Title: MEMORY CONSTELLATION

Author: SWORDMASTER

Cast[s]:

Kim Yesung as Jerome Vladimiresçu

Teresa Lohengrin

Nora Lavedris

Kim Kibum as Bryan Trevor

Choi Siwon as Andrew Descartès

Genre: angst, mecha, sci-fi

Rating: 15+

Disclaimer: segala singkatan yang ada disini bukan punya daku kecuali IMARC, IMA, ReNARP, FRAU, dan SAD. Karya ini dilahirkan dari imajinasi daku, bikinnya makan banyak energi. Jadi jangan seenaknya salin-tempel alias copy-paste!

Length: oneshot, 4.874 words

Photo credit: Eros Academy, Lee John Barnes, dan NASA [lewat teleskop Hubble]

DON’T BE SILENT READER

PLEASE READ, COMMENT, AND LIKE

NO BASHING

“Teresa, apa kau baik-baik saja?”

“Sejauh ini… ya—oh, tidak! Shield-ku tidak bisa berfungsi! Jerome, aku tidak bisa memakai shield-ku! Apa yang harus kulakukan?!”

“Aku tidak bisa mendengarmu!”

“Suhu disini terus naik! Aku merasa panas…!”

“—Katakanlah, Teresa!”

“Aku kepanasan! Aku tidak bisa bernapas…! Tolong aku…!”

“—Apa yang terjadi?!”

“Oksigen, oksigen…! Aku kepanasan! Apa yang harus kulakukan?! Jerome, aku kepanasan! Suhu terus naik, tolong aku…!”

“Aku tidak bisa mendengarmu…!”

“Disini panas, disini sangat panas…! Aku tidak bisa bernapas! Jerome, tolong aku, lakukan sesuatu…! Aku kepanasan!”

“Bicaralah padaku, Teresa…!”

“Aku kepanasan…! Jerome—aku melihat api…!”

“Katakanlah sesuatu, apa yang terjadi?!”

“Api, api…! Jerome, AKU TERBAKAR…!”

Jerome Vladimiresçu tersentak. Hal barusan memang hanya mimpi, namun segalanya terasa begitu nyata baginya, sebuah masa lalu yang buruk dan betah bercokol. Bagaimanapun juga, hal itulah yang membawanya pada posisi yang sekarang ini ia tempati. Cepat matanya mengerjap, perlahan diliriknya jarum-jarum jam weker diatas meja.

Ah, entah siang atau malam rasanya sama saja.

Ia bangkit dari posisi tidur sambil melakukan peregangan. Sebelah kepalanya berdenyut. Ia pegangi pelipisnya sambil mengedar pandang mengeksplorasi ruangan sempit yang dindingnya tersusun dari konstruksi baja berlapis itu. Kamarnya, yang sekarang dihuninya sendiri setelah rekan-rekan seperjuangannya tewas dalam perang Ragnar. Hampir setengah tahun sendirian rasanya masih tetap ada yang kurang, ada yang ganjil, ada yang kosong. Terutama karena kepergian seseorang yang sangat ia cintai…

Teresa Lohengrin, wanita Albion berambut tembaga lurus yang harus meregang nyawa karena sabotase pihak tak bertanggung jawab di lapisan termosfer. Kasusnya sederhana: shield yang seharusnya bisa melindunginya dari pengaruh kenaikan suhu mendadak tak bisa digunakan dan hal ini berakibat pada panas ekstrim tanpa penghalau yang akhirnya membakar hangus Teresa sekalian dengan unit-nya. Tragis, bahkan disaat-saat terakhir yang genting itupun Jerome tak bisa menolong. Tapi setidaknya ia merasa sedikit tenang karena pihak yang secara tidak langsung menyebabkan kematian Teresa telah ia habisi, ia kalahkan dalam perang. Lalu sebagai imbalan atas kerjanya yang mengagumkan—yang tak terlalu ia hiraukan—ia naik kasta sebagai anggota special force, seorang petinggi, sekaligus pimpinan divisi builder tingkat mahir.

Mengabaikan rasa sakit yang timbul di kepalanya, Jerome segera merapikan diri dan memakai seragamnya untuk mengontrol kerja para builder di bawah. Builder, para mekanik yang tugasnya bukan cuma mengerjakan konstruksi tapi juga membantu penelitian, seperti asisten. Ia heran. Perang sudah selesai tapi afiliasinya tetap menuntut dibuatnya senjata. Jikalau memang mereka ingin membuat perang lagi, Jerome janji, ia tak akan ikut. Ia sudah kenyang melihat orang-orang sipil dijadikan tumbal. Ia sudah bosan melihat orang-orang yang berharga baginya jatuh sebagai korban. Lebih dari itu semua, ia sudah sangat malas diperlakukan layaknya makhluk tak bernyawa yang bisa diperintah sesuka hati. Menembak, merusak, membunuh, melakukan hal-hal tak terpuji samasekali bukan apa yang ia harapkan sejak awal. Apa yang ia inginkan sebatas membuat perdamaian tanpa ada yang terluka—kecuali pihak antagonis yang memang harus disingkirkan, tentunya. Ia rela menyumbangkan seluruh skill dan ilmunya demi tujuan itu.

Setelah mematut diri di cermin dan menata ulang rambutnya yang kusut separuh, Jerome menyambar seutas kalung bergantung kartu tanda pengenal yang rebah di meja dekat jam weker. Ia memakainya. Sekilas ia tertegun akan apa yang tertera disana,

IMARC

International Mechanical Affiliation Research Center

Jerome Vladimiresçu

Expert Builder Division’s Head

Hampir dua tahun sudah Jerome bekerja di IMARC, sebuah pusat riset pengembangan senjata berbahaya yang dibangun diawang-awang, mengambang diluar lapisan atmosfer, sebagai sebuah divisi yang menjadi cabang IMA—International Mechanical Affiliation. Sebenarnya tempat ini sudah tak pantas lagi disebut ‘pusat riset’, karena selain melakukan penelitian, para staf IMARC juga membangun senjata perang yang disebut unit sehingga IMARC bisa juga disebut ‘pangkalan’. Unit sendiri merupakan sejenis senjata mekanik yang diinstal pada tubuh robot-robot gigantik menggunakan energi nuklir sebagai bahan bakar utama operasi. Selain itu, kata ‘unit’ juga mengacu pada robot-robot tersebut. Agar bisa digunakan seperti seharusnya, unit harus diluncurkan melalui sebuah sirkuit yang terpasang di lengan-lengan markas IMARC—pangkalan—oleh pilot bekerjasama dengan operator pusat sirkuit.

Beberapa bulan terakhir ini Jerome menyibukkan diri dalam risetnya tentang bahan konstruksi armor yang cukup kuat bagi unit untuk menahan gesekan atmosfer tanpa shield. Riset ini bisa jadi dianggap tak penting sebagian besar staf IMARC, tapi bagi Jerome, sangat penting. Apa yang dialami Teresa menjadi dasar yang cukup kuat baginya untuk terus melanjutkan riset.

“Senior, campuran logam transisi kopernisium tidak bisa digunakan.”

Seorang builder wanita menyeru pada Jerome saat lelaki bermata tipis itu menuruni anak tangga. Telinganya berdiri mendengar unsur nomor 112 disebut. Kopernisium, logam transisi yang bahkan lebih volatil daripada hydragyrum, digunakan sebagai alloy melawan lapisan udara bersuhu ribuan kelvin. Seingat Jerome dirinya tak pernah meminta bawahannya menggunakan unsur itu. Ia cepat-cepat mendekatinya.

“Siapa yang memintamu menggunakan kopernisium?”

“Ah—itu… Senior Descartès…”

Jerome menggeleng, “Descartès… selalu ikut campur…” katanya, yang lebih seperti bicara pada dirinya sendiri. “Lalu kau menurut begitu saja?”

Builder bawahan Jerome mematukkan kepala satu kali. Jerome mendengus keras.

“Kopernisium, nomor atom 112, massa atom 285, struktur elektron [Rn]5f146d107s1. Kau mau menggunakan unsur seberat dan serapuh itu untuk campuran armor? Berapa nilai kimia-mu? Kenapa tak sekalian saja kau masukkan unsur kembarannya?” pertanyaan Jerome trankuil tapi sarkastik. Builder bawahannya mengkerut, terlihat begitu bersalah dan lugu. Entah bagaimana pimpinan IMARC bisa memasukkan wanita seperti dia ke divisi builder dengan tuntutan tugas ekstrim semacam ini. Dia kurus, penurut, dan daya pemahamannya fluktuatif. Kasihan jika dia harus berbaur dengan builder lain yang bandel dan intelejensianya menanjak. Bisa-bisa nanti dia malah melakukan sesuatu yang tidak tepat dan berakhir dengan hukuman Jerome, lantas nanti Jerome kena sembur pimpinan IMARC.

“Ma-maaf, Senior…” tunduknya.

“Sadarkah kau jika kopernisium adalah unsur fluida? Dengar itu, fluida. Segera ganti kopernisium-mu. Aku tak mau melihatmu menggunakan unsur yang tak masuk akal lagi…” Jerome berbalik, bersiap naik ke pangkalan, “…terutama atas pemintaan Andrew…”

“Baik, Senior. Tapi—dengan apa?”

Jerome buru-buru hilang. Tak ia hiraukan teriakan wanita bersuara cempreng dibawahnya yang pusing tujuh keliling akibat kesalahpahaman instruksi. Ia ingin mendatangi suatu tempat. Ia ingin menjejakkan kaki ke bumi, mendatangi lokasi tempat dulu ia dan Teresa sering menghabiskan waktu mengamati konstelasi sambil menebak benda apa yang mengorbit di pusatnya. Jerome akan launching.

___

“Aih… apa-apaan Senior Vladimiresçu itu? Aku tidak mengerti…”

Seorang builder wanita menghentak-hentakkan kakinya ke lantai logam markas IMARC. Ekspresinya tampak sangat sebal. Ditinggal sendirian, padahal tak tahu apa yang harus dilakukan. “Bukannya Senior Vladimiresçu itu kepala program ReNARP? Bisa-bisanya dia meninggalkan bawahannya seperti ini…”

ReNARP, ReNewing Armor Research Program, demikian istilah yang digunakan untuk menyebut proyek sensasional Jerome. Sedangkan anak ini, Nora Lavedris, adalah seorang builder baru yang langsung masuk dalam daftar builder tingkat mahir setelah ditarik dari CNES (Centre National d’Études Spatiales) oleh pejabat tinggi IMARC, menjadi builder wanita pertama. Tapi sayangnya, kemahirannya dalam bidang astrofisika sering terganggu karena kebiasaannya untuk percaya pada orang lain. Ia gampang ditipu, sekaligus gampang linglung.

Seseorang menepuk pundak Nora dari belakang dan menyeletuk, “Jangan paksa Jerome, dia tak akan bergeming kalau begitu. Biarkan sajalah. Yang perlu kau lakukan hanyalah mengganti unsur fluida-mu yang jelas ditentang Jerome itu dengan logam transisi yang lebih masuk akal…”

Lelaki mungil berwajah anak-anak usia belasan, Bryan Trevor, hasil rampasan IMA dari CERN, satu-satunya personil yang ditarik dari organisasi yang bergerak di bidang selain astronomi—nuklir. Tipikal Amerikan yang gampang akrab dengan orang asing.

“Dengan unsur apa?”

“Unsur yang nomor atomnya dibawah 80, unsur solid…”

“Mencobanya satu persatu?!”

“Tidak, tidak… bukan begitu. Mau makan waktu berapa lama mencoba sebegitu banyak unsur? Singkirkan yang sekiranya lebih rapuh dari ferum.”

“Lalu?”

“Hhh… Perkirakan saja, sederhananya. Misal magnesium. Kau tahu kelebihannya? Pada fase tertentu magnesium bisa memecah partikel hidrogen dioksida—air—menjadi dua atom hidrogen dan satu oksigen sehingga api bisa menyala. Magnesium juga kuat mengiris lapisan baja.”

“Masalah seperti ini tak bisa main taksir saja, Bryan.”

Bryan mendesah lagi, “Sudahlah. Lama-lama aku bingung sendiri dengan perkataanku.”

“Lagipula kenapa kita dibiarkan begini?”

“Bukan dibiarkan—oh, mungkin memang dibiarkan. Jerome lebih sering diam belakangan ini, diam-diam mengisolasi atom dalam kontainer dan menelitinya sendiri tanpa mau diganggu. Barangkali dia ingin menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang hebat…”

Nora hanya bisa menggelengkan kepala. Dalam benaknya terlintas sesuatu, “Hey, Bryan, apa kau sudah kenal lama dengan Senior?”

“Lumayan.”

“Bisa ceritakan?”

“Hmmm…” Bryan menggosok dagunya, terlihat mempertimbangkan sesuatu, “Mendadak, tapi tak apa. Jerome adalah mantan anggota IAU—International Astronomical Union—yang ditarik IMA dua tahun lalu karena dia kedapatan memiliki otak cemerlang dan piloting skill yang luar biasa. Kau tahu? Terkadang dia akan berlagak cerdas seperti pencetus teori dualisme gelombang-materi Maxwell jika berargumen memperjuangkan ijin melakukan riset. Cara dia mengoperasikan unit—jangan ditanya—aku tak tahu harus bilang apa. Special force, ah, divisi itu rendah…”

“Bagaimana kau bisa akrab dengan senior yang muram itu?”

“Banyak orang menanyakan hal yang sama. Sebenarnya Jerome samasekali tidak muram, dia anak baik, sebelum tiba waktu perang itu. Yah… ada seorang gadis—“

“—Pacarnya?”

“Oh, bukan! Namanya Teresa Lohengrin dari IDA—International Dark-Sky Association. Jerome dan Teresa bukanlah pasangan resmi, mereka hanya… um… dekat. Hubungan mereka sangat mengharukan. Tak banyak kata-kata, tak banyak hadiah, tak banyak keistimewaan yang bertele-tele, setiap kode-kode mereka tuangkan langsung dalam bahasa tubuh yang ekspresif. Mereka seolah berpantomim. Jelas sekali mereka saling mencintai meskipun mereka tak mengungkapkannya. Tapi, di awal perang itu, waktu Jerome dan Teresa dikirim ke pangkalan IMARC di Siberia dari sini, shield yang terpasang di unit Teresa tak bisa digunakan dan akhirnya Teresa tewas terbakar di termosfer.”

“Menyedihkan…”

“Aku curiga itu perbuatan orang dalam, karena tak satu orangpun diberi ijin masuk ke IMARC kecuali orang itu memiliki tanda pengenal berlabel ‘IMARC’ atau membawa undangan khusus dari pimpinan. Untuk sementara tuduhan dilayangkan ke pihak FRAU.”

“Musuh sepanjang sejarah IMA, ya? Freedom Reformer Assault Union?”

Bryan mengangguk, “Toh, ahli terbaik mereka sudah hancur, mereka tinggal puing-puing.”

“Senior Vladimiresçu, kan, yang membinasakan mereka? Lelaki yang masih muram setelah setengah tahun…”

“Hum, yah. Secara pribadi aku mengagumi dia. Bayangkan, enambelas penemuan untuk senjata unit! Jerome terhitung muda untuk penemuan sebanyak itu! Dia juga yang mengetuai pembuatan stealth system! Sayangnya dia tak pernah mau mendaftarkan hak paten untuk itu semua. Dia berprinsip sama dengan Marie Curie: pengetahuan untuk seluruh umat manusia, bukan pribadi.”

“Ya Tuhan! Jadi dia yang membuat sistem pertahanan itu?”

“Yah… jangan salah. Jerome kisut begitu hanya karena bingung. Dia punya banyak cinta, tapi dia tak tahu mau memberikannya untuk siapa. Dia menutup matanya dari semua orang. Dia rindu untuk dicintai…”

Bryan tampak menerawang ke dimensi yang tak ada. Air mukanya seolah ikut merasakan bagaimana jadi Jerome. Mungkin lama ia akan mematung begitu kalau tak ada yang berkoar memanggil Jerome di sepanjang selasar setingkat diatas Bryan dan Nora dengan begitu semangat layaknya baru melihat ‘bintang kawin’ melalui sebatang sedotan,

“Senior Jerome…! Aku melihat kuasar di konstelasi Centaur—eh? Mana Senior?”

Dua builder menunjuk ke samping kiri peneriak tadi, lurus dari arah dia datang. “Jerome pasti akan launching dari sana,” jawab Bryan.

Launching?! Ah…! Flame Nosferatu akan launching dari sirkuit F…!” lelaki enerjik itu berlari-lari ke arah yang tak tentu, kemudian menghilang ke arah yang ditunjuk Bryan dan Nora.

“Astronom aneh,” kata Nora. Bryan setuju.

___

FORCE STAX-1612/α Flame Nosferatu mendarat dengan debam keras di permukaan tanah lembab di wilayah tundra Norwegia. Siang dan malam akan terlihat sangat berbeda di bumi. Gelap-terang, panas-dingin, segalanya berbeda. Memang markas IMARC ikut mengorbit bersama planet intrasolar mengintari matahari karena gravitasi, tapi selalu dibelakang posisi venus sehingga sinar matahari jarang sampai. Bahkan di IMARC tak pernah terasa hembusan angin. Maka dari itu bumi akan terasa janggal.

Jerome Vladimiresçu, ilmuwan sekaligus mekanik dan pilot Rumanian yang saat ini dadanya penuh dengan kebingungan, menumpukan bahu kanannya pada kaki kiri unit hasil rombakannya sendiri sambil menyoroti langit malam. Flame Nosferatu, dibangun ulang dari pendahulunya, FORCE STAX-1612 Nosferatu, karena pendahulunya itu rusak parah dalam Ragnarök. Wujudnya nyaris sama: sebuah unit setinggi 19,31 meter dan berat 81,2 metrik ton, dilapisi armor campuran logam transisi dan alkali tanah berwarna dominan hitam dengan garis merah setiap sambungan body part-nya, lengkap dengan anti-seek stealth system dan long-range anti-materiel weapon system. Di dada kiri Flame Nosferatu terdapat print berupa setengah sayap burung dan sebaris tulisan putih terbal: SPECIAL FORCE. Lalu pada lengan kanan unit terdapat sejenis carving huruf-huruf yang menjorok ke dalam, IMARC’S PROPERTY disertai akronim dari IMARC.

Beberapa kali mata Jerome mengerjap cepat, seperti waktu bangun tidur, tapi kondisinya lain. Kali ini lebih seperti melawan dirinya sendiri. Ia tak mampu menyembunyikan betapa besar kerinduannya pada gadis yang dulu pernah ia cintai, dan hingga kini masih terus ia cintai tanpa berubah sedikitpun. Teresa, indah bak nebula di luar angkasa. Menyedihkan mengingat bagaimana Jerome harus berpisah dengannya setengah tahun lampau.

Bentuk-bentuk air mata mulai menunjukkan diri di sudut matanya. Entah sampai kapan ia harus berusaha merelakan kepergian bidadarinya yang lembut dan penuh perhatian itu. Yang sanggup mencuri hatinya dalam waktu relatif singkat dan memberi sensasi baru dalam kehidupannya yang ordiner. Dalam pikirannya masih terekam baik bagaimana dulu ia bertemu dengan Teresa. Tundra inilah yang melatari. Ia masih ingat bagaimana Teresa muncul dengan gaun putih dan bunga-bunga gerbera putih diantara ruas rambut tembaganya yang berkilau meski di langit malam. Dia mendongak, melihat bintang-bintang, merasakan hembusan angin, dan tak lama kemudian menari dengan sangat anggun. Sedangkan Jerome tak bergerak di depan unit-nya setelah turun dari kokpit—karena melihat Teresa.

Disaat-saat seperti ini—saat lagit bening—biasanya Jerome akan menanyakan bintang apa yang paling disukai Teresa. Lalu gadis itu akan menjawab, “Betelgeuse.” dan menari tanpa alasan jelas seperti waktu Jerome bertemu dengannya dulu. Gadis itu suka sekali menari. Tak jarang dirinya sampai terluka karena kecerobohannya saat memperagakan tarian-tariannya sendiri.

Kini, dia sudah pergi, seorang bidadari yang dipanggil kembali ke tempat darimana dia berasal. Jerome menyesalkan ketidakmampuannya dalam melindungi seseorang yang berharga baginya. Ia menyesalkan ketidakmampuannya memanfaatkan waktu bersama Teresa yang singkat itu, sekalipun hanya untuk sekedar mengatakan aku mencintaimu dan sedikit kata-kata perpisahan. Jerome tak bisa lagi merasakan hangat tubuhnya, Jerome tak bisa lagi mendengar halus tutur katanya, Jerome tak bisa lagi menyaksikan liuk tariannya, Jerome tak akan pernah lagi mengalami segala hal menyenangkan bersama Teresa. Segalanya lain, samasekali lain. Kalau sampai ada yang terasa sama, itu pasti hanya mimpi belaka.

“Jerome.”

Seorang gadis bergaun putih yang menghiasi rambutnya dengan kuntum-kuntum gerbera tampak berdiri tak jauh dibelakang Jerome. Lengan-lengannya terulur seolah ingin merengkuh. Senyumnya melengkung samar. Rambut tembaganya terbang diangkat angin dingin tundra.

Dia, terang seperti Betelgeuse di konstelasi Orion.

“Teresa…”

Jerome berlari menyusulnya, tak peduli dia nyata atau tidak, menyambut rengkuh lengannya dan membenamkannya seketika dalam peluk penuh rindunya. Ini seakan bukan mimpi. Apapun—kehangatan, kelembutan, aroma, sensasi yang ada—benar-benar menunjukkan bahwa ini kenyataan. Teresa, datang menemui Jerome.

Sesaat mereka tak bergerak. Jerome masih belum bisa percaya pada pengelihatannya yang mengatakan bahwa gadis ini memang betul Teresa. Ia ingin mempercayai inderanya, tapi semakin ia percaya, semakin besar kekhawatirannya untuk kehilangan Teresa suatu saat nanti. Ia tak mau, untuk kedua kalinya, kehilangan Teresa.

“Kau nyata, bukan, Teresa?”

Gadis dalam pelukan Jerome tak bersuara sedikitpun. Hanya tubuhnya bergetar. Tidak adanya respon ini sempat melemahkan keyakinan mata Jerome bahwa dia memang Teresa. Sampai gadis itu melepas ikatan tangannya…

…dan menagis.

“Kau sudah tahu, Jerome…” dia menggantung sejenak, “…jika kau merasa sama, maka itu pasti hanya mimpi.”

Hati Jerome tertohok. Kepercayaannya rubuh. Sambil menatap dalam manik merah Teresa ia berkata, “Bagaimana bisa? Ini…”

“…Bukan kenyataan,” sambung Teresa. Kilat-kilat sedih terpatri jelas di tiap sisi wajahnya. Air matanya yang tak berhenti menetes agaknya memberitahukan betapa rindu dirinya pada lelaki di hadapannya ini. “Aku hanya datang… karena aku tak kuasa lagi melihatmu tidak bahagia…”

Jerome menggenggam erat telapak Teresa, yang dibalas dengan lembut oleh sang gadis. Ia tertegun. Sepeninggal Teresa memang Jerome tak pernah menjalani hidupnya seperti dulu lagi. Ia kehilangan sebagian dirinya, dunianya, yang tersisa dalam hidupnya hanyalah suatu titik yang gelap diambang kehancuran. Tak ada rasa, semua tawar.

“Kau membenciku, Jerome?”

Serak dan tercekat.

Tentu saja tidak, pikir Jerome. Benci adalah kata yang sangat tak pantas ditujukan pada gadis sebaik dan selembut Teresa. Bagaimana mungkin ia membenci gadis yang paling ia sayangi, yang telah tiada sekalipun?

“Kenapa?”

“Karena aku meninggalkanmu…” sekilas Teresa melempar tatapan penuh tanya.

Jerome menghela napas dan menggeleng. Kepalanya tertunduk lesu. Ia tak berani melihat mata Teresa lebih lama saat hal itu membuat hatinya semakin teriris. Ia merindukan Teresa, lebih dari siapapun. Dia hanya tak tahu bagaimana mengatakan hal itu dengan tepat jika keadaannya begini.

“Sulit bagiku hidup setelah kepergianmu. Lalu ini—kenapa?”

“Aku… aku sangat… merindukanmu…” Teresa terisak. “Aku tak mungkin berbohong. Aku sedih… aku… sedih tak bisa lagi bertemu denganmu…” Teresa berusaha menyeka air matanya dengan punggung tangannya saat Jerome membenamkannya dalam dekap, meredam suara tangisnya.

“Begitupun denganku. Aku sangat… merindukanmu…” lirih Jerome berucap. Pelan dan dalam. “Aku ingin bisa bersamamu lebih lama…”

“Aku tahu… tapi aku sudah tidak ada. Aku tidak mungkin hidup lagi dan kembali bersamamu, aku sedih…”

“Kumohon katakanlah bahwa ini bukan hanya mimpi…”

Teresa menggeleng kepalanya diatas dada Jerome, pelan. Lelaki itu tak punya pilihan lain selain ikut meneteskan air mata melewati dagunya, lalu menjatuhkannya diantara helai rerumputan. Harapannya telah hancur berkeping. Berkali-kali Teresa telah menegaskan bahwa ini tak lebih dari mimpi.

“Kumohon, Teresa…”

Sang gadis melepas dekapan lelaki di depannya. Matanya memancarkan sesal yang amat sangat, “Tidak bisa, Jerome. Aku kemari untuk kembali lagi…”

Hati Jerome lebih teriris, “Kau kemari… hanya untuk pergi lagi? Kenapa kau selalu meninggalkanku?”

“Karena aku harus.”

Jerome tertunduk lagi. Ia tak tahu harus berkata apa, “Teresa… aku ingin—untuk terakhir kalinya, melihat kau bahagia… bersamaku…”

“Aku akan bahagia bila kau juga bahagia, Jerome…” Teresa memaksakan senyum di wajahnya yang berurai air mata, “Oleh karena itu, jalanilah hidupmu dengan bahagia. Tetaplah tersenyum…” nada kalimat Teresa berubah getir, “…meskipun tanpa aku…” Pandangan Teresa merana, seolah menyiratkan betapa tak inginnya dia berpisah dengan Jerome—untuk kedua kalinya. Sebelah tangannya terulur meraih milik Jerome. “Aku akan tetap berada disampingmu, percayalah…”

Sebilah pisau menancap di ulu hati Jerome. Kalimat itu mengutarakan isyarat akan janji yang pasti. Akan sebuah kebersamaan di tempat yang jauh, dan perpisahan di waktu dekat. Teresa dalam menyelami pandang mata Jerome sambil perlahan mengucap kalimat yang sejenak menenangkannya—untuk setelahnya kembali kalut.

“Jerome…” lelaki yang dipanggil mendengarkan dengan seksama, “…aku mencintaimu.”

Seketika segalanya berubah, cepat sekali.

“Maaf, karena selama ini aku tidak pernah mengatakannya, dan aku selalu menyakitimu. Aku tak bermaksud membuatmu sedih seperti ini. Hanya saja… aku… bingung…” jeda Teresa mengambang, “Jika ada yang namanya kegelapan, maka dibalik kegelapan itu, yang bisa kulihat hanya… kau,” sang gadis berlinangan lagi.

Teresa mengajak Jerome menengadah pada langit. Bintang-bintang beraneka spektrum warna berkelip karena pengaruh proses alamiah. Diantaranya tampak sebuah konstelasi luas di langit timur…

“Orion. Jika kau merindukanku, lihatlah Orion, aku akan ada disana, selamanya…”

Lidah Jerome kaku. Ia merasa sudah saatnya baginya untuk berpisah lagi dengan Teresa. Banyak hal yang ingin ia katakan, namun tak ada satupun yang benar-benar keluar.

“Aku tidak bisa lagi datang padamu. Ini yang terakhir. Katakanlah apa yang ingin kau katakan.”

Masih seperti tadi, tak bisa keluar. Jerome bergeming sambil memegang tangan Teresa seolah segan melepas. Satu menit, dua menit, tak bisa keluar sampai akhirnya Teresa putus asa menunggu.

“Kumohon jangan pergi…”

“Maaf, Jerome…”

“Aku mencintaimu…” Kalimat yang sedari tadi tertahan baru bisa terkatakan saat tangan Jerome terasa dingin dan kosong. “…Teresa…”

Jerome tak bisa melakukan apapun selain menangis, menangis saat menyadari Teresa tak lagi ada disampingnya, dan gadis itu pergi tanpa mendengar pengakuan darinya. Kini Teresa tak akan pernah tahu. Jerome takut melihat ke belakang. Ia takut ia tak akan pernah lagi menemukan Teresa meski ia telah mencarinya ke setiap tempat yang bisa ia jangkau. Ia hanya menengadah ke awang-awang—lalu sebuah konstelasi yang begitu terkenal seantero jagat, Orion, muncul seolah menertawakan kesedihannya. Di salah satu bahunya terpetik sebuah bintang terang. Betelgeuse. Seterang Teresa di hatinya.

Ini sudah saatnya kembali ke pangkalan IMARC, menyelesaikan ReNARP dan menginterogasi Andrew. Jerome menunduk sejenak dan mendapati sekuntum gerbera tergeletak diatas rumput. Masih segar. Ia memungutnya, membawanya, mengingat pesan Teresa padanya,

“Jalanilah hidupmu dengan bahagia…”

Dan sejurus kemudian FORCE STAX-1612/α meluncur membelah langit.

___

“Ah! Flame Nosferatu kembali, Flame Nosferatu kembali…!”

Astronom aneh yang tadi berteriak tak keruan saat Jerome launching sekarang melakukan hal yang sama saat Jerome kembali. Dia terus mengikuti Jerome sejak dari sirkuit sampai tempat tadi dia bertemu Nora dan Bryan. Bukan karena ingin mengumumkan penemuan kuasar-nya, melainkan khawatir karena Jerome sangat pucat seperti orang kena penyakitan dan matanya merah seperti kena iritasi. Ada banyak ruam juga di kulitnya.

“Kau lihat Andrew?”

“Tidak. Sepertinya Senior Descartès tadi launching. Kukira dia menyusulmu.”

“Aisht…”

Jerome menikung di percabangan koridor, menuju deretan kamar-kamar. Nomor tiga di kanan, itulah tujuannya: kamar Andrew. Jerome penasaran apa sebenarnya yang dipikirkan Andrew sampai-sampai dia selalu ikut campur. Barangkali apa yang Jerome cari bakal ia temukan disana.

Bunyi derit mekanik terdengar kala pintu bergeser. Jerome masuk, astronom aneh menunggu di ambang pintu. Seperti kamar-kamar lain yang dibangun di IMARC, kamar Andrew juga dilengkapi satu set komputer lengkap dengan beberapa peripheral device dan beberapa rim kertas. Beruntung bagi Jerome karena kamar itu lupa dikunci—atau sengaja tidak dikunci—sehingga ia bisa langsung masuk. Pandangannya langsung tertuju pada meja kerja, dimana ada tiga lembar kertas berisi catatan tak penting, dan komputer yang masih menyala dalam posisi standby.

Jerome segera menghidupkan komputer tersebut dan membuka-buka program yang masih berjalan waktu komputer tersebut ditinggalkan. Beruntung lagi, karena komputer itu samasekali tidak di-password. Jerome tersentak waktu membuka sesuatu bertitel SAD Program,

IMARC

SHIELD AUTOMATIC DEACTIVATING PROGRAM

By ANDREW DESCARTÈS

Tak butuh waktu lama bagi Jerome untuk naik pitam. Ia bergegas keluar, ke bengkel, memasang sesuatu pada unit-nya dan membulatkan tekad menyusul Andrew. Jerome akan bertarung. Bukan untuk balas dendam atas kematian Teresa, tapi untuk melindungi apa yang bergarga baginya. Entah mengapa Jerome mendapat firasat buruk bahwa program tadi telah diinstal ke beberapa unit lain. Unit milik anak buahnya yang ditinggal di pangkalan, terutama.

___

Andrew Descartès menunggu dengan waspada dalam kokpit unit-nya, GENE SF-096/β Holy Syricus, rupa teranyar GENE SF-096 Syricus setelah dirombak dua kali. Ia sudah merencanakan segalanya dengan matang. Membodohi builder baru bawahan Jerome, memancingnya agar mencarinya ke kamar dan menemukan program SAD, serta upgrade di unit-nya untuk persiapan menghadapi Flame Nosferatu.

Beberapa lama Andrew menunggu tanpa melakukan apa-apa, mengambang di luar angkasa, sendirian. Sebagai salah satu anggota special force, sama seperti Jerome, Andrew memiliki hak istimewa untuk bebas keluar-masuk markas IMARC asalkan tidak membawa serta orang atau barang mencurigakan. Memang itu menyenangkan, tapi kalau tidak ada kerjaan seperti ini tetap saja rasanya membosankan.

Seberkas bayangan kehitaman tertangkap sensor unit Andrew. Flame Nosferatu, dan Jerome, rupanya mereka benar-benar datang. Cepat seperti biasa. Andrew lantas menghubungkan unit-nya dengan unit Jerome untuk berkomunikasi dengan sistem sound-only.

“Sudah bangun, Vlad?” Andrew mengatakannya dengan enteng.

“Tch! Kaukah itu? Kaukah itu, yang menciptakan SAD… dan membunuh Teresa?!”

“Cerdas—“

“Bodoh! Selama ini, aku—yang telah bersamamu sekian lama—bisa percaya begitu saja! Apa yang kumakan selama ini ternyata tak lebih dari sekedar tipuan bodohmu!”

Di dalam kokpit sana Andrew menyeringai, “Kau patut diapresiasi. Terimakasih sudah mempercayaiku…”

Dan secepat kedipan mata Flame Nosferatu memulai pertarungan. Tapi Andrew, yang turut berjaya dalam perang Ragnar, pasti sudah terbiasa dengan serangan semacam ini. Gerak cepat. Menembak, menghindar, memukul, menangkis, semua dilakukan dalam kecepatan tinggi. Dentingan bodi unit yang bertemu dengan senjata tajam lawan tak bisa terdengar.

“Kenapa kau melakukan ini?!”

“Sadarlah, Vlad. Ketahuilah apa yang telah kau lakukan padaku! Kau rebut tempatku, kau hilangkan eksistensiku! Kau telah menghancurkan segalanya!”

“Iri, huh?”

“Lagipula, Vladimir, untuk apa juga kau cemaskan lagi SAD-ku?”

That’s my line…”

Armor Holy Syricus bertemu dengan satu sisi Lightwave Sword Flame Nosferatu. Sebuah goresan muncul, menampakkan beberapa komponen internal unit milik Andrew itu. Lelaki Descartès yang sangat percaya diri itupun berang.

“Beraninya…”

Kali ini Ultra-Laser Gun Holy Syricus melubagi pundak depan kiri Flame Nosferatu. Andrew tertawa, jelas terdengar dari komunikator mereka.

“Menyerahlah, Vlad. Kau tidak perlu lagi melakukan segala hal yang tak masuk akal.”

“Tutup mulutmu…”

“Tak usah lagi pikirkan ReNARP, tak usah pikirkan SAD—yang jelas-jelas programku—tak usah lagi urusi penelitian seaborgium-mu yang jenaka itu. Menyerahlah…”

“Apa maksudmu dengan ‘jenaka’?”

“Seaborgium, unsur logam transisi solid, unsur itu bisa disebut tidak eksis di alam. Unsur yang sangat rapuh, bahkan bisa hancur dalam 1,5 detik bila dilepas di udara bebas. Ambil pusing sekali kau berniat menelitinya…”

Jerome menyeringai, “Ya, memang rapuh, tapi unsur itu eksis.”

Andrew memimpin pertarungan. Adegan-adegan tadi diulang kembali sampai kedua unit bertikai babak belur. Sedangkan kedua pilot yang mengendalikan unit tersebut sudah mulai kehabisan energi.

“Menyerahlah, Vlad. Aku bisa menjamin, jika kau benar-benar menyerah, maka kau akan bertemu lagi dengan wanita Inggris selembut permen kapas yang ceroboh melakukan launch tanpa memeriksa keadaan shield-nya dulu itu… di alam yang lain…”

You basta**!

Akibat arogansi Andrew yang menguasai dirinya, serangan Jerome—yang sebenarnya menggunakan aba-aba—bisa berhasil dengan mulus. Sebatang selongsong logam panjang menancap kuat tepat dibawah kokpit Holy Syricus… dan tak berefek apa-apa.

Jerome menyeringai lagi. Andrew tertawa lagi.

“Haha… Vlad, berhenti bercanda!”

“Aku tidak bercanda,” nada Jerome tenang dan dalam, penuh keyakinan dan penekanan.

“Huh?”

“Kau bilang tadi seaborgium bisa hancur jika dilepas di udara bebas, bukan? Ya, kau benar. Tapi tidak di tabung vakum.”

“Apa—“

“—Kondisi atom seaborgium bisa tetap utuh asalkan tidak bersentuhan dengan atom unsur lain. Dan yang menancap di bawah kokpitmu itu… adalah tabung vakum berisi atom-atom seaborgium yang secara aktif melakukan peluruhan.”

“Peluruhan radioaktif tidak akan banyak berdampak pada unit.”

“Ya, ya, kau memang benar. Proses peluruhan radioaktif tak banyak mempengaruhi unit-mu. Tapi hasilnya akan sangat berdampak.

“Maksudmu?”

“Seaborgium-ku telah kurancang untuk melakukan peluruhan beta yang mengeluarkan emisi positron tingkat sangat tinggi. Inti atomnya akan meluruh secara berantai, bukan untuk mencapai fase stabil, melainkan sangat tidak stabil dan dalam beberapa menit secara bersamaan akan dihasilkan anti-proton dan positron positif berdampingan dengan proton dan elektron yang terdapat dalam atom tersebut. Atau dengan kata lain…”

Kepercayaan diri Andrew tiarap. Ia bergumam sendiri dalam ketidakpercayaan, “Antimateri…”

“Terima kasih, Andrew…”

“K-kau…” Andrew menggeram, “…kau menciptakan bom—“

“—Bukan aku. Bom itu tercipta secara alami.”

“Tapi antimateri tidak bisa dihasilkan secara alami!”

“Melalui reaksi inti atom dan peluruhan radioaktif seaborgium-ku—yang sekarang ada di unit-mu—aku menganggapnya alami, dan berat partikelnya bisa dihitung…”

“Jerome—“

Andrew memutus kalimatnya karena melihat Flame Nosferatu menjauh. Ia baru akan mengejarnya saat sirine warning di kokpitnya berkedip-kedip cepat, menandakan sesuatu yang tak beres. Ia tahu, ia kesal, ia sangat marah karena kekalahannya. Namun segalanya sudah terlambat—

BLAAARRR…!!!

Flame Nosferatu terdorong oleh gaya ledakan Holy Syricus. Jerome selaku pilot yang berada dalam kokpit, mengernyit merasakan tekanan dalam unit-nya yang terlempar puluhan meter. Rasanya mengejutkan dan mendebarkan. Holy Syricus, beserta Andrew Descartès, musnah selamanya. Yang perlu Jerome lakukan hanyalah membereskan sisa-sisa perbuatan Andrew.

Entah bagaimana menjelaskan perasaan Jerome saat ini. Antara senang, sedih, dan bingung. Senang karena ia berhasil menyelamatkan orang-orang yang berharga baginya dari kehancuran unit yang mereka tumpangi. Sedih karena ia kehilangan salah satu rekannya yang ia kenal sebagai saingan berat yang sangat bertalenta sesama peneliti di IMARC. Bingung harus bagaimana ia menjelaskan ini semua pada pimpinan IMARC, dan bagaimana ia menjelaskan ini pada Teresa. Gadis lembut itu… pasti tak senang Jerome seperti ini.

Bagian-bagian armor Holy Syricus yang hancur bertebaran dalam kecepatan tinggi. Puing-puingnya banyak mengenai Flame Nosferatu sehingga Jerome harus lihai menghindar dan cepat-cepat kembali ke pangkalan. Yah, setidaknya ia bisa sedikit lega setelah ini…

“Jalanilah hidupmu dengan bahagia…”

___

Hunedoara, Romania

2 years later

Bryan Trevor, merasa girang karena dapat liburan dan lisensi resmi penggunaan unit dari IMA. Keinginannya untuk sukses seperti seniornya, Jerome Vladimiresçu, perlahan tapi pasti terwujud. Dan kali ini, demi memanfaatkan waktu liburan yang singkat nan bergarga itu Bryan terbang menembus atmosfir untuk mengunjungi Jerome yang setengah tahun belakangan berhenti dari IMA dan memilih mengabdi untuk masyarakat luas dari kampung halamannya. Sekalian mengunjungi Nora, yang sejak dua bulan lalu mengundurkan diri dan tinggal bersama Jerome di rumah yang sama.

Akhirnya Bryan sampai di rumah Jerome, atas petunjuk dalam pesan Nora sebelum datang kesini. Rumah itu tergolong besar. Bryan menerka, pasti dalam rumah itu terdapat sebuah laboratorium yang lumayan besar juga, mengingat Jerome dan Nora sama-sama scientist. Ia memencet bel. Lalu tak lama kemudian muncullah muka Nora yang riang. Gadis itu tampak lebih ‘terpelajar’ daripada terakhir Bryan melihatnya.

“Hai, Nora…”

“Hai! Tumben sekali kau datang. Ada yang bisa kubantu?”

“Mana Senior Vladimiresçu?”

Sejenak Nora tampak berpikir. Gadis itu langsung menarik tangan Bryan dan membawanya ke suatu tempat tak jauh dari rumah. Awalnya Bryan pikir dirinya akan dibawa ke sebuah observatorium atau laboratorium rahasia. Tapi ternyata Nora membawanya ke… pemakaman?!

“Master Jerome ada disini,” katanya di depan sebuah palang salib. Di palang itu terukir nama Jerome beserta tanggal lahir dan wafatnya.

“Maksudmu Senior sudah…”

Nora mengangguk mantab, wajahnya tetap riang, “Padahal aku belum belajar apa-apa dari Master, tapi beliau langsung pergi begitu saja. Ini terlalu cepat.”

“Bagaimana bisa?”

“Anemia aplastik. Itu semua disebabkan Master terlalu lama terkena paparan radiasi.”

“Oh, I see…”

Jerome Vladimiresçu, Almarhum. Titisan Marie Curie. Berprinsip sama, meninggal karena sebab yang sama. Bryan yakin, siapapun yang pernah berurusan dengan Jerome, barang sebentar saja, pasti tak akan bisa melupakan kesan bersamanya. Termasuk dirinya sendiri. Bryan akui, ia kehilangan, sangat kehilangan.

“Master bilang, jika ada yang merindukannya, maka lihatlah Orion. Beliau akan ada di salah satu bahunya, sebagai Bellatrix, bersisian dengan Betelgeuse. Beliau akan disana selamanya…” Nora mengambil jeda pendek, “…dan Beliau berpesan agar kita senantiasa menjalani hidup dengan bahagia meski tanpa Beliau…”

Nora tersenyum pada Bryan, dan lelaki awet muda itupun membalasnya dengan senyum, di bibir dan juga di mata. Bryan bisa melihat jelas bahwa meskipun Nora tersenyum namun hatinya sakit. Dan sebagai penghormatan pada seorang senior, serta perwujudan rasa cintanya pada Nora, Bryan berjanji, ia akan melindungi Nora bagaimanapun keadaannya. Tak lama kemudian ia tertawa nyaring,

“Ha! Nora, sejak kapan kau memanggil Senior Vladimiresçu dengan sebutan ‘Master’?”

Nora tertawa janggal, bahunya berkedik.

MEMORY CONSTELLATION/END

Glosarium:

Albion: Inggris, Britania Raya

Kuasar: inti galaksi aktif

Author’s note:

Maaf atas kepanjangannya…!!!

#Astaga, Swordmaster! Dikau kan tak banyak tahu sains! Kenapa ngotot bikin FF sci-fi?!#

Huaaa…! Seharusnya ini jadi sci-fi astronomi, tapi kenapa melenceng jadi fisika…?!

Yah, begitulah. Para reader yang terhormat harap lumrah ya…

Bagi yang merasa tak cocok dengan kaidah ilmu yang telah diketahui, daku mohon maaf. Kan ini cuman fiksi *alasan*

Mungkin ada yang tanya kenapa daku pilih Betelgeuse bukan Rigel? ‘kan Rigel lebih terang dari Betelgeuse…

Alasannya, karena daku suka namanya. Khekhe…

Pengen tahu kayak apa Bellatrix dan Betelgeuse itu? Nih fotonya:

 

^ Gamma Orionis alias bintang biru jumbo Bellatrix

^ Alpha Orionis alias bintang sekarat Betelgeuse yang udah mau tutup usia

Kredit gambar: Discovery News dan DSS Consortium [via Google Earth]

Mungkin ada juga yang sudah familiar dengan percakapan Jerome saat Teresa mau terbakar? Yah, disitu daku dapat inspirasi pas baca percakapan terakhir seorang astronot Soviet bernama Ludmilla yang mati terbakar saat kapsulnya memasuki proses re-entry. Cuman inspirasi doan, kok, gag sama persis

Jika ada istilah yang masih bingung bisa tanya ke daku, kalau bisa ntar daku jawab…

Para reader yang terhormat harap lumrah ya…

P.S: semua organisasi selain IMA itu asli dan nyata lhoh (o_o’) *gagpenting*