(Prolog) (Part 1) (Part 2) (Part 3) (Part 4)

Annyeeoongg !!!

Okee. Ini adalah persembahan terakhir yang bisa aku berikan buat kalian.🙂

Setelah ini… aku akan hiatus untuk UAS. Aku harus berusaha sangat keras untuk UAS kali ini. Well, semuanya nggak mau doongg kalo nilai nya jatuh? So do I.🙂

Sebenarnya sih nggak enak sama salah satu reader ku, soalnya FF Bag Story pesenannya dia belum aku posting-posting. T___T
tapi mau gimana lagi… pikiranku susah banget kalo disuruh terpecah belah antara kuliah, dan ff.😦
hiks… Mianhae… Jeongmal mianhaeyooo…
*sujud minta maapp*

Jadiii… tunggu saya 2-3 minggu lagi untuk FF saya yang lain…

Sudah ahh, enjoy readiingg!!

____________________________________________________

 

Great Confession

 

Tuhan, aku akan menyerahkan apapun yang kumiliki… aku akan mengorbankan apapun… bahkan jika yang Kau minta adalah diriku sendiri…

***

Normal POV

Ranjang darurat dari ambulans baru saja diturunkan, diikuti oleh langkah tergesa para dokter yang menghampirinya.  Tanpa banyak basa-basi, ranjang itu segera didorong masuk ke dalam lorong UGD rumah sakit. “Cepat bawa ke ruang operasi, sebelum otaknya kehabisan oksigen!”

Sambil terus berlari mendorong ranjang, salah seorang dokter mengguncang-guncang pundak lelaki yangsudah todak sadarkan diri di ranjang itu dengan pelan. “Youngbae-ssi?!! Apakah kamu mendengar saya??!”

“Dokter, tolong dia! Aku mohon!”

Derai air mata sudah membasahi seluruh wajah Dara. Dia bahkan tak bisa mengontrol emosinya sendiri. Ketakutan itu, kekhawatiran itu sudah mencapai puncaknya hingga dia tak bisa berpikir apapun selain keselamatan lelaki itu.

“Tenang, agasshi. Kami akan mencoba menolongnya.”

***

Seunghyun baru saja mengemasi barangnya dan berjalan pulang melewati koridor UGD. Sudut matanya kemudian melihat segerombolan orang yang berlari tergesa sambil mendorong sebuah ranjang. Hanya melirik, karena pemandangan seperti itu sudah setiap hari dilihatnya.

“Youngbae-ah! Bertahanlah!”

DEG!

Eh? Youngbae?!

Jantungnya langsung berdetum kencang saat mendengar nama yang baru saja diteriakkan oleh salah seorang wanita dalam rombongan itu. Bola matanya bergerak bagai elang melirik orang yang tertidur dalam ranjang tersebut dan bergegas mendekati salah seorang tenaga medis yang berlari paling belakang. “Suster, siapa yang sedang dibawa itu?!”

“Aku tidak seberapa tahu. Tapi mereka memanggilnya Dong Youngbae-ssi.” Jawab perawat tersebut sambil terus berlari tergesa meninggalkan Seunghyun.

Matanya seketika membulat. Benarkah itu Youngbae yang dia kenal?! Benarkah lelaki yang terbujur tak berdaya di ranjang itu adalah Youngbae?! Benarkah apa yang baru saja didengarnya?!

Tangannya bergegas merogoh saku celananya seperti kesetanan dan menekan nomor yang dia hafal di luar kepala. Tak lama kemudian, terdengar nada sambung, dan…

“Yoboseyo?! Chaerin?!”

“Nee? Suaramu terdengar panik… ada masalah?”

“Youngbae-ssi! Youngbae-ssi masuk rumah sakit!”

“Mwoa?! Rumah sakit?! Kenapa bisa?!!”

“Aku tidak tahu. Kesinilah sekarang!”

***

 

“Drainase. Bersihkan luka.”

Dara hanya bisa berjalan mondar-mandir penuh kecemasan di depan ruang operasi. Sesekali dia melirik pintu ruang operasi dengan perasaan frustasi.

Semua salahnya. Semuanya…

Harusnya dia membiarkan lelaki itu membawa piring-piringnya. Harusnya dia tidak membiarkan lelaki itu menolongnya. Harusnya dia tidak menyuruhnya makan malam di rumahnya. Harusnya dia tidak membiarkan Youngbae mengantarnya pulang. Dan lebih jauh lagi, harusnya Youngbae tidak perlu mengenalnya.

Harusnya…

Dan semuanya telah terjadi…

Dan semuanya adalah salahnya…

Apa yang akan terjadi pada Youngbae? Apakah dia masih bisa selamat? Apakah wanita itu masih bisa bertemu dengan Youngbae? Apakah…

Dia bahkan tak mampu membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi…

“Faktor VIII 100%.”

Kekalutan benar-benar melahap habis diri wanita itu. Sebentar-sebentar dia duduk, lalu berdiri. Namun beberapa saat kemudian dia duduk lagi di tempat yang sama. Jantungnya terus berdetum semakin cepat seiring waktu yang berjalan, hingga dia bisa merasakan desiran darah yang keluar dari jantungnya dan melewati setiap bagian tubuhnya. Dia meremas-remas tangannya tanpa henti penuh kekhawatiran.

“Darahku tidak akan berhenti. Aku hemofilia A, noona…”

Hemofilia… apakah penyakit itu yang menyebabkan bintik-bintik merah di sekujur tubuhnya akhir-akhir ini? Dan… apakah penyakit itu juga yang akan…

merenggut hidupnya?

Tidak, jangan pikirkan itu, Dara…

Tangannya bergerak mengusap wajahnya dengan gerakan cepat dan kacau, seolah ingin menghalau segala pikiran yang mencoba mendesak akal sehatnya. Semua pikiran buruk sudah memenuhi pikirannya.

“Faktor VIII 50%. Jahit luka, mulai.”

Dia menggigit bibir bawahnya keras, menahan air mata yang terus memaksa keluar dari pelupuk matanya. Namun tak bisa. Air mata itu terus jatuh tanpa bisa ditahan olehnya. Dengan gemetar, dia mengepalkan tangannya di depan wajahnya.

Tuhan, selamatkan dia. Aku terima apapun konsekuensi sebagai ganti nyawanya…

 

Tap! Tap! Tap!

Seseorang datang dengan tergesa. Mimik mukanya menunjukkan kecemasan yang sangat besar, sama dengan apa yang tergambar di wajah Dara yang menoleh menatapnya. Nafasnya terengah-engah, seolah rongga dadanya menyempit hingga paru-parunya begitu sulit bekerja walau hanya untuk menghirup oksigen. Belum sempat orang itu membuka mulutnya, seseorang yang lain berlari di belakangnya.

“Chaerin!”

Chaerin langsung berbalik menghadap sumber suara. “Seunghyun oppa?!” Gadis itu segera berlari ke arah Seunghyun. “Apa yang terjadi?! Bagaimana keadaannya sekarang?!”

“Aku juga tidak tahu, Chaerin…”

Air matanya jatuh tanpa dia sadari. Seluruh tubuhnya mengejang, hingga suaranya bergetar. “Pa… padahal… dia sudah lama…”

Tangan Seunghyun bergerak memeluk gadis yang sudah berderai air mata di depannya hingga gadis itu tenggelam dalam dadanya yang bidang. Tangannya yang lain membelai rambut panjang Chaerin. “Ssshh… tenanglah…”

“Silyehamnida, Lee Chaerin…” Dara berjalan perlahan mendekati Chaerin dan Seunghyun.

“Kamu…?”

Dara menunduk sedalam-dalamnya. Ada rasa bersalah dan penyesalan di sana. Juga kekhawatiran, ketakutan, dan kekalutan. “Jeongmal joseonghamnida… Ini semua salah saya. Saya yang membuatnya mengalami semua ini…”

***

 

“Hey, Bae-ah… aku datang lagi…” Dara berjalan mendekati ranjang Youngbae di kamar rumah sakit.

Lelaki yang disapanya itu tidak menjawab sapaan Dara, bahkan bisikan pun tidak. Matanya tetap terpejam damai, seolah tak ada yang bisa mengganggunya dalam dunia yang bahkan kita tidak ketahui. Salah satu tangannya yang telah terjahit sepanjang lukanya, terkulai di samping tubuhnya terpasang infus untuk mengisi nutrisi dalam tubuhnya. Hidungnya dilewati oleh selang untuk membantu pernafasannya. Berbagai peralatan untuk memonitor kondisinya terpampang di sekitar ranjangnya.

“Bagaimana keadaanmu hari ini?” Dara tetap bertanya walau dia tahu tak akan ada suara yang keluar dari bibir lelaki itu. Dia meletakkan tasnya di meja samping ranjang Youngbae dan mengambil duduk di samping ranjangnya.

Dara memaksakan diri untuk menarik dua sudut bibirnya senang, walau yang terlihat hanyalah kegetiran dalam seulas senyum yang terbentuk. Suaranya kini sedikit bergetar, menahan gelegak air mata yang kini bersiap meluncur jatuh dari pelupuknya. “Youngbae-ah… kamu mendengarku kan?”

Tangan Dara yang juga ikut bergetar perlahan mengangkat tangan Youngbae yang terkulai dan menggenggamnya erat. “Youngbae-ah… bangunlah…”

Mengapa lelaki itu tetap diam walaupun dia berulang kali memanggilnya? Mengapa lelaki itu tetap dengan ekspresi yang sama? Mengapa? Apakah tak ada lagi kesempatan untuknya untuk melihat senyum tipis yang selalu terulas dari lelaki itu? Apakah tak ada lagi kesempatan untuknya untuk merasakan kehangatan dari setiap kata-kata yang terucap dari bibirnya? Merasakan kebaikan hatinya? Mata teduhnya? Apakah dia tak akan bisa lagi merasakan semua itu?

Dan semua itu salahnya…

Setitik cairan bening akhirnya jatuh ke pipinya setelah sebelumnya telah menggenang di kelopak bawah matanya. “Mianhae, Bae-ah… mianhae… jeongmal mianhae…”

Genggaman tangannya semakin erat, seolah rasa penyesalan dan takut kehilangan begitu besar dalam diri Dara. Sesak, rasanya begitu sesak melihat lelaki yang dicintainya dalam keadaan seperti itu. Jika dia bisa, dia akan dengan sangat rela menggantikan posisinya. Biarkan dia saja yang terbujur lemas di ranjang itu. Jangan Youngbae, lelaki yang dicintainya.

“Bangunlah, Youngbae-ah… jangan membuatku takut… Nanti, aku akan memainkan permainan biolaku khusus untukmu… atau, kamu mau makan malam lagi? Nanti kubuatkan makan malam yang paliiing enaakk untukmu…”

Dara menarik nafas panjang untuk menguatkan dirinya sendiri. “Bahkan jika kamu ingin aku pergi menjauh, aku akan melakukannya…

“Asal kamu bangun, Bae-ah…”

Air matanya tak lagi dapat terbendung dan mengalir deras hingga ke dagu dan punggung tangannya. Dia  menggerakkan tangan Youngbae, mendekatkannya ke bibirnya dan mengecupnya pelan.

Tuhan, aku akan menyerahkan apapun yang kumiliki… aku akan mengorbankan apapun… bahkan diriku sendiri…

Asalkan Youngbae-ah bisa membuka matanya…

Selamatkan dia, Tuhan…

***

 

Rasa dingin menjalari pipi Dara tiba-tiba, membuatnya terbangun dari tidurnya. Ketika dia membuka matanya, baru disadarinya dia masih menggenggam tangan Youngbae erat. Genggaman yang basah oleh air matanya. Dia mengalihkan pandangannya mencari sesuatu yang baru saja memberikan sensasi dingin di pipinya.

Kaleng minuman?

Dia berbalik ke belakang dan melihat seorang gadis telah berdiri di belakangnya dan tersenyum. “Chaerin?”

Chaerin menyerahkan kaleng minuman yang dibawanya dan berjalan menuju jendela di sisi lain ranjang. “Sandara sunbae, kamu menjaganya sepanjang waktu. Apa tidak lelah?”

Dara beranjak dari kursinya dan mengikuti langkah Chaerin. “Jangan panggil aku sunbae. Aku bukan sunbae mu lagi kan? Lagipula itu mengingatkanku pada hal bodoh yang kulakukan semasa kuliah.”

Chaerin tertawa kecil. “Nee nee, Dara unnie. Begitukah?”

“Begitu lebih baik. Mianhae, waktu itu aku menyirammu dengan seember air…”

“Ahh… itu masalah lama, unnie…”

“Nee, tapi aku tetap harus minta maaf padamu. Dan…” Dara menatap Chaerin lekat. “Aku turut berduka atas Jiyong…”

Chaerin tersenyum tipis. “Aku… sudah merelakannya unnie. Tidak apa-apa…” Terlihat sedikit kegetiran di balik kata-katanya. Kegetiran yang tak mampu ditangkap oleh Dara.

Dara menatap Chaerin dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Ada rasa bersalah di sana. Namun juga kekaguman karena gadis itu telah merelakan. Apakah dia juga bisa melakukannya seandainya… sesuatu itu terjadi pada dirinya dan Youngbae?

“Lagipula aku sudah menemukan seseorang, unnie…” Chaerin menunjukkan jemari tangan kanannya dengan senyum bangga. Ada cincin polos yang melingkar di jari manisnya dengan cantik.

Mata Dara membesar, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. “EEHH?? Dengan siapa?!” Chaerin tidak menjawab, membuat Dara menyadari sendiri. “Jangan bilang kalau orang itu adalah Choi Seunghyun?!!”

Senyum Chaerin berubah menjadi tawa girang. “Begitulah, unnie…”

“Tidak bisa dipercaya…”

Chaerin tertawa kecil melihat reaksi dara. Kemudian dia berbalik menghadap jendela kamar Youngbae dan menatap langit yang penuh dengan gumpalan kapas putih yang berarak. “Nah unnie, lebih baik pulanglah dan beristirahat…”

Dara ikut berbalik mengikuti Chaerin. “Ani. Aku tidak akan bisa tenang sebelum  dia sadar, Chaerin. Lebih baik aku di sini…”

“Unnie, aku tahu kamu khawatir dengannya. Tapi perhatikan dirimu sendiri. Lagipula… ini bukan pertama kalinya Youngbae mengalami hal ini…”

Dara terkejut bukan main dan menatap Chaerin bingung. “Maksudmu?”

“Youngbae mengidap hemophilia A sedang. Dia mengidapnya sejak dia dilahirkan. Kami mengetahuinya ketika dia masih SD, ketika dia mengalami kecelakaan mobil. Darahnya mengalir begitu banyak, tak bisa berhenti ketika para dokter mencoba menghentikannya. Aku tak tahu apa yang dilakukan para dokter hingga akhirnya aliran darahnya berhasil terhenti. Ketika mereka mengambil sampel darahnya dan memeriksanya, barulah kami tahu penyakitnya…

“Dia harus rutin minum obat dan vitamin untuk menjaga kondisinya. Dia tidak boleh terlalu lelah, tidak boleh terlalu banyak pikiran, karena hal kecil seperti itu sudah membuatnya mengalami pendarahan di bawah kulit. Katanya, bintik-bintik merah di sekujur tubuhnya itu sangat sakit dan menyiksanya. Seakan seluruh tubuhnya seperti ditusuk pisau. Bahkan dia tak sanggup untuk sekedar berdiri…”

Dara hanya bisa terhenyak. Jadi lelaki itu sudah mengetahui penyakitnya begitu lama? Begitu lama hingga dia sudah terbiasa? Jadi, bintik merah itu… Bagaimana dia bisa bertahan dengan semua ini?

Hening. Keduanya bergelut dengan pikirannya masing-masing.

“Unnie… mengapa Dara unnie mencintainya?” Chaerin memecah keheningan di antara mereka dan menatap Dara penasaran.

“Eh?”

“Nee… Mengapa Dara unnie tetap mencintainya? Unnie pasti tahu, Youngbae masih mencintai orang lain. Walaupun… Youngbae pun tahu, dia tak mungkin bisa mendapatkan yeoja itu…”

Kedua sudut bibir Dara terangkat. “Molla. Jika kamu tahu, aku sudah mencintainya sejak lama. Walau aku tahu, Youngbae pun juga mencintai yeoja itu jauh sebelum kami bertemu…

“Sakit. Sangat amat sakit ketika aku melihat matanya yang penuh dengan kepedihan ketika menatap yeoja itu tersenyum. Ketika aku melihat senyum pahitnya yang dia paksakan ketika menatap punggung yeoja itu yang berjalan menjauh. Bahkan, ketika dia memaksakan dirinya untuk tidak menangis… dan mengatakan, ‘aku tidak akan menangis’. Suaranya… begitu getir. Rasanya begitu sesak, rasanya lehermu tercekat, hingga sekedar mengambil oksigen pun aku tak mampu.

“Aku sudah mencoba melupakannya, mencari namja lain yang bisa menggantikan posisinya. Salah satunya… Kwon Jiyong-mu itu…”

Dara menarik nafas panjang, mencoba menguatkan hatinya untuk mengingat serpihan memori dan perasaannya sendiri. “Namun tidak bisa. Sekeras apapun aku mencoba menjauh darinya. Bahkan mungkin, jika aku berlari menembus cakrawala, melompati berbagai rasi bintang, bersembunyi di galaksi Andromeda sekalipun, aku akan kembali mencintainya… Dia… selalu berhasil membawaku kembali ke Bimasakti.

 “Jadi, walaupun sekarang dia masih mencintainya orang lain, itu tak masalah bagiku. Sesakit apapun hatiku sekarang, asalkan aku masih bisa melihatnya tersenyum…

itu sudah kebahagiaan besar bagiku…”

Kini, giliran Chaerin yang terhenyak. Dia menatap Dara dengan pandangan tidak percaya.

Wanita di depannya itu begitu mencintai sepupunya. Bahkan dengan skala yang paling besar. Jauh melebihi kata cinta yang selama ini dia tahu dari setiap orang. Dia bahkan tak bisa membayangkan bila dia berada dalam posisi Dara.

Sesakit apakah rasanya jika kamu harus menunggu seseorang yang juga menunggu orang lain? Sesakit apakah jika kamu harus menunggu ketidakpastian yang menunggu ketidakpastian?

Ataukah… wanita ini sudah terlalu kebas untuk merasakan rasa sakit?

“Unnie… does the pain is your language of your love?”

__________________________________________________________________

To be continued.

 

Hummm… bagaimana, bagaimanaaa??

Semoga puas yaaa… ^^ soalnya bikinnya emang dikit-dikit. Sambil ngerjain banyak kerjaan lain.
mian kalo feel nya kurang kerasa, ato jelek. Jeongmal mianhaeyooo… ^^

o iya, ada yang penasaran hubungan Sandara dengan Chaerin? ada yang ingat? hhoo…
yappp, dia adalah salah satu senior Chaerin yang naksir sama Kwon Jiyong a.k.a GD.
yang lupa coba cek lagi di (One Shot Spesial) My Another Side – My Days with Oppa

Hum… mungkin yang uda pernah baca status facebook ku, ttg sedikit kata-kata yang aku masukin di sana sbg coming soon GC 5 inii…
mian, kayaknya nggak kali ini. Dan aku nggak tau, bakalan jadi make apa nggak. Hhaa…😀

Oya, mau tanya nih. Kalo aku ngasih terjemahan lirik dalam bahasa Inggris, bisa ngerti kan? Ato aku terjemahin ke bahasa Indonesia dulu?

at last, keep comment me yaa.. please, no silent readers here.😉

Udah ah, mau belajar lagi. Dadaaahhh… ^^

Gomawoyoooooooo………….!!!!!!!!!!!!!

Keterangan:

Ehem… mungkin di atas ada kata-kata aneh yang nggak pernah kalian denger. Ato udah? Yang pasti aku pengen ngasih keterangan biar nggak bingung.🙂

Drainase

Drainase bisa diartikan sebagai membersihkan kulit/luka dengan cara membuang atau menyedot cairan yang ada di area tersebut. Cairan ini bisa darah (seperti yg ada di atas), maupun nanah.

Faktor VIII

Faktor VIII adalah salah satu faktor yang berperan dalam pembekuan darah. Pada orang hemofilia A, faktor ini kadarnya sangat rendah ataupun tidak ada sama sekali (tergantung dari ringan beratnya penyakit). Karena itu, darah jadi sukar embeku.

Pada kasus di atas, kan dokter bilang ‘Faktor VIII 100%’. Ini maksudnya dia minta cairan yang mengandung faktor VIII. Dan cairan tersebut murni hanya terdiri dari dari faktor VIII. Cairan faktor VIII 100% ini diberikan pada kondisi darurat dimana pasien mengalami pendarahan hebat.

Lalu, dokternya melanjutkan ‘Faktor VIII 50%’. Ini artinya cairan tersebut terdiri dari 50% faktor VIII dan 50% cairan pembawa. Nahh, cairan ini diberikan ketika darah mulai berhenti mengalir.🙂

Hemofilia A sedang

Pada penderita hemofilia A sdang, kadar faktor VIII dalam darah hanya 1%-5% dari kadar orang normal. Kebayang doongg betapa sedikitnya?

FYI, pada hemofilia ringan, kadar faktor VIII adalah 5%-39% dari kadar pada orang normal, dan pada hemofilia berat kadarnya kurang dari 1%.

Biasanya cirri-cirinya adalah perdarahan yang sukar / tidak dapat berhenti pada luka atau tindakan operasi. Pada umumnya terdeteksi pada saat gigi tanggal atau operasi kecil seperti sirkumsisi (sunat).