(Prolog) (Part 1) (Part 2) (Part 3) (Part 4) (Part 5) (Part 6) (Part 7)

Annyeong!

Huwaaa… akhirnya aku sampai di penghujung cerita ! O yeahhh!!!

Tumben cepet? Iye, karena aku nggak bisa memecah pikiranku dengan FF2 lain. I mean, aku kalo udah mikirin satu FF ya ga bisa mikir FF lain. Dan aku nggak sabar buat nglanjutin FF ku yang lain.
Alhasil, aku memutuskan mempercepat pembuatannya.

Hummm… Aku nggak tau apakah ini ending yang kalian inginkan. Tapi aku harap, semua cukup puas dengan yang aku sajikan di episode terakhir ini. 🙂

Happy enjoying~!

___________________________________________________

Title : Great Confession (Part.8-end)

Cast : Dong Young Bae (Taeyang Big Bang) , Park Sandara (Sandara Park 2NE1), Lee Chaerin (CL 2NE1)

Genre : Romantic

Disclaimer :

ADIEZ-CHAN ©ALL RIGHT RESERVED

ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE ! NO OTHER AUTHORS ! PLEASE DON’T COPY AND RE-POSTING WITHOUT CONFIRM ME!
NO PLAGIARISM!

 

 

Great Confession

 

Kalau kamu mencintainya, tunjukkan saja kalau kamu mencintainya. Karena hidup itu terlalu singkat untuk dihabiskan dengan penyesalan.

***

 

Normal POV

“Hallo?”

“Aahh… Mr. Dong Young Bae. How are you?”

“Fine, sir.”

“I just wanna ask about your choice. How? Can you accept my invitation to study in Paris?”

Youngbae seketika terdiam. Ternyata memang hal itu yang ingin Mr. Auclair bicarakan. Hal yang kini paling ingin dihindari Youngbae. Paling tidak untuk saat ini. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Dara sejenak dengan ragu, sebelum kemudian dia kembali fokus pada orang di seberang sana.

“Yes, I can. But please gimme three days for prepare everything, sir.”

“Three days? I will order one ticket for your flight. Okay?”

“Okay, sir. Thank you, sir…”

“Haha… That’s nothing for me. You know, I am waiting you so much. See you three days later, Mr. Dong Young Bae.”

“Ah, yeah. See you, sir…”

Cklek.

 

Youngbae kembali terpekur menatap layar ponselnya. Harus seperti apa dia menyikapi keputusannya sendiri? Bagaimana dia mengatakan pada wanita yang sekarang berdiri di hadapannya itu?

“Bae-ah?” Dara memandang Youngbae dengan tatapan bingung. Beribu pertanyaan muncul di kepalanya secara tiba-tiba. Mengapa wajah lelaki itu seketika berubah setelah menerima telepon itu? Siapa yang meneleponnya? Mengapa lelaki itu memandangnya dengan ragu? Apa yang sebenarnya terjadi?

“Noona, aku ada berita penting untukmu.”

“Nee? Berita apa?”

Youngbae mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar dan kembali menatap Dara lekat-lekat. “Aku akan melanjutkan studi… ke Paris.”

DEG!

Dara terhenyak. Ke Paris? Apa maksudnya ke Paris? Setelah semua yang dia lakukan untuk lelaki itu… dan sekarang lelaki itu akan pergi? Dia harus bersikap bagaimana sekarang?

Dia… harus bagaimana?

Rasanya kini otak Dara tak bisa dibuat berpikir. Semuanya buram. Dia menelan ludahnya sendiri untuk menahan perasaan sakit dan air matanya yang sudah ingin merebak. “Ohh… begitu ya? Berapa lama, Bae-ah?”

“Dua tahun, noona…”

Dua tahun? Oh come on Dara… Kamu harus bisa tersenyum dan mengucapkan selamat padanya… bukankah itu impiannya?

Bukankah kamu bilang sendiri, kalau orang yang kita cintai itu bahagia, maka kita juga akan bahagia?

Ayo Dara…

“Ah… Chukk…” tiba-tiba air mata Dara telah jatuh ke pipinya tanpa disadarinya. Tangannya dengan cepat bergerak untuk mengusap butirannya seraya tersenyum pahit. “Aih… apa ini? kenapa aku menangis ya, Bae-ah?” dia menarik nafas sejenak, dan melanjutkan, “Mianhae Bae-ah, aku tidak bisa mengatakan selamat padamu…”

Setelahnya, wanita itu segera berbalik dan meninggalkan Youngbae yang menatapnya dengan nanar. Dia sudah bergerak untuk mengejarnya, namun sesaat kemudian langkahnya terhenti. Tangannya mengepal perlahan, seperti menyadari sesuatu.

Mengapa dia berhenti? Mengapa dia tidak bisa mengejarnya? Berbagai pertanyaan berputar tanpa lelaki itu tahu jawabannya.

Frustasi, dia menghempaskan tubuhnya ke dinding dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

***

 

Countdown start… Day-3…

 

Dara POV

Aku tak tahu lagi apa yang harus aku katakan.

Aku tahu aku harusnya aku mengucapkan selamat untuknya. Bukankah sebuah prestasi luar biasa ketika seorang konduktor bisa belajar hingga ke Eropa? Pasti itu juga impian Youngbae-ah…

Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa mengatakannya. Aku ingin bersamanya. Aku ingin bersamanya lebih lama lagi. Aku benar-benar tidak mau berpisah dengannya…

Apakah hal itu salah, Tuhan?

Aku memang berjanji padamu, akan kuberikan apapun yang Kau inginkan dariku… karena Engkau telah mengembalikan dia ke sisiku…

Tapi mengapa harus dia? Mengapa harus dia yang Kau ambil, Tuhan?

Aku tidak ingin dia pergi…

Aku mempercepat langkahku dan membiarkan derai air mata yang terus jatuh menuju pipi dan daguku. Lebih baik aku segera pulang, dan tidur…

***

 

Day-2…

 

Normal POV

Chaerin masih menyeduh cappuchino-latte favoritnya ketika sepasang tangan tiba-tiba melingkar di pundaknya dan merangkulnya erat dari belakang. Tak cukup dengan itu, sebuah kepala tiba-tiba menekan kepala gadis itu. Dia tersentak sejenak, namun menyadari siapa yang melakukannya, keterkejutannya berubah menjadi jengkel. Gadis itu mencoba berontak dan mengomel, “Yaa! Youngbae jelek! Apa yang kamu lakukan?! Berat, tau!!”

Youngbae mempererat pelukannya. “Biarkan aku begini dulu, Chaerin…”

Chaerin seketika terdiam. Mengapa suara sepupunya itu terdengar kalut? Lagipula tidak biasanya lelaki itu memeluknya seperti ini. Bahkan dia lupa kapan terakhir kali Youngbae memeluknya dari belakang. “Bae? Ada apa? Kamu kenapa?”

“Chaerin… Mr. Switzeeman menawarkanku study ke Paris dua minggu yang lalu…”

Senyum Chaerin kontan mengembang girang. “Waahh!!! Chukkae!! Akhirnya impianmu ke Perancis jadi kenyataan. Sekarang, kenapa kamu seperti orang bingung seperti ini?”

Youngbae kontan terdiam dan melepaskan pelukannya. Kemudian dia menghempaskan dirinya ke arah sofa dengan lemas. Dahi Chaerin mengernyit melihat tingkah sepupunya yang menurutnya aneh. Dia mendekat ke arah Youngbae dan berdiri di hadapan lelaki itu.

“Hei, kenapa kamu tidak terlihat senang?”

“Chaerin, apa aku tolak saja penawaran Mr. Switzeeman?”

Mata Chaerin terbelalak, sebesar yang ia mampu. Apa maksud lelaki ini sekarang? Bukankah Youngbae dulu selalu mengatakan padanya bila dia sangat ingin pergi ke Perancis? Dan sekarang, mau ditolak?

“Heh?! Waeyo?”

“Dara noona tidak mau aku pergi, Chaerin.”

Chaerin terhenyak. Akhirnya dia mengerti alasannya. Tanpa lelaki di hadapannya ketahui, seulas senyum tipis sempat menghiasi wajahnya, sebelum akhirnya dia cepat-cepat menyembunyikannya.

“ Apa sebaiknya aku batalkan saja?”

“HEH?! ANDWAEE!! Kamu harus pergi! HARUS!!” Chaerin menaikkan nadanya satu oktaf lebih tinggi dan berkacak pinggang.

Youngbae terkejut melihat kengototan Chaerin. Bukankah gadis ini yang kemarin menyuruhnya menyadari perasaannya? Sekarang, dia sudah mulai perlahan membuka hatinya. Dan mengapa gadis ini sekarang menyuruhnya untuk tetap berangkat?

“Lalu? Bagaimana dengan Dara noona?”

Chaerin ikut menghempaskan dirinya di atas sofa, di samping Youngbae. Tangannya bergerak mengambil bantal sofa dan meletakkannya di pangkuannya. “Dara unnie? Memangnya kenapa? Dia kan bukan siapa-siapa. Kenapa kamu harus bingung?”

Dahi Youngbae kini makin mengernyit. Hatinya semakin bimbang akan keputusannya sendiri, juga dengan sikap Chaerin yang bertolak belakang dengan beberapa hari yang lalu. “Tapi…”

Chaerin tersenyum tipis penuh kemenangan. Pancingannya berhasil. “Tapi apa? Memangnya… seperti apa sih Dara unnie itu bagimu?”

DEG! Rasanya pertanyaan itu langsung menghujam tepat di jantungnya. Setengah gelagapan Youngbae menjawab, “Molla. Aku juga bingung…”

Chaerin tak habis pikir dengan kebodohan sepupunya itu. Bagaimana mungkin semua orang tahu perasaannya, sedangkan dia sendiri tidak menyadarinya? Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya seraya berdecak heran. “Ckckckck. Kamu ini bodoh, atau apa sih? Ini yang aku bilang, kamu belum dewasa, Dong Youngbae!” Chaerin sengaja menekankan kalimat terakhirnya.

Youngbae melirik tajam Chaerin, tersulut emosi atas kata-kata sepupunya yang bahkan masih lebih muda tiga tahun itu. Sudah tidak mau memanggilnya ‘oppa’, sekarang dia mengatainya belum dewasa? Berani sekali anak ini!

“Apa maksudmu?”

Chaerin membalas tatapan Youngbae dengan sama tajamnya, ditambah dengan senyuman mengejek yang menyebalkan. “Kenapa? Keberatan dengan kata-kataku? Kamu bahkan tidak mengerti perasaanmu sendiri. Masih mau aku bilang dewasa?”

Youngbae terdiam.

“Dong Youngbae, kamu mau bingung sampai kapan? Sudah jelas kamu mencintainya. Jangan menyembunyikan perasaanmu dari seseorang. Kalau kamu mencintainya, tunjukkan saja kalau kamu mencintainya. Karena hidup itu terlalu singkat untuk dihabiskan dengan penyesalan. Kamu sendiri sudah pernah merasakannya kan? Mau merasakannya untuk kedua kalinya?”

Youngbae terhenyak. Semua kata-kata Chaerin itu benar-benar seperti sebilah pisau yang menancap beruntun ke arah dadanya. Semuanya adalah benar, namun lelaki itu selalu mencoba menepisnya. Dan kini, ketika waktunya benar-benar tinggal sedikit, apa yang harus dia ragukan?

“Lalu? Aku jadi ke Paris atau tidak?”

Chaerin mengedikkan bahunya. “Terserah kamu. That’s your life.”

***

 

Day-1…

 

Youngbae memacu mobilnya kencang di jalanan Seoul. Setelah membereskan semua urusannya di orkestra, kini dia harus membereskan urusannya yang lain.

Dara noona.

Beberapa saat kemudian mobilnya telah sampai tepat di sebuah rumah yang sudah dia yang ditujunya. Secepat kilat dia keluar dari mobilnya dan berlari ke arah pintu rumah itu. Dia mencoba mengetuk sekali dan ditunggunya beberapa lama. Namun tak ada jawaban.  Dia mengetuknya sekali lagi dan memanggil orang yang dicarinya, “Noona?”

Tetap tak ada jawaban.

Mungkinkah wanita itu sedang pergi? Tapi ke mana? Dan mengapa di saat Youngbae ingin bertemu dengannya? Mengapa waktu begitu sulit untuk berkompromi dengannya? Ataukah dia yang terlalu bodoh untuk berkompromi dengan waktu yang telah diberikan kepadanya?

Youngbae menyandarkan dirinya ke pintu rumah itu.

Wanita yang dicarinya telah terlalu lama menunggunya, kali ini dia memutuskan untuk menunggunya…

***

 

Dara melihat Seungri yang tertidur pulas di kamar inapnya. Sedangkan dirinya, bahkan hasrat memejamkan mata pun tidak sedikit pun terbesit. Dia menatap hamparan langit yang hanya sekedar berwarna hitam tanpa percikan cahaya apapun dari balik jendela rumah sakit dengan tatapan menerawang.

Raganya di sana, namun tidak dengan pikirannya. Pikirannya msih berkutat dengan Youngbae dan keberangkatannya. Sanggupkah dia hidup tanpa melihat sosok lelaki itu? Tanpa senyuman itu? Tanpa kebaikan-kebaikan itu?

Dia mengecek ponselnya. Mati.

Sesaat kemudian, dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam long coatnya dan kembali menerawang langit.

Apakah memang harus sesulit ini dia mendapatkan cintanya?

***

 

Youngbae menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang mulai membeku. Semua jemari tangannya telah memutih dan bahkan dia bisa melihat hembusan nafasnya yang ikut memutih. Apakah wanita itu tidak akan pulang? Sekarang, dia harus bagaimana?

Dia mengambil ponselnya dan menekan beberapa tombol untuk menelepon Dara. Namun beberapa saat kemudian, nada panggil itu tidak ada. Hanya suara operator yang tidak manis yang menjawab panggilannya.

“Sepertinya aku harus pulang karena ini sudah hampir jam tiga pagi dan pesawatku berangkat pagi ini…” ucapnya pada dirinya sendiri dan berjalan menuju mobilnya.

Sesaat kemudian, mobil itu telah menjauh dari rumah Dara…

***

 

The flight day… 06.00…

 

Dara berjalan lunglai menuju kamarnya setelah semalaman tidur di rumah sakit. Tangannya mengambil charger ponselnya. Setelah pengisian baterai ponselnya berjalan, dengan cepat dia menghidupkan ponselnya.

Ting ting ting ting ting~~

Nada telepon masuk bahkan beberapa detik ponselnya menyala. Lee Chaerin. Dengan cepat dia menekan tombol hijau di ponselnya.

“Yoboseyo?”

 “Unnie, sudah tau kalau Youngbae akan pergi ke Paris?”

“Aku tahu, Chaerin…” Dara terdiam sejenak dan kembali menatap jalanan dari balik jendela kamarnya dengan pandangan menerawang. “Chaerin…”

“Hum?”

“Aku tidak ingin dia pergi…” Dara menghela nafas panjang dan melanjutkan, “Aku tahu, itu impiannya. Aku tahu, aku harusnya mendukungnya. Namun, aku tidak ingin dia jauh dariku. aku tidak ingin dia pergi ke tempat yang tidak bisa aku lihat…

“Aku tidak ingin lebih. Aku memang berharap dia membalas perasaanku. Namun, hanya melihatnya tersenyum, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Tapi… bila dia ke luar negeri…

“Entahlah. Aku tidak tahu harus bagaimana…”

Di ujung telepon, kedua sudut bibir Chaerin mengembang. Namun itu hanyalah sekedar senyuman datar tanpa arti. Sejujurnya, kedua orang yang dia sayangi itu mudah saja bersatu. Hanya salah satu dari mereka terlalu bodoh untuk menggapai uluran tangan yang lain.

“Unnie, kamu tahu, Youngbae kemarin hampir memutuskan untuk tidak berangkat karena memikirkanmu…”

Dara spontan tersentak. Benarkah apa yang baru saja didengarnya? Youngbae hampir saja tidak berangkat karena dirinya? Perlahan seulas senyum muncul di bibir wanita itu.

Cukup. Baginya sudah cukup bila Youngbae memikirkannya. Dia sudah sangat bahagia bila lelaki itu memang pernah memikirkannya.

Dia akan merelakan lelaki itu untuk pergi.

“Unnie? Unnie masih di sana?”

Dara segera tersadar dari ketercengangannya, “Nee. Aku masih di sini.”

“Unnie tidak ke airport sekarang? Youngbae akan berangkat pagi ini.”

DEG! Jantungnya tiba-tiba mencelos. “Mwoa? Pagi ini? Jam berapa?!”

“Jam delapan pagi. Aku sedang lembur di kantor sejak kemarin. Jadi aku tidak tahu dia sudah berangkat ke airport atau belum. Mungkin setelah ini aku ke airport.”

Cklek.

Dara segera menutup teleponnya dan secepat kilat keluar dari rumahnya. Dengan terburu dia menyetop taksi yang baru saja melintas di depannya.

***

 

07.00…

 

Youngbae keluar dari taksi dan memandang bangunan di depannya dengan perasaan berat. Airport. Haruskah dia pergi tanpa sempat menyatakan perasaannya?

“Youngbae jelek!”

Youngbae membalikkan badannya dan menemukan sepupunya melambai ke arahnya dengan senyumannya yang menyebalkan. Setidaknya bagi Youngbae. “Hey! Aku pikir kamu tidak datang…”

“Aku pasti datang untuk sepupuku yang jelek satu ini…” dia menggelayut manja di lengan Youngbae. “Mana Dara unnie?”

“Molla. Mungkin tidak akan datang…”

“Begitukah?”

Youngbae hanya mengedikkan bahunya.

***

 

07.30…

 

“Chaerin, kita berpisah di sini?” Youngbae menyunggingkan senyum tipisnya hingga bulan sabit di matanya kembali muncul.

Chaerin mau tidak mau ikut tersenyum, walau hatinya sedikit berat membiarkan sepupunya itu pergi. Apalagi sebelum dia bertemu dengan Dara unnie. kemana sebenarnya wanita itu? Mengapa belum datang juga hingga saat ini?

“Nee. Be careful, my ugly cousin…”

Youngbae menarik tangan Chaerin hingga gadis itu tenggelam dalam pelukannya. “I will miss you…”

Chaerin membalas pelukan sepupunya itu dan tersenyum. “So do I.”

Sesaat kemudian, Chaerin mendorong pelan tubuh kekar sepupunya itu dan tersenyum tipis. “Sudah, masuk saja sana…” dia menunjuk pintu check in di depan mereka.

“Okay okay…” Youngbae mengacak rambut Chaerin pelan dan berbalik meninggalkannya. Chaerin pun segera berbalik meninggalkan tempat itu dan pergi…

***

 

Dara segera turun dari taksi dan berlari menuju airport. Bola matanya mengedar liar ke seluruh sudut airport dengan memburu. Jantungnya berdetum begitu cepat dan peluh keringat membanjiri tubuhnya. Ada sebuah ketakutan yang membayangi dirinya.

Ketakutan kehilangan Youngbae.

Kakinya berlari tanpa arah berkeliling airport dengan tetap berputar secara liar. Matanya mencoba meneliti setiap orang yang berlalu lalang di airport. Berulang kali dia hampir menyentuh orang-orang yang melintas di depannya, namun urung. Karena menyadari orang tersebut bukanlah yang dicarinya. Dia menaiki eskalator dengan tergesa, berlari di sepanjang kaca pembatas lantai dua dan memandang ke bawah, mencoba meneliti orang setiap sudut airport, namun tetap nihil. Tak sedikitpun bayangan dari Youngbae yang bisa dia lihat. Tak sedikit pun.

Putus asa, dia kembali ke lantai satu, dan memandang pintu check in dengan hati teriris. Dia melirik arloji di tangannya. Lima belas menit lagi sudah jam delapan. Sudah pasti lelaki yang dicarinya sudah ada di dalam pesawat.

Wanita itu menggigit bibir bawahnya keras, mencoba menahan keras air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya untuk tidak jatuh.

Lelaki itu sudah pergi…

Dara berbalik meninggalkan pintu check in dengan lunglai.

Mengapa lelaki itu begitu sulit digapainya? Bahkan ketika jarak mereka hanya tinggal sejengkal saja, Tuhan masih menjauhkan mereka…

Apakah dia terlalu bodoh, karena mencintai Youngbae?

***

 

07.45…

 

Youngbae baru saja memperlihatkan tiketnya pada penjaga dan memasuki pintu kaca check in. namun hatinya masih berat untuk meninggalkan Seoul dan Korea.

Mengapa dia begitu bodoh untuk menyadari perasaannya sendiri? Dan saat ini, semuanya sudah benar-benar terlambat…

Dia sudah pasti kehilangan wanita yang baru dia sadari… bahwa dia juga mencintainya…

Setelah ke counter check in dan membiarkan tasnya dibawa petugas, Youngbae sekali lagi berbalik menatap pintu kaca check in, berharap ada seseorang di sana yang menunggunya. Bola matanya menerawang jauh melewati pintu kaca itu…

Dan menemukan…

Dia.

Mata Youngbae terbelalak selebar-lebarnya ketika melihat punggung wanita itu. Itu sosok yang dicarinya. Dia sungguh hafal sosok itu. Badan mungil, long coat coklat kesayangannya dan rambut lurus itu. Dia sama sekali tak akan meragukannya.

Kakinya tanpa dia komando segera melangkah. Langkah-langkah kecil itu dengan cepat berubah menjadi berlari. Jantungnya seketika berdetum ketika memikirkan wanita yang semakin menjauh dari gerbang itu. Dan kelebat-kelebat ingatan itu muncul tiba-tiba dan menyerbunya.

“Tapi aku tahu, kamu mencintai orang lain. Kamu sangat mencintai yeoja itu. Waktu itu, aku tidak tahu apa yang kurasakan. Aku marah pada diriku sendiri. Karena telah mencintaimu yang sudah mencintai orang lain. Karena dengan segala upaya yang coba kulakukan, aku tak pernah bisa berhenti mencintaimu. Karena aku tak pernah berani mengatakan semuanya padamu.”

 

Berkali-kali dia hampir menabrak orang yang kebetulan melewatinya dan keluar melewati pintu check in. dan jarak mereka semakin dekat…

“Saengnim, Mungkin sebenarnya tidak ada waktu yang tepat, orang yang tepat, jawaban yang tepat. Mungkin terkadang… kamu hanya harus mengatakan apa yang ada di hatimu…”

 

Ya, aku harus mengatakan apapun yang ada di hatiku. Sekarang…

Sudah jelas kamu mencintainya. Jangan menyembunyikan perasaanmu dari seseorang. Kalau kamu mencintainya, tunjukkan saja kalau kamu mencintainya. Karena hidup itu terlalu singkat untuk dihabiskan dengan penyesalan. Kamu sendiri sudah pernah merasakannya kan? Mau merasakannya untuk kedua kalinya?”

 

GRAPP!!

Kedua tangannnya merangkul wanita itu dari belakang dan memeluknya seerat mungkin hingga tenggelam dalam dadanya.

Wanita yang dirangkulnya terkejut bukan main. Dia seketika tersentak dan matanya membulat. Jantungnya langsung melompat seakan ingin menggebrak tulang-tulang di dadanya.

Youngbae berbisik tepat di telinga wanita itu. “Mengapa pergi? Tak ingin bertemu denganku, Sandara noona?”

Bisikan itu spontan membuat jantungnya semakin cepat berdebar. Hingga dia bisa merasakan aliran darah yang mengalir di sekujur tubuhnya. “Yo… Young… bae-ah?”

“Nee, ini aku…”

“Kamu… belum berangkat?”

Youngbae merapatkan kedua tangannya hingga pelukannya semakin erat. “Saranghaeyo…”

DEG! Dara tersentak untuk ke sekian kalinya dalam beberapa detik ini. Dia tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. “Hah?”

Youngbae berbisik sekali lagi. “Jangan membuatku mengulang dua kali, noona. Saranghaeyo… Mianhae, aku terlambat menyadarinya. Mianhae, karena aku meyadarinya ketika aku akan pergi…”

Seketika pertahanan Dara runtuh. Air mata yang sejak tadi ditahannya meluncur cepat dan membasahi pipinya. Bukan, bukan air mata kesedihan. Namun kebahagiaan. Kebahagiaan yang tak sedikitpun dia sangka.

Kata-kata Youngbae… yang bahkan tak berani dia impikan…

“Mianhae… aku membuatmu banyak membuang air matamu. I’m so stupid man, right?”

Di sela tangisannya, Dara berbisik parau. “Youngbae-ah…”

“Nee?”

“Boleh aku memelukmu, dan mengucapkan selamat jalan?”

Youngbae tersenyum tipis dan melepaskan pelukannya. Dara dengan cepat berbalik dan menatap Youngbae lekat-lekat. Tangannya kemudian langsung melingkar ke punggung Youngbae erat. “Saranghae… Saranghae… Saranghae…”

Dia tak ingin berhenti mengucapkan kata itu. Air matanya terus mengalir hingga membasahi kemeja Youngbae. Dia menunggu terlalu lama, sangat lama. Pelukannya semakin erat, seolah ingin memberitahukan betapa dia mencintai lelaki itu. Dan semuanya belum cukup. Dia ingin membuktikan lebih dari itu. Bahwa cintanya jauh lebih besar dan dia tak tahu harus mengungkapkannya dengan bagaimana.

Youngbae membelai rambut Dara perlahan, dan mengecupnya. Betapa bodohnya dia jika dia menyia-nyiakan wanita yang mencintainya sebesar ini…

Dara melepaskan pelukannya dan mendorong pelan dada Youngbae. Dengan senyuman dia berkata pelan, “Pergilah, pesawatmu tidak akan menunggumu, Dong Youngbae…”

Youngbae tersenyum getir. “Mianhae… jeongmal mianhae…”

Dara menggeleng pelan dan tersenyum tulus. “Kamu memikirkanku ketika akan berangkat, itu sudah cukup bagiku. Dan kamu membalas cintaku, itu sudah sangat amat lebih dari sekedar kata cukup… Pergilah…”

Youngbae menundukkan kepalanya pelan, hingga jarak antara mereka semakin mengikis. Semakin dekat  hingga Dara bisa merasakan desah nafas Youngbae. Perlahan bibir Youngbae menyentuh kulit tipis bibir Dara. Tangannya mendekap tubuh Dara cepat namun lembut, menghilangkan jarak diantara mereka dan sentuhan antara dua bibir itu semakin lekat. Dara tersentak sejenak karena semuanya terjadi begitu cepat, namun kemudian dia memejamkan matanya dan membalas lembut ciuman itu.

Youngbae menjauhkan kepalanya dan kembali mencium dahi Dara. Kemudian dia melepaskan pelukannya dan tersenyum. “Aku harus pergi. Pesawatku tidak akan menungguku kan, noona…”

Dara tersenyum kecil. “Be careful…”

“Aku akan sangat merindukanmu…” Youngbae membelai helaian rambut Dara pelan dan berbalik memasuki pintu check in

***

 

Dara POV

Itu ceritaku.

Mencintai Youngbae itu… membuatku menyadari sesuatu.

Akan selalu ada seseorang, yang tidak peduli betapa buruknya dia memperlakukanmu… jika dia mengatakan dia mencintaimu, kamu akan mengatakan kata-kata itu kembali.

Yeah, aku sekarang berhubungan jarak jauh. Tapi, kita masih berada di langit yang sama. Dan itu membuatku merasa… dekat.

Ketika aku merindukannya, aku akan…

***

“BAE-AH!!” aku melambaikan tanganku pada seseorang yang baru saja keluar gedung.

Sosok itu terkejut beberapa saat, namun kemudian aku bisa melihat satu ulasan senyum mengembang di wajahnya. Dia lalu berlari ke arahku dan…

Memelukku.

“Noona?! Kenapa kamu bisa sampai ke Paris?!”

***

Aku akan melintasi separuh bumi untuk menemuinya…

_____________________________________________________

Fin.

 

Oke okee. Bagaimana bagaimanaaa? Semoga puas dengan endingnya…

Aku bingung mau bikin ending kayak apa. Dan adegan bandara yang sudah sangat klasik ini yang terngiang di pikiranku. Mianhae kalo udah BIASA abisss…

Mianhae juga kalo feelnya nggak kerasa, ato terlalu biasa, ato nggak sesuai harapan, ato apapun dehh…

Kritik saran bisa dialamatkan ke comment di bawah ini… 🙂

Please comment ya chingudeul… Yang udah baca wajib komen! Fardhu ‘ain! Hha…

No silent readers here please…

Okee. Selamat bertemu saya di FF-FF saya yang lain.

Gomawoyooooo……!!!! (_ _)

Iklan