Author : Ocha
Title : End Of Our Story
Length : OneShoot
Genre : Romance, Angst
Cast : Park Gyuri, Lee Hyukjae, Kim Hyoyeon, Lee Donghae, Park Jungmin

Hyukjae sekali lagi memandangi 2 tiket drama musikal yang ada di genggaman tangannya. Selama sebulan ini ia ditugasi atasannya untuk mengurusi cabang perusahaan tempatnya bekerja yang ada di Cina dan rencananya hari Minggu nanti ia ingin menghabiskan waktu bersama istri tercintanya, Park Gyuri.

“Hyukjae-sshi, aku mau bicara sebentar.”

Belum sempat ia mengucapkan sepatah katapun, Gyuri sudah muncul di belakangnya. Tumben sekali Gyuri tidak memanggilnya Monkey.

Hyukjae berjalan mendekati Gyuri dan membelai kepala istrinya itu dengan penuh kasih. “Kau mau bicara apa, Goddess?”

“Tolong tandatangani dokumen ini,” kata Gyuri dingin.

Hyukjae mengerutkan keningnya. Belum pernah Gyuri berkata sedingin ini padanya. “Apa ini?” tanya Hyukjae sambil mengambil dokumen yang ada di tangan Gyuri.

“Surat gugatan cerai. Aku minta cerai.”

Dunia Hyukjae seakan runtuh mendengarnya. “Ne, apa kau bilang, Goddess?” katanya sambil tersenyum getir.

“Aku sudah mengatakannya dengan sangat jelas. Jangan minta aku untuk mengulanginya lagi!”

“Tapi apa salahku? Apa salah hubungan kita? Kenapa begitu mendadak?” kata Hyukjae sambil memegang tangan Gyuri erat-erat.

“….”

Tak ada jawaban. Gyuri hanya diam mematung menundukkan kepalanya.

“AYO JAWAB AKU!!” bentak Hyukjae. “Oh, aku tau. Pasti karena dokter itu kan? PARK JUNGMIN? BENAR? DOKTER TAMPAN YANG DULU SELALU MENJADI PUJAANMU. Kau pasti bahagia akhirnya dia pulang ke Korea. Jangan-jangan selama aku ke Cina kau berselingkuh dengannya.”

“Kalau iya kenapa? Tandatangani saja dokumen itu,” kata Gyuri cepat sambil meninggalkan Hyukjae di kamar mereka.

“Tunggu. Biar aku tandatangani dulu kertas bodoh ini.” Hyukjae segera menandatangani berkas yang ada di genggaman tangannya dan melemparkannya tepat di wajah Gyuri. “Aku harap kau segera meninggalkan rumahku, Nona Park Gyuri yang terhormat. Dulu kau memang seorang Goddess bagiku tapi sekarang, kau tak lebih dari pelacur murahan!!!”

Gyuri tak berkata apapun dan mengambil berkas yang terjatuh di lantai. “Aku sudah membereskan barangku dan besok aku akan pulang ke rumah orangtuaku. Kau tidak perlu khawatir, Oppa…”

“JANGAN PERNAH PANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN ITU!! AKU JIJIK MENDENGARNYA!!” bentak Hyukjae lagi.

“Benarkah? Kupikir dulu kau selalu memintaku memanggilmu begitu. Dan bukan salahku kalau meninggalkanmu demi Jungmin Oppa. Tidak ingatkah kau akan perkataanmu dulu saat melamarku? Kau memaksaku menerimamu dan melupakan Jungmin Oppa karena kau berjanji kalau kau bisa membuatku jatuh cinta padamu dan melupakan Jungmin Oppa. Perkataanmu tidak terbukti. Aku pikir satu tahun cukup untukmu membuktikan perkataanmu tersebut. Selama satu tahun pernikahan kita kau tidak bisa membuktikannya kan? Wajar aku minta cerai sekarang.”

Hyukjae menelan ludah mendengar perkataan Gyuri. “Neo! Aku… Kau… Kau sungguh egois, Park Gyuri!!”

“Aku … atau kau yang egois di sini, Lee Hyukjae?”

“Kalau begitu kenapa kau selalu bersikap manis dan baik selama pernikahan kita? Membuatku berpikir kalau aku sudah membuatku jatuh cinta padaku.”

“Itu salah satu usahaku untuk mencoba mencintaimu. Usaha yang gagal sayangnya…” kata Gyuri mengakhiri pembicaraan mereka dan menutup pintu kamar dengan keras.

Hyukjae meremas tiket yang ada di genggamannya dan melemparnya ke perapian. “SIALAN KAU PARK GYURI!!!!” teriaknya. Emosinya sudah tak tertahankan. Air matanya meluncur keluar. Ia melempar semua barang yang ada di kamarnya. “Aku tidak menyangka aku akan kehilanganmu dengan cara yang seperti ini. Selama ini aku sudah berusaha keras, My Goddess. Aku mencintaimu melebihi apapun. Aku tidak mau kau pergi meninggalkanku demi dokter tampan itu. Cih!! Kenapa ia harus kembali ke Korea!! Kenapa pesawatnya tidak jatuh saja!! PARK JUNGMIN BANGSAT!! PENGGANGGU HUBUNGAN ORANG!! PERGI KAU KE NERAKA!!” racau Hyukjae sambil menenggak sebotol wine yang ia simpan di lemari kamarnya.

Dengan sempoyongan ia menarik foto besar yang terpajang di atas ranjangnya. Di foto itu terlihat ia menggendong dan mencium pipi Gyuri dengan mesra. Gyuri memejamkan matanya dan tersenyum malu. Foto pernikahan yang dulu selalu menentramkan hatinya. Selalu mengingatkan betapa beruntungnya dia memiliki seorang Goddess sebagai istri.

Dan dengan satu sentakan, foto itu hancur berkeping-keping.

 

**********

 

FLASHBACK

 

Hyukjae tiba di kantin dengan nampan ditangannya dan memandang berkeliling mencari meja kosong. Kedua sahabatnya yang mengapit dirinya, Lee Donghae dan Kim Hyoyeon, melakukan hal yang sama.

Kantin sudah penuh terisi wajah-wajah kelaparan murid Neul Paran High School. Keributan terjadi di sana-sini.

Hyukjae memandangi nampannya yang penuh makanan dan menelan ludah. “Ya! Aku sudah lapar sekali. Apakah kalian sudah menemukan tempat?” tanya Hyukjae sambil mengelus perutnya. Matanya kembali menjelajah mencari bangku kosong walaupun tampaknya itu hal yang mustahil. Kali ini pandangannya terhenti pada bangku yang hanya terisi dua orang di sudut. Ia baru akan memanggil dua sahabatnya sampai akhirnya dia menyadari siapa yang sedang duduk di sana, Park Gyuri dan Park Jungmin. Dua manusia paling populer di sekolah ini. Hampir semua orang di sekolah ini menganggap mereka pasangan sempurna dan menjuluki mereka Park Couple. Semua orang kecuali Hyukjae, ia membenci pasangan tersebut karena ia pikir lelaki sempurna untuk Gyuri hanyalah dirinya. “Cih, selalu saja…” gumamnya. Ia tidak mengerti kenapa Park Gyuri senang sekali menghabiskan waktunya berduaan dengan salah seorang sunbae mereka, Park Jungmin. Ia tahu Jungmin bukanlah pacar Gyuri, tapi kenapa mereka selalu saja berdua tak terpisahkan. Ia bertanya-tanya apa sajakah kelebihan Park Jungmin. Oke, pria itu adalah seorang murid kelas 2 yang bagaimana jeleknya pun selalu terlihat keren dimata murid kelas 1, salah seorang  siswa tertampan di Neul Paran, pintar, kaya, dan memiliki suara merdu. Berbeda jauh dengan Lee Hyukjae, seorang murid kelas satu yang biasa-biasa saja, tidak tampan, tidak pintar, berasal dari keluarga yang sederhana saja namun pandai menari. “Beda tipis lah…” gumam Hyukjae lagi.

“Bagaimana kalau meja di sudut itu? Cuma dua orang yang menempati, masih cukup kalau kita mau makan di sana,” celetuk Donghae. “Tidak ada tempat lagi selain di sana.”

Hyukjae mengangguk semangat. Kapan lagi ia bisa makan semeja dengan Goddess nya. “Bagaimana Hyo? Kau mau tidak?” tanyanya.

Hyoyeon hanya mengangguk lalu mengikuti Donghae dan Hyukjae yang sudah berjalan duluan.

“Permisi, bolehkah kami bergabung di sini?” tanya Hyukjae pada Gyuri.

Gyuri menggeleng tegas.

“Tentu saja boleh, silahkan…” jawab Jungmin ramah.

“Kamsahamnida, Jungmin sunbae…” kata Hyukjae sambil tersenyum ramah. “Kenapa harus manusia ini yang menjawab sih…” gumamnya.

“Oppa, kenapa kau membiarkan mereka menggangu makan siang kita? Aku ingin makan siang berdua denganmu saja, Oppa,” kata Gyuri manja.

Oppa? Hyukjae hampir tersedak mendengarnya. Bagaimana bisa Goddess nya memanggil manusia itu dengan sebutan Oppa? “Harusnya panggilan itu untukku, bukan untuk Jungmin,” pikir Hyukjae. Ia juga heran melihat perubahan drastis Goddess yang ada di sampingnya ini. Selama di kelas Gyuri selalu bersikap kaku, angkuh, susah didekati, sombong. Tapi bagaimana bisa ia bermanja-manja bila di depan Jungmin.

“Mereka teman sekelasmu kan, Gyuri? Kau tidak boleh bersikap begitu,” kata Jungmin.

“Monyet ini dan teman-temannya bukanlah temanku!” kata Gyuri sambil menunjuk Hyukjae, Donghae, dan Hyoyeon.

“YA! Beraninya kau memanggil Eunhyuk dengan sebutan Monyet!!” kata Hyoyeon dengan nada tinggi.

“Kau tidak usah membentakku seperti itu Nona Hyoyeon yang terhormat. Kau lihat saja kelakuan temanmu itu. Bodoh, selalu menari tidak jelas, persis seperti monyet!” jawab Gyuri tenang.

“Kau mau aku cekik ya?” tantang Hyoyeon.

“Tuh kan, Oppa. Lebih baik kita pindah saja. Mereka hanya sekelompok orang barbar. Liar, bodoh, tidak sopan. Pantas saja guru-guru selalu menegur mereka!”

“Aku pernah bilang kau harus lebih akrab dengan teman-temanmu kan?” tanya Jungmin lembut pada Gyuri.

“Kau ingat aku sudah punya empat teman akrab, Seungyeon, Hara, Nicole, dan Jiyoung. Ingat kan, Oppa?” tanya Gyuri gemas.

Jungmin mengangguk dan tersenyum melihat tingkah Gyuri. “Ne, ne, aku ingat kok.”

“Kalau begitu, aku tidak perlu mengakrabkan diri dengan sekumpulan orang liar seperti mereka, ayo pergi, Oppa!”

“Cih, aku tidak menyangka Goddess mu ternyata bisa begitu menyebalkan” sindir Donghae pada Hyukjae.

 

**********

 

Gyuri nampak tersenyum dan menggandeng lengan Jungmin. Hari ini adalah sidang cerai mereka. Hyukjae berharap hal ini tidak akan terlalu berbelit-belit seperti yang selalu terjadi pada artis-artis yang bisa berkali-kali melakukan sidang. Ia tidak tahan bila harus melihat pemandangan seperti itu berulang kali. Tapi ia sadari ada sesuatu yang berbeda dari Gyuri. Wajahnya terlihat sangat pucat. Walaupun Gyuri sepertinya mencoba menutupi hal itu dengan make up tebal, Hyukjae masih mengetahui hal tersebut.

“Hyo, kau lihat Gyuri di sana? Kenapa  dia keliatan pucat ya?” tanya Hyukjae pada Hyoyeon. Hyukjae sengaja meminta Hyoyeon untuk menemaninya hari ini. Ia tidak yakin bisa melewati semuanya sendirian.

“Hmm, senyumnya juga tidak secerah biasanya. Tapi itu hal yang wajar mengingat apa yang akan kalian lakukan di sini. Kau sendiri coba bercermin. Wajahmu tak kalah pucatnya Eunhyuk-ah.”

“Benarkah? Waw, aku tak menyangka aku akan segugup ini…”

“Kau masih amat mencintainya, kan?” tanya Hyoyeon.

“Hahaha, sampai kapan pun, aku akan terus mencintainya, Hyo. Dia akan terus menjadi Goddess ku,” jawab Hyukjae.

Hyoyeon menatapnya kaget. “Bahkan setelah yang ia lakukan padamu? Kau masih bilang kau sangat mencintainya dan menganggapnya Goddess?”

“Maksudmu? Kau tau aku sudah sangat memujanya sejak aku pertama melihatnya. Aku tidak akan pernah bisa membencinya sampai kapanpun, Hyo. Kau akan mengalami perasaan ini suatu saat nanti.”

Hyoyeon mendecakkan lidah. “Kau terlalu berlebihan. Kau seharusnya membenci wanita itu sekarang. Sangat benci sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata!”

“Bukankah waktu dulu kau selalu mengingatkan aku agar tidak mudah membenci orang?”

“Tapi dalam hal ini kasusnya beda, Eunhyuk-ah!! Gyuri sudah berselingkuh, bahkan rela minta cerai hanya untuk pria itu!! Kau patut membencinya!!”

“Ya! Kau tidak usah mengingatkan aku pada hal itu lagi! Aku ingin melupakan hal itu selama-lamanya!!”

“Kau yakin bisa melupakan hal itu hah? Sebagai sahabatmu aku tau kau akan terus menyimpannya dan sakit hati sampai tua.”

“Telpon Donghae, kalau ia tidak bisa menemaniku sekarang ia harus datang ikut kita minum-minum nanti malam!!”

“Ne?”

“Kau dengar perkataanku tadi kan, Hyo. Aku tak perlu mengulangnya lagi…” kata Hyukjae.

“Mwo? Minum-minum? Nanti malam?”

“Aku ulang lagi ya, tolong telpon Donghae, suruh dia ikut kita minum-minum nanti malam…” sahut Hyukjae.

“Aku tidak mau kau melampiaskan kesedihanmu dengan minum-minum, Eunhyuk-ah! Seorang Lee Hyukjae yang kukenal tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu!!” kata Hyoyeon.

“Oh, ayolah, Hyo. Sekali ini saja. Aku tidak tau lagi apa yang harus kulakukan, kau tidak mau aku bertindak nekat seperti melompat dari apartemen ku kan?”

“Neo!!! Jangan coba-coba melakukan itu!! Jeongmal baboya!!”

“Kalau begitu cepat lakukan yang kuminta. Aku tidak akan minta apa-apa lagi padamu setelah ini…”

“Ne, ne, ne, aku akan melakukannya. Kau tahu aku tidak akan pernah bisa menolak permintaanmu. Sudah sana masuk, sidangnya sudah mau dimulai,” potong Hyoyeon sambil cepat-cepat mendorong temannya masuk ke ruang sidang.

“Gomawo, Hyo-ah. Saranghae, hehehe…”.

Pipi Hyoyeon memerah. Ia harap Eunhyuk nya serius mengatakan hal tadi. Ia memang sudah sejak dulu memendam perasaan pada sahabatnya tersebut. Namun sayang, sepertinya seluruh cinta seorang Lee Hyukjae hanya tercurah untuk seorang Park Gyuri, bukan Kim Hyoyeon. Bahkan di saat Gyuri menyakiti hatinya, Eunhyuk tersayang Hyoyeon masih bisa mengatakan kalau ia masih mencintai Goddess nya. “Lihat aku, Eunhyuk-ah. Aku akan membuktikan padamu kalau aku jauh lebih baik dari Goddess mu itu…” gumam Hyoyeon dalam hati. “Kau akan menyadarinya suatu saat nanti. Kau akan mencintaiku seorang!”

 

**********

 

FLASHBACK

 

Acara perpisahan kelas 3 sudah berakhir dan isak tangis terdengar disana-sini. Hyukjae menguap bosan mendengar kata-kata perpisahan yang menurutnya agak berlebihan. Bagaimana bisa kakak-kakak kelasnya itu menangis saat meninggalkan sekolah. Ia yakin saat lulus tahun depan tidak ada satu tetes air matapun yang keluar dari matanya, melainkan senyum kemenangan akan selalu terpancar di bibirnya.

Hyukjae agak terperangah saat melihat Gyuri menangis sesenggukan di dalam aula yang kini sudah kosong. Tidak ada Jungmin di sampingnya. “Kesempatan emas…” gumam Hyukjae.

“Annyeong!!” sapa Hyukjae ramah dan mengibas-ngibaskan balon yang ia curi. Seharusnya balon itu tergantung di depan pintu aula.

Gyuri mendongakkan kepalanya dan melihat Hyukjae sekilas. Bukannya mereda, tangisnya malah semakin menjadi-jadi. “Huaaaaa, Oppaaaa…..” jeritnya.

Hyukjae membekap mulut Gyuri dengan panik. “Sssst, jangan teriak-teriak!! Nanti orang-orang mengira aku berbuat jahat padamu!!! Ayolah, Uljima, My Goddess. Berjanjilah kau akan berhenti menangis, baru aku akan melepaskan bekapanku.”

Gyuri mengangguk dengan cepat.

Perlahan, Hyukjae melepaskan bekapannya dan mundur beberapa langkah.

Gyuri mengusap air matanya dan melihat Hyukjae yang tengah tersenyum lebar dan melambai-lambaikan tangannya yang sedang menggenggam balon.

Hyukjae kemudian melepas jaket dan syal putih yang dikenakannya dan memakaikannya ke Gyuri. “Kenapa kau tidak memakai jaket dan syalmu? Cuaca hari ini sedang dingin sekali, My Goddess…”

Gyuri hanya diam.

Kemudian Hyukjae mulai bernyanyi, ia bermaksud menghibur Gyuri dengan nyanyiannya. Walaupun sebenarnya kemampuan menarinya jauh lebih baik dari suaranya, ia tahu Gyuri membenci tariannya, oleh karena itu, ia memutuskan untuk bernyanyi.

Gyuri memandanginya dengan tatapan aneh.

Merasa aneh dipandangi seperti itu akhirnya Hyukjae menghentikan nyanyiannya dan balik menatap Gyuri. “Wae? Kau baru mendengar suara merdu seperti suaraku?”

Gyuri mengalihkan tatapannya ke arah lain.

“Ya!! Jawab aku!!” kata Hyukjae sambil mengibas-ngibaskan balonnya.

“Suaramu sangat jelek, Monkey! Merusak telinga! Aku lebih suka suara Jungmin oppa!! Aku tidak habis pikir kenapa kau berani sekali memamerkan suara jelekmu itu di depanku yang kau sebut Goddess!”

Mendengar hal itu, Hyukjae malah melanjutkan nyanyiannya yang sempat tertunda tadi.

“YA! YA! YA! Kubilang hentikan nyanyianmu!!!”

Hyukjae terus bernyanyi dan tidak memperdulikan Gyuri yang berusaha memotong nyanyiannya. Ia tidak memikirkan apakah suaranya bagus atau tidak. Ia hanya tidak suka saat Gyuri membanding-bandingkan suaranya dengan suara Park Jungmin, seseorang yang sangat dibenci Hyukjae.

Gyuri terus saja meminta Hyukjae menghentikan nyanyian yang menurut Gyuri suah tidak karuan nadanya. Hingga akhirnya ia merasa capek dan bergegas meninggalkan Hyukjae.

Hyukjae segera menarik tangan Gyuri mencegah gadis itu benar-benar pergi meninggalkannya. “Ya! Goddess! Kau mau kemana?”. Hyukjae menarik gadis itu dan memaksa Gyuri duduk di sampingnya. “Ada apa denganmu, Goddess?”

Gyuri menatap Hyukjae dan menarik tangannya mencoba melepaskan diri dari genggaman Hyukjae. “Lepaskan aku, Monkey!!”

“Shireo!!”. Hyukjae malah tersenyum lebar dan mengeratkan genggaman tangannya.

Gyuri mulai menangis lagi. “Kumohon, lepaskan tanganku! Kenapa kau suka sekali mengangguku?” tanyanya gusar.

Senyum Hyukjae mulai pudar. Ia benar-benar bingung dengan gadis yang ada di hadapannya sekarang. Gyuri yang ada di depannya sama sekali berbeda dengan Gyuri yang selama ini ia kenal.

“Kutanya sekali lagi. Ada apa denganmu?” tanya Hyukjae. “Kau takut tahun depan kehilanganku ya?” candanya.

Gyuri bertanya-tanya dalam hati, bisa-bisanya monyet bodoh ini mengajaknya bercanda di situasi seperti ini. Yang ia inginkan sekarang hanyalah pergi dari hadapan monyet tengik itu karena ia sudah lelah setelah sekian lama menangis dan ia ingin menata perasaannya dulu.

“Kau harus menceritakannya dulu padaku, baru aku mau melepaskanmu…” kata Hyukjae.

“Jungmin oppa pergi meninggalkanku. Tadi pagi dia pergi ke London untuk melanjutkan kuliah kedokteran di sana tanpa pamit denganku. Aku sendirian sekarang!!!”

“Kau kan masih punya Seungyeon, Hara, Nicole, dan Jiyoung. Tidak perlu sesedih itu…” hibur Hyukjae. Hatinya dongkol mengetahui kalau Goddes nya ternyata menangis karena Jungmin. “Pantas tadi dia nangis manggil-manggil Oppa,” pikir Hyukjae.

“Mereka sudah sibuk dengan pacar mereka masing-masing sekarang. Aku ditinggal sendiri. Tidak ada yang mau berteman denganku. Selalu begitu, dari kecil semua orang menganggapku sombong. Padahal aku tidak bermaksud begitu,”. Air mata kembali membanjiri pipi Gyuri.

“Uljima, Goddess. Aku mau menjadi temanmu, kok.”

“Kau mengatakan begitu lalu sedetik setelah kau mendapatkan pacar kau akan meninggalkanku sendiri.”

“Jadi, kalau ingin menjadi temanmu, aku tidak boleh punya pacar, begitu?”

“Ne, kecuali kalau aku sudah punya pacar. Baru kau boleh punya juga.”

“Kau sungguh egois, Goddess. Walaupun aku punya pacar, aku janji aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja, kok.”

Gyuri menggeleng-gelengkan kepalanya. “Semua temanku bilang begitu awalnya. Lalu lihat yang mereka lakukan sekarang…”

“Baiklah, aku janji tidak akan punya pacar sebelum kau punya pacar. Aku akan mencoba menjadi teman terbaik untukmu.”

“Janji?”

“Eunhyuk-ah! Aku mau bicara sebentar!!” panggil Hyoyeon.

Hyukjae menoleh ke arah datangnya suara. “Hyo? Ada apa?”

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Bisakah kau ke sini sebentar?”

“Kau saja yang ke sini, Hyo. Aku sedang sibuk menghibur Goddess yang kesepian,” jawab Hyukjae.

“Tapi, aku ingin bicara berdua saja. Kumohon…”

“Sudahlah, di sini saja tidak apa-apa kok.”

Akhirnya Hyoyeon menyerah dan berjalan mendekati Hyukjae dan Gyuri.

“Nah, apa yang ingin kau katakan?” tanya Hyukjae sambil menggeser posisi duduknya mendekati Hyoyeon.

“E…Eunhyuk-ah…sa…sa…saranghae. Maukah kau menjadi pacarku?”

Walaupun Hyoyeon mengatakannya dengan sangat cepat. Kalimat tadi tetap terdengar cukup jelas di telinga Hyukjae dan Gyuri. Hyukjae mengalihkan pandangannya ke Gyuri.

Gyuri hanya tersenyum tipis. “Aku tau waktu ini akan datang, lebih cepat, lebih baik,” katanya pelan dan melepaskan genggaman Hyukjae.

Hyukjae kembali menatap Hyoyeon yang sepertinya sedang bingung dengan apa yang terjadi. “Mian, Hyo-ah, tapi aku harus menepati janjiku pada Goddess…”

 

**********

 

Ketika Donghae sampai di parkiran apartemen Hyukjae, ia segera memarkirkan mobilnya dan naik ke lantai 13. Hyoyeon sudah menghubunginya berungkali memintanya segera datang karena menurut Hyoyeon, Hyukjae sudah mabuk berat dan ia tak sanggup menanganinya sendiri.

“Yobseyo, ne, Hyo-ah, tunggu sebentar. Aku sudah sampai di parkiran.”

“….”

“Bagaimana keadaan Hyukjae?”

“…”

“Ne, aku sudah di depan lift, tunggulah beberapa detik lagi.”

“…”

“Ne, annyeong…”

Ketika akhirnya ia sampai di depan pintu apartemen Hyukjae dengan terengah-engah karena berlari dari parkiran sampai lift, lalu berlari lagi ke depan pintu itu, Hyoyeon terlihat terkejut melihat Donghae yang terlihat sangat capek. Donghae mencoba mengatur napasnya yang masih tak beraturan  dan menyapa Hyoyeon singkat, ia memberikan sekantong obat-obatan dan entah apa saja yang asal ia beli di apotek saat mengetahui kalau Hyukjae sedang mabuk berat.

Hyoyeon segera menyuruh Donghae masuk sambil memandang heran bungkusan yang ada di tangannya sekarang.

“Apa saja yang kau beli ini? Kau pikir Hyukjae sakit parah sampai hampir mati? Ia hanya mabuk berat dan aku memintamu ke sini hanya untuk membantuku mengurusnya yang terus muntah-muntah sambil meracau tidak jelas daritadi,” kata Hyoyeon sewot. “Pemborosan, ckckckck…”. Ia tidak memedulikan Donghae yang kelihatannya masih sangat kecapekan.

Donghae menyenggol sikut Hyoyeon. “Mana Hyukjae?”

Tak butuh jawaban Hyoyeon, Donghae akhirnya mendengar suara orang muntah-muntah di kamar mandi apartemen yang sudah sangat Donghae hapal letaknya. Ia mengambil handuk kecil yang kelihatannya masih bersih di dapur dan berjalan ke arah datangnya suara. Saat menemukan Hyukjae yang tengah terduduk lemas di bawah westafel kamar mandi, ia menyodorkan handuk kecil itu ke sahabatnya tersebut.

Tak ada tanggapan dari Hyukjae.

Kemudian, dengan senyumnya yang khas, Donghae mengambil kembali handuk itu dan membersihkan bekas muntahan di sekitar mulut Hyukjae dengan handuk tersebut.

Tiba-tiba mata Hyukjae terbuka, membuat Donghae terkejut. Hyukjae langsung meraih dan meremas tangan Donghae yang sedang membersihkan mulutnya, Donghae terperanjat  dibuatnya. “Aku bisa membersihkannya sendiri, Hae-ya,” kata Hyukjae lemah sambil mencoba tersenyum.

“Gomawo sudah datang, Hae-ya. Jeongmal gomawoyo. Saranghae, kau memang sahabat terbaikku, hahaha…” seru Hyukjae tiba-tiba.

Di dalam hati Donghae tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan sahabatnya tersebut. Baru kali ini di hidupnya ia melihat seorang Lee Hyukjae mabuk.

Ketika membantu Hyukjae berjalan ke ruang tamu, Donghae melihat Hyoyeon berdiri dengan tampang cemas tak jauh dari tempat ia dan Hyukjae berdiri sekarang.

Hyoyeon berjalan mendekati mereka.

Donghae memandang Hyoyeon dengan tatapan seolah tidak ada ada yang harus dikhawatirkan dan mendudukkan Hyukjae di salah satu sofa di ruangan tersebut.

Hyoyeon menundukkan badannya sedikit untuk memeriksa keadaan Hyukjae yang kini nampaknya sedang tertidur lelap.

Donghae tersenyum dan mengelus kepala Hyukjae. “Kau benar. Ia baik-baik saja, Hyo-ah. Apa yang membuatnya mabuk-mabukan begini? Perceraiannya dengan Goddess kebanggaannya?”

Hyoyeon mengangguk singkat. “Tentu saja, apalagi kalau bukan itu?”

Tiba-tiba Hyukjae bangkit dari duduknya.

“Ya! Eunhyuk-ah! Kau mau kemana?” tanya Donghae.

Eunhyuk memamerkan senyumnya. “Sepertinya setelah mengeluarkan semua minuman tadi, mabukku sudah berkurang. Aku mau ke kamar sebentar, kalau kau mau pulang, pulang saja, Hae. Aku tau pasti kerjaan mu masih menumpuk. Mian sudah merepotkanmu.”

“Baiklah kalau begitu. Mau kuantar, Hyo?”

“Kau jangan pulang dulu, Hyo-ah. Ada yang mau kubicarakan denganmu. Tunggu sebentar disitu…”

“Kau pulang saja duluan, Hae. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula rumahku kan tidak jauh dari sini.”

Donghae mengangguk ragu dan akhirnya memutuskan untuk pulang duluan. Hyukjae benar, pekerjaannya memang sedang menumpuk, itulah sebabnya ia tidak bisa menemani Hyukjae tadi siang dan datang terlambat ke acara minum-minum tadi.

Setelah beberapa menit Hyoyeon menunggu, Hyukjae akhirnya keluar dari kamarnya membawa sebuah kotak beludru kecil berwarna biru.

“Would you marry me, Hyo?” tanya Hyukjae sambil berlutut di depan Hyoyeon.

Mata Hyoyeon terbelalak. “Mwo? Kau masih mabuk ya?”

“Kumohon, jadilah istriku, aku harusnya tau kalau kaulah yang terbaik untukku, Hyo-ah.”

Hyoyeon meleleh mendengar perkataan Hyukjae. Inilah yang selalu ingin ia dengar keluar dari mulut seorang Lee Hyukjae.

“Jadi apa jawabanmu, Hyo?”

“Ne, I do…”

 

**********

 

FLASHBACK

 

Acara tanda tangan penulis buku favorit Gyuri sudah selesai 15 menit yang lalu. Tempat acara tadi diadakan sudah sepi. Gyuri mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu kontak di ponselnya.

“YA! MONKEY! Kau niat mau menjemputku tidak sih?”

“Tunggu sebentar lagi, Goddess ku sayang…” jawab suara di seberang sana.

“Aku sudah 15 menit menunggu mu di sini. Kalau dalam 5 menit kau tidak datang, aku akan pulang sendiri!”. Gyuri langsung memutuskan hubungan telponnya dan bersandar di salah satu dinding di dekat pintu masuk acara tanda tangan tadi.

“Wah, aku tidak menyangka kau masih menungguku di sini, Goddess,”. Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sudah sangat familiar di telinga Gyuri.

“Akhirnya kau datang juga, Monkey. Cepat sekali! Sepertinya aku harus memberikan hadiah untukmu,” kata Gyuri dengan nada ramah. “Ayo, kita duduk dulu…”.

“Apa? Apa hadiahnya?”. Hyukjae begitu bersemangat sampai tidak berhenti bergerak-gerak di tempat duduknya. “Kau serius mau memberiku hadiah, Goddess? Tumben kau baik sekali. Wah, padahal tadi aku kira kau mau memarahiku habis-habisan. Syukurlah…”

“Tutup matamu!!” jawab Gyuri datar.

“AH! Jangan-jangan kau mau menciumku ya? Ya ampun Goddess, bagaimana kalau berdiri saja? Aku takut bangku ini akan patah. Aku terlalu bersemangat sampai-sampai tidak bisa diam,”. Hyukjae bangkit dan berdiri di samping Gyuri. Ia menutup matanya dan membayangkan Gyuri yang akan menghadiahkan sebuah ciuman untuknya.

Kepala Gyuri langsung menoleh ke arah Hyukjae. Ia memandang Hyukjae dengan tatapan jijik. “Bagaimana bisa ia berpikir aku akan memberinya hadiah sebuah ciuman?” tanya Gyuri dalam hati.

Hyukjae tiba-tiba menyadari kalau ada sesuatu yang salah. Gyuri yang selama ini selalu bersikap acuh tak acuh padanya tak mungkin tiba-tiba memberinya sebuah ciuman. Ia akhirnya buru-buru berkata, “Ah, aku salah ya, Goddess? Mian, aku cuma asal tebak tadi,”. Hyukjae membuka matanya dan menatap Gyuri. “Biasanya di film-film kalau seorang yeoja menyuruh namjanya menutup mata, tak lama kemudian yeoja itu akan mencium namja nya,”. Ia tersenyum tipis. “Kalau dalam kasus ini sepertinya beda. Tak mungkin kau mau mencium ku.”

Gyuri tersenyum serba salah. Tadinya ia ingin menyuruh Hyukjae menutup mata dan menampar monyet itu karena sudah telat menjemputnya. Namun melihat ekspresi Hyukjae yang begitu, entah kenapa ia jadi tak tega melakukannya. “Mungkin kau sedikit benar,” kata Gyuri ragu. “Aku memberikan hadiah ini sebagai rasa terima kasihku karena kau sudah sabar menghadapi aku yang sangat egois. Dari kelas 2 SMA, sampai kita kuliah sekarang,”. Kata-katanya terhenti. “Hey, apa yang kukatakan? Memang aku mau memberikannya apa? Lagipula bisa-bisanya aku berkata begitu,” pikir Gyuri. “Tutup matamu sekarang!” kata Gyuri sambil menahan napas.

Begitu Hyukjae menutup mata, Gyuri mendaratkan sebuah kecupan kilat di pipi Hyukjae. Ingin sekali Gyuri mengubah identitasnya seketika begitu ia menyadari apa yang sudah ia lakukan.

Hyukjae membuka mata dan bertanya-tanya apakah ia sedang bermimpi. Ia masih tak percaya seorang Park Gyuri mau mencium pipinya. Ia mengambil sapu tangan dari saku jaketnya dan menghapus keringat dingin yang ternyata sudah mengucur daritadi di keningnya. Ia bagaikan melayang di langit ke tujuh sekarang.

Gyuri merasa perasaannya sedang diacak-acak sekarang. Ia tidak tahu kenapa perasaan ini bisa timbul, yang ia tahu, perasaan begini hanya muncul dulu, saat Jungmin Oppa nya masih di sampingnya.

Tiba-tiba sebuah bola mengenai kepalanya. “Aw!!!”

“Gwenchana, Goddess?” tanya Hyukjae. Hyukjae mengambil bola itu dan melemparkannya kembali ke pemilik bola. “YA! LAIN KALI HATI-HATI SEDIKIT! BOLA KALIAN MENGENAI KEPALA PACARKU YANG CANTIK INI TAU!!” seru Hyukjae.

Gyuri kaget saat mendengar perkataan Hyukjae tadi. “Pacar?” desis Gyuri. “Apa maksudmu menyebutku pacarmu, Monkey?”

“Hahaha, aku hanya bercanda tadi, sudah ayo kita duduk lagi saja. Aku ingin bersantai di sini sebentar,” kata Hyukjae yang disambut gumaman tak jelas dari Gyuri. Entah apa yang digumamkan Gyuri, Hyukjae tak bisa mendengarnya karena Gyuri menggumamkannya dengan pelan dan cepat. Lagipula kalau Gyuri mengatakan sesuatu baik itu menyenangkan atau tidak, nadanya akan tetap datar. Berbeda kalau ia mengatakan sesuatu pada Jungmin, ekspresi senang atau sedih bisa tertangkap dari nada bicaranya.

“Ngomong-ngomong, bisakah kau berhenti memanggil ku Monkey?” tanya Hyukjae sambil menggandeng Gyuri ke tempat ia memarkirkan sepeda kesayangannya.

“Kenapa? Kau tidak suka?” tanya Gyuri cuek.

“Bukan, hanya saja, sepertinya akan lebih bagus kalau kau memanggilku Oppa.”

“Kau tidak cocok dipanggil Oppa! Lagipula, kita kan seumuran. Kenapa aku harus memanggilmu Oppa? YA! MONKEY! Jangan bilang kau akan mengantarku pulang dengan sepeda!!” teriak Gyuri.

“Memangnya aku bisa mengantarmu dengan apalagi? Hanya kendaraan ini lah yang aku punya. Kau baru tahu ya? Ayo naik. Lagipula lebih romantis kalau kita berboncengan naik sepeda daripada naik mobil. Hyoyeon selalu mengatakannya padaku,” kata Hyukjae sambil menarik tangan Gyuri agar gadis itu mau duduk di boncengannya.

“Pantas tadi kau telat, rumah gadis itu dengan tempat ini lumayan jauh, lalu kau naik sepeda. Fyuh…”

“Darimana kau tahu kalau aku habis dari rumah Hyoyeon?” tanya Hyukjae heran sambil mulai mengayuh sepedanya.

“Kau kan selalu ke rumahnya.”

“Oh, jadi ceritanya kau cemburu?” goda Hyukjae.

“Terserah mu lah…”

“Oke, kalau kau tidak mau menjawab. Kita kembali ke topik awal. Kenapa kau selalu memanggilku Monkey?”

“Kenapa kau selalu memanggilku Goddess?”

“Karena kau memang seperti Goddes untukku. Hey, kenapa jadi aku yang menjawab pertanyaanmu! Cepat jawab pertanyaanku Goddess!!”

“Pernahkah kau bertanya pada gadis itu kenapa ia memanggilmu Eunhyuk?”

“Ehm, tidak pernah…”

“Kalau begitu kenapa kau menanyakan hal ini padaku?”

“Ya ampun, Goddess. Tolong jawab saja pertanyaanku!” kata Hyukjae sambil menghentikan sepedanya. Ia turun dan berdiri menatap Gyuri dalam-dalam.

“Baiklah, baiklah. Begini, kalau gadis itu memiliki panggilan khusus untukmu, kenapa aku tidak boleh memiliki panggilan khusus untukmu juga?”

“Setidaknya nama panggilan Hyo untukku bagus, Eunhyuk. Sedangkan panggilan darimu itu kan artinya…”

“Kau memang lebih menyukai apapun dari gadis itu!” kata Gyuri yang tanpa sadar mengerutkan keningnya.

Senyum Hyukjae mengembang. “Kau memang cemburu, Goddess. Akui saja hal itu…”

 

**********

 

“YA, EUNHYUK! IREONA!!” seru Donghae sekeras-kerasnya,  berusaha membangunkan sahabatnya yang tengah terlelap sambil melambai-lambaikan kedua tangannya ke depan wajah Eunhyuk. “YA! MONYET PEMALAS!! CEPATLAH BANGUN!! KAU AKAN TELAT KE PERNIKAHANMU KALAU DALAM 10 MENIT MASIH BELUM BANGUN JUGA!!” seru Donghae lagi.

“Mungkin masih sempat kalau aku tidur 15 menit lagi. Acara dimulai masih beberapa jam lagi kan? Lagipula kenapa kau bisa ada di sini? Aku tidak ingat menelponmu untuk ke sini semalam, dan darimana kau mendapatkan kode masuk apartemenku? Tapi ya sudahlah, kau sudah ada di sini. Tolong siapkan perlengkapanku dong, jadi saat aku bangun nanti aku tinggal memakainya saja,” jawab Hyukjae dengan mata terpejam. “Eh, tunggu, jangan-jangan selama ini kau sering menyusup masuk ke apartemenku ya?” tanya Hyukjae lagi.

Terdengar Donghae menggumamkan sesuatu yang tidak bisa Hyukjae tangkap artinya satu katapun sementara mata Donghae terus melihat ke kanan dan ke kiri. “Jawab aku!” kata Donghae mengakhiri gumamannya.

“Aku akan menjawabnya nanti,” jawab Hyukjae cuek. Bagaimana bisa ia menjawabnya kalau yang Donghae tanyakan saja ia tidak tahu.

Suasana menjadi hening.

“Begini, aku tau kau pasti tidak mendengar pertanyaanku tadi. Jadi aku ulang ya. Aku cuma mau bertanya, apakah di antara sekian banyak undangan yang kau kirim, Gyuri termasuk salah satu penerimanya? Sejak perceraian kalian 6 bulan lalu, sudahkah kau menghubunginya? Bagaimana hubungan kalian sekarang?” tanya Donghae.

“Siapa sih yang ada di depanku sekarang? Coba mendekat ke sini! Biasanya seorang Lee Donghaae tidak pernah peduli pada hubunganku dengan Gyuri. Kenapa kau jadi peduli sekarang?”

“Tunggu sebentar, ponselku berbunyi, pasti dari Hyo. Tunggu sebentar ya. Sementara aku menelpon, cepatlah kau mandi!”

Donghae melangkah keluar dari kamar Hyukjae. Terlihat Donghae bersemangat bicara dengan orang yang ada di seberang. Donghae memang sangat bahagia begitu mengetahui kedua teman baiknya akan menikah. Donghae lah yang selama ini sibuk mengatur segala keperluan pernikahan Hyukjae dan Hyoyeon.

Hyukjae bangun dan masuk ke kamar mandi. “Sial, kenapa di hari ini aku malah memimpikannya. Bahkan ciuman pertamanya di pipiku bisa  kurasakan sekarang,”. Hyukjae merasa bingung dengan apa yang dirasakannya sekarang. Ia sudah bertindak bodoh dengan meminta Hyoyeon menikahinya. Karena sejujurnya ia tidaklah mencintai Hyoyeon, ia takut kalau nanti ia hanya akan menyakiti perasaan sahabat terbaiknya tersebut.

Begitu Donghae mengakhiri pembicaraannya, Hyukjae telah selesai mandi dan sudah selesai mengenakan tuxedo yang dipesankan Donghae untuknya.

“Sudah siap?” tanya Donghae sambil menaruh kembali ponselnya di saku celana.

“Kita berangkat sekarang?” tanya Hyukjae yang disambut anggukan semangat Donghae. Hyukjae memasukkan tangannya ke saku celana mencari-cari kotak kecil beludru berwarna biru yang berisi cincin perkawinannya.

“Tidak ada yang ketinggalan kan? Cincinnya sudah kau bawa?” tanya Donghae.

Lalu Hyukjae mengeluarkan kotak itu dan membuka untuk menunjukkan isinya pada Donghae. “Kau lihat sendiri kan? Tersimpan aman di saku celanaku.”

“Oke, kita berangkat sekarang!”

Tak lama kemudian, mereka sampai di gereja tempat upacara pernikahan akan diadakan. Donghae segera mengajak Hyukjae masuk ke ruang rias pengantin untuk menemui Hyoyeon.

“OMO, Eunhyuk-ah. Kau tampan sekali!” seru Hyoyeon  begitu melihat Hyukjae memasuki ruangan.

Hyukjae hanya tersenyum tipis.

“Ehm, tuan Lee, ada seseorang yang ingin masuk menemui anda,” kata salah seorang perias Hyoyeon.

“Siapa?”

“Dokter Park.”

Hyukjae mengerutkan keningnya. “Mau apa orang itu ke sini? Memamerkan cincin pernikahannya dengan Gyuri?” pikir Hyukjae.

“Jangan biarkan dia masuk!” kata Hyoyeon tiba-tiba.

“Biarkan dia masuk!!” potong Hyukjae.

“Ya! Eunhyuk-ah! Kenapa kau membiarkan dia masuk, dia hanya akan…”

“Biar saja. Biarkan dia masuk. Kau diam saja di situ. Selesaikan riasanmu!!” pinta Hyukjae.

Melihat perubahan air muka Hyukjae, Hyoyeon terpaksa menurut dan melanjutkan riasannya.

“Annyeonghaseo, Tuan Lee yang terhormat. Aku harap kedatangan singkatku tidak akan menganggumu….” sapa Jungmin.

“Jangan banyak basa-basi kau! Cepat katakan saja maumu ke sini!! Aku muak melihat wajahmu!!”

“Muak melihatku? Harusnya akulah yang muak melihat wajah egois mu, Tuan Lee!!”

“YA! KAU JANGAN COBA MACAM-MACAM DENGANKU!! KAU PERUSAK HUBUNGAN ORANG!!” kata Hyukjae sambil mencengkram kerah kemeja Jungmin.

“Aku? Merusak hubungan orang? Hubungan siapa yang kau maksud?”

“Hubunganku dengan Gyuri tentu saja…”

“AH! Jadi itu yang dikatakan gadis bodoh itu padamu?”

“JANGAN PERNAH SEBUT GYURI GADIS BODOH!! DIMANA DIA SEKARANG? JANGAN BILANG KAU SUDAH MENCAMPAKKANNYA!!!”

“HEI, KAU BISA TENANG SEDIKIT TIDAK? AKU SUDAH LELAH MENDENGAR BENTAKANMU DARITADI!! KAU MEMBENCI KU? BOLEHKAH KUKATAKAN KALAU AKU AMAT SANGAT MEMBENCIMU, LEE HYUKJAE? APA YANG KAU LAKUKAN SEKARANG? MENIKAH DI SAAT MANTAN ISTRIMU, YANG KAU BILANG MASIH SANGAT MENCINTAINYA, SEDANG TERKAPAR DI RUMAH SAKIT BERJUANG MELAWAN MAUT?”

Cengkraman Hyukjae terlepas. “Apa kau bilang?” tanyanya. Ia tidak percaya dengan yang ia dengar tadi.

“Jangan hiraukan dia, Hyuk-ah. Dia mungkin hanyalah seorang dokter gila. Riasanku sudah selesai. Ayo kita mulai pernikahannya…” kata Hyoyeon sambil menarik tangan Hyukjae.

Hyukjae menghempaskan tangan Hyoyeon begitu saja. “Kumohon, katakan yang sebenarnya terjadi pada Gyuri sekarang!!”

Jungmin membelalakkan matanya. “Gyuri adalah salah satu pasienku di rumah sakit sekarang. Ia mengidap kanker otak. Ia sengaja menceraikanmu karena ia tidak ingin membebanimu dengan penyakitnya itu. Aku tidak tahu kalau ia memanfaatkanku sebagai alasan meminta cerai. Bukankah nona Kim sudah mengetahui hal ini? Saat Gyuri mengambil hasil tes nya, nona Kim sedang ada di sana dan aku melihat Gyuri menceritakan semuanya padanya.”

Hyukjae menatap Hyoyeon tajam.

“Hyuk-ah, dengarkan dulu. Aku tak bermaksud begitu. Aku cuma ingin bersamamu. Kau tahu aku sudah mencintaimu sejak dulu,” kata Hyoyeon dengan air mata yang mulai menggenangi matanya. “Kumohon, lanjutkan pernikahan kita…”

Hyukjae tidak menjawab. Ia langsung keluar membanting pintu dan mengambil kunci mobilnya.

“Ya! Eunhyuk-ah! Kau mau kemana? Bagaimana dengan pernikahannya?” tanya Donghae.

“Mian, Hae-ya. Tapi pernikahan ini aku batalkan…”

“HA? Kau bercanda kan? Tidak lucu tau!! Cepat kembali!!”

Hyukjae tidak menghiraukan teriakan Donghae. Ia masuk ke mobil dan mengarahkan mobilnya ke rumah sakit tempat Jungmin bekerja.

 

***********

 

Begitu sampai di depan rumah sakit tujuannya, Hyukjae segera berlari masuk dan mendatangi meja informasi.

“Park Gyuri…Dia…Dimana…Pasien yang bernama Park Gyuri…” kata Hyukjae sambil mengatur napasnya.

Suster yang sedang berjaga di situ terlihat kebingungan sebelum akhirnya mengerti maksud Hyukjae dan langsung mencari nama Park Gyuri di daftar nama pasien.

“Park Gyuri… kamar nomor….135” kata suster tersebut.

Begitu mendengarnya Hyukjae segera mengarahkan langkahnya ke kamar yang disebut.

“Eh, tunggu tuan!!! Sekarang bukan jam besuk!!!” seru suster tadi mencoba menghentikan Hyukjae.

Hyukjae tidak menghiraukan seruan sang suster dan kembali mempercepat langkahnya. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah keadaan Goddess nya dan betapa bodohnya segala tindakan yang telah ia lakukan.

Begitu ia sampai di depan kamar yang bertuliskan nomor 135, tubuhnya membeku. Ia tidak sanggup melihat keadaan seseorang yang ada di balik pintu tersebut.

“Kau sudah sampai ternyata?”

Hyukjae membalikkan badannya dan menatap orang yang ada di hadapannya sekarang.

“Tega sekali kau meninggalkan perempuan itu di pernikahan kalian. Asal kau tahu, sahabatmu yang bernama Donghae itu menyalahkan aku habis-habisan. Lihat memar di mataku ini? Itu adalah hadiah sahabatmu itu untukku,”. Jungmin menghentikan kata-katanya sesaat. “Kau sudah melihatnya?”

Hyukjae menelan ludah dan menggeleng.

“Masuklah, mungkin ia sedang tidur sekarang. Ia sangat merindukanmu…” kata Jungmin sambil membukakan pintu kamar rawat Gyuri dan mempersilahkan Hyukjae masuk. “Aku ada di ruanganku. Di tangga seberang kamar ini, naiklah, lalu belok kanan. Kalau ada yang mau kau tanyakan, datang saja. Kebetulan aku sedang tidak sibuk sekarang. Aku tinggal dulu ya!”

Hyukjae menarik napas singkat dan memejamkan matanya sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke ruangan di mana Goddess nya sedang terbaring lemah.

 

**********

 

FLASHBACK

 

“Tenang Goddess, jangan kau hiraukan maniak yang terus menerormu itu!” kata Hyukjae santai mencoba menenangkan Gyuri yang sedang uring-uringan di sampingnya.

“Bagaimana aku bisa tenang!! Orang gila itu membuat ponselku terus berdering dari tadi pagi!! Aku sudah bilang padanya kalau aku tidak suka padanya, tapi ia terus ngotot memintaku jadi pacarnya! Dasar maniak gila!!”. Gyuri mencabut baterai ponselnya dan melemparkan kedua barang itu ke jok belakang mobil Hyukjae.

Suasana di mobil Hyukjae yang tadinya ribut karena nada dering ponsel Gyuri akhirnya menjadi hening. Gyuri memejamkan matanya menikmati keheningan yang hampir seharian ini belum ia rasakan.

“Kau menyukai mobil baruku, Goddess?” bisik Hyukjae hati-hati.

“Setidaknya benda ini lebih baik daripada sepeda yang selalu kau gunakan dulu,” jawab Gyuri sambil tersenyum kecil.

“Baguslah, artinya kerja kerasku selama ini tidak sia-sia,” kata Hyukjae puas.

“Beberapa tahun tidak bertemu denganmu aku tidak menyangka kau bisa menjadi seorang pekerja keras, Monkey. Kau tabung seluruh gaji mu ya? Melakukan pengiritan total, huh?”

Begitu lampu merah menyala, Hyukjae mengerem mobilnya dan mengambil baterai sekaligus ponsel Gyuri yang ada di jok belakang. Ia memasukkan kembali baterai itu ke tempatnya. Tak lama, ponsel itu kembali berdering. Ia menekan tombol reject dan menekan-nekan tombol ponsel Gyuri sambil mengambil ponselnya yang bergetar di saku celana dan menekan-nekan tombol ponsel tersebut lalu menempelkannya ke telinga. Begitu lampu hijau menyala, Hyukjae kembali menggas mobilnya, ponsel Gyuri yang ada di genggaman kembali dimatikan dan dicabut baterainya.

Detik-detik menunggu hubungan tersambung terasa cukup lama bagi Gyuri yang sedari tadi memperhatikan dengan seksama apa yang sedang dilakukan Hyukjae. Gyuri menatap ponsel Hyukjae dengan penasaran.

Tiba-tiba terdengar suara jawaban samar-samar.

“YA!”

Gyuri terlonjak kaget ketika tiba-tiba Hyukjae berteriak dengan penuh emosi kepada lawan bicaranya.

“AKU HANYA MAU MEMPERINGATKANMU SEKALI INI SAJA! JADI DENGARKAN BAIK-BAIK! WANITA YANG TERUS KAU TEROR DNGAN TELPON MEMAKSANYA MENERIMA CINTAMU ITU ADALAH CALON ISTRI KU!KUHARAP KAU JANGAN PERNAH MENGGANGGUNYA LAGI ATAU KAU AKAN MENYESAL!!” seru Hyukjae. Begitu sambungan telpon dimatikan, ia tertawa geli. “Hahahahaha, dasar pengecut! Baru digertak begitu saja sudah ketakutan setengah mati!! Mana bisa pria seperti itu bersanding dengan Goddess sepertimu!!”

Gyuri yang tadi terkaget-kaget setengah mati menggumamkan sesuatu yang tak bisa ditangkap pendengaran Hyukjae dan memasang kembali baterai ponselnya.

“Bagaimana Goddess? Maniak itu sudah berhenti menghubungi mu kan? Coba diamkan ponselmu itu beberapa saat, dijamin tidak akan ada panggilan dari maniak gila itu lagi. Siapa dulu yang mengatasinya, Lee Hyukjae…”

Gyuri merasa tidak perlu menjawabnya karena hal itu bisa dibuktikan dengan membiarkan ponselnya menyala dan menunggu apakah ada panggilan dari maniak yang sudah mengganggunya seharian. Setelah beberapa saat menunggu, ponselnya tidak juga berdering.

Senyum Hyukjae mengembang. Ia berhasil menghentikan maniak yang telah mengganggu kedamaian Goddess nya.

Gyuri melihat ponselnya mencoba memastikan kalau ia memang sudah terbebas dari gangguan maniak gila itu.

“Mana ucapan terima kasihmu, Goddess?” tanya Hyukjae sambil menghentikan mobilnya di depan salah satu klub malam yang paling terkenal di Seoul.

Suasana riuh menyambut Gyuri begitu Hyukjae membukakan pintu mobil untuknya. Ia bisa mendengar suara musik yang begitu keras dan suara orang-orang bersorak dan bertepuk tangan. Ia tidak habis pikir bagaimana keadaan di dalam sana. Di luar saja ia merasa seakan telinganya bisa meledak karena begitu ributnya suara. Hyukjae mengambil ponselnya yang bergetar dan menempelkannya ke telinga.

“Aku sudah sampai dan akan segera masuk, kau dimana?”

Samar-samar Gyuri bisa mendengar suara Hyukjae. Ia mencengkram lengan Hyukjae dan mengguncang-guncang keras tubuhnya. “Kenapa kau membawa ku ke sini? Kau tahu kan, kalau aku benci klub malam atau tempat ricuh seperti ini.”

“Ada yang harus kutemui sebentar. Ikutlah denganku. Aku janji tidak akan lebih dari 5 menit,” kata Hyukjae dan menarik tangan Gyuri untuk mengikutinya masuk. “Duduk di sini dulu. Aku harus mencari seseorang.”

Gyuri segera duduk di tempat yang ditunjuk Hyukjae dan menutup kupingnya. “Berisik sekali. Bau alkohol sama rokok dimana-mana. Ya ampun. Tempat macam apa ini?”

Tak lama kemudian, Hyukjae datang dan duduk di samping Gyuri.

“Urusan mu sudah selesai?” tanya Gyuri.

“Belum sepenuhnya selesai….” jawab Hyukjae ragu.

“Cepat selesaikan! Aku tidak tahan lama-lama di tempat ini!!”

Tiba-tiba lagu yang tadinya menghentak-hentak dan menurut Gyuri tidak jelas, yang ia tangkap hanya suaranya yang menggelegar digantikan oleh lagu yang ia kenal berjudul Marry U. Lagu yang entah sudah berapa lama selalu Hyukjae putar di mobilnya.

Hyukjae berdiri dan mengambil tempat di samping DJ bertubuh tambun dan mulai menyanyikan lagu tersebut.

Suara Hyukjae yang pas-pas an tertutupi oleh ekspresi seriusnya yang membuat dada Gyuri secara mendadak sesak.

Begitu lagu selesai, Hyukjae kembali ke depan Gyuri dan berlutut. “Would you marry me, Goddess?” katanya sambil mengeluarkan kotak kecil yang terbungkus kain beludru berwarna biru yang berisi cincin.”Sebenarnya aku sudah sering memberi clue kalau aku akan segera melamarmu, Goddess. Masa’ kau masih kaget sih?” tanya Hyukjae.

Gyuri menelan ludah. Ia sama sekali tidak menyadari clue yang diberikan Hyukjae selama ini.

“Aku mati-matian menabung selama ini agar aku bisa membeli mobil, untuk mebuatmu nyaman bila berjalan denganku, sebuah apartemen kecil, tempat kita tinggal bersama nanti, dan cincin ini, untuk mengikatmu agar menjadi milikku selamanya. Aku selama ini selalu berusaha agar bisa menjadi pria yang pantas untukmu, Goddess,” kata Hyukjae pelan.

“Tapi…tapi…Jungmin Oppa…”. Entah kenapa tiba-tiba mulut Gyuri melontarkan pertanyaan tersebut.

“Aku janji aku akan membuatmu melupakannya dan mencintaiku, Goddess. Kumohon…” kata Hyukjae sambil menggenggam tangan Gyuri. “Would you marry me?”

“Ehm… yes, I do, my Monkey…”

 

**********

 

Masih jelas diingatannya tentang hari itu. Hari dimana Goddess nya akhirnya menjawab pertanyaan itu dengan senyum dan pipi memerah. Tapi yang bisa ia lihat sekarang hanyalah seorang wanita dengan tubuh yang amat kurus, bahkan bisa dibilang hanya tulang yang terbungkus kulit dan kepala yang sudah habis tak ditumbuhi rambut satu helai pun, wajah yang amat sangat pucat, walau semua itu tetap tak bisa menyembunyikan kecantikannya, sedang tergeletak tak berdaya.

Tiba-tiba mata wanita itu terbuka. “Monkey? Apa yang kau lakukan di sini?Bukankah harusnya kau…”

Hyukjae memeluk Gyuri dan membuat Gyuri kehilangan kata-katanya. “Mianhae, mianhae, mianhae….”

 

**********

 

“Kalau ada orang bertanya, apakah momen terindah dalam hidupku, aku pasti akan menjawab saat aku melihat seorang Goddess masuk ke altar berbalut gaun putih dengan wajah yang cantik luar biasa dan mengatakan kalau ia bersedia menjadi pendamping hidupku selamanya,” kata Hyukjae sambil melepaskan jaketnya dan duduk di samping ranjang tempat Gyuri terbaring lemah. Menjenguk Gyuri di rumah sakit sudah menjadi kegiatan tetapnya sepulang kerja sekarang.

Jantung Gyuri berdebar keras mendengarnya. Bila ia ditanyakan hal yang sama, ia yakin akan menjawab saat ia melihat Hyukjae yang sangat tampan dengan tuxedo menunggunya di depan pendeta. Momen itu adalah momen yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Ia bahkan sempat ingin bersorak dan menjerit di depan para undangan dan meneriakkan betapa ia sangat mencintai Lee Hyukjae. Pria yang membuatnya melupakan Park Jungmin, hal yang kedengarannya sangat mustahil sebelum ia mengenal Hyukjae lebih dekat dan tanpa sadar jatuh cinta padanya.

Hyukjae bolak-balik menyuapkan Gyuri obat yang sudah disiapkan suster jaga di meja. Ia memang bersikeras meminta menyuapkan Gyuri obat malam kepada suster yang bertugas menjaga Gyuri. Suster yang tadinya terus menolak akhirnya luluh dan membolehkan Hyukjae yang menyuapkan Gyuri obat dengan syarat ia tidak boleh telat datang dari jadwal minum obat Gyuri.

Ketika Gyuri mencoba berdiri, secara tak sengaja ia terpeleset di depan Hyukjae. Detik itu juga ia menyadari kalau keadaan Hyukjae tidak lebih baik darinya. Kantung mata tercetak jelas di sekeliling matanya, wajah pucat, rambut yang tertata asal-asalan, pakaiannya juga begitu berantakan.

Hyukjae yang melihat Gyuri terpeleset segera bangun dan membantunya bangun. Ia menatap Gyuri memberi isyarat apakah Gyuri membutuhkan bantuannya.

Gyuri menggeleng. “Tidak usah, Monkey. Aku bisa ke toilet sendiri. Kau tenang saja,”. “Ada apa ini? Kenapa dia bisa seperti itu? Apa karena aku? Kalau benar begitu, artinya keputusanku meminta cerai kemarin tidak sepenuhnya salah. Aku tidak bisa membayangkan keadaannya kalau kami masih bersama sekarang,” pikir Gyuri.

“Tidak butuh bantuanku? Huh, sekarang kau tidak butuh bantuanku, Goddess? Tolong jangan pernah katakan itu, aku tidak bisa membayangkan kalau hal itu terjadi. Aku tidak bisa berada di dekatmu lagi kalau kau tidak butuh bantuanku, Goddess, dan itu akan menyiksaku,” kata Hyukjae dalam hati.

Begitu keluar dari kamar mandi Gyuri kembali berbaring di ranjangnya. Saat Hyukjae mengalihkan pandangan ia segera memeriksa bawah bantal meyakinkan dirinya kalau barang itu masih tersimpan aman. Barang yang menurutnya amat penting sekarang.

Hyukjae melirik melihat Gyuri yang sepertinya sedang mencari-cari sesuatu di bawah bantalnya. Ia ingat kalau Gyuri memang pernah melarangnya menyentuh ranjangnya karena ia menyembunyikan sesuatu di situ.

“Jangan mengintip, Monkey. Sabar lah sebentar lagi. Aku janji akan segera memberikannya padamu kalau waktunya sudah datang,”

Hyukjae terlihat bingung namun mencoba tenang. “Siapa yang mengintip, Goddess? Aku daritadi hanya melihat pintu itu.”

Gyuri tiba-tiba berkata,”Wah, sepertinya nyawa ku yang ke delapan baru saja melayang. Kau bisa berhitung kan, Monkey? Habis angka delapan adalah angka sembilan. Itu artinya aku hanya mempunyai nyawa ke sembilan. Hanya sisa satu. Mungkin, aku akan segera pergi dalam waktu dekat.”

“Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau pergi dalam waktu dekat ini, Goddess.”

“Bagaimana lagi? Kenyataannya memang begitu. Kau janji kau akan baik-baik saja kalau aku tinggal kan?”

Hyukjae terdiam dan Gyuri memandangnya dengan mata yang disipitkan. Ia menunggu Hyukjae menjawab pertanyaannya. Kini Gyuri melebarkan matanya dan menatap Hyukjae dalam-dalam.

“Jangan main-main, Goddess. Pertanyaanmu tadi sama sekali tidak lucu. Ah iya, aku punya permainan…”

“Aku mau kau jawab itu sekarang!” kata Gyuri memotong kalimat Hyukjae.

Hyukjae berdiri dengan gugup di bawah sinar lampu yang menerangi kamar rawat Gyuri. Ia sebenarnya ingin menjawab kalau ia sama sekali belum siap kalau Goddess nya harus segera meninggalkannya. Tapi ia tahu kalau bukan jawaban itulah yang Gyuri harapkan.

Gyuri kembali berkata,”Kumohon, Monkey. Jawab itu sekarang. Aku butuh jawaban itu sekarang.”  Gyuri berharap kalau Hyukjae akan memberikan jawaban yang mungkin bisa membuatnya sedikit tenang.

“Aku akan membantumu mencari nyawa ke delapanmu. Aku yakin ia belum jauh. Setelah menemukannya aku akan mengembalikannya padamu sehingga nyawamu bertambah dan kau bisa ada di sini lebih lama.”

“Kau pikir kau bisa menemukannya semudah itu? Kau pikir nyawa bisa dicari? Kau pikir bisa semudah itu membuatku tetap hidup?”

Hyukjae merasa seperti orang tolol, hanya berdiri diam dan tak mampu menjawab apa-apa. “Aku keluar dulu,” kata Hyukjae pada akhirnya.

“Ah, Hyukjae-ya. Untung akhirnya aku menemukanmu. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu!!” seru Jungmin begitu melihat Hyukjae keluar dari kamar rawat Gyuri.

“Jungmin Hyung? Ada apa?” tanya Hyukjae pelan.

“Lebih baik kita bicara di ruanganku. Ikuti aku!”

Hyukjae mengangguk pasrah dan berjalan mengikuti Jungmin ke ruangannya.

Begitu sampai di ruangannya, Jungmin mempersilahkan Hyukjae duduk di depannya. Ia menghela napas panjang. “Begini, sebenarnya…”. Kata-kata Jungmin terhenti.

Hyukjae menegakkan kepalanya dan menajamkan pendengarannya. Ia yakin kalau sesuatu yang akan disampaikan Jungmin bukanlah berita bagus.

Jungmin kembali menghela napas panjang. “Kanker Gyuri sudah menyebar dan semakin mengganas. Obat yang selama ini kuberikan untuknya tak mempan lagi untuk mengatasi kanker tersebut. Disamping itu, kalau aku menambah dosis, aku takut tubuh Gyuri tidak akan kuat menerimanya dan malah akan memberikan dampak yang jauh lebih buruk.”

“Jadi…”

“Singkatnya, waktu Gyuri bersama kita sudah tidak lama lagi…”

 

**********

 

“Cepat bersiap-siap, Goddess. Aku tidak akan menunggu lama. Jungmin Hyung juga sudah menunggu kita di depan,” kata Hyukjae sambil duduk di tempat ia biasa duduk atau yang sering Gyuri sebut dengan ‘singgasana raja kera’.

Gyuri membalikkan tubuhnya begitu mendengar suara Hyukjae. “Kita mau pergi kemana? Ah, aku lupa. Aku kan tidak diperbolehkan keluar dari rumah sakit ini.”

“Kenapa tidak?” tanya Hyukjae sambil tersenyum. “Kau takut Jungmin Hyung melarangmu? Tidak mungkin. Dia saja sudah menunggu kita di luar.”

“Kau bohong!! Tidak mungkin!! Jungmin Oppa adalah satu-satunya orang di rumah sakit ini yang selalu melarangku keluar!!”.

“Kau tidak dengar perkataanku tadi ya?”. Hyukjae lalu mengeluarkan sehelai pakaian dari dalam tasnya dan meletakkan benda itu di samping Gyuri.

Gyuri berteriak kesenangan. Ia tidak menyangka Jungmin akan membolehkannya jalan-jalan keluar, terlebih setelah keadaannya makin memburuk akhir-akhir ini. Ia lalu memandang sebuah gaun putih yang tergeletak di sampingnya kini. Gaun favorit yang dengan bodohnya ia lupakan saat mengepak barang sampai tertinggal di apartemen Hyukjae. Ia menyentuh gaun itu dan mendongak menatap Hyukjae yang sedang tersenyum.

“Aku sengaja membawakan gaun itu. Kau terlihat sangat cantik setiap kali memakainya, Goddess.”

“Dasar monyet gombal!!” seru Gyuri sambil tertawa. Hal yang entah sejak kapan belum pernah ia lakukan. Dan sekarang ia baru menyadari ia merindukan tawanya sendiri.

Tawa di wajah Gyuri membuat Hyukjae ikut tertawa. Ia merindukan tawa khas Goddess nya yang dulu selalu ia dengar tiap hari. Tawa yang baru kembali setelah beberapa lama menghilang.

 

**********

 

“Wah…Indah sekali!! Gomawo sudah membawaku ke sini, Oppa!! Kau ingat tidak? Waktu kita masih kecil, kita sering ke bukit ini untuk melihat matahari terbit. Ingat tidak, Oppa?”

Jungmin menjawabnya dengan anggukan dan sebuah senyuman.

“Kau dulu sering ke sini, Goddess? Aku juga sering ke sini untuk melihat matahari terbit dulu. Kok aku tidak pernah melihatmu ya?” tanya Hyukjae sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Jelas saja kau tidak pernah melihatmu. Melihat matahari terbitnya saja jangan-jangan dengan mata yang masih setengah terbuka. Aku yakin kau datang ke sini dengan hidung ingusan dan mulut yang masih dipenuhi air liur,” ejek Gyuri.

“Aduh…Aduh…Jantung hatiku ini memang sangat mengenalku ya. Aku terharu mendengarnya, Goddess.”

“Kalau aku jadi kau, bukannya terharu aku malah akan mengubur diriku hidup-hidup saking malunya,” kata Gyuri sambil mengedarkan pandangan menikmati pemandangan indah yang ada di sekelilingnya.

Gyuri dan Hyukjae duduk di belakang sedangkan Jungmin bertugas menyetir di depan. Mereka sedang dalam perjalanan ke sebuah bukit yang dulu sering mereka datangi untuk melihat matahari terbit. Sekarang mereka berencana pergi ke sisi lain bukit itu dan melihat matahari terbenam.

“Ya mau bagaimana lagi. Aku memang terharu. Bukan salahku kan kalau terharu saat mengetahui kalau kau memang benar-benar mengenalku,” kata Hyukjae memberikan perlawanan. Sembari memancing emosi Gyuri, Hyukjae terus menatap Goddess yang sedang duduk anggun di sampingnya. Ia ingin terus memandangi kecantikan Goddess nya sebelum hal yang paling ia takutkan terjadi. Tadi ia sempat mengira kalau Goddess nya mungkin terlalu lemah untuk berdebat dengannya. Namun ternyata selemah apapun keadaannya, Goddess nya memang pantang mengalah.

“Aku harap aku cukup kuat untuk meninjumu, Monkey,” desah Gyuri yang sudah malas menanggapi Hyukjae.

Tiba-tiba Jungmin menghentikan mobil dan menegakkan punggungnya. “Kita sudah sampai. Ayo cepat turun. Matahari akan terbenam sebentar lagi!!”

Hyukjae segera turun dan menggendong Gyuri yang keadaannya sudah sangat lemah ke tempat Jungmin sudah menggelar tikar. Ia mendudukkan Gyuri dengan sangat hati-hati dan segera mengambil posisi di sampingnya.

Tak lama kemudian, matahari perlahan bergerak turun ke peraduannya menimbulkan semburat jingga yang sangat indah di langit.

Tangan Gyuri bergeser pelan sebelum akhirnya meraih jari-jari Jungmin dan menggenggamnya, kepalanya ia sandarkan di bahu Hyukjae. “Indah sekali. Luar biasa rasanya menghabiskan sisa hidupku dengan melihat pemandangan ini ditemani dua laki-laki yang paling kusayang di dunia ini. Setelah Appa tentu saja.”

“Aku janji akan selalu membawamu ke sini untuk melihat matahari terbenam, Goddess,” bisik Hyukjae.

“Aku harap aku bisa datang ke sini lagi…”

“Kau pasti bisa, Saeng. Aku dan Hyukjae yang akan selalu menemanimu ke sini. Kami janji,” kata Jungmin sambil mengelus kembut kepala Gyuri.

“Ah iya, hampir saja aku lupa. Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberikannya padamu, Monkey. Ambillah!” kata Gyuri dan mengeluarkan sepucuk surat dari saku gaunnya.

Hyukjae mengambil surat itu dan mulai membacanya.

 

To : My Lovely Monkey

 

Since the day I met you, there was one thing that I couldn’t tell you. It was not a simple reason that I was shy. Though imagination and reality are not always the same, but in your future will you still have me by your side? Time was flowing and I hope today I still turn the page carefully. But just seeing your smile, I can believe in our future. From my heart, right now, I want to say “Thank You”. Do you hear me? And the day when I could  wear that silver dress, darling, I just want to tell you how much I love you. Promise me, even 100 years have passed, we will always walk together.

 

Hyukjae menghentikan bacaannya. Ia mengepalkan tangannya erat-erat mencoba membangun pertahanan agar air matanya tidak keluar.

“Kenapa kau berhenti, Monkey? Kau tidak suka suratku?” tanya Gyuri sambil mendongak menatap Hyukjae.

“Ani, aku suka suratmu. Aku hanya butuh waktu untuk istirahat sebentar,”. Hyukjae mengulaskan sebuah senyuman di wajahnya.

“Aku tidak pernah menyangka aku melihatmu pertama kali di sini saat matahari terbit, dan mungkin aku akan melihatmu terakhir kali di sini, saat matahari terbenam. Ending cerita kita bagus sekali ya?”

Jungmin membuang mukanya. “Jangan mengatakan hal seperti itu, Gyuri-ya!!”

“Wae? Mungkin saja kan hal itu terjadi,” kata Gyuri sambil melirik Jungmin.

“Kau pertama kali melihatku di sini saat matahari terbenam? Kapan?”. Hyukjae membelalakkan matanya dan memandang Gyuri.

“Baboya!! Bisa-bisanya kau tidak sadar. Yang jelas aku pertama kali melihatmu di sini! Bukan sepertimu yang menganggap pertemuan pertama kita di saat upacara penerimaan siswa baru di SMA. Sudah cepat lanjutkan bacanya!!” pinta Gyuri.

Hyukjae mengangguk dan menarik napas panjang sebelum melanjutkan membaca.

 

Before we were born, we had already been destiny for each other. And if I were born once again, I would still want to meet you, still want to be a Goddess for my Monkey. Despite the painful and sad tears are dropping, but when I see your sweet and bright smile, just look at that sincere expression, I feel like everything has become eternal. From my heart, right now, I just wan to say “Thank You”. Do you hear me? My heart always turns toward you without words. Darling, I just want you to know my only true love is you. I love you. Even 100 years have passed, I’ll still be by your side.

 

From : Your Goddess.

 

Pertahanan Hyukjae runtuh. Air matanya merembes turun. Tubuhnya mulai bergetar menahan isak tangis yang makin lama makin besar. Ia menatap langit yang kini sudah gelap. Matahari sudah hilang sepenuhnya. “Goddess…Godess…Ireona…Kita harus pulang,”. Hyukjae mengguncang tubuh Gyuri pelan.

Tiba-tiba tangan Jungmin menahannya. “Ia sudah pergi…” kata Jungmin dengan wajah yang memerah.

Hyukjae tahu Jungmin juga merasajan emosi yang sama dengannya karena Jungmin sudah menganggap Gyuri sebagai adiknya sendiri. “Kau bohong!!”. Hyukjae kembali mengguncang tubuh Gyuri. “Goddess, bangunlah…”. Air matanya turun semakin deras. Ia akhirnya menyerah dan memeluk Goddess nya erat-erat. “Kau curang!! Kau pergi duluan!! Ending ceritamu berakhir dengan bahagia!! Kenapa kau tidak memikirkanku? Ending ceritaku belum tentu berakhir bahagia!! Berjanjilah padaku Goddess, suatu saat nanti kau akan menjemputku di sini, saat matahari terbit. Aku ingin ending ceritaku berakhir bahagia sepertimu…”. Hyukjae menghembuskan napas panjang dan menyeka air matanya. “Aku akan selalu menunggumu, Goddess. Saranghae yeongwonhi…”.

 

**********

 

EPILOG

 

“Tunggu dulu, Oppa!!”

“Kau merengek terus daritadi, Gyuri-ya! Kau ingat tidak kemarin kau yang minta agar aku ajak ke sini melihat matahari terbit?”

Ini adalah kali pertama Jungmin membentaknya. Gyuri mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Separah itukah rengekannya?

Jungmin menepuk lengan Gyuri dan berseru, “Tadi juga kau masih semangat mengajakku ke sini! Kenapa tiba-tiba kau menyerah? Aku tidak suka anak berumur 5 tahun yang cengeng sepertimu! Kau harus semangat!! Sebentar lagi kita sampai!! Ayo jalan lagi!! Begitu kau melihatnya nanti semua capekmu akan hilang. Aku jamin itu!!”

“Shireo!!” bantah Gyuri cepat-cepat.

“Mwo? Apa yang kau katakan?”

“Tadi aku begitu semangat karena aku tidak menyangka jalan nya akan sejauh ini. Tadi juga aku tidak menyangka kalau kita harus mendaki bukit. Aku sudah capek, Oppa!! Lain kali saja kita lihat ya, kumohon, jebal…”

“Kau ini! Coba pikir, kalau kita pulang sekarang, Eomma mu pasti akan marah karena kau pergi dari rumah tanpa izin. Lebih baik kita lihat matahari terbit dulu. Setidaknya kau mendapat sedikit keuntungan daripada hanya dapat capeknya saja.”

Gyuri mengangguk-angguk.

“Benar kan?”

Gyuri menghembuskan napas panjang dan menggerutu dalam hati sebelum kembali mengikuti langkah Jungmin.

Sepanjang sisa perjalanan, Jungmin terus berbicara menyemangati Gyuri, tapi Gyuri hanya mengabaikannya karena ia sudah cukup capek mendaki bukit yang entah dimana ujungnya. Ia tidak butuh mendengar ocehan-ocehan seperti yang Jungmin lontarkan. “Mungkin Jungmin Oppa perlu kutinju untuk menghentikan ocehannya,” pikir Gyuri.

“Ya!! Coba ke sini!! Palli!! Lihat ini!!” pinta Jungmin sambil mengulurkan tangannya agar Gyuri dapat meraihnya dan ia bisa membantu Gyuri memanjat ke tempatnya berdiri sekarang. Matahari sudah mulai menampakkan dirinya.

Gyuri mengulurkan lengannya dan menggapai lengan Jungmin. Dalam satu tarikan kuat, ia sudah ada di samping Jungmin sekarang.

“Lihat!! Matahari mulai naik!! Indah bukan? Kau pasti tidak menyesal melihatnya!! Gyuri? Kau lihat tidak?” tanya Jungmin sambil menunjuk ke arah matahari terbit dan menoleh ke arah Gyuri yang masih menggerutu.

Gyuri mengangkat kepalanya dan menyaksikan kejadian alam yang baru pertama kali dilihatnya. Tak lama, ia memekik senang dan mengelus-elus lengan Jungmin yang masih menggandengnya.

Jungmin hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan Gyuri yang berubah 180 derajat. Ia tidak menyangka reaksi Gyuri bisa seperti ini.

Kemudian Gyuri kembali menekuk mukanya. “Nah, aku sudah melihatnya. Ternyata biasa-biasa saja. Ayo kita pulang, Oppa!!”

Jungmin menundukkan kepala. Ternyata perkiraannya salah. Gyuri hanya berpura-pura kesenangan, sekarang ia sudah melipat wajahnya lagi.

“Kau duduk saja dulu di batu itu. Aku masih mau di sini sebentar…” kata Jungmin sambil menyuruh Gyuri duduk di sebuah batu besar yang tidak jjauh dari tempatnya berdiri.

Gyuri terpaksa menurut dan duduk di batu itu. Ia lalu melirik ke sekitar dengan pandangan bosan. “Tidak ada yang menarik,” gumamnya.

Tiba-tiba pandangannya terpaku pada sesosok anak lelaki yang kira-kira seumurannya. Anak itu sedang menyaksikan matahari terbit, seperti Jungmin, dari atas sebuah dahan pohon besar di belakang batu tempat Gyuri duduk. “Dasar anak monyet! Melihat matahari terbit saja harus dari atas pohon, ckckckck…”. Gyuri lalu membetulkan posisi duduknya hingga ia bisa melihat anak itu dengan lebih jelas.

Tanpa aba-aba, pipinya memanas ketika ia melihat anak itu tersenyum. Senyum yang manis, cerah, dan polos. Gyuri segera membuang muka. Ia tidak tahu kenapa pipinya memerah begitu ia melihat senyum anak itu. Capeknya pun hilang seketika.

“Gyuri-ya! Ayo pulang!! Aku janji tidak akan mengajakmu ke sini lagi!!” seru Jungmin sambil menggandeng tangan Gyuri dan berjalan pulang.

“Ehm… Oppa… Aku tarik kata-kataku tadi. Lain kali, ajaklah aku ke sini lagi!!” pinta Gyuri sambil menundukkan wajahnya.

Jungmin ternganga. Gadis yang berumur satu tahun di bawahnya ini biasanya pantang menarik kembali kata-kata yang sudah ia ucapkan. “Wae? Kau akhirnya suka melihat matahari terbit?” tanya Jungmin penasaran.

“Ani, aku ingin melihat senyum Monkey lagi…” kata Gyuri malu-malu.

“Monkey? Siapa itu?”

“Aku akan mengenalkannya pada Oppa. Aku janji, tapi nanti ya…”