Title: The Hooded One: Prologue

Author: SWORDMASTER

Cast[s]:

–          Euclair Slønberrn

–          Cho Kyuhyun as Marcus Slønberrn

–          Lee Sungmin as Alastir

–          The Ghouls

Genre: supernatural, horror [ganti-ganti tiap bab]

Length: continue, 3.163 words

Rating: 15+

Disclaimer: plot 100% punya daku, DILARANG KERAS menjiplak baik sebagian atau keseluruhan. Tolong hargai kerja keras penulis dan penggagas yang membuat dengan memakan banyak tenaga dan biaya [?]!

Photo credit: Tracey Capone

PLEASE READ, COMMENT AND LIKE

NO BASHING AND NO PLAGIARISM!

 

PROLOG

 

Aroma kayu lembab menguar di udara dalam sebuah kamar sempit. Sepasang kakak-beradik duduk berhadapan dihalangi sebuah meja kayu tua tanpa penutup yang menjadi sangat kontras dengan perabot lain karena warnanya. Berlatar jiwa seni yang diwariskan dari generasi ke generasi, keluarga Slønberrn jelas lebih menyukai barang-barang yang memiliki nilai estetik tinggi dibanding benda lain. Harga jarang jadi masalah. Termasuk saat harga rosewood melambung tinggi beberapa abad silam, salah satu leluhur keluarga mereka nekat membawa meja itu kemari, yang sekarang digunakan oleh kakak-beradik ini. Sebatang lilin putih lebar meleleh kedalam tatakan keramik cokelat.

 

“…sebelum akhirnya batu meleleh…” Euclair Slønberrn menggantung sebentar untuk melihat kakaknya, meminta kebenaran. Marcus hanya mengangguk pelan. “…menelan mereka dalam api.”

 

Euclair mendengus, Marcus tersenyum puas. Malam ini Marcus sedang mengetes adiknya untuk membaca sebuah legenda yang ditulisnya dalam huruf abjad Rune, yang banyak ditemukan dalam prasasti-prasasti dan barang-barang peninggalan sejarah. Tampak sekali bahwa Euclair pintar di matanya. Baru beberapa minggu lalu ia memperkenalkan huruf-huruf itu, lalu kini adiknya sudah bisa membaca rentetan kalimat panjang, sekaligus mengartikannya. Sebetulnya Marcus juga sudah memiliki niatan untuk memperkenalkan instruksi alkemi pada Euclair. Namun mengingat usianya yang masih dibawah umur dan pengendalian dirinya yang masih sangat meragukan, Marcus memilih menundanya terlebih dahulu, setidaknya sampai Euclair cukup dewasa. Instruksi alkemi terlalu berat dan rumit. Dan meskipun ia bisa mempraktekkannya dengan lancar, ia butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk bisa mengerti maksudnya. Perlu waktu bertahun-tahun lagi agar bisa menjalankan segalanya dengan tepat.

 

Tiba-tiba Euclair menghela napas panjang diantara keheningan, “Ah… kakak dengar, kan, kalau aku sudah bisa? Sekarang mana janji kakak?”

 

Marcus baru ingat kalau ia punya janji. Segera setelah Euclair berucap, dikatupkannya buku usang diatas pangkuannya, lalu ia berdiri, diikuti oleh Euclair yang begitu semangat. Ia tersenyum samar sebelum mengacak rambut adiknya dan membawanya ke tempat penyimpanan di belakang rumah yang sudah sering dikunjungi.

 

Pintu kayu yang cokelat terang berpelitur membunyikan derit kecil sebelum membuka. Marcus menekan sakelar lampu. Dihadapan mereka telah terpampang rak-rak dan tong tempat menyimpan serta menyetok minuman dari berbagai jenis dan merek. Euclair memimpin dengan kekaguman. Marcus berjalan anggun menuju sebuah rak dan menarik sebuah botol dengan satu tangan, membawanya ke sebuah meja beserta dua gelas tinggi di tangan lainnya. Ia meminta Euclair duduk.

 

“Kau yakin ingin mencobanya?”

 

Tampak Euclair tidak berpikir lagi untuk mengangguk mantab dan mengatakan ‘ya’. Maka Marcus juga tak perlu menimbang lagi untuk membuka penutup botol dan menuang isinya kedalam gelas. Milik Euclair lebih sedikit dari miliknya karena Marcus khawatir adiknya menjadi mabuk. Ia pernah menceritakan wujud rasa minuman itu pada Euclair sepulang dirinya dari Bordeaux dan berhasil membuat Euclair rajin merajuk padanya hingga beberapa saat yang lalu. Merlot, anggur merah asal Perancis yang begitu terkenal, saingan berat Cabernet Sauvignon, akan menjadi anggur pertama yang dicecap Euclair.

 

Berasal dari keluarga pengusaha sukses di Norwegia yang memusatkan fokus pekerjaannya pada pembuatan berbagai anggur dan beberapa jenis kesenian, Slønberrn bersaudara tergolong pada masyarakat mengengah keatas dan cukup punya nama di Eropa, terutama dalam dunia anggur. Di Jerman sendiri, tempat mereka tinggal sekarang bersama seorang paman yang juga seorang winemaker handal, mereka cukup menonjol. Jika penduduk Würzburg—atau bahkan mungkin Bavaria—ditanya tentang siapa keluarga Slønberrn itu, tak akan ada satupun yang bilang tidak tahu. Namun meskipun begitu—tinggal bersama seorang winemaker—Euclair memang belum pernah mencecap setetespun anggur. Marcus belum mengijinkannya.

 

Beberapa milimeter sebelum bibir gelas menyentuh bibir Marcus, dan baru saja Euclair mau menyentuh gelasnya, sebentuk samar suara raungan dari luar mendadak menyusup dan menginterupsi kegiatan mereka. Benar-benar suara yang mengerikan, seperti puluhan orang yang merintih secara bersamaan. Tak seberapa lama kemudian terdengar debam-debam keras menghujam setiap sisi ruangan yang terhubung dengan dunia luar seolah memang ada sesuatu yang meminta ijin untuk masuk. Begitu kuatnya. Pelapis dinding mulai retak, lalu sebuah lubang seukuran pintu terbentuk akibat runtuhnya gaya adhesi yang telah sekian dekade menopang tegaknya dinding. Diluar berdiri berlapis-lapis pasukan makhluk berwajah seram…

 

Para ghoul

 

Cekatan Marcus bangkit, menyembunyikan Euclair yang berteriak ketakutan dibelakang tubuhnya. Tangannya yang tadi memegang gelas sekarang menggenggam kuat gagang pedang pendek yang barusan ia cabut entah dari mana. Rambut perak-keemasannya bergoyang dan berkilat bersamaan dengan gerak cepat mata biru langit yang singkat menyapu gerakan para ghoul, menilai situasi sebelum menentukan tindakan.

 

 

 

 

 

 

 

“Ka—“

 

Sesosok ghoul meraung dan maju pertama, bahkan sebelum Euclair menyelesaikan satu kata. Pedang Marcus terbangun, secara horisontal mengiris leher ghoul itu sampai putus dan menggelinding bagai bola di lantai. Raungan lagi, serangan lagi, putus lagi. Semakin lama semakin banyak yang maju dalam tiap serangan dan Marcus mulai kewalahan. Ruang penyimpanan anggur porak poranda. Makhluk buruk rupa dengan berbagai bentuk tubuh manusia baik yang rusak maupun yang utuh, yang masih berdaging atau yang tinggal tulang-belulang, semua menyasari Marcus. Entah apa yang terjadi, namun tak setitikpun makhluk-makhluk itu tertarik pada Clair—Euclair. Mereka semua hanya mengincar Marcus.

 

Bermacam aroma tercampur. Bau sengak keringat, bau lembab tanah, bau tajam anggur tumpah, dan tentunya bau busuk ghoul menimbulkan campuran aroma yang teramat menjijikkan. Marcus mencoba mengabaikan segala gangguan tersebut dan berkonsentrasi terhadap pedang titanium-nya yang mulai geripis. Memang titanium keras dan tajam, namun unsur itu juga rapuh. Ia bisa saja mengubahnya menjadi unsur lain yang lebih kuat jika saja situasinya tidak seperti ini.

 

“Al… ke… ‘misss…” salah satu ghoul mendesis panjang tepat di depan wajah Marcus yang berlumur keringat. Wujudnya hanya tengkorak berlapis daging tipis berwarna kemerahan seperti korban kebakaran dan lidahnya panjang sekali. Ghoul ini memiliki tak sampai sepuluh helai rambut merah panjang diatas kulit kepalanya yang juga merah, dan matanya sudah tidak ada. Cakar-cakar hitamnya menunjuk dagu Marcus, napasnya berbau mayat.

 

Terkejut dan hilang fokus karena desisan ghoul tadi, Marcus jadi tak sadar bahwa dibelakangnya—diantara dirinya dan Euclair—ada ghoul lain yang telah bersiap untuknya. Euclair berteriak tepat ketika ghoul itu menempelkan telapak tangannya yang kurus lebar ke kepala Marcus, menekan jari-jari ke kedua sisi kepalanya, lalu memingsankannya seketika.

 

“Tidak…” Euclair berkata sambil menahan tangis, “Tidak, KAKAAAK…!”

 

Pasukan ghoul membawa tubuh Marcus menjauh dari Euclair. Euclair ingin berlari menyusul, namun tak sedikitpun tubuhnya mampu digerakkan. Ia jatuh terpuruk diatas serpihan kayu dan beling sedangkan dengan pasti para ghoul menghilang bersama Marcus.

 

Genap satu jam sudah Euclair terduduk di lantai. Air matanya sudah tak mengalir, matanya merah, pedih, lekat mengawasi lubang dinding kalau-kalau ada ghoul yang muncul lagi dari sana. Ia ketakutan. Hanya melihat sekilas rupa ghoul itu saja ia sudah takut bukan main, apalagi jika ia diharuskan bertarung menghadapinya. Pelan-pelan dan berulang Euclair memanggil kakaknya seperti orang hampir gila.

 

Euclair tak mungkin bisa tidur malam ini. Tanpa kakaknya, tanpa orang yang menemaninya—terutama setelah kedatangan ghoul—tak akan bisa barang sepuluh detikpun ia memejamkan mata. Kalaupun bisa, ia akan merasa dihantui. Mimpi buruk di awal akan membuat hari selanjutnya tidak tenang, dan hari yang tidak tenang sudah pasti kacau-balau. Euclair tidak suka itu. Andaikan hari-hari kesendirian itu tak kunjung berakhir, mungkin Euclair bisa benar-benar kehilangan kewarasan.

 

Kemarin paman mereka pamit untuk mempelajari teknik pembuatan anggur di Italia, sekaligus ingin berlibur melepas penat. Dia mengatakan bahwa dia tak mau buru-buru kembali dan meminta Slønberrn bersaudara untuk menggantikan posisinya di winery selama dia pergi. Dia juga tak lupa menegaskan bahwa ruang penyimpanan harus tetap bersih dan rapi seperti saat dia tinggalkan. Nanti kalau paman mereka sudah kembali, entah alasan apa yang akan diutarakan Euclair untuk menjelaskan segala kekacauan yang timbul, serta penyebab hilangnya Marcus. Paman mereka tak bisa menerima penjelasan tak masuk akal seperti kedatangan ghoul kedalam rumah karena dia seorang realistis dan logis. Satu-satunya yang membuat Euclair dan Marcus berbeda adalah minat mereka terhadap hal-hal yang okultis dan agak mistis, setidaknya sesuatu yang agak sulit diterima akal sehat. Seni transmutasi logam—alkemi—dan makhluk supranatural telah dipelajari Marcus dan Euclair sejak lama. Sedangkan paman mereka? Dengar pun tak sudi. Yang penting bisa hidup dan diterima di masyarakat, itu yang sudi didengarnya.

 

Setelah sekiranya mampu bergerak bebas, Euclair memutar kepala, mengedar pandang sekeliling dan tak menemukan sebijipun benda utuh selain tubuhnya sendiri. Genangan merah terang Merlot putih merek Napa Ridge nyaris menyentuh reruntuhan rak tempat tadinya disimpan Gewürztraminer. Anggur-anggur produksi Josmeyer bercampur di satu tempat tersendiri, dekat dengan ruangan lain tempat menyimpan buah anggur—yang untungnya tak tersentuh ghoul. Sedangkan anggur asli bikinan keluarga Slønberrn, yang diberi brand sama dengan nama keluarga, sudah sampai kemana-mana, merata di sebagian besar lantai. Euclair sudah mulai merasa kakinya lengket akan anggur setengah kering dibawah telapak.

 

Euclair menegadah, memandang langit-langit yang warnanya nyaris seperti brulee saking tuanya. Limabelas tahun lalu dirinya dan Marcus dipindahkan dari Tondheim, Norwegia, ke Bavaria, setelah kedua orangtua mereka tewas terkena guncangan bom bunuh diri orang. Hanya butuh waktu singkat bagi kedua bersaudara itu untuk kembali ceria seperti biasa. Paman mereka, yang memilih untuk tetap bujang sampai sekarang, selalu melakukan hal menyenangkan untuk menghibur mereka. Jalan-jalan ke winery, menyusur pinggir sungai Main, bermain di kebun anggur paman mereka dekat benteng Marienberg, dan berbagai hal lain. Tak ada hari tanpa senyum jika bersamanya.

 

Sekarang pamannya tak ada, kakaknya tak ada, Euclair hanya sendiri. Kalau sesuatu terjadi tak ada yang langsung datang menolongnya seperti yang dilakukan Marcus. Kalau ia kelaparan tak ada yang memasakkan aneka makanan dari penjuru dunia seperti yang dilakukan pamannya. Ia tak tahu kemana harus pergi dan apa yang harus dilakukan jika tanpa mereka. Ia tak tahu sampai kapan ia bisa bertahan kalau caranya seperti ini. Ghoulghoul itu, mungkin datang lagi nanti…

 

Betapa Euclair berharap bahwa tak lama lagi setelah ini, dari lubang dinding di hadapannya, kakaknya akan muncul dan mengatakan bahwa semua ini hanyalah lelucon belaka, seperti yang telah mereka lalui di waktu-waktu sebelumnya. Namun melihat banyaknya makhluk gentayangan yang masuk rumah, serta keseriusan kakaknya dalam melindunginya sampai-sampai pedang titanium-nya hampir patah, harapan itu terasa mustahil. Kakaknya benar-benar hilang, sungguh-sungguh hilang. Pernah terbersit dalam pikiran Euclair sebuah niat untuk menolong kakaknya, membawanya kembali ke rumah, lalu menertawakannya karena tak bisa pulang sendiri. Tetapi niat itu cepat-cepat ia singkirkan karena ia sadar…

 

…ia sendiri, dan tak punya teman untuk membantu.

 

Terbitnya matahari terasa cepat bagi Euclair, mungkin karena ia sibuk memikirkan dan mencerna apa yang barusan dialaminya—dan Marcus—serta sibuk mengawasi sekitar kalau-kalau ada setan gentayangan datang menjemput. Ketakutannya masih banyak tersisa, meskipun tak sedikit juga berkurang akibat pergantian malam-siang. Ia segera berdiri, meregangkan badan sambil mengusir rasa mati di kedua kakinya akibat duduk selama berjam-jam, dan mengeksplorasi ruang lagi. Hanya semakin banyak anggur mengering dan bercampur, membuat ruangan ini terlihat luar biasa kotor. Untung lubang di dinding berhubungan dengan kebun—Euclair malas melayani pertanyaan warga jika sampai mereka melihat kerusakan rumah.

 

Mengabaikan segala bentuk rasa sakit, Euclair malangkah gontai keluar ruangan menuju ruang lain. Saat melewati meja rosewood rasanya Euclair ingin menangis; lilin masih menyala, lelehannya tumpah keatas meja, dan buku yang kemarin dipegang Marcus tergeletak begitu saja. Seakan ada yang menjejalkan sesuatu kedalam kepalanya dan memaksanya untuk mengingat bagaimana semalam Marcus duduk menumpuk kaki disitu, menunduk mencermati buku, menyimaknya bicara, lalu mengangguk senang karena semua yang Euclair katakan sama persis dengan apa yang tertera di buku. Ingatan itu sempat membuatnya berpikir bahwa Marcus hanya pergi sebentar saja.

 

Terus bergerak, Euclair membawa tubuhnya masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Berhubung semalam ia tak tidur, ia bisa melihat kantung matanya menghitam. Ia benar-benar lelah. Pagi ini ia harus melakukan sesuatu agar dirinya tak mati kelaparan dan mencari petunjuk-petunjuk tentang kemana kiranya Marcus dibawa pergi. Maka selesai ia berbenah—tanpa terenyuh untuk merapikan tempat penyimpanan anggur—ia langsung angkat kaki. Rumah ini benar-benar membuatnya tersiksa.

 

Tak punya tujuan pasti, Euclair terus melangkah menjajaki jalan Dreikronenstraße dari arah utara ke selatan. Ia masih belum bisa percaya dan menerima, bahwa sekarang ia berjalan sendiri, tak bersama Marcus yang sebelumnya selalu menggandeng tangannya. Di sisi kirinya kendaraan lalu-lalang menutupi pemandangan Sungai Main yang bersih.

 

Baru ingat bahwa tujuannya keluar adalah untuk membeli sarapan, Euclair langsung berputar-putar meninjau lokasi, siapa tahu di dekatnya ada rumah makan atau warung. Setelah yakin ini Katzengasse, dan menemukan sekeping ‘pencerahan’ di kepalanya, Euclair berbelok ke kanan, memasuki jalan yang lebih kecil untuk mengunjungi restoran langganannya dan Marcus: Schiffbäuerin, restoran ikan segar nomor sekian puluh sekian di Würzburg. Makanan disana hampir selalu enak.

 

Makan di tempat bukan ide yang baik jika sedang sendiri, menurut Euclair. Satu porsi steamed Waller, dibungkus, bayar, lalu enyah, itu yang baik. Sepanjang jalannya menuju pusat kota Würzburg diseberang sana, Euclair mencoba memasang wajah ‘biasa’ sambil menenteng bungkusan makanan berlabel mencolok Schiffbäuerin. Orang-orang tak peduli, itu artinya ia berhasil. Sambil terus mempertahankan ekspresinya Euclair menambah kecepatan hingga akhirnya ia sampai di sebuah loakan buku.

 

Pemiliknya seorang wanita yang masih cantik meskipun sudah lagi tak muda. Rambutnya abu-abu kehitaman, panjang terikat dibelakang punggung yang agak bungkuk. Buku jarinya tebal. Matanya riang menyapa Euclair saat gadis Viking itu asyik memilah-milah literatur.

 

“Kami menjual dengan harga sangat murah, miss, silahkan memilih.”

 

Euclair terpancing pada buku sejarah yang kelihatannya masih agak baru. European Iron Age History, masih cetakan pertama, tebal tapi ringan. Disana terdapat keterangan tentang suku-suku yang mendiami wilayah Eropa Barat, legenda-legenda mereka, dan agama yang mereka anut. Saling berkaitan, bangsa Viking—seperti dirinya dan Marcus—yang mendiami Semenanjung Skandinavia, bangsa Celtic, yang mendiami Inggris—disitu tertulis Britania Raya—dan sebagian Italia, serta orang-orang Irish. Ada pula penjelasan tentang etnik-etnik Eropa yang kini menyebar ke berbagai belahan dunia. Erris sejenak bisa tertawa ketika mengetahui bahwa bangsa Nordik, yang juga berarti dirinya dan Marcus, ternyata sangat dihormati oleh sang Führer, dijunjung tinggi pimpinan fasis Jerman, Hitler. Ia ingin tahu kenapa.

 

Meletakkan kembali buku tersebut, Euclair kembali tertarik judul lain. World’s Ancient History, masih baru juga. Kali ini keseriusannya kembali ketika menemukan artikel seputar ghoul, monster kuburan yang hobi makan daging manusia. Tiba-tiba Euclair ketakutan. Bagaimana kalau mereka memakan Marcus, memakan kakaknya, dan mengembalikannya dalam wujud tulang-belulang? Kalau memang itu tujuannya kenapa mereka harus memingsankannya terlebih dahulu? Apa mereka hanya ingin menyetok makanan? Euclair benar-benar takut dan khawatir akan hal ini.

 

“Ada apa, miss? Apa ada yang salah dengan buku itu?” pertanyaan si penjual menyadarkan Euclair dari imajinasinya yang mengenaskan. Euclair menggeleng.

 

Tak tahan dengan bahasan ghoul yang penuh darah dan mengerikan, Euclair beralih ke bahasan lain. Satu sifat dengan ghoul, begitu kalimat awal pembukanya. Entah mengapa Euclair bukanya takut dengan makhluk legenda yang satu ini. Ia justru tertarik. Barangkali kalau ia berhasil meminta bantuan rohnya ia bisa membebaskan Marcus. Genii Cucullati, The Hooded Ones, itulah sebutan mereka.

 

”Nyonya, aku ambil ini.”

 

Euclair duduk di pagar jembatan Alte Mainbrücke sambil melahap sedikit demi sedikit steamed Waller-nya. Setelah tadi merasa lucu karena ditinggikan Hitler, merasa takut ketika membaca bahasan ghoul, merasa kembali semangat setelah menemukan Genii Cucullati, kini ia sedih kehilangan Marcus. Tak sampai sehari ditinggal ia sudah merindukan kakaknya itu. Sebelumnya mereka selalu makan bersama, tapi mulai hari ini tidak. Tidak sampai ia berhasil memanggil roh Genii Cucullati dan menemukannya kembali.

 

Euclair teringat saat-saat dulu ia masih bersama dengan saudaranya. Bagaimana pamannya selalu heran dengan sikap Marcus yang sangat sis-complex dan betapa protektifnya Marcus terhadap dirinya sampai-sampai dia lupa pada keselamatannya sendiri. Ia ingat betapa Marcus tertarik pada sebuah garpu perak yang dibeli orangtua mereka dari sebuah toko perkakas di Norwegia. Kakaknya selalu tertarik pada sains, terutama fisika dan kimia. Marcus baru merasa ilmunya mengalami jauh perkembangan setelah mampu melakukan transmutasi, segalanya berawal pada waktu yang sangat tak terduga.

 

Waktu itu Marcus baru berusia duabelas saat orangtua mereka berkunjung ke Paris. Saat yang lain buru-buru bertandang ke kawasan elit Champs-Elyseés untuk menghabiskan uang membeli baju obral yang harganya dikorting habis-habisan, Marcus lebih tertarik mengasing ke Le Louvre, bersama Euclair tentunya. Loakan buku hampir selalu menarik perhatiannya. Dan entah kebetulan atau bagaimana—Euclair percaya tak ada yang namanya ‘kebetulan’—Marcus menemukan dua buku yang menjadi akar terbentuknya minat Marcus terhadap alchemy. Limited edition, ditulis tokoh paling misterius dan fenomenal dalam dunia okultisme Perancis, Fulcanelli. Jilid pertamanya bertitel Le Mystère des Cathédrales, terbit di Paris tahun 1926. Jilid keduanya diberi judul Les Demeures Philosphales, terbit tahun 1930. Sebenarnya sempat diberitakan bahwa ada pula jilid ketiga, judulnya Finis Gloria Mundi, namun entah dengan alasan apa naskah buku tersebut dimusnahkan sebelum sempat diterbitkan. Marcus sering sekali menyayangkan hal itu.

 

Euclair sungguh-sungguh merindukan segalanya tentang Marcus. Caranya tertawa, caranya duduk, caranya memincingkan mata untuk mengamati detail suatu benda, caranya melirik dan menggoda Euclair, bahkan caranya membalik halaman buku, setiap hal yang dia lakukan meninggalkan kesan tersendiri. Euclair tak pernah bisa lupa saat Marcus mengajaknya kabur ke restoran Chez Marie di Montmartre, Paris, sementara keluarga mereka yang lain menonton peragaan busana haute couture. Dalam rumah makan mungil bercat merah bernomor bangunan 27 itu, yang pengunjungnya sedikit, mereka tak melakukan banyak hal. Yang membuatnya sulit terlupakan hanyalah karena saat itu Marcus tak henti-hentinya menggoda Euclair seperti bujangan menggoda gadis kejarannya. Lebih dari sesekali Marcus menekankan ujung alas kakinya ke ujung sepatu Euclair sambil memegang tangannya dan memandangnya lekat. Euclair tahu dirinya tersipu, Marcus bilang bahwa dia akan selalu menyayangi dan melindunginya sampai kapanpun—nada bicaranya tak menekankan aksen ‘sebagai adik’. Lalu setelahnya mereka jalan-jalan di sekitar Rue Gabrielle dalam balutan sunyi. Meskipun mereka belum tahu apa yang ada di depan sana, tapi mereka sudah tahu bahwa apapun itu, sudah pasti tidak buruk.

 

Marcus senang menjadi berbeda dengan kebanyakan orang. Bila ditanya tentang kota paling romantis di dunia, kebanyakan orang akan terpikirkan Paris. Tapi Marcus tidak. Baginya, daripada jalan-jalan di Paris dan hanya mengamati, jauh lebih romantis berperahu menyusuri perairan Venesia. Satu-satunya hal yang membuatnya menyukai Perancis adalah ilmu. Banyak yang bisa dipelajari di Perancis. Dan menurut Le Mystère des Cathédrales, Perancis menjadi lokasi paling banyak ditemukannya bangunan gothic yang menyimpan instruksi-instruksi alchemy, yang akhirnya berhasil dia pecahkan.

 

Euclair menghela napas panjang setelah menyeka mulutnya dan melahap steamed Waller-nya hingga habis. Kemudian ia tersentak; ia ingat bahwa ruang penyimpanan anggur belum tersentuh, yang artinya ia harus segera pulang dan bersih-bersih sebelum kotorannya bertambah kering. Ia berdiri, merapikan penampilan, membereskan sampah, dan berlari pulang.

 

“Katakan mengapa kau berani melakukan hal tak terpuji itu!”

 

“Aku tidak melakukan apapun!”

 

“Kau…”

 

“AAAAAARRRRGH…!!!”

 

Alastir mengerang kesakitan saat ia merasakan sebatang jari menekan mata kirinya. Tubuhnya bergelinjang dalam kekangan. Ia bisa merasakan kulit diatas tulang pipinya basah bukan oleh air mata, namun oleh sesuatu yang lain…

 

Darah.

 

Alastir mengerang lebih keras tatkala jari yang menekan matanya, yang belum lama ini telah menembus jauh kedalam bola matanya, dicabut. Darah menetes-netes, keluar dari rongga mata kirinya yang bisa dibilang nyaris kosong, menyisakan serabut-serabut saraf dan otot yang tak lagi bermakna. Mata kirinya telah dicungkil, oleh saudaranya sendiri, Cormac mac Airt, karena tuduhan kejahatan yang tak pernah ia lakukan.

 

“Aku membuangmu keluar dari sini, dan jangan harap kau bisa kembali sebelum kau membuktikan bahwa kau memang benar tidak bersalah seperti pembelaanmu tadi!”

 

“Tidak, tunggu!—“

 

Euclair membuka mata terkejut. Ia terlelap. Ia tak sadar sudah berapa lama ia tertidur dan bagaimana ia bisa tertidur disini, di ruang dimana Marcus mengetesnya kemarin malam. Yang bisa ia ingat hanya, bahwa ia telah menyelesaikan tugasnya untuk membersihkan ruang penyimpanan tepat waktu, selesai sebelum pukul duabelas. Segalanya gelap. Ia tahu bahwa ini sudah jauh lewat tengah malam.

 

Mengerjapkan matanya yang terasa lengket, Euclair mencoba bangun meningkahi rasa takut yang kembali menyergapnya. Ketakutannya naik secara drastis saat mendengar jelas suara tarikan napas berat di dekat tempatnya terbaring, seperti suara inhaler. Ia membuka matanya lebar-lebar, nyaris pingsan ketika melihat sesosok makhluk bertudung duduk begitu dekat dengan wajahnya.

 

“KYAAAAAAAAAAAA…!!!”

 

Prologue/END

The Hooded One/TO BE CONTINUED

 

Author’s note:

Daku hanya mencoba mengangkat basis mitologi yang jarang atau bahkan belum pernah digunakan dalam FF, yaitu Celtic dan Irish. Daku pun mencoba memasukkan unsur anggur dan, sudah pasti, sains dalam FF. Semoga para reader yang terhormat bisa menikmati dan lumrah. Gag banyak komen gag papa deh. Toh, daku percaya kalian bisa ngerasain gimana kalo karya kalian gag diapresiasi dan gag digubris sama pembaca yang banyak lalulalang. Setidaknya kalian menghargai, lah…

Akhir kata, terimakasih dan harap lumrah para reader sekalian…!