ada di liontin Dara. “Noona…,” Thunder menatap Dara. Mata Dara lebih berkaca-kaca. Diutupinya setengah wajahnya dengan tangan. “Saeng..,” Dara hanya bisa mengatakannya. Tanpa berpikir panjang mereka berpelukan. “Kenapa kau meninggalkanku? Kenapa?” tanya Thunder dengan air matanya. “Miane… Jeongmal miane…. Aku tak akan meninggalkanmu lagi, saeng.”

 

“Jagiya!!!” panggil Ji Yong tiba-tiba dengan nada bergetar. “Ji Yong?” Dara langsung teralih dari moment mengharukannya. “Kenapa menangis??? Bersama Thunder??? Kalian… kalian selingkuh!” Ji Yong langsung menuduh. “Kau ini sembarangan! Seberapa sulitnya mempercayai yeoja sendiri?!” Taeyang langsung menengahi. “CUKUP!!! Bisakah kalian berhenti berkelahi? Taeyang, kau diam saja! Ji Yong, dia ini adik kandungku!” Dara langsung berdiri dan menarik Thunder ke balkon. “Tadi Dara eonnie bilang apa??? Adik kandung?” Park bom yang baru datang langsung bingung. Ji Yong hanya bisa diam tak berkutik.

 

“Sudah berapa tahun?” Dara dan Thunder duduk di balkon menatap langit. “Entah. Aku sudah putus asa,” kata Thunder. Dara tersenyum. “Aku juga.”

 

***

 

Dara menghabiskan hari0-harinya bersama Thunder selama seminggu. Selama seminggu ini TAeyang dan Thunder menginap di apartment Dara dan Park Bom. Mereka dipecat.

 

“Noona, buatkan aku sesuatu,” Taeyang yang melihat Park Bom lewat langsung mengganggu. “Sesuatu? Kekacauan, maksudmu?” Park Bom duduk di samping Taeyang lalu merebut sebotol coke. “Itu milikku,” Taeyang merebutnya kembali. “Aish! Kakak-adik itu ke mana?” tanya Park Bom seraya menyalakan tv. “Ke Namsan Tower. Mungkin sekedar menggantungkan kunci harapan,” jawab Taeyang. “Mereka cocok. Seperti pasangan,” kata Park Bom. “Kau menyakitiku,” kata Taeyang dengan polosnya. “Mwo? Kau suka Dara! kau suka Dara eonnie!!” Park Bom melonjak dan menunjuk-nunjuk Taeyang. Taeyang hanya diam.

 

***

 

Sudah pukul sebelas malam. Semua sudah tidur kecuali Taeyang dan Dara. Mereka masih di balkon.

 

“Dara,” Taeyang memulai. “Um?” tanggapan Dara masih terasa mengabaikan. “Saranghae,” kata Taeyang dengan polosnya. Dara langsung menengok. “Hm? Wae? Salah, ya?” Taeyang mendekatkan wajahnya ke wajah Dara. Dara langsung berdiri. “Hufft… Makan… makan… aku harus makan…,” katanya seraya pergi. Taeyang tersenyum karena dalam hatinya dia yakin respon itu baik.

 

***

 

Dara bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan sarapan untuk semuanya. Park Bom yang baru datang hanya bisa menguap dan terlelap lagi di sofa. “Ireona!!!” Dara menendang kaki Park Bom yang membuatnya langsung berdiri mengaduh. “Eonnie!!!” teriak Park Bom.

 

“Annyeong,” Taeyang datang. “Annyeong, Dara. Boleh aku bantu?” Taeyang mendekati Dara. Park Bom langsung memperhatikan. “Um… Garam, iya, garam,” Dara menghindar. Taeyang mengikutinya. “Biar aku ambilkan,” Taeyang mengambil garam lebih awal. Dara tidak menggubris dan malah kembali ke kompor. Taeyang melirik Park Bom yang terkikik melihatnya. “Noona!” panggil Dara. Plak!!! Tamparan keras terdampar di pipi kiri Taeyang. “Kau tahu aku punya namjachingu, kenapa kau jadi begitu?!” kata Dara. Taeyang langsung memeluknya. Dara berusaha lepas dan akhirnya berhasil. Dara berjalan menuju kamarnya. “Noona, cintamu pada ji yong itu palsu! Begitu juga cinta Ji Yong. Kalian hanya terikat status!” kata Taeyang. Dara terhenti dan berbalik dengan mata yang mulai basah. “BUKAN URUSANMU!” Crush! Hatiku seperti dipukul dengan besi. Sungguh, sakit.

 

Dara duduk di balkon kamarnya. “Eonnie…,” Park Bom menghampiri. “Bommie,” Dara menatap Park Bom tajam. “Apa kau tidak merindukan appa?” tanya Dara tiba-tiba. “Eonn… sebenarnya iya… Tapi aku tak mau eonnie menderita di sana,” jawab Park Bom. “Kalau begitu kau saja yang pergi,” kata Dara. “Eonnie?” Park Bom tak percaya dengan yang eonnie nya katakan. “Bukan bermaksud mengusir, tapi untuk kebaikanmu. Lagipula… kita masih bisa bertemu,” kata Dara. “Mungkin hari ini juga aku harus pergi. AKu harus bersiap,” Park Bom menahan tangisnya dan segera pergi.

 

Drrt~ Drrt~

Ponsel Dara bergetar.”Ji Yong?” tanggap Dara. “Aku ingin bertemu denganmu,” suara Ji Yong terdengar serius. “AKu juga.” Dara sudah memantapkan niatnya untuk minta putus hari ini juga.

 

“Ada apa?” tanya Dara. “Dara, sepertinya kita tidak cocok lagi…,” kata Ji Yong. Dara tersenyum pahit mendengarnya. “Memang begitu. Tapi kenapa baru sekarang?” Dara mencoba tersenyum. “Ini cinta palsu bukan? Hanya status … Ya, hanya status. Lebih baik aku pergi,” Dara berlari dan meledakkan tangisnya.

 

“Taeyang-ssi! Taeyang-ssi!” panggil Dara dari luar kamar Taeyang. Taeyang langsung cepat-cepat membukakan pintu. “Saranghae!!!” teriak Dara seraya memeluknya erat. “Saranghae…,” Dara menangis sejad-jadinya. “Gwenchana…,” Taeyang membelai rambut Dara pelan. “Seharusnya aku mendengarkanmu, tapi… aku.. maaf!” Dara memeluk Taeyang lebih erat. “Gwenchana…”

 

Thunder duduk di depan televisi seraya memakan sebuah potato chips. “Annyeong, saeng!” sapa Dara pada Thunder seraya duduk di sampingnya. “Jagi,” Taeyang menghampiri, mencium pipi Dara, dan duduk. “Tunggu, kalian…?”

“SEPASANG KEKASIH YANG TAK HANYA TERIKAT STATUS, TAPI JUGA CINTA!”

 

End

 

———————————–

 

Gaje ya??? Hehehe…. Author lagi sakit nih… Jadi… miane kalo ada kekurangan…