Title: Couple?
Genre: Romance, comedy
Rating: G
Character: Cho Kyuhyun, Choi Hyunjoon, dan beberapa supporting cast lainnya
Disclaimer: Cho Kyuhyun punya dirinya sendiri, Choi Hyunjoon punya neni eonni, Lee Taemin punya saya punya dirinya sendiri juga, Sungra sama Jisun punya saya, Yesung ya punya dirinya sendiri, sisanya boleh dipek *ditendang

Cekidot saja chingudeul XP

“Hyunjoonie, ireona.” seseorang menepuk pipiku pelan.
“Shirheo eommaaaa, ini kan libuuur…” aku menarik selimutku hingga menutup kepala.
“Ya, ireona! Ppalli! Sudah jam sepuluh! Se-pu-luh!”
Oke, orang menyebalkan ini bukan eomma. Tapi aku belum bisa mengidentifikasi suara itu karena kesadaranku belum kembali sepenuhnya.
“Kalau kau tidak bangun dalam 5 hitungan, kucium, lho. Hana, deul, set…”
Mataku terbuka lebar. Orang itu…

“HYAAAAAA! CHO KYUHYUN! Apa yang kau lakukan disini?! Pergi! Dasar mesum!” aku refleks melempar bantal-bantal dan bonekaku ke arahnya.
“Eomonim yang menyuruhku!” ia menangkis bantal-bantal yang terbang ke arahnya. “Sekarang cepat bangun, gosok gigi, cuci muka, ganti baju! Atau perlu kugosokkan gigimu, nona Choi?”
Aku bangkit berdiri dan melempar selimutku ke arahnya. “Cerewet! Sekarang keluar!”
Ia hanya menyingkirkan selimut itu dari wajahnya tanpa beranjak sedikitpun dari tempat berdirinya. “Kau ini yeoja tapi pemalas se…”
Aku mendorong Kyuhyun keluar kamar dan mengunci pintunya dari dalam.
“Ya! Jangan tidur lagi!” teriaknya dari luar.

Sabtu pagiku rusak gara-gara makhluk mesum itu =_= dengan terpaksa aku mengambil baju santaiku dan masuk ke kamar mandi. Lebih baik aku segera melakukan perintahnya sebelum ia berhasil meminta kunci cadangan kamarku dan menerobos masuk lagi.

Aku menuruni tangga dengan sikap malas-malasan. Suasana di bawah ramai sekali, samar-samar terdengar suara eomma, Jisun eonni, dan Sungra. Ada juga suara Kyuhyun dan beberapa orang lainnya. Ada apa ini?

Kulongokkan kepalaku ke ruang tengah. TV menyala dan bungkus snack bertebaran di lantai. Sejak kapan rumah ini berubah jadi game center?

Aku menghempaskan tubuhku di sebelah Sungra yang sedang sibuk dengan komik lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Ada Jisun eonni, baru baca majalah di pojokan sofa dan Sungra yang membaca komik di sudut lainnya. Juga Kyuhyun yang sedang memilih game, Yesung oppa –namjachingunya Jisun eonni– dan satu orang namja berambut pendek warna merah. Siapa dia?

“Sungra, nuguya?” tanyaku sambil menunjuk si namja rambut merah. Sungra menoleh ke arah yang kutunjuk.
“Oh, itu Taemin, eonn,” jawabnya lalu kembali ke komiknya lagi.
“Siapa dia? Adiknya Yesung oppa?” tanyaku lagi. Bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah memanggil namja itu. Si namja rambut merah berdiri dan menghampiri kami.

“Eonni, ini Taemin. Dia namjachinguku,” kata Sungra.

Eh? Sungra yang baru masuk SMA sudah punya namjachingu? Sungra yang hidupnya hanya terpusat pada game dan manga itu?

“Lee Taemin imnida~” namja itu memperkenalkan diri sambil membungkuk sedikit. Lamunanku buyar seketika. Aku memperhatikan wajahnya, dia terlalu cantik untuk ukuran seorang namja o.o
“Ah, ne, Choi Hyunjoon imnida,” aku balas mengangguk. “Erm, kau dan Sungra… seumuran?”
“Ne, tapi aku lebih tua 3 bulan dari Sungra.” jawabnya. Wajahnya tidak terlihat seperti anak SMA kalau menurutku ._.
“Kalian sudah berapa lama pacaran?” tanyaku lagi. Sungra melotot ke arahku, wajahnya memerah. Sedangkan Taemin hanya terkekeh pelan.
“Sekitar seminggu yang lalu, nuna~” katanya sambil mengacak rambut Sungra. Eleh, anak kecil aja -….-

Tapi kenapa dongsaengku sendiri lebih dulu pacaran daripada aku? Apa salahkuuuuu?

“Kau dan Kyuhyun oppa baru jadian kemarin kan, eonni?” kata Sungra tiba-tiba. Sialan, dari mana dia tahu?
“Kyuhyun hyung sendiri yang bilang tadi,” lanjut Taemin, seolah ia bisa membaca pikiranku. Dua anak ini kenapa kompak banget sih?

Setelah acara tanya jawab nggak penting lainnya, Sungra mengusirku dari sofa. Dasar dongsaeng kurang ajar!
Saat aku berbalik, Taemin sudah menempati tempatku tadi. Sialan =_=

Akhirnya aku mengambil bantal kecil dan duduk di sebelah Kyuhyun.
“Hei, aku sudah bangun, cuci muka, gosok gigi dan ganti baju sesuai perintahmu.”
Ia hanya menoleh dan memandangku sebentar, lalu kembali memusatkan pandangan ke layar TV di depannya.
“Kau lebih mementingkan game daripada yeojachingumu, hmm?”
“Bukan begituuu~” katanya, menyadari kalau aku mulai ngambek. “Eh, kau berjanji akan main game denganku,kan?”

Aky mengerjapkan mataku tidak percaya. Kukira saat itu ia cuma bercanda, ternyata ia masih ingat. Dan tahu-tahu sebuah controller PS sudah ada di hadapanku. Aku mengambilnya dan menatap mata Kyuhyun dengan tatapan menantang.

“Oke, ayo main!”
Dia memasang evilsmirk kebanggaannya. “Semangat sekali kau, nona Choi Hyunjoon.” katanya dengan nada mengejek.
Aku memutar bola mataku.
“Mau game apa?” tanyanya sambil membuka koleksi game Sungra. Dongsaengku itu memang seorang gamer, hanya saja dia cuma main game saat dia bosan.

“Call of Duty.” jawabku. Aku paling mahir main game itu, jadi aku bisa berharap menang darinya. Walau mustahil sih ._.

Sambil menunggu game terload sempurna, Kyuhyun menjelaskan peraturan yang ada –lebih tepatnya diputuskan olehnya secara sepihak– padaku

“Kita main 3 stage. Nanti poin di setiap stage dicatat lalu ditotal. Yang memiliki jumlah nilai tertinggi pemenangnya. Kalau sama, pemenang ditentukan dari sisa nyawa. Deal?”
“Deal!” kataku sambil menjabat tangannya.

“Lalu taruhannya…”
“Sebentar, kau tidak bilang akan ada taruhan,” selaku.
“Memangnya aku harus bilang? Kau takut?” dia meremehkanku lagi.
“Tidak!”
“Oke, taruhannya, yang menang bebas menyuruh yang kalah melakukan apa saja selama yang diperintahkan tidak melanggar hukum. Eotte?”
Aku terdiam. Menyanggupi taruhan itu sama saja seperti melompat ke jurang tanpa dasar, pasti pada akhirnya aku akan kalah. Dilihat dari sisi manapun mustahil aku bisa menang melawan seorang Cho Kyuhyun yang notabene adalah pro gamer.

“Mau nggak?” tanya Kyuhyun lagi.
Aku membuang jauh-jauh ketakutanku dan mengangguk pasti. “Oke, taruhan disepakati.”
Dia terkekeh. “Jangan menyesal ya!”

Babak pertama dimulai. Stage yang dipilih Kyuhyun ini stage paling mudah, aku sering sekali memainkannya. Permainan berlangsung selama 10 menit dan berakhir dengan kemenangan di pihakku.

Kuulangi, DI PIHAKKU! Memang beda skor kami tipis sekali, tapi tetap saja aku yang menang!

“Jangan senang dulu, nona Choi. Lihat saja di babak kedua!” Kyuhyun memamerkan evilsmilenya. Aku melengos.
“Sombong sekali kau, tuan Cho!”

Pertandingan di babak kedua berlangsung sengit. Stage ini tingkat kesulitannya lebih tinggi dan aku jarang memainkannya. Kyuhyun terlihat tenang-tenang saja, sesekali ia melirikku dengan tatapan kau-pasti-kalah-kali-ini.

Benar saja, kali ini Kyuhyun yang menang. Lagi-   beda skor kami lumayan tipis.

“Aku pasti akan mengejar skormu di babak ketiga!” teriakku sambil mengepalkan tangan. Kyuhyun tertawa sambil mengacak rambutku.

Babak ketiga dimulai. Ini level paling sulit yang pernah aku mainkan dan aku sama sekali belum pernah sampai di level ini. Wajah Kyuhyun masih tenang, hanya sesekali raut mukanya berubah tanda ia sedang berkonsentrasi penuh.

Aku menyerah di tengah permainan. Sudah jelas kalau aku akan kalah, beda skornya terlalu jauh =_=

“Oke, aku yang menang, nona Choi.” kata Kyuhyun sambil menyeringai. Huah, perasaanku mendadak jadi tidak enak ._.
“Yang menang bebas memerintah yang kalah, ne?” katanya lagi, masih dengan seringaian setan di wajahnya. Bulu kudukku merinding seketika. Tuhan, tolong akuuuuuu!
Pelan-pelan aku beringsut menjauhinya, tapi tangannya menahan tanganku.

“Perintah pertama, kau harus tetap duduk di sebelahku.”
Duduk di sebelahnya? Dalam arti lain menemaninya main game sampai selesai? Bisa-bisa badanku lumutan!
Melihat wajah keberatanku, Kyuhyun membuka mulut lagi. “Yang kalah harus menuruti…”
“Ne! Ne!”
Dia tertawa puas. Aku mendorong kepalanya.

Kyuhyun kembali tenggelam dalam dunia game-nya. Aku diam saja sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
Jisun eonni masih membaca majalah di sofa. Yesung oppa duduk di sebelahnya sambil memegang novel dan sesekali mengganggu Jisun eonni. Oke, biarkan saja dua orang tua itu.
Lalu… Duo anak kecil duduk di ujung sofa yang lainnya, dengan komik bertebaran di sekeliling mereka. Jangan bilang Sungra mengambil komik-komik itu dari rak bukuku =_=

Entah kenapa, tapi aku jadi tertarik memperhatikan mereka.
Sungra menunjuk satu halaman di komiknya sambil tertawa pelan. Taemin berusaha melihat halaman itu, dan otomatis kepalanya mendekat ke arah Sungra.
Berani bertaruh, dalam 5 hitungan kepala mereka pasti sudah bersentuhan!
Aku makin sibuk memperhatikan mereka dan mulai menghitung mundur.

5, 4, 3, 2, 1…

Tepat pada hitungan 1, kepala Taemin menyentuh kepala Sungra. Benar kan tebakanku?
Aku berusaha menahan tawa sambil tetap melirik ke arah mereka. Aku butuh reaksi! Reaksi! Reaksiiiii!

Sungra diam saja, aku hapal sifatnya yang selalu cuek bebek saat membaca komik. Sedangkan Taemin, jelas-jelas dia menyadarinya, terlihat dari wajahnya yang memerah.
Dan… bukannya menarik kepalanya ke posisi semula, Taemin justru mencium pipi Sungra sekilas.

Eh, aku de javu dengan keadaan itu =_= sepertinya aku kenal seseorang yang suka mencuri kesempatan seprti itu!

Sungra menoleh dan mendapati wajah Taemin yang hanya berjarak beberapa cm dari wajahnya. IGE MWOYA? Huaaaa, aku harus lihat!

Tahu-tahu, Kyuhyun menutup mataku dengan sebelah tangan.
“Jangan diliatin, kasihan mereka.” katanya datar. Aku melepaskan tangannya dari wajahku dan melengos.
“Ya! Aku memperhatikan mereka biar ada bahan buat meledek Sungra nanti!”
“Kau eonni yang jahat,” ia terkekeh. “Sudahlah~ Sungra sudah besar! Biarkan saja!”

Aku menggembungkan pipiku dan membuang muka. Dari sudut mataku, terlihat Kyuhyun yang tersenyum kecil. Tangannya bergerak mencubit pipiku pelan.
“Ya! Apaseo!” aku memukul tangannya.

Sedetik kemudian, sesuatu yang lembut menyentuh pipiku.
“Masih sakit?” tanyanya, dengan senyum hangat yang sama dengan yang kemarin di halte. Senyuman yang hanya diperlihatkan untukku –yah, sejauh yang aku tahu sih begitu.

Dan senyuman itu mempengaruhiku untuk merengkuh kepalanya dan balas mencium pipinya.

“Jadi pergi, nggak?” tanya Kyuhyun setelah makan siang. Aku menatapnya bingung.
“Memangnya kita janjian mau pergi?”
“Kan aku sudah bilang di SMS itu~” ia menjitak kepalaku pelan.
“Hya! Kau ini senang sekali menyiksaku!” aku melotot ke arahnya yang sedang terbahak. Sialan ._.

“Mau pergi? Kemana dulu?” tanyaku. Setidaknya aku perlu tahu tujuannya, kan?
“Ada deeeeeeh~” jawabnya sok rahasia. “Sekarang ganti baju sana!”

Aku menurut sambil mengeluh. Kalau nggak tahu tempatnya mana bisa aku memilih baju? Nanti kalau pakai baju santai, tahunya ke tempat yang resmi-resmi gitu =_=
Akhirnya aku memilih opsi paling aman: jeans panjang dan blus simpel. Aku memasukkan beberapa barang ke tas selempang dan membuka pintu kamar. Ternyata Kyuhyun sudah menunggu di luar kamar.
“Oke, pakai itu saja.” katanya setelah sejenak memperhatikan baju yang kupakai. Aku menutup pintu kamar dan mengikutinya yang sudah menuruni tangga.

“Eomonim, kami pergi dulu!” pamit Kyu. Eomma menoleh dan tersenyum.
“Neee, tapi jangan lama-lama! Hyunjoona, kau tahu kan harus pulang jam berapa?”
“Arasseo eomma, annyeong~” aku melambaikan tangan sebelum keluar rumah.

Di depan rumah ada sebuah mobil terparkir.
“Sebentar, kita naik apa?” tanyaku.
“Naik ini lah!” jawabnya sambil menunjuk mobil itu.
“Kalau kau bisa naik mobil, ngapain ngebis?”
“Kan di sekolah kita nggak ada lahan parkir mobil, baboooooooooo!”

Ia membukakan pintu untukku. Manner-nya masih jalan ternyata o.o
Setelah duduk di balik kemudi, ia mulai menyalakan mesin mobilnya.
“Kita mau kemana?” tanyaku lagi.
“Pakai sabuk pengamannya.” perintahnya tanpa menghiraukan pertanyaanku.
“Aku tanya ya dijawab dulu, Cho Kyuhyun!”
“Haish! Pakai dulu sabuk pengamannya!” ia mendekat ke arahku dan memasangkan sabuk pengamanku. Ba-ba-badannya dekat sekali denganku >.<

Mobil mulai berjalan. Aku masih diam, shock dengan perlakuannya barusan.
“Masih kenyang kan?” tanya Kyuhyun. Aku mengangguk. Belum ada setengah jam kami makan siang, dan aku tahu pasti makanan di perutku belum habis tercerna.
Sudah beberapa menit kami memulai perjalanan, tapi aku masih belum bisa menebak kemana sebenarnya tujuan Kyuhyun mengajakku pergi. Awas kalau cuma mau ke game center =________=

Mobil Kyuhyun berbelok masuk ke satu ruas jalan. Setahuku di jalan ini ada taman bermain yang besar, dan di sekitarnya ada deretan pertokoan. Lalu di ujung jalan ada taman kota yang luaaaaaas sekali.
“Ini mau kemana, sih?” tanyaku tak sabar.
“Lihat saja nanti.” gumamnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan yang ramai. Aku menyandarkan tubuh ke kursi dan melihat keadaan di luar.
Seperti yang sudah aku bilang tadi, jalannya ramai. Namanya juga weekend, pasti banyak orang yang pergi untuk menghabiskan akhir pekannya.

Kalau ke taman bermain pasti penuh. Kyuhyun harusnya tahu hal itu, kan? Lagipula apa asyiknya main di taman bermain sambil berdesakan dengan ratusan orang?
Pertokoan di jalan ini juga pasti ramai. Banyak pasangan kekasih yang biasa berjalan-jalan di sekitar situ di akhir pekan, dan juga keluarga lengkap dengan anak-anak kecil yang berkeliaran kesana kemari. Oke, aku jadi malas sendiri karena membayangkannya.
Ke taman kota? Ngapain coba? Nyabutin rumput? Makan es krim di bangku taman sambil ngobrol? Amat sangat klasik sekali -……-
Tapi opsi paling mungkin memang ke taman kota. Ah terserah sajalah~

Sementara aku sibuk berpikir, mobilnya sudah berhenti. Aku melirik ke luar jendela.
Taman kota. Tebakanku benar ._.

“Ya! Turun!” teriak Kyuhyun dari luar. Kemana mannernya tadi? =_=
Aku membuka pintu dan melangkah keluar menghampirinya. Kami lalu berjalan masuk ke area taman.

“Mau ngapain kita disini?” tanyaku.
“Mm? Maiiiiiinnnn~~” jawabnya. Aku menggelengkan kepala.
Di taman itu ada air mancur yang dikelilingi beberapa bangku. Katanya, katanya yaaa, kalau kita melempar koin ke air mancur itu sambil mengucapkan keinginan kita, keinginan itu bisa terkabul. Yah, semacam wishing well gitu lah. Dan aku tak terlalu percaya dengan mitos-mitos seperti itu.
Kyuhyun menggandeng tanganku dan membawaku ke salah satu bangku di dekat air mancur.
“Mau lempar koin?” tawarnya.
“Aku nggak tertarik dan nggak percaya sama yang kayak gitu,” aku menggeleng.
“Kau yeoja yang tidak biasa.” katanya sambil tersenyum kecil.
“Yah… dan ternyata kau menyukai yeoja yang tidak biasa ini.” balasku sambil meliriknya. Aku tertawa dalam hati melihat wajahnya yang memerah.

Kyuhyun mengambil sekeping uang logam dari sakunya dan melemparnya ke kolam. Masuk! Padahal jarak bangku ke kolam air mancur itu lumayan jauh o.o
“Mau coba?” tanyanya sambil menyodorkan sekeping koin.
Aku mengambilnya. Yah, tak ada salahnya kan? Lagipula koinnya kan dari Kyuhyun, jadi aku tidak rugi~

Kulemparkan koin itu ke kolam sambil mengucapkan permohonanku dalam hati
“Kau minta apa?” tanya Kyuhyun.
“Rahasiaaaaa~” aku menjulurkan lidah. “Omong-omong, gomawo koinnya. Aku nggak jadi rugi deh!”
“2 koin itu tadi kutemukan di meja belajarmu, terus kuambil deh. Jadi itu sebenarnya uangmu sendiri.”

He?

“Itu namanya mencuri, Cho Kyuhyun!”

Setelah berkeliling taman, membeli beberapa camilan dan menghabiskannya berdua, Kyuhyun mengajakku pergi lagi. Mau kemana sekarang?

“Nggak naik mobil?” tanyaku saat melihatnya melewati mobilnya begitu saja.
“Ngapain? Cuma kesana kok..” ia menunjuk ke daerah pertokoan yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari taman kota. Aku membulatkan mulutku.

Toko-toko berderet di sepanjang jalan, memajang berbagai benda di etalasenya. Ada toko pakaian, toko hadiah-hadiah dan aksesoris, toko buku, bakery, stand-stand makanan ringan, dan beberapa cafe. 
Kyuhyun menarik tanganku ke satu toko yang menjual berbagai macam boneka dan aksesoris khas cewek lainnya.
“Hyunjoona, Hyunjoona!” panggilnya. Aku menoleh dan melihatnya memakai bando kuping kelinci. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaa, kyeoptaaaaaa!
Tiba-tiba tangannya sudah bergerak ke atas kepalaku dan memasangkan sesuatu. Bando yang sama?
“Huah, kau cocok sekali pakai bando itu!” ia mengeluarkan handphonenya dan tanpa basa-basi langsung memotretku. Sialan.
“Wallpaper baru~” katanya, lengkap dengan evillaugh.
“Hya! Jangan aneh-aneh!” aku berusaha mengambil handphone itu, tapi ia sudah keburu mengantonginya lagi. Ish, pokoknya aku harus bisa menghapus foto itu!

“Ayo selcaa~” pintanya. Aku hanya diam dan mengambil handphoneku lalu menyerahkannya ke Kyuhyun.
“Ya, rendahkan badanmu sedikit!” aku menarik bahunya agar turun. Susah kalau punya namjachingu yang ketinggian macam dia -3-

Setelah puas melihat-lihat, kami keluar dari toko itu.
“Kau lapar?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Ke cafe yang itu, yuk?” ia menunjuk ke satu cafe yang jaraknya paling dekat dengan kami. “Minum dan makan sebentar, terus pulang. Eotte?”
Aku mengangguk semangat. Kami segera berjalan ke cafe itu, yang kebetulan sedang sepi. Baguslah, pelayanannya lebih cepat~

Aku membiarkan Kyuhyun memesankan makanan kami. Sambil menunggu ia selesai memesan, aku memperhatikan keadaan di dalam cafe.
Sepi. Hanya beberapa meja yang terisi, mungkin karena ini bukan jam makan jadi tidak terlalu ramai. Dari dinding kaca cafe itu aku bisa melihat trotoar dan jalan yang ramai diluar.

“Habis ini mau kemana?” pertanyaan Kyuhyun membuyarkan lamunanku.
“Katanya pulang?” aku menautkan alis. “Terserah sih, kalau mau pergi lagi juga nggak apa.”
“Pulang saja, gameku tadi belum selesai…”
Aku langsung melempar sendok teh di depanku ke arah Kyuhyun.
“Kau ini game terus yang diingat!” aku kembali melempar satu sachet gula kemasan tepat ke wajahnya.
“Mianhaeeeeeee~”
“Kalau kau sakit gara-gara game, aku nggak mau tahu!”
“Aaah, ne, ne, ne! Stop! Jangan melempar apapun lagi!”

Aku terpaksa berhenti, padahal sebenarnya belum puas melemparinya. Tanganku meletakkan kembali pisau roti yang sebenarnya sudah siap melayang ke arah makhluk di depanku itu.
“Jangan.kebanyakan.main.game.atau.PSP.mu.ku.si.ta!”
Ia mengangguk. Master of Evil bisa kalah di tanganku, kekekekeke!

“Jadi… pulang?”
“Iyaaaa~”
Kyuhyun membukakan pintu mobilnya dan menyuruhku.masuk. Oh oh dia bisa sopan lagi ternyata ._.

Mobil melaju pelan membelah jalanan yang padat. Hanya terdengar alunan lagu dari CD Player mobil Kyuhyun, kami diam dalam pikiran masing-masing. Aku memperhatikannya yang sedang berkonsentrasi menyetir.

“Kau kenapa suka ngeliatin orang sih?” tanyanya tanpa menoleh ke arahku.
“Aku cuma heran, kenapa orang babo sepertimu bisa menyetir mobil. Begitu saja… omong-omong, memangnya kau sudah punya SIM?”
“Kalau belum punya SIM mana boleh aku menyetir, babo Hyunjoonie~”
Aku memukul lengannya. “Kayak kau nggak babo saja!”
“Sama kamu babo-an siapa?”
Menohoooooook!

Mobil Kyuhyun mulai memasuki daerah rumahku. Berarti sebentar lagi kami sampai ._.
Dan benar saja, beberapa menit kemudian Kyuhyun memghentikan mobilnya di depan rumahku. Aku segera turun dan berjalan memasuki rumah. Sempat kulihat Kyuhyun juga ikut turun. Mau ngapain dia?

“Ada yang ketinggalan. Jangan GR dulu.” katanya seolah bisa membaca pikiranku. Aku memutar bola mataku kesal.

“Kami pulaaaaaaaaaang~” teriakku di ambang pintu sambil melepas sneakers hitamku.
“Wah, sudah pulang?” terdengar suara eomma. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
Hanya ada eomma. 2 orang saudaraku itu entah pergi ke mana dengan namjachingunya masing-masing.
“Babo Kyu, apa yang ketinggalan?” tanyaku. Ia celingukan sebentar di ruang tengah yang sekarang sudah rapi itu.
“Eomonim, tadi ada PSP putih di sini tidak?” tanyanya.
“Ah~ PSP? Tadi eomonim letakkan di atas meja tengah, ada?”
“Ada, kamsahamnida eomonim!” ia menghampiri meja di tengah ruangan dan menemukannya di antara tumpukan komik dan novel.

“Jadi sekarang sudah selesai urusanmu?” aku bertanya padanya. Ia menggeleng.
“Nih.” katanya sambil merogoh sakunya dan menyerahkan kantong kertas kecil padaku.
“Apa ini?” aku membukanya, lalu mengeluarkan isinya. 2 buah gelang dan sepasang phonestrap yang berbeda warna.

“Kau mau gelang yang mana?” tanya Kyuhyun sambil mengambil salah satu phonestrap. Jelas sekali kalau kedua jenis benda itu bergenre sama: couple things.
Aku mengamati kedua gelang itu. Terbuat dari jalinan benang, sederhana dan biasa saja. Ada 2 warna, biru laut dan biru tua.

“Kau lebih cocok pakai yang ini,” aku memasangkan gelang warna biru tua di tangannya. Sementara aku memakai yang biru laut.
“Kapan kau membelinya?” tanyaku.
“Rahasiaaaa~” ia terkekeh pelan.
“Berapa harganya?”
“Rahasia jugaaa~”
Aish, dia itu =_=”

Tiba-tiba ia menarik tanganku dan menyandingkannya dengan tangannya.
“Nah, cocok kan? Aku memang pintar memilih warna!”
PLETAK
“Choi Hyunjoon! Enak aja main jitak!”