Main casts:

– Park Sandara

– Park Sang Hyun (Thunder)

Other casts:

– Kwon Ji Yong (GD)

– Kwon Dami (Ji Yong’s sister)

Notes:

– Don’t be silent readers

– Made by Rahina only

– Don’t copy-paste

“Annyeonghaseo!” sapa Sang Hyun pada Dara yang ada di dapur. “Kemari sebentar!” kata Dara. Sang Hyun langsung menghampiri kakaknya itu dan merangkulnya. “Hm? Puding?” tanya Sang Hyun saat melihat kakaknya sedang membuat puding. “Mana sarapannya?” tanya Sang Hyun lagi. Dara menghembuskan nafas. “Lihat itu,” kata Dara seraya menunjuk ke arah jam. Pukul setengah lima. “Masih setengah lima?” Sang Hyun terkejut. “Aku juga bingung kenapa seorang Park Sang Hyun bisa bangun pagi sekali,” kata Dara. “Sekarang beritahu aku. Bagaimana caranya agar coklat ini bisa ada di dalam puding tanpa harus meleleh?” tanya Dara sambil menunjukkan sebuah coklat berbentuk bulat. “Letakkan saja di puding saat pudingnya belum memadat. Mudah kan?” Sang Hyun memberi saran yang sebelumnya Dara sudah mencoba. “Tapi nanti coklatnya akan ada di bawah. Bukan di tengah,” keluh Dara. Sang Hyun duduk di kursi makan. “Kalau begitu pikirkan saja sendiri,” kata Sang Hyun. Dara hanya mengumpat tak jelas. “Noona, tapi bukankah lebih enak kalau coklatnya meleleh?” tanya Sang Hyun. “Bagaimana bisa?” Dara mengamati coklatnya. “Noona, puding ini kenyal. Nah, saat kita memakan puding ini, rasanya kenyal. Kalau di dalamnya ada coklat leleh, saat kita menggigit pudingnya dalam mulut, coklatnya akan sangat terasa,” jelas Sang Hyun. “Jinja? Tapi bagaimana caranya? Nanti coklatnya akan tercampur,” protes Dara. “Bagaimana kalau kita buat satu puding padat, setelah itu kita beri coklat, lalu kita tambahkan puding lagi. Bagaimana?” usul Sang Hyun. “Kalau begitu kau lelehkan coklatnya. Aku yang atasi puding,” Dara langsung bergegas.

 

“Bagaimana rasanya?” hati Dara berdebar-debar menunggui Sang Hyun mencoba satu puding yang baru mereka buat. Sang Hyun merasakannya dengan sangat teliti. Senyumnya mengembang. “Daebakk! Jeongmal daebakk!” Sang Hyun menunjukkan jempolnya. “Jinja?” Dara mengambil satu dan mencobanya. Senyumnya mengembang dengan lebar. “Noona, sebaiknya kau buat sarapan. Ini sudah pukul setengah tujuh,” kata Sang Hyun. “Hm? Baiklah. Kita makan ramen instant saja, ya?” kata Dara. “Noona…,” Sang Hyun menunjukkan muka memelasnya. Dara terkikik. “Baiklah. Apa yang kau mau, adik kecil?” tanya Dara. “Jangan begitu. Kita ini kan saudara tiri,” Sang Hyun berpaling. Dara langsung cemberut. “Bagaimana pun juga secara resmi kita ini kakak-beradik. Diamlah. Kau mau apa, saeng?” tanya Dara dengan kesal. “Um… Bibimbbap?” usul Sang Hyun. “Baiklah.”

 

***

 

Dara dan Sang Hyun terdiam di ruang tv setelah makan. Sang Hyun menonton tv sedangkan Dara melakukan kebiasaannya, menulis novel. “Noona, novel baru lagi?” tanya Sang Hyun. “Yang kemarin itu… kapan akan diterbitkan?” lanjutnya. “Penerbitnya bilang, bulan depan,” kata Dara. “Noona, aku mulai berpikir… aku harus mencari pekerjaan,” kata Sang Hyun tiba-tiba. Dara langsung meletakkan penanya. “Untuk apa? Kita sudah dapat uang dari novelku. Kau masih mau bekerja?” tanya Dara. “Tapi, noona, bagaimana kalau aku menikah nanti? Noona bisa menulis, aku? Aku bagaimana? Mau makan apa anak-istriku?” protes Sang Hyun. Dara menjitak pelan kepala dongsaengnya itu. “Kau sudah mau menikah? Dengan siapa? Kenalkan padaku,” kata Dara. “Belum… Aku memang masih sendiri. Tapi bagaimana kalau aku menikah nanti? Aku tidak bisa apa-apa,” rengekan itu tidak dihiraukan lagi oleh Dara. Sang Hyun mulai berpikir sendiri. “Noona, bagaimana kalau kita membuka usaha?” usul Sang Hyun. Dara menghembuskan nafas panjang, meletakkan pena dan bukunya. “Usaha apa?” tanya Dara dengan kesal. “Um… Noona, eksperimen noona tentang puding sudah cukup banyakkan? Bagaimana kalau kita buka café puding? Hm? Lagipula… untuk mengisi kegiatan. Bagaimana?” jelas Sang Hyun. Tak bisa Dara bantah lagi, adiknya itu memang pemikir yang hebat. “Café puding? Menarik juga. Aku pikirkan dulu, ya?” Dara beranjak ke atas.

 

“Café? Menarik juga. Lagipula… itu tidak telalu menyita waktu. Aku masih bisa menulis. Tapi apa namanya? Park Café? Ah… jangan. DaHyun? Andwe. Um… Nanti saja dipikirkannya. Yang penting aku setuju,” Dara segera turun ke lantai bawah, ingin segera mengabarkan keputusannya.

 

“Dongsaeng!” Dara sangat terkejut saat melihat adiknya tergeletak di dapur. “Dongsaeng, wae.. waeyo? Ireona! Ppali ireona! Jangan bercanda,” Dara menggoyang-goyangkan pundak Sang Hyun yang masih belum sadar juga. Dara mulai kebingungan. Dia ingin menggendongnya, tapi tak kuat. Lagipula apa bisa dia membawanya dengan sebuah vespa? Dara mulai meneteskan air mata. “Ambulan, ya, ambulan,” Dara segera meraih telpon rumah dengan tangannya yang gemetar dan memanggil ambulan. Lima menit kemudian, sebuah ambulan datang dan segera mengangkat Sang Hyun yang masih belum sadar juga. Dara juga ikut dengan ambulan itu.

 

“Nona, tolong tunggu di sini,” seorang perawat menahan Dara di depan pintu UGD. “Tapi Sang Hyunku,” Dara teru berusaha menerobos. “Tenang nona. Kami akan melakukan yang terbaik. Tenang saja,” perawat itu menenangkan Dara. Setelah memastikan Dara tenang, perawat itu meninggalkannya sendiri. “Sang Hyun… kau kenapa?” tanya Dara sambil terus menangis di ruang tunggu.

 

Seorang dokter keluar dari ruangan. Dokter yang sangat tampan, tapi Dara tak menghiraukannya. “Dokter, adik saya… bagaimana?” tanya Dara. “Kita bicara di ruangan saya saja,” Dokter itu mengajak Dara ke ruangannya.

 

“Bagaimana, dok?” tanya Dara dengan terburu-buru. “Untuk sementara, dia harus dirawat di rumah sakit. Sebenarnya penyakitnya hanya disebabkan oleh kelelahan, tapi kelelahan itu bila dibiarkan bisa banyak akibatnya,” jelas dokter itu. “Kelelahan? Tapi dia jarang berkegiatan. Dia bahkan tidak bekerja,” bantah Dara. “Adik anda harus dirawat minimal tiga hari. Kami akan mulai mengurus rawat inapnya, setelah anda mengurus biaya administrasi.”

 

Dara segera membayar biaya administrasinya. Sama sekali tak ada beban baginya untuk membayar biaya administrasi, apalagi untuk adik tersayangnya. Bisa dibilang, dia sudah cukup mapan. Sudah sejak umur lima belas tahun dia menulis. Dari karyanya itulah dia bisa menghasilkan uang yang cukup banyak. Tapi Sandara tetap saja Sandara. Kalau tidak untuk puding, adiknya, dan dirinya sendiri, dia tak mau mengeluarkan banyak uang.

 

Dara bersandar di dinding luar kamar adiknya. Berpikir sejenak maksud kata ‘kelelahan’ yang dokter bilang. “Kelelahan? Tapi bagaimana bisa? Dia bahkan tak punya kegiatan rutin. Kenapa bisa sampai harus dirawat inap?” gumamnya. “Memangnya kau tahu kegiatannya sehari-hari?” sebuah suara terdengar. Suara seorang namja. Dara menengok. “Sepertinya kita belum pernah bertemu,” kata Dara saat mendapati seorang namja sedang bersandar di kejauhan empat meter darinya. “Memang belum,” kata namja itu sambil menghampiri Dara. “Aku Ji Yong. Adikku di kamar sebelah,” kata namja itu sambil mengulurkan tangan. “Dara,” Dara menyambut baik uluran tangan itu. “Maaf, kau tadi bilang apa?” tanya Dara. “Hm? Oh, maksudku… Kau tidak terus menerus mengawasinya bukan? Mungkin saja saat dia berpamitan pergi, dia melakukan kegiatan yang melelahkan,” jelas namja yang bernama Ji Yong itu. “Maksudmu?” tanya Dara lagi. “Ya… sperti basket, sepak bola, atau apalah,” kata Ji Yong. Dara berpikir sejenak. “Dia memang sering berpamitan pergi. Tapi dia tak pernah pulang dalam keadaan lelah,” bantah Dara. “Bisa saja dia seperti adikku,” Ji Yong diam sejenak menunggu respon Dara. “Dia perempuan. Dia mengikuti team cheerleaders tanpa sepengetahuanku. Sebenarnya latihannya dua jam sehari, tapi dia selalu pergi selama tiga jam. Setelah berlatih, dia akan ke suatu tempat untuk makan. Setelah merasa energinya cukup, baru dia pulang,” jelas Ji Yong.“Ku putuskan setelah dia pulang dari rumah sakit nanti, akan ku beri dia kegiatan yang akan sedikit menyita waktu, tapi tidak melelahkan,” kata Ji Yong seraya tersenyum. “Tapi dia juga butuh olahraga,” Dara mencari pembelaan. “Memang. Aku dan adikku tinggal di apartment, di sana juga ada sport area. Kami selalu olahraga setiap minggu,” kata Ji Yong. Dara berpikir sejenak. “Mengelola café, apa itu melelahkan?” tanya Dara. Ji Yong terlihat berpikir. “Tidak juga,” jawabnya. Dara mengangguk tanda mengerti. “Well, aku harus menemui seseorang. Annyeong!” Ji Yong bergegas pergi.

 

Dara memutuskan untuk langsung menemani Sang Hyun di kamarnya setelah seorang perawat memperbolehkannya masuk. “Ya!” bentak Dara. Sang Hyun langsung tersentak. “Noona, aku sedang sakit. Bukannya disayang malah dibentak,” protes Sang Hyun. Dara masih pada pendiriannya. “Kau ini! Kegiatan apa yang kau ikuti tapi tanpa sepengetahuanku?!” tanya Dara seolah sedang menginterogasi. “Noona… Kenapa bilang seperti itu? Aku tidak mengikuti apa-apa, sungguh…,” kata Sang Hyun. “Geosjimar,” Dara masih tidak mau percaya dan tetap pada pendiriannya. “Noona…,” Sang Hyun memelas. “Jangan harap dengan muka memelas mu itu aku bisa lulus. Katakan yang sebenarnya!” Dara sedikit membentak. Sang Hyun menghembuskan nafas pasrah. “Aku mengikuti beberapa kegiatan, tapi tidak melelahkan,” kata Sang Hyun. Dara masih pada pendiriannya. “Dalam sehari aku hanya mengikuti basket, sepak bola, dan skateboard,” kata Sang Hyun. Dara terbelalak mendengarnya. “Ya! Seperti itu kau bilang tidak melelahkan?!” kata Dara. “Noona, itu tidak membuatku lelah,” bela Sang Hyun. “Lalu kenapa kau di sini?! Kenapa kau di rumah sakit?!” kata Dara. “Sang Hyun… aku ini khawatir…,” Dara mengooyang-goyangkan pundak Sang Hyun. Sang Hyun tersenyum. “Gwenchana, noona…”

 

***

“Noona!!!” Dara tersentak saat mendengar teriakan Sang Hyun. Rupanya dia tertidur. “Ya! Kenapa teriak-teriak?” tanya Dara dengan kesal. “Saatnya aku minum obat,” kata Sang Hyun. “Hm? Dokter memberimu obat?” tanya Dara. “Ne. Ini,” jawab Sang Hyun seraya memnyodorkan seplastik kecil tablet dari dokter. “Saeng, mulai sekarang… kau harus bisa mengatur kegiatanmu. Sehari jangan langsung tiga kegiatan,” jelas Dara seraya menyiapkan obat. “Arasseo…,” tanggap Sang Hyun. “Ini,” Dara menyodorkan tablet dan segelas air mineral. “Gomawo, noona,” Sang Hyun menerima dan langsung menelan obatnya. “Aku sudah memutuskan untuk membuka café bulan ini. Kamu juga harus terlibat,” kata Dara. Sang Hyun tersentak. “Jinja?” tanya Sang Hyun. “Ne. Tapi tidak setiap hari kita ikut melayani di café. Tiga hari seminggu kita tidak di café, mungkin melakukan eksperimen atau memperbanyak bahan,” jelas Dara. “Lagi pula kau juga ingin tetap mengikuti kegiatanmu itu kan?” lanjutnya. “Tapi siapa yang akan menggantikan kita?” tanya Sang Hyun. “Nanti aku carikan…”

 

Dara berjalan menyusuri koridor untuk mencari udara segar. “Annyeong, noona!” sapa seseorang dari belakang. Dara yang sudah berjarak tiga meter dari pintu, langsung berbalik. “Oh, kau!” kata Dara saat mendapati Ji Yong sedang berjalan ke arahnya. “Masih ingat aku?” tanya Ji Yong. Dara mengangguk mantap. “Ji Yong, benar?” tebak Dara. “Ne. Dara kan? Kau mau cari udara segar?” tanya Ji Yong. “Ne. Kau?” tanya Dara balik. “Sama. Bagaimana kalau kita ke taman bersama?” ajak Ji Yong. “Baiklah,” Dara dan Ji Yong mulai berjalan bersama ke taman.

 

“Bagaimana kabar adikmu?” tanya Ji Yong seraya mempersilakan Dara untuk duduk di sebuah ayunan di taman rumah sakit. “Mulai membaik,” Dara menghela nafas. “Kau benar. Dia memang banyak kegiatan. Dalam sehari dia mengikuti tiga kegiatan,” lanjutnya. Ji Yong tersenyum. “Lalu apa yang akan kau lakukan untuknya?” tanya Ji Yong yang sedan bersandar di tiang ayunan. “Bulan ini kami akan membuka sebuah cafe. Pudding cafe,” jawab Dara. “Tapi hanya tiga hari dalam seminggu dia akan membantu,” lanjutnya. “Empat hari lainnya?” tanya Ji Yong. “Mungkin aku. Tapi bagaimanapun juga aku tetap membutuhkan bantuan. Aku akan segera mencarinya,” jelas Dara. “Jinja? Bagaimana kalau aku dan adikku? Kami juga butuh kegiatan,” tawar Ji Yong. Dara langsung mengalihkan wajahnya dari pemandangan taman ke arah wajah Ji Yong. “Hm? Kau mau?” tanya Dara. Ji Yong tersenyum. “Baiklah. Kalau begitu… adikku dan adikmu hari senin sampai rabu. Kita kamis sampai minggu. Deal?” kata Dara tanpa pikir panjang. “Hm? Oke, deal,” Ji Yong menghela nafas. “Siapa nama adikmu?” tanya Ji Yong. “Park Sang Hyun. Adikmu itu… Kwon Dami?” tebak Dara. “Dari mana kau tahu?” tanya Ji Yong. “Papan di depan pintu,” jawab Dara. Ji Yong menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Iya juga. Oh, kau sudah dapat tempatnya?” tanya Ji Yong. Dara berpikir sejenak. “Belum,” jawabnya. “Kalau begitu besok kita cari sama-sama”

 

To be continued….

 

——————————-

How? How? Enak nggak? Tinggalkan jejak, yak???