Title    : [HeeSeira Couple] Miss You

Author : Seichiko a.k.a Dhitia

Length : Oneshot

Genre  : Romance, Comedy (?)

Cast     :

Kim Heechul

Kim Seira

Other Cast

 

Recommed song : 2AM – YouWouldn’t Answer My Call

SHINee – Romantic (HeeSeira scene in the car)

*****

 

Seira memandang undangan yang tadi siang diberikan oleh Jino. Disitu tertulis bahwa Seira diundang untuk menghadiri seminar dari Perusahaan Hyundai, salah satu merk mobil terbesar di Korea. Bagi mahasiswa tingkat akhir seperti Seira, ini kesempatan yang baik dan tidak boleh disia-siakan. Seira tahu itu. Ia juga berniat untuk hadir dalam seminar tersebut. Hanya saja, kadang ada sesuatu diluar batas manusia. Takdir.

Ehm, jadi hari Rabu. Baiklah… Seira melihat lagi undangan bersampul biru tersebut. Lalu mata Seira melebar seketika. Mwo? Seminarnya didaerah Incheon? Itu berarti dua jam perjalanan dari rumahnya. Hah, ottokhae?

“Jino-ya, kau benar tidak mau ikut seminar itu?” tanya Seira ditelepon.

“Bukan tidak mau, tapi tidak bisa. Kau kan tau jika aku ada tugas wawancara dengan Pimpinan Girlz! Magazine.”

Seira mendesah pasrah. “Ara, kalau begitu aku akan pergi sendiri. Sebenarnya aku malas, aku yakin besok akan turun hujan. Tapi, eomma pasti akan mencincangku jika aku tidak datang. Haaah…”

Jino tertawa pelan, lalu seakan teringat sesuatu. “Ah Seira-ya, kenapa kau tidak meminta kekasihmu saja untuk mengantar? Lokasi seminar itu cukup jauh, dua jam. Kau bisa tersesat jika pergi sendiri.”

“Heechul oppa, namanya itu Heechul oppa. Yaa! Jino babo, kenapa kau tidak mau memanggil namanya?”

“Kekeke~” Jino terkekeh. “Ne, arayo. Tapi aku malas memanggil nama kekasihmu itu. Kalau aku panggil ahjussi boleh tidak?”

“Boleh, tapi nyawamu taruhannya!” ancam Seira sadis.

“Sudah kuduga akan begitu. Baiklah, aku tutup ya teleponnya… ” Jino mulai malas menanggapi tingkah Weird Couple.

“Yaa! Yaa! Yaa! Jino-ya, kau…”

Tuut, tuut, tuuuutttt!

Detik itu juga Seira membanting telepon rumahnya ke tembok, merasa kesal dengan tingkah abnormal Jino.

“Yaa! KIM SEIRA! Kalau telepon itu sampai rusak, eomma pastikan uang sakumu hilang 50%!” teriak eomma Seira dari arah dapur. Ternyata eomma mendengar bantingan keras tadi.

“Mianhae eomma,” kata Seira kencang, lalu segera berlari menuju kamarnya dilantai dua sebelum eomma muncul dihadapannya.

Seira menjatuhkan dirinya diatas kasur. Hari ini ia merasa lelah, karena dari pagi sampai sore ia mengantar Kimmi membeli hadiah untuk kekasihnya. Dan mengantar Kimmi itu tenyata jauh lebih parah daripada mengantar Heechul ke salon.

Bayangkan saja, selama tujuh jam kaki Seira terpaksa berjalan mengikuti Kimmi berkeliling Mall yang sangat luas itu. Dan akhirnya, Kimmi hanya membeli sebuah topi sebagai hadiahnya.

Besok pagi Seira pergi sendiri? Andwae! Permasalahan utama adalah, Seira itu sangat buta jalan. Rute yang ia hapal diluar kepala hanyalah: rumah – kampus – tempat risetnya – Gwangjin – that’s it!

“Haahhh…” Seira kembali menarik nafasnya jengah. Pandangan Seira jatuh pada iPhone berwarna putih diujung kasurnya. Telepon, tidak, telepon, tidak, telepon, tidak…

“Baiklah.”

Seira mengambil handphonenya itu dan segera menekan angka tujuh pada speed dial. Terpaksa, tidak ada jalan lain lagi.

“Yeoboseyo,” sapa suara diseberang.

“Ehm, Heechul oppa. Annyeong…” tidak ada kata lain yang bersedia keluar dari mulut Seira selain saapan malas itu.

“Aigoo, pantas cuaca hari ini aneh. Ternyata kaulah penyebabnya, kekeke~” ledek Heechul penuh semangat.

“Naega wae?” tanya Seira bingung.

“Kau, biasanya tidak mau meneleponku terlebih dahulu. Selaluuu saja, aku duluan yang meneleponmu. Tapi hari ini berbeda.” Heechul menggaruk kepalanya bingung dan merasa sedikit aneh.

“Jangan berlebihan dan berpikir yang macam-macam, Kim Heechul-ssi!” seira segera menyadarkan Heechul kejalan yang benar.

Heechul yang tadinya berbunga-bunga, kini berubah menjadi kesal. “Lalu untuk apa kau meneleponku?!”

“Emn, oppa. Besok pagi kau ada acara tidak?”

“Memangnya kenapa?”

“Jawab dulu, besok kau ada acara tidak?” kata Seira setengah memasksa.

“Ada, besok pagi aku ada pemotretan SPAO.”

“Lalu selesai jam berapa?”

“Mungkin…” Heechul melirik jam dindingnya dan membayangkan jadwalnya besok pagi. “Sekitar jam sebelas. Yaa! Mrs. Kim, kau itu besok mau kemana hah?” Heechul mulai penasaran dengan tingkah kekasihnya itu.

Seira berusaha menahan intonasinya agar tidak berubah. “Ah, ani oppa. Aku hanya bertanya. Memang tidak boleh?”

“Tentu saja boleh, aku senang jika kau mau bertanya. Sudahlah, kau berubah menjadi Petals saja. Aku akan menjawab dan membalas semua pertanyaanmu dengan cepat jika kau mau menjadi Petals,” tawar Heechul dengan narsisnya.

“Gomawoyo Heechul oppa. Tapi aku masih punya cita-cita yang tinggi. Dan aku tidak mau masa depanku hancur hanya karena menjadi fans-mu, hahaha…” seru Seira kencang.

“MWO?!”

“Sudah ya oppa, hooaammm… aku mengantuk. Aku tutup ya teleponnya.” Seira hendak menutup teleponnya, karena menurut Seira sama saja percuma, toh Heechul tidak bisa mengantarnya pergi.

“Chakkaman,” cegah Heechul dengan cepat.

“Mwo?”

Heechul menarik nafas dengan panjang. Sekali-kali ia juga ingin menjadi pasangan normal. Yang selalu mengucapkan ‘Good Night’ secara manis ditelepon. Hanya saja, kesempatan itu sangat langka. Seingat Heechul ia baru melakukannya sebanyak sepuluh kali, selama satu tahun hubungannya dengan Seira. Heechul menarik nafas lagi, lalu berbicara secara perlahan. “Sei-ya… Good night…”

“Mwo?” Seira berusaha menajamkan pendengarannya.

Good night, have a nice dream.”

“…”

I hope, tomorrow better than today…” lanjut Heechul lagi.

“…” Seira hanya bisa terdiam, detik berikutnya ia nyaris tersedak karena menahan tawa. Tapi Seira berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawanya itu. Ia takut kepalanya dipukul Heechul.

“Yaa! Kenapa kau hanya diam? Kau tidak ingin membalasku?!” tanya Heechul kesal, karena merasa dipermainkan oleh Seira.

“Hahaha, untuk apa? Bukankah setiap malam kau selalu mengucapkan kata itu padaku. Dan setiap malam itu juga, aku selalu membalasnya. Apa sekarang harus dibalas juga? Ah, aku bosan oppa.”

Mata Heechul seketika melebar. Aigoo~ Kim Seira kejam! gadis itu benar-benar keterlaluan. “Yaa! Kali ini berbeda Kim Seira-ssi. Hari ini aku mengucapkannya secara langsung, LANGSUNG!”

“Lalu apa bedanya Kim Heechul-ssi?”

“Ck~” Heechul mendecak kesal, kenapa gadisnya bisa sangat idiot seperti ini. “Jelas saja berbeda. Selama ini aku hanya mengucapkannya lewat pesan singkat, dan kau juga membalasnya lewat pesan.”

“Lalu?”

“Ya, aku juga mau kau membalasku secara langsung…” ucap Heechul dengan wajah memerah dan menggigit ujung bibirnya pelan. Untung saja pembicaraan ini hanya lewat telepon. Jika tidak wajah merah padam Heechul bisa dijadikan bahan celaan Seira seumur hidup.

Seira melirik jam dindingnya sekilas, sudah jam sebelas malam. Aigoo~ Seira harus segera menyelesaikan pembicaraannya ini, atau besok ia bisa bangun kesiangan. “Araaa, aku akan membalasmu oppa.”

“Jheongmal?” Heechul tersenyum senang. Kyuhyun yang kebetulan lewat jadi takut sendiri. Tidak biasanya hyungnya itu terlihat senang saat malam hari begini.

“Ne… Good night Heechul oppa. I hope tomorrow always better than today. Semoga aku bisa cepat menyelesaikan skripsiku, dan oppa bisa menyelesaikan pekerjaan oppa dengan baik. Semoga Super Junior selalu menjadi Boy Band paling TOP di dunia. Semoga appa dan eomma mau membelikanku iPad dan PSP terbaru. Semoga eonnie mau memberikan sepeda Fixie-nya untukku, dan semoga aku bisa membeli komik terbaru awal bulan nanti.”

Tawa Heechul mengembang saat mendengar kalimat panjang kekasihnya itu. Sepanjang sejarah, baru kali ini Seira mengucapkan harapannya langsung pada Heechul. Rasanya menggelikan. Ternyata sampai kapanpun, Seira tetaplah gadis kecil yang polos. Dengarlah betapa sederhana permintaannya itu. Seira seperti gadis kecil yang sedang berdoa pada Tuhan di malam tahun baru. Apa aku boleh memiliki Seira selamanya, Tuhan? Mendadak satu pinta memenuhi otak Heechul.

“Heechul oppa, kau tertidur ya?” pertanyaan Seira membuyarkan lamunan Heechul.

“Aniii, aku hanya ikut berdoa sepertimu.”

Seira menganggukan kepalanya. “Aigoo, apa Siwon oppa telah menghipnotismu? Kenapa kau berubah menjadi baik seperti itu? Kekeke~” Seira tertawa puas.

“Baiklah, kalau begitu aku tutup ya teleponnya…” seru Heechul geram, dan segera menutup teleponnya.

“Yaa! Heechul oppa!!!”

Tidak sopan! Seira hanya bisa berdecak kesal.

*****

…Wednesday, 07.00 AM…

 

“Aigoo, Seira-ya ini sudah jam tujuh. Cepat berangkat atau kau akan terlambat!” teriak eomma dari lantai bawah.

“Ne, sebentar lagi eomma,” jawab Seira kencang sambil membereskan tasnya yang masih berantakan. Seira mencoba memeriksa tasnya kembali. iPod sudah, handphone sudah, dompet sudah, undangan sudah. Hah, beres! Seira menepuk tangannya kencang seperti pesulap gadungan.

Akhirnya tepat pada pukul setengah delapan Seira keluar rumah dengan berat hati. Entahlah, menurut feelingnya hari ini akan ada hal buruk.

Seira benar-benar mengantuk selama berada di bus. Sepanjang perjalanan matanya nyaris tertutup karena mengantuk. Demi perjalanannya, Seira tidak boleh tidur, karena ia takut tersesat. Dan dengan mata setengah terpejam Seira menyalakan iPod miliknya.

Biarpun ia kekasih dari member Super Junior, tapi ia tidak pernah memutar lagu SuJu saat mengantuk. Karena menurut Seira mendengar lagu-lagu SuJu hanya akan menambah rasa kantuknya. Pilihan Seira jatuh pada lagu-lagu B2ST dan Big Bang yang menurutnya jauh lebih membuat mata dan telinganya berdengung seakan nada lagu itu berteriak ‘IRONA!!!’ padanya.

Sebelum tersesat, Seira segera mengambil inisiatif untuk menelepon Kimmi yang sangat hafal jalan-jalan di Seoul. Setidaknya ia masih punya penunjuk jalan, anggap saja ini sebagai imbalan atas kebaikan Seira kemarin.

“Ne, dongsaeng-ya?” sapa Kimmi ditelepon. Sama seperti teman kampusnya yang lain, Kimmi pun memanggil Seira dengan sebutan dongsaeng karena usia dan wajah Seira yang paling muda diantara temannya yang lain.

“Kimmi-ya, ottokhae? Aku sudah naik bus. Lalu setelah ini aku harus turun dimana?” tanya Seira dengan nada panik.

“Kau bilang saja ingin turun di halte Ochaeguk. Setelah itu kau hanya tinggal berjalan kaki sebentar.”

“Jheongmal?”

“Ne, kau ikuti saranku saja.”

“Arasseo. Kimmi-ya, gomawoyo…” kata Seira pasrah.

“Dongsaeng-ya, kau harus hati-hati. Ara?”

“Ne,” jawab Seira lemah.

Setelah menutup telepon, Seira berjalan ke arah depan. Dengan sopan Seira meminta kepada ahjussi yang menyetir untuk menurunkannya di halte Ochaeguk.

Hah, sedikit lega!” ucap Seira dalam hati. Sekarang ia tinggal duduk tenang, dan menununggu ahjussi menurunkannya di halte. Dan, bingo! Seira akan sampai ditempat tujuannya dengan selamat.

Perlahan, mata Seira mulai terpejam karena rasa kantuknya yang sudah akut. Samar, suara B2ST nyaris tidak terdengar ditelinga Seira. Dan Seira tidak sadar lagi dengan suasana sekelilingnya…

“Hooaaammm…” mulut Seira terbuka karena menguap. Dengan pelan mata Seira pun ikut bergerak, dan segera menegakkan posisi duduknya yang tadi sempat menyandar pada kaca bus.

Dimana ini?” tanya Seira dalam hati. Tempat ini sangat sepi, apa benar ini alamat seminarnya?

Tiba-tiba Seira merasa takut, dengan sopan Seira segera bertanya pada ahjumma yang ada dihadapannya. “Cogiyo,” ucap Seira pelan.

“Ne…” ajhumma yang duduk di kursi depan segera menengok.

“Ahjumma, apa aku boleh bertanya?” Seira meminta izin terlebih dahulu pada ahjumma yang baru saja dikenalnya.

“Ne, tentu saja.”

“Ahjumma, apa halte Ochaeguk masih jauh?”

“Halte Ochaeguk? Dimana itu?” ahjumma itu malah balik bertanya.

Seira menggaruk kepalanya pusing. Sepertinya ia salah bertanya. “Kata temanku itu di Incheon, ahjumma.”

“Mwo? Incheon?” ajhumma itu terlihat sangat terkejut. “Kalau Incheon itu sudah lewat sejak tadi. Sebentar lagi kita akan sampai Ansan.”

“Mwo?” pekik Seira tertahan.

“Aigoo, kalau ingin ke Incheon, lebih baik kau turun di halte depan itu.” Seorang ahjussi di bangku belakang segera memberi saran pada Seira.

“Ne, gomawoyo…” ucap Seira sambil menundukkan kepalanya penuh hormat.

Dengan wajah pucat, Seira berdiri mematung di pinggir jalan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ini dimana? Kenapa terasa asing. Hah, ottokhae?

Seira melihat ada dua ahjussi yang sedang mengobrol dipinggir jalan. Daripada Seira tambah tersesat, sebaiknya ia bertanya. Ya, ia harus bertanya.

“Cogiyo,” seru Seira ramah.

“Ne…” balas seorang ahjussi tidak kalah ramah.

“Maaf ahjussi, apa aku boleh bertanya?”

“Tentu saja.”

“Itu, aku tersesat. Aku ingin pergi ke Incheon. Lalu aku harus naik apa agar bisa sampai sana?” tanya Seira langsung pada pokok permasalahan.

“Aigoo, Incheon sangat jauh dari sini. Kau perlu naik bus yang tadi kau naiki. Lalu turun di Incheon. Lalu… bisa juga naik… dan…”

Entah pengaruh gerimis atau memang otak Seira yang babo, semua penjelasan ahjussi itu terasa tidak jelas. Ah, entahlah. Yang jelas Seira hanya ingin menyeberang jalan, dan berharap mendapat bala bantuan dari Doraemon.

“Kimmi-ya…” suara Seira nyaris bergetar saat menelepon Kimmi.

“Wae?”

“Aku tersesat!”

“MWORAGO?” jerit Kimmi saat mendengar kalimat Seira.

“Ne, aku tersesat. Sampai Ansan. Hah, ottokhae?”

“Aigoo, Seira-ya. Bagaimana mungkin kau bisa tersesat? Bukankah aku sudah memberitahu alamat itu padamu.”

“Na do Molla. Tadi aku sudah bilang pada ahjussi bahwa aku ingin turun di halte Ochaeguk, tapi ia tidak menurunkanku disana.”

Kimmi mengacak rambutnya frustasi. “Seira-ya, kalau begitu kau pulang saja. Masalah seminar itu jangan dipikirkan, pasti akan ada kesempatan lagi.”

“Omoo~” pekik Seira saat menyadari bahwa ada butiran air yang jatuh ditangannya.

“Wae?”

“Hujan. Aigoo… Kimmi-ya aku akan kehujanan! Bagaimana aku bisa pulang?” air mata Seira ikut menetes. Ia sangat takut sendirian seperti ini.

“Disini juga mendung. Sebaiknya kau segera berteduh.”

“Ne, aku mau mencari tempat berteduh dulu. Annyeong…” setelah menutup telepon Seira segera berlari ke sebuah rumah kecil yang ada di dalam pintu gerbang. Paling tidak, rumah itu masih memiliki atap untuk berteduh.

“Eonnie, apa aku boleh berteduh disini?” ucap Seira pada seorang wanita yang sedang duduk di dalam rumah kecil itu. Ternyata ia adalah penjual minum dan makanan ringan, dan dilihat dari dekat tempat ini sangat gelap dan agak usang.

“Silahkan.”

Setelah lima menit berlalu, wanita itu mengeluarkan sebuah kursi kecil dan memberikannya pada Seira. “Gomawoyo.”

Wanita itu tersenyum ramah.

Hujan semakin deras, bahkan disertai angin kencang. Dan Seira semakin merasa takut berada ditempat ini. Suasananya sangat sepi dan agak gelap, padahal masih siang. Tiba-tiba pandangan Seira terpaku. “Eonnie, sebenarnya tempat apa ini?” tanya Seira hati-hati.

“Mana?”

“Itu,” Seira menunjuk sebuah rumah dengan tatapan matanya.

“Itu rumah, dan yang disebelahnya itu adalah… pemakaman.”

“MWO?” pekik Seira setengah tidak percaya.

“Ne, memangnya kau tidak tahu?”

Seira menggeleng lemah. Hancur sudah hari ini. Setelah tersesat, kini ia terjebak ditempat yang, ehm… agak menakutkan seperti ini.

“Apa eonnie tidak merasa takut?” tanya Seira penasaran.

“Tidak, aku sudah biasa berjualan disini.”

Hujan mulai membasahi pakaian Seira. Meskipun ia sudah berteduh, tapi hujan itu tetap membasahi tempat duduk Seira. Dengan menggigil Seira berdiri, dan memasang puppy eyes agar eonnie itu mau mengizinkannya masuk. Tapi hasilnya nihil, Seira hanya boleh duduk di depan tokonya.

*****

…SPAO Office…

 

“Kau kenapa hyung?” tanya Kyuhyun yang bingung melihat tingkah Heechul yang memang abnormal.

Handphoneku lowbat, lalu mati. Hah, ottokhae?” Heechul mengeluh pelan. Hari ini ia tidak bisa menelepon Seira.

“Kau kan punya dua handphone.”

“Yang satu itu aku titipkan pada manajer Hwan.”

“Hyung babo!”

Pletaaak!

“Yaa! Sakit hyung! Dasar Kim Heechul tidak punya perasaan!” protes Kyuhyun sambil memegang kepalanya yang sakit.

“Sebelum mati tadi, ada satu pesan masuk. Aku takut jika itu dari Seira,” kalimat Heechul jelas sebuah bentuk ketidakpedulian terhadap keluhan Kyuhyun.

“Sudahlah, Seira itu tidak akan mempedulikanmu hyung. Terima saja nasibmu…” ucap Kyuhyun sambil menepuk pundak Heechul tanda berduka.

“Heechul-ssi, ini jadwalmu.” Manajer Hwan muncul dari balik pintu dan membawa selembar kertas. Heechul segera membaca isi kertas tersebut. Dan… jadwalnya hari ini benar-benar gila!

Pemotretan untuk SPAO belum selesai. Dan setelah selesai nanti, Heechul harus menghadiri acara off-air sebagai MC. Dan nanti malam seperti biasa, ia akan menjadi DJ diacara YoungStreet. Ya Tuhan, tidak adakah sedikit waktu untuk Seira? Heechul sangat merindukan gadis itu, sudah satu minggu mereka tidak bertemu. Rindu, rindu, rindu!

Untuk kesekian kalinya, Heechul merasa menyesal menjadi seorang artis. Pikiran yang mulai muncul sejak dirinya menjadi kekasih Seira. Entah berapa banyak weekend yang ia habiskan untuk bekerja, sehingga membuat kencan mereka beralih menjadi weekday. Dan sekarang, weekday mereka juga terganggu.

“Menyebalkan!” runtuk Heechul, nyaris merusak jadwal yang ada ditangannya.

“Hyung…” Kyuhyun, Siwon, Donghae dan Ryeowook menatap takut.

“Heechul-ssi…” panggil Leeteuk tidak kalah takut.

*****

…Ansan…

 

Seira menatap handphonenya dengan tatapan ingin membunuh. Sudah lima belas menit Seira mengirim pesan singkat pada Heechul, tetapi belum mendapat balasan juga. “Yaa! Heechul oppa, kau itu sangat menyebalkan!!!”

Wanita yang berada didekat Seira menatap aneh, tapi Seira sudah tidak peduli.

Sambil menunggu balasan dari Heechul, Seira coba untuk menelepon Jino. Paling tidak, sahabatnya itu selalu punya banyak waktu untuknya.

“Yeoboseyo…”

“Jino-ya.”

“Seira-ya, ada apa meneleponku?” tanya Jino mulai khawatir.

“Aku tersesat!”

“Mworago?” Jino berteriak sehingga membuat beberapa orang yang sedang berjalan menatapnya sinis.

“Aku tersesat. Aku lapar. Dan aku kehujanan.”

“Omoo~ bagaimana bisa? Yaa! Kim Seira, bagaimana kau bisa tersesat? Kau itu bukan anak kecil lagi, ara?”

“Molla, tiba-tiba saja aku tersesat. Dan tempat ini cukuuup, menyeramkan.”

“Sekarang kau ada dimana?”

“Sebelum Ansan, tepatnya aku tidak begitu tahu.”

“Kalau begitu kau jangan pergi kemana-mana. Tetaplah disitu. Sekarang aku belum bisa menjemputmu karena masih ada pekerjaan. Nanti jika aku sudah selesai, dan hujan belum reda, aku akan segera menjemputmu.”

“Gwaencahana, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu menjemputku. Jika hujannya reda aku akan pulang sendiri. Aku bisa naik bus yang tadi kan.”

Jino sedikit bernafas lega. “Kalau begitu baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Jika terjadi sesuatu, segera telepon aku.

“Ne…”

Seira menatap hujan dengan pandangan tegang. Entah kenapa anginnya bertambah besar, dan itu membuat Seira semakin takut. Handphone Seira bergetar, ternyata eomma yang menelepon. Pasti Jino sudah memberitahu eomma.

“Ne, eomma.”

“Sei-ya, kau kenapa bisa tersesat? Apa perlu eomma menjemputmu?” tanya eomma dengan nada khawatir.

“Tidak perlu eomma, aku bisa pulang sendiri. Hanya saja nanti, setelah hujannya reda. Eomma, mianhae. Aku tidak bisa ikut seminar itu,” ucap Seira penuh penyesalan sambil menggigit bibir bawahnya.

Suara eomma yang tadinya penuh nada khawatir dan lembut kini berubah. “Sei-ya, eomma sudah bilang padamu agar berangkat lebih pagi. Tapi kau malah lamban sekali. Seandainya kau berangkat lebih pagi, tentu kau tidak akan tersesat dan kehujanan seperti ini.”

Mata Seira melebar menahan tangis. Ia berharap eomma mau menenangkannya, tapi yang terjadi adalah kebalikannya.

“Eomma sudah menduga bahwa kau ak…”

Dengan gerakan cepat Seira segera mematikan handphonenya. Bukan bermaksud kurang ajar, hanya saja jika eomma terus memarahinya, keadaan Seira akan lebih buruk. Dan ia tidak mau menangis kencang ditempat seperti ini.

Hanya ada satu tempat yang rela menampung keluhan Seira. Dan Seira segera menulis beberapa kalimat di akun twitternya.

 

Dan… disinilah aku berada. Ansan. Hujan deras. Tersesat!

 

Entah ada berapa banyak temannya yang bertanya. Tapi tidak ada satu nama yang sejak tadi ia harapkan muncul. Seira kembali menahan tangis.

Ditengah ketakutan seperti ini, Seira masih mengingat Heechul. Ia ingin bercerita tentang kondisinya yang mengenaskan pada Heechul. Bahwa dirinya tersesat, lapar, takut, menggigil kedinginan karena hujan. Tapi apa yang ia dapat? Hanya harapan kosong. Tidak ada pesan balasan, mention atau apapun itu. Seperti menegaskan bahwa tidak ada makhluk bernama Kim Heechul dibelahan bumi ini!

Seira mendesah kesal. Perlahan ujung matanya mulai perih karena menahan air yang mendesak keluar. Ia tahu bahwa akan terjadi hari seperti ini. Hari dimana Heechul akan sangat sibuk dengan segala pekerjaannya, lalu melupakan Seira. Biasanya Seira dapat memahaminya, tapi hari ini ia merasa lelah. Tersesat dengan perut lapar di tempat seram, dan eomma yang sempat memarahinya. Seira butuh seseorang. Hanya satu orang. Dan pilihan Seira jatuh pada Kim Heechul. Tapi kenyataannya adalah, Heechul tidak mempedulikannya! Bagusss, sepertinya tidak ada hari yang lebih buruk selain hari ini!

Seira menenggelamkan wajahnya pada kedua tangan. Kepalanya agak terasa berat, entah apa penyebabnya. Mungkin karena efek ketakutan yang teramat sangat besar.

 

Dua jam kemudian hujan berhenti. Dengan langkah pelan Seira pergi dari tempat itu, setelah mengucapkan terima kasih pada eonnie tentunya. Seira menaiki bus yang sama seperti tadi, dan setelah empat jam Seira sudah sampai lagi di daerah rumahnya.

Seira merasa lelah, ia tahu jika akan ada omelan Part-2 dari eomma. Sebaiknya Seira pergi ke rumah Hae Ri dulu, sahabatnya sejak kecil. Lagipula ia ingin mengembalikan novel SeoulLove milik Hae Ri.

*****

…Seira’s Bed Room, 10.30 PM…

 

Masih terbayang satu hari tadi. Hari dimana Seira merasa bahwa ia memiliki nasib paling malang didunia. Diantara dua orang yang ia percaya, Heechul oppa dan eomma. Semuanya sama saja! Tidak ada yang bisa dipercaya dan mempercayai Seira. Eomma apalagi. Tadi saat Seira pulang, baru saja Seira menampakkan batang hidungnya, eomma langsung memarahi dan menasehati Seira dengan sadis. Seolah eomma tidak khawatir atas kejadian yang menimpa Seira tadi.

Bukannya lari dari masalah, hanya saja ia merasa lelah dengan hari ini. Terlalu lelah. Sejujurnya, Seira tidak butuh banyak orang untuk mempercayai ceritanya tadi. Seira hanya butuh satu orang. Cukup satu orang! Tetapi menyedihkannya, orang itu bukanlah eomma atau Heechul, melainkan Jino. Hanya Jino yang bisa memahaminya. Betapa menyedihkan tidak dipercaya oleh orang yang kau sayangi.

“Baiklah, aku akan membuatmu merasa bersalah… Kim Heechul-ssi!” desis Seira sadis.

Ditatapnya iPhone putih itu dengan kesal. Dengan sekali gerakan handphone Seira berubah mejadi benda mati yang tidak bisa dihubungi siapapun. Biar saja jika Heechul khawatir, itu bukan urusan Seira.

Detik berikutnya, Seira mengambil setumpuk tissue. Sejak pulang tadi kata-kata eomma sangat menyakitkan hati. Karena sampai detik ini air mata Seira terus mengalir tanpa henti. Padahal matanya sudah bengkak, hidungnya sudah sulit bernafas, dan rambutnya sudah acak-acakan tidak berbentuk.

Dalam mimpi sekalipun, masih terbayang kemarahan eomma padanya. Jika ada yang memberikan Seira satu hadiah, tentu ia akan meminta Doraemon. Kenapa? Karena Seira sangat ingin memutar waktu yang kini berjalan sangat lambat dan membuat Seira terus berputar pada satu masalah itu.

*****

…Super Junior’s Dorm 12th floor, 01.15 AM…

 

Heechul mulai menyalakan handphone yang sejak tadi terkapar tidak berdaya. Dengan cepat ia segera membuka akun twitternya. Aigoo, ada banyak berita yang baru. Rupanya sudah seharian ini Heechul tidak membuka twitter.

“Aissh jinjja, hari ini apa saja sudah yang aku lakukan?!” tanya Heechul pada dirinya sendiri.

“Berhenti bersikap aneh, Kim Heechul-ssi…” ucap Leeteuk yang kebetulan lewat di depan kamar Heechul.

“Berhenti mengusikku, Leeteuk-ssi!” balas Heechul galak. Saat mendengarnya bulu kuduk Leeteuk berdiri, langsung saja ia pergi meninggalkan Heechul sendiri. Terserah saja, Heechul mau pergi ke luar angkasa sekalipun Leeteuk tidak akan peduli, ia akan pura-pura pingsan.

Heechul kembali fokus pada twitternya. Sejenak handphonenya bergetar, menandakan ada pesan masuk. Mungkin pesan tadi pagi.

“IGE MWOYA???” teriak Heechul saat melihat isi dari pesan itu.

 

From: My Seira

Oppa, help me!

 

Heechul melihat jam pengiriman pesan tersebut, tenyata pukul sepuluh pagi tadi. Tepat disaat handphone Heechul mati.

“Omonaaa, Sei-ya.”

Hanya itu yang bisa Heechul ucapkan. Heechul akui Seira memang gadis manja, tapi ia tidak pernah menunjukkannya pada Heechul. Jika Seira sampai meminta pertolongan, pasti ada kejadian menyeramkan yang menimpanya.

“Yaa!!!” Heechul berteriak kesal karena handphone Seira tidak dapat dihubungi. Heechul ingin menelepon rumahnya, tetapi takut karena ini sudah larut malam. Lagipula Seira pasti sudah tidur.

Dengan berat hati Heechul menghentikan panggilannya. Pandangan Heechul tiba-tiba berhenti pada layar iPhone yang masih menyala. Twitter, ya, hanya itu satu-satunya sumber informasi yang Heechul punya.

Heechul segera mengetik username milik Seira, karena mereka memang tidak saling memfollow. Seira yang mengusulkannya, ia takut jika ada Netizen yang curiga karena Heechul memfollow seseorang dari kalangan biasa sepertinya.

@Seichiko17, search…

Jino, Jino, dan Jino. Nama itu selalu memenuhi TL Seira. Entah berapa kali mereka saling membalas dalam sehari.

“Aigoo~” jerit Heechul untuk kesekian kalinya.

 

Dan… disinilah aku berada. Ansan. Hujan deras. Tersesat!

 

Jadi ini alasan Seira meminta pertolongannya tadi pagi. Gadis itu tersesat! Seira tersesat! Dan Heechul tidak dapat menjalankan peran sebagai kekasih yang baik untuknya. Demi apapun, Heechul benar-benar merasa bersalah! Malam ini ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, sibuk memikirkan apakah Seira sudah sampai rumah, apa tadi ia kedinginan. Hei, jika tadi kehujanan, itu bisa membuatnya sakit! Hidung Seira itu sangat tidak tahan dengan udara dingin.

Kepala Heechul keluar dari balik selimut. Tidak ada kabar dari Seira membuat perutnya sakit, Aissh, jinjja! Gadis itu benar-benar membuat kepala Heechul meledak secara perlahan.

Heechul mengambil iPhone yang ternyata ada diujung kakinya. Mungkin melihat wajah Seira dapat membuat perutnya tidak sakit lagi. Heechul mulai membuka folder bernama MyWorld? yang ia beri password KimsCouple. Ia memperhatikan berbagai macam ekspresi wajah Seira. Pandangannya terpaku pada foto aneh Seira. Gadisnya itu, dia memang ajaib…

 

 

           

“Kekeke~” Heechul tertawa pelan saat melihat foto Seira dengan wajah yang aneh. Foto itu diambil sekitar satu bulan yang lalu.

Senin siang itu Heechul memutuskan untuk mengajak Seira kencan. Agar tidak ketahuan oleh netizen, Heechul meminta Seira untuk memakai kacamata. Well, Seira memang memakai kacamata. Tetapi bentuknya sangat aneh, dan itu membuat Heechul menertawakan Seira tanpa henti sepanjang perjalanan.

“Oppa, chakkaman…” Seira menarik jaket Heechul dari belakang.

“Ada apa?” tanya Heechul cepat. Ia sedang tidak ingin terlihat oleh netizen saat ini. Karena Seira sedang tidak menyamar sebagai anak sekolah.

“Oppa foto aku!” pinta Seira setengah memaksa.

“Mwo? Disni? Ditempat ramai seperti ini?” tanya Heechul setengah tidak percaya.

“Ne, oppa.”

“Andwae! Kau mau kita diburu oleh para netizen ya?”

Seira berjalan mendekat, membuat Heechul menahan nafasnya sejenak. Dengan kaki jinjit Seira berbisik ditelinga Heechul. “Kalau begitu cepat foto aku sekarang! Kau tidak ingin jika aku berteriak ‘ADA SUPER JUNIOR HEECHUL’ kan oppa?” bisikan Seira lebih tepat disebut sebagai ancaman.

“Arasseo.” Heechul menyerah. Dengan terpaksa ia mengeluarkan iPhone dan segera menghitung. “Hana, dul, set…”

Clik!

“Aku lihat, aku lihat!” jerit Seira senang dan merebut handphone Heechul. “Wah, aku memang selalu mempesona…” puji Seira pada dirinya sendiri. Ternyata virus narsis dari Heechul telah menyebar ke seluruh penjuru Korea.

“Aigoo~ anak ini!” Heechul menjitak kepala Seira pelan.

Setelah diperhatikan lagi, Seira memang selalu mempesona. Ia tidak pernah menunjukkan wajah manis saat difoto. Ia tidak pernah takut untuk terlihat jelek. Tapi justru itu yang membuat Heechul jatuh cinta.

“Kau memang cukup mempesona. Seira-ya, nan bogoshipo…” ucap Heechul, ia terus menatap wajah Seira. Kejadian sebulan lalu itu memang tidak dapat Heechul lupakan. Tapi sejak kapan Heechul dapat melupakan kejadian yang dilewatinya bersama Seira? Tidak akan pernah bisa, sekecil apapun kenangan itu.

*****

…Seoul University, 07.20 AM…

 

Seira mengaduk secangkir coklat hangat dihadapannya dengan malas. Pagi ini perutnya sungguh lapar. Makanan kantin sangat tidak menggugah selera Seira. Ia ingin masakan eomma, tapi ia sedang melancarkan aksi protesnya dan berangkat pagi-pagi sekali sebelum eomma kembali memarahinya.

Kriuuukkk…

Perut Seira kembali berbunyi, tanda laparnya sudah sangat akut. Hah, ottokhae? Seira sungguh benci sarapan diluar dan makan seorang diri. Yang membuatnya tampak seperti orang paling kesepian didunia.

“Haaahhh…” keluh Seira yang kini menyandarkan kepalanya pada meja kantin.

Djiks! Satu jitakan pelan mendarat dikepala Seira. Dengan wajah kesal ia segera mengangkat wajahnya.

Wajah Jino disana, dihadapan Seira dan sedang menampilkan senyum (sok) polosnya yang membuat Seira mual. Detik ini Seira bersyukur karena belum sarapan, jadi rasa mualnya itu tidak akan keluar.

“Hah, sarapan dengan wajahmu itu sangat tidak menyehatkan!” ucap Seira lemas dan menyandarkan lagi kepalanya pada meja.

“Yaa! Irona! Kalau begitu sini aku beri tenaga agar kau kembali bersemangat.” Kini Jino ikut duduk disebelah Seira. Dan meletakkan sesuatu diatas meja. Sebuah plastik besar berwarna putih.

Hidung Seira seperti mencium sesuatu. Haruuum, pasti ini ulah Jino. Wajah Seira menoleh dan mendapati satu kotak pizza dihadapannya.

“Hwoa, Park Jino daebak!!!” seru Seira riang dan dengan gerakan cepat sepotong pizza sudah berpindah ditangannya.

“Tentu saja. Kau tahu, Park Jino itu sangat hebat dan tampan!” Jino memuji dirinya sendiri.

“…”

“Betapa beruntung gadis yang mendapatkanku kelak, kekeke~” Jino terkekeh pelan.

“…”

“Yaa! Kenapa kau tidak membalas perkataanku?” tanya Jino heran.

Seira menoleh dan mengusap sisa saus yang ada dimulutnya. “Oh, sejak tadi kau itu bicara padaku ya?” tanya Seira sok polos.

“Yaa! Kim Seira menyebalkan!” tangan Jino nyaris mendarat dikepala Seira lagi, seandainya tidak ada tangan Kimmi yang menghalanginya.

“Yaa! Jangan pukul kepala dongsaengku!” omel Kimmi dan memberikan cakaran kecil pada tangan Jino.

“Aigoo~ kenapa yeoja menakutkan bisa ada disini?” tanya Jino bingung, mengingat bahwa Kimmi berbeda Fakultas dengannya dan Seira.

Kimmi mengacuhkan Jino dan ikut duduk disisi kanan Seira. “Seira-ya, bagaimana kemarin? Kau pulang jam berapa? Bagaimana bisa kau tersesat, bukankah aku sudah memberitahu alamatnya padamu,” Kimmi bertanya panjang lebar. Jino saja sampai pusing dibuatnya.

“Kemarin sungguh menyebalkan. Aku pulang jam lima sore. Molla, aku juga tidak mengerti kenapa bisa tersesat,” jawab Seira sesuai dengan pertanyaan yang diajukan Kimmi.

“Seira-ya, ghayeopseora.”

*****

…05.10 PM…

 

Heechul membereskan semua barang bawaannya di lokasi syuting. Hari ini ia berniat menemui Seira. Mungkin saat bertemu nanti, Seira akan membunuhnya. Tapi Heechul tidak peduli. Baginya, hanya dengan melihat Seira secara langsung sudah lebih dari cukup.

“Hah, sejak kapan Seoul menjadi macet seperti ini!” runtuk Heechul saat melihat deretan mobil dihadapannya. Otak Heechul sedang terbalik mungkin. Setiap jam pulang kantor, jalanan di Seoul memang agak ramai. Hanya saja ia sudah tidak sabar untuk sampai di rumah Seira.

Lima puluh menit kemudian, Heechul sudah sampai dipintu pagar rumah Seira. Dengan pelan ia segera memarkirkan mobilnya, kemudian keluar dan sedikit merapikan rambutnya yang tadi sempat ia acak-acak karena frustasi.

Rumah keluarga Kim itu tidak terlalu besar, hanya saja terlihat sangat asri. Hampir seluruh bagian rumahnya terbuat dari kayu. Didepannya ada berbagai macam bunga yang digantung, sebagian koleksi dari eomma Seira. Dan jika ingin sampai ke pintu utama, harus melewati tangga terlebih dahulu.

Heechul menaiki tangga perlahan, dan sebelum menekan bel ia kembali merapikan rambutnya di depan jendela rumah Seira. Mungkin jendela itu kini berubah fungsi menjadi cermin.

Tinggg…

Eomma Seira mendengar suara bel yang nyaring dari dapur. Aigoo~ kenapa Seira harus menekan bel segala. Biasanya ia langsung masuk dan menyelinap ke dapur, membuat eomma Seira terkejut. Anak itu benar-benar…

Brak! Eomma Seira membuka pintu dengan wajah kesal, bahkan pancinya masih terbawa ditangan. Sesaat setelah membuka pintu, eomma Seira terkejut dan segera menyembunyikan panci itu dibalik punggungya. Ternyata yang datang adalah kekasih putrinya, yaitu Kim Heechul.

“Ahjumma, anyyeong…” Heechul menunduk hormat, seketika matanya menatap aneh karena melihat ekspresi wajah eomma Seira yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.

“Ne, Heechul-ssi masuklah.” Eomma Seira mempersilahkan Heechul untuk masuk. Dan pamit sebentar ke dapur untuk menaruh panci.

Heechul menatap rumah Seira beserta isinya. Sofa ini kelihatannya baru, lalu ada beberapa bagian yang diubah. Ah, rasanya sudah lama ia tidak main kesini. Faktor utamanya adalah, ayah Seira itu agak galak. Faktor kedua, kakak Seira (Kim Sandara) yang usianya sepantar Heechul itu sangat senang mengganggunya. Faktor ketiga, Heechul tidak suka pacaran di tempat yang ramai, ia lebih senang mengajak Seira ke Dorm lantai 12. Kenapa? Karena di lantai itu sangat sepi, jadi Heechul bisa mengerjai Seira sesuka hatinya.

“Heechul-ssi, bagaimana kabarmu?” tanya eomma Seira, lalu ikut duduk di sofa yang menghadap langsung ke Heechul.

“Baik ahjumma. Ahjumma sendiri bagaimana? Apa ahjumma dan ahjussi sehat?” kalimat itu bukan hanya formalitas. Karena sesungguhnya Heechul memang peduli pada keluarga Seira.

“Baik, hanya saja kemarin ahjumma sempat naik darah.” Wajah eomma Seira berubah merengut.

“Ne?”

“Anak manja itu sangat senang membuatku naik darah.”

“Nugu?” tanya Heechul tidak mengerti, lalu teringat kata anak manja yang eomma Seira katakan. Ah, pasti gadis itu yang dimaksud. “Seira?”

“Siapa lagi.”

“Memang ia kenapa?”

Eomma Seira segera menceritakan kejadian kemarin. Hari dimana Seira harus menghadiri seminar, namun tersesat hingga ke Ansan. Sebenarnya eomma Seira sangat khawatir, dan kalimat kekhawatirannya itu berubah menjadi omelan. Karena tidak terima, Seira pun menangis dan menganggap jika eommanya kejam.

Heechul menunggu lanjutan dari eomma Seira.

“Heechul-ssi, ajhumma itu sangat mengkhawatirkannya. Tapi ahjumma merasa jika Seira tidak serius. Ia bahkan sengaja datang terlambat, padahal ia tidak tahu tempatnya. Ah, entah bagaimana cara mengatasi anak itu.”

Heechul bergumam dalam hati ‘oh, jadi begitu’. Dari penjelasan eomma Seira barusan, Heechul mengambil keputusan jika itu hanyalah salah paham. Seandainya Seira mau mendengar penjelasan eommanya, dan ahjumma mau menurunkan intonasi suaranya sedikit, tentu masalah ini tidak akan menjadi panjang.

Hari sudah malam, dan Seira belum menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Pikiran Heechul bercabang, tidak biasanya Seira pulang malam. Karena Heechul tahu, Seira sangat anti gelap. Sejak tadi pun, Heechul mencoba untuk menghubungi Seira. Tapi hasilnya nihil. Nomornya bahkan tidak aktif.

Eomma Seira mencari jalan lain, yaitu dengan menghubungi Jino, sahabat Seira sejak masih sekolah. Biasanya jika Seira pulang malam dan lupa menelepon, Jino akan memberi kabar pada eomma Seira. Dengan senang hati Jino melaporkan kejadian apa saja yang sudah Seira lakukan.

Sayangnya, nomor handphone Jino juga tidak aktif. Sudah tiga kali eomma Seira mencoba meneleponnya. Dan setelah panggilan keempat, ada bunyi sambungan telepon. Nomor Jino telah aktif kembali.

“Yeoboseyo,” sapa Jino sopan, karena ia itu adalah nomor telepon rumah Seira.

“Jino-ya,” panggil eomma Seira.

“Ne, ahjumma.”

“Jino-ya, apa Seira bersamamu? Sekarang sudah jam delapan, dan Seira belum pulang. Ahjumma sudah menelepon, tapi nomornya tidak aktif.”

Jino menggaruk kepalanya gatal. Oke… tadi pagi Jino, Seira dan Kimmi memang bertemu di kampus. Lalu jam lima sore mereka membubarkan diri. Kimmi kembali ke toko cokelat milik keluarganya, Jino langsung pulang kerumah, dan Seira? Ah, Jino babo! Tadi Seira itu tidak bilang ingin pergi kemana. Ia hanya bilang bahwa Jino tidak perlu mengantarnya pulang. Setelah itu, Seira pergi entah kemana.

“Mianhae ajhumma, aku tidak tahu Seira pergi kemana. Karena kami sudah membubarkan diri sejak jam lima sore tadi. Saat aku ingin mengantarnya pulang, Seira menolak. Aku pikir Seira akan langsung pulang.”

“Keuraeyo. Kalau begitu ya sudah, ahjumma akan mencari Seira sendiri.” Eomma Seira terkejut karena Heechul sudah muncul dibelakangnya. Ia berbisik dan meminta eomma Seira untuk memberikan telepon itu padanya. Ia ingin bicara dengan Jino.

“Jino-ssi,” kini telepon sudah berpindah tangan.

Alis Jino terpaut, kenapa suara ahjumma berubah menjadi suara laki-laki. Atau ini adalah ayah Seira?

“Nugu?” Jino bertanya hati-hati.

“Na, Kim Heechul.”

Ya Tuhan, jadi Heechul itu sedang berada dirumah Seira! Jerit batin Jino. Lalu kenapa ia merebut telepon milik ahjumma. Djiks, Jino sangat tidak suka pada Heechul. Dan jelas ia malas untuk bicara dengannya, walau hanya lewat telepon.

“Ada apa Heechul-ssi?”

“Kau tahu dimana tempat favorit Seira? Atau yang biasa Seira datangi jika ia sedang ingin sendiri.”

Jino menangguk, sepertinya kekasih Seira itu tidak terlalu buruk. Otaknya cukup pintar. Tempat favorit Seira ya? Kenapa Jino tidak berfikir kesana sejak tadi. Mendadak Jino teringat akan satu tempat. Dulu, dirinya dan Seira suka ke tempat itu jika bolos sekolah. Tapi mereka sudah lama tidak kesana. Jadi Jino agak sangsi jika menyebutkan tempat itu.

“Yaa! Jino-ssi, apa kau mendengarku?” tegur Heechul yang sedang menahan kesal karena Jino mengabaikannya.

“Dulu kami pernah ketempat itu saat masih sekolah. Tapi saat kuliah sudah jarang. Aku tidak yakin jika Seira pergi ke sana.”

“Dimana tempat itu?”

“Ah, kau tidak perlu khawatir. Biar aku yang pergi kesana. Lagipula tempat itu agak terpencil. Hanya aku dan Seira yang tahu jalan ke tempat itu. Kau kan bukan penduduk asli daerah ini.”

“Andwae!” teriakan Heechul membuat Jino terkejut. Pantas Seira bilang bahwa Heechul itu orang yang sangat galak. “Biar aku saja yang pergi kesana. Tugasmu hanya memberitahukanku dimana alamatnya,” perintah Heechul semena-mena. Ia tidak ingin Jino menemui Seira. Ia ingin dirinyalah yang menemukan Seira pertama kali. Egois? Memang. Tapi itulah Heechul.

“Baiklah, aku akan memberitahu tempat itu padamu.” Jino menyerah. Ia masih sayang pada hidupnya, jadi tidak mau mencari masalah dengan Heechul. Meskipun dalam hati Jino sangat ingin mencari Seira. Sahabat yang paling Jino sayangi di dunia ini melebihi apapun.

*****

…08.35 PM…

 

Sudah lima belas menit Heechul mencari lokasi yang tadi Jino katakan. Harusnya tidak butuh banyak waktu untuk kesana, karena Jino bilang tempat itu cukup dekat dengan rumah Seira. Tapi masalahnya adalah, Heechul tidak hafal daerah ini. Yang ia tahu hanya jalan utama menuju rumah Seira, hanya itu saja. Berbeda dengan Jino yang memang tinggal di daerah ini.

Heechul mengutuk dirinya sendiri, menyesal karena menolak tawaran Jino. Harusnya Heechul mengizinkan Jino utuk mencari kekasihnya itu. Namun ego dan sedikit rasa cemburu mengalahkan segalanya! Yang paling fatal, ia lupa meminta nomer telepon Jino. Jadi tidak ada yang bisa Heechul tanyai lagi sekarang.

Kembali ke jalan utama. Heechul mencoba untuk mengulang perintah Jino setelah dua kali gagal. Dan menjalankan mobilnya dengan sangat pelan. Baiklah, tadi Jino bilang ia harus berjalan lurus. Heechul segera menjalankan mobilnya. Setelah sampai Pet Shop, lalu belok ke kiri. Didepan sana, ada sebuah pohon besar, dan segera belok ke kanan. Sekitar seratus meter dari situ, akan ada satu rumah besar berwarna putih… ah itu dia rumahnya! Heechul lalu turun dari mobil dan berjalan sesuai dengan perintah Jino.

Heechul kembali fokus dan mencoba mengingat kembali perintah Jino yang sangat panjang. Tepat disebelah rumah putih itu, ada jalan kecil yang ditutupi oleh tanaman hias. Lalu, berjalan menerobos jalan itu. Sekitar tiga puluh meter kemudian, akan ada pintu masuk ke sebuah taman. Dan voila, Heechul sampai juga pada akhirnya.

Perlahan Heechul berjalan ke dalam taman. Tempat ini agak gelap, karena hanya dihiasi lampu berwarna kuning disetiap sudutnya. Meski membuat bulu kuduk berdiri, tapi harus Heechul akui jika taman ini sangat indah karena banyak bunga dan permainan didalamnya. Dan karena letak taman yang terpencil, Heechul yakin jika taman ini jarang dikunjungi orang. Benar-benar tempat yang pas untuk kencan, hehehe… (LOL)

Heechul menajamkan matanya, dan menatap sekitar taman. Pandangannya jatuh pada satu sosok yang sedang duduk diatas ayunan dengan malas. Heechul segera berjalan pelan mendekatinya. Dan menepuk pundaknya pelan dari belakang.

“Ommoo~” Seira terkejut dan jatuh dari ayunan dengan sempurna. Ia nyaris berteriak saat tepukan pelan itu mendarat dipundaknya.

“Yaa! Sei-ya…” Heechul mendekati Seira yang masih tertunduk sambil menutup wajahnya di atas pasir.

Sadar dengan suara yang dikenalnya, Seira membuka matanya dengan cepat. Dan mendapati wajah Heechul yang mulai mendekat. “Yaa! Heechul oppa, kau mau membuatku mati terkena serangan jantung ya?!” Seira menginjak kaki Heechul dengan sepatunya.

“Kau mau membuat kakiku lumpuh ya?!” Heechul balas menarik ujung rambut Seira yang terurai.

Seira menarik tangan Heechul yang tadi hinggap dirambutnya, lalu memegang tangan itu dengan lembut dan senyum mengembang.

Heechul terpana saat Seira memegang tangannya. Untuk pertama kali selama setahun ini Seira mau memegang tangannya terlebih dahulu, biasanya selaluuu saja Heechul yang memulainya.

Seira mendekatkan tangan itu, dan… hap!

“Arrggghhh!” Heechul berteriak kencang saat Seira memasukkan tangan kanan Heechul ke mulutnya, lalu menggigitnya kencang hingga berbekas.

“Rwaswakan kwau!” suara Seira tidak terdengar jelas karena masih mengigit tangan Heechul kencang.

“Lepaskan!” Heechul menahan kepala Seira dengan tangan kirinya, dan berusaha menarik tangan kanannya itu. Sayangnya usaha Heechul gagal. Gigi Seira masih membuat tangannya sekarat. Heechul yakin jika gigi Seira seluruhnya adalah taring. Dan tangan Heechul akan mengeluarkan darah sampai anemia.

“Andwae! Siapa suruh mengerjaiku!”

Heechul tidak kehabisan akal, tapi idenya kali ini agak sedikit gila. Jika melakukan ide ini, ia yakin 100% jika bukan hanya tangannya yang putus, melainkan Seira akan menyiram bensin ketubuhnya. Tapi itu masalah nanti, yang penting sekarang adalah menyelamatkan tangannya dulu. Ia tidak mau terkena rabies karena gigitan Seira yang semakin kencang. (-__-!!)

Chu!

Satu kecupan mendarat di pipi kanan Seira. Karena terkejut, Seira segera melepaskan tangan Heechul dan kini mulutnya terbuka lebar.

“Aigoo~ yeoja vampir!” keluh Heechul sambil mengusap tangannya yang tidak berbentuk karena banyaknya cetakan gigi Seira yang menghiasi.

Seira terdiam, tidak menyangka akan mendapat ciuman di pipinya. Tunggu dulu, ciuman? Biarpun hanya di pipi, tetap saja namanya ciuman. Oh My Gosh, Heechul oppa telah mengambil ciuman pertamanya.

Wajah Seira mulai merengut, ia kesal karena dipermainkan oleh Heechul. Dengan langkah kesal Seira datang menghampiri Heechul, dan menginjak kaki Heechul untuk yang kesekian kalinya.

“Yaa! Berhenti menindasku!!!” teriak Heechul kesal, tangannya hampir saja melayang ke wajah Seira, namun ia masih mengusai emosinya saat menatap wajah polos dengan mata melebar yang terlihat SANGAT kesal dihadapannya. Heechul itu memang galak, tidak segan memukul orang yang mengganggunya. Namun saat berhadapan dengan Seira, sifat galaknya itu hilang. Ia tidak ingin menyakiti Seira, apalagi membuat wajah Seira terluka, meskipun hanya setitik.

Sadar jika perbuatannya malam ini keterlaluan, Seira mulai mengubah raut wajahnya dan berkata pelan, “Habis, oppa duluan yang menggangguku.”

“Aku hanya menepuk pundakmu, dan kau menginjak kakiku. Aku hanya menarik ujung rambutmu, dan kau menggigit tanganku hingga nyaris putus. Dan aku hanya…” Heechul menelan ludahnya, bagaimana menjelaskan kejadian yang terakhir itu.

“Mwo?!” tanya Seira galak. Ia ingin tahu bagaimana Heechul dapat menjelaskan kejadian barusan.

“Aku juga melakukan hal itu karena kau tidak melepaskan gigitanmu! Tidak ada cara lain.” Heechul yakin jika wajahnya sudah memerah dan segera meledak karena ingat kejadian barusan. Heechul menggigit bibir bawahnya pelan. Heechul tahu jika seumur hidupnya, Seira belum pernah berciuman. Tapi kini Heechul merebut ciuman pertamanya, jelas saja Seira merasa kesal.

Seira berjalan kearah ayunan yang tadi ia duduki, lalu mengambil ranselnya dengan kesal. Dan kaki Seira berjalan keluar taman, meninggalkan Heechul yang masih memasang wajah babo-nya seorang diri.

“Sei-ya, kau mau kemana?” Heechul berteriak panik saat melihat Seira pergi.

Seira semakin melebarkan langkah kakinya, sedangkan dibelakangnya Heechul terus mengekor. Masalahnya adalah, tubuh Seira itu tidak terlalu tinggi, sehingga kakinya juga tidak panjang. Jika dibandingkan tubuh Heechul, jelas saja Seira kalah.

“Mianhae…” Heechul kembali menepuk pundak Seira dari belakang.

“Lepas!” Seira menggerakkan bahunya agar tangan Heechul pergi dari situ.

“Seira-ya, jangan seperti itu. Aku mencarimu karena ingin menyelesaikan masalah, bukan bertengkar seperti ini.”

Seira terdiam, kadang ingin rasanya ia berubah menjadi dewasa. Menghadapi semua masalah dengan kepala dingin. Tapi sifatnya childish-nya itu selalu datang mengganggu. Dan lagi-lagi, emosi menguasi sebagian otaknya.

“Ayo ke mobilku,” ajak Heechul, Seira hanya menanggapi dengan anggukan pelan. Heechul berniat untuk menggandeng tangan Seira sampai ke mobil, namun ia batalkan niat itu. Mengingat akan ada masalah baru jika hal itu terjadi.

Seira berjalan pelan menuju mobil Heechul, dengan jarak beberapa meter dari sisi Heechul. Ia sedang malas berdampingan dengan namja galak itu.

Heechul membuka pintu mobilnya dan menyuruh Seira masuk. Setelah di dalam mobil, ia tidak langsung menjalankan mobilnya. Masih ada banyak hal yang harus Heechul selesaikan. Dan Heechul rasa mobil ini tidak terlalu buruk.

“Hari ini kau pergi kemana saja?” Heechul mengawalinya dengan pertanyaan ringan.

“Kampus.”

“Ini sudah malam, kenapa kau tidak pulang ke rumah dan pergi ke taman gelap itu seorang diri. Apa kau tidak tahu jika eomma-mu sangat khawatir?”

Seira mendesah pelan. “Aku sedang ingin sendiri. Dan rumahku bukan tempat baik untuk menyendiri.”

Heechul mengangguk, mencoba memahami sifat Seira. Childish syndrome, itulah penyakit yang sering menyerang kekasihnya itu. Usianya sudah 21 tahun, tapi jebaaal, sifatnya sama saja seperti anak berusia 15 tahun. Tidak jarang Heechul kecewa dengan sifat Seira. Namun sekali lagi, jika sudah berhadapan dengan Seira, Heechul akan berubah menjadi orang paling kalah sedunia.

“Mianhae… kemarin handphone-ku mati, tepat disaat pesan darimu masuk. Jadi aku tidak tahu jika kau tersesat.”

Seira menghela nafas. Merasa bahwa ia harus menceritakan kejadian kemarin. Untuk apa dipendam lama-lama, itu hanya akan membuatnya kesal sendiri. “Kemarin, mungkin adalah hari yang paling sial sedunia.”

Heechul menengadahkan kepalanya untuk mendengar cerita Seira.

“Aku tersesat. Aku sudah bilang pada ahjussi bahwa aku ingin turun di halte Ochaeguk, tapi ahjussi itu lupa menurunkanku. Lalu aku turun dari bus sebelum lebih jauh tersesat. Saat aku turun bus itu, hujan turun. Aku berteduh saja disebuah toko kecil. Meskipun berteduh aku tetap kehujanan. Karena eonnie penjaganya tidak mengizinkanku masuk kedalam toko. Pakaianku basah dan aku kelaparan. Setelah mengamati, tempat itu sangat menyeramkan, apa kau tahu aku berteduh dimana?”

Heechul menggeleng lembut.

“Pemakaman. Tenyata tidak jauh dari situ ada sebuah pemakaman. Saat tersesat dan merasa takut seperti itu, hanya eomma dan Heechul oppa yang terlintas diotakku. Tapi menyebalkannya, oppa tidak membalas pesanku dan tidak ada kabar sama sekali. Sedangkan eomma, ya… eomma memang meneleponku. Awalnya eomma merasa cemas dan berniat untuk menjemputku. Lalu kekhawatiran eomma berubah menjadi omelan. Karena kesal, aku tutup saja telepon dari eomma.”

Entah apa lagi yang harus Heechul katakan. Begitu kasihan gadisnya itu, dan ia tidak dapat membantunya sama sekali.

Seira menghela nafas, dan kembali melanjutkan kalimatnya. “Aku sudah bilang pada eomma bahwa aku tidak sengaja tersesat, tapi eomma tidak mempercayaiku. Eomma membuatku menangis semalaman.”

“Jinjjayo?”

“Aku hanya butuh satu orang untuk mempercayaiku. Satu orang, dan itu sudah cukup. Tapi sepertinya tidak ada yang mempercayaiku. Eomma tidak percaya padaku. Dan oppa tidak menghubungiku. Disaat seperti itu, beruntung masih ada Jino. Dia sangat mengkhawatirkanku. Padahal dia tidak pernah terlintas diotakku sama sekali.” Seira menutup ceritanya dengan senyum sinis.

“Aku, merindukanmu…” ucap Heechul tanpa melihat kearah Seira.

“Ne?”

“Kau sadar tidak, sudah satu minggu ini kita tidak bertemu. Jadwalku sangat padat, dan itu membuatku ikut gila. Aku bahkan jarang membuka twitter, kekeke~” Heechul tertawa pelan.

Seira ikut tertawa. Namja yang satu ini memang sangat narsis. Disaat jadwanya padat sekalipun, ia masih mengingat twitter. “Kekeke~ narsis!”

Heechul menatap Seira yang masih tertawa kencang. Dan seketika wajah Heechul berubah serius. Seira segera menghentikan tawanya.

“Mianhae… Jheongmal mianhaeyo.”

Detik itu juga, jantung Seira terasa mau copot. Ia tidak menyangka bahwa mendengar kata maaf dari Heechul bisa berakibat fatal pada jantungnya.

“Aku tahu, aku tidak cukup baik untukmu. Aku tidak punya banyak waktu untuk menemanimu, berbeda dengan Jino. Aku tidak bisa memperhatikanmu setiap saat. Masalah kau yang tersesat, aku benar-benar menyesal. Tapi sebelum aku membaca pesan darimu, handphoneku mati. Dan entah apa saja yang aku lakukan sehari kemarin, sampai aku tidak punya waktu untuk istirahat. Aku baru membaca pesan itu saat tengah malam. Dan kau sengaja mematikan teleponmu karena kesal padaku kan? Fiuuuh, Sei-ya… Kau benar, aku memang menyebalkan Jika kau mau memukulku, pukul saja. Aku terima.”

“Jinjjayo?”

Heechul mengangguk yakin. Tangan Seira hendak memukul kearah Heechul, namun Seira menarik tangannya kembali.

“Wae?” tanya Heechul saat melihat Seira menarik tangannya.

“Tidak mau! Nanti kau membalasku dengan yang lebih kejam,” sindir Seira tajam, mengingat balasan apa yang harus ia terima saat pertengkaran di taman tadi. Seira mengalihkan pandangannya ke luar mobil.

“Kekeke~” Heechul menyadari kemana arah pembicaraan Seira. Heechul yakin jika wajah gadis itu sudah merah sekarang, sama deperti wajahnya. “Mianhae, aku sengaja melakukannya.”

“Mwo?” kini tangan Seira telah meninju bahu Heechul dengan agak keras. Saat mengucapkannya tadi, Seira melihat tulisan yadong yang sangat besar dikening Heechul.

“Aigoo~ gigitanmu tadi itu sangat tajam. Lama-lama aku bisa rabies, araaa? Hanya cara itu yang melintas diotakku. Lagipula… aku kan hanya mencium pipimu. Aku yakin jika eomma dan appa-mu juga sering mencium pipimu.”

“Tapi kau itu bukan eomma atau appa-ku!”

“Memang bukan, aku itu Kim Heechul… Kekasih Kim Seira yang sangaaat tampan daaannn mempesona.”

“Jinjjayo? Coba aku lihat.” Seira memajukan wajahnya untuk memperhatikan wajah Heechul. Berkali-kali matanya berkedip, seolah menilai Heechul dengan seksama. “Aigooo~ Heechul oppa, kau itu memang sangaaaaat tampan!” jerit Seira histeris dengan gaya aegyo. Seira merasa mual sendiri setelah mengatakan kalimat itu… *huweee :p*

Heechul berniat untuk menjitak kepala Seira. Karena menurut Heechul, gaya aegyo Seira itu sangat mirip dengan yang sering Sungmin lakukan. Dan itu membuat Heechul kesal. Jangan sampai pukulan untuk Sungmin ikut mendarat dikepala Seira.

“Jangan mengikuti jejak Sungmin!”

“Hahaha…” Seira semakin puas menertawakan Heechul.

“Hehehe…” Heechul ikut tertawa setelah menyadari kebodohannya. Hari ini, meskipun sebentar tapi terasa cukup berarti bagi Heechul. Bisa tertawa kencang bersama Seira, sudah membuatnya senang. Rasa rindunya yang kemarin, kini terasa menguap.

“Sudah cukup, perutku sakit oppa.”

“Kalau begitu ayo kita pulang. Sekarang sudah malam, eomma-mu pasti khawatir.”

“Ne…”

Heechul menjalankan mobilnya dengan pelan, dan sepuluh menit kemudian mobil mereka sudah sampai didepan pintu pagar rumah Seira.

Seira turun dari mobil, diikuti oleh Heechul. Karena sudah malam, Seira melarang Heechul untuk masuk. Seira takut jika appa-nya akan memarahi Heechul. Biar nanti ia saja yang menjelaskan pada appa dan eomma-nya.

“Masuklah, aku tunggu hingga kau masuk ke dalam rumah,” tawar Heechul. Seira segera mengiyakan, karena ia memang penakut.

Kepala Seira menghilang dari balik tangga, dan Heechul berniat untuk masuk ke dalam mobil. Tapi kemudian ada teriakan dari atas tangga sana…

“Heechul oppa, gomawoyo…” kepala Seira muncul lagi dari balik tangga. Seira menyandarkan tangannya pada tangga.

Heechul berdiri di dekat mobilnya, menatap Seira dengan senyum mengembang yang memperlihatkan giginya. Lalu Heechul melayangkan tangannya keatas kepala hingga membentuk tanda love. “Kim Seira… saranghae.”

Seira membalas tanda cinta Heechul dengan teriakan kencang. “YAA! HEECHUL OPPA, MAU SAMPAI KAPAN KAU MEMBUATKU MUAL?! INI SUDAH MALAM OPPA, ARASSEO?”

“Aissh, jinjja!!!” Heechul mengacak rambutnya frustasi. Merasa gagal lagi melakukan hal romantis pada Seira.