Author : Lolillo

Title : Heart’s Desire

Length : Continue

Genre : fantasy, romance

Cast : Sooyun (own character), Junho (2PM)

Support cast: MBLAQ member & 2PM member (Seungho, G.O, Mir, Joon, Cheondoong, Taecyeon, Chansung, Junsu, Nichkhun, Wooyoung), Jung Jihoon (Rain), Park Jinyoung (JYP), Miss A Min.

Halo! Ini pertama kalinya aku buat FF dan mempublishnya, jadi maaf ya kalo masih banyak banget kekurangannya🙂

Semua karakter di FF ini murni karanganku kok, aslinya mereka nggak jahat dan menyeramkan hahaha😀

Gumawo buat semuanya yang udah nyempetin baca, dan yang ngasih comment juga jeongmal gumawo!😀

Kritik dan saran sangat ditunggu, ya..

Happy reading!😀

*

Hai! Saya kembali… maap lamaaa banget baru update ff ini lagi, soalnya dua minggu kepisah dari laptop dan internet. T___T

Thanks yaaa buat semua yang udah baca dan komentarin ff ku🙂

Oia aku mo promosi ah, yang punya account di Asian Fanfics, add ya accountku (http://www.asianfanfics.com/profile/view/34290) hehehe

Baca ff bahasa inggrisku juga yaaa : http://www.asianfanfics.com/story/view/46840/forgive-and-forget-or-revenge-blockb-dongwoo-infinite-minwoo-romance-zico-pyojihoon

Happy reading😀

Part 6

                “Arghhhh…” Sooyun meninju bantal di sofa saat ia gagal lagi mengeluarkan kekuatannya. Ia sudah berkonsentrasi sedemikian rupa, tapi nggak ada pusaran kecil angin yang keluar dari telapak tangannya. Kenapa nggak bisa terus, sih?

                “Jangan buang-buang tenagamu untuk hal yang sia-sia,” Junho muncul dan duduk di sofa lain. “nanti kau akan kekurangan darah lho.”

                “Apa yang kau lakukan dengan kekuatanku?” Sooyun menajamkan pandangan matanya.

                “Aku nggak melakukan apa-apa,” Junho mengendikkan bahu dengan inosen, “hanya saja, kalung itu menyerapnya.”

                Kalung? Sooyun menunduk dan memandangi kalung dengan rantai hitam dan bandul berbentuk bintang yang tergantung di lehernya, ia mencari ujung kaitan rantainya untuk melepaskannya, tapi nggak ada. Sooyun pun menariknya, awww… sakit…

“Ya! Berhenti,” Junho menghentikan usaha Sooyun menarik kalung di tangannya, “sekeras apapun kamu berusaha, kalung itu nggak akan lepas dari lehermu. Jadi, jangan sakiti dirimu sendiri.”

“Kenapa?” Tanya Sooyun polos, ia mengelus-elus bagian belakang lehernya yang terasa perih akibat tergesek rantai kalung itu.

“Karena,” Junho mendekatkan wajahnya sambil menatap mata Sooyun, “hanya aku yang bisa melepasnya.” Ia tersenyum simpul.

“Oh jadi semua ini ulahmu?” Sooyun menatap Junho tajam, “kenapa harus dipakein kalung ini segala, sih?”

“Mencegahmu melempar kami semua dengan kekuatanmu yang heboh itu.” Junho menjawab enteng, “kau bisa saja melakukannya kalau kau mau dan punya cukup banyak tenaga.”

Sooyun tertawa kecil, baru saja aku terpikir untuk menghajar mereka semua dan bisa pergi dari sini. “Jadi kau menganggapku sejahat itu? berbuat jahat pada orang-orang yang baik padaku?”

“Jangan coba berbohong,” Junho menggelengkan kepalanya, “Junsu Hyung itu mind-reader. Dia tau semua akal busukmu.”

Sooyun menghela nafas, kenapa vampir-vampir ini lebih pintar darinya, sih. “Aku ingin bertanya, sebenarnya apa tujuan kalian menahanku, sih? Mau menjadikanku umpan agar para Hyungku datang kemari dan kalian bisa membantai mereka semua? Kuberi tau ya, kelima Hyung ku itu bukan vampir-vampir yang bisa diremehkan.”

“Whoa,” Junho menggeleng heran, “kenapa isi kepalamu jahat semua, sih? Kami yang sudah memberimu makan, tempat tinggal, dan darah yang cukup, masih kau tuduh macam-macam seperti itu?”

“Apapun bisa terjadi, kan? Nggak ada yang bisa menjamin kalian melakukan itu dengan tulus. Aku nggak lupa apa yang kalian lakukan waktu aku dikurung di ruangan bawah tanah itu. Kalian semua sama saja, vampir jahat.”

“Tidak semua yang kau pikirkan itu benar, nona Sooyun.” Junho mulai kehilangan kesabarannya. Ia dan suadara-saudaranya merawat cewek ini baik-baik, dan ini balasannya?

“Kau pikir aku akan percaya?” Sooyun tertawa getir. Tiba-tiba pandangannya mengabur dan kepalanya pusing.

“Matamu,” Junho menatap bola mata Sooyun yang perlahan membiru, “kubilang apa, kau terlalu banyak membuang tenaga sia-sia, sih. Sana minum darah.”

“Aku nggak suka darah disini, semuanya darah perempuan.” Tolak Sooyun. “Biarkan saja aku mati disini, nanti kalian akan dituduh membunuh vampir dan dihakimi oleh keluarga Volturi.”

Sesungguhnya, ia lapar. Dan matanya dari tadi nggak henti memandangi leher Junho. Ia begitu ingin menariknya dan menggigit lehernya. Tapi, ada bagian hatinya yang mengatakan, ia nggak boleh melakukan hal itu.

“Tunggu disini,” Secepat kilat, Junho menghilang. Kekuatannya adalah mempunyai kecepatan yang diatas normal dan fisiknya sangat kuat. Sooyun menyenderkan kepalanya di sofa, clueless dengan maksud Junho menyuruhnya menunggu, tapi cowok itu tiba-tiba hilang begitu saja.

“Kalau aku bisa menggigitnya,” Sooyun menggumam, lalu berusaha menahan rasa sakit luar biasa di kepalanya.

“Nih,” Junho tiba-tiba muncul di hadapan Sooyun dengan menyeret seorang remaja laki-laki yang tidak sadarkan diri, “cepat hisap darahnya sebelum kau terkena blood coma. Masalah mayatnya… biar pelayan saja yang urus.” Ia berbalik dan berjalan meninggalkan Sooyun

Sooyun terbelalak, Junho mencarikan mangsa untuknya?

“Hey,” Panggil Sooyun saat sudah selesai menghisap darah korbannya. Bola matanya kembali menghitam, ia mengelap sisa darah di bibirnya. Junho berhenti melangkah, namun tidak berbalik untuk menatap Sooyun.

“Gu-gumawoyo.” Sooyun berkata dengan nada yang tercekat.

Junho tersenyum, lalu berjalan meninggalkan Sooyun yang diam saja, jadi, mereka benar-benar tulus berbuat baik padaku? Apa aku harus mempercayai mereka?

*

                “Hyung,” Cheondoong meletakkan segelas darah di meja patio yang terbuat dari marmer berwarna putih, “Kita harus berbuat sesuatu untuk membebaskan Sooyun. Kita nggak bisa membiarkan mereka menyanderanya terus. Jihoon Appa juga nggak berbuat apapun untuknya…”

                “Ah, aku nggak mengerti dengan Appa.” G.O menopangkan dagunya di meja, “Anak bungsunya diculik keluarga musuh besarnya dan dia memilih diam saja. Takut harga dirinya terinjak-injak menghadapi fakta anaknya tidak mempunyai cukup kekuatan untuk lepas dari keenam anaknya itu.” ia berdecak malas.

                “Ya jelaslah Sooyun kalah, adik kita itu perempuan, dan ia sendirian. Lawannya 6 orang? Mana menang…” Joon memutar bola matanya, “yah, walaupun Sooyun termasuk vampir yang kuat, tapi kan tetap saja nggak imbang.”

                “Lalu, apa yang harus kita lakukan?” Ucap Cheondoong gelisah, “Menyerang mereka?”

                “Ya! Kau gila?” Joon memotong cepat, “menyerang mereka dan nantinya menemukan Sooyun dalam keadaan tinggal mayat? Tidak, terimakasih. Aku masih ingin melihat adikku hidup.”

                “Kau takut kita kalah, Hyung?”

                “Mereka bisa saja membunuh Sooyun jika kita menyakiti mereka. Dan kau tau keluarga mereka bukan keluarga yang hanya berani bicara. Mereka vampir yang tidak takut melakukan apa saja, apalagi saat mereka marah.”

                Seungho menghela nafas lelah, belakangan ini harinya dihabiskan dengan mencari cara membebaskan adik bungsunya itu. Tapi belum ada titik terang, kapan mereka berlima akan bertemu lagi dengan Sooyun.

                “Mir-ah, bagaimana keadaan Sooyun?” G.O menyenggol lengan Mir. Adiknya itu memejamkan matanya erat-erat, berkonsentrasi. Alam bawah sadarnya menjelajah langit, mencari sosok adiknya, namun yang terlihat hanya bayangan, ada sesuatu yang gelap dan pekat yang menghalangi pandangannya. Tapi bayangan adiknya terihat baik-baik saja.

                “Ia… Masih baik-baik saja, aku tidak merasakannya sakit ataupun tersiksa…”

                “Huh?” Seungho mengerutkan kening, “kau yakin?”

                “Iya, Hyung,” Mir mengangguk yakin, “apa jangan-jangan keluarga mereka merawatnya dengan baik?”

                “Tidak mungkin, kita ini kan musuh besar mereka, dari jaman leluhur kita pun mereka sudah bermusuhan. Nggak mungkin mereka memperlakukan Sooyun dengan baik.”

                “Apa jangan-jangan ia benar-benar diperlakukan dengan baik dan jadi memihak pada mereka. Kau kan tau jika Sooyun di rumah ini, Appa selalu… memaksanya melakukan banyak hal.”

                “Walaupun aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, aku lega Sooyun baik-baik saja.” Mir mengusahakan sebuah senyuman, “tenanglah, Hyung, kita pasti menemukan cara agar Sooyun bisa kembali lagi bersama-sama kita.”

*

                “Hooaammm…” Junho menutup buku di tangannya saat jam di dinding tepat menunjukkan pukul 1 pagi. Ia beranjak dari sofa ruang perpustakaan dan berjalan perlahan menuju kamar tidurnya. Kepalanya terasa pusing dan berat. Pasti karena kurang tidur, batinnya.

                Ia melirik kaca yang digantung di tembok lorong kamar, bola matanya berkilat merah. Ternyata kekurangan darah, ia berbelok kearah tangga, dan menuruninya dengan cepat, menuju dapur. Ia mulai membenci darah di dapur, seperti ada penolakan dari lidahnya untuk darah-darah itu. padahal semuanya berasal dari korban perempuan.

                Apa benar aku mempunyai ikatan darah dengan Sooyun? Junho menggelengkan kepalanya cepat. Nggak mungkin! Ikatan Darah memang tidak ada yang bisa membuktikannya secara pasti, karena keinginan meminum darah sesama vampir itu tidak berbeda dengan keinginan meminum darah manusia. Bedanya hanya pada darah yang diinginkan.

                Dan menghisap darah Sooyun jelas nggak akan ia lakukan, itu akan sangat menyakitinya. Tidak ada makhluk yang berharap dapat tergigit di leher, karena rasa sakit yang terasa akan sangat menyiksa. Dan Junho tau rasanya seburuk apa…

                “Eh?” Junho berhenti di depan dapur saat melihat sesosok berpiyama kebesaran sedang menengok isi kulkas dengan gelas kosong di tangan. Orang itu terperanjat saat tiba-tiba menemukan Junho di balik pintu kulkas dan…

                Prang! Gelas di tangannya terjatuh ke lantai.

                “M-Mianhaeyo,” Sooyun buru-buru membungkuk saat gelas di tangannya pecah, “aku hanya ingin meminum segelas susu, aku tidak bisa tidur.”

                “Maaf, aku membuatmu kaget.”

                “Enggg… biar kubereskan.” Sooyun berlutut dan mengambil pecahan-pecahan kaca di lantai. Dan ada sebuah pecahan gelas yang tajam menyobek kulitnya.

                “Aw!” Sooyun menggigit bibirnya pelan, rasa perih menjalar di dua jarinya. Junho terkesiap, bau darah. Bau darah Sooyun yang begitu… menggelitik indera penciumannya. Membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

                “Kau terluka,” Junho ikut berlutut dan menarik tangan Sooyun dan melihat lukanya. Semakin mendekatkan jari-jari Sooyun yang berdarah dengan wajahnya. Bau darah yang semakin kuat. Bolehkah aku meminum darahnya?

                “J-Junho-ssi?” Sooyun menatap polos Junho yang hanya memandangi tangannya dalam diam. Tangannya rerasa makin perih.

                “Eh, ini, akan kuambilkan perban. Tunggu sebentar.” Junho tersadar, kemudian berdiri, dan meraih kotak obat di salah satu lemari. Sooyun duduk di kursi tinggi di dapur dan Junho mengoleskan obat luka, serta menutupnya dengan plester. Bola matanya semakin berkilat merah saat kulitnya menyentuh darah Sooyun, dan bau darah itu masih terasa sangat kuat.

                “Sayang sekali aku hanya bisa mengobati dengan cara manusia seperti ini. Aku tidak punya kekuatan seperti Wooyoung.” Junho berbicara untuk mengalihkan rasa inginnya akan darah Sooyun.

                “Walaupun hanya dengan cara seperti ini, terimakasih sudah mengobatiku.” Sooyun tersenyum kecil. Ia menatap mata Junho, “matamu—”

                “Aku baru saja mau mencari darah,” Junho membuka pintu kulkas. Mengeluarkan sekotak susu dan sebotol darah, ia menyodorkan sekotak susu ke Sooyun. “Ini, kau minum saja di kamar. Pecahan gelas ini biar aku yang membereskan.” Ia berusaha menetralkan kecepatan nafas dan detakan jantungnya.

                “Tapi,”

                “Kembalilah ke kamarmu, ini sudah sangat larut, kau butuh tidur yang cukup.” Junho menyuruh dalam nada yang tidak bisa dibantah. Sooyun mengangguk pelan, mengambil kotak susu di meja, kemudian berjalan menuju kamarnya di lantai 2.

                Jika kamu semakin lama disini, aku semakin tidak bisa menahan keinginan untuk menghisap darahmu… Junho berjongkok untuk membereskan pecahan gelas, dan semakin lama, rasanya aku semakin tidak bisa menahannya…

                “Kau… nggak berniat menggigitnya, kan?” Suara Wooyoung mengagetkan Junho, ia menoleh dan menemukan Wooyoung berdiri bersender pada tembok dengan tangan disilangkan di dada.

                “Aku… Kau… kau dari tadi di situ?”

                “Aku mencium bau darah yang tidak familiar, jadi aku bangun dan mencari tau. Ternyata… ia terluka.” Wooyoung menarik kursi dan duduk, lalu menatap Junho, “darah itu sangat menggiurkan untukmu, ya?”

                Junho menggigit bibirnya, tidak bisa menjawab.

                “Jangan menggigitnya,” Lanjut cowok pirang ini, “kau tau bagaimana rasanya digigit, dan… bisa saja sesuatu yang buruk terjadi jika kau mengikuti keinginan hatimu itu.”

                “Aku… Aku tidak tau… Bau darah itu begitu—”

                Wooyoung mengangguk-angguk sambil memegangi dagunya, “itulah Ikatan Darah, Junho-yah. Pesanku hanya satu, jangan menggigitnya. Kulihat dia sudah percaya dengan kita, dan kau bisa membuat semuanya berantakan.”

                Junho tertunduk, menyesap sebotol darah tanpa berniat merasakannya, Ikatan Darah… benarkah begitu?

*

                “Ya! Kau ini kenapa diam saja? Ayo ke FlyingFish, kita cari mangsa.” Junsu merangkul adiknya yang hanya memandangi televisi dengan pandangan kosong. “Kau sudah kekurangan darah tuh.” Ia melirik bola mata Junho yang menjadi merah.

                “Ah, aku… malas.” Junho mematikan televisi lalu melempar asal remotenya di sofa.

                “Ayolaaah… ini kan hari sabtu, pasti banyak gadis kaukasoid. Kau tau kan darah mereka lebih manis dan menggiurkan…” Junsu menyeringai.

                “Aku tidak berniat, Hyung. Sepertinya rasa darah mereka semua sama saja.” Junho menolak dengan halus, darah yang paling manis kan hanya darah Sooyun…

                Junsu memandang Junho dengan serius, “sepertinya Wooyoung benar.”

                Junho menaikkan alisnya, “maksudmu?”

                “Kau dan Sooyun sudah terikat. Kalian sudah punya ikatan darah. Ya… kalian kan sudah saling meminum darah masing-masing.”

                “Huh? Apa dasarnya kau mengatakan seperti itu, Hyung?”

                “Perilakumu menunjukkan itu, Junho-yah. Kau sudah tidak berniat pada darah manusia, meskipun dari ras yang memang punya rasa darah yang menggiurkan.” Junsu berkata dengan datar.

                “Hyung, Ikatan darah itu kan hanya mitos.” Junho berkilah cepat, “okelah, aku siap-siap. Kita ke FlyingFish sekarang.” Junho bangkit dari duduknya, berjalan pelan ke kamarnya, dengan kata-kata Junsu yang tinggal diam di pikirannya.

                FlyingFish seperti biasa, dipenuhi orang-orang penyuka pesta, dengan baju-baju indah, gelas-gelas liquor di tangan, dan senyum mengembang di wajah. Banyak yang berbaur di lantai dansa, bersenang-senang, dan ada yang menikmati suasana hingar bingar dari pinggir ruangan. Sibuk sendiri di sofa, atau sekedar duduk dan mengobrol santai dengan teman-teman.

                “Wah! Banyak sekali wanita cantik malam ini, aku akan mendapatkan mangsa yang menyenangkan malam hari ini.” Taecyeon menyeringai, kemudian langsung bergabung dengan orang-orang di lantai dansa.

                “Ya! Kenapa wajahmu tidak bersemangat begitu? Ayo cari mangsa!” Wooyoung merangkul Junho dna menggiringnya ke lantai dansa. Namun ia diam saja, kemudian melepaskan rangkulan kakaknya itu.

                “Nggak niat. Aku mau ke bar saja, ada Min di sana.” Junho melengos pergi. Wooyoung hanya menatapi punggung adiknya, dia benar-benar sudah nggak berniat sama darah manusia. Aku harap dia bisa mengendalikan dirinya…

                “Min-ah, aku pesan Martini.” Junho menyapa saudaranya, kemudian duduk di kursi tinggi bar, dan memperhatikan keadaan di ruangan FlyingFish. Hidungnya menangkap bau darah yang tidak biasa.

                “Tidak mencari mangsa?” Min menyodorkan segelas Martini. Junho menggeleng.

                “Matamu sudah berkilat merah begitu, yakin nggak mau cari mangsa?”

                Junho menggeleng lagi, “Aku lagi nggak minat dengan darah manusia. Rasanya hambar.”

                Min hampir tergelak, mana ada vampir yang nggak minat sama darah manusia. Kecuali… “Ehmmm… sepertinya yang Wooyoung Oppa katakan itu benar, kau sudah mempunyai ikatan darah dengan Sooyun.”

                Junho mengerenyit, “darimana kau tau?”

                Min menyeringai, “kau lupa kekuatanku?” Junho menghela nafas. Saudaranya ini kan mind reader. Apa saja bisa ia ketahui dengan mudah. Kenapa semua orang mengatakan tentang ikatan darah itu? Apakah benar hal seperti itu nyata? Kalau benar, Junho menderita sekali. Seumur hidup ia harus bertahan hidup dengan darah yang hambar, sedangkan darah vampire yang ia inginkan tidak akan bisa ai dapatkan.

                Tunggu, kalau begitu, Sooyun juga menginginkan darahnya?

                “Min-ah, apa kau juga mencium bau darah yang asing?” Junho menghirup nafas dalam, “ada vampir lain disini. Dan ini bukan Seungho dan adik-adiknya.”

                “Oh, aku tau.” Jawab Min santai, “Salah satunya bernama Gikwang. Kami baru saja berkenalan saat ia memesan minuman. Sepertinya ia punya 5 saudara, dan mereka sedang mencari mangsa di sini.”

                “Mwo?” Junho melebarkan matanya, “ada kelompok vampir lain  yang berani cari mangsa disini? Berani sekali. Jangan sampai mereka merebut mangsa kami.” Ia menenggak minumannya, lalu memicingkan mata saat melihat Hyungnya, Taecyeon, dengan raut wajah marah menghampiri seorang laki-laki.

                “YA! Ini daerah kekuasaan kami!” Suasana party terganggu saat tiba-tiba Taecyeon yang emosi menonjok Hyunseung, yang merebut mangsa incarannya. Seketika itu juga timbul kehebohan, Junho menyusul ke tengah lantai dansa, ikut menghajar Dongwoon, saudara Hyunseung yang lain. Keduabelas vampir ini saling menghajar, menumbangkan lawannya, dan perkelahian tidak terhentikan karena kekuatan mereka berimbang.

                “YA! Hentikan!” Min menarik tangan Wooyoung yang baru mau menghajar Gikwang. Tapi sia-sia, vampir-vampir tersulut emosi itu tetap beringas menghajar lawannya. Hingga pasukan keamanan datang dan memisahkan mereka, dan kehebohan pun sedikit berkurang.

                “Sialan! Aku bisa saja mematahkan tangannya kalau petugas keamanan nggak datang.” Taecyeon memukul setirnya dengan emosi. Ia menengok ke kanan dan menemukan Junho yang memegangi kepalanya, “kau kenapa?”

                “Aku… perlu darah.” Junho menjawab dengan tercekat.

                “Minumlah saat kita tiba di rumah.” Taecyeon menaikkan kecepatan mobil sport kuningnya hingga 140 km/jam, membelah jalan raya Seoul hingga berhenti di depan rumah bercat putih gading dengan desain eropa, rumah mereka. Mobil yang lain sudah terparkir rapi di halaman rumah.

                Junho menyeret kakinya ke dapur, ia membuka kulkas dan terbelalak, nggak ada persediaan darah sama sekali. Ia membanting pintu kulkas, kemudian berjalan lambat menaiki tangga, kepalanya benar-benar pusing, ia benar-benar butuh darah.

                Sooyun. Satu kata yang terus ada di pikirannya. Tapi, nggak. Aku nggak akan menggigitnya, dia tidak akan mempercayai kami lagi jika aku menyakitinya. Tapi aku akan kena blood coma!

                Junho menabrak pintu kamarnya dan masuk dengan segera. Tunggu, ini bukan kamarnya. Ini kamar Sooyun yang terletak di sebelah kamarnya. Dengan cahaya bulan yang menyusup dari jendela, ia bisa melihat gadis ini tidur dengan damai, dalam piyama warna biru gelap yang kebesaran di badannya yang membuatnya terlihat mungil.

                Ia seakan kehilangan akal sehatnya, nafasnya memburu, tangan dan kakinya terasa bergerak sendiri, tak bisa ia cegah. Ia mendekati tempat tidur, lalu melihat benda yang berkilatan di leher Sooyun.  Junho menyentuh benda itu, menghilangkan kekuatannya. Mungkin benda ini sudah tidak berguna lagi…

                Tangannya bergerak mengangkat tubuh Sooyun perlahan, dan taringnya ia arahkan ke leher Sooyun. Aku… ingin… berhenti… tapi… tidak… bisa… Ia menggigitnya.

                Mata Sooyun terbuka lebar saat tiba-tiba ia merasakan kesakitan luar biasa di lehernya yang kemudian seakan membakar sekujur tubuhnya, tangannya terkunci dada Junho dan tidak bisa bergerak, ia ingin meronta, tapi darahnya dihisap terlalu banyak, yang membuatnya tidak punya tenaga lagi.

                “Ja…ngan…” Sooyun merintih, air mata menetes dari sudut matanya. Sekujur tubuhnya terasa sakit luar biasa.

                Damn, aku tidak bisa berhenti, Junho tidak dapat menguasai dirinya yang malah makin dalam menenggelamkan taringnya di leher Sooyun. Ia tidak menghiraukan rintihan Sooyun maupun kedua tangan Sooyun yang berusaha mendorognya. Tapi…

BRAK! Tiba-tiba Junho melepaskan gigitannya. Tidak, ia terlepas. Sooyun mengepalkan kedua tangannya dan tiba-tiba dorongan kuat muncul dan melempar Junho hingga menabrak lemari kayu tua di sisi kamar. Bagian belakang kepalanya terbentur dengan keras.

                Sooyun tertatih, ia langsung berlari dari kamar, memegangi lehernya yang terluka dan darah terus mengalir dari bekas gigitan Junho. Ia merasa lemah dan tidak punya energi lagi setelah darahnya dihisap. Tapi ia harus pergi dari tempat ini. Percaya bahwa mereka tidak akan menyakiti Sooyun lagi adalah hal terbodoh yang Sooyun lakukan.

                Sooyun menimpulkan angin besar yang melemparkan Chansung dan Junsu yang berusaha menangkapnya. Ia merusak pagar depan rumah mereka, dan berlari secepat mungkin, pergi kemanapun selain rumah itu.

*

                Junho memaki dirinya sendiri, bodoh! Apa yang aku lakukan! Aku menggigitnya, dan yang lebih bodoh lagi, aku melepaskan kekuatannya.

                Ia mengelap sisa darah di bibirnya, berusaha berdiri, tapi tidak sanggup. Benturan di kepalanya membuat dunia tampak berputar dan segalanya menjadi hitam, dan gelap.

*