Author : Mirrellia
Title : Confession
Length : One Shot
Genre : Romance, Angst
Cast : Shim Changmin TVXQ, Shin Mirrelle (Original Character)

Maybe I was still able to laugh,

but can not have you,

making it laughs like useless garbage.

-Shin Mirrelle-

 Shin Mirrelle POV

Bagaimana cinta dan cara merefleksikannya? Sekelebat pertanyaan itu selalu terngiang jelas di pikiranku. Aku tak berani menjawab, tak berani berkata. Karena kata cinta begitu sulit untuk sekedar di jelaskan. Aku mencintainya itu benar, mengaguminya pun juga benar. Namun aku hanya bisa berdiri, terpaku dan menatapnya dengan mata bulatku. Dia terlalu jauh untuk ku jangkau, terlalu indah jika aku mampu menyentuhnya. Pada nyatanya aku hanyalah gadis bodoh yang menginginkannya.

Tidak hanya diriku saja, mungkin di luar sana ribuan gadis bahkan jutaan kaum hawa berpikiran sama denganku. Rasanya cinta ini menyakitkan. Terlalu lemah jika di bandingkan dengan cinta gadis yang lain. Mereka mampu mengatakan ‘Oppa aku mencintaimu.’ Tapi aku tidak bisa, bibirku terlalu kelu untuk mengatakan itu semua. Rasanya… ada sebuah batu besar yang mencekal kerongkonganku.

Pada akhirnya aku hanya mampu menatapmu. Tersenyum dalam diam, menutup mata ketika kau bernyanyi, karena begitulah caraku – cara mencintai dirimu. Aku tak pernah berteriak, tak pernah berseru seperti gadis yang lain. Karena sejujurnya aku mengingikan dirimu melihatku, bukan suaraku. Aku ingin kau menatapku berbeda, memandangku dengan senyuman lembutmu. Namun apakah itu mungkin? Kau… selalu bersinar di tengah cahaya redup sedangkan aku di sini, menanti dirimu menghampiriku. Ah tidak, menghampiri kami — penggemarmu.

Aku selalu datang di tempat kau berada, percaya atau tidak kau dan aku selalu berada di tempat yang sama secara kebetulan. Kau tersenyum bersama orang lain, begitupun juga aku. Tersenyum berbicara dengan orang lain namun satu – pikiranku hanya tertuju pada dirimu. Kau tak pernah menoleh, tak pernah menyadari bahwa gadis ini – gadis yang mencintaimu tengah menatapmu dengan segenap hatinya.

Aku menangis saat kau terjatuh, menangis saat kau terluka. Tapi aku tak bisa menjadi penopangmu, tak bisa menaruh kepalamu di pundakku. Kau terlalu berpura-pura kuat. Kau seseorang yang tengah bermetaformosa menjadi sosok laki-laki sejati. Satu sosok yang aku cintai karena itu dirimu bukanlah orang lain. Sekalipun tak pernah di terlintas di pikiranmu tentangku tapi aku yakin bahwa hati ini akan tetap terjaga, tetap bersinar hanya untuk dirimu.

“Ah maaf.” Aku tersentak. Buku-buku yang ku bawa berserakan di lantai. Lagi, aku melamun lagi dan orang lain tak sengaja menabrakku. Selalu begitu dan parahnya mereka akan berlalu pergi tanpa menghiraukan. Yah, aku memang tak pantas untuk sekedar di perhatikan.

Aku membungkuk, memungut satu persatu buku yang ku bawa. Bukan, bukan buku pelajaran atau apapun itu yang menunjang perkuliahanku. Aku membawa novel, kumpulan novel yang cukup berat namun aku senang membacanya. Berimajinasi, dan masuk ke dalam sang dunia penulis tersebut.

“Kau menyukai Harry Potter juga?” aku mengernyit. Suara itu kembali bertanya. Tak pernah seperti ini sebelumnya, biasanya orang lain akan mengacuhkanku. Bahkan tak peduli dengan buku-buku yang ku bawa.

“Ya, jika kau tidak bodoh tanpa harus bertanya.” Jawabku skeptis, tak memandangnya masih sibuk dengan buku-buku yang ku ambil.

“Kapan kau akan mulai tersenyum? Setidaknya di luar bangku penonton.” Dia bersuara kembali, keningku berkerut dan ku tadahkan wajahku ke arahnya. Aku tersentak – tubuhku lemas seketika ketika melihat wajahnya. Dia – keajaibanku, seseorang yang ku pandangi kehidupannya menatapku sambil tersenyum. Shim Changmin.

“Kaget? Shim Changmin imnida.” Ucapnya lagi – suara merdu itu menghipnotis seluruh hidupku. Aku tentu tahu namanya, bahkan seluruh gadis di Korea ini juga mengetahuinya. Namun benarkah dia yang sedang menatapku ini? Atau ini hanya sekedar ilusiku saja?

“Namamu?” tanyanya lagi ketika aku tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Terlalu shock dengan kenyataan bahwa dia – pria yang ku puja berbicara denganku.

“Ah, aku terlalu menawan ya…” guraunya dan dia mengambil salah satu bukuku yang terjatuh, membolak-balikkan halamannya dan tiba-tiba menjentikkan jarinya seolah mendapat sesuatu apa yang dia inginkan. “Shin Mirrelle. Major of Instrumental Music.” Gumamnya, membaca deretan huruf yang tertera di salah satu halaman buku tulisku yang juga terjatuh.

“Ah, satu fakultas denganku rupanya. Bisa menyanyi?” tanyanya dan lagi-lagi menatapku dengan seulas senyuman terukir di bibirnya. Dia – seperti simfoni yang terurai indah dalam lagu.

“Tidak, ah bisa. Tapi tak sebagus kau.” Aku menjawab dan ku sadari suaraku bergetar karena gugup. Ini memalukan.

“Kenapa hanya menutup mata ketika aku menyanyi? Seharusnya kau ikut berteriak.” Apa yang barusan di ucapkannya membuat tubuhku sedikit limbung. Aku jatuh terduduk dan menatapnya tidak percaya.

“Gwaenchana?” dia menyentuh bahuku dan sentuhan itu seharusnya membuat jantungku berhenti berdetak. Tuhan, jangan bangunkan aku jika aku memang sedang bermimpi.

“Bagaimana kau tahu?” ku lontarkan pertanyaan bodoh itu. Karena satu-satunya hal yang ada di pikranku adalah dirinya yang mungkinkah menyadari diriku.

“Kau satu-satunya gadis yang terlihat tenang saat menyaksikan konserku. Berdiri dan terpaku. Dan kau selalu saja berada di sekitarku.” Jawabnya lalu terkekeh pelan.

“Mencarimu tidak sulit. Kau akan menunduk ketika berjalan dan akan tersenyum senang saat sesuatu yang lucu terjadi padamu. Kau tahu, sadar atau tidak kau menarik bagiku.” Tambahnya dan mataku membulat besar. Ku tahan sekuat tenaga agar aku tak berteriak kencang saat ini juga. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin seorang Shim Changmin – pria yang begitu ku cintai bisa menyadari keberadaanku sedangkan orang lain tak bisa. Saat aku melihatnya di tengah konser aku memang terkadang menyadari seolah dia menatap langsung ke arahku. Tapi, ku pikir itu hanyalah tatapan sekilas dirinya untuk fans. Aku memang selalu berdiri di barisan paling depan, atau berada di kursi penonton untuk fans khusus. Tidak sulit untuk membeli tiket konser semahal apapun. Aku memiliki uang lebih hanya untuk melihat dirinya.

“Seorang cassie kah? Tentunya kau senang bisa berbicara denganku.” Katanya lagi dan aku mengangguk. Aku tak pandai berbohong, tak baik juga menutupi apa yang ku rasakan.

“Bicaralah, jangan menganggapku seperti alien. Aku ini, tertarik padamu.” Katanya lagi dan itu malah membuatku semakin tidak bisa bersuara. Tertarik padaku? Yang benar saja… tidak ada hal yang menarik dari diriku. Well, aku tahu wajahku cantik tapi tidak ada sedikitpun hal yang istimewa dari diriku. Aku hanya gadis biasa yang sedang mengejar ilmu di Kyunghee university bahkan aku baru saja tinggal di Korea selama dua tahun. Dan parahnya dua tahun itu ku isi dengan mengagumi dirinya.

“Ku mohon bicaralah.” Pintanya lagi dan aku menelan ludah. Jujur saja aku tidak tahu harus berkata apa.

“Bicara apa?” tanyaku bodoh.

“Aish, apa saja. Perkenalkan dirimu setidaknya.”

“Eh, Shin Mirrelle imnida.” Kataku kaku dan aku tersenyum kikuk. Aku mencoba bangkit berdiri dan dia membantuku. Tuhan… tangannya mengenggam tanganku.

“Kamsahamnida.” Ucapku sambil membungkuk. Ku genggam bukuku erat-erat untuk menahan semua kegugupanku.

“Ne, cheonmanayo.” Jawabnya dan melepas genggaman tangannya. Ah, aku masih ingin merasakan sentuhannya. Bolehkah aku berharap lebih?

“Ada fanmeeting besok di daerah Dong-gu. Kau datang?” tanyanya sambil menilik wajahku. Ku yakin saat ini wajahku sudah seperti kepiting rebus.

“Eh?” aku gugup sekali dan semakin mencengkeram bukuku dengan kuat. “Datang.” Kataku lirih dank u dengar dia terkekeh pelan.

“Kau penggemar Yunho hyung atau aku?” tanyanya kini terdengar sangat serius. Ku tatap wajahnya dan ku sadari wajah imutnya tercetak indah di sana.

“Jawab dengan jujur saja.” Tambahnya lagi saat melihat keraguan pada tatapanku.

“Kau. Aku… maximum.” Jawabku sepelan mungkin namun sedetik kemudian ia mengecup pipiku pelan. Aku mendongak, menatapnya seperti orang bodoh. Dia… apakah ini termasuk fans service? Ya Tuhan, benarkah yang ku rasakan ini.

“Hufft…” dia menghela nafas dan memegang kedua pipiku dengan jari-jarinya. Sekali lagi aku bersyukur lorong kampus ini sepi dan hanya kami berdua yang berada di sini.

“Ku temukan jawabannya setelah satu tahun memperhatikanmu.” Katanya lagi. “Tidak mengetahui namamu, tak tahu kau jurusan apa tapi aku selalu bisa melihatmu. Konser, fans meeting bahkan ketika aku menyempatkan diriku ke kampus di tengah kesibukanku aku mampu menemukan sosokmu. Kau terlalu mudah untuk di temukan. Sialnya aku baru mampu mengenal dirimu sekarang.” Jelasnya dan dadaku terasa sesak. Bukan karena aku menangis atau merasa sedih namun karena aku terlalu bahagia. Apakah benar ini kenyataan? Atau karena aku terlalu mengaguminya aku sampai berilusi sejauh ini?

“Wajahmu terlihat bodoh jika menatap seperti itu. Haha, sudah ya aku harus pergi.” Katanya mengejek lalu mengacak rambutku pelan. Darahku berdesir hebat.

“Ah, ya…. Kau harus datang besok, Shin Mirrelle.” Tambahnya dan menyunggingkan seulas senyum di wajahnya. Dia – keajaibanku, menemukan sosokku pada akhirnya.

Aku terlalu mencintaimu. Bahkan untuk berpura-pura kau tak ada, rasanya begitu sulit.

***

Shim Changmin POV

Awalnya aku tidak mengetahui siapa dirinya, bahkan sosoknya yang mungil seperti itu tak mudah ditemukan oleh orang lain. Aku melihatnya pertama kali ketika di Jepang, saat kami – TVXQ mengadakan konser di Tokyo Dome untuk pertama kalinya. Seharusnya sulit menemukan dirinya di tengah jutaan orang yang mengelilingi kami. Seharusnya aku tak mampu menatap matanya yang bulat namun terlihat indah. Tapi ia berada di sana, berdiri terpaku menatap kami. Tanpa suara, tanpa mengacungkan lightstick berwarna merah yang menunjukkan warna kami. Ia tak pernah menatap kami secara gamblang, hanya sekilas ia menatap ke arahku dan sering ku artikan dengan tatapan kagum. Terlalu percaya diri memang namun aku suka caranya ia menatap seseorang, penuh dengan kasih sayang dan kehangatan. Atau, mungkinkah tatapan itu hanya untukku? Entahlah, tapi ku berharap ya pada pertanyaan itu.

Aku sempat merasa sedih karena hanya dapat melihatnya satu kali, tapi ternyata aku salah. Tuhan bertindak adil untuk kehidupanku. Dia mempertemukanku kembali dengan sosok mungilnya, sosok yang sampai kapanpun selalu memenuhi setiap sel otakku. Menyenangkan ketika melihatnya lagi di konser kami saat di korea. Lagi-lagi gadis itu menikmati lagu kami dengan caranya. Suatu cara yang berhasil membuatku tertarik untuk mengetahui siapa dirinya. Konser, Fanmeeting ataupun ketika aku sedang menjalanin syuting di beberapa tempat aku selalu bisa menangkap sosoknya. Dia akan menatapku dengan tatapan teduhnya, tersenyum saat melihatku tertawa dan aku pernah melihatnya menangis saat aku menyanyikan lagu break out di tengah konser.

Dan sekali lagi aku menemukan sosoknya di kampusku, di tempat yang ku pikir akan jarang sekali aku datangi. Awalnya aku tidak percaya, tidak yakin bahwa aku melihat dirinya yang berjalan pelan di lorong kampus. Namun ketika aku memperhatikannya aku semakin yakin bahwa itu adalah dia. Dia – gadis yang membuat kehidupanku menjadi lebih indah daripada sebelumnya. Aku tak pernah berani menyapanya, tak berani untuk mendekatinya bahkan sekedar bertanya siapa nama gadis itu. Dia cantik, menarik dan memikat hatiku. Satu tahun seperti orang bodoh dan terkadang aku menyanyikan lagu hanya untuk dirinya. Apakah dia menyadari? Entahlah, karena ia sering kali menutup mata ketika aku menyanyi solo.

Dan sekarang aku meremas tanganku yang begitu gugup. Bodoh? Memang. Seharusnya aku tak perlu gugup menunggunya seperti ini. Menunggu kedatangannya di tengah ratusan fans khusus yang hadir di Dong-gu hari ini. Hampir satu jam dan aku belum menemukan sosoknya, belum merasakan kehadirannya dan aku benar-benar merasa seperti orang bodoh sekarang. Aku terlalu terbiasa dengan sosoknya yang ku temukan di setiap kegiatanku dan rasanya ketika kemarin aku tahu siapa namanya membuatku merasa menjadi namja paling beruntung di dunia. Dia – gadis yang mengagumkan.

“A..annyeong..” aku mendongak, menadahkan kepalaku untuk melihat seseorang yang menunggu giliran untuk mendapatkan tanda tanganku. Aku terpaku, dan aku tersadar ternyata dia tak terlihat karena tubuhnya tertutupi di deretan antrian panjang. Astaga, Shim Changmin kau bodoh sekali tidak menyadari kehadirannya.

“Kau datang juga.” Kataku pendek lalu dengan sangat pelan ku goreskan tanda tanganku di foto yang akan ku berikan padanya.

“Ah, ne.” jawabnya pendek dan dia menundukkan kepalanya dalam. Aku masih bisa melihat semburat merah terhias indah di wajahnya. Cantik.

“Apa yang kau harapkan dari seorang Shim Changmin?” tanyaku lagi dan dia mendongak, dahinya mengernyit heran mendengar pertanyaanku.

“Katakan saja.” Tambahku lagi ketika melihat dia menggaruk kepalanya karena gugup.

“Sejujurnya tidak ada.” jawabnya lirih dan aku sedikit bingung. Dia seorang maximum tapi tidak ingin apa-apa dari diriku? Benar-benar aneh.

“Tapi.. aku ingin kau menjadi dirimu, menjadi dirimu karena hal itu yang kau inginkan. Dan… seseorang yang di sampingmu nanti haruslah gadis terbaik, bukan tercantik.” Tambahnya dan saat itu juga senyum kecil terukir di wajahku. Gadis terbaik, bukan tercantik. Itu kau gadis bodoh.

Aku mengambil secarik kertas dan menuliskan beberapa kalimat di sana, ku lipat kertas tersebut lalu ku selipkan bersama fotoku. Aku tak bisa lama-lama berbicara dengannya karena sejak tadi fans mulai ribut dengan antrian mereka.

“Tunggu aku.” Bisikku perlahan sambil menyerahkan foto dan kertas itu ketangannya. Dia – mengambil hatiku sepertinya.

Cinta ini menyesakkan. Terlalu sulit untuk di lepas.

Shin Mirrelle POV

Aku terpaku menatap selembar foto dan secarik kertas yang ada di tanganku. Seorang Shim Changmin secara khusus mengajakku berbicara bahkan tersenyum untuk diriku. Aku tidak tahu apakah ini sebuah ilusi atau memang aku sedang mengalami fotamorgana. Tapi dia – namja yang ku cintai itu dengan tulusnya berbicara denganku. Aku tak pernah mengira bahwa aku akan seberuntung ini. Tak pernah mengira bahwa dia memilih diriku dari sekian jutaan orang. Ah, tidak maksudku dia memilihku untuk di ajak berbicara bersamanya.

Apa yang ku katakan tadi tentang keinginanku untuk dirinya adalah benar. Aku ingin suatu hari nanti gadis yang mendampinginya adalah gadis terbaik, bukan gadis tercantik. Aku ingin hari-harinya di habiskan bersama gadis yang ia cintai. Seorang gadis yang mampu mengerti hidupnya dengan baik bahkan seorang gadis yang kuat dan mampu menopangnya saat ia terjatuh. Namun meskipun begitu, aku tak pernah berani untuk bermimpi bisa bersamanya. Sekalipun aku kuat, sekalipun nanti aku bisa mengerti dirinya tapi tetap aku tak akan pernah merasa pantas berada di sampingnya. Karena dia…. Terlalu sempurna untuk kehidupan Shin Mirrelle.

Memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia. Tapi bagiku dia – namja itu adalah hal yang paling sempurna dalam hidupku. Mencintainya adalah sebuah berkah terindah yang di berikan oleh Tuhan padaku. Sesuatu yang seharusnya tak ku rasakan di detik-detik menjelang kematianku. Ah, ya…. Aku tak akan lama lagi hidup di dunia. Menyedihkan? Tentu saja. Aku dulu tak selemah ini, aku tak serapuh ini dan dulu… aku tak sebaik ini.

Tuhan memberikanku sebuah pelajaran yang berarti, ketika aku masih hidup normal tanpa penyakitku, aku selalu mengacuhkan orang lain. Membuat orang lain menderita karena keegoisanku sendiri. Aku yang jahat, egois serta bertindak sesuka hati membuat semua orang di sekitarku membenciku. Dan sialnya aku tak pernah peduli akan hal itu. Tapi, ketika tiba-tiba penyakit itu datang dan mulai menggerogoti kehidupanku semuanya berubah. Mereka peduli padaku, memberikan kasih sayang mereka secara tulus, dan di situlah aku menyadari betapa bodohnya aku telah menyakiti mereka.

Perlahan aku berubah, menghilangkan semua sifat burukku. Menjadi sosok yang baru untuk menjalani kehidupan ini. Kehidupan yang sebentar lagi akan ku tinggalkan. Aku sudah menjalani berbagai cara tapi Tuhan ternyata memiliki rencana yang lebih indah untukku. Aku di vonis mati 6 bulan lagi. Kanker darah ini membuatku semakin tidak berdaya. Aku selalu lemah dan sialnya terkadang aku masih mampu menutupi rasa sakitku.

Setiap hari aku menghitung waktuku yang tersisa. Berharap sebuah keajaiban muncul dari diriku. Tapi tak ada apapun yang terjadi. Aku masih tetap seperti ini dan menahan setiap rasa sakit yang ku alami. Aku rapuh, lemah dan terkesan menyedihkan. Tapi aku ingin mengisi sisa-sisa hariku dengan sesuatu yang berguna. Sesuatu yang membuatku bahagia di setiap harinya. Dan sesuatu itu adalah namja itu – Shim Changmin.

Dirinya berhasil memenuhi setiap rongga dadaku. Rasanya begitu sesak ketika melihatnya. Begitu menenangkan namun sekaligus menyakitkan. Aku sadar aku tak pantas berharap lebih, namun sapaannya kemarin membuat harapanku tentangnya semakin melambung. Semakin tinggi tapi juga semakin menyakitkan ketika aku terjatuh. Aku mencintai dirinya di sisa-sisa kehidupanku.

“Hufft.” Aku menghembuskan nafas pelan. Menghentikan semua memori dan perasaan kalut yang tengah ku rasakan. Ku buka secarik kertas yang tadi Changmin berikan, dan mulai membaca rentetan huruf yang tertera rapi di sana.

Kau tahu taman yang berada di dekat sini. Tunggu aku di sana. Satu jam dari sekarang. Jangan lari Shin Mirrelle.

Aku terhenyak, tubuhku sedikit limbung membaca kalimat itu. Changmin mengajakku untuk bertemu? Apakah Tuhan memang sedang memberiku hadiah? Atau malah sesuatu yang membuatku ingin lari dari kuasaNya? Ini semua membuatku hampir gila.

Aku ingin ini semua tidak terjadi. Berpura-pura bahwa waktu yang terlewati anda tanpa anda.

Shim Changmin POV

Aku tahu aku sedikit gila. Mengajaknya bertemu dan menyuruhnya menunggu di taman itu. Tapi aku tidak peduli, gadis itu sukses membuat hidupku menjadi tidak normal. Satu tahun belakangan ini hari-hariku hanya berhiaskan wajahnya dan aku tidak ingin kesempatan emas yang ku punya sekarang ku sia-siakan begitu saja. Setidaknya aku harus mengetahui sejauh mana dia mencintaiku sebagai seorang fans.

Aku memarkirkan mobilku di pinggir taman. Ku eratkan hoodie yang ku pakai serta penyamaranku yang seadanya. Aku tidak ingin mencolok namun tidak ingin keberadaanku di ketahui. Aku hanya takut gadis itu tidak akan pulang dengan keadaan selamat jika dirinya di ketahui sedang bersama diriku.

“Sudah menunggu lama?” tanyaku menghampirinya yang tengah duduk di bangku taman. Dia cantik hari ini, langit senja yang indah membuat dress selutut yang di pakainya terlihat cantik. Termasuk dirinya.

“Ah, hm tidak juga.” Jawabnya kaku. Aku mengerti ia bingung dengan ajakanku dan sekarang ku yakin dia adalah Cassie paling beruntung di dunia.

“Sudah makan?” tanyaku lagi dan pertanyaan itu benar-benar bodoh.

“Belum.” Jawabnya dan kali ini kepalanya menunduk. Entah setan darimana ku rangkul pundaknya dan memperkecil jarak duduk kami. Rasanya begitu hangat.

“Changmin-ssi…” panggilnya dan ada nada keraguan di sana. Apakah dia keberatan aku bertindak seperti ini?

“Ne?”

“Err.. apakah ini sebuah fan service?” tanyanya bodoh dan spontan aku tertawa. Ku acak rambutnya pelan dan dia malah menatapku melongo.

“Jadi kau mengira ini fan service dan ada kamera tersembunyi yang meliput kita berdua? Begitu?” tanyaku balik masih tertawa.

“Eh, hmm yah mungkin saja.” Jawabnya gugup dan tawaku semakin kencang. Gadis ini lucu sekali. Terlalu polos jika melihatnya dari sisi satu ini.

“Tentu saja tidak Shin Mirrelle. Aku melakukan ini karena aku menyukaimu.” Terangku jujur dan dia menatapku kaget. Mata bulatnya terbelalak lebar mendengar pengakuanku.

“Kau.. suka padaku? Bagaimana bisa?” tanyanya polos.

“Entahlah. Aku terlalu terbiasa dengan kehadiranmu. Melihat sosokmu di tengah konser. Di manapun kau berada aku pasti bisa menemukanmu. Sudah ku bilang kan aku ini tertarik padamu.” Jelasku dan dia segera menundukkan kepalanya karena malu.

“Jadi mau berteman dulu denganku?” tawarku padanya. Dia tak  menjawab, tak bergeming sedikitpun. Aku ikut terdiam menunggu sebuah suara dari bibir mungilnya.

“Kau akan menyesal jika berteman denganku.” Katanya pelan dan aku menoleh heran.

“Maksudmu?” tanyaku balik.

“Masih banyak Cassie yang pantas menjadi teman terbaikmu.” Jawabnya dan sungguh dia membuatku semakin bingung.

“Jadi kau merasa tidak pantas? Begitu?” sindirku dan dia mengangguk. Aku tertawa mengejek. Baru kali ini ada fans yang tidak mau berteman dengan idolanya. Lucu sekali.

“Melihat orang lain bukan dari satu sisi Shin Mirrelle. Jika menurutmu kau tidak pantas bukan berarti aku juga berpikiran seperti itu. Ada hal-hal lain yang di pikirkan ketika kita meminta seseorang masuk ke dalam kehidupan kita. Teman itu tidak menuntut kesempurnaan.”

Matanya membulat lebar dan menatapku penuh tanda tanya. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku bisa melontarkan kata-kata seperti itu.

“Lalu apa yang di tuntut oleh kata pertemanan?” tanyanya serius. Ada nada penuh ingin tahu dari suaranya.

“Hmm apa ya? Ku rasa saling terbuka dan.. hmm kasih sayang mungkin. Tapi teman biasanya tak menuntut lebih. Maksudku tidak seperti sahabat. Teman terkadang jauh lebih memudahkan dari sahabat. Percaya atau tidak, itulah yang terjadi.” Kataku gamang. Aku bingung dengan perkataanku sendiri.

“Ah, ya benar juga. Tidak menuntut lebih namun terkadang memudahkan. Lalu jika nanti kau berteman denganku mungkinkah aku menjadi sahabatmu?”

Aku berpikir sejenak. Memikirkan jawaban terbaik yang bisa ku lontarkan. Sepertinya gadis ini memiliki intelektual yang tinggi. Cara bicaranya menunjukkan tipe gadis seperti apa dirinya.

“Mungkin saja. Pertemanan membuat kita saling berbicara bukan. Di awali dari hal-hal yang ringan lalu berubah menjadi hal-hal yang pribadi. Sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan ke sembarang orang. Jika kau mau berteman denganku, aku tidak hanya akan menjadikanmu sahabatku.” Jawabku pada akhirnya.

“Eh? Lalu jadi apa?” tanyanya lagi-lagi polos.

“Menjadi seseorang yang ku lihat pertama kali ketika aku membuka mata di pagi hari mungkin.” jawabku langsung dan menatap lurus ke depan. Membayangkan suatu hal gila antar aku dan dia.

“Kau..”

“Ck, sudahlah. Kenapa sulit sekali ingin berteman denganmu.” Keluhku pelan dan ku dengar dia terkekeh.

“Ku rasa aku hanya akan menjadi temanmu mungkin. tak ada cukup waktu untuk menjadi hal lebih denganmu.” Katanya pelan. Tersenyum namun matanya penuh kekosongan.

“Eh, aku tidak mengerti.” Sahutku sangsi. Jujur saja gadis ini sangat aneh. Namun meskipun begitu berbicara dengannya sangatlah menyenangkan untukku.

“Kau pasti nanti mengerti.” Katanya tulus dan tersenyum ke arahku. Senyumnya – seperti angin surga untukku.

Aku terjatuh untuk kesekian sekalinya karna dia. Tapi aku selalu bangkit kembali, melangkah dan selalu mengejarnya yang semakin menjauh.

Shin Mirrelle POV

Seharusnya aku tak memiliki keberanian untuk berteman dengannya seperti ini. Seharusnya saat itu aku tak menunggunya, tak berbicara dengannya. Ini semua membuat perasaanku semakin melambung tinggi. Dia benar-benar menjadikanku temannya. Menjadikan diriku bagian dari hidupnya. Meskipun kata teman itu adalah sebuah kata yang sederhana, namun aku merasa aku adalah gadis yang special untuknya. Seorang gadis yang mungkin di impi-impikan oleh penggemarnya yang lain.

Aku tahu aku mengkhianati Cassie yang lain. Aku tahu pasti mereka akan cemburu jika tahu aku berteman dekat dengan Changmin. Tapi apakah itu sebuah kesalahan? Apakah itu sebuah pengkhianatan? Aku tidak tahu. Aku tahu aku egois. Aku tahu seharusnya aku tak boleh sedekat ini dengannya. Tak merasakan sentuhan lembutnya di rambutku ataupun rangkulan pundaknya yang berjalan di sampingku.

Semua perhatiannya membuatku terbuai. Membuatku lupa bagaimana keadaan diriku. Sadar atau tidak, dia berhasil membuatku semakin jatuh cinta padanya. Perasaan ini tak sanggup ku bendung lagi, tak sanggup untuk ku tahan. Rasanya ada sesuatu yang ingin membuncah ke luar dari dadaku. Aku mencintainya. Sangat dan aku bingung bagaimana menafsirkan itu semua. Aku takut dengan penyakitku. Aku takut bahwa suatu saat nanti aku akan meninggalkannya, atau… aku takut bahwa aku ingin memilikinya lebih lama.

Menggelikan memang, karena pada kenyataannya Changmin tidak benar-benar menyatakan cinta padaku. Dia memang pernah mengatakan bahwa ia tertarik padaku. Namun itu semua tidak berarti dia mencintaiku. Dia hanya tertarik. Dan mungkin suatu saat nanti aka nada gadis yang jauh lebih menarik untuk dirinya. Gadis terbaik, bukan tercantik.

Lalu bagaimana dengan keadaanku sekarang ini? Menyedihkan. Penyakit kanker darahku kian hari semakin menggerogoti tubuhku. Tidak banyak hal yang bisa ku lakukan. Aku tidak bisa di sembuhkan dan aku enggan untuk berada di rumah sakit. Aku hanya ingin menikmati sisa hidupku dengan baik bukan tergolek tak berdaya di ranjang penuh pesakitan itu.

“Kenapa melamun?” aku menoleh. Changmin bertanya heran padaku. Kami berdua ada di perpustakaan kampus. Banyak mata yang melihat kami namun Changmin sepertinya tidak mempedulikan itu semua. Bahkan ketika media mulai mencium kedekatan kami ia tak sedikitpun bergerak untuk memperjelas. Ku rasa dia menikmati dirinya yang di gosipkan denganku. Dasar bocah aneh.

“Aniyo.. aku kan sedang membaca.” Kataku sambil menunjukkan buku yang memang sedang ku pegang namun pikiranku sama sekali tidak ada di benda tersebut.

“Kau sakit?” tanyanya lagi dan dia duduk di sebelahku. Semakin banyak mata yang memandang.

“Tidak.” Jawabku berbohong. Bodoh memang, tapi wajahku kian hari semakin pucat dan aku kehilangan berat badanku secara drastis.

“Mau bercerita?” tawarnya dan mengambil buku yang ku pegang. Seakan menyuruhku untuk menumpahkan semua perhatianku kepadanya. Selalu begitu.

“Tidak ada apa-apa Changmin-ah. Daripada memikirkanku lebih baik kau menjauh dariku sekarang sebelum gadis-gadis itu menyakitiku.” Kataku sinis dan mengedikkan bahu ke arah segerombolan gadis yang tengah menatapku seperti mangsanya.

“Haha, berani menyentuhmu berarti mereka memintaku untuk membenci mereka.” Jawabnya enteng dan aku menoleh marah.

“Hargai perasaan penggemarmu Shim  Changmin. Wajar jika mereka marah karena kau dekat dengan seorang gadis. Mereka mencintaimu dengan tulus dan tanpa beban. Tidak mengharapkan imbalan namun setia mendukungmu. Itulah seorang Cassie.” Desisku dan ia menatapku dengan tidak percaya. Inilah yang terkadang tidak ku suka dari seorang artis. Memandang remeh penggemar mereka.

“Jadi menurutmu, aku harus sendirian seumur hidup begitu? Hanya demi memikirkan perasaan mereka?” tanyanya skeptis dan aku terdiam. Masih tidak mengerti dengan yang ia maksud. Dan lucunya ini pertama kalinya kami berdebat.

“Jika suatu hari nanti aku mencintai seorang gadis, apakah kau sebagai cassie akan setuju?” tanyanya lagi dan kali ini aku yang kaget. Ada rasa sakit yang menyusup ketika dia menanyakan hal itu.

“Bohong jika aku setuju. Namun lambat laun aku akan menerima. Karena idola juga memiliki kehidupan pribadi dan kau berhak menentukan siapa gadis yang kau cintai. Karena pada nyatanya kau adalah manusia. Cinta adalah anugerah terindah Tuhan yang mengalir alami dalam kehidupan.” Jawabku berusaha bijak namun ku dengar Changmin terkekeh pelan. Menatap mataku dengan senyum simpulnya yang sangat ku suka.

 “Jadi seharusnya lambat laun mereka akan menerima kan? Lalu apa yang kau khawatirkan? Aku mencintaimu dan kau pilihanku. Tidak sulitkan?” aku menoleh cepat ke arah Changmin dan ku rasakan seluruh tubuhku bergetar hebat. Apa yang dia katakan? Mencintaiku? Jangan bercanda!! Dia bahkan baru mengenalku sebulan yang lalu. Tidak, dia pasti sudah gila.

“Kau baru mengenalku sebulan yang lalu Changmin-ah. Jangan sembarangan mengatakan kata cinta pada orang lain. Itu bisa menimbulkan harapan lebih.”

“Sebulan? Kau salah Shin Mirrelle. Aku mengenalmu lebih dari satu tahun. Cinta itu tak butuh alasan-alasan yang nyata Mirrelle-ah. Tak perlu tahu namamu, tak perlu tahu kau seperti apa tapi yang pasti tidak bisa memiliki dirimu adalah hal yang menyakitkan untukku. Jadi kata cinta yang baru ku ucapkan adalah hal yang ku pendam selama ini.” Terangnya dan kali ini sukses membuatku merasakan sesak nafas. Bukan karena penyakitku, tpai lebih karena dia – selalu berhasil membuatku luluh pada setiap perkataannya.

“A..apa yang membuatmu memiliki perasaan seperti itu?” tanyaku gugup dan sialnya aku tak mampu menyembunyikan semburat merah wajahku di hadapannya.

“Molla. Aku hanya merasakannya dan meyakininya. Aku sudah berusaha untuk berpikir  ‘bisakah.. Sedetik saja kau enyah dari pikiranku? Aku ingin berpikir normal tanpa kehadiranmu.’ Tapi aku tidak bisa. Sama sekali tidak bisa. Sudah ku bilangkan, sejauh apapun dirimu, selemah apapun kau aku akan mampu menemukan sosokmu. Karena hati ini, sudah terpaut terlalu jauh pada dirimu.”

Shim Changmin POV

Aku menatap gadis yang tengah duduk di sampingku ini dengan lembut. Mungkin jika  ini bukan tempat umum aku pasti sudah memeluknya ketika ia menganggukkan kepalanya. Menandakan bahwa ia menerima cintaku. Aku tak menyangka semudah ini aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Benar-benar tak pernah terpikir olehku bagaimana bisa seorang Shim Changmin bisa mendapatkan gadis mungil ini. Mungkin dia bukan siapa-siapa. Mungkin dia tidak terlalu terlihat istimewa. Tapi sosoknya begitu memikat dan sialnya aku tak mampu menahan pesonanya.

Pesonanya begitu kuat di bandingkan gadis lain yang berkeliaran bebas di sekitarku. Kakinya tak jenjang, hidung dan matanya juga tak terlalu sempurna. Tapi justru kealamian itulah yang membuatku terperosok ke dalam dirinya. Membuatku yang tak pernah merasakan cinta seperti ini semakin tebuai dengan dirinya.

Aku mengusap rambutnya pelan dan dia menunduk. Ku sadari wajah pucatnya yang berhiaskan semburat merah karena pengakuanku. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Aku tidak tahu mengapa kian hari tubuhnya semakin kurus. Aku berusaha menanyakan namun ia terus mengelak. Tapi sekarang, ketika ia sudah resmi menjadi pacarku aku takkan pernah meninggalkannya bahkan menyakitinya. Itu janjiku. Janji seorang Shim Changmin atas pengakuannya. Confession.

Shin Mirrelle POV

Aku mengerti apa yang ku lakukan adalah hal yang paling bodoh dalam hidupku. Aku membuat dirinya masuk ke dalam kehidupanku. Aku membuatnya semakin terperosok karena cintanya padaku. Tapi, aku bahagia ketika ia mengakui perasaannya. Aku bahagia ketika ia menyadari bahwa akulah gadis yang di pilihnya. Namun… aku merasa diriku begitu jahat, begitu tolol membuatnya seperti ini. Dia tak tahu apa-apa tentang diriku. Tak tahu mengenai sifat asliku dan… tidak paham dengan kondisi fisikku.

Aku tolol. Aku bodoh. Ini hanya akan menyakiti dirinya. Ini semua hanya akan menimbulkan kebahagiaan semu yang ku ciptakan. Karena pada akhirnya, aku akan pergi meninggalkan dirinya lagi. Lalu apa yang akan dia lakukan ketika aku pergi? Ketika aku mati dan tak mampu menghembuskan nafasku di dekatnya? Dia akan semakin terjatuh. Dia… sudah terlalu banyak di tinggalkan. Terlalu sering di sakiti oleh orang-orang di sekitarnya.

Lalu kenapa aku harus seegois ini? Hanya karena aku mencintainya, hanya karena aku ingin memilikinya aku membuat dia merasakan penderitaan. Seharusnya aku berpikir bagaimana dia nanti tanpa diriku. Seharusnya aku mampu menolak semua pesona yang ia berikan. Dan seharusnya aku tidak dengan bodohnya membuat dia jatuh cinta padaku. Jatuh cinta pada diriku yang seakan baik-baik saja di hadapannya.

Aku menangis. Meringkuk di sudut kamarku. Memandang pilu angka-angka yang tertera di kalender berwarna putih itu. Satu-persatu aku melingkarinya. Menandakan berapa lama lagi waktuku yang tersisa. Menunggu setiap waktu yang mungkin saja akan mengambil nyawaku. Mengambil nyawa seorang Shin Mirrelle. Ah tidak… Shin Ha Kyo.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah lenganku. Banyak luka lebam di sana. Bukan, bukan karena orang lain menyakiti diriku atau ada seseorang yang memukulku. Ini semua karena penyakit terkutuk itu. Terbentur, terantuk atau apapun itu pasti luka ini takkan pernah hilang. Tidak akan pernah sampai diriku tak mampu lagi menghembuskan nafas dengan baik. Bahkan, berhenti melakukannya.

Waktuku tersisa tinggal dua bulan lagi. Dua bulan yang mungkin akan menjadi sisa waktuku bersama dirinya. Aku menyesal sekarang. Aku menyesal mengapa aku tak membuat hidupku lebih lama lagi dengan sebuah pengobatan? Mengapa aku baru menyadari bahwa hidup itu harus di perjuangkan? Inikah efek dari sebuah kata yang bernama ‘cinta’? Jika ya, Tuhan memang selalu adil pada ciptaannya.

Kenyataan terpahit dalam hidup adalah aku mencintainya namun aku tak mampu memilikinya.

Shim Changmin POV

Jadwalku kian hari semakin padat. Setelah sekian lama aku vakum dari dunia musik, akhirnya perusahaan memutuskan untuk mengadakan comeback TVXQ tahun depan. Aku di beri kesempatan untuk menulis sebuah lagu dan akan di masukkan untuk album kami berikutnya. Tentu saja album ini tanpa mereka. Yah tanpa mereka yang mengisi hidupku beberapa tahun belakangan ini. Aku merasa agak pilu mengingat mereka, merasa aneh ketika hanya melihat dua orang di dalam dorm. Rasanya… terlalu luas namun terasa sesak.

Aku mengenyahkan pikiranku tentang mereka. Aku belum berhasil menulis lagu yang bagus, setidaknya lagu yang pantas untuk di dengarkan oleh penggemar kami. Aku memandang Iphoneku dan memutuskan untuk menelepon seseorang yang amat sangat ku cintai. Seorang gadis  yang menopangku di saat aku terjatuh.

“Kau di mana?” tanyaku langsung ketika mendengar sapaannya.

“Hanya di apartementku.”

“Bisa bertemu? Aku merindukanmu.” Akuku dan dia terkekeh kecil meskipun aku bisa menangkap suara serak di sana.

“Di café seperti biasa. Aku menunggumu di sana.” lanjutku lagi dan ia menyetujuinya. Aku merindukan sosok gadisku.

***

Aku duduk di hadapannya yang terlihat cantik hari ini. Sekalipun wajahnya pucat dan tubuh kecilnya semakin kurus, dia masih tetap terlihat mempesona di mataku. Aku masih heran apa yang terjadi dengan dirinya, namun aku juga tak ingin menyakiti dirinya dengan terus menganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan bodohku.

“Maaf baru bisa menemuimu hari ini.” Kataku memulai pembicaraan dan senyum simpul menghiasi wajahnya.

“Gwaenchana oppa. Kau pasti sibuk dengan persiapan album barumu.” Jawabnya lembut. Aku bangkit berdiri dan duduk di sampingnya. Aku memesan private room di café ini dan aku tidak ingin media massa mencium hubungan kami. Aku tidak ingin gadisku tersakiti oleh siapapun.

“Heem, jadi kau pasti nanti membelinya kan?” ejekku dan tak ada sahutan darinya.

“Ck, aku tahu kau pasti akan meminta gratis dariku.” Tambahku lagi sambil tertawa kecil namun tidak dengannya. Dia masih terdiam.

“Mirrelle-ah gwaenchana?” tanyaku hati-hati dan dia menggeleng. Ia mengangkat wajahnya dan menatapku. Menangkupkan kedua tangannya di pipiku. Dia.. tak pernah seperti ini sebelumnya.

“Jika nanti lagumu sudah selesai, bisakah nyanyianmu terdengar sampai ke surga? Ah… atau setidaknya tiupan lembut di panasnya api neraka?” tanyanya aneh. Matanya sendu namun tetap menatapku. Aku meraih tangannya dan mengenggamnya dengan lembut.

“Wae? Apakah kau ingin menjadi bidadari dari surga itu?” tanyaku konyol dan dia menggeleng.

“Ani… hanya saja berharap suatu saat nanti aku bisa tetap mendengarnya.” Jawabnya dan aku segera memeluk tubuhnya yang mungil itu. Hangat.

“Kau akan selalu mendengarnya. Selalu dan di setiap pagi kau terbangun, ku pastikan kau akan selalu mendengarnya.” Kataku serius dan mengeratkan pelukanku. “Karena kau mengunci hatiku terlalu kuat Mirrelle-ah. Sulit untuk di hancurkan.”

Shim Mirrelle POV

Aku mengelap darah yang mengalir dari hidungku dengan asal. Aku tidak kuliah hari ini, tidak melakukan apa-apa dan aku hanya bisa tergolek tak berdaya di apartementku. Waktuku tinggal satu minggu lagi dari vonis dokter. Aku tidak bisa berusaha lagi. Aku sudah menyerah agar aku tetap hidup sampai aku menua nanti. Sampai aku bisa memiliki seorang anak dengan pria bernama Shim Changmin. Tapi ku rasa itu akan menjadi mimpi. Dan selamanya akan tetap menjadi mimpiku yang tak tersampaikan.

“Berapa anak yang ingin kau miliki nanti?” tanya Changmin suatu hari.

“Dua. Sepasang anak perempuan dan laki-laki rasanya menyenangkan.” Jawabku sangsi dan menyenderkan kepalaku di bahunya. Saat itu kepalaku begitu berat. Seperti ada sebongkah batu besar yang menimpa diriku.

“Kau?” tanyaku balik dan ia berdehem sebentar.

“Satu. Dan itu harus laki-laki.” Jawabnya mantab dan aku mengernyit heran.

“Wae?”

“Karena aku tidak ingin di tinggalkan. Tidak ingin di duakan oleh seorang gadis sekalipun itu anakku sendiri. Aku… tidak ingin merasakan lagi di lepas oleh orang-orang yang ku cintai.”

Aku tersenyum pahit saat mengingat rentetan kalimat yang di lontarkannya. Ia tidak ingin ditinggalkan namun dnegan bodohnya aku harus meninggalkannya. Aku bangkit berdiri dan melangkah ke arah kalender yang terpajang indah di dinding kamarku. Ku ambil spidol dan melingkari satu lagi hari yang terlewati. Rasanya menyesakkan Tuhan…

Aku merosot jatuh ketika aku merasakan lututku melemas menahan ini semua. Aku menangis, sekali lagi aku menangis karena kebodohanku. Aku tidak pernah terpikir untuk meminta sembuh. Tak pernah terpikir untuk meminta agar Tuhan memberikan keajaibannya pada diriku. Aku… aku pada akhirnya hanya bisa menyesali ini semua.

“Aku ingin hidup lebih lama. Ku mohon…” lirihku dan air mataku terus mengalir mengoyak setiap senti relung hatiku.

“Ku mohon Tuhan… ku mohon… ku mohon… AKU INGIN HIDUP!!” teriakku pada akhirnya dan aku terus terisak. Ini terlalu menyakitkan. Sangat menyakitkan untukku.

Aku beringsut ke meja belajarku. Mengambil secarik kertas dan menulis beberapa rangkaian kalimat di sana. Ku tahan setiap rasa sakit yang ku alami dan aku berhasil menumpahkan semua yang ku rasakan. Ku ambil Iphoneku dan mengetik pesan untuk Changmin.

To : Shim Changmin

Bisa kita bertemu? Esok lusa aku menunggumu di taman saat pertama kali kita berteman. Aku mencintai Shim Changmin.

Sent.

Aku menghembuskan nafasku perlahan. Changmin-ah mianhae…

Shim Changmin POV

Aku duduk di bangku taman dan bersyukur taman tidak terlalu ramai. Memudahkanku untuk bertemu dengan Mirrelle. Aku tidak tahu mengapa ia tiba-tiba mengajakku berkencan dan untungnya hari ini aku tidak memiliki jadwal yang padat. Aku bersenandung pelan dan ku tolehkan kepalaku ketika melihat seorang gadis berdiri di hadapanku menggunakan dress berwarna peach dan cardigan berawarna senada. Di tangannya tergenggam indah sebuah tas kecil berwarna putih. Warna kesukaanku.

“Sudah menunggu lama?” tanya Mirrelle. Di tersenyum senang ke arahku. Wajahnya yang lagi-lagi pucat terlihat berbeda hari ini. Terlalu bersinar.

“Ani, aku juga baru sampai.” Jawabku dan dia mengulurkan tangannya seolah memintaku untuk menggenggamnya. Aku bangkit berdiri dan dia merangkul lenganku.

“Aku ingin mengitari taman ini.” Katanya lembut dan aku mengangguk. Aku berjalan di sampingnya dan ia melenggang indah. Rambut ikalnya terurai indah ketika tertiup angin. Memberiku kesadaran bahwa ia gadis tercantik yang pernah ku lihat. Mengagumkan.

“Apakah lagumu sudah selesai?” tanyanya sambil mengayun-ayunkan lenganku.

“Belum. Masih ada yang kurang dan belum bagus.” Jawabku dan ia mengangguk.

“Aku punya sedikit ide. Bagaimana jika tentang diriku saja?” tawarnya sambil terkekeh. Aku mengacak rambutnya pelan.

“Ck, pede sekali dirimu.” Kataku mengelak namun lagu yang ku ciptakan sebenarnya memang tentang dirinya.

“Aku bercanda Mr. Shim. Tapi untuk siapapun lagu itu, aku berharap tetap bisa mendengarnya.” Katanya lagi.

“Kenapa kau selalu berkata seperti itu? Tentu saja kau akan selalu mendengarnya. Bahkan live dari diriku.” Tukasku menyombongkan diriku.

“Haha, ku harap kau akan selalu menyanyikan lagu itu sepenuh hatimu. Agar di manapun aku berada, aku akan selalu merasakannya.” Katanya pelan dan sebuah ciuman kecil mendarat kecil di pipiku. Aku terpaku menatapnya. Dan senyum kecil masih tersungging di pipinya.

“Kajja!!” teriaknya ketika melihatku masih terpaku.

Gadis itu… aku benar-benar ingin mencintainya.

***

Hari sudah mulai larut ketika kami berdua memutuskan untuk beristirahat di dalam mobil. Seharian penuh Mirrelle mengajakku melakukan hal-hal yang menyenangkan. Makan bersama, berfoto bersama bahkan dia tak malu-malu untuk mengecup pipiku. Aku tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba berubah secara drastic tapi aku senang bisa menghabiskan waktu yang panjang bersamanya. Kami… jarang sekali memiliki waktu seperti ini.

“Kau lelah?” tanyaku saat melihat wajahnya yang semakin pucat. Peluh-peluh keringatpun mengalir dari pelipisnya.

“Ani.. tak peduli selelah apapun asal bersama kau rasanya menyenangkan.” Jawabnya langsung dan menyunggingkan senyum terbaiknya. Aku menarik bahunya dan menyenderkan kepalanya di dadaku. Dia tidak menolak.

“Kenapa aku mendengar sebuah ritme yang tidak beraturan ya?” katanya sambil tertawa dan jari-jarinya mengetuk-ngetukkan dadaku.

“Memangnya apalagi ritme yang akan kau dengar ketika sedang berada di samping seseorang yang kau cintai?” balasku bertanya dan tawanya semakin lebar.

“Hmm.. entahlah. Tapi ritme seperti ini justru menentramkan. Mengalun lembut meski tak beraturan. Membuat semuanya terlihat tidak normal.” Jawabnya dan kali ini aku yang tertawa.

“Kalau begitu bagaimana ritme seorang Shin Mirrelle?” tanyaku ingin tahu.

“Hampir sama dengamu, namun sedikit lemah.”

“Eh, wae?”

“Karena dirimu melemahkan semua hal yang ku punya. Nafasku, detak jantungku dan langkah kakiku. Kau melemahkan semuanya, namun kau menguatkan jiwaku. Sederhana, namun meyakinkan.”

“Sebegitu hebatnyakah seorang Shim Changmin bagimu?” tanyaku dan dia tertawa lagi.

“Shim Changmin itu tak terduga. Pengakuannya, rasa cintanya dan semua hal yang ada pada dirinya tak pernah di duga olehku. Kau… pria yang kuat dan sampai kapanpun harus begitu.” Jawabnya.

“Aku akan selalu kuat jika kau terus berada di sampingku Shin Mirrelle.” Tukasku dan ia mengangkat kepalanya untuk menatapku.

“Tidak. Kau harus selalu kuat sampai akhir hidupmu. Hatimu, harus terbuka untuk siapapun.” Katanya lembut dan sedetik kemudian bibirnya menyentuh lembut di bibirku.

1 years later…

Shim Changmin POV

Aku berdiri di atas panggung dengan senyum mengembang. Satu tahun berlalu dan aku serta Yunho hyung akhirnya kembali dengan album baru kami. Aku memang tersenyum, namun hatiku ini selalu menangis. Hatiku ini selalu terkoyak ketika mengingatnya. Melihatnya lagi mungkin tidak akan pernah bisa ku lakukan. Karena ia sudah pergi. Jauh meninggalkanku. Mungkin jika ia pergi ke tampat lain, sejauh apapun itu aku akan mengejarnya. Namun… dia pergi meninggalkanku untuk kembali ke penciptanya. Kembali, pada sesuatu yang sudah  menjadi kodrat manusia seutuhnya.

Hari itu adalah hari di mana terkahir aku melihatnya. Kencanku dengan dirinya yang di penuhi dengan kenangan indah yang mungkin seumur hidupku akan ku kenang selamanya. Aku tak pernah marah ia tak menceritakan tentang penyakitnya. Tak pernah membencinya karena ia meninggalkan diriku secepat itu. Tapi, aku tak memungkiri bahwa diriku juga terjatuh. Dia… terlalu ku cintai. Terlalu banyak mengambil kehidupanku.

Dia meninggalkan kehidupan ini dengan sebuah senyuman. Aku memang tak sempat melihat wajahnya ketika ia di makamkan. Tapi… aku yakin ia bahagia di sana. Aku yakin ia tersenyum di sana. Di surga, di sebuah tempat yang kekal untuk dirinya.

The darkness is lifted,

The dim illuminations which slowly turned off,

the daybreak which felt a bit cold.

Aku mulai bernyanyi. Bernyanyi lagu yang ku ciptakan untuknya. Lagu yang akan selalu ku nyanyikan sepenuh hati agar ia mampu mendengarnya. Agar suara hatiku… mampu menenangkannya di surga.

As I watched over you whine saying “it’s too late”,

The familiar long road we purposefully took as we returned home.

Karena aku yakin suatu hari nanti aku dan dirinya pasti bertemu kembali. Di dunia manapun dia berada, di belahan manapun aku yakin ia akan kembali. Sekalipun itu semua terlambat.

I couldn’t think, for even one moment,

that there would be a time when I would be without you.

But as time flows, it will be as if nothing happened and we wont be able to recollect.

Sedikitpun aku memang tidak pernah berpikir  aku akan hidup tanpamu. Aku terlalu terbiasa, terlalu merasa aneh jika kau tidak ada di dalam dekapanku. Tapi aku yakin seiring berjalannya waktu, itu semua seperti hal yang tidak pernah terjadi dan sesuatu yang tidak kita inginkan.

I still… time to time, I remember the time when I first approached you and kissed you…

and I can’t forget, so I find myself traveling the familiar road once more.

If by chance, we meet on this road, will you pause and smile for a second and rush by?

Aku selalu mengingat bagaimana cara kita bertemu. Selalu mengingat ketika pertama kali aku meraihmu dan mengecup pipimu di lorong itu. Dan sekali lagi aku akan terus mengulangnya dalam memoriku dan berharap kau ada di sana, berhenti dan tersenyum ke arahku.

At my shy confession which I couldn’t say like a man.

You quietly stepped over to me and embraced me. I yearn for you… I want to go back.

Aku mengakui perasaanku padamu. Dengan malu-malu ku katakan apa yang ku rasakan. Dan dengan satu helaan nafas aku mengatakan kata cinta untukmu. Kau dengan langkah diammu datang padaku dengan wajah merahmu. Aku merindukanmu Shin Mirrelle. Aku ingin kembali ke saat di mana kau berada di sisiku.

I believed in eternity,

I can’t easily forget about you who made up my life.

But as time flows, as if I’m reading an old diary,

 I’ll smile for a moment and pass it off…

Will I be able to live again reminiscing, thinking tha it was just a momentary fever.

Tapi aku selalu percaya pada keabadian, sekalipun aku tidak akan bisa melupakan dirimu dengan mudahnya. Kau yang membuat hidupku terasa nyata, membuat semuanya terasa lebih indah dibandingkan sebelumnya. Namun, sekali lagi… seiring berjalannya waktu kau akan seperi diary tua yang indah untukku. Dan aku akan tersenyum ketika membukanya, membacanya serta mengenangnya dan aku akan kembali pada hidupku. Untuk mencintaimu. Seutuhnya.

To       : Shim Changmin

From   : Shim (Hope it) Mirrelle. ^^

The Old Dairy for you…

you are a strand of pearls
which I could never reach
you are the fragrant flower
which I could never pick
You are a drop of dew
soothing my heart
you are my rainbow in the morning
who had never in my life indescribable
you are my heart
who can never own me

I never ran leave you!
Stepping away from anything it never occurred
I’m still here …. I’m still there …
But a word now no longer have time I made

I avoid incised wound you
Makes you always happy
Yesterday, today and all time

 

Shim Changmin im always love you until end my life.