Annyeonghaseo!!! Berhubung ada yang request langsung ke aku kemarin dan aku lagi pengen bikin oneshot, muncullah ide buat bikin ini. Sambil nunggu Life Line! Selamat membaca!!! kekeke~

HARAP LAPORKAN BILA ADA ORANG YANG MEMPLAGIAT FF INI ATAU FF LAINNYA! GOMAWO…. ^_^

———————————————————————————————-

Title: “Yeah, Just My Prince”

Genre: Romance, Comedy

Casts:

– Park Sandara

– Taeyang (Prince Taeyang)

– Park Bom

– Seunghyun (TOP)

Notes:

– Don’t be silent readers

– Harap lapor bila FF di FFL diplagiat

– No plagiarism

– Happy reading!!!

“Ada keramaian,”kata Dara sambil menunjuk-nunjuk keramaian di taman kota. “Ayolah… Kau tak dengar kabar? Prince Taeyang akan melempar bunga untuk mencari istri. Cara yang bagus untuk mendapat istri, cara yang buruk untuk mencari istri cantik. Bagaimana kalau yang menangkap buket itu yeoja jelek?” umpat Park Bom. Dara mengangguk setuju. Tapi tiba-tiba… BUK! Sebuah buket bunga berukuran sedang berwarna merah muda mendarat di tangan Dara. “Dari mana ini?” tanya Dara. Mereka langsung menatap ke arah taman di mana sekerumunan yeoja dan beberapa namja menatap mereka. “Dara… kau memang seorang cinderella,” kata Park Bom dengan tatapan tak percaya. Terlihat kerumunan itu mulai bubar. “Unni, aku tak suka ini! Aku tak mau menikah dengan orang yang bahkan tak mengenalku!” kata Dara.

 

“Ternyata keberuntungan memilihmu,” suara seorang namja mengagetkan mereka. Park Bom berbalik. Dara menghembuskan nafas dan tetap membelakangi namja yang tentu saja seorang Prince Taeyang. Dara menjatuhkan buketnya dan bergegas mengajak Park Bom pergi. “Kau mau ke mana?” tanya Prince Taeyang. “Ke tempat di mana aku tak harus menikahi orang yang tak kukenal,” kata Dara. Taeyang tersenyum merendahkan. “Jangan berlagak,” kata Taeyang. “Berlagak? Yang kau bilang berlagak adalah aku saat berpura-pura bahagia,” kata Dara. “Unni, kau yang nikahi dia,” kata Dara. “Mwo? Ani.. ani…! Bagaimana dengan Seunghyun?” tolak Park Bom. “Jadi… kau yang dimaksud yeoja penakluk TOP?” tanya Taeyang saat tahu kalau Park Bom adalah yeojachingu TOP, seorang aktor terkenal. “Wae? Ku dengar kau dan Seunghyun cukup akrab,” kata Park Bom. “Well, sepertinya kalian akan berbincang untuk waktu yang lama,” Dara beranjak pergi tapi Taeyang menahan tangannya. “Kau salah arah,” katanya. “Apanya yang salah?!” tanya Dara. “Rumahmu di sana,” Taeyang menunjuk jalan ke rumahnya dan segera merangkul Dara yang mulai saat itu juga resmi menjadi kekasihnya. “Well, aku akan kunjungi kalian nanti. Annyeong!!!” Park Bom pergi.

 

***

“Ya!!! Namja macam apa kau ini???” bentak Dara saat di mobil, lebih tepatnya limosin. Taeyang hanya diam dan tersenyum. “Aku baru saja menjadi yeoja beruntung karena bisa terbebas dari perjodohan. Sekarang aku harus mau denganmu?!” lanjutnya. “Kau tidak senang?” tanya Taeyang. “Tentu! Kau bisa mengambil kembali buket itu den melemparnya pada yeoja yang lebih baik!” protes Dara. “Semua sudah terlanjur,” kata Taeyang dengan santainya. Limosin yang mereka tumpangi berhenti. “Kita sampai,” kata Taeyang. Dara hanya diam. “Ayo!” Dara tetap diam. Taeyang menarik tangan Dara, tapi Dara bersandar terlalu kuat. Taeyang langsung menggendong Dara. “Ya!!! Apa yang kau lakukan?!”

 

Dara hanya diam di kamarnya. Kamar itu memang hebat. Warnanya merah maroon, tempat tidurnya berenda, peralatan komputer lengkap, sudut baca, dan seperangkat meja kursi. Bagi author itu keren, tapi bagi Dara itu menyeramkan. Dara lebih suka warna terang.

 

“Bosan…,” Dara berjalan menuju pintu kamarnya. Ceklek, ceklek, ceklek ceklek… “Mwo??? Kenapa tidak bisa dibuka? Apa dikunci??” Dara berusaha mengingat kejadian sepuluh menit yang lalu.

 

Taeyang menurunkan Dara di ruang tengah yang benar-benar luas. Ruangan itu adalah ruang pusat. “Wow…,” gumam Dara. Taeyang tersenyum merendahkan. “Baiklah. Cukup sudah aku lihat museum ini. Aku harus segera pulang,” Dara beranjak keluar tapi Taeyang malah menggendongnya lagi. “YA!!! Namja babo!” Dara memberontak. Taeyang menurunkannya di sebuah kamar. “Apa yang kau lakukan?” tanya Dara. “Tunggu di sini,” Taeyang meninggalkannya dan terlihat mengunci pintu dari luar.

 

“Wah… Keterlaluan sekali… Bukannya merayu agar aku mau, malah memperlakukanku seperti hewan,” umpat Dara. Tanpa basa-basi Dara langsung memukul pintu yang setengah kaca itu. “Buka pintunya!!!” teriaknya. “YAA!!! Taeyang!!!” teriak Dara lagi. Terlihat seorang pelayan perempuan menghampiri dan membawakan kunci. Pelayan itu membukakan pintu. “Maaf, tuan putri. Saya membuat anda menunggu. Prince Taeyang menunggu,” kata pelayan itu. “Tuan putri?” Dara mulai suka julukan itu.

 

“Wae? Wae? Wae?” tanya Dara. Taeyang mempersilakan Dara duduk. “Kau mau?” tanya Taeyang. “Ani,” jawab Dara mantap. “Meskipun aku Prince Taeyang?” tanya Taeyang lagi. Dara mengangguk. “Kau tak suka kamarmu?” tanya Taeyang. “Tentu saja. Merah maroon, warna yang mengerikan. Tempat tidur berenda, memangnya aku ini bayi?” protes Dara. “Bagaimana kalau aku renovasi?” tanya Taeyang. Dara mulai kebingungan dan melirik ke sana ke mari. “Ani,” tolak Dara lagi. Ponsel Taeyang berdering. “Wae, Seunghyun?” tanggap Taeyang. “Omo! Seunghyun! Berikan padaku!” Dara ingin merebut ponsel Taeyang. “Kau ingin ke sini? Dengan yeojachingumu? AKu sudah bertemu dengannya tadi …… Ne. Kau langsung saja ke ruang baca,” Taeyang mengakhiri. Dara terdiam. “Unni akan datang. Yang ada dia hanya akan membantumu membujukku,” umpat Dara. Taeyang meletakkan sebuah ponsel mewah yang masih baru ke meja. “Ku tambah ini,” kata Taeyang. “Ani.”

 

“Annyeonghaseo!!!” Park Bom dan Seunghyun melompat menerobos pintu. “Woooah!” kata Dara menunjukkan rasa kagetnya *bukkannya bilang omo. Seketika itu juga Taeyang menatapnya tajam. “Wae?” tanya Dara. “Yeoja aneh,” kata Taeyang. Park Bom tersenyum. “Dara ini berbeda dengan yeoja lain. Yeoja lain akan bilang ‘omooo!’ tapi dara akan bilang ‘woah!’,” jelas Park Bom. “Kau harus memperlakukannya berbeda dari yeoja lain,” lanjutnya. “Berbeda? Dia memang sudah memperlakukanku berbeda dengan yeoja lain. Dia mengurungku! Memangnya aku ini apa?” protes Dara. “Diam,” suruh Taeyang dan Dara langsung berkomat-kamit tidak jelas. “Dara, ini satu-satunya cara untuk terbebas dari perjodohan,” kata Park Bom. “Aku lebih suka perjodohan dengan Kwon Ji Yong daripada yang satu ini,” kata Dara. “Kwon Ji Yong? GD? Kau dijodohkan dengan dia minggu kemarin?” tanya Seunghyun. “Ne,” jawab Dara. “Tapi kami sama-sama menolak,” lanjutnya. “K… kau? Kau bahkan dijodohkan dengan seorang G-Dragon?” Taeyang berwajah tak percaya. “Ne,” jawabnya. “Dara ini anak orang kaya. Ayahnya pemilik YG Entertainment. Dara juga seorang designer terkenal,” jelas Seunghyun. “Hhh… Kenapa aku tak pernah bertemu denganmu di acara fashion?” tanya Taeyang. “Yang mana? AKu selalu melihatmu tapi kau tak melihatku. Kalau bulan kemarin aku memang sedang di London,” kata Dara. “Dara-ssi, kau mau ya?” bujuk Park Bom. “Apa?” tanya Dara. Park Bom melirik ke arah Taeyang. “Hhh… ANDWE!!!” Dara berusaha menerobos Seunghyun dan Park Bom untuk ke pintu. “Ya! Kau mau ke mana?” Seunghyun menutupi jalan Dara. Dara hanya bisa memasang wajah menyerah. –” “Baiklah. Tapi ada banyak syarat,” Dara kini berjalan menuju pintu lagi dengan tangan hampa. Kali ini bukannya kabur dia malah ke kamarnya. Tapi… “YA! MANA KUNCINYA?!” Dara berbalik. Taeyang memberikan kunci kamar Dara. “Ambillah. Aku masih punya duplikatnya.”

 

***

Satu jam kemudian Dara menghampiri Taeyang, Park Bom, dan Seunghyun. Bukan. Taeyang, Park Bom, Seunghyun, dan… Kwon Ji Yong?! *Kenapa bisa ada Kwon Ji Yong? Dia kan ada janji mau ngajak author makan malam! #GUBRAKK! “Ya! Kau! Kenapa ada di sini?” tanya Dara sambil menunjuk ke Ji Yong. “Wae?” tanya Ji Yong. “Ani,” Dara langsung memberikan sebuah gulungan kecil tapi kalau dibuka benar-benar panjang. Isinya adalah persyaratan. Berikut isinya:

1. Aku ingin punya kamar sendiri tanpa kunci duplikat

2. Aku ingin kamarku berwarna biru muda

3. Aku ingin tidur sendiri

4. Aku ingin mobil mewah berwarna silver tanpa supir (aku yang menetukan mobilku apa)

5. Aku tidak akan menjawab pertanyaan dari media kecuali bila aku mau

6. Aku ingin melakukan semua sesuka hati

7. Aku tidak mau dikurung

8. Tak ada batas waktu untukku untuk pergi malam

9. Aku ingin memilih sendiri pakaian yang aku gunakan

10. Perlakukan aku seperti semestinya

11. Aku ingin makan apapun sesuka hati

12. Jangan salahkan aku bila membuat kegaduhan karena aku akan sering mengundang teman

13. Aku ingin kamar mandi bernuansa alam, tapi saat malam begitu elegan

14. Aku ingin kamarku diberi balkon yang langsung mengarah ke halaman belakang (yang sudah seperti lapangan golf)

15. Aku ingin kolam renang

16. Peraturan ini bisa diubah, ditambah, dan dikurang. Hanya aku yang boleh melakukannya

Sekian

 

“Cuma ini?” tanya Taeyang. Dara mengangguk. “Untuk semua luxury itu.. aku bisa tepati. Tapi… tidur sendiri? Aku tak bisa,” tolak Taeyang. “Mwo? Apa maksudmu? Kalau begitu aku tak mau,” Dara memalingkan wajah. “Baiklah… Tapi aku tak bisa janji. Lusa kita menikah.”

 

***

Dara bangun dari tidurnya. Tidurnya sangat nyenyak sehingga dia bangun cukup siang. “Jam berapa ini?” Dara mengambil jam wekernya. “Omona! Jam sepuluh!” Dara langsung bergegas. Setelah siap Dara langsung berlari ke luar rumah. “Kau mau ke mana?!” tanya Taeyang. “Kuliah!” Dara menjawab dengan buru-buru. “Suruh supir mengantarmu!” simpati dari Taeyang mulai muncul.

 

Dara turun dari mobil dan segera berlari ke kelasnya. “AKu terlambat, lima menit lagi,” Dara berlari tanpa menghiraukan orang-orang yang membicarakannya. “Annyeonghaseo!” sapa Dara dengan terengah-engah saat menyadari Lee Sungsaenim belum datang. “Kau hampir terlambat,” kata Min Ji. “Arasseo… Minggu depan akan ada pameran fashion. Aku dapat undangannya, kau?” tanya Dara. “Aku juga. Hei, Prince Taeyang itu… bukan kau orangnya kan?” tanya Min Ji yang lebih dikenal dengan Minzy. Dara gugup mendengar pertanyaan itu. “Sebenarnya… aku orangnya,” kata Dara. “M… Mworago?” Min Ji tersentak. “Ah… nanti saja aku jelaskan. Kamarku baru selesai direnovasi.”

 

“Butuh tumpangan?” tawar Min Ji. “Bagaimana kalau aku saja?” tawar balik Dara. “Mwo?” Min Ji kembali tersentak. Dara mengeluarkan ponselnya. “Supir Chang, jemput aku. Bawa Pak Kim juga untuk mengendarakan mobil temanku,” Dara menutup ponselnya. “M… mwo?” Min Ji tersentak untuk ketiga kalinya. Lima menit kemudian sebuah limosin putih berhenti tepat di depan mereka. Dua orang pria keluar dari mobil itu. “Berikan kunci mobilmu,” kata Dara pada Min Ji. Min Ji langsung melakukannya. “Pak Kim, bugatti veyron berwarna merah. Bawa ke rumah Prince Taeyang,” kata Dara. “M.. mwo?” untuk ke empat kalinya Min Ji tersentak. “Kkaja!”

 

***

Dara sampai di rumah Prince Taeyang yang sebentar lagi menjadi rumahnya juga. “Wow… Luasnya,” kata Min Ji. “Hanya enam kali lipat lebih besar dari rumahku,” kata Dara. “Kau mulai sombong, ya? Kau sudah terbiasa?” tanya Min Ji. “Bukannya sombong. Tapi aku tak suka rumah ini. Seperti rumah hantu. Aku biasa diperlakukan seperti ini di rumahku. Hanya saja di sini aku bebas melakukan apa pun. Hanya itu yang aku suka dari pengalaman ini,” kata Dara seraya mengajak Min Ji berjalan ke dalam. “Siapa dia?” Prince Taeyang terlihat sedang berbincang dengan seorang asistan. “Temanku, dia juga sama terkenalnya denganku. Min Ji. Lebih dikenal dengan Minzy,” kata Dara. “Oh… Aku punya satu rancangannya. Sebuah pakaian golf,” kata Taeyang. Min Ji tersentak untuk kelima kalinya tapi kali ini Dara juga tersentak. “Ya! Taeyang, kau tak punya rancanganku?” tanya Dara. “Aku punya. Setengah dari lemari. Kau harus memanggilku ‘jagiya’, jagi…,” Taeyang merangkul dara. Min Ji terkikik melihatnya. “Ya! Apa-apaan ini? Pernikahan ini tak ada apa-apanya!” Dara memberontak tapi Taeyang tak mau melepaskannya. Tiba-tiba… BRUKK! Taeyang terjatuh dan Dara terjatuh di atasnya. Mereka saling menatap mata. “O’ow… Hal yang Dara tak sukai akan terjadi… Siapa pria kali ini?” goda Min Ji. Dara langsung berdiri. “A… ayo ke kamarku. Kkaja!”

 

***

“Kamarmu hebat sekali,” kata Min Ji. “Aku juga berpikir begitu. Ini semua hanya karena sebuah buket bunga,” kata Dara. “Kau senang?” tanya Min Ji. “Sedikit,” Dara tersenyum. “Setelah yang tadi… kau selalu tersenyum. Wajahmu juga merah,” goda Min Ji. “Apa-apaan?” Dara memukul pelan pundak Min Ji. Diam-diam Taeyang mengintip.

 

***

“Bagaimana harimu?” tanya Taeyang seraya bersandar di pintu kamar Dara. “Kau datang?” Dara menghela nafas. “Hari-hariku cukup baik. Sebenarnya banyak orang membicarakanku di universitas, tapi aku tipe orang yang acuh tak acuh. Semuanya berjalan lancar. Besok adalah harinya,” Dara berjalan menuju sofa di dekat pintu. Taeyang duduk di kursi satunya. “Kau sudah meyakinkan dirimu?” tanya Taeyang. Dara hanya menatapnya. “Aku merasa bersalah,” lanjut taeyang. “Untuk apa? Lagi pula… tak ada yang ku sakiti dengan ini semua. Banyak orang bilang… orang yang tinggal serumah walau bermusuhan, nanti pasti akan sayang,” kata Dara. “Jadi kau tak keberatan?” tanya Taeyang. Dara mengangguk. “Pada siapa kau membagikan undangan?” tanya Dara. “Beberapa pejabat, kawan, kerabat, dan reporter. Dua reporter majalah dan dua reporter tv. Bagaimana denganmu?” tanya taeyang. “Beberapa teman, kerabat, beberapa designer, dan… eomma, appa,” jawab Dara. “Mereka pasti terkejut dengan semua ini. Kau mau mencoba gaun?” Taeyang mengulurkan tangannya. Dara menyambutnya.

 

“Keluarkan semua gaun pernikahan,” kata Taeyang. “Jagi, kau suka yang mana?” tanya Taeyang. “Aku seorang designer. Aku akan sangat teliti memilihnya,” Dara menghampiri semua gaun itu. Menanyakan merk, designer, dan tanggal produksi. Dia juga meneliti apakah gaun itu bagus, sesuai trend, atau bisa menjadi trend. “Bagaimana?” tanya Taeyang. Dara mendekatkan mulutnya ke telinga Taeyang. Seketika itu jantung Taeyang berdebar kencang. “Aku tak suka semuanya. Ayo ke rumah Min Ji,” bisik Dara. Taeyang hanya diam dan berusaha merasakan detak jantungnya. “Waeyo?” tanya Dara. “Ani. Ayo.”

 

“Gaun pernikahan, ya? Aku tak punya…,” kata Min Ji saat mendengar penjelasan Taeyang. “Benarkah? Kau tak pernah merancangnya?” tanya Dara. “Hanya saat ujian. Bukan yang terbaik, yang terbaik adalah milikmu. Kau ingat?” tanya Min Ji balik. “Iya… Tapi aku sudah memberikannya pada seorang mempelai,” jawab Dara. “Lee sungsaenim. Dia perancang dalam bidang apa saja.”

 

***

 

“Lee sungsaenim, aku membutuhkan gaun pernikahan. Designer-designer Taeyang payah,” ejek Dara. Taeyang hanya bisa menatap pahit. “Tepat sekali! Kau datang ke orang yang tepat! Aku sengaja membuatkannya untukmu saat tahu kaulah orangnya. Yang ini trend buatanku. Aku tak terlalu yakin ini akan menjadi trend atau tidak. Tapi kau yang menggunakannya. Mungkin bisa,” Lee sungsaenim menunjukkan sebuah gaun pernikahan berwarna putih yang begitu indah. benar-benar indah. “Wow… Lee sungsaenim, aku mau ini! Aku mau! Kenapa tidak bilang dari kemarin???” tanya Dara. “Ku kira kau akan merancangnya sendiri. Nilai wedding dress kemarin kau yang terbaik,” kata Lee sungsaenim. “Tak secepat itu,” Dara tersenyum. “Yang ini ambillah sebagai hadiah. Tapi… mana undanganku?” Lee sungsaenim mengajukan tangan. “Tentu,” Dara memberikan undangannya.

 

***

 

Dara duduk di ruang mempelai wanita. Jantungnya berdetak kencang. “Dara?” ibunya datang. “Eomma!” kata Dara. Mereka langsung berpelukan. “Kau tak bilang-bilang,” protes ibu Park. “Ini dak-dakan sekali. Eomma, kenapa jantungku berdebar kencang, ya? Apa ini karena aku takut terjatuh di altar?” tanya Dara. Ibunya tersenyum. “Bukan karena itu. Eomma selalu berdebar-debar saat bersama appa. Jantung berdebar-debar adalah tanda suka,” kata ibunya. “Ah, apa mungkin? Tapi…,” Dara berpikir. Apa salahnya menyukai suami sendiri?

 

“Dong Yong Bae, apakah kau bersedia untuk menjaga Park Sandara apapun keadaannya?” tanya penghulu. “Aku bersedia. Menjaga dan mencintainya,” Taeyang melengkapi. Dara langsung meliriknya tapi hatinya benar-benar berdebar. “Park Sandara, apakah kau bersedia mendampingi Dong Yong Bae apapun keadaannya?” tanya penghulu. “Aku bersedia. Mendampingi dan mencintainya,” Dara juga mengatakan hal yang sama. “Dengan janji suci ini, kalian telah sah menjadi suami-istri,” semua bertepuk tangan. Mereka pun bertukar cincin. *belum berakhir.

 

***

 

“HAH!!!” Dara berteriak di perjalanan mereka ke sebuah hotel di pulau Jeju. “Kau senang?” tanya Taeyang. “Ne,” kata Dara. “DARA!!! JOHAEYO!!! (aku suka kamu)” teriak Taeyang. “TAEYANG, JEONGMAL JOHAEYO!!!” balas Dara.

 

“Well, berapa kamar?” tanya Taeyang pada Dara. “Dua!” Dara menunjukkan jarinya. “Hhh… Kau yakin? Kalau begitu untuk apa kita ke sini?” kata Taeyang. “Dua, dua, dua!!!” berontak Dara. “Baiklah…”

 

*Malam harinya….

Dara berusaha tidur tapi tidak bisa. Matanya terus terbuka. Pikirannya selalu mengarah ke penghuni kamar sebelah, Taeyang. Selain itu dida juga takut dengan kamarnya yang berwarna merah maroon. Lampunya juga tak terang. “Hhh… Ini pasti rencananya,” gerutu Dara.

 

Sementara itu Taeyang sedang duduk dan membaca buku. Dari tadi matanya melirik ke pintu dan kamar sebelah. “Argh… kenapa dia tak datang juga???” gerutu Taeyang. Tiba-tiba… tok-tok-tok! “Oh, Dara!” Taeyang melonjak membukakan pintu. “ya, Dara?!” kata Taeyang dengan semangat. Tapi… impian hanya impian. Memang seorang yeoja, tapi layanan kamar. “Kau butuh kopi?” tanya yeoja itu. “Tidak. Pergilah!” Taeyang menutup kembali pintu kamarnya dan berjalan menuju tempat tidur dan segera bersiap tidur. Tapi… tok-tok-tok! Taeyang tak lagi bersemangat. Dibukanya pintu perlahan. “Apa lagi?!” tanya Taeyang dengan kesal. “Maksudmu?” rupanya orang itu adalah Dara. “AKu takut. Warna kamar itu merah maroon,” kata Dara. Taeyang langsung tersenyum lebar.

 

END

 

————————————————————————————

 

how??? garing, ya? hehehe… gak bakat di komedi… tapi… kritik dan saran, ya! ^_^ sekali lagi..

HARAP LAPORKAN BILA ADA ORANG YANG MEMPLAGIAT FF INI ATAU FF LAINNYA! GOMAWO…. ^_^

Iklan