Author : Ocha
Title : I’ll Always Be By Your Side
Length : One Shoot
Genre : Romance
Cast : Lee Donghae, Choi Siwon

Ponselnya terus berdering. Jira ragu apakah ia harus menjawabnya atau tidak. Bila dihitung, mungkin ini adalah panggilan ke 17 dalam waktu satu menit dari nomor yang sama. Ia bisa mengatakan begitu karena tiap kali ia melihat huruf-huruf yang muncul di layar ponselnya, nama itulah yang tertulis. Semua panggilan itu berasal dari Lee Donghae. Harusnya mereka sudah bertemu beberapa jam yang lalu. Namun, Jira tahu kesibukan pacarnya yang notabene seorang artis itulah yang membuatnya menunggu lama. Kenapa Donghae terus meneleponnya? Jira juga tidak tahu pasti karena belum menjawab satu pun dari begitu banyak panggilan yang ada, namun ia yakin Donghae meneleponnya karena ingin minta maaf telah membuatnya menunggu lama. Ia sudah sering mengatakan kalau ia tidak butuh telepon permintaan maaf karena menurutnya hal itu hanya pemborosan pulsa. Ia sudah paham apa alasan pacarnya itu terus telat saat mereka kencan.

Akhirnya ia menyerah dan meraih ponselnya.

“Yobseyo…” Salah satu alasannya malas menjawab telpon adalah karena suaranya sedang serak, asmanya kambuh kemarin dan sebenarnya keadaannya hari ini belum benar-benar baik. Donghae selalu bertindak berlebihan jika tahu ia sedang sakit. “Kenapa kau terus meneleponku, Oppa?” tanya Jira sambil mencoba membuat suaranya senormal mungkin.

Di seberang sana terdengar suara Donghae yang panik. Persis seperti dugaannya. Lee Donghae sedang panik tak karuan hanya karena mendengar suaranya serak. “Astaga, Jagiya. Kau pasti sudah menunggu sangat lama ya? Makanya suara mu jadi serak begitu. Suaramu kenapa jadi seperti suara hantu Jagi? Aku tahu, aku tahu, cuaca hari ini memang agak buruk. Tapi kau tenang saja, aku sudah dekat kok. Aku segera sampai. Nanti aku akan segera membawamu ke tempat hangat. Tolong tunggu sebentar ya. Saranghae Jagi, annyeong!!”

“Hah, persis seperti dugaanku. Dia bahkan tidak memberiku kesempatan berbicara sepatah katapun,” kata Jira sambil menaruh kembali ponselnya di atas meja taman.

Tak berapa lama kemudian, sebuah suara yang sangat dikenal Jira terdengar. “Jagi!! Aku datang!! Ayo cepat masuk!!” kata Donghae sambil melambaikan tangannya dari dalam mobil.

Jira segera bangkit dan masuk ke mobil Donghae. “Super Junior M sedang sibuk sekali sepertinya, sampai-sampai aku harus menunggu mu selama tiga setengah jam.

“Kekeke, aku tidak bisa membayangkan nasib Siwon Oppa sekarang. Soohwa Onnie paling benci disuruh menunggu. Menunggu 5 menit saja amukannya sudah lumayan mengerikan. Apalagi tiga setengah jam. Harusnya kau bersyukur menjadi pacarku yang bisa dibilang cukup sabar.”

“Jagi, jeongmal mianhae. Padahal tadi aku sudah minta izin pada manajer Hyung untuk pulang duluan. Tapi dia tidak membolehkanku. Sekarang suaramu jadi begitu karena terlalu lama menunggu.”

Jira membelalakkan matanya. Pria di depannya ini sudah berkaca-kaca matanya. Ia tahu kalau Lee Donghae adalah seorang yang cengeng. Tapi, ia tidak tahu kalau hal sepele seperti ini saja bisa membuatnya menangis. Lagipula sebenarnya, suaranya serak bukan karena terlalu lama menunggu. Asma nya kambuh karena ia terlalu capek jalan-jalan keliling Taiwan kemarin.

“Omona, Oppa. Suaraku serak bukan karenamu. Aku serius. Ini karena asma ku kambuh kemarin. Sepertinya aku kecapekan karena begitu sampai di Bandara, Eomma dan Appa langsung mengajakku jalan-jalan. Mereka bilang mumpung dapat tiket ke Taiwan gratis jadi harus dimanfaatkan dengan baik. Belum lagi setelah makan malam Soohwa Onnie merengek minta ditemani belanja”.

Bukannya berhenti, air mata Donghae malah mengalir makin deras. “Pacar macam apa aku ini. Memaksa mu bertemu padahal kau sedang sakit. Hiks…”

Jira sekarang hanya bisa geleng-geleng. Rasanya apapun yang ia bilang selalu salah. “Oppa, semua ini bukan salahmu. Aku sendiri yang minta bertemu ingat? Begitu Eomma dan Appa diberi tiket gratis ke Taiwan aku langsung menghubungimu minta ketemuan, kau ingat tidak? Salahku sendiri sakit begini!!!” kata Jira gemas. Ingin sekali rasanya ia mencubit kedua pipi Donghae.

Donghae mengangguk-angguk pasrah karena ia tidak mau perdebatan kecil ini membesar lalu menghapus air matanya. “Baiklah, jadi kau mau kemana sekarang?”

Jira mengerutkan keningnya mencoba mengingat nama-nama tempat menarik yang sempat ia hapalkan di hotel. Tadinya ia mau mengajak Donghae ke semua tempat tersebut. Tapi sekarang perutnya yang melilit membuat ingatannya kabur. Menunggu sejak pagi tanpa ada makanan yang masuk ke perut membuatnya sangat kelaparan sekarang. “Bagaimana kalau kita makan dulu? Kau tau restoran enak di dekat sini? Perutku sudah lapar.”

“Kau sampai tidak makan karena menungguku? Aigoo…”

“Kau bisa menangis di restoran nanti. Sekarang antarkan saja aku ke sana, Oppa. Perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi,” potong Jira. Kalau ia tidak memotongnya ia yakin Donghae akan terus berbicara dengan air mata bercucuran.

 

**********

 

Sepertinya restoran yang dipilih Donghae memang menyajikan menu yang sudah terkenal sangat lezat. Restoran ini dipenuhi oleh banyak pelanggan. Semua pelayannya terlihat sibuk melayani pelanggan yang terlihat tak sabaran. Semua meja yang tersedia pun sepertinya sudah ada yang menempati. Jira tak bisa menemukan satu pun meja kosong. Jangankan meja kosong, bahkan sedikit celah kosong di restoran ini seperti tidak ada. Pelanggan yang tidak mendapat meja menunggu di celah-celah kosong antar meja, persis seperti yang sedang Donghae dan Jira lakukan. Mungkin bagi Donghae hal ini sedikit menyiksa karena ia harus memakai jaket, masker, kacamata, dan topi untuk menyembunyikan identitasnya, sementara keadaan di restoran sangat pengap karena banyaknya manusia yang menjejali ruangan sempit tersebut.

“Oppa, kalau kau sudah tidak tahan, kita pindah ke restoran lain saja,” bisik Jira.

“Sudah biar saja. Lagipula sepertinya orang yang disebelah sana hampir selesai makan”.

“Memangnya tidak ada lagi restoran enak di Taiwan? Restoran ini penuh sekali. Bahkan orang sampai rela mengantri, ckckck…”

“Setahuku sih banyak. Banyak sekali malah. Hanya saja dumpling yang ada di restoran ini tidak ada yang bisa mengalahkan. Kau harus mencobanya”.

“Aku kan bisa mencobanya lain kali, lebih baik kita pergi saja, Oppa. Kau pasti sudah sangat tersiksa dengan begitu banyak benda penyamaran itu”.

“Eh, lihat! Orang yang ada di sana sudah selesai makan! Ayo kita ke sana!!” kata Donghae sambil menyeret Jira ke meja yang baru saja ditinggalkan seorang pelanggan. “Untung kita langsung ke sini. Coba kalau keduluan orang lain. Aku tidak tahu kita harus menunggu berapa lama lagi”. Donghae mengangkat tangannya untuk memanggil salah seorang pelayan. “Kau mau apa, Jagi?” tanya Donghae sambil memberikan Jira buku menu.

Jira mengernyitkan dahinya begitu membaaca nama-nama makanan asing yang ada di menu. “Kau pilihkan saja untukku. Aku tidak tahu makanan mana yang sebaiknya aku pilih. Semuanya terlihat enak”.

Begitu Donghae menyebutkan makanan yang mereka pilih kepada pelayan, Donghae melipat tangannya di depan dada dan mencondongkan tubuhnya ke depan. “Nah, kau sudah jalan-jalan kemana saja?”

“Ehm… Taipei 101 building, Pasar Malam Shihlin, dan beberapa pusat perbelanjaan yang tidak aku ingat namanya. Aku baru sehari di sini. Jadi wajar kan kalau aku belum pergi ke banyak tempat. Oh ya, kau terima sms ku tadi malam?”

“Oh, soal mall yang menjual baju-baju keren? Pasti Soohwa yang menyuruhmu mengirim sms itu. Benar kan?”

Jira mengangguk singkat. “Pulsanya habis, jadi dia menyuruhku. Kenapa kau tidak jawab, Oppa? Kau sudah kecapekan ya?”

Belum sempat Donghae menjawab seorang pelayan datang dan menghidangkan pesanan mereka.

“Xie Xie…” kata Donghae ramah yang dijawab anggukan oleh pelayan tersebut.

“Jadwal mu pasti padat sekali ya kemarin, Oppa?” tanya Jira lagi.

Donghae mulai menyuap makanannya dan menjawab pertanyaan Jira dengan gelengan.

Tiba-tiba Donghae merasakan ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah pesan dari manajer Hyung yang isinya hanya mengingatkan kalau satu jam lagi ia sudah harus sampai di lokasi syuting. Ia sadar waktunya tidaklah banyak. Ia menarik napas perlahan-lahan dan menghembuskannya perlahan-lahan juga. Lalu ia meletakkan sumpitnya di atas piring. Mungkin kencan impiannya dengan menghabiskan waktu seharian ke tempat-tempat romantis bersama Jira tidak akan pernah tercapai. Jadwalnya yang begitu padat tak pernah mengizinkannya menuntaskan cita-citanya itu. Ingin rasanya ia kabur dari jadwal yang terus menumpuk.

“Kau sudah harus kembali?” tanya Jira sambil melotot ke arah ponsel Donghae. “Sebaiknya kau pergi sekarang sebelum kau mendapat omelan dari manajer Hyung mu itu, Oppa. Aku tidak mau kau mendapat omelan gara-gara pergi denganku”.

“Aku masih punya waktu satu jam. Hah, melelahkan sekali…” Kata-kata ini sudah sering diucapkannya. Ia juga sering mengatakan kalau ia ingin berhenti menjadi seorang idol. Tapi ia belum pernah benar-benar memikirkan tentang hal itu. Walaupun ia merasa amat lelah, merasa kehidupan pribadinya terganggu, tidak bisa bebas seperti orang lain, melihat dukungan ELF yang terus mengalir untuknya membuatnya selalu membuang jauh-jauh pikiran itu sebelum pikiran itu benar-benar menguasai dirinya dan membuatnya berhenti menjadi idol. Ia tidak ingin mengecewakan ELF. Ia juga tidak ingin merusak impian ayahnya.

Jira meneguk teh hangat yang disajikan pelayan tadi dan memajukan posisinya duduknya untuk memperpendek jarak antara dia dan Donghae. “Kau belum jawab pertanyaanku tadi. Ayo jawab, Oppa! Kenapa kau tidak membalas sms ku?” tanya Jira tak sabar sambil kembali meneguk teh hangat di genggamannya, mencoba menghangatkan tubuhnya yang kedinginan.

Cuaca di Taiwan sekarang memang tidak bisa dibilang baik, hujan terus turun dari pagi dan menunggu di taman, walaupun ada semacam payung kecil yang sengaja dipasang di tengah meja membuat dirinya terlindung dari hujan, membuat keadaannya semakin buruk. Ditambah lagi suaranya yang serak sejak bangun tidur membuatnya malas mengeluarkan suara karena ia benci mendengar suaranya sendiri. Mungkin sepulang dari kencannya dengan Donghae ini ia harus segera beristirahat total di hotel. Kemarin ia memang memaksakan diri mengiyakan semua ajakan dari orangtua dan Onnienya untuk jalan-jalan, padahal sejak di Incheon ia sudah merasa tidak enak badan dan sesak napas. Entah apa yang bisa ia minum untuk memperbaiki suaranya atau menyembuhkannya asmanya kalau tiba-tiba ia kambuh nanti. Tetes terakhir obatnya sudah ia minum kemarin dan ia lupa membawa obat. “Mungkin aku bisa mampir ke apotek sebentar nanti,” pikirnya. “Semoga saja asmaku tidak kambuh saat Donghae masih di sini. Entah kehebohan apa yang ia buat kalau hal itu benar terjadi,” pikirnya lagi.

“Hoahm….”

“Kau tidur jam berapa semalam? Tak bisa tidur karena tak sabar ingin bertemu denganku ya?” goda Donghae.

“Berhenti menggodaku, Oppa. Kau tahu kalau aku amat membenci semua godaan mu,” kata Jira sambil mendecakkan lidah dengan kesal dan mulai memakan dumpling di hadapannya.

“Nah, sekarang jangan alihkan pembicaraan lagi! Jawab pertanyaanku, kenapa kau tidak membalas pesanku semalam, Oppa?”

“Aku hanya ingin membuatmu bertanya padaku hari ini”.

“Hah?”

“Karena itu tandanya kau rindu padaku,” kata Donghae sambil tersenyum jahil.

“Cih, dasar…”

 

**********

 

Sekitar setengah jam kemudian, mereka sudah ada di dalam mobil audi hitam manajer Donghae yang tadi Donghae pinjam dengan paksa. Donghae melepaskan semua atribut penyamarannya dan menarik napas panjang.

“Kau mau kemana sekarang? Sudah bisa mengingat nama tempatnya?” tanya Donghae.

Jira mengerutkan keningnya.  “Ah iya, Lotus Lake. Ayo kita ke sana, Oppa,” Suara Jira lebih mirip bisikan sekarang.

“Baik tuan putri, next stop, Lotus Lake!!!” seru Donghae sambil menarik gas begitu Jira selesai memasang sabuk pengamannya.

Jira mendecakkan lidahnya. “Berhenti memanggilku begitu, Oppa! Sudah berapa kali aku bilang aku benci dipanggil begitu.”

 

**********

 

Tak lama kemudian, Jira dan Donghae sudah berdiri di depan Danau Lotus buatan manusia yang paling menakjubkan di dunia. Donghae menggenggam tangan Jira dan menariknya berkeliling danau tersebut. Jira mengikuti langkah Donghae. Jira hanya bisa terkagum-kagum dalam hati begitu melihat candi dan patung besar dari Kaisar Surga Dark, Tuhan Tao yang tersebar di sekitar area Lotus Lake. Ini adalah pertama kalinya ia ke tempat tersebut. Lain halnya dengan Donghae yang sudah pernah diam-diam pergi sendiri ke sini saat merasa capek akan banyaknya schedule. Karena saat itu ia datang dengan mood jelek, ia tidak menyadari betapa indahnya tempat ini, ia tidak melihat kemegahan Paviliun Musim Semi dan Gugur, Dragon dan Tiger Pagoda, dan Kuil Konfusius. Sekarang ia baru bisa melihat dengan jelas kuil-kuil tersebut, tidak heran kalau tempat ini sangat populer di Taiwan, ia mengakui kalau tempat ini begitu indah. Jira dan Donghae membiarkan mata mereka berpesta sepuasnya.

Mereka kembali berjalan mendekati Lotus Lake yang menjadi tujuan utama mereka datang ke sini. Danau itu begitu indah dengan sangat banyaknya bunga teratai pink yang mekar di pinggir-pinggirnya. Jira menyukai pemandangan yang ada di hadapannya. Ia yakin ia tidak salah memilih tempat. Ia lalu mengangkat tangan untuk menaungi matanya dari sinar matahari yang sudah bersinar dengan teriknya.

“Kau mau pinjam topi dan kacamataku?”

Suara Donghae tidak begitu terdengar karena masker yang dipakainya.

“Mwoya, Oppa?”

“Kau mau pinjam topi dan kacamataku?” ulang Donghae.

Jira menggeleng sambil tersenyum. “Aku tidak mau penyamaranmu terbongkar dan membuat acara kencan kita terganggu karena fans-fans mu, Oppa. Sudah lama kita tidak kencan dengan tenang begini. Selama di Korea fans-fans mu selalu saja tahu kemana kau pergi dan mengganggu acara kita,” jelas Jira.

Donghae mengangguk-angguk mendengarnya.

Jira mengulurkan tangannya dan menarik Donghae untuk duduk di pinggir danau bersamanya.

Selanjutnya ponsel Donghae kembali bergetar. Sebuah pesan dari manajer Hyung yang mengingatkan Donghae kalau ia harus segera kembali ke lokasi syuting.

Jira menekuk wajahnya begitu melihat Donghae kembali mendapat pesan dari manajernya. Ia berdeham, sayang tindakannya itu tidak membuat Donghae melepaskan pandangan dari layar ponsel. Ia kembali berdeham, Donghae tetap menunjukkan respon yang sama. Dengan susah payah akhirnya Jira memanggil Donghae dengan suaranya yang serak.

“Oppa….”

“Ne?” Akhirnya Donghae menaruh kembali ponselnya di saku celana.

Tiba-tiba pikiran Jira melayang ke kira-kira satu tahun yang lalu. Saat pertama kali ia melihat pria di depannya ini menangis.

“Kau ingat saat kita pertama bertemu, Oppa? Saat aku pertama kali melihatmu menangis?”

Donghae mengerutkan keningnya. “Ya! Kenapa tiba-tiba kau mengungkit masalah itu? Memalukan saja.”

“Aniyo, tiba-tiba saja kenangan itu berkelebat di kepalaku.”

 

**********

 

“Mwo? Nugu? Omona!!! Ckckckck… Bisa-bisanya hal itu terjadi!” komentar Eomma terdengar lagi. Begitulah reaksi Eomma setiap mendapat gosip panas dari liputan infotainment di televisi. Soohwa langsung menyumpal kupingnya dengan earphone dan melanjutkan membaca novel. Jira tahu Onnie nya memang benci kalau ada orang yang mengganggunya saat ia sedang serius membaca novel. Jira sendiri kini sedang membaca komik yang baru ia beli kemarin.

“Kau tahu tidak?” Tiba-tiba suara Eomma kembali terdengar. Jira tidak begitu yakin pertanyaan itu  ditujukan untuk siapa.

“Kau sebelumnya sudah tahu belum? Kenapa tidak pernah memberitahu Eomma?” tanya Eomma sambil mengerutkan kening. Pandangannya tertuju pada Soohwa. Seharusnya Soohwa langsung sadar kalau pertanyaan itu ditujukan padanya. Tapi, ia sama sekali tidak memberikan respon apapun, matanya masih tertuju pada novel yang ada di hadapannya. “YA!” bentak Eomma. “Kenapa kau diam saja? Tuli ya? Kalau orangtua bertanya jawab dong!!”

“Aku tidak mendengar apa yang Eomma tanyakan. Bisa Eomma ulangi lagi?” tanya Soohwa sambil melepas earphone nya.

“Aku juga tidak dengar, Eomma. Memang Eomma mau tanya apa sih?” tanya Jira sambil meletakkan komiknya.

“Makanya, dengarkan Eomma baik-baik. Kali ini Eomma tidak mau mengulangnya. Ara?”

Soohwa dan Jira mengangguk.

Eomma menggelengkan wajahnya dan mendengus. “Apa benar Hangeng yang amat tampan itu memutuskan keluar dari Super Junior?”

Soohwa langsung terlonjak dari tempatnya duduk tadi begitu mendengar pertanyaan Eomma. “Eomma tahu darimana?” tanyanya.

“Dari infotainment barusan. Kau tidak mengetahuinya?”

Soohwa menggeleng.

“Bagaimana denganmu Jira?”

Jira memberikan jawaban yang sama dengan kakaknya.

“Kalian ini bagaimana sih! Soohwa, kau kan pacarnya Siwon, kau juga Jira katanya ELF sejati, tapi berita ini malah Eomma yang tahu duluan. Sebenarnya berita ini sudah beredar dari kemarin, hanya saja Eomma tidak yakin dan lupa menanyakannya pada kalian!! Ckckckck, cobaan bagi Suju kali ini berat sekali ya…”

Eomma mengambil tumpukan pakaian kotor yang tergeletak begitu saja di depan meja televisi. Pekerjaan itu tertunda karena berita tadi.

Hening sesaat.

“Onnie mau ke dorm menemui Siwon Oppa? Siapa tau aja dia lagi butuh teman curhat,” tanya Jira.

“Ne? Ah, aniyo, untuk apa aku menemuinya. Kerajinan banget sih. Ngabis-ngabisin ongkos doang tau!! Mending juga aku datang ke dorm U-Kiss dan menemui Kevin Oppa, hehehe… Lagipula aku yakin dia tidak membutuhkanku sebagai teman curhat. Kau tau sendiri kalau aku adalah pendengar yang payah. Sudah ya, aku mau lanjut baca novel di kamar saja,” kata Soohwa lalu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.

Jira memikirkan kata-kata Eomma. “Mungkin benar juga apa yang Eomma bilang. Ini adalah cobaan berat bagi Oppadeul. Bagaimana Onnie bisa secuek itu? Ah, aku lupa. Onnie kan memang orang paling cuek sedunia,” pikir Jira.

Ia menaiki anak-anak tangga menuju kamarnya dan segera berganti pakaian. Ia baru ingat kalau ia ada janji mengerjakan kerja kelompok di rumah salah satu temannya.

Begitu ia selesai berganti pakaian dan sampai di pagar depan ia melirik ke jendela kamar kakaknya. Terlihat Soohwa sedang duduk bersila di atas kasur sambil memelototi ponselnya dan memikirkan sesuatu. “Ah, dia mau mengirim pesan ternyata. Alasan saja masuk kamar baca novel, ternyata mau mengirim pesan ke Siwon Oppa. Kenapa mengirim pesan untuk pacar saja terlihat susah bagi Onnie? Orang aneh!!!”

Ia kembali merapikan atasan hijau dan celana panjang jeans yang ia kenakan dan menyisir kembali rambut pendeknya. Rambutnya agak berantakan karena ia lupa menyisir saat di kamar tadi. Ia menggunakan kaca jendela kamar Soohwa sebagai cermin. Jira kembali menatap dirinya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Pandangannya terhenti di bagian wajah. “Hmm, sudah lumayan lah tanpa make up.” Jira amat membenci make up. Seresmi atau sepenting apapun momennya ia tidak akan memakai make up. “Nah, sudah rapi. Aku siap!!”

 

**********

 

Jira kembali melihat pesan yang baru dikirimkan temannya.

“Benar di sini tempat dia tinggal?” tanya Jira dalam hati. Ia memang tahu temannya yang satu ini bisa dibilang sangat kaya, tapi ia tidak menyangka kalau temannya ini tinggal di apartemen yang sama dengan apartemen yang digunakan Super Junior sebagai dorm. Di lantai yang sama pula.

Jira tersenyum dan mengangguk-angguk. Ia segera masuk dan menekan tombol di lift yang menunjukkan angka yang tertulis di layar ponselnya. Setelah lift berhenti ia melangkah keluar dan menuju pintu dengan nomor yang tertera di ponselnya. Begitu sampai di depan pintu yang ia tuju ia segera menekan bel pintu. Butuh waktu lama sampai akhirnya ada seseorang yang membukakan pintu.

Pria yang membukakan pintu memandang Jira keheranan, lalu bertanya, “Mian, nuguseyo? Kau mencari siapa di sini?”

Jira yang sedari tadi sibuk mengirim pesan ke temannya untuk minta dibukakan pintu mengangkat tasnya yang penuh dengan barang-barang yang dibutuhkan untuk proyek mereka. “Mian Oppa, Jira Imnida. Aku teman sekelas Sooae, kami mau mengerjakan proyek dari sekolah,” katanya sambil mengangkat wajah. Seketika itu juga matanya membelalak dan mulutnya menganga lebar-lebar.

Pria di depannya mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Jira. “Aigoo, agashhi, apa yang terjadi padamu? Kau kenapa? Sepertinya kau salah, di flat ini tidak ada perempuan yang bernama Sooae, malah sebenarnya, tidak ada perempuan yang tinggal di sini”.

“Ah mian! Sepertinya aku salah, hehehe, mian sudah mengganggumu, Oppa,” kata Jira sambil membungkuk dan kembali membuka pesan dari Sooae.

“Ah, ternyata pintu yang satu lagi. Jira babo!!” rutuk Jira dalam hati sambil bergerak ke pintu yang ada tepat di samping pintu tadi. Ia kembali menekan bel pintu. “Sooae beruntung sekali bisa bertetangga dengan Super Junior, dia tinggal tepat disamping dorm Super Junior. Omona, Donghae Oppa tadi tampan sekali. Beruntung akhirnya aku bisa melihatnya dari dekat. Percuma memang punya Onnie yang jadi pacar member Super Junior tapi tidak pernah mau mengajakku bertemu member Super Junior satu pun. Sudahlah, yang penting aku sudah bisa melihat Donghae Oppa dari dekat tadi”.

Tak lama pintu terbuka. “Ah, Jira…” sapa Kim ahjumma, Eomma nya Sooae.

“Annyeonghaseo, Ahjumma, Sooae ada?” tanya Jira sopan.

“Mian Jira-ya, tapi baru saja Sooae keluar dengan sepupunya. Ia memintaku untuk menyampaikan kalau ia tidak bisa mengerjakan proyek kalian sekarang”.

Jira mengangguk-angguk mendengarnya.  “Oh, kamsahamnida Ahjumma. Kalau begitu aku pulang dulu ya, Ahjumma, annyeong!” kata Jira sambil membungkuk.

Kim ahjumma hanya mengangguk dan tersenyum ramah lalu menutup pintu.

“Temani aku di dalam saja yuk. Aku kesepian sekarang”.

Jira menoleh ke samping. Donghae ternyata masih bersender di pintu yang terbuka. Wajahnya yang suram membuat Jira teringat kasus Hangeng.

“Eh, tapi aku harus segera pulang, Oppa. Aku….”

“Ayo, masuk! Temani aku sebentar saja. Aku mohon…”

Jira mencoba menolak, tapi ia berpikir sesaat begitu ia melihat kesedihan dan kesepian yang di mata Donghae. Akhirnya ia menurut saja. Bagaimanapun ia bisa tega membiarkan Donghae sendirian di dorm yang bisa dibilang ukurannya cukup besar, ditambah lagi dengan kasus Hangeng, ia yakin Donghae sudah menguras banyak air mata karena masalah itu, terlihat dari wajahnya yang agak basah. Jira tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Heechul sekarang. Kalau Donghae saja menangis sedih, bagaimana dengan Heechul yang jelas-jelas adalah couple atau orang yang paling dekat dengan Hangeng di Super Junior. Lagipula, ini juga adalah momen-momen yang sudah ia tunggu sekian lama, bertemu dengan Donghae dan masuk ke dorm Super Junior.

Begitu ia masuk ke dalam, ia melepaskan sepatu dan mengenakan sandal rumah yang ditunjukkan Donghae.

Bagian dalam dorm Super Junior jauh dari yang selama ini ia bayangkan. Ia tidak menyangka kalau dalamnya bisa seberantakan ini. Banyak barang yang berserakan dimana-mana, baju kotor juga tersampir begitu saja di berbagai tempat. Padahal, kalau saja dorm ini rapi sedikit, ia yakin kesan mewah dan hangat bisa terlihat. Setelah meletakkan tas yang tadi ia bawa di atas sofa, Jira mengamati foto-foto yang tergantung di dinding. Banyak sekali foto Super Junior yang masih lengkap dengan Kibum, Kangin, dan Hangeng di dalamnya. Jira mengamati foto itu satu-persatu. Foto-foto favoritnya adalah foto saat-saat Super Junior memenangkan penghargaan. Wajah-wajah mereka terlihat begitu bahagia dengan piagam penghargaan yang tergenggam erat-erat.

Begitu asyiknya Jira mengamati foto-foto itu sampai-sampai ia tidak menyadari Donghae sudah berdiri di sampingnya. “Sepertinya kau asyik sekali melihat foto-foto ini daritadi. Bagus kan?” tanya Donghae. “Oh iya, kalau aku boleh tahu siapa namamu?”

“Jira, Kang Jira imnida,” jawab Jira singkat.

“Kenapa kau sepertinya tertarik sekali dengan foto-foto ini? Oh iya, kalau aku boleh tahu, foto mana yang jadi favoritmu?” tanya Donghae.

“Aku seorang ELF, Oppa. Itulah yang membuatku tertarik melihat foto-foto ini. Dan sepertinya foto ini adalah foto favoritku,” jawab Jira sambil menunjuk sebuah foto saat Super Junior memenangkan GDA dengan lagu Sorry, Sorry. “Sayang tidak ada Kibum Oppa di situ”.

Donghae tertawa. Tawa yang cukup miris untuk didengar. “Ah, kita punya pemikiran yang sama ternyata! Aku juga sangat menyukai foto ini. Satu hal yang kurang di sini adalah Kibum”.

“Eh, benarkah?” tanya Jira gugup. “Jira babo!! Pertanyaan macam apa itu. Cepatlah cari topik pembicaraan lain!!!” rutuknya dalam hati.

“Oh iya, silahkan diminum! Mian ya, aku cuma bisa menyediakan ini. Hanya ini yang ada di sini, hehehehe…” kata Donghae sambil mengulurkan gelas berisi jus apel.

Jira menerimanya dengan bimbang.

“Tidak usah khawatir,” kata Donghae mengejutkan Jira.

“Eh, aku tidak berpikir kalau ini obat bius kok, Oppa…” jawab Jira panik. “Ya!! Kang Jira!!! Sebaiknya kau pergi saja dari sini secepatnya. Jawaban memalukan!!!” jeritnya dalam hati.

“Hahahaha, kau lucu sekali sih!!! Sudah minum saja. Aku jamin kalau gelas itu hanya berisi jus apel tanpa campuran lain”.

Jira menatap Donghae yang berjalan kembali ke dapur. Lalu tatapannya kembali beralih ke gelas yang ada di hadapannya. Setelah dengan ragu-ragu meminum jus apel itu, yang ternyata memang hanya jus apel tanpa campuran obat bius atau apapun yang ada di pikirannya, ia kembali melihat-lihat sekeliling ruangan. Kalau diperbolehkan ia ingin sekali mengabadikan ruangan ini dengan kamera ponselnya. Ada sebuah organ di ruang tengah yang ia yakin sering digunakan Ryeowook untuk menciptakan lagu. Tanpa sadar, ia berjalan mendekati organ tersebut. Jira mengelus permukaan organ tersebut dan membuka tutupnya dengan sangat hati-hati. Ia memang tidak bisa memainkan alat musik, satu-satunya alat musik yang bisa ia mainkan hanyalah sebuah gitar plastik mainan anak-anak yang asal ia petik saja tanpa meperdulikan nada yang keluar. Ia duduk di depan organ itu dan menekan-nekan tuts-tutsnya berpura-pura sedang memainkan sebuah lagu dan tersenyum sendiri.

“Ya! Jangan pegang-pegang sembarangan! Aku tidak mau disalahkan Wookie kalau alat itu rusak!”

Jira mengangkat kepala dan melihat Donghae berjalan menghampirinya. Dengan segera ia menjauhi organ tersebut. Ia berjalan ke arah Donghae dan menarik tangan Donghae sambil menunjuk-nunjuk organ itu dengan semangat. “Alat itukah yang membantu Ryeowook Oppa menciptakan lagu-lagu indah?”

“Ne,” jawab Donghae singkat.

“KYAAAAA!! Aku menyentuhnya!! Aku menyentuh organ yang sering disentuh Ryeowook Oppa!! Itu organ yang membantunya menciptakan lagu!!” pekik Jira.

Donghae hanya tersenyum kecil.

“Kau bisa memainkannya kan, Oppa?” tanya Jira pelan sambil kembali menggerak-gerakkan jari tangannya di atas tuts organ tersebut.

“Yah, lumayanlah. Walaupun tak sebagus Wookie. Kau mau aku mencobanya?”

Jira mengangguk dan menarik Donghae supaya duduk di kursi yang tadi didudukinya. “Ne, Oppa!! Coba mainkan!!!”

Donghae duduk dan menatap Jira dengan pandangan jahil dan berkata, “Memangnya kau mau bayar berapa? Seenaknya saja menyuruh-nyuruh Donghae Super Junior….”

“Mwo?” tanya Jira sambil menggerakkan bahu.

“Kau mau bayar berapa untuk permainanku ini? Satu juta won per lagu?” Donghae mengulangi pertanyaannya.

Jira mendorong bahu laki-laki itu dan menunjuk organ dengan tegas. “Aku kan sudah menemanimu, Oppa. Anggap saja itu bayarannya”.

“Ne, ne, arasseo,” kata Donghae.

Alunan melodi yang lembut mulai terdengar. Donghae memainkan lagu Shining Star. Jira duduk di sofa yang ada di samping organ, menopangkan dagu di atas senderan tangannya sambil melihat jemari tangan Donghae menari-nari di atas tuts dengan lincahnya. Ketika alunan lagu yang dimainkan laki-laki itu akhirnya berhenti, Jira bertepuk tangan.

“Keren sekali!!” serunya lalu memegang bahu Donghae. “Eh, Oppa. Kenapa diam saja? Permainanmu bagus sekali!!!”

Donghae membalikkan tubuhnya dan tersenyum, matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. “Masih belum bagus jika dibandingkan dengan Wookie”.

“Gwenchanayo, Oppa?” tanya Jira.

Tiba-tiba terdengar alunan lagu Sorry, Sorry yang merupakan nada dering ponsel Jira. Jira merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Raut wajahnya berubah ketika melihat layarnya. “Mengganggu saja,” gerutu Jira. Ia segera menekan tombol hijau dan berjalan menjauh dari Donghae agar laki-laki itu tidak dapat mendengar panggilan yang menyuruhnya pulang karena sejujurnya ia belum mau pulang.

“Yobseyo!!!”

“…”

“Mwoya, Onnie?”

Jira berbicara dengan nada yang sengaja direndahkan.

“Mwo? Ulangi lagi! Aku tidak dengar…”

“…”

“Sekarang?”

“…”

“Aku…Aku tidak bisa pulang sekarang…”

“…”

“Aku sedang sibuk…”

“…”

“Ne?”

“…”

“Ehm…Proyekku dengan Sooae belum selesai, Onnie…”

“Telepon dari siapa, Jira?” seru Donghae keras.

Jira terlompat kaget dan buru-buru menutup ponselnya dengan tangan.Tapi tidak ada gunanya, Soohwa sudah mendengar kata-kata itu dengan sangat jelas.

“Jira, kau sedang bersama siapa sekarang? Jawab yang jujur!! Sejak kapan Sooae mempunyai suara berat seperti laki-laki? Atau malah Sooae sudah menjadi lelaki sekarang?” tanya Soohwa dengan nada curiga. Karena tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya Jira menekan tombol merah dan memutuskan sambungan telponnya. Ia kembali duduk di sofa tempatnya semula.

“Oppa…”

Donghae diam. Ia menundukkan kepalanya di atas organ dan tidak bergerak sama sekali.

“Oppa, gwenchana? Oppa, katakanlah sesuatu”.

“Gwenchanayo, aku sudah mengatakan sesuatu kan?” kata Donghae sambil mengangkat wajahnya.

Jira berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke samping Donghae, mencoba menyentuh laki-laki itu. Tapi Donghae menghindari sentuhan Jira.

“Kau mau aku pergi sekarang, Oppa? Aku sepertinya sudah cukup menemanimu”.

Donghae melihat ke bawah tanpa berkata apa-apa.

“Baiklah, aku pergi dulu ya, Oppa. Mian sudah merepotkan…” Setelah mengatakannya, Jira kembali ke ruang tengah untuk mengambil tasnya sementara Donghae mengacak rambutnya dengan frustasi. Tadinya ia sudah merasa lebih baik, entah kenapa setelah memainkan lagu Shining Star pikirannya kembali berkecamuk, ia bahkan merasa lebih buruk dari sebelumnya.

“Apa benar Donghae Oppa baik-baik saja?” tanya Jira dalam hati.

Tak lama kemudian, Donghae memanggil Jira dan memeluk Jira dari belakang. Kepala Donghae tertunduk di bahu Jira. Jira bisa merasakan tubuh Donghae bergetar dan bahunya basah karena air mata Donghae.

Jira benci skinship, terlebih lagi dengan lawan jenis. Biasanya kalau ada lelaki, selain keluarganya, memegang tangannya, ia akan segera melepaskan tangannya dari pegangan orang tersebut. Tapi saat ini, ia tidak tega melepaskan diri dan membiarkan Donghae memeluknya.

“Menangislah sepuasmu, Oppa..”

Tangis Donghae semakin deras. Ia belum menerima sepenuhnya kalau Hangeng mau meninggalkan Super Junior setelah beberapa tahun kebersamaan mereka. Ia tahu ia tidak boleh egois karena keputusan  Hangeng meninggalkan Super Junior dan SME memang jalan terbaik setelah semua ketidakadilan yang diterima Hangeng. Ia hanya belum siap melepas salah satu orang yang sudah ia anggap keluarga sendiri secepat ini.

“Bolehkah aku meminjam bahumu agak lama?” tanya Donghae di sela tangisannya.

“Pinjamlah sesukamu, Oppa. I’m here for you…” kata Jira tergagap. Ia tidak menyangka ia berani mengatakan hal itu.

Setelah menghapus air mata dari wajahnya, Donghae mulai menceritakan tentang semua yang ada di pikirannya.

Begitu Donghae selesai berbicara, terjadi keheningan di antara mereka. Jira tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tiba-tiba Donghae melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Jira.

“Gomawo, Jira-ya”.

Tanpa penjelasan lebih lanjut Jira tahu untuk apa Donghae berterima kasih. “Kau tidak perlu berterima kasih, Oppa,” kata Jira sambil tersenyum. “Kau tahu? Ini adalah pertama kalinya untukku melihat laki-laki dewasa menangis. Itu hal yang manusiawi, tenang saja, aku tidak bermaksud mengatakan kalau kau seperti perempuan, Oppa. Aku janji, aku akan selalu ada untukmu, Oppa. I promise that I’ll always be by your side for you…”

Wajah Jira memerah begitu ia menyadari perkataannya barusan dan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan. “Jangan hiraukan kata-kata ku barusan, Oppa. Maksudku adalah…”

“Hmmm?”

“Maksudku adalah….Aku….”

Donghae tersenyum dan mengelus kepala Jira. “Kalau begitu aku juga berjanji akan selalu ada di saat kau membutuhkanku. I’ll be always be by your side…”

Tiba-tiba pintu di hadapan mereka terbuka. Siwon masuk dan membelalakkan matanya kepada Jira yang memasang tampang bingung. “Ya! Kenapa kau bisa ada di sini?”

“Eh, Siwon Oppa, itu…ehm…aku…”

“Kalian saling kenal?” tanya Donghae pelan.

Siwon menutup pintu dan menyenderkan tubuhnya. “Kau tahu darimana alamat dorm kami? Kau bersama Onnie mu?”

“Aku kan ELF, jelas aku tahu alamat dorm kalian, Oppa. Bagaimana sih? Aku tidak bersama Onnie. Aku di sini awalnya karena salah alamat saja…”

“Ya! Jawab pertanyaanku!! Kalian sudah saling kenal?” tanya Donghae.

“Donghae? Aku tidak tahu kau ada di sini daritadi”.

“Aku memang mengenal orang itu, Oppa. Dengan amat menyesal, terpaksa aku mengenal orang itu,” kata Jira sambil menatap Donghae dan menunjuk Siwon dengan keras.

Donghae terlihat kebingungan.

Siwon berjalan melewati Donghae dan Jira. “Aku mau ke dalam sebentar, tunggu aku. Aku akan mengantarmu pulang, Jira. Terserah kau benci atau bagaimana padaku tapi aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian menjelang malam begini”.

Jira memandangi sosok Siwon yang masuk ke dalam dengan cepat dengan tatapan benci. “Cih, sok perhatian banget sih!!”

“Sebenarnya kau dan Siwon punya hubungan apa sih?” tanya Donghae bingung.

Jira menggeleng. “Aku malas menjawabnya, Oppa. Yang jelas aku tidak mau punya hubungan apapun dengan orang itu”.

“Kenapa kau kelihatannya membenci Siwon?”

“Aku hanya tidak suka saja dengan orang itu. Tidak ada alasan jelas juga sih sebenarnya,” jawab Jira ragu.

Ia sedang mengamati kembali foto-foto yang terpajang di dinding dengan perasaan kagum ketika mendengar Siwon memanggilnya lagi.

“Jira-ya!”

“Ne, Oppa? Kau tidak usah mengantarku. Aku bisa pulang sendiri. Tidak usah sok baik deh,” kata Jira sambil menatap Siwon dengan tatapan tajam.

“Onnie mu tadi kutelpon dan ia memintaku untuk segera mengantarkanmu ke rumah…”

“Ah!! Dasar tukang ngadu!! Itulah salah satu alasan aku membencimu!! Omona, Onnie!!!Kenapa kau bisa suka dengan orang macam ini!!!”

“Ah! Jadi kau adiknya Soohwa?” tanya Donghae pada Jira. Sepertinya ia sudah mengerti sekarang. “Bagaimana kalau aku ikut mengantarmu?” tanya Donghae lagi.

“Hmm…Boleh saja…Jadi aku tidak usah pulang berdua dengan orang itu…”

“Baguslah! Boleh kan, Siwonnie?” tanya Donghe. “Aku mau memastikan ‘calon saudara ipar’ mu ini sampai di rumah dengan selamat,” kata Donghae dengan menekankan kata calon saudara ipar.

Siwon mengerutkan dahi. Ia tidak mengetahui apa maksud Donghae menekankan kata tersebut. “Apa maksudmu dengan saudara ipar? Kalau ia menjadi saudara ipar ku maka ia akan menjadi saudara ipar mu juga, Hae-ya. Kita kan keluarga…”

Donghae dengan ragu menjawab, “Aku tidak yakin ia akan menjadi saudara iparku juga.”

Jira mulai bingung dengan arah pembicaraan dua laki-laki di depannya ini. “Omona!!! Sampai kapan kalian mau terus membicarakan hal tidak penting begini? Jadi mengantarku pulang tidak?”

Siwon mengangguk dan mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja. “Ne, kau jadi ikut tidak, Hae?”

“Tunggu, aku mau ambil ponselku dulu!” Donghae memutar kepala ke sekeliling ruangan dan melihat ponselnya berada di atas organ yang baru saja ia mainkan tadi.

“Cepat sedikit!! Aku tidak mau kena marah Eomma karena pulang telat!!!” gerutu Jira.

“Kau ke parkiran duluan saja. Biar nanti aku dan Donghae menyusul,” kata Siwon pada Jira.

Jira menurut dan segera keluar dari ruangan itu menuju tempat parkir. Sementara Siwon segera berjalan mendekati Donghae dan menarik tangannya. “Apa maksudmu tadi? Tolong katakan padaku. Aku penasaran sekali,” kata Siwon. Donghae hanya menjawabnya dengan senyuman dan berjalan melewatinya.

Begitu Donghae sampai di ujung ruangan Siwon kembali menahannya. “Ya! Jamkamman! Jawab aku dulu!!”.

“Kau benar-benar penasaran ya? Coba tebak sendiri deh, masa’ begitu saja kau tidak mengerti”.

Siwon menahan napas dan mengikuti Donghae yang sudah berjalan ke arah lift, mencoba memikirkan maksud dari semua perkataan Donghae.

“Ah…Aku tahu!!” seru Siwon pada akhirnya. Donghae berbalik dan menatap Siwon. “Kau mau membantuku?”

“Kenapa kau tidak bilang daritadi saja daripada berbelit-belit seperti itu!!!”

“Sudahlah, kau mau membantuku tidak?”

Siwon berpikir sejenak. “Bukannya aku tidak mau membantumu, hanya saja, kau tahu ia sangat membenciku. Bagaimana aku bisa membantumu kalau begitu? Lagipula, kau baru saja bertemu dengannya kan? Bagaimana bisa…”

“Molla, aku juga tidak tahu.”

 

**********

 

“Hahahahaha, perutku sakit tiap kali mengingatnya, Oppa!! Lucu sekali mengingatmu menangis di bahuku. Baru kali itu aku melihat laki-laki menangis di bahu perempuan yang jauh lebih muda darinya….”

“Kau jahat sekali sih mentertawakanku begitu…”

“Oh, oke oke, aku tidak akan mentertawakanmu lagi, hahahahaha…”

Tepat pada saat itu juga ponsel Donghae kembali bergetar. Ia membuka pesan dan menyadari kalau ia harus ke lokasi syuting secepatnya. Ia cepat-cepat menarik tangan Jira dan masuk ke dalam mobil.

Begitu ia mau menjalankan mobil, ponselnya kembali bergetar. “Ne, Hyung. Aku sudah dalam perjalanan menuju lokasi syuting. Tunggu aku sebentar lagi,” kata Donghae di telepon, lalu kembali memasukkan ponselnya ke saku celana.

Jira melihat Donghae dengan bingung. “Dari manajermu, Oppa? Kau sudah harus kembali ke lokasi syuting sekarang, ya?”

“Ne. Ottohke? Aku kan harus mengantarmu pulang dulu,” bisik Donghae dengan panik.

Jira mengangkat alis karena terkejut dan mengambil ponselnya. “Mungkin Onnie belum pulang dan aku bisa memintanya menungguku untuk pulang bersama.” Jira menekan tombol hijau pada ponselnya. “Yobseyo, Onnie?” Lalu ia mulai menjelaskan maksudnya dan meminta Onnie nya untuk menunggu di tempat kakak nya berada sekarang, Dream Mall. Menemukan Dream Mall jauh lebih mudah daripada menemukan hotel tempatnya menginap karena bisa dibilang hotel tempatnya menginap adalah hotel murah yang tidak terlalu terkenal sehingga susah untuk mencarinya.

Jira mendengarkan perkataan wanita yang lebih tua setahun darinya itu sambil sesekali mengangguk dan berkata, “Ne,” dan “Arasseo”. Akhirnya ia mengatakan “Annyeong” dan menutup pembicaraan.

“Onnie mu bilang apa? Ia mau menunggu?” tanya Donghae ketika Jira kembali meletakkan ponselnya ke dalam saku celana.

“Ne, Oppa. Asal kau cepat menyetirnya dan aku harus mentraktirnya nanti, hah…”

“Kita sudah sampai kok. Itu Onnie mu!!!”

“Eh, iya, Gomawo, Oppa. Annyeong!!!”

Donghae menahan tangan Jira sebelum Jira menutup pintu mobil. “Saranghae. Kuharap kita bisa meluangkan waktu lebih banyak nanti”.

Jira mengangguk sambil tersenyum. “Nado saranghae, Oppa. As I said before, I’m always here for you. Tenang saja, kita pasti bisa meluangkan waktu lebih banyak lain kali. Annyeong!!!”