Author : Aydan Ahn
Title     : Masquerade
Length : One Shot
Genre  : Angst. Romance. School Life.
Cast     : Ahn Jiae (OC), Kim MyungSoo/L (infinite), Semi (RaNia) and other RaNia members.

© Copyright; 2011, AYDAN AHN All Rights Reserved.

No printing or redistribution allowed.

Do not post anywhere else. Do not plagiarize. 

 

Masquerade

            Jiae melepas jaket hitamnya dan melemparnya sembarangan. Setelah berkutat dengan pekerjaannya di supermarket selama 7 jam, badannya terasa kaku lantaran terus-terusan mengetik dan menginput pemasukan. Belum lagi pelanggan yang terus menerus bertanya dimana letak barang yang mereka cari. Jiae bertanya-tanya kenapa pelanggan-pelanggan bodoh itu tidak mencarinya sendiri.

            Sudah pukul sebelas malam ketika Jiae hendak menyetrika seragam sekolahnya, tapi matanya sudah semakin lemah untuk melawan cahaya yang masuk. Lantas ia mengurungkan niatnya untuk menyetrika dan memutuskan untuk mengerjakannya besok pagi. Semoga masih sempat, pikir Jiae.

            Gadis berambut hitam panjang itu akhirnya menyerah dan meregangkan badannya di atas tempat tidur. Hanya dalam hitungan menit, ia sudah melayang ke alam mimpi.

            Jiae berjalan menuju kelas sambil menggenggam ranselnya kuat-kuat. Di dalam ranselnya terdapat seragam kerja dan bekal makan siang, karena sehabis pulang sekolah Jiae akan berlari menuju supermarket untuk kembali berkerja. Ia terburu-buru menyetrika seragamnya tadi pagi dan membuatnya mendapatkan luka bakar di punggung tangannya karena tersenggol besi panas dari setrika.

Sementara itu, beberapa pasang mata di Empire High memperhatikannya seolah Jiae adalah tontonan menarik. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai di punggung, dan kaus kaki nya ditarik sampai ke betis. Kulitnya yang putih pucat ditutupi dengan jaket hitam yang biasa dipakainya sehari-hari. Jiae terus berjalan dengan gugup, matanya melihat ke lantai dan berusaha menghindari tatapan-tatapan di sekitarnya. Jiae akhirnya terjatuh dan kehilangan keseimbangan ketika seorang gadis dengan sengaja menabraknya dengan kasar.

            “ya!!  mwoya neo[1]?! Matamu dimana berani menabrakku seperti itu!” bentak Semi sambil melipat kedua lengannya.

Perempuan bertubuh tinggi langsing itu memelototi Jiae tanpa rasa bersalah. Rambutnya di ikat tinggi-tinggi dan riasan make up menghiasi wajahnya. Bahasa tubuh Semi berusaha menunjukkan bahwa ia adalah ratu di Empire High.

“mi-mi-mianhae[2].. aku tidak sengaja” ujar Jiae sambil membungkuk. Jiae merasa orang-orang di sekitarnya semakin liar memandanginya karena sudah menabrak Semi.

“gadis bodoh, harusnya kau enyah dari Empire High!” salah satu perempuan berambut pendek di belakang Semi bersuara.

jeongmal mianhae[3]..” ucap Jiae dengan suara pelan, ia nyaris menangis. Mendengar Jiae  seperti itu, Semi lantas tertawa senang.

“aku tak percaya bahwa gadis seperti mu bisa ada di dunia ini” Semi  lalu menarik rambut Jiae dan mengacaknya hingga berantakan. Belum cukup puas, Semi mengambil kacamata Jiae dan melemparnya ke lantai hingga salah satu lensanya pecah. Air mata Jiae mulai menetes dan bibirnya bergetar.

Setelah puas mempermainkan Jiae, Semi menatapnya dan tersenyum sinis. Ia berbalik dan melenggang meninggalkan Jiae, di ikuti dengan teman-temannya.

“jangan macam-macam dengan kami, arraseo[4]?” ancam Jui sambil menarik kerah Jiae.

Mereka akhirnya benar-benar meninggalkan Jiae. Bisikan-bisikan semakin terdengar di telinga Jiae. Gadis malang itu menghapus air matanya dan mengambil kacamata di lantai. Ia tetap menggunakannya walaupun salah satu lensanya pecah.

Tanpa pikir panjang, Jiae kembali melanjutkan perjalannya yang terhenti.

            Ahn Jiae berusaha melepaskan pecahan kaca yang menancap di kepalan tangannya, darah mulai menetes dan mengotori wastafel serta lantai toilet. Ia baru saja meninju cermin di hadapannya begitu insiden dengan Semi itu terjadi. Jiae melampiaskan kekesalannya dengan cara ini, hanya dengan begini ia baru akan merasa puas. Sementara wajahnya tidak ada menunjukan rasa sakit atau kesedihan sedikit pun.

            “dasar wanita-wanita dongkol” umpat Jiae dengan nada tenang.

            Setelah pecahan-pecahan kaca itu menghilang dari kulitnya, ia mencuci tangannya dan merapikan rambutnya yang berantakan. Lalu dikenakannya kembali kacamata rusaknya. Kalau di perhatikan, wajahnya yang sekarang sungguh berbeda saat insiden Semi terjadi. Tatapan mata Jiae seolah tidak ada yang terjadi beberapa waktu yang lalu dan bahasa tubuhnya terlihat jauh lebih tegas.

            Sejurus kemudian, Jiae berbalik dan melenggang menuju kelas. Ia menggenggam ransel itu kuat-kuat dan diacaknya sedikit rambutnya.

            MyungSoo nyaris tak percaya dengan yang baru saja dilihatnya. Ia sedang dalam toilet pria ketika mendengar pecahan kaca di ruangan sebelah. Lantas ia bergegas keluar dan mengintip apa yang sedang terjadi, tadinya ia kira suara pecahan kaca itu ditimbulkan oleh perbuatan tidak sengaja. Namun faktanya, ia baru saja melihat perempuan berambut hitam panjang yang dengan sengaja meninju kaca tanpa mengaduh sedikitpun. MyungSoo terbelalak dan berusaha tidak mengeluarkan suara, ia ingin memperhatikan wanita ini dulu. Ia seperti mengenalinya. Setelah beberapa saat, wanita itu berbalik. MyungSoo buru-buru bersembunyi di balik pintu.

            Wanita itu baru saja berlenggang ke luar toilet, dan MyungSoo menatapnya dengan tidak percaya. Tentu ia mengenali wanita ini. Tidak ada satupun siswa di Empire High yang tidak mengenali dia.

            “dia kan si gadis payah itu?! aish jinja[5]…” bisik MyungSoo pada dirinya sendiri.

‘Tidak mungkin si gadis lemah itu berbuat seperti tadi, yang bisa dilakukannya sepanjang hari hanya membaca buku dan berdiam diri’

MyungSoo menggelengkan kepalanya, ia segera berlari menuju kelas sambil meyakini dirinya bahwa kejadian barusan memang kenyataan.

Tentu saja kenyataan, Jiae si gadis kutu buku itu yang meninju kaca hingga pecah. Lantas kalau bukan dia, siapa lagi?

MyungSoo terlambat memasuki kelas dan pelajaran sudah mulai selama sepuluh menit, ia baru menyadari bahwa ia duduk di depan si kutu-buku-payah itu. Bahkan namanya saja MyungSoo tidak hafal. Entah itu JiEun, JiYoung, atau JiAe.

igeo[6], pensil mu jatuh ketempat ku” ujar Jiae sambil menunduk, rambut panjangnya menutup sebagian wajahnya. Yang terlihat hanya kacamata yang lensanya pecah.

gomawo[7] MyungSoo baru tersadar dari lamunannya ketika pensil itu sudah ada di tangannya. Jiae membalikan tubuhnya, mengikuti pelajaran kembali. Sementara pikiram MyungSoo kembali melayang.

Ada yang salah dengan gadis ini. Pikir MyungSoo dalam hati.

            Nafas Jiae masih terengah-engah ketika ia tiba di supermarket tempatnya berkerja. Tanpa pikir panjang, ia segera mengganti seragamnya sebelum sajangnim[8] datang dan mengomelinya. Jiae sudah terbiasa seperti ini, sehabis pulang sekolah ia pasti bekerja. Jiae bekerja karena orang tuanya sudah tidak ada lagi di dunia. Lantas ia harus mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

            Hari itu supermarket tidak terlalu ramai, sehingga ia bisa sedikit bersantai sambil mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.

            “ya! siapa yang menyuruhmu mengerjakan tugas sekolah! Kau harus konsisten dengan pekerjaan atau aku akan mencari penggantimu!” ancam ShinYoung ketika melihat Jiae asik berkutat dengan bukunya.

            “mi-mi-mianhae sajangnim, toko sedang tidak ada pelanggan jadi aku…”

            “shikkeuro[9]! Aku tidak mau mendengar alasan, kerja yang benar dan layani tamu!” potong ShinYoung. Rambut pendeknya bergoyang-goyang saat memarahi Jiae. Sementara yang dimarahi hanya bisa tertunduk malu akan kesalahannya.

            Tidak lama setelah itu, beberapa pelanggan memasuki supermarket dan mengantri untuk membayar di kasir. Seperti biasa, Jiae lah yang menangani semuanya seorang diri. Ia melirik jam tangan, sudah pukul setengah sembilan malam dan ia belum disuruh pulang oleh ShinYoung.

            “aku mau beli ini” gumam seorang laki-laki berjaket merah. Jiae mengetik kode barang tersebut dan kemudian memasukannya ke dalam plastik.

            “neo[10].. Ahn Jieun? Dari Empire High kan?”  tanya laki-laki itu sambil menyerahkan uangnya.

            Jiae mendongak, ia melihat MyungSoo menurunkan hoodie yang tadi menutupi kepalanya. MyungSoo, adalah teman sekelas Jiae yang sangat terkenal di Empire High. Wajah tampannya begitu dipuja oleh perempuan dan tingkahnya yang tidak neko-neko membuat orang tertarik untuk mengenalnya lebih dalam. Tak heran jika SeMi dan rombongannya juga ikut memuja MyungSoo.

            “Kim MyungSoo? Aku Jiae, bukan Jieun” jawab Jiae sambil memperhatikan sosok dihadapannya yang begitu sempurna.

            “oh, mian, kau bekerja disini?” tanya MyungSoo lagi. Ia heran bagaimana cara Jiae membagi waktunya, padahal besok mereka harus sekolah.

            “ne[11]Jiae berkata singkat karena tidak tau lagi harus berbicara apa.

            MyungSoo melirik ke tangan Jiae, ia menemukan sebuah luka bakar dan luka goresan. Lalu ia teringat peristiwa tadi siang di sekolah. Peristiwa dimana Jiae bisa memesona MyungSoo dengan hanya luapan kemarahan.

            “oh, bagaimana kau bisa tau namaku? kita hampir tidak pernah bicara satu sama lain, padahal kita sekelas” MyungSoo berterus terang, penasaran bagaimana Jiae bisa mengetahui namanya.

            “tidak ada yang tidak mengenalimu, MyungSoo” ujar Jiae sambil merapihkan seragamnya. Tidak ada yang salah dengan seragam kerjanya, ia hanya ingin membuatnya terlihat lebih rapi saja di hadapan MyungSoo.

            “gurae[12]baiklah, aku pergi dulu, sampai jumpa di sekolah” gumam MyungSoo sambil berdeham kecil. Lantas Jiae membungkuk padanya sebagai ucapan terimakasih.

            tidak ada yang tidak mengenalimu juga, Ahn Jiae.

            “Jiae-ah? Neo gwenchanayo[13]?” tanya MyungSoo saat melihat Jiae membaca bukunya dengan jarak yang sangat dekat. Jiae tersentak, rupanya ada yang menyadari kalau dia sedang kesusahan membaca buku karena lensa kacamatanya yang retak.

            “ne, aku baik-baik saja” gumam Jiae sambil menaikkan kacamatanya yang melorot.  

            “memangnya kau bisa membaca dengan kacamata seperti itu?” MyungSoo menatapanya, Jiae bisa merasakan angin dingin yang menjalar di balik lehernya.

            “b-b-bisa, tentu saja” ujarnya terbata.

            “kau rabuh jauh atau rabun dekat?”

            “jauh, waeyo?[14]

            “kalau begitu, begini saja..”

            MyungSoo tiba-tiba berdiri.  Ia bergerak mendekati Jiae dan melepaskan kacamatanya, lantas diletakkan di atas meja Jiae. Jiae terpana  karena kejadian tadi terjadi dengan sangat cepat. saat MyungSoo menggapai bingkai kacamatanya, ia bisa merasakan jemari MyungSo yang menyentuh wajahnya.

            “lebih jelas kalau membaca begini, soalnya kau tidak rabun dekat, bagaimana?” MyungSoo memandang Jiae, melihat kecantikan tersembunyi Jiae di balik kacamatanya. Jiae memiliki bola mata hitam pekat yang berkilau. Mata tercantik yang pernah dilihatnya.

            “Ahn Jiae?” tanya MyungSoo sambil melambaikan tangannya di depan wajah Jiae.

            “mwoya[15]?? Iya! lebih jelas begini!!” Jiae tiba-tiba tersadar dan nyaris berteriak saat menjawab MyungSoo. Orang-orang disekitar memandangi mereka berdua. Begitu juga Semi yang baru saja melintas bersama rombongannya. Panas sudah menyebar di dalam darah Semi, ia mengepal tangannya dan hendak mematahkan leher si kutu buku itu.

            “Semi-ah, lihat si bodoh itu” bisik Xia persis di telinga Semi. Sementara yang dibisiki hanya tersenyum kecil. Alisnya terangkat sebelah.

            Kebanyakan siswa Empire High menghabiskan waktu mereka di kafetaria selama waktu istirahat, ada yang sekedar mengobrol ataupun menghabiskan makan siangnya. Sementara Jiae paling tidak suka berada di kafetaria, ia merasa terasing berada disana. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika perutnya terus menerus berbunyi, tanda Jiae sedang kelaparan. Tadi pagi ia tidak sempat membuat bekal karena ia terlambat bangun.

            Setelah mendapatkan makan siangnya, Jiae segera mencari meja kosong untuk ditempatinya. Ia duduk di meja pojok dan menyendiri. Baru beberapa suap, ia tengah dikejutkan oleh sekumpulan perempuan yang mengusik makan siangnya.

            Salah satu dari mereka menumpahkan cola di sweater putihnya. Dan perempuan yang lain secara sengaja mendorong piringnya hingga terjatuh dan pecah.

            “ups, mianhae” ujar Xia sambil menutup mulutnya. Tidak ada rasa penyesalan di wajahnya.

            “ya xia-ah! Tidak perlu minta maaf dengan gadis bodoh ini, harusnya kau!yang minta maaf pada semi!” ancam Riko sambil menunjuk-nunjuk kepala Jiae. Yang di tunjuk hanya bisa terdiam sambil meratapi makan siangnya.

             “aku..apa salahku?” Jiae bertanya dengan lemah, ia sudah lelah diperlakukan seperti ini.

            “naesung ddeoljima![16] kalau kau berani dekati MyungSoo lagi, akan ku ikat kau dengan rantai dan aku akan ku buang di sungai Han!” ancam Semi sambil menarik kerah seragam Jiae. Semua orang kini memperhatikan Jiae, memandangnya dengan tatapan aneh dan sinis dalam sekaligus.

            “mi-mi-mianhae” Jiae tak berani menatap mata Semi yang semakin garang. Sayang sekali kecantikan Semi ditutupi oleh sifat buruknya. Di Empire High, Semi lah yang dianggap goddess karena kecantikan luar biasa dan tubuhnya yang tinggi langsing.          

            “kka[17]perintah Semi kepada Jiae, tidak ada bantahan. Jiae segera pergi dari situ dan berjalan dengan kikuk. Orang-orang kembali berbisik mengenainya. Tidak ada yang pernah berhenti untuk membicarakannya. Padahal dia bukan siapa-siapa, hanya gadis kutu buku yang tidak punya teman.

            MyungSoo berjalan mengikuti Jiae, ia menebak-nebak apa yang akan dilakukan Jiae dengan langkah secepat itu. Semakin hari, ia semakin ingin tahu mengenai asal usul Jiae. Rasa penasaran menggerogoti MyungSoo, ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memerhatikan gadis aneh itu.      

            Jiae berhenti persis di depan lokernya, ia melihat sekeliling dan tidak mendapati seorang pun disekitarnya. Sementara MyungSoo sedang bersembunyi di balik loker yang lain. Jiae lantas membuka lokernya dan membelai cermin berbingkai hitam di dalamnya. Sejurus kemudian, kaca itu sudah remuk dan hancur berantakan. Suara pecahan menyebar di antara sepinya lorong itu. Darah menetes-netes mengotori lantai. Sama seperti beberapa waktu yang lalu, ia tidak mengaduh sedikit pun.

            “Ahn Jiae-ah!” MyungSoo menarik Jiae dan menyeretnya menuju klinik sekolah. Jiae menatapnya tidak percaya, ia masih kaget ketika melihat MyungSoo tiba-tiba muncul dan menghentikannya.

            “kau ini apa-apaan? Menyakiti dirimu sendiri seperti ini? Beberapa minggu yang lalu aku melihatmu memecahkan kaca toilet, sekarang kaca lokermu? Aigo jinja utjinda[18]! Luka seperti ini tidak akan cepat sembuh!” MyungSoo terus mengoceh seraya membersihkan luka Jiae dengan alkohol, Jiae masih memandangnya tidak percaya.

            “Ya! jawab aku!” MyungSoo melempar pandangannya ke mata Jiae, ia tidak menemukan sedikitpun perasaan kesakitan.

            “aku..hanya…momi jjibudunghada[19]

            MyungSoo melihat mata Jiae dalam-dalam, kali ini dia menemukan sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Sorot mata kelelahan yang sudah muak dengan apapun. MyungSoo meleleh dan turut merasakan kelelahan yang Jiae rasakan. Dengan perlahan, MyungSoo menyisipkan rambut panjang Jiae kebelakang telinga mungilnya. Membuat Jiae merasa jauh lebih nyaman dari sebelumnya.

            Jiae mendengus melihat kertas undangan yang ada ditangannya, prom night tinggal beberapa hari lagi dan dia belum menemukan apapun yang pantas untuk dikenakan. Rasanya ia ingin tidak datang saja dan memutuskan untuk beristirahat di rumah, tapi siswa yang tidak datang akan diberikan sanksi, dan itu membuatnya semakin sebal. Ia tidak ingin dipermalukan lagi oleh Semi di depan orang-orang. Memikirkan hal itu membuatnya merasa mual.

            Dresscode: Masquerade

            Mata Jiae berbinar ketika melihat tulisan itu, ia merasa doanya selama ini baru di dengar oleh tuhan. Jiae lantas tersenyum sambil terkekeh kecil, tentu saja dia akan pergi ke prom night. Tidak akan ada lagi yang lebih indah dari prom night.

            Malam itu Empire High di warnai dengan gemerlap lampu-lampu indah yang bergerak-gerak. Mobil-mobil mewah terparkir di halaman luas Empire High. Semua siswa datang dengan busana terbaik, lengkap dengan topeng yang menghiasi wajah mereka.

            Semi baru saja turun dari limo nya ketika mendapati semua mata tertuju padanya. Gaun dan topeng merah mudanya begitu indah dan menarik perhatian, semua jelas tau bahwa itu Semi, karena pink memang menjadi teman sejatinya sejak ia kecil. Semua yang dikenakannya akan identik dengan warna pink.

            Tiba-tiba perhatian orang-orang teralih menuju gadis bertopeng hitam dengan sedikit taburan warna silver. Ia mengenakan gaun hitam mini dengan ruffles di lehernya, bagian belakang gaun itu dibiarkan menjuntai panjang dan nyaris menyentuh lantai. Gadis ini begitu mencolok karena keindahan gaunnya yang luar biasa dan bentuk tubuhnya yang berlekuk sempurna.

            Jiae berjalan memasuki ballroom Empire High, ia bisa merasakan orang-orang di sekitarnya memandang Jiae dengan liar, kali ini bukan tatapan merendahkan lagi, melainkan tatapan luar biasa kagum. Tidak ada di antara mereka yang tau bahwa gadis dibalik topeng hitam itu adalah si kutu buku.

            “ya berhenti!” Jiae menoleh, ia melihat wajah Semi yang sedang cemberut. “kau ini siapa? Kau sudah merebut perhatian siswa-siswa lain, dan aku benci itu” Semi berterus terang sambil memainkan rambut coklat panjangnya.

            “memangnya aku peduli?” kata-kata Jiae barusan membuat Semi tercekat.

            “mwo?? Kau berani bilang seperti itu padaku?!” Semi melotot besar sekali dan hendak melayangkan tangannya ke pipi Jiae. tapi sebelum itu terjadi, Jiae lebih dulu menangkapnya dan melemparnya hingga terjatuh.

            “dengarkan ini baik-baik, pertama, aku tidak pernah mengusikmu dan berhenti mengusikku, kedua, akan kupatahkan leher mu jika kau berani menyentuhku lagi, ketiga, aku AHN JIAE yang selalu kau permainkan, dan mulai saat ini aku akan mengubah pandanganmu tentangku, aku bukan lah si malang karena aku si hitam yang siap menghajar siapapun yang berani mengusikku” Jiae berjalan mendekati Semi yang tengah menatapnya tak percaya. Melihat Semi tak berdaya seperti ini, Jiae lantas menginjak gaun Semi hingga sobek. Ia kemudian memutuskan untuk meninggalkannya, tapi kemudian berbalik untuk berbicara..

            “satu lagi,neo jeongmal chisihada[20]” ujar Jiae sambil tersenyum semanis mungkin, lalu  benar-benar meninggalkan Semi yang wajahnya mulai di aliri air mata.

            Jiae melihat ke sekelilingnya, ruangan mulai dipenuhi siswa yang mengajak pasangannya untuk melakukan dansa. Alunan musik lembut terus berputar, dan para butler menyingkir untuk memberi ruangan kepada mereka yang berdansa. Sayang sekali ia tak punya pasangan berdansa, jadi yang bisa dilakukannya hanya menyesap cocktail  di pinggir ruangan.

            “dance?” seorang laki-laki berbadan tinggi tiba-tiba menyerahkan telapak tangannya, ia menggunakan topeng silver yang menutupi separuh wajahnya. Jiae terbelalak, tapi akhirnya setuju juga untuk berdansa dan kemudian menyerahkan cocktail itu kepada salah satu butler.

            Pria itu membawa Jiae ke tengah ruangan. Ia meletakkan tangan Jiae di lehernya, dan melingkarkan lengannya di pinggang Jiae. Sebuah sentuhan yang membuatnya merasa déjà vu, angin dingin mulai menyesap di balik lehernya. Jiae menikmati sensasi itu. Lampu menjadi lebih teduh dan musik menjadi sedemikian lembut, Pria itu memandanganya dengan tatapan paling indah yang pernah Jiae lihat.

            Sambil tetap berdansa, tangan Jiae bergerak menuju wajah pria dihadapannya, ia berusaha mempelajari struktur wajahnya. Tangannya terhenti ketika tiba di bibir pria tersebut, ia seperti pernah melihatnya.

            Jiae memutuskan untuk perlahan-lahan membuka topeng silver itu, tapi tangan pria itu menangkap jemari mungilnya, dan kembali meletakkan tangan Jiae di lehernya. Ia lantas tersenyum, senyuman yang membuat Jiae meleleh dan merasa lemah seketika.

            Sesaat setelah musik berhenti, Pria dihadapannya menarik lengan Jiae dan membawa Jiae ke atap Empire High. Angin malam membelai wajah mereka berdua, dan masih terdengar alunan musik lain dari Ballroom. Jiae pada awalnya kebingungan dan hanya bisa duduk sambil menikmati angin malam. Ia sudah lama tidak bersantai seperti ini.

            “Jiae-ah?” sapa laki-laki disampingnya. Jiae menoleh, suara itu tidak terlalu asing di telinganya.

            Jiae terbelalak ketika ia mendapati laki-laki ini mencium bibirnya dengan lembut, ciuman yang penuh kasih sayang dan kehangatan. Badannya tidak bisa bergerak dan ia merasa sangat kaku, jantungnya berdegup luar biasa kencang, dan ia semakin bingung. Sambil tetap mencium dengan lembut, pria itu lantas menggapai tangan mungil Jiae, dan menyelipkan jemarinya di antara jemari Jiae. Saat Jiae merasakan kehangatan jemari mereka,ia menjadi lebih tenang, ia memejamkan matanya dan membiarkan malam itu berlalu dengan sangat indah.

            “saranghae..” bisik laki-laki bertopeng silver itu.

            Semi tidak pernah mengusik Jiae lagi semenjak malam itu, ia bahkan tidak pernah menampakan batang hidungnya lagi di hadapan Jiae. Jiae tersenyum puas, tak sia-sia ia berlaku seperti itu. Setidaknya hidupnya jadi lebih damai tanpa gerombolan perempuan cerewet itu. Jiae kembali melayangkan pikirannya ke prom night, ia teringat bahwa ia berciuman dengan laki-laki yang tak dikenalinya. Tapi ciuman itu sangat indah jadi Jiae merasa tidak perlu menyesalinya. Ia tersenyum.

            “kamu tidak pakai kacamata?” tanya MyungSoo tiba-tiba. Suaranya beratnya membuat Jiae bergidik.

            “ah, anniya[21], aku pakai contact lens” ujar Jiae sambil memperlihatkan matanya yang besar. MyungSoo terkekeh melihat tingkah Jiae yang seperti anak kecil.

            “harusnya kamu pakai contact lens dari dulu” gumam MyungSoo sambil menyelipkan rambut Jiae ke belakang telinganya. Angin dingin mulai menjalar lagi di balik leher Jiae.

            MyungSoo tersenyum memandangi Jiae yang terlihat salah tingkah, ia ingin sekali menyubit pipi Jiae. Tapi bel pulang sekolah baru saja berbunyi, sehingga MyungSoo mengurungkan niatnya.

            “kkaja[22]” ajak MyungSoo sambil menggenggam ranselnya, ia lupa menutup resletingnya dan membuat barang-barangnya terjatuh. Buku-buku, peralatan tulis dan sebuah topeng berwarna silver. MyungSoo tercekat begitu melihat barang-barangnya berserakan di lantai, Jiae juga. Ia nyaris kehilangan nafasnya, topeng silver itu, topeng pria yang mengajaknya berdansa dan pria yang menciumnya.

            “ini…” Jiae akhirnya berkata-kata. Bahasa tubuhnya menjadi sangat kikuk.

            “iya, itu..” MyungSoo memotongnya, dengan kata-kata yang juga tidak jelas. Mereka bedua menjadi sangat kikuk. Ia menggaruk-garuk rambutnya, walaupunia tidak merasa gatal.

            “dari mana kau bisa tau kalau orang yang dibalik topeng itu aku?” tanya Jiae terus terang. Ia bersyukur bahwa MyungSoo lah yang telah mencuri ciuman pertamanya.

            “itu.. aku melihat tanganmu, ada bekas luka, jadi aku tidak susah menemukanmu”  MyungSoo tersenyum kaku. Ia merasa sangat tidak gentle karena mencium Jiae dengan cara seperti itu.

            “aku sudah mengira kalau itu kau, MyungSoo” Jiae tersenyum rileks, mencoba jujur akan perasaannya. Ia sudah lelah terus berpura-pura selama ini. Masa itu sudah habis, pikirnya.

            “jinja[23]? Darimana kau tau?” MyungSoo menatapnya dengan tatapan heran, mereka berdua kini jadi jauh lebih santai dan tidak sekaku yang tadi.

            “tidak ada laki-laki yang memperlakukanku sebaik itu kecuali kau, MyungSoo” gumam Jiae, ia kemudian menggerakan tangannya menuju wajah MyungSoo dan menyentuh pipinya yang lembut.

            “nado saranghae[24] Kim MyungSoo..”

            Kali ini MyungSoo yang meleleh, ia bisa merasakan aliran darahnya dan degupan jantungnya. Ia tidak percaya bahwa Jiae membalas kata-katanya sewatku di prom night. Ia merasa beruntung telah menyukai wanita secantik dan sekuat Jiae.

            “gomawo-yo Jiae-ah” ucap MyungSoo sebelum ia mengecup pipi Jiae. mereka berdua kemudian tersenyum. Untuk pertama kalinya, Jiae merasakan perasaan lega yang sangat menenangkan hatinya. Ia tidak mau lagi menjadi lemah dan bersandiwara. Hidupnya sudah berubah sekarang.

 

 

 

 


[1] Mwoya neo?= apa apaan kau?

[2] Mianhae= maaf

[3] Jeongmal mianhae= aku benar-benar minta maaf

[4] Arrraseo= mengerti?

[5] Jinja= benar-benar

[6] Igeo=ini

[7] Gomawo= terimakasih

[8] Sajangnim= bos

[9] Shikkeuro= diam

[10] Neo=kamu

[11] Ne=ya

[12] Gurae= begitu

[13] Neo gwenchanayo= kau tidak apa-apa?

[14] Wae= kenapa

[15] Mwoya=apa?

[16] Naesung ddeoljima= jangan sok lugu

[17] Kka=pergi

[18] Aigo jinja utjinda= ini sangat bodoh

[19] momi jjibudunghada= aku letih sekali

[20] neo jeongmal chisihada= kau wanita murahan

[21] Anniya= tidak

[22] Kkaja= ayo pergi

[23] Jinja=sungguh?

[24] Nado saranghae= aku juga mencintaimu