Author :  Ocha
Title : You’re Not My Girl Part 1
Length : Continue
Genre : Romance
Cast : Choi Siwon

 

PS : FF ini udah pernah aku post di blog pribadi aku http://kangsoohwa.wordpress.com

Sudah hampir satu bulan berlalu sejak Soohwa terakhir kali bertemu dan berbicara dengan pria yang sedang sibuk menyetir di sampingnya sekarang. Entah kenapa Soohwa merasa canggung untuk memulai pembicaraan dengan pria tersebut, hal yang jarang terjadi pada gadis overaktif sepertinya. Ia ingin bertanya apa kabar tapi ia pikir kata-kata tersebut terlalu basi dan terlihat dibuat-buat. Ia ingin bertanya apa saja kegiatan pria itu sekarang, ia sendiri sudah hapal dengan berbagai kesibukan pria itu, “How can I be so silly like this,” pikirnya.

Pria itu menjalankan mobilnya tanpa tujuan sejak tadi. Ia bingung menentukan tempat yang dituju. Sudah lama ia ingin menghabiskan waktu dengan gadisnya, untuk itu ia merencakan sesuatu yang special untuk hari ini. Sayang, karena terlalu senang akhirnya mendapat waktu luang, ia malah lupa merencanakan tujuan mereka hari ini. Akhirnya ia menghentikan mobilnya di tempat favorit mereka berdua, sebuah café yang menyediakan waffle terlezat-makanan favoritnya- sekaligus sebuah toko buku yang bisa dibilang lumayan lengkap-surga dunia bagi gadisnya.

“Why do we stop here?” tanya Soohwa.

“What’s wrong with this place? Kau tidak suka?”

Soohwa menggeleng-geleng dan merapikan pakaian yang dikenakannya. “Aku sudah tidak waras kalau aku membenci tempat ini. Tapi tunggu dulu, kau yakin mau ke sini? Sekarang masih siang dan yah, banyak fansmu yang berkeliaran.”

“Habis aku bingung mau kemana lagi. Kalau soal itu, tenang saja, aku bawa kacamata hitam, masker, dan topi andalanku,” kata pria itu sambil mengambil semua barang yang ia sebutkan tadi dari jok belakang mobilnya. “Kau sendiri yakin tidak malu dengan penampilanmu yang asal begitu?”

Soohwa mengerucutkan bibirnya sambil memandang penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tanktop putih dengan suspender hitam dipadu dengan celana khaki dan Jeffrey Campbell  shoes putih, ditambah dengan tangan dari merek favoritnya, Guess. “Hmmm, there is nothing wrong. Kau seperti baru mengenalku saja. Gaya berpakaianku kan memang asal begini, jangan bandingkan dengan gaya artis-artis kenalanmu, Mr. Choi.”

“Yah, ternyata keajaiban memang tidak akan datang. Sifat cuekmu sepertinya tidak akan pernah hilang ya,” kata Siwon sambil keluar dari mobilnya.

Begitu turun dari mobil Soohwa langsung berjalan dengan kecepatan penuh masuk ke dalam tempat itu dan berhenti di salah satu rak buku. Sesekali ia mengambil buku yang kelihatannya menarik. Buku-buku itu ia dekap erat-erat di dadanya seakan-akan buku-buku itu adalah barang berharga yang harganya jutaan.

Siwon melangkah dengan santai ke café yang masih dalam satu area dengan toko buku itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Soohwa. Ruangan bernuansa coklat dengan meja dan kursi yang terbuat dari kayu dengan aroma kopi dan waffle yang khas itu memang selalu bisa membuatnya nyaman menghabiskan waktu berlama-lama. Setelah memesan waffle dengan sirup maple dan sebuah espresso untuknya, dan juga waffle dengan es krim coklat dan ice cappuccino untuk Soohwa pada salah seorang pelayan, ia membuka-buka majalah yang memang disediakan oleh café itu.

Tiba-tiba satu kantong plastik besar yang penuh dengan novel dan sejenisnya diletakkan dengan kasar oleh Soohwa di atas meja. Gadis itu tersenyum kecil dan segera menyantap wafflenya. Tak sampai lima menit waffle itu sudah berpindah sepenuhnya ke perut gadis itu. Dengan perlahan ia membersihkan mulutnya yang belepotan dengan es krim coklat menggunakan tisu. “Ah, thank you so much, Mr. You’ll pay for it, right? Uang jajanku bulan ini sudah habis karena membeli semua novel itu,”kata Soohwa.

Siwon menghembuskan napas panjang. Ia tidak menyangka ia bisa jatuh cinta pada gadis di hadapannya sekarang yang berbeda jauh dari tipe idealnya yang sering ia sebutkan di media. “Dear heart, can you stop loving her?” kata Siwon dalam hati. Tentu saja jawabannya tidak. Entah apa yang ada di dalam diri gadis itu tapi Siwon merasa hanya gadis itu yang bisa membuatnya jatuh cinta. Dia menarik piring berisi waffle di hadapannya dan mulai memakannya. “Cepat sekali kau makan. Lihat aku, aku bahkan belum menyentuh waffle ku.”

Soohwa hanya menjawabnya dengan senyuman dan menarik kantong plastic besar di atas meja lalu mengeluarkan semua novel yang dibelinya tadi.

“Kau beli novel apa saja?”tanya Siwon dengan mulut penuh. “Oh my God, bahkan sekarang aku mulai tertular virusnya berbicara dengan mulut penuh,” pikir Siwon.

Soohwa mendongak sebentar menatap Siwon. “Banyak. Aku capek menyebutkannya satu persatu, tapi ada satu novel yang benar-benar menarik perhatianku.”

Siwon menjulurkan lehernya, penasaran dengan novel yang akan ditunjukkan Soohwa.

Begitu menemukan novel yang dicarinya dari kantong plastic di pangkuannya, Soohwa langsung meletakkan novel itu di hadapan Siwon. Gadis itu meneguk cappuccino nya pelan sebelum memulai ocehannya.

Siwon tahu, begitu membicarakan novel, gadis di hadapannya ini bisa bicara satu jam nonstop.

“Novel ini…novel ini menceritakan tentang seorang gadis yang terserang kanker ganas, membuatnya terpaksa kehilangan keluarga, sahabat, bahkan orang yang paling dicintainya. Intinya sih begitu. Kau malas kan kalau mendengarkan penjelasan panjangnya?” ucap Soohwa lirih. Tiba-tiba ia tertegun.

“Kenapa diam?” Siwon melepaskan kacamatanya. Suasana café hari itu sangat sepi, ia merasa tidak membutuhkan salah satu alat penyamarannya tersebut. Ia meraih novel bersampul biru yang ada di hadapannya.

“Kadang….aku suka membayangkan…”

“Membayangkan apa?”

Soohwa kembali meminum minumannya. Siwon tahu gadis itu akan membicarakan sesuatu yang serius. “Kalau misalnya aku terkena…ah, tidak usah jauh-jauh terkena kanker. Kalau misalnya aku kecelakaan saja, lalu keadaanku sangat kritis, apa Eomma, Appa dan Jira akan khawatir? Benar-benar cemas dengan keadaanku? Apa mereka akan berusaha mati-matian demi kesembuhanku seperti orangtua di novel itu. Lalu Rinmi dan Yura, apa mereka akan tetap mau berteman denganku. Dan….Kevin?”

Siwon menjatuhkan garpunya. “Kau…kenapa kau bisa berpikiran begitu?”

“I don’t know, tiba-tiba saja pikiran itu berkelebat di benakku.”

“Tentu saja orangtuamu akan berusaha mati-matian demi kesembuhanmu, Jira akan selalu mendukungmu, ia adik yang baik kau tahu. Rinmi dan Yura, mereka kan sahabatmu, tentu saja mereka akan tetap mau berteman denganmu. Kevin, yah, kurasa, ia juga akan terus menemanimu, kalian kan sudah bersahabat sejak kecil.”

“What about….you?”

“Me?”

“Yeah, how about you?”bisik Soohwa lirih.

Tiba-tiba mata Siwon menangkap sosok yang sudah tidak asing lagi. Siwon buru-buru menghabiskan makanan dan minumannya. Novel yang ada di genggamannya kembali ia letakkan di meja.

“Cepat habiskan minumanmu,” kata Siwon cepat.

Soohwa terlihat kebingunan. “Is there any something wrong?”

Siwon memakai kembali kacamatanya dan menarik Soohwa kembali ke mobilnya. Dengan buru-buru ia meletakkan beberapa lembar uang won di meja kasir.

Begitu selesai memasang sabuk pengaman, Siwon langsung menginjak pedal gas sambil sesekali mengawasi gadis yang ternyata mengikutinya mobilnya dengan sedan hitam. Siwon menginjak pedal gas semakin dalam. Rahangnya mengatup keras.

“Mr. You haven’t answer my question,” kata Soohwa pelan.

Siwon melirik kearah Soohwa sekilas. Ia sedang tidak bisa berpikir sekarang. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana cara melarikan diri dari stalker gilanya. Matanya menangkap kini Soohwa menatapnya dengan pandangan tidak sabar.

“Aku tidak bisa berpikir saat ini,” katanya kesal.

Soohwa berjengit. “Kenapa sih kita ngebut begini? Lari dari apa?” tanyanya.

“Dari mobil yang mengikutiku itu!!! Di dalamnya ada seorang gadis yang selama ini mengikutiku! Dia stalker! Kau mau dia memotretmu dan mencari tahu segalanya tentangmu sampai kau akhirnya masuk tabloid? Kau sendiri yang bilang belum siap kan? Itu masih mending. Bagaimana kalau dia sampai menerormu?” teriak Siwon.

“Hey! Calm down, Mr. Stop shouting at me! Lagipula sudah tidak ada yang mengikuti kita lagi kok.” Wajah Soohwa memerah. Ia merasa SIwon tidak perlu berteriak begitu padanya.

“Kau cerewet sekali sih. Cih, ini yang membuatku benci padamu.” Seketika itu juga Siwon menyadari perkataannya. Ia mengulurkan tangannya mencoba menyentuh tangan Soohwa.

“Don’t you dare to touch me!” kata Soohwa sambil mengibaskan tangannya.

“Terserah kau sajalah”

“YA! MR. WATCH OUT!!!”