(Prolog) (Part 1) (Part 2) (Part 3) (Part 4) (Part 5)

Annyeong !

Lha diss? kok? katanya…

Iyaa… harusnya saya UAS. dan sekarang emang lagi UAS sampe minggu depan. tapi kegejean, kegalauan, dan beberapa masalah internal dalam diri saya melanda. *oww oww*
akhirnya pelarian saya adalah FF ini . . .
hhe..🙂

happy reading~~!

____________________________________________________

Great Confession

 

A woman loves you. The woman loves you wholeheartedly. She follows you around like a shadow every day. She smiles but is actually crying…

***

 

Normal POV

“Does the pain your language of your love?”

Dara hanya bisa tertawa kecil. Bukan tawa yang menyenangkan seperti bila kita mendengar sesuatu yang menyenangkan, melainkan tawa yang getir, seperti menertawakan sesuatu yang menyedihkan. Yang seharusnya tidak ditertawakan. “Kadang, butuh rasa sakit untuk merasakan kebahagiaan, Chaerin…”

Chaerin kembali terhenyak. Dia tak meneruskan ucapannya, hanya kembali menatap hamparan langit senja yang berhiaskan sinar Jupiter. Apakah istimewanya dari seorang Youngbae hingga wanita ini sungguh mencintainya? Apa yang berhasil dia lakukan untuk wanita ini? Bukankah percuma saja sebesar apapun wanita ini peduli pada seseorang ketika orang tersebut terlalu sibuk untuk mendapatkan perhatian dari orang lain?

***

Silau.

Kedua kelopak matanya langsung merapat ketika sinar berlebihan itu berusaha menyeruak dan masuk ke dalam kornea matanya. Sejenak matanya beradaptasi dan perlahan kembali membuka.

Di mana dia berada? Rumah sakit?

Perlahan dia menggerakkan kepalanya, walau rasanya sedikit pusing. Apa yang telah dipasangkan ke sekujur tubuhnya? Apa maksudnya semua selang-selang yang berlalu lalang di di badannya?

“Does the pain your language of your love?”

Siapa yang baru saja berbicara? Siapa yang bersuara itu?

Matanya kembali menelisik setiap sudut kamar, dan berhenti ketika melihat punggung dua wanita yang saling berbincang sambil menatap goresan langit jingga.

 “Kadang, butuh rasa sakit untuk merasakan kebahagiaan, Chaerin…”

Apa maksud kedua wanita itu? Rasa sakit? Kebahagiaan? Orang itu benar-benar tidak mengerti.

“Noona…”

Kedua wanita itu spontan tersentak dan berbalik ke belakang, mencari arah suara. Dara yang pertama kali menyadari siapa yang mengerang. Seketika mata kecilnya membulat, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Bae-ah?!! kamu sudah sadar??!”

Orang itu tak menjawab, hanya menatap kedua orang yang kini masih tercengang dengan tatapan bingung.

“Aku harus memberi tahu dokter!!” Dara kontan tertawa girang dan berlari keluar kamar.

***

 

Youngbae POV

Chaerin berjalan mendekati ranjangku. “Sejak kapan kamu sadar?”

“Baru saja.”

Chaerin tak mengatakan apapun, dan menatapku dengan pandangan menyelidik. Membuat lelaki itu sedikit jengah. Kemudian dia mencibir. “Bohong. Sejak kapan kamu bangun?”

“Cukup lama…”

“Dan? Mendengar kami berbicara? Sampai sejauh apa?”

“Entahlah…”

“Okey… kuanggap kamu mendengarkan semuanya.”

Mataku terbelalak selebar yang aku bisa. Hey hey! Apa maksudmu dengan ‘kuanggap’?! berarti kamu tidak mendengarkan perkataanku? Huhh! Seenaknya saja!

“Heehhhh…”

Aku hanya bisa mendesah pelan dan mengarahkan pandangannya ke arah lain. Aku tak suka dengan situasi seperti ini. Situasi dimana seolah aku menjadi tersangka yang sedang diinterogerasi, apalagi oleh sepupuku sendiri yang tak pernah mau memanggilku oppa. Alasannya, karena katanya dia lebih dewasa daripada aku. Mananya??!

“Han yojaga gederel saranghamnida… Ge yojanen yolsimhi saranghamnida… Meil gerimjachorom gederel ttaradanimyo… Ge yojanen usemyon ulgo issoyo…”

(A woman loves you. The woman loves you wholeheartedly. She follows you around like a shadow every day. She smiles but is actually crying.)
Baek Ji Young – That Woman

Tiba-tiba Chaerin berdendang pelan sambil memandang awan mendung yang menggantung di langit dari jendela kamarku.

Jantungku seketika mencelos, seperti ada yang menusuknya tepat di tiap atrium dan biliknya. Apa maksudnya? Apa maksud dari nyanyiannya?!!

Merasa tersindir, aku kembali menatapnya yang kini masih asyik mengamati gumpalan kapas langit yang bergerak pelan. “Apa maksudmu?”

Chaerin kembali menatap ke arahku dengan wajah tak berdosa. “Ani.”

“Oh ya?” Aku menatapnya tajam, mencoba membunuhnya dengan kekuatan pikiranku. Ya, dengan wajah seolah tidak ada apa-apa yang menyebalkan itu, aku yakin sepupuku itu punya maksud tertentu. Dia kan, Lee Chaerin.

“Entahlah.” Bahunya terangkat tanpa beban. Dia melanjutkan sambil tersenyum penuh makna, “Kamu bisa menganggapnya sebagai nyanyian… atau…” Dia berhenti sejenak, dan mendekatkan kepalanya padaku. “… Petunjuk akan seseorang…”

 

Tepat pada saat itu, dokter memasuki kamarku diikuti seorang suster dan Dara noona di belakangnya. Melihat keadaanku yang sudah sadarkan diri, wajah mereka berubah cerah. Apakah aku memang sudah tertidur begitu lama? Apakah keadaanku begitu buruk, hingga mereka begitu senang ketika aku membuka mata?

“Akhirnya kamu sadar juga, Youngbae-ssi…” dokter itu mendekat ke ranjangku dengan wajahnya yang sumringah. Kedua orang di belakangnya mengikuti langkahnya.

Hey, memangnya aku tertidur berapa lamaaa???

Dokter itu mengeluarkan penlight nya. “Aku periksa keadaanmu dulu, ya.” Dia mendekatkan penlight nya ke mataku dan menyalakannya hingga senter kecilnya mengecilkan pupilku. Setelah itu dia melakukan hal yang sama dengan mataku yang lain. “Kamu tahu, kamu tidak sadarkan diri hingga seminggu.”

“Seminggu?!”

Jincha!? Benarkah selama itu jiwaku melayang-layang di alam bebas?!! Wow! Pantas saja mereka begitu antusias melihatku bangun…

Dokter itu kemudian menyentuh pergelangan tangan kiriku dengan jari telunjuk dan tengahnya sambil menatap arlojinya dengan teliti. “Nee, seminggu. Agasshi itu selalu menunggumu siang dan malam.”

“Agasshi?” dahiku mengernyit bingung.

“Nee. Agasshi yang di sana…” dokter itu menunjuk seseorang dengan dagunya. Seolah tak ingin memperlihatkan bahwa dia sedang membicarakannya. Namun suaranya yang besar membuat semua orang di ruangan itu dengan mudah mengetahui siapa orang yang dimaksudkannya.

Aku melirik orang yang ditunjuknya dengan sudut mataku. Orang itu kini hanya tersipu malu tanpa berani memandangku. Semburat merah memenuhi pipinya semenjak dia mendengar dokter membicarakannya.

Sandara noona?? Menungguku? Seminggu? Siang dan malam?

Dokter itu kini mengeluarkan stetoskopnya dan memasangnya. Lalu dia mendekatkan kepala stetoskopnya ke arah dadaku dan kembali menatap arlojinya. “Jangan lupa berterima kasih padanya…” Sesaat kemudian, dokter itu menjauhkan stetoskopnya dan memasukkannya kembali ke saku jas putihnya yang besar. “Keadaanmu sudah cukup stabil walaupun kamu baru sadarkan diri. Bagus.”

Dia membereskan alat-alatnya dan perlahan berjalan mundur. “Baiklah, Youngbae-ssi. Saya permisi dulu, silyehamnida.” Kemudian dokter itu berbalik dan pergi meninggalkan kamarku diikuti oleh suster di belakangnya.

Hanya beberapa detik bayangan dokter itu menghilang dari balik pintu, Dara noona langsung masih terdiam sejenak dan menatapku dengan pandangan yang aneh, seolah setengah sadar. Perlahan dia berjalan ke arahku dan menyentuh pipiku. “Ya Tuhan! Ini benarkah kamu, Bae-ah? Aku benar-benar tak percaya kamu sekarang sudah sadar…”

“Nee, noona.”

“Youngbae-ah, aku pulang dulu.” Chaerin berjalan mendekat ke arahku setelah tadi dia menjauh dariku ketika dokter datang.

“Sekarang?” Aku menatapnya dengan pandangan kecewa. Aku masih ingin memburunya dengan lagu yang dia gumamkan tadi. Aku tahu itu lagu dari salah satu drama Korea. Tapi apa maksudnya?!

“Nee. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku. Ah iya…” Chaerin menghentikan ucapannya dan merogoh tas jinjingnya. Sesaat kemudian, tangannya sudah menggenggam iPod touch kesayangannya. “Yang aku nyanyikan tadi, dengarkanlah disini.” dia meletakkan gadget itu di telapak tanganku yang memang sudah membuka sejak tadi dan tersenyum penuh arti padaku. “Annyeong.”

Dia segera berbalik dan menjauh dari ranjangku seraya melambaikan tangannya. Kemudian dia pun menghilang dari balik pintu.

***

 

Dara POV

Ya Tuhan! Dia sadar! Dia sudah sadar! Aku pikir aku sudah tak mungkin melihatnya lagi.

Mataku masih tak bisa mempercayai apa yang kulihat. Aku melangkah lamat-lamat, seolah di setiap langkahku, aku ingin menikmati setiap gerak nyata dari orang yang aku pikir tak mungkin kulihat lagi. Benarkah apa yang kulihat, Tuhan? Benarkah itu Youngbae-ah yang sedang mengerjap-ngerjapkan mata, menggerakkan tangannya, dan memandangku dengan tatapan aneh? Benarkah itu kamu, Youngbae-ah?

Perlahan tanganku terangkat menyentuh pipinya ketika akhirnya tubuhku mencapai samping kasurnya. Jemariku meraba setiap tekstur wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya…

“Ya Tuhan! Ini benarkah kamu, Bae-ah? Aku benar-benar tak percaya kamu sekarang sudah sadar…”

Dia tersenyum tipis ke arahku. Senyum yang benar-benar aku rindukan. “Nee, noona.”

“Youngbae-ah, aku pulang dulu.” Tiba-tiba Chaerin berjalan mendekat ke arah kami.

“Sekarang?”

“Nee. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku. Ah iya… Yang aku nyanyikan tadi, dengarkanlah disini. Annyeong.” Dia segera berbalik dan menghilang dari balik pintu.

Aku menatap iPod yang kini telah berpindah tangan di atas telapak tangan Youngbae-ah dengan penasaran. Lagu? Lagu apa? mengapa Youngbae terlihat begitu kecewa ketika Chaerin pergi? Apa yang mereka bicarakan ketika aku tidak ada?

Mungkinkah… aku?

“Ige mwoya?”

“Bukan apa-apa, noona…”

Bola mataku berputar dan berhenti tepat di kornea matanya, menatapnya lekat hingga aku bisa melihat pantulan diriku di kedua manik matanya. Aku memandangnya tak percaya. Dia membalas tatapanku jengah, seolah takut kedua mataku mampu menelanjangi pikirannya.

“Noona, mengapa melihatku seperti itu? Ini benar-benar bukan apa-apa…” kedua sudut bibirnya terangkat, membentuk ulasan senyum indah disertai bentukan bulan sabit dari garis matanya.

Ya Tuhan, senyum itu lagi… begitu indah, begitu nyata. Ternyata aku tidak bermimpi…

“Youngbae-ah, kamu tahu, aku masih tidak percaya kamu sekarang sudah sadar. Rasanya benar-benar…” aku kehabisan kata-kata. Rasanya kosakataku sekarang menguap entah ke mana, hingga aku tak bisa lagi menemukan kata yang tepat untuk mendekskripsikan kebahagiaanku. “Wow… aku benar-benar tak percaya…”

Dia tetap tersenyum, tanpa ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya. Senyuman itu masih membuatku melumer seperti lilin yang terbakar api. Dan sekian tahun mencintainya, senyum itu masih saja membuat jantungku berdetum kencang. Senyum yang selalu membuatku kembali ke Bimasakti walau aku sudah meluncur menuju cincin Saturnus, melompati Pluto, dan bersembunyi di dalam sunyinya Andromeda.

Oh Tuhan, aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat! Sungguh!!

“Kamu tahu, aku panik sekali ketika lenganmu berdarah-darah tanpa henti dan kamu bilang mengidap hemofilia. Rasanya jantungku langsung berhenti, tau! Kenapa kamu tidak bilang?!” Aku menggembungkan kedua pipiku, berpura-pura kesal padanya.

“Tapiii… Syukurlah kamu masih selamat. Dan… sekarang kamu ada di depanku dan tersenyum padaku! Aku benar-benar…” aku memutus perkataanku sendiri dan menarik nafas panjang. “Sebentar, aku masih speechless…”

Bibirku mengembang lebar. Semua kecemasan yang kurasakan beberapa hari ini menghilang entah ke mana, tergantikan oleh buncahan kebahagiaan yang meluap-luap tanpa henti. Rasanya aku bisa merasakan desiran aliran darah yang melewati seluruh organ tubuhku, seolah ikut bersemangat dengan apa yang aku rasakan sekarang.

“Kamu harus berterima kasih padaku karena aku sudah menjagamu selama kamu koma. Kamu berhutang sangaaaaaattt banyak padaku!”

“memangnya aku memintamu menjagaku, noona?”

“Heii! Apa maksudmu??!” aku menatapnya tajam dengan pandangan marah. Semuanya tentu saja pura-pura. Apapun yang kamu katakan, Youngbae-ah, asalkan kamu masih tetap hidup dan tersenyum di hadapanku, aku akan terima dengan senang hati.

***

 

Youngbae POV

“Kamu harus berterima kasih padaku karena aku sudah menjagamu selama kamu koma. Kamu berhutang sangaaaaaattt banyak padaku!” Dara noona berbicara tanpa henti dengan nada yang berapi-api. Seolah kata-katanya selalu dia simpan selama ini hanya untuk hari ini.

“memangnya aku memintamu menjagaku, noona?”

“Heii! Apa maksudmu??!” Dia menatapnya tajam dengan pandangan marah, tentu saja aku bisa melihatnya berpura-pura. Karena aku tahu tatapannya menatapku dengan kegembiraan.

Mataku menatap Dara noona yang masih terus berbicara. Aku hanya bisa tersenyum, karena setiap aku ingin membuka mulutku, dia selalu meneruskan bicaranya seperti rangkaian gerbong keretanya dengan lokomotor tanpa rem.

Aku menatap wajahnya yang masih bersemangat bercerita. Gurat-gurat kelelahan sangat terlihat di bagian pelipis, dan dahinya. Kantung mata yang menghitam menghiasi bagian bawah matanya. Kedua kelopak matanya memerah sembab, mungkin karena air mata yang dia keluarkan terlalu berlebihan. Apakah dia menangis untukku?

A woman loves you. The woman loves you wholeheartedly. She follows you around like a shadow every day. She smiles but is actually crying…

Dendang nada yang dialunkan oleh Chaerin kembali berputar otomati di benakku ketika melihat wajah Dara noona. Dia tersenyum tetapi sebenarnya menangis…

Benarkah yeoja ini menungguku berhari-hari tanpa henti? Benarkah yeoja ini yang selalu meneteskan air mata untukku ketika aku tak sadarkan diri?

“Youngbae-ah? kenapa bengong?” Dara noona menatapku khawatir.

“Pulanglah, noona…”

Mimic mukanya kontan nampak terkejut. “Eh? Apa kamu tidak suka keberadaanku di sini?”

Aku menatapnya lembut. Dia sudah menungguku sepnjang waktu. Tidak mungkin aku tidak suka dengan keberadaannya disini. “Noona sudah menjagaku selama aku koma. Sekarang, aku sudah sadar. Jadi, sebaiknya noona pulang dan beristirahat…”

Dia menggelengkan kepala cepat. “Shireo!”

Aku menatapnya tajam. “Noona…”

Kini wajahnya tampak bingung. Bola mata yang kini menatapku itu memancarkan kekhatiran dan keraguan. “Bagaimana kalau nanti kamu membutuhkan apa-apa?”

“Ada para suster, kan?”

Akhirnya yeoja itu hanya bisa menghela nafas, menyerah. “Baiklah…”

Dara noona mengemasi barangnya dan beranjak dari kursinya. Namun sesaat kemudian, dia kembali duduk dan kembali menatapku dengan tatapan khawatir. “Youngbae-ah…”

Apalagi yang mau dibicarakan yeoja ini?

“Humm?”

“Kamu yakin?”

Aku tertawa kecil. Apa tidak bisa yeoja ini percaya dengan keputusanku sedikit saja? Aku kan menyuruhnya pulang untuk kebaikannya. “Yakin, noona…”

Gurat wajahnya kemudian berubah menjadi panik dalam sangat cepat. Mengapa ekspresinya tiba-tiba berubah? Apa yang di dalam benaknya sekarang? Aku benar-benar tidak bisa menebak apapun yang dipikirkannya.

“Youngbae-ah… Jangan-jangan kamu terganggu olehku ya? Atau kamu membenciku?”

Hah? Membencinya? Darimana pula dia mendapat kesimpulan seperti itu? Apa wajahku terlihat membencinya? Benar-benar… Imajinasinya tinggi sekali!

“Aniyo, noona.”

Wajahnya seketika berubah ceria. Senyumnya mengembang lebar. Nah, sekarang apa yang dia pikirkan?

“Jadi, kamu mencintaiku?”

Mwoaa?! Darimana dia mendapat kesimpulan seperti itu?! Tidak membencinya kan bukan berarti aku…

“Tentu saja-…” aku memutus kata-kataku sendiri.

Tentu saja… tidak? Atau… iya? Hey! Kenapa aku malah tidak bisa menjawab? Sebenarnya jawaban apa yang hendak keluar dari bibirku? Sebenarnya…

Apa yang aku rasakan padanya sekarang?

“Bae-ah?” Dara noona menatapku bingung.

“Noona, pulanglah… ini sudah malam…”

Dia menghela nafas sekali lagi. Kedua kornea matanya menatapku dengan kesal. Dia menahan oksigen yang ingin keluar dari mulutnya, membuat kedua pipinya menggembung lucu. Aku bisa merasakan ketidakrelaannya meninggalkanku. “Nee nee. Aku pulang. Annyeong, Bae-ah…! Get well soon…”

“Annyeong…”

Dia telah berbalik dan meninggalkanku. Bahkan bayangannya mulai menghilang dari daun pintu. Namun tiba-tiba kepalanya muncul dari luar pintu dan melongok ke dalam dengan ceria. Yeoja ini benar-benar tidak bisa membuat jantungku berkontraksi dengan tenang! Bukan karena aku menyukainya, tapi karena yeoja ini selalu melakukan hal-hal aneh di luar nalar. Ada saja yang dilakukannya!

“Ah iya, aku hampir saja lupa. Bae-ah, besok aku ke sini dan bawa makanan enak untukmu. Tunggu akuuu…”

Besok kesini lagi?! Aigoooo….~~

***

 

Aku menatap pintu kamar yang tertutup dalam kegelapan. Hitam yang mengelilingiku membuatku jauh lebih tenang. Bola mataku berputar sekeliling ruangan, dan akhirnya berhenti pada iPod yang tergeletak manis di atas meja. Tanganku bergerak mengambilnya dan memasang kedua headsetnya. Tak perlu waktu yang lama aku mencari lagu yang ingin ditunjukkan Chaerin di deretan playlist lagu itu, aku sudah menemukannnya dengan mudah.

Mataku tertutup. Membiarkan nada-nada itu mengalun…

 

Han yojaga gederel saranghamnida Ge yojanen yolsimhi saranghamnida
Meil gerimjachorom gederel ttaradanimyo Ge yojanen usemyon ulgo issoyo

(A woman loves you. The woman loves you wholeheartedly.
She follows you around like a shadow every day. She smiles but is actually crying.)

 

Tiba-tiba serpihan-serpihan kenangan mengenai Dara noona terputar secara otomatis di benakku tanpa bisa aku tahan. Aku hanya bisa membiarkannya terputar dan terputar…

“Youngbae-ah… jika kamu ingin menangis, menangislah sepuasnya…”

 “Mungkin noona yang ingin menangis?”

 

Olmana olmana do norel irohge baraman bomyo honja
I baram gaten sarang i gojigaten sarang gyesokheya niga narel sarang hagetni

Jogemman gakkai wa jogemman hanbal dagagamyon du bal domangganen
Nol saranghanen nan jigemdo yope isso ge yojan umnida

(How much longer do I just have to look at you alone?
This love that came like wind, this love that is like a shit, if I continue this, will you love me?

Just come a little nearer. Just a little bit. Please don’t step back.
I, the one who loves you, am still next to you. That woman is crying.)

“Does the pain your language of your love?”

 “Kadang, butuh rasa sakit untuk merasakan kebahagiaan, Chaerin…”

 

Ge yojanen songgyogi sosimhamnida Gereso utnen bobeul bewotdamnida
 Chinhan chin-guegedo mothanen yegiga manen Ge yoja eui maemen nunmultusongi

(That woman is very shy. So she learnt how to smile
Her heart is so full of tear; she can’t even share her story with her best friend)

Tapi aku tahu, kamu mencintai orang lain. Kamu sangat mencintai yeoja itu. Waktu itu, aku tidak tahu apa yang kurasakan. Aku marah pada diriku sendiri. Karena telah mencintaimu yang sudah mencintai orang lain. Karena dengan segala upaya yang coba kulakukan, aku tak pernah bisa berhenti mencintaimu. Karena aku tak pernah berani mengatakan semuanya padamu.

 

Gereso ge yojanen gedel nol sarang hetdeyo ttokgataso
Tto hanagaten babo tto hanagaten babo hanbon narel anajugo gamyon andweyo

Nan sarangbatgo sipo gedeyo meil sogeroman gasem sogeroman sorirel jiremyo
Ge yojanen oneldo ge yope itdeyo

(That’s why, that woman loved you. Cause you were so like her
Another fool. Yet another fool. Please give me a hug before you leave me

I want to be loved, dear. That’s all I wanted. She shouts, just in her heart. just in her heart.
No one can hear her but that woman is still next you.)

 “Youngbae-ah… Jangan-jangan kamu terganggu olehku ya? Atau kamu membenciku?”

 “Aniyo, noona.”

 “Jadi, kamu mencintaiku?”

 “Tentu saja-…”

 

Ge yojaga naranen gol anayo almyonsodo ironen gon anijyo
Morel kkoya geden babonikka

Olmana olmana do norel irohge baraman bomyo honja
I baram gaten sarang gojigaten sarang gyesokheya niga narel sarang hagetni

Jogemman gakkai wa jogemman hanbal dagagamyon du bal domangganen
Nol saranghanen nan jigemdo yope isso ge yojan umnida

(Do you know that I am that woman?
You don’t do you? Because you are just a fool.

How much longer do I just have to look at you alone?
This love that came like wind, this love that is like a shit, if I continue this, will you love me?

That woman, who loves you is still next you
and she is still crying.)

 

Pandangan mataku beralih menatap bulan purnama yang bersinar tanpa satupun bintang di sisinya dari balik jendela.

“Kamu bisa menganggapnya sebagai nyanyian… atau… Petunjuk akan seseorang…”

Perkataan Chaerin terus berdenging di telingaku. Sebenarnya bagaimana Dara noona untukku? Noona? Teman? Atau…

Sebenarnya… apa yang kurasakan pada Dara noona?

***

 

Dara POV

Kakiku melangkah ringan sepanjang perjalanan pulang. Rasanya seulas senyum di bibirku tak bisa berhenti mengembang. Rasanya hormon dalam tubuhku sekarang membuncah hingga bertumpah ruah, menghasilkan perasaan yang benar-benar menyenangkan. Debaran jantung yang melompat tanpa ritmik, seolah ikut merayakan kembang api yang sepertinya sedang meletus-letus nyaring di atas kepalaku.

Aku menengadah ke atas, menatap bulan yang menyinari kota Seoul sendiri, tanpa sedikitpun percik-percik sinar di sekitarnya. Sekali lagi, seulas senyum dari kedua bibirku mengembang.

Ya Tuhan, Youngbae sudah sadar! Sadar! Terima kasih, Tuhan…

Dan dia tersenyum padaku. Dengan senyum sejuta watt yang selalu aku rindukan selama ini. Dengan mata yang selalu aku dambakan setiap malam. Dengan segala perhatiannya…

Omonaa…!!

Tiba-tiba kau teringat kejadian yang baru saja terjadi…

“Youngbae-ah… Jangan-jangan kamu terganggu olehku ya? Atau kamu membenciku?”

 “Aniyo, noona.”

 “Jadi, kamu mencintaiku?”

 “Tentu saja-…”

Jantungku tiba-tiba berdetum kencang, seolah ingin mendobrak tulang rusukku. Sebenarnya, apa yang ingin dia katakan? Tentu saja…? Iya?!

Uwaaa!!! Semoga benar-benar begitu! Ya Tuhan, semoga memang seperti itu!

Aku menatap rembulan yang seolah tersenyum padaku. Kubalas senyumannya dengan senyum tertulus yang aku bisa berikan padanya.

Tuhan, seperti janjiku padamu, akan kuberikan apapun yang Kau inginkan dariku… karena Engkau telah mengembalikan dia ke sisiku…

___________________________________________________

to be continued.

okee. bagaimana? panjang kan? semoga puass.. ^^

jelek ya? feel ga kerasa? mianhae yaa… soalnya bikinnya emang bener2 nyicil. seadanya waktu dehh pokoknya. hehee…

bagi yang belum tau, lagu yang dinyanyikan di atas adalah salah satu OST Secret Garden. Baek Ji Young – That Woman.🙂

keep comment me yaa.. please no silent readers here🙂

udah ahh, balik belajar duluu…

gomawoyooooo……..!!!!!!