Angin musim gugur mulai berhembus menusuk seluruh tulangku dengan kencang, membuat seluruh bulu kuduk di tengkuk dan tanganku berdiri tegak. Aku hanya bisa merapatkan long coat ungu dan mencoba menghangatkan tubuhku. Mataku berputar memandang daun maple merah yang satu persatu rontok dari dahannya dan melayang pelan menuju ke tanah.

Uwaaa… kamu lama sekalii…

Aku mengeluarkan ponselku dan menekan beberapa tombolnya untuk mengetik pesan singkat.

To : Lee Seung Hyun

Kamu di mana? Lama sekali…

Tak perlu menunggu lama, ponselku sudah berbunyi nyaring.

From : Lee Seung Hyun

Mianhae, noona. Aku masih di fakultas. Noona di mana?

 

To : Lee Seung Hyun

Di depan klub. Di sini dingin sekali, Seung Hyun! Palli!

 

From : Lee Seunghyun

Jeongmal mianhae… sabar ya.setelah ini aku ke sana. Tunggulah sebentar…🙂

 

Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku long coat ku dan memandang pohon maple yang telah meranggas habis. Angin musim gugur telah membuatnya ditinggalkan oleh kawan-kawan daunnya pergi.

Seung Hyun-aa… kamu lama sekaliii! Perjalanan ke sini kan tidak jauuhh!

Huaaaaahh… apa aku pulang saja? Rumahku juga tidak jauh…

Tapi aku ingin bertemu denganmu barang sebentaaaarr sajaa… lagipula aku ingin menatap wajahmu yang semakin tampan hari ini…

Ayolah Seung Hyun-aaa… cepatlah dataaangg…

Aku mendesah pelan. Lee Senghyun, mengapa aku bisa mencintaimu?

***

 

Bagaimana rasanya jika hidupmu dan cintamu bagaikan roller coaster karena kamu mencintai hoobae mu sendiri?

Mungkin akan seperti aku…

***

 

“Eun Kyo, ini Lee Seunghyun, staf PDD yang akan bekerja bersamamu di kepanitiaan ini.” Kang Daesung, sunbae ku mengenalkan aku denganmu.

Aku menatapmu yang hanya berdiri terpaku di hadapanku. Aku hanya bisa memandangmu sekilas tanpa ada perasaan lain. Mata kecil dengan kantung di bawahnya, kulit pucat tanpa cacat, rambut ikal kemerahan seperti daun maple di musim gugur, dan mengalungi sebuah kamera SLR yang entah apa itu mereknya. Seperti seorang fotografer professional, kamu membawa tas yang menggelembung besar dengan sebuah tripod menggantung di sampingnya.

“Annyeong. Kim Eun Kyo imnida. Semester empat.”

Kamu tersenyum. Begitu manis dan seketika itu aku terbius dalam seulas garis lengkung di bibir itu. “Annyeong, Eun Kyo Sunbae. Lee  Seung Hyun imnida. Semester dua.”

Ahh… mahasiswa baru, rupanya…

“Jangan panggil aku sunbae. Noona saja. Aku pikir, satu divisi harus membuat kita jadi lebih dekat. Dan panggilan sunbae akan membuatmu canggung padaku.” Aku tersenyum.

***

 

Dan begitulah cerita ini berawal…

Ketika musim panas datang dan pohon maple masih berwarna hijau yang segar. Ketika daunnya masih bertahan di dahan dan rantingnya. Ketika sebuah tunas mulai bertumbuh di hatiku…

***

 

“Noona, sepertinya pekerjaan kita masih banyak. Aku beli makanan dulu, ya…”

Aku yang berkonsentrasi pada laptop di depanku langsung menoleh ke arahmu yang sudah mulai beranjak dari kursimu. Rambut ikalmu tersibak oleh hembusan angin kecil yang melewati tempat duduk kita. “Ah, nee.”

“Noona, aku juga mau beli yoghurt. Noona mau juga kah?”

“Euhmm… sepertinya tidak usah. Tenggorokanku sakit sekali…”

Kamu menatapku khawatir. Hanya sekejap, namun aku tahu hal itu. “Begitukah? Baiklah. Aku pergi dulu.”

Kamu meninggalkanku menuju motor sport mu dan mengendarainya menjauh. Aku hanya bisa melihat bayangmu yang menghilang dari balik pohon maple yang berdiri kokoh di halaman klub, tempatku dan kamu bekerja saat ini.

……

“Noona, ini milikmu.” Kamu menyodorkan sesuatu padaku. Aku yang sejak tadi masih berkutat dengan laptopku tanpa menyadari kedatanganmu langsung memutar pandanganmu kepada sesuatu di tanganmu.

“Apa ini?” Aku mengambil bungkusan yang kamu berikan padaku dengan perasaan bingung. Dingin, tapi tak terlalu.

Kamu mengelus surai-surai rambutku pelan, seperti yang biasa aku lakukan padamu. Tanganmu yang besar menyentuh kepalaku hingga memenuhi luas tengkorakku. “Itu? Yoghurt coklat kesukaanmu. Dan tanpa es, karena noona sedang sakit.”

“Eh?” aku tercengang.

Kamu langsung duduk dan kembali menatap laptopku tanpa memandangku lagi. Tanpa kamu tahu, mungkin bibirku sudah mengulas satu senyuman girang.

***

 

Seolah pohon maple di musim panas. Kebaikan hatimu mampu merindangkanku. Memeluk bayanganku hingga aku terlindung dari panasnya mentari…

***

 

To: Lee Seung Hyun

Nanti jadi ke percetakan? Kuliahku selesai jam 10.

 

From : Lee Seunghyun

Jadi, noona. Kalau kuliahmu sudah selesai, sms aku. Nanti aku jemput.😀

……

To : Lee Seunghyun

Kuliahku sudah selesai. Kamu di mana?

Tak ada balasan.

Aku terdiam menunggumu di depan gedung fakultasku. Dengan senyuman tentunya. Membayangkan setelah ini kamu muncul di sini, dan tersenyum padaku, membuat segala hariku yang kacau berantakan akan dengan mudahnya berubah menyenangkan.

Lima menit…

Sepuluh menit…

Lima belas menit…

Aku mulai kesal. Apa yang kamu kerjakan hingga lupa dengan janjimu, Senghyun-aa?!

Aku merogoh tasku dan mengambil ponselku dari dalamnya. Dengan mudahnya aku bisa menemukanmu di daftar panggilanku. Tentu saja, karena sudah menjadi rutinitasku untuk berhubungan denganmu, hingga nomormu pun tersimpan dengan baik di list teratas kotak masukku. Jemariku memencet tombol ‘panggil’ dan…

“Yoboseyo? Noona?”

“Lee Seunghyuuunn!! Kamu lama sekaliii!!! Aku sudah menunggumu hingga berjamur di sini!!” aku langsung menyerangmu dengan kekesalanku. Aku paling tidak suka dengan aktivitas yang bernama ‘menunggu’, seperti dia yang juga tidak suka dengan menunggu.

“Kuliahmu sudah selesai, noona? Aku masih di ruang klub…”

“Sudah dari tadiii!! Aaahh!! Ya sudah, aku ke sana sendirian saja!”

“EH?! JANGANN!! Noona, kamu tunggu di situ dan jangan ke mana-mana! Aku ke sana sekarang!”

Cklek.

Eh? Maksudnya?

Tak lama kemudian, bahkan ketika aku belum selesai aku tersadar dari ketercenganganku, tiba-tiba kamu sudah di depanku. Duduk di motor sport yang kamu banggakan dan melepas helm mu. Rambutmu yang sejak tadi tertutup helm tergerai dengan sedikit lembab. Ada peluh keringat yang mengalir di bagian pelipismu hingga ke pipimu. Membuatku sedikit… bersalah.

“Mianhae, noona. membuatmu menunggu…”

Aku hanya bisa terpana…

……

“Noona, sampai hari Kamis, aku tidak bisa menemanimu mengurus PDD.” Itu yang kamu ucapkan dalam perjalanan ke percetakan. Membuatku terkejut bukan main. Apa maksud lelaki ini?

“Kamu mau ke mana?”

“Aku mau hiking, sekaligus ikut lomba fotografi.”

“Lalu? Aku sendirian?”

“Kan masih ada yang lain, noona… Anggotamu bukan cuma aku saja kan…?”

“Heehh…” aku mendesah pelan. Aku tahu, aku tidak mungkin melarangmu. Karena aku tahu, apa yang terucap dari bibirmu bukanlah suatu perizinan, hanya pemberitahuan. Dan itu yang membuatku kecewa.

“Begini saja, segera setelah aku kembali dari gunung, aku akan langsung ke klub dan membantumu. Bagaimana, noona?”

Aku terdiam. bahkan ketika dia akan pergi pun, dia masih memikirkanku. betapa baiknya lelaki ini. Namun, walau hal itu mungkin lebih baik, tetap saja, hari tanpa dirinya hanyalah kosong dan datar. Tak ada sedikit pun tanjakan yang mampu membuatku jantungku berlompatan. Sepanjang perjalanan di atas motor itu, aku hanya bisa menatap punggungmu, nanar…

“Baiklah…”

……

“Seung Hyun-aa… ayo pulaaang… Aku ada kursus Jepang kan habis ini…” aku mulai merengek kepadamu ketika kamu baru datang dari kampusmu dan menatap arlojiku dengan panik.

“Ya ayo lhoo… Bereskan dulu barang-barangmu…” kamu tersenyum kecil melihat kepanikanku. “Itu laptopku juga bereskan noona. Kan kamu yang memakainya sejak tadi…”

“Nee nee. Ini masih aku matikan laptopnya…” Aku memang menggunakannya sejak tadi walaupun lelaki itu pergi untuk ujian. Karena itu, tanggung jawabku juga untuk membereskannya.

Membereskan barang-barangmu seperti ini membuatku sangat gembira. Seolah aku adalah seorang istri yang sangat memperhatikan suaminya. Bila membayangkan hal itu, rasanya bibirku tak tahan untuk tidak mengulas satu senyum kecil.

“Seunghyun, kamu habis ini ke mana?” Daesung sunbae bertanya padamu sambil lalu.

“Molla. Aku hanya mengantar noona kursus, soalnya habis ini kursusnya sudah mulai. Lalu… pulang.” Kamu menjawab enteng, seolah apa yang kamu ucapkan adalah kewajaran seorang hoobae mengantar sunbae nya.

Namun kamu tahu, kata-katamu bagai gempa yang mengguncangkan ruang klub yang tak seberapa besar itu. Seluruh manusia di ruang klub itu langsung bereaksi keras.“CIIIEEEE……!!!!”

Dan kuyakin wajahku sekarang telah semerah apel ranum sang Adam…

***

 

Seperti daun Maple di penghujung musim panas yang perlahan menguning dan memerah dengan menakjubkan…

Sikap gentle mu selalu membuatku takjub. Membiusku untuk hanya menatapmu…

***

 

Aku baru saja keluar dari kamar mandiku ketika aku melihat ponselku menyala. SMS, darimu.

From : Lee Seung Hyun

Noona, aku di depan. Palli. Ini sudah mau hujan…

 

From : Lee Seung Hyun

Noona, hujannya deras sekali. Aku akan berteduh dulu. Setelah ini aku kembali…

 

Haiisshh!! Bagaimana bisa aku mandi begitu lama hingga dia hampir saja kehujanan?! Spontan aku menekan beberapa tuts dan nada panggil pun mulai terdengar.

“Yoboseyo? Seung Hyun-aa… kamu di mana? Jeongmal mianhae… aku baru saja mandi…”

“Aku masih di pos satpam dekat kompleksmu. Ini hujan sudah sedikit reda. Aku ke rumahmu sekarang ya…”

“Ah, nee.”

Ketika aku berlari keluar dari rumahku, motor sport mu baru saja berhenti di depan rumahku. Sweater yang kamu pakai mulai lembab, dan rambutmu sedikit basah dan menggumpal karena air hujan.

“Noona, kamu punya jas hujan?” tanyamu sambil melepas helm mu.

Aku menggeleng.

“Aduh, bagaimana ini? Jas hujanku hanya untuk satu orang…” raut mukamu kebingungan, seolah mencari cara lain selain menggunakan jas hujan. Tapi apa? Mau menggunakan paying, hoobae?

Aku tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Seunghyun-aa. Aku pakai jaket saja. Sebentar, aku ambil jaketku dulu.

Kakiku berbalik memasuki rumah dan mengambil jaketku.

Tak lama kemudian, aku keluar sambil memakai jaket unguku dan memasang capuchon nya. “Oke, aku sudah siap.”

“Noona, ini pakai jas hujanku.” Kamu menyodorkan sesuatu padaku. Aku hanya memandang barang yang kamu berikan padaku dengn tatapan bingung.

“Eh? Lalu? Kamu pakai apa?”

“Aku malas menggunakannya. Lagipula aku sudah pakai sweater kan, noona…” kamu tersenyum kecil. Senyum yang selalu menjadikan mata kecilmu itu hanya seulas garis bulan sabit.

“Eh, tidak usah. Aku kan sudah pakai…”

“Noona…” kamu memutus perkataanku, seolah tahu apa yang akan kukatakan. “Sudahlah… cepat pakai jas hujan itu, atau kita tidak berangkat?”

“Eh? Iya deh…” aku hanya bisa tersenyum simpul tanpa kamu sadari dan mulai mengenakannya. Jantungku berdebar setiap jas hujan itu menggesek kulitku tipisku. Wangi ini… wangimu. Padahal ini hanya jas hujanmu…

Aku masih memasang kancing-kancingnya ketika kamu tertawa geli menatapku. Aku hanya melirikmu bingung. “Heii… besar sekali ya, noona? Itu punya siapa?”

Semburat merah dengan cepat memenuhi wajahku. “Sudahlah, Seunghyun-aa… gomawo…”

***

 

Dan daun maple itu mulai memerah. Kontrasnya menyaingi mentari pagi dan mencerahkan gelapnya malam.

Seperti itulah perhatianmu mampu menerangi hatiku yang mulai menghitam…

***

 

Divisi tempatku bernaung mengalami masalah besar. Sangat besar hingga rasanya untuk sekedar melanjutkan hidup pun aku benar-benar kehilangan semangat. Aku, sebagai ketua divisi, rasanya seperti tertimpuk batu yang kelewat besar hingga bahkan untuk menyingkirkannya pun aku tak sanggup. Aku, kamu, dan beberapa orang dari divisiku dan klub masih berada di gedung pertemuan hingga larut…

“Noona, ayo makan dulu. Anak-anak sudah membawakanmu makan malam.” Kamu menyentuh pundakku yang masih berkonsentrasi dengan laptopku.

Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi. Semua masalah ini membuatku kehilangan selera melakukan, merasakan apapun. “Aku tidak nafsu makan, Seung Hyun-aa… kamu makan dulu saja…”

“Noona, kamu harus makan. Nanti noona sakit…” dia tersenyum kecil. Tapi aku bisa melihat kekhawatiran di raut wajahmu. Kekhawatiran akan kesehatanku, karena aku tahu berat badanku turun karena masalah itu.

“Aku tidak lapar, Seung Hyun-aa…”

“Tapi noona harus makan. Ayo aku temani… atau perlu aku suapi?” kamu mencoba menggodaku dan tertawa nakal.

“Eh? Tidak usah, Seung Hyun-aa…” aku cepat menolak dengan gelagapan. Rautku bisa kupastikan sudah memerah dan jantungku langsung berdetum begitu cepat.

Kamu mengambil makanan yang sudah tergeletak manis di meja dan membawanya ke hadapanku. “Ya sudah, ayo makan bersamaku. Dan jangan berkata ’tidak’!”

Bibirku yang terbuka ingin menolaknya kembali mengatup dan menatapmu pasrah, tapi juga senang. Karena di saat sulitku seperti ini, kamu ada untukku…

……

“Eun Kyo, kamu tidak pulang? Ini sudah malam…” Daesung sunbae menampilkan ekspresi khawatir ketika melihat keadaanku yang linglung.

“Aniyo, sunbae. Aku harus membantu mereka menyelesaikan tugasnya. Aku kepala divisi, sunbae…” aku menolak halus dan memaksa bibirku untuk tersenyum tipis.

“Jangan begitu, Eun Kyo. Kamu itu yeoja dan tidak baik pulang terlalu malam. Atau aku minta anak-anak untuk mengantarmu?”

Aku menggeleng pelan. “Tidak usah, Sunbae…”

“Sunbae, noona tidak akan mau pulang bila tidak denganku…” kamu tiba-tiba ada di belakangku dan berkata santai pada Dae sunbae. Kemudian matamu beralih ke arahku. “Iya kan, noona?”

Aku hanya terdiam. Di hatiku, sepertinya ada kembang api yang mulai meletup-letup kecil. Ketika kulihat Daesung sunbae dari sudut mataku, Dae sunbae hanya tersenyum penuh arti padaku.

Apa maksud senyum itu?

……

“Noona, ayo pulang. Ini sudah sangat malam…”

“Ah, iya…” aku bergerak menuju laptopku dan membereskannya sambil bertelanjang kaki, ya, sejak tadi aku bertelanjang kaki karena itu membuatku lebih bebas bergerak.

Tiba-tiba kamu mendatangiku sambil membawa high heels ku. “Ini kubawakan sepatumu, noona.”

“Eh?”

“Kenapa? Aku baik, kan?” kamu menyeringai nakal. “Sini, mana kakimu, noona. Kupasangkan untukmu…”

“Ah? Eh? Tidak usah, Seunghyun-aa…” aku dengan cepat merampas sepatuku dan memasangnya dalam diam.

Sekali lagi, kamu membuat dadaku berdebar, Seunghyun-aa!!

……

“Noona, masalah itu jangan terlalu dipikirkan…” ucapmu di depan rumahku sambil menatapku penuh kekhawatiran.

“Tanpa kupikir pun, masalah itu otomatis muncul di kepalaku…”

Kamu tersenyum tipis. “Tidurlah, noona… kalau butuh apa-apa, telepon saja aku.”

Mau tidak mau kedua sudut bibirku terangkat ketika mendengar kata-katamu, walau mungkin kamu tidak melihatnya.

“Nee, Seunghyun-aa…”

***

 

Dan kini… seperti daun maple yang mulai berjatuhan meninggalkan dahannya… aku takut kehilanganmu, Seunghyun-aa…

***

 

“Seunghyun-aa, kado wajibmu ada di tasku. Tapi jangan dibuka di sini…” aku membisikkan hal itu ketika rapat berlangsung.

Kado wajib adalah acara kecil yang ada di klubku setiap bulan. Gunanya untuk mempererat hubungan masing-masing anggota klub. Kamu harus menunggu kepada siapa kado itu akan diberi, karena nama penerima akan diberikan secara acak. Dan kebetulan, aku harus memberikan padamu.

Sedikit senang, karena waktu itu, juga bersesuaian dengan ulang tahunmu…

“Waeyo, noona? Kan itu kadoku? Terserah dong mau aku buka kapan…” kamu mengambil kadomu dan mulai merusak pembungkusnya.

“EH?! ANDWAEE!!” spontan aku berteriak dan merampas kembali kadomu. Suaraku mungkin begitu besar, hingga seluruh ruangan menatapku. Dengan cepat aku langsung memasukkannya ke dalam tasmu.

“Ada apa sih di dalamnya noona? Bom?”

“Bukan apa-apa. Tapi kumohon, bukalah di rumahmu saja, Seunghyun-aa…”

“Apa sih, noona…”

……

“Noona, kalau sekarang, boleh kubuka?” tanyamu di depan rumahku.

“ANDWAEEE!!!” aku bersikeras menolak permintaanmu. Aku terlalu malu untuk mengakui bahwa yang sekarang ada di tanganmu itu bukan sekedar kado wajib. Aku terlalu malu untuk melihat ekspresimu ketika kamu melihat apa yang ada di balik kertas kuning itu. Aku terlalu malu untuk mengatakan bahwa aku memikirkan kado itu hingga hampir dua minggu tanpa henti.

Aku terlalu malu untuk memberitahumu semua itu…

“Waeyo, noona? Ini kan sekarang milikku…” kamu memutuskan untuk terus menggodaku.

“Ya sudahlah, silakan buka. Aku masuk dulu ke rumah.” Kakiku berbalik dan melangkah pergi meninggalkanmu.

Graapp!

Belum dua langkah kakiku berjalan, tiba-tiba tangan kokohmu menyergap tangan kecilku. Membuat jantungku berdebar hingga rasanya ingin mendobrak tulang rusukku.

“Noona, kamu harus melihatku membuka kadoku. Jebal…”

Ya Tuhan, apa yang harus kukatakan sekarang? Menolaknya?

Aku berbalik dan kembali ke hadapannya. “Terserah kamu sajalah…” kataku pasrah.

Kamu perlahan membuka bungkusan kuning itu dan mengeluarkan isinya. Dan sepanjang kamu membukanya, aku hanya bisa berekspresi harap harap cemas. Apakah kamu akan menyukainya? Apakah kamu akan menerimanya?

Kamu berhasil mengeluarkan isinya dan terhenyak menatapnya. Sepersekian detik kemudian, matamu membulat, mulutmu terbuka takjub dan ekspresi girang dengan jelas terukir di wajahmu yang sempurna. “Woww!! Noona! Buku editing foto?! Ini untukku?! Jincha?!!”

Aku tersenyum senang. “Nee, itu untukmu…”

Buku tentang editing Photoshop. Buku yang kamu inginkan sebagai seorang fotografer. Aku tahu itu. Aku sangat tahu apa yang kamu inginkan, Seunghyun-aa…

Aku bahkan memikirkannya sepanjang waktu untuk mencari hadiah itu…

Kamu membolak-balikkan buku itu dengan takjub, kemudian terdiam sejenak dan memandangku. “Noona, bukankah ini buku yang aku inginkan dan dulu aku tunjukkan padamu?”

Aku mengangguk kecil.

Ya, kamu pernah menunjukkannya padaku di toko buku itu, Seunghyun-aa. Kamu mengatakannya padaku bila kamu menginginkannya. Karena itu, aku menginginkan buku itu untuk jadi milikmu…

“Gomawoyoo, noona…!! Noona, aku ceritakan padamu. Aku punya seorang noona yang manja, tapi juga baik sekali padaku…”

Seulas senyum tak hentinya menghiasai wajahku, kata-kata itu bagaikan api yang membuat letusan letusan keras di dalam hatiku. Membuat desiran aliran darahku berlangsung begitu cepat. “Huuu… gantinya berikan aku hadiah di ulang tahunku nanti!”

“Memangnya kapan ulang tahunmu, noona?”

“Oktober…”

Dia terdiam, muram. Kemudian matanya menatapku sendu. Hey, jangan membuatku bingung Seunghyun-aa! Kenapa kamu menatapku seperti itu? Memangnya ada apa?

“Oktober nanti kan aku sudah tidak ada di klub, noona…” kamu memandangku dengan muram.

Ah iya… kamu sudah berhenti dari klub bulan September nanti…

Lalu, bagaimana denganku, Seunghyun-aa? Kamu meninggalkanku setelah aku telah terbiasa dengan kebaikan hatimu, dengan perhatianmu? Semuanya akan jadi berbeda tanpamu.

Aku tidak mau, Seunghyun-aa…

Aku hanya bisa terdiam.

***

 

Sudut mataku melirik arlojiku di tangan kananku dengan gundah. Sudah hampir lima belas menit. Mengapa lelaki itu tidak juga datang?

Aku menghela nafas panjang dan menatap kembali daun maple yang masih terus saja berjatuhan tanpa memikirkan sang pohon. Jatuh… dan jatuh menghiasi jalanan berwarna abu itu.

Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padamu jika kamu begitu hangat baik padaku dan melindungiku?

Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padaku bila kamu begitu gentle bersikap di depanku?

Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta bila kamu begitu perhatian mempedulikanku?

Dan jas hujan itu, dan kata-kata itu, dan senyuman itu, belaian tangan itu… bagaimana bisa aku melupakan semua kenangan berharga itu?

Dan ketika pada akhirnya aku tahu kebahagiaan ini, loncatan-loncatan jantung ini, akan berakhir, bagaimana bisa hatiku tidak akan teriris?

Betapa sakitnya mengingat hal seperti itu…

Dan dengan semua yang terjadi, dengan perbedaan yang terbentang, dan rasa cinta yang bercokol… bisakah aku bertahan…?

Apakah aku boleh berharap padamu? atau… ini hanya sekedar perasaan yang pada akhirnya akan menyakitkan hatiku sendiri?

Apakah aku bisa menjaga perasaan ini? atau… harus membuangnya pergi?

Apakah aku bisa bertahan dengan debaran jantung yang selalu mengencang saat kamu berada di dekatnya, mendapatkan perhatiannya, senyumnya…?

Aku tak tahu, Seunghyun-aa… apakah cinta ini… ‘benar’?

Aku hanya bisa pasrah. Seperti pohon maple yang meranggas. Yang membiarkan daun-daunnya pergi meninggalkannya…

Sebuah motor datang mendekat dan berhenti di hadapanku. Seseorang yang mengendarainya membuka helmnya dan menatapku. “Noona, menunggu lama kah?”

_________________________________________________

Okee. aku sekali lagi menggalau.

bagi yang mengfollow @fanficlovers , mungkin sudah tau cerita ini karena aku sudah membacot begitu bayak di sana.

dan saya masih tetap galau. jadi saya bikin FF geje ini.

mian bangeett kalo geje abiis. hasil pergalauan sihh…

dan ini… *ehem* pengalaman pribadi saya. saat ini. *tersapu malu* wkakakakak.

*semoga si lovely hoobae tidak membaca cerita ini.*😀

dan inilah daun maple yang aku jadikan perandaian di cerita ini…

mohon comment yaa.. no silent readers here please…

gomawoyoooo….. !!!!