Back! Back! Back!

Silahkan yang mau baca and nge-vote di sini, Ji Soon senang banget… J

Ini part ke-5 nya dan ceritanya mgkin kalo agak gaje harap dimaklumi ya… ^^

Tanpa banyak curcol lagi, Happy Reading All!! ^o^

=====================================##################=======================================

Title             :     Love In SEOUL

Genre         :     Friendship,romantic, and school life

Chapter      :     5

Cast             :     –  Ji Soon (author)

–   Jang Hyun Ra (Tam. P/author)

–   Lee Seung Yeon (Dicta/author)

–   Park Jae Soon (Olvi/reader)

–   Dong Woon (BEAST)

–   Hyun Seung (BEAST)

–   Yo Seob (BEAST)

–   Jun Hyung (BEAST)

And other cast…

Jae Soon menatap kosong rumput-rumput yang ada di tanah tempat ia berpijak. Namun untuk saat ini wajahnya tidak ceria seperti biasanya, seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya dan sekarang benar-benar membuatnya gugup.

Aku harus berani, aku harus menghadapi kenyataan ini. Aku harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kulakukan. Maafkan aku Ji Soon-ah…

Batin Jae Soon dalam hati. Entah mengapa ia merasa seperti telah bersalah, bahkan ia pun tidak sadar kenapa ia melakukannya. Kini ia hanya bisa menyesalinya tak berdaya. Ia berusaha menguatkan dirinya dan mencoba beranjak dan menjelaskan semuanya pada Ji Soon.

“Eonni!” Jae Soon pun tidak jadi beranjak dari kursinya, mungkin inilah saat yang pas untuk ia mengatakannya.

“Waeyo Ji Soon-ah?” tanyanya membalas panggilan dari Ji Soon tadi, dan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.

“Eonni, jangan bohong deh! Jujur aja, apa yang sudah eonni lakukan tadi? Siapa mereka?” tanya Ji Soon sambil memendam rasa kesalnya. Jae Soon terdiam sejenak dan mencoba menghela nafas panjang.

“Oh, tentang itu… Ternyata kau sudah mengetahuinya ya~? … Mmm, aku akan menjelaskan padamu nanti, sekarang ayo kita lihat penampilan mereka! Aku sudah penasaran dari tadi,” ajak Jae Soon seraya menyeret tangan Ji Soon berlari menuju tempat pentas diselenggarakan.

Sesampainya di sana…

 

“WOW~! It’s the best performance of BEAST! Beri tepuk tangan yang meriah sekali lagi pada mereka semua! … Yaa~! Kamsahamnida! Kamsahamnida!” ucap sang MC acara tersebut sambil menjabati tangan para personil Beast satu-persatu dan mengucapkan terima kasih kepada mereka membuat para penonton yang menyaksikannya berteriak histeris sekali lagi karena keberuntungan sang MC tersebut.

“Baiklah, untuk selanjutnya kita akan menyaksikan sebuah penampilan spesial, yang entah dari siapa kita semua tidak tahu karena pemberitahuan ini mendadak dan sedikit mengubah susunan acara yang sudah ada. Oke, tanpa basa-basi lagi, mari kita sambut penampilan dari BEAUTY!” sang MC pun segera kembali ke belakang panggung dan selang beberapa detik kemudian muncullah dua perempuan, yang dari segi fisiknya Ji Soon kenal samar-samar.

Lagu I Go Crazy Because Of You dari T-Ara mereka berdua nyanyikan dengan cukup baik dan memuaskan yang lainnya. Pada saat lagu berakhir, kacamata (kacamata pesta yang biasa dikenakan saat pesta topeng) yang mereka berdua pakai, mereka lepas bersama-sama. Betapa terkejutnya semua penonton yang menyaksikannya, termasuk  Ji Soon. Mereka berdua ternyata adalah dua murid baru itu, yang tak lain adalah Seung Young dan Hyun Ra.

Ji Soon benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan saja ia lihat. Dan hal ini tidak bisa dibiarkan. Sekarang Ji Soon tahu kenapa waktu itu mereka ada di gedung agency Cube Entertainment. Ternyata mereka juga sedang mempersiapkan debut mereka. Ini sebuah masalah lagi. Ji Soon menyadari persaingan semakin ketat.

“WOW!!! Ini benar-benar mengejutkan. Dua murid baru sekolah kita sekarang akan menjadi primadona.  Seung Young dan Hyun Ra… Ckckck! Hebat sekali, kalian ternyata punya bakat luar biasa. Apa di saat ini ada yang ingin kalian sampaikan? Atau penjelasan mengapa kalian memakai nama Beauty?” tanya MC yang masih terkejut dengan semua yang ia lihat.

“Annyeong haseyo!” sapa mereka berbarengan kepada semuanya.

“Jang Hyun Ra imnida! Dan partner saya Lee Seung Young, akan menjelaskan beberapa hal dan pastinya harus kalian ketahui semua. Untuk penampilan kami tadi, itu adalah debut kami sebagai girlband baru di Korea. Untuk sementara juga kami menggunakan nama fandom Beast karena atas usul mereka. Tapi untuk selanjutnya kami akan lebih memikirkan nama grup kami. Kami juga berterima kasih kepada sunbae-sunbae kami, yaitu seluruh anggota Beast, yang telah membantu segalanya demi debut kami ini. Tapi debut ini masih belum resmi, kami masih belum memberitahu kepada khalayak. Untuk debut resmi kami sesuai rencana akan dilaksanakan bulan depan. Kami mohon pada kalian semua atas dukungannya. Semoga kami bisa memberikan kalian semua yang terbaik. Kamsahamnida!” jelas Hyun Ra panjang lebar dan menundukkan badannya berterima kasih. Begitu pula dengan Seung Young yang sedari tadi hanya diam saja, tetapi juga ikut mendengarkan apa yang dijelaskan Hyun Ra tadi.

Seluruh penonton yang menyaksikannya bertepuk tangan senang dan terharu. Ternyata di sekolah mereka ada dua orang murid yang nantinya akan selalu mereka ingat atas kepopulerannya dan membawa nama baik sekolah mereka. Maka mereka semua pun ikut berpartisipasi mendukung mereka berdua. Tapi tidak bagi Ji Soon. Ia yang sedari tadi hanya diam saja di antara barisan ratusan penonton,  tidak menghiraukan semua perkataan Hyun Ra tadi. Bahkan tepuk tangan dari seluruh penonton tadi tidak sama sekali membuatnya tertarik. Kini ia sedang bingung sendiri mencari sahabatnya yang sejak dari tadi bersamanya itu, yaitu Jae Soon. Saat performance dari Hyun Ra dan Seung Young berlangsung, Ji Soon yang sedang asyik menyaksikan, tiba-tiba saja terkejut saat ia hendak berdiskusi dengan Jae Soon ternyata ia sudah tidak ada di tempatnya.

Ji Soon tidak memedulikan lagi apa yang sedang dijelaskan oleh Hyun Ra dan Seung Young, ia segera keluar dari aula tempat acara berlangsung tersebut untuk mencari Jae Soon.

Di tempat lain…

 

Dong Woon POV

 

“Yaa~! Dong Woon-ah! Ayo cepat kita kembali ke belakang panggung tadi. Sudah berapa lama kau menghabiskan waktu di ruang musik ini, sedangkan aku hanya diam bak patung pengemis di sini, huhh? Kajja!” suara Hyun Seung membuyarkan lamunan Dong Woon yang sedang duduk di dekat piano sambil memandang kosong piano yang ada di depannya.

“Sabar hyung! Kau mengagetkanku saja. Aku sedang bernostalgia di sini,” jawab Dong Woon kesal.

“Aissh~! Kau ini menyebalkan sekali. Jangan egois dong! Kamu ke sini sama siapa, huhh? Dan sekarang malah menelantarkanku sendiri. Huhh! Benar-benar menyebalkan sekali. Kalau kau tidak cepat keluar dari sini, maka aku akan…”

“Ara! Ara! Ara! Sudahlah, jangan banyak omong lagi! Ayo cepat kita keluar sebagai permintaanmu…” sela Dong Woon kesal. Ia tahu kalau ia tidak menuruti hyungnya yang satu ini segera, mungkin sebelum keluar dari ruangan itu telinga Dong Woon bisa pecah, mendengar ocehannya yang terus-menerus tidak ada habisnya sebelum permintaannya terpenuhi. Sedangkan Hyun Seung sekarang hanya bisa senyam-senyum sendiri mengingat kelakuannya dan Dong Woon saat itu. Tapi langkah mereka berhenti saat emndengar derap langkah kaki seseorang yang akan melewati ruangan itu. Mereka berdua segera mengintipnya melalui jendela yang tingginya sebatas hidung mereka, sehingga hanya mata dan rambut mereka sajalah yang kelihatan dari luar.

“Itu kan…” Dong Woon terkesiap dengan apa yang dilihatnya.

“Siapa dia?” tanya Hyun Seung tidak mengerti. Lama Dong Woon tidak menjawab, kini ia tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Ahh, hyung! Apa kau bawa air minum tadi?” tanya Dong Woon tiba-tiba mengejutkan Hyun Seung yang tadi sempat melihat keluar lagi.

“Air minum? … Mmm, ya, aku bawa!” serunya sambil berjalan menuju kursi , tempat ia duduk tadi dan mengambil botol minumnya yang masih separuh penuh isinya dan segera memberikannya ke Dong Woon.

“Mau buat apa sih?” terlambat untuk bertanya bagi Hyun Seung, Dong Woon yang telah menerima botol minum itu langsung bersiap-siap keluar ruangan sambil membuka penutup botol itu dan…

BYUURRR…

“AAAAHHHHHHH!!!!” suara teriakan bergema hampir satu sekolah itu. Bahkan Hyun Seung sampai menutup telinganya karena suara teriakan perempuan itu. Kini di hadapan Dong Woon berdiri seorang perempuan yang sangat dibencinya sejak pertama kali bertemu dengannya, yang tak lain adalah Ji Soon. Dong Woon tersenyum puas akan kemenangan pembalasannya kali ini. Pembalasan untuk insiden di WC sekolah beberapa hari yang lalu.

Semua murid yang mendengar teriakan Ji Soon tadi segera mengerumuni tempat kejadian tersebut. Mereka berdua sama-sama kaget, ternyata pembalasan Dong Woon kali ini benar-benar mengundang perhatian banyak orang. Ji Soon memandangi dirinya yang sudah basah kuyup sekarang ini. Dan melihat ke arah siapa yang berani melakukannya.

“Neo…” betapa terkejutnya Ji Soon saat yang ia dapati di hadapannya sekarang ini orang yang paling dibencinya di dunia tersenyum puas memandang kemenangannya.

“Makanya lain kali kalau jalan itu hati-hati dong! Lihat, sekarang kau menghabiskan minumanku,” ujar Dong Woon menyalahkan Ji Soon. Dong Woon tahu bahwa dirinya di mata publik tidak boleh ada cela sedikit pun. Maka ia pun memutuskan untuk berbohong dan malah menuduh Ji Soon agar dialah yang seolah-olah bersalah.

Ji Soon tidak percaya dan tidak habis pikir dengan apa yang barusan Dong Woon ucapkan tadi. Sesuai kenyataanya, Ji Soon tidak ada sama sekali menabrak Dong Woon, tetapi mengapa sekarang ia yang disalahkan olehnya. Ji Soon tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk membela dirinya di depan bayak orang sekarang ini, karena semua orang sudah berpihak kepada Dong Woon. Semuanya mencemooh dan meremehkan Ji Soon.  Ji Soon merasa tersingkirkan dan terpojok.

Tapi waktu itu tidak seburuk yang ia pikirkan. Seorang pahlawan, mungkin bisa dibilang begitu, datang menyelamatkannya. Dengan segera sebuah jaket menutupi badan Ji Soon yang basah kuyup tersebut.

Seseorang telah menyelamatkanku, terima kasih Tuhan… Aku sangat berhutang budi padanya…

Batin Ji Soon dalam hati sambil mencoba melihat wajah penyelamatnya itu.

“Tae Min?” Ji Soon sekali lagi dibuat terkejut dari insiden ini. Seseorang yang telah menyelamatkannya dari ocehan beberapa murid lainnya ternyata adalah Tae Min. Benar-benar tak dapat diduga, pikir Ji Soon dalam hatinya.

“Neol gwaenchana? … Aissh~! Aku harus membereskan pria ini dulu,” kata-kata Tae Min tadi membuat Ji Soon tidak takut lagi. Tapi ia semakin tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Tae Min kepada pria yang telah menuduhnya itu. Sebuah tinju melayang ke arah pipi pria yang Ji Soon benci itu sehingga menyebabkan ia terjatuh ke lantai dan hidungnya berdarah. Ternyata Tae Min yang sekarang ini berbeda sekali dengan Tae Min yang kukenal. Ia begitu kuat dan penuh amarah.

“Dengarkan aku, jangan pernah sekali lagi kau menampakkan diri di hadapanku dan Ji Soon! Jangan pernah menyakiti dia lagi. Dan anggaplah pukulan tadi sebagai peringatan terakhir dariku!” ancam Tae Min sebelum akhirnya menarik tangan Ji Soon dan merangkulnya berjalan meninggalkan tempat kejadian itu.

“Dong Woon-ah~~” seru Hyun Seung sembari memberikan bantuan untuk berdiri kembali pada Dong Woon. Tapi Dong Woon menolak bantuan hyungnya itu dan segera berdiri sendiri. Semua murid yang tadi menyaksikan kejadian itu segera minggat setelah melihat tatapan sangar dari Dong Woon yang membuat mereka semua ketakutan. Dong Woon berjalan kembali dengan tatapan kosongnya yang khas. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Dong Woon, Hyun Seung jadi bingung sendiri. Hyun Seung berharap semua kejadian ini hanyalah mimpi. Atau semoga kejadian ini tidak menimbulkan efek yang luar biasa untuk pemberitaan tentang diri mereka nantinya. Hyun Seung hanya bisa berharap dan berdoa.

Beralih kepada apa yang terjadi sekarang antara Ji Soon dan Tae Min…

 

Ji Soon POV

 

“Jengmal gomawo, Tae Min-ah!” hanya itu yang dapat kuucapkan. Mungkin kata terima kasih saja masih belum cukup dengan apa yang sudah ia lakukan demi menolongku tadi. Mendengar kata itu, sontak Tae Min pun tersenyum indah ke arahku, dan hal ini semakin membuat jantungku berdetak tidak normal.

“Tenang saja, selama aku masih kuat, aku akan mencoba untuk selalu menjagamu. Kau tidak usah khawatir, jika ada apa-apa kau harus menggunakan telepatimu untuk memanggilku, hehe…” canda Tae Min kepadaku di sela-sela katanya yang membuatku merasa tenang dan nyaman. Aku pun ikut tertawa kecil menanggapi candaannya itu. Kini ia menatapku lebih dalam dan lebih dekat lagi, semakin dekat, sehingga jarak wajah di antara kami berdua hanya berkisar 5 cm saja. Jantungku semakin berdetak tidak karuan.

“Kau sangat lucu jika sedang tertawa. Jangan pernah meragukan pahlawanmu ini, adik kecilku!” tukasnya, dan menggerakan wajahnya mendekati keningku, lalu kurasakan hangatnya kecupan darinya di keningku. Tapi saat mendengar ucapan terakhirnya tadi, ‘adik kecil’? Ternyata ia hanya menganggapku sebagai adiknya. Hal ini benar-benar membuatku merasa drop. Apakah ini yang kau rasakan kepadaku, Tae Min-ah? Aku berbicara sendiri dalam hati.

“Ji Soon-ah!!!” suara seseorang mengagetkan kami berdua yang hanya berdua saja di dalam ruang UKS ini.

“Di sini kau rupanya. Aku sudah mencarimu kesana- kemari, ternyata kau ada di sini. … Apa yang terjadi padamu, kenapa rambutmu basah? Kau tidak apa-apa kan?”

“Oppa? Kenapa kau bisa ada di sini?” betapa terkejutnya aku saat kuyakini bahwa ternyata suara itu adalah suara milik Jo Hyun oppa.

“Kan sudah kubilang kalau aku mencarimu. Karena aku mencarimu berarti ada sesuatu yang penting yang harus kukatakan kepadamu,” jelas Jo Hyun oppa dengan nada kesal akibat pemikiranku yang lambat mencerna ini. Aku pun segera bangkit dari kasur tempatku duduk tadi dan melangkahkan kakiku menuju Jo Hyun oppa yang sedang berdiri di depan pintu.

“Ji Soon-ah! Kalau mau, pakai saja dulu jaketku itu. Lagipula kau kan tidak ada baju lagi untuk berganti, jadi tidak usah menolak ya…”panggilan Tae Min tadi menghentikan langkahku sejenak dan menoleh kembali ke arahnya yang kini sedang tersenyum lebar lagi. Aku membalasnya dengan anggukan sebagai tanda paham dan senyumku yang sudah khas sebelum akhirnya aku meninggalkannya sendirian di ruangan itu dan mengikuti oppaku dari belakang.

Oppa mengajakku keluar menuju halaman depan sekolah. Tiba-tiba ia berhenti tak jauh 3 langkah dariku dan segera berbalik arah menghadapku. Wajahnya terlihat tidak seceria biasanya, aku takut sesuatu yang tidak kuinginkan akan ia ungkapkan.

“Ji Soon-ah…” kuberanikan diri untuk menatap wajahnya yang kini benar-benar  menunjukkan wajahnya yang sedih.

“Oppa, jangan bilang kau akan mengatakan sesuatu yang buruk…” jawabku sambil menahan air mata yang hampir keluar dari pelupuk mataku ini.

“Mianhae Ji Soon-ah, mianhae selama ini oppa tidak bisa selalu bersamamu. Oppa tahu kau sangat sedih saat oppa jauh darimu dan sangat bahagia saat oppa bersamamu. Maka dari itu oppa tidak akan pernah menyiakan kesempatan saat bersamamu, semua keinginanmu oppa akan turuti. Tapi untuk kali ini oppa benar-benar minta maaf…” terdengar isak tangis yang sejak awal tak mau kudengar darinya. Aku juga tidak dapat menahan air mata ini lagi. Kupeluk oppaku yang masih terisak ini. Kami sama-sama melepaskan semua rasa sedih dan penat ini.

“Ji Soon-ah, oppa akan kembali lagi untukmu. Tapi untuk saat ini oppa harus kembali ke Amerika. Oppa akan sangat merindukanmu di sana…” kata oppa masih terisak dalam pelukanku ini. Ia mele[askan pelukanku dan sekarang berusaha memandangiku dan memegang bahuku yang masih terguncang karena aku tidak mampu menahan tangis ini.

“Kau tahu kan, oppa sudah mendapat jalan untuk mewujudkan cita-cita oppa yang kau dan ibu inginkan? Jadi oppa mohon kali ini kita sama-sama mengerti. Sekarang oppa akan pergi, dan oppa mohon kau jangan menangis lagi ya? Oppa janji akan segera kembali lagi secepatnya. Jadi jangan pernah berpikir kalau kau selalu sendirian di sini, oppa di sana selalu memikirkanmu kapanpun, bahkan saat sedang memainkan piano oppa akan memikirkanmu. Jaga dirimu baik-baik ya… Hubungi oppa jika kau ada masalah atau sedang merindukanku,” Jo Hyun oppa meyakinkan diriku agar selalu percaya bahwa aku tidak pernah sendirian di sini. Aku mengangguk pelan.

“Oppa sangat menyayangimu. Sampai jumpa lagi dongsaengku tersayang!” ujarnya terakhir sambil memberikan kecupan di kening dan pelukan terakhir kepadaku, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkanku sendirian lagi di sini. Sampai jumpa kembali oppa, aku pasti sangat merindukanmu. Eomma, jagalah oppa senantiasa bersamamu.

—Ji Soon POV End—

Seung Young POV

 

“Omo…” aku membungkam mulutku sendiri secepatnya. Rasanya aku ingin berteriak, tetapi bukan di waktu dan tempat sekarang ini. Aku tahu semuanya sekarang.

Joe, dia telah kembali… Dan ternyata Ji Soon adalah adiknya Joe…

Aku bergumam sendiri dalam hati. Aku masih tak percaya dengan apa yang telah kusaksikan. Dan apa yang kurasakan sekarang ini, aku pun juga tak mengerti. Rasa kesal, marah, sedih , dan haru, semuanya berkumpul jadi satu.

Joe, kenapa kau kembali di saat seperti ini… Di saat aku akan mencoba membuka hatiku kembali untuk orang lain…Dan di saat ini juga aku semakin tidak bisa melupakanmu…

Perkataanku semakin melantur entah kemana. Pikiranku hampa, hatiku juga sakit. Sekarang aku bingung, apa yang harus kulakukan? Apakah aku akan mengejar cinta pertamaku kembali  atau melupakannya? Entahlah, aku juga bingung.

Ji Soon, ternyata gadis itu adalah pencerminan dari Joe. Mungkin itulah hal yang mengganjal di hatiku mengapa aku selalu membencinya. Ia benar-benar mirip dengan pria jahat yang telah meninggalkanku itu. Aku masih tak bisa memaafkannya, ia yang telah mengubah diriku menjadi sekarang ini. Seung Young yang ceria sekarang menjadi Seung Young yang pendiam dan dingin hatinya.

“Seung Young~! … Kau.., kenapa bisa ada… di sini?” aku tersentak kaget melihat Ji Soon yang kini sedang menatapku keheranan. Ternyata ia telah melihatku. Entah apa yang ia pikirkan tentang diriku sekarang ini.

“Kau melihat… tadi?” kudengar suaranya terbata-bata. Aku kembali bersikap dingin dan berjalan mendekat ke arahnya.

“Melihat apa? Kau dan pria tadi? Heh, kasihan sekali dirimu… Begitu banyak sekali cobaan yang harus kau lalui. Dan sekarang kau harus menerima kenyataan bahwa debut kalian akan ditunda sementara, dan pastinya kalian harus mengalah pada kami. Oh ya, aku juga tidak lupa berterima kasih kepada sahabatmu itu atas kesediaannya menyampaikan surat itu dan juga pada dirimu yang telah mempersilahkan kami mendapatkan kesempatan, terima kasih ya…” aku tersenyum sinis ke arahnya dan segera berlalu darinya dengan sengaja menyenggol sedikit bahunya untuk meninggalkan kesan tegang kepada dirinya. Rasa bersalah seperti menghantui diriku, kasihan terkadang melihatnya seperti itu. Diriku yang sebenarnya tidak mungkin melakukan hal itu, tapi situasi yang mengahruskan mulutku berbicara seperti itu. Kutinggalkan dia yang masih sendiri termenung di halaman sekolah.

—Seung Young POV End—

***

“Jae Soon-ah!” panggil seseorang kepada Jae Soon yang sedang berada di dalam kelas melihat ke luar menghadap ke arah halaman depan sekolah melalui jendela. Jae Soon spontan menoleh ke asal sumber suara tersebut.

“Jun Hyung-ssi…” betapa terkejutnya Jae Soon saat menyadari bahwa yang memanggilnya tadi adalah orang yang saat ini sedang tidak ingin ia temui.

“Yaa~! Jangan memanggilku seformal gitu! Mulai dari sekarang panggil saja aku oppa, arraseo?” pinta Jun Hyung sambil mengacak rambut Jae Soon gemas.

“Ahh~! Ara, ara! … Mmm, ada apa oppa memanggilku?” tanya Jae Soon yang memaksakan tersenyum di depan pria itu dan tak lupa memperbaiki rambutnya yang berantakkan gara-gara diacak-acak tadi.

“Ani, aku hanya mau bilang terima kasih. Terima kasih karena sudah membantu kami tadi. Sebagai rasa terima kasihku, mau kan besok ikut aku makan malam di luar?” Jae Soon tak menyangka bahwa Jun Hyung mau mengajaknya keluar. Ia hanya bisa mengangguk dan masih melongo tidak percaya, sedangkan Jun Hyung hanya tersenyum melihat tingkahnya.

“Kutunggu kau di Taman Yeouido besok sore jam 5, jangan lupa ya…” Jun Hyung tersenyum lagi seraya pergi meninggalkan Jae Soon yang masih diam tidak percaya itu.

Omo, Jae Soon-ah! Apa kau sedang bermimpi sekarang ini? Yes! Yes! Yes!

Pekik Jae Soon dalam hati. Jae Soon berteriak ‘yes’ dengan girangnya sambil meloncat. Tapi kegirangan itu tidak dapat dirasakan oleh sahabatnya, Ji Soon, yang masih termenung sendiri di halaman sekolah tadi.

Malam hari di rumah Jae Soon dan Ji Soon…

 

Dentingan piano di malam hari menambah suasana sunyi dalam rumah itu. Ji Soon yang terlihat sedang memainkan piano, dengan lagu yang sudah diulang olehnya berapa kali, membuat Jae Soon sendiri miris melihatnya dari kejauhan. Jae Soon tahu apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu. Jae Soon merasa sangat bersalah, maka ia pun memberanikan dirinya mendekati Ji Soon. Jae Soon duduk di samping Ji Soon dengan perlahan dan menggenggam tangan Ji Soon, sehingga permainan piano itu pun berhenti.

“Ji Soon-ah…” sapa Jae Soon, namun tak membuat Ji Soon mengalihkan tatapannya dari pianonya tersebut.

“Mianhaeyo Ji Soon-ah… Aku…” Jae Soon tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat Ji Soon menatapnya lekat. Ji Soon hanya menatapnya, tidak berbicara sepatah kata pun. Sedangkan Jae Soon sudah sangat ketakutan dengan tatapan mematikan dari sahabatnya itu. Terlihat mata Ji Soon yang mulai memerah dan menitiikan setetes air dari matanya.

“Ji Soon-ah, mianhae…” Jae Soon tidak dapat mengungkapkan  semua rasa bersalahnya. Ia mendekap Ji Soon dalam pelukannya dan menangis bersama.

“Ji Soon-ah, kau tidak sendirian di sini… Aku akan selalu bersamamu… Aku akan bertanggung jawab atas semuanya, kau jangan khawatir ya…” bela Jae Soon dengan masih terisak. Ji Soon masih tidak dapat berkata apa pun, ia menangis dan menangis terus.

Sementara di rumah Seung Young dan Hyun Ra…

 

“Yaa~! Youngni! Lagi diet ya? Kok gak mau makan malam sih, tumben banget… Biasanya kan dua piring habis tuh…” Hyun Ra menghambur masuk ke dalam kamar Seung Young. Seung Young  hanya mendesah kesal mendengar ocehan Hyun Ra.

“Yaa~! Kau kenapa, huhh? Ada masalah ya? Cerita dong sekali-sekali,” Hyun Ra kembali cerewet dan itu membuat Seung Young menutup telinganya dan berteriak keras.

“HEY! HEY! Ada apa itu ribut-ribut di atas sana? Ayo cepat kalian turun, makanan sudah siap!” suara Hye Sun eomma bergema hampir dalam satu rumah membuat mereka harus menghentikan pertengkaran di antara mereka.

“Sudah, cepat keluar sana! Bilang eomma aku akan menyusul sebentar lagi, aku mau ganti baju sebentar…” suruh Seung Young sambil mendorong, atau lebih tepatnya mengusir Hyun Ra keluar dari kamarnya. Hyun Ra hanya mendengus kesal. Selalu saja begitu, gumam Hyun Ra dalam hatinya.

Setelah Hyun Ra keluar, Seung Young menutup pintu kamarnya dan segera berganti baju. Ya, memang sejak dari tadi Seung Young belum sempat mengganti seragamnya. Karena sejak pulang sekolah tadi Seung Young hanya termenung duduk di meja belajarnya sambil mengingat-ingat kejadian tadi siang di sekolahnya. Hingga bayangan masa lalunya pun muncul bersamaan dalam ingatannya itu. Ia takut, dengan kembalinya Joe akankah dirinya juga berubah?

Keesokan harinya…

 

“Jun Hyung oppa!” terlihat Hyun Ra sedang berlari menghampiri Jun Hyung yang tengah bersiap-siap akan segera meninggalkan dormnya.

“Waeyo Hyun Ra? Tumben sekali kau datang ke sini? Ahh, jangan bilang kau akan menemui Hyun Seung lagi ya?” goda Jun Hyung. Tampak wajah Hyun Ra yang kini berubah menjadi merah tomat.

“Mwo? Ada Seung Young juga ya… Hmm, pasti mau ketemu…”

BUKKK…

Jun Hyung meringis kesakitan saat tas yang dibawa Seung Young tadi mengenai bahunya. Seung Young hanya cengar-cengir sendiri melihat hasil dari perbuatannya.

“Makanya jangan suka nuduh yang macam-macam! Gitu deh akibatnya…” Seung Young tertawa penuh kemenangan.

“Aigoo~! Jahat sekali kau Seung Young!” Jun Hyung masih meringis kesakitan sambil memegangi bahunya yang sakit.

“Biar aja!” jawab Seung Young cuek sambil menjulurkan lidahnya mensyukuri penderitaan Jun Hyung.

“Yaa~! Oppa, selamat bersenang-senang ya! Tapi jangan sampai membuat pacarmu cemburu loh, ini kan cuma sebagai balasan terima kasih kepada Jae Soon yang sudah kita semua rencanakan matang-matang,” Hyun Ra memperingatkan Jun Hyung. Ia mengangguk paham. Setelah mengucapkan salam berpisah, Jun Hyung segera pergi ke tempat tujuannya, yaitu Taman Yeouido.

Di rumah Ji Soon dan Jae Soon…

 

“Ji Soon-ah… Kau tidak apa-apa kan jika aku tinggal sendirian?” tanya Jae Soon mencemaskan keadaan Ji Soon. Perasaannya tiba-tiba saja menjadi aneh dan tidak nyaman. Mungkinkah sesuatu yang buruk akan terjadi?

“Na gwaenchana eonni!” Ji Soon mencoba meyakinkan eonninya, walaupun ia juga merasakan hal yang tidak enak mengganjal di hatinya.

“Baiklah, aku percaya! Kalau ada apa-apa, jangan lupa menghubungiku ya… Dah Ji Soon-ah!” ucap Jae Soon terakhir kepadanya sebelum meluncur pergi masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan kediaman rumah mereka.

Setengah jam kemudian…

Ting Tong… Ting Tong…

Ji Soon membukakan pintunya bagi siapa saja tadi yang sudah mengetuk pintu rumahnya.

“Manager?” Ji Soon bertanya-tanya penuh keheranan mengapa managernya bisa datang ke rumahnya. Apakah ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan.

“Masuklah manager…”

“Tidak usah, Ji Soon-ah! Kau segera ikut saja denganku!” pinta manager tanpa mengabaikan wajah kebingungan Ji Soon. Segera mereka berdua pun meninggalkan rumah. Perasaan Ji Soon benar-benar tidak enak, dan rasanya sudah mau meledak. Ada apakah ini sebenarnya?

Sesampainya…

“JI SOON! Apa yang sudah kau lakukan? Kau mencoba untuk mempermainkan kami semua, huhh?”

“Jeosonghamnida!”

“Kau pikir dengan kata maaf saja semuanya bisa selesai? Kau sudah melanggar peraturan kontrak kita, asal kau tahu saja!”

“Jeosonghamnida… Tolong berikan saya satu kesempatan lagi…”

Ji Soon kini berada di dalam ruangan sang presiden SM Entertainment. Kali ini ia tidak bernasib mujur, salah satu teman Ji Soon yang sempat mendengar obrolannya dengan Seung Young kemarin, melaporkan dirinya secara diam-diam kepada sang presiden dan dengan meminta imbalan. Maklum, karena memang sejak awal temannya itu sudah menaruh rasa benci saat pertama kali Ji Soon masuk sekolah itu. Hanya saja apa yang ia dengar tidak sepenuhnya. Ia hanya mendengar saat Seung Young berterima kasih kepada Ji Soon. Jadi ia sudah pasti menganggap bahwa yang salah adalah Ji Soon. Mungkin karena kebencian itulah yang menyebabkan Ji Soon disalahkan olehnya. Ia sendiri bingung kenapa dirinya selalu dibenci oleh orang lain, padahal ia sendiri tidak tahu apa kesalahannya terhadap orang lain. Terlebih temannya itu adalah anak dari pelatih yang bekerja di SM Entertainment. Jadi, sejak awal ia sudah tahu bahwa mereka berdua (Ji Soon dan Jae Soon) adalah trainee di management tersebut.

“Tolong berikan saya satu kesempatan saja, untuk satu kali ini saja…” Ji Soon memohon dan berlutut di depan sang presiden sambil menangis. Sang presiden, Lee Soo Man, hanya bias menatapnya nanar. Walaupun sebenarnya ia sangat kasihan pada Ji Soon, tapi ia adalah orang yang tegas.

“Maafkan aku juga Ji Soon-ah! Apa yang sudah disetujui tidak dapat diingkari. Maslah ini tidak akan kubawa ke persidangan. Tapi dengan cara lain, kau harus menyetujui sanksinya yaitu membatalkan kontrak kita dan kau sekarang bukanlah trainee di sini lagi…” sang presiden membelakangi Ji Soon. Mungkin Ji Soon sekarang tidak tahu kalau ternyata diam-diam sang presiden menangisinya. Ji Soon tidak dapat berkata apa-apa lagi, memang benar semua yang dikatakan oleh presiden. Ji Soon melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut.

Pukul 08.00 pm KST…

 

“Ji Soon-ah! Kau ada di rumah?” Jae Soon membuka pintu perlahan-lahan. Tumben sekali lampu rumah mereka belum dinyalakan. Jae Soon berpikir pasti Ji Soon sedang keluar saat ini.Tnpa berpikir panjang lagi, Jae Soon segera menyalakan lampu dan menuju kamarnya. Sepi, pikirnya begitu… Saat yang dilihatnya kini hanyalah ruang kosong. Dan semakin luas…

Bingung, dan sangat bingung. Jae Soon merebahkan badannya di atas kasurnya yang empuk. Saat meliat ke arh kirinya, ada sebuah surat di atas kasurnya. Segera Jae Soon membuka surat itu. Perasaan tidak enak menderanya. Apa sebenarnya tertulis di dalamnya dan siapakah orang yang menulisnya?

àTo Be Continueß

Ttp ikutan ya pollingnya… ^^

*Maksa*

Hehe, biar sm2 iseng aja kita, wkwkwk…

Thx ya yg udh nungguin nih FF nongol…

Skli lg jgn lupa komentnya..😀