Tittle: Love Should Go On

Author: Yuri (can find me at twitter @yurilia)

Length: One Shot

Genre: Romance, Angst

Rate: PG/13

Notes: Kamu as yourself & Dia as your boy (imagine someone you want)

 

Kamu masih menangis dalam diammu. Memandangi wajah pucat yang ada dihadapanmu. Matanya terpejam dengan sempurna. Tubuhnya terbaring lemah tanpa daya. Kecelakaan merenggut kebahagiannya. Dan itu terjadi sejak satu bulan yang lalu. Selama satu bulan sosok yang diam-diam kamu cintai itu terbaring lemah. Tak ada yang bisa kau lakukan selain berdoa agar ia segera sadar. Agar ia bisa segera menghirup udara segar diluar sana. Tidak hanya terkurung disini.

Kamu terdiam di kantin kampusmu dengan ponsel ditanganmu. Tiba-tiba seseorang menepuk bahumu. Kautolehkan kepalamu, sosok lelaki yang sudah kau kenal lama memenuhi penglihatanmu.

“Hallo, Noona!” sapanya dengan angelic smile yang sangat khas dirinya. Kau juga tersenyum.

“Hai!” sapamu singkat.

“Udah lama ya?” tanyanya muram.

“Engga juga sih. Cuma aku cukup capek aja duduk aja disini,” kau menjawab dengan evil smilemu.

“Mianhae,” ucapnya sembari menundukkan kepalanya.

“Gwaenchana,” ujarmu segera karena tak tega melihat wajah muramnya. “Oh iya, kamu udah makan?” tanyamu akhirnya.

Dia mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Kemudian ia menggelengkan kepalanya. Kamu mengerucutkan bibirmu.

“Kok belum makan sih?!” ujarmu sewot. Berdiri dan memesankan makanan untuknya.

“Kan aku mau makan sama Noona,” kerlingnya. Manis sekali.

Kamu merasa panas karena wajahmu sudah memerah sempurna.

“Ireona. Kamu belum makan dari satu bulan yang lalu,” kamu terisak pelan. “Ireona…” suaramu sudah mulai serak.

Kamu menundukkan kepalamu dan menangkupkan kepalamu di tangannya. Airmatamu tak terbendung lagi. Setiap hari selalu begini. Bahkan kuliahmu tak berjalan dengan lancar. Kau tak bisa melanjutkan hidupmu dengan tenang.

Kamu selalu berharap dalam hatimu agar sosok didepanmu ini bisa sadar dan kembali seperti semula. Bibirmu tak henti mengucapkan doa. Kau tak pernah menyerah bahkan disaat orangtuanya saja sudah mulai menyerah.

‘Noona udah sampai ya?’ tanyanya lewat telepon.

“Baru aja kok, kamu dimana?” tanyamu singkat.

‘Aku masih dijalan. Sebentar lagi sampai kok,’ ucapnya lembut.

Tak lama, ia sudah berada dihadapanmu. Bibirnya tersungging manis. “Lama ya?” tanyanya lembut.

“Engga kok,” jawabmu.

Dia langsung menggandeng tanganmu dan membawamu berkeliling toko buku. Sudah bisa dipastikan kalau wajahmu kini sudah semerah tomat. Ia terlihat tidak peduli, hanya berjalan sambil menggandeng tanganmu. Tapi dari caranya menggenggam tanganmu, dapat diartikan kalau dia tak akan melepaskanmu apapun yang terjadi. Akan melindungimu dengan segenap kekuatannya.

Tiba-tiba ia berhenti di bagian komik. Sambil melihat-lihat komik-komik yang tersusun rapi di rak, tangannya masih tetap menggenggam erat tanganmu.

“Oh iya, Noona mau cari buku apa? Maaf aku malah liat-liat komik gini,” katanya dengan nada sedikit menyesal.

“Sastra Klasik,” jawabmu singkat. Kau tak bisa berkata lebih lagi, jantungmu sudah berpacu secepat kuda. Bahkan mungkin bisa melompat sewaktu-waktu.

Ia kembali menarikmu, berjalan menyusuri rak-rak yang tersusun rapi. Menuju bagian bahasa dan sastra. Dengan berat hati kamu mencoba melepaskan genggaman tangannya, agar kau bisa mencari dengan lebih leluasa.

Namun tanpa diduga, ia menatapmu dalam, “ga suka ya aku gandeng?” tanyanya pelan.

“Eh, bukan gitu,” kamu mencoba menjawab, namun gagal karena tatapannya begitu dalam dan menembus manik matamu.

“Yaudah, ga masalah kan aku gandeng?” tanyanya lagi masih dengan nada yang sama.

“I…iya,” jawabmu terbata. Dan ia malah menyelipkan jemari-jemarinya pada jemari-jemarimu. Hingga kini tanganmu dan tangannya saling bertautan.

Matamu berkeliling, mencari buku yang ingin kau beli. Akhirnya kau menemukannya. Ada ditempat teratas. Kau mencoba mengambilnya. Namun tubuh mungilmu tak memungkinkan untuk dapat mencapainya walaupun kau sudah berjinjit semaksimal mungkin. Ujung jarimu hanya bisa menggapai bagian bawah buku itu.

Tiba-tiba tangannya terulur dan meraih buku yang kau inginkan. “Kenapa ga minta tolong biar diambilin?” gerutunya sambil menepukkan buku yang tadi diambilnya dikepalamu.

Kamu hanya tersenyum tipis. Tak tahu harus menjawab apa.

“Kamu bosen kan disini?” kamu bertanya pada sosok yang masih terpejam dihadapanmu. “Ayo bangun, kita jalan-jalan lagi,” kamu masih menyuruhnya untuk bangun.

Kau belai wajahnya lembut. Kau usap pipinya pelan. Bahkan seluruh luka ditubuhnya sudah sembuh, namun ia tak kunjung sadar. Tak tahukah ia ada seseorang yang dengan setia berharap akan kesadarannya. Akan kesembuhannya. Dan kembalinya ia seperti semula.

“Kapan kamu bangun? Sampai kapan aku harus menunggu. Aku takut. Kau takut aku tak sanggup menunggumu lebih lama lagi,” kau bergumam pelan ditelinganya. Berharap ia bisa mendengar permohonanmu.

Ia tetap bergeming. Diam seribu bahasa. Kau hanya bisa meneteskan airmatamu. Berharap ia segera sadar.

“Kamu sampe sore ya?” tanyamu padanya.

“Sepertinya, Noona ga keberatan kan nunggu?” tanyanya lembut.

“Hmm…iya deh,” jawabmu sambil menyunggingkan senyummu.

Ia mengelus kepalamu lembut dan ikut tesenyum. Dan ia pun pergi darisitu untuk menyelesaikan urusannya. Jantungmu makin tidak terkontrol lagi. Bahkan, mungkin kecepatan kuda berpacu kalah oleh pacuan jantungmu.

Kamu menunggunya dengan sabar sambil mengerjakan tugas bulanan dari dosenmu. Sebuah karya sastra.

“Woaah~ Noona puisinya bagus banget!” tiba-tiba lelaki yang kau tunggu sudah ada dibelakangmu dan memuji karya yang baru saja kau ciptakan. Jantungmu yang tai sempat berdetak dengan normal, kini barpacu lagi.

“Udah selesai eh?” tanyamu padanya. Sedikit nada gugup terselip dalam suaramu. Dan kau mengecek jam tanganmu, ternyata sudah sekitar satu jam berlalu sejak ia meninggalkanmu tadi.

“Udah, maaf ya lama,” jawabnya. “Pulang?” tanyanya masih berada dibelakangmu sambil meletakkan tangannya dibahumu.

Kamu mengangguk-anggukkan kepalamu tanda mengiyakan. Ia kembali mengusap puncak kepalamu saat kau sedang membereskan barang-barangmu.

“Sadarlah. Aku rindu suaramu, aku rindu tatapan matamu yang selalu sukses membuat jantungku berpacu cepat. Aku rindu perhatian yang selalu kau berikan. Aku ingin kau bangun, kembali seperti dulu,”ujarmu dengan tetesan airmata yang keluar dari matamu lagi.

Kamu benar-benar menangis sekarang. Kamu tak kuat lagi menahan beban yang kau panggul dipundakmu. Kamu merasa hatimu terhimpit oleh sesuatu yang sangat berat. Paru-parumu bahkan sudah sulit menampung banyak oksigen.

Kamu berjalan berdampingan dengannya. Keluar dari kampusmu dan hendak pulang. Hujan rintik-rintik mulai turun saat kau hendak ke halte bus. Dan tak lama hujan besar sudah turun.

“Noona bawa payung?” tanyanya dengan menatap matamu intens.

Kamu hanya menganggukkan kepalamu sambil mengambil payung yang ada ditasmu dan langsung membukanya.

Ia meraih payung yang ada ditanganmu, sehingga kini payung itu sudah berpindah tangan. Ia merapatkan tubuhnya pada tubuhmu, memayungi tubuh kalian berdua, dan kalian mulai berjalan menuju halte.

Ternyata payung yang kau bawa itu tak cukup besar untuk melindungi tubuhmu dan tubuhnya. Tapi ia memprioritaskanmu, ia membiarkan tubuhnya terkena hujan tapi tak membiarkan dirimu terkena air hujan setitikpun.

“Kamu kehujanan, berteduh dulu aja,” tawarmu.

“Tapi noona harus buru-buru pulang kan?” ia mengingatkanmu kalau kau harus cepat sampai dirumah.

“Tapi nanti kamu sakit, berteduh aja dulu ya?” tawarmu lagi.

“Sudah deket kok noona, oh iya, bisa tolong bawakan tasku? Takut basah,” ia meminta tolong dengan nada yang tak mungkin bisa kau tolak.

“Sini,” kamu meminta tasnya. Dan ia pun melepaskan tas yang tadi tersampir dibahunya dan memberikannya padamu.

Tak lama kau dan dia sudah sampai di halte. Menunggu bus yang menuju rumahmu. Sebenarnya, rumahmu dan rumahnya itu berjauhan. Tapi ia bersikeras untuk selalu mengantarmu pulang.

Bus yang kalian tunggu akhirnya datang. Keadaan didalam bus lumayan ramai. Kau dan dia tak mendapatkan tempat duduk sehingga harus berdiri. Lama-kelamaan, bus makin ramai. Tubuhmu yang kecil terhimpit oleh orang-orang yang berada dalam bus itu. Yang tak peduli bahwa ada tubuh yang tergencet tak berdaya. Namun dengan cekatan iya berdiri dihadapanmu dan melindungimu dari himpitan-himpitan orang-orang.

Kamu berdiri didekat dinding bus. Karena himpitan orang-orang, kau dan dia makin terpojok. Tapi ia merentangkan kedua tangannya dan menempelkannya di dinding bus dibelakangmu. Kini tubuhmu berada dalam ruang bentangan tangannya.

“Aku tak bisa melindungimu, padahal kau selalu melindungiku. Ayolah bangun,” mohonmu lagi.

Tiba-tiba orangtuanya dengan didampingi dokternya masuk kekamar rawatnya. “Ahjussi, Ahjumma, Dokter,” sapamu sambil membungkukkan badanmu.

Dokter memeriksa keadaannya. Ia menggeleng. “Masih sama,” uajr sang Dokter. Kamu dan orangtuanya sudah menghela nafas berat. “Kalau bukan karena bantuan alat medis, dia sudah tiada,” ujar sang dokter lagi. “Yang kita lakukan selama ini percuma sudah,” sang Dokter mengakhiri laoran pemeriksaannya.

Ibunya sudah menangis dipelukan ayahnya. Airmatamu sudah mau tumpah juga. Namun kau menahannya. Kau membekap mulutmu agar tangismu tak pecah.

Begitu Dokter dan orangtuanya keluar. Kamu kembali duduk di kursi yang ada disamping ranjangnya. Kamu mengguncang tubuhnya pelan, berharap dengan melakukan itu kau bisa membuatnya sadar. Namun itu semua percuma.

Tak lama ibunya masuk lagi kekamar rawatnya. Menepuk pundakmu pelan. “Kami sudah menyerah. Sudah tak ada harapan lagi. Jam 5 sore nanti, semua peralatannya aka dilepas,” ujar ibunya sedih.

“Tapi, Ahjumma…” kamu ingin mencegah keputusan ibunya. Namun kamu juga tak tahu apa yang harus kamu katakan untuk membuat ibunya menarik kambail keputusannya.

Ibunya menepuk kembali pundakmu. Berharap agar kau mengerti betapa beratnya juga beban yang dipikulnya.

Ibunya keluar lagi, seolah-olah memberimu ruang untuk bersamanya sebentar lagi. Kamu menangis sejadi-jadinya sambil mengguncang tubuhnya lumayan keras. “Ireona! Bangun! Aku ga mau kehilangan kamu! Kumohon, bangunlah. Aku belum menyampaikan perasaanku padamu. Tegakah kau meninggalkanku?! Banguuuun!!”

Kau telungkupkan kepalamu diatas dadanya. Kamu menangis disana hingga pakaian yang melekat pada tubuhnya pun basah karena airmatamu.

Lama kamu menangis disana hingga kamu lelah. Kamu kembali mengangkat kepalamu. Duduk sambil memandangi wajahnya untuk yang terakhir kali. Kau pandangi dia dari ujung rambut, turun ke wajahnya, turun lagi ke lehernya, ke dadanya, dan pandanganmu berakhir ditangannya. Lama kamu memandangi tangannya. Dan kamu kaget luar biasa saat tangannya bergerak.

Pandanganmupun kembali tertuju pada matanya. Matanya perlahan terbuka. Kamu tak kuasa menahan airmatamu. “Kamu sudah bangun?” tanyamu pelan sambil berusaha menyunggingkan senyummu.

“Noona jangan menangis,” dia tersenyum lembut padamu.

“Kenapa kamu baru sadar sekarang?! Aku panggil dokter dulu,” ujarmu sambil beranjak berdiri hendak keluar. Namun tangannya menahanmu. Walaupun lemah, dia tak akan melepaskan tanganmu.

Tangannya menarik tanganmu, cukup kuat, hingga tubuhmu  hampir limbung. “Duduklah,” suruhnya lemah.

Kamu pun menurut. Kamu duduk disampingnya. Ia melambaikan tangannya agar kau menedekat. Kamu pun mendekatkan kepalamu.

“Saranghae,” bisiknya ditelingamu.

Mukamu sudah memerah. Jantungmu suah berpacu cepat. “Ka…kamu serius?”

“Ne, aku harap Noona bisa menerimaku. Ani, Noona harus menerimaku!” paksanya.

“Kok maksa sih?!” ujarmu sedikit sewot.

“Tapi mau kan?” tanyanya sambil tersenyum jahil.

Mukamu makin memerah. “Aku panggil Dokter dulu,” kamu langsung keluar dengan senyum yang selalu tersungging dibibirmu.

***

Akhirnya ia sembuh total dan bisa kembali melanjutkan kuliahnya. Sebisa mungkin kamu selalu menemaninya karena terkadang ia merasa tubuhnya sedikit lemah karena efek koma selama sebulan.

Kamu menunggunya menyelesaikan mata kuliahnya di kantin kampus. Tiba-tiba seseorang duduk dikursi yang ada didepanmu. Ternyata sunbaemu. “Ga pulang?” tanya sunbaemu lembut.

“Engga,” jawabmu singkat. Sebenarnya kamu tahu sunbaemu yang satu ini menyukaimu. Tapi kamu juga sedikit weird dengan sifat sunbaemu ini, yah walaupun kalau dihadapanmu sunbaemu itu akan bersikap luar biasa baik padamu.

“Sunbae, jangan pernah ganggu Noona lagi!” ia yang baru datang langsung sewot dan membawamu pergi dari situ.

“Ya! Jangan cepet-cepet jalannya,” keluhmu karena langkahmu tak bisa mengimbangi langkahnya yang lebar dan cepat.

Ia berhenti, suasana sudah sepi karena memang sudah sore, ia memojokkanmu di dinding. Matanya menatap matamu tajam tepat di manik mata.

Kamu tak berani memandang matanya langsung. Kaupalingkan kepalamu, namun ia menghadapkan kepalamu agar menghadapmu lagi. Sekonyong-konyong bibirnya meraih bibirmu. Singkat namun dalam.

“Jangan pernah dekat dengan lelaki lain!” ia memperingatkanmu.

Kamu masih belum bisa mengatur jantungmu yang sudah berpacu secepat kuda. Namun ia tersenyum dan mengusap kepalamu lembut dan menggandengmu untuk pergi dari situ. Genggamannya ditanganmu kuat namun juga lembut. Wajahmu makin merah.

***

Beritamu yang menjalin hubungan dengannya beredar di seantero kampus. Banyak yang kesal padamu karena dia lebih muda darimu. Juga karena dia lelaki yang baik hati dan pastinya banyak yang menyukainya.

Kamu berjalan memasuki kampus, sendirian karena hari ini jadwalmu mulai siang hari sedangkan ia mulai sejak jam pertama.

Kamu hendak ke kelasmu, namun dalam perjalanan kesana, matamu menangkap sekumpulan mahasiswi ang sedang mengobrol sambil melihat sinis kearahmu. Dan semakin jauh kamu berjalan, semakin banyak yang melakukan hal seperti tadi.

“Apa salah kalau kita pacaran? Salah kalau dia punya pacar yang lebih muda? Salah kalau aku punya pacar yang lebih tua?” teriak seseorang dari belakang. Kamu sangat mengenali suaranya.

Lalu ia berjalan kearahmu dan berhenti disebelahmu. Sebelah tangannya merangkul bahumu. Jenis rangkulan posesif.

“Kami saling menyayangi. Umur bukanlah masalah!” tegasnya tanpa bisa dibantah.

Lalu ia menggandeng tanganmu dan mengantarkanmu kekelasmu.

“Gomawo,” ucapmu pelan.

“Kalo ada masalah lagi, bilang aku aja Noona. Sms atau telepon aku, dan aku akan langsung datang, ok?” senyumnya yang menawan ia persembahkan untukmu.

“Ne,” jawabmu singkat.

Ia mengusap kepalamu dan berlalu untuk mengikuti kelas selanjutnya. Kamu pun memasuki kelasmu. Hatimu sungguh lega dan hangat. Ia berhasil membuatmu mencintainya dan makin mencintainya seiring berjalannya waktu.

THE END!