kumpulan drabble namun masih berkesinambungan.

Storia D’amore

All character here belong to themselves

Storia D’amore © blackfreesia

1. Beginning

Awal dari kisah mereka dimulai ketika mereka berdua bertemu—junior bertemu senior. Keduanya sama-sama membeku, saling terpesona. Mereka saling berkenalan, saling berjabat tangan, dan saling merasakan debaran di dada masing-masing ketika telapak tangan mereka bersentuhan.

Hingga mereka saling mengenal satu sama lain dan masing-masing dari mereka menyadari mereka tertarik satu sama lain. Dimulai dari hubungan layaknya  kakak-adik yang perlahan-lahan berkembang seiring berjalannya waktu. Dan suatu waktu Donghae memberanikan diri menyatakan perasaan yang dijawab dengan ‘aku juga menyukai, oppa”. Dan mereka resmi berpacaran walaupun mereka harus sembunyi-sembunyi dari media.

.

.

2. We Falling in Love

Jika sepasang perempuan dan laki-laki dipanah panah asmara, rasanya seperti dunia milik sendiri, tidak mengizinkan orang lain memasuki ‘dunia pribadi’ mereka.

Contoh nyatanya adalah Donghae dan Jessica

Tidak memperdulikan tatapan iri orang yang masih sendiri. Seperti bergandengan tangan di depan Sooyoung yang sangat ingin punya pacar (hingga Sooyoung mengomel sendiri melihat kemesraan mereka). Atau mengumbar pujian atau rayuan di hadapan orang yang masih sendirian, membuat mereka gigit jari dan sebal sendiri karena iri (terutama Sooyoung)

Itulah yang mereka sering lakukan, memperlihatkan kemesraan mereka pada semua orang. Seolah orang-orang itu tidak sedang melihat lagi. Mau apa lagi, toh mereka sedang jatuh cinta

.

.

3. Nothing Better

Tak ada yang lebih baik bagi Jessica, ketika telapak tangannya menyentuh telapak tangannya.

Tak ada yang lebih baik bagi Jessica, ketika tangannya melingkar di pinggangnya, dan kepala orang yang disukainya bersandar di bahunya.

Tak ada yang lebih baik bagi Jessica, ketika melihat ukiran senyuman seindah malaikat yang membuat darahnya berdesir cepat, membuat jantungnya ingin melompat keluar, dan membuatnya merasakan ada segerombolan kupu-kupu di perutnya.

Tak ada yang lebih baik bagi Jessica, ketika bersamanya, mengetahui dialah satu-satunya yang bisa membuat jantung laki-laki itu berdetak lebih keras, mengetahui dia, perempuan yang dicintai Donghae setelah ibunya.

Begitu pun dengan Donghae.

.

.

4. Cooking? Cooking!

Donghae menyesal, sangat menyesal membiarkan Jessica memakai dapur. Walaupun katanya ingin latihan jadi istri yang bisa memasak. Dia malah membuat dapur begitu berantakan dan makanan yang dia hasilkan jauh dari kata enak

Donghae menghembuskan nafas, seharusnya dia tidak membiarkan Jessica memasak, karena dia tahu tangan Jessica tidak diciapkan untuk mengolah bahan masakan mentah menjadi masakan yang menggundang air liur. Dan dia bergedik ngeri, melihat hasil masak Jessica yang menurutnya agak mengerikan.

“Harusnya kau bilang, kalau kau bukan perempuan yang tepat untuk urusan dapur!” kata Donghae sambil menghela nafas panjang.

“Aku hanya ingin kelak oppa punya istri yang bisa memasak,” ucap Jessica dengan wajah sedih sambil memandang hasil masakannya.

Donghae tersenyum mendengar penuturan kekasihnya. Dielusnya rambut Jessica dengan penuh kelembutan.

“Kelak, jika kita menikah, aku saja yang memasak ya!” katanya sambil tersenyum lembut

“Ah, meski kau tidak bisa memasak, aku tetap mencintaimu kok!”

Blush…

Kalimat itu sukses membuat aliran darah naik ke wajah Jessica.

5. You Wouldn’t Answer My Call

Ini sudah kesepuluh kalinya, Donghae menekan nomor telepon yang sama, berusaha menghubungi sang pemilik nomor itu, walaupun sia-sia saja, karena sang pemilik nomer selalu mereject telpon darinya berapa kalipun dia menghubunginya.

“Ayolah angkat!” keluhnya kesal sembari kembali menekan nomor yang sama.

“Sica, segitu kesalnya kah kau hingga tidak mau mengangkat telponku?” tanya Donghae pada dirinya sendiri.

Dia menyerah. Karena sang kekasih tetap keras kepala tidak mau menerima telponnya.

Tangannya kini bergerak di layar touchsreen handphonenya, mencoba mengetik beberapa kalimat untuk kekasihnya.

Sica, maafkan aku karena lupa peringatan hari jadian kita. Aku sangat sibuk dengan kegiatan Super Junior.

Aku mohon maafkan aku. Aku janji tidak akan melupakannya lagi.

Aku mencintaimu.

Dia menekan tombol send. Berharap dengan deretan kalimat itu sang kekasih mau memaafkannya.

6. Nagging

Selang beberapa menit kemudian handphone Donghae berdering, menandakan panggilan masuk. Dia tahu, itu dari Jessica, sebab dia sudah memasak ringtone khusus.

“Yaboseo,”

“Ya oppa! Kenapa kau tidak bilang kau sibuk? Aku ‘kan jadinya menduga yang macam-macam! Aku sampai mengira oppa selingkuh di hari jadian kita!Oppa—“

Donghae menjauhkan ponselnya dari telinga, takut suara omelan Jessica yang nyaring menyebabkan kerusakan pada alat pendengarannya.

.

.

.

Selang beberapa menit, Jessica menghentikan omelannya. Setelah yakin Jessica tidak akan mengomel lagi, Donghae kembali menempelkan ponselnya di telinga. Donghae dapat mendengar suara Jessica yang melembut.

“Oppa, lain kali kalau kau sibuk, kau harus beritahu aku, jadi aku tidak akan salah sangka!

“Nee, aku mengerti. Mianhae, Sica.”

“Gwenchana.”

“Saranghae, Sica.”

.

.

7. Ring

Jessica memandang cincin bertahtakan berlian yang melingkar di jari manis kanannya. Senyum bahagia diukirkannya. Tanda bukti sebentar lagi mereka akan bersama untuk selama-lamanya. Cincin pemberian Donghae. Cincin pernikahan mereka.

Senyum bahagianya semakin merekah, ketika ulasan kenangan saat Donghae memberikan cincin itu diputar otaknya.

Donghae mengajaknya melihat bintang-bintang, tahu-tahu dia berkata, aku ingin memberikanmu berlian kecil yang ada di langit. Membuat Jessica bingung, apa maksud kalimat yang tadi Donghae ucapkan. Dan detik selanjutnya dia memperlihatkan ‘berlian’ yang dia maksud. Sebuah cincin berlian yang berkilau seperti berlian di langit hitam.

Selanjutnya, terdengar kalimat, will you marry me? Yang membuat Jessica hampir jatuh ke tanah sebelum tangan Donghae menahannya. Air matanya menerobos keluar dari mata Jessica. Dan anggukan kecil menjawab semuanya.

Kemudian tangan Donghae melingkar di tubuhnya, dan bibir Donghae menyapu bibirnya.

.

.

Mengingat momen indah itu, membuat Jessica sumringah. Dia tak sabar menunggu hari pernikahannya dengan Donghae.

.

.

8. Marry U

Rasanya Donghae seperti bermimpi, melihat orang yang dicintainya kini berdiri di hadapannya memakai baju pengantin putih yang memancarkan keanggunan dirinya, melihatnya tersenyum canggung dengan tangan gemetaran sambil memegang karangan bunga Lily. Dia juga sama menatap Donghae, dengan tatapan tidak percaya, bahwa ini benar-benar mimpi yang menjadi nyata.

Tapi ini nyata, bukan mimpi, ucap mereka dalam hati.

Mereka menikah. Berdiri di altar gereja, mengucapkan sumpah setia sehidup semati.

FIN