Title : CONUNDRUM
Author : ddanghobak
Length : Oneshot
Genre : romance/drama/angst
Cast :
– Wooyoung (2PM)
– Ji Eun (IU)
– Nichkhun (2PM)
– Seulong (2AM)
– Taecyeon (2PM)

CONUNDRUM

{ Ketika perbedaan nasionalisme menjadi sandungan bagi sebuah kebahagiaan dan ketika takdir yang berbeda bertemu dan menciptakan masa depan yang baru. }

***

“TEMBAK!”

“Wooyoung-ah!” prajurit lain berteriak keras mengatasi kebisingan baku tembak di sekitar mereka. Desingan peluru memekakkan telinga, debu bercampur mesiu membuat mereka kesulitan untuk melihat jauh. Serangan dari Utara sudah berlangsung selama dua jam dan masih belum menunjukan tanda-tanda akan berhenti.

“Kapten!”

Prajurit yang dipanggil berlari menghampiri sang kapten. Ok Taecyeon dengan senapannya menunjuk ke arah timur, bajunya kotor penuh debu dan tanah, suaranya serak karena berteriak terus namun tetap penuh autoritas seperti biasa, “Kita kekurangan orang! Pertahankan pos 7!”

“Siap, kapten!” seru Wooyoung sambil memberikan salut, ia mendekap senapannya di dekat dada dan segera berlari secepat mungkin ke arah yang dimaksud sang kapten. Ia tak tahu lagi posisinya di mana, debu dan pasir menggesek kulitnya sementara ia meringkuk pergi ke tujuan. Pos tujuh hanya berjarak dua ratus meter dari posnya sekarang, namun di tengah-tengah serbuan ratusan peluru, dua ratus meter terasa sangat jauh. Terlalu jauh.

“Nickhun!” teriak prajurit itu ketika tangannya sudah menyentuh dinding pos tujuh—tempat sahabatnya bertugas. Ia menegakkan tubuhnya dan mengarahkan pistolnya ke seberang—tempat tentara Korea Utara berada. Dua tembakan lepas dari senapannya. Ia tidak menyangka dalam giliran jaganya di DMZ (Demilitarized Zone—zona perbatasan antara Korea Utara dan Selatan) akan terjadi baku tembak begini. Terakhir yang ia ingat adalah ia sedang mengamati garis perbatasan dengan teropong sebelum suara tembakan pertama terdengar.

“Wooyoung!”

Suara sahabatnya terdengar memanggilnya. Ia berlari ke depan pos, darimana suara Nickhun terdengar. Matanya memicing, mencari sosok di tengah-tengah kekacauan yang terjadi.

“Nickhun!”

“Arah jam dua!’

Prajurit itu berlindung di balik tembok rendah sepuluh meter dari pos. Ia mengutuk keras sambil melihat ke balik tembok. Ia mengambil nafas, berusaha untuk menenangkan jantungnya yang berpacu dan mempersiapkan senapannya. Wooyoung mencengkram laras senapannya kemudian berlari menuju arah Nickhun. Pekuru berdesing di atas kepalanya, suara ledakan dan teriakan membuat ia tidak bisa lagi mengandalkan indera pendengarannya. Wooyoung menembakan beberapa peluru asal-asalan ke arah pos Korea Utara, berharap ada setidaknya satu tembakan beruntung yang mengenai pihak lawan.

Tangannya gemetar—meskipun sudah bersiap untuk menjadi tentara, ini pertama kalinya ia menghadapi perang sungguhan. Jantungnya berpacu, tekanan yang ia rasakan jauh berbeda dengan sangat latihan. Ia bisa mati di sini.

Ia bisa mati.

Ironisnya, justru saat ia berpikir tentang kematian kejadian itu terjadi. Begitu cepat hingga ia hampir tidak merasakannya, sekilas ia pikir ia melihat Nickhun di kejauhan lalu kemudian ia merasakan tubuhnya terlempar karena dorongan peluru yang menembus bahunya. Ia bahkan tidak merasakan sakit, seakan inderanya lumpuh begitu saja. Mati untuk Negara adalah prestasi tertinggi seorang prajurit.

Wooyoung terjatuh dengan kepala terlebih dahulu membentur tanah—kemudian hitam.

***

Seorang dokter perempuan sedang membalut perban prajurit yang terluka ketika prajurit lain dengan bintang dua di seragamnya masuk ke dalam ruangan. Awalnya ia tidak menanggapi kehadiran prajurit itu, ia meneruskan perawatannya dan meletakan obat-obatan di samping meja pasiennya sebelum akhirnya ia membalikan tubuhnya dan menatap letnan bintang dua itu.

“Ji Eun-sshi, sebaiknya Anda pulang sekarang. Jenderal Kwon memintamu ke barak 301 besok. Banyak prajurit yang terluka akibat serangan Korea Selatan kemarin.”

“Baik,” ujar gadis itu, dengan sigap membereskan peralatannya. Letnan dua yang memanggilnya tadi beranjak ke sampingnya dan membawakan koper putih yang berisi peralatannya.

“Petugas medis di sana sudah merawat korban, Jenderal Kwon hanya ingin kau mengecek keadaan mereka besok.”

“Hm…”

Area DMZ bukan tempat yang aman untuk seorang dokter perempuan, mungkin itu sebabnya Letnan dua Seulong ditugaskan untuk mengawalnya dua puluh empat jam sehari. Meskipun begitu hal ini tidak menyurutkan niat Ji Eun sama sekali. Ia memegang sumpah dokternya.

“Seulong-sshi, siapa yang memulai serangan kemarin?”

“Entahlah, aku belum mendapat berita lengkapnya,” tapi letnan itu tidak menatapnya saat menjawab dan Ji Eun yakin itu artinya ia berbohong.

“Apa kita yang terlebih dahulu memulai?”

“Aku tidak tahu.”

“Seulong-sshi?”

Prajurit itu menghela nafas kemudian mengangguk. “Beberapa petugas yang sedang berpatroli mengatakan mereka melihat dua kapal Korea Selatan melintasi perbatasan.”

Ji Eun memutar matanya, entah berapa kali negaranya memulai serangan karena alasan tidak jelas itu. Memang tidak jauh berbeda dengan pasukan seberang yang kadang seperti cari masalah juga, tapi sudah tidak terhitung berapa kali Korea Utara mencoba menyerang. Ia tidak habis pikir kenapa begitu sulitnya bagi kedua negara untuk melupakan luka lama dan memulai sejarah baru. Inilah mengapa ia berpikir bahwa harga diri yang terlalu tinggi hanya membawa kesulitan.

“Eh, Seulong-sshi, di depan itu… salah satu prajurit kita?” Tanya Ji Eun, menunjuk ke semak-semak beberapa meter di depannya.

“Bukan, seragam itu… pasukan seberang!”

Ji Eun mengedipkan matanya, kemudian alih-alih menjauh ia justru mendekati sesosok tubuh itu. Seruan dari Seulong untuk menjauh tidak dihiraukannya. Ia terkesiap ketika melihat seorang prajurit muda, mungkin hanya beberapa tahun lebih tua darinya, terbaring di sana. Kepalanya berdarah dan lengannya tertembak. Jika dia salah seorang korban dari serangan kemarin, Ji Eun terkejut dia masih hidup dengan luka yang terlihat parah begitu.

“Ji Eun-sshi!”

“Seulong-sshi, tolong bantu aku membawanya ke klinik.”

“Ji Eun-sshi! Dia tentara Korea Selatan!” seru prajurit itu, berdiri menghalangi dokter itu untuk melangkah lebih jauh. Membawa pasukan seberang ke tahanan itu satu hal, tapi membawanya di klinik yang diperuntukan bagi pasukan Utara adalah hal yang berbeda. Mereka sudah cukup kesulitan dengan merawat korban dari pihak mereka sendiri tidak perlu ditambah dengan orang asing—musuh.

“Dia sekarat, Seulong-sshi.”

“Kau bisa mendapat sanksi berat karena menyusupkan musuh, Ji Eun-sshi, sebaiknya kau tinggalkan saja dia. Itu hukumannya karena sudah melewati garis perbatasan.”

“Terlepas dari kewarganegaraanku, Seulong-sshi, aku seorang dokter,” ujar gadis itu dengan tegas, “tidak ada dokter yang akan membiarkan seseorang yang butuh pertolongan begitu saja. Musuh sekalipun.”

Prajurit itu mendesah namun tidak mengatakan apa-apa lagi.

***

Ketika Wooyoung membuka matanya hanya ada warna putih yang dilihatnya. Ia memicingkan matanya, mencoba mengira-ngira di mana ia sekarang. Terakhir ia berada di pos-nya bersama Nickhun, kemudian isyarat perang terdengar. Ia menyentuh pelipisnya, mengerang pelan saat kepalanya terasa nyeri. Kemudian sosok seorang gadis dengan jas putih muncul begitu saja, memeriksa pelipisnya yang diperban.

Pemuda itu mengerutkan dahinya ke arah gadis itu, “Di mana aku?”

“Kau berada di klinikku,” ujar gadis itu dengan senyum ramah, ia menjauhkan dirinya saat melihat tidak ada yang salah dengan kepala sang prajurit, “bagaimana perasaanmu?”

“Jauh lebih baik daripada yang kukira.”

Dokter wanita itu mengangguk, masih tersenyum, “Lukamu sudah kubersihkan, kalau tidak ada komplikasi kau akan sembuh dalam dua minggu.”

“Er, oke, terima kasih,” ujar pemuda itu balas mengangguk. Ia terdiam, menggaruk pipinya kemudian memutuskan untuk bicara lagi, “namaku Wooyoung.”

“Ji Eun,” jawab gadis itu sambil lalu, sibuk mencari-cari sesuatu di dalam laci. Saat itu Wooyoung mengamati dokter itu. Dengan rambut panjang cokelat kemerahan yang diikat satu, dan jas putih khas dokter. Prajurit itu memicingkan matanya, berusaha melihat lebih jelas lambang yang ada di bagian depan jas putih itu.

“Kau dokter tentara Utara.” Pernyataan bukan pertanyaan. “Kenapa kau menolongku?”

“Apa seorang dokter butuh alasan untuk merawat orang yang terluka?” Tanya gadis bernama Ji Eun itu dengan nada sedikit tersinggung, “Menjadi dokter bukan sekedar profesi tetapi juga prinsip hidup. Kami bersumpah untuk selalu berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa, tidak ada hubungannya dengan politik atau SARA.”

“Ah, sungguh berdedikasi.”

Ji Eun tersenyum pasrah, menggelengkan kepalanya mendengar nada mengejek yang terdengar dari perkataan Wooyoung. “Aku yang menyambung nyawa dan kau yang mencabut nyawa, kurasa sudah sewajarnya kita tidak kompatibel.”

“Maaf,” ujar prajurit itu tanpa memandang Ji Eun, meskipun dari ekspresinya terlihat bahwa ia merasa bersalah sudah menyindir gadis itu, “aku hanya tidak mengerti kenapa kau yang seharusnya musuh mau repot-repot menolongku.”

Ji Eun menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu minta maaf, aku mengerti.”

Sunyi sesaat sebelum Wooyoung membuka mulutnya lagi, berdeham pelan, “Sudah berapa lama aku di sini?”

“Dua hari.”

“Perang masih berlanjut?”

“Keadaan sudah lebih terkendali,” jawab Ji Eun sambil melepas perban di kepala Wooyoung, “tapi suasana masih sangat tegang. Pasukan Amerika datang kemarin.”

“Pasti Korea Utara panik dan Cina mulai menggerutu lagi.”

Ji Eun tertawa, mengoleskan anti septik di kepala pemuda itu sebelum kembali membalutnya dengan perban, “kira-kira seperti itu keadaannya.”

Wooyoung mengangguk. Ia bisa membayangkan seluruh kejadian itu, Amerika akan langsung membela mereka, tidak perlu diragukan. Kemudian Cina akan merasa terancam dan meminta Amerika untuk mundur sementara kedua Korea menyelesaikan masalah. Entah berapa kali hal ini terulang, tapi apa kali ini perang bisa diredam lagi? Itu masalahnya.

“Setelah dua minggu, aku bisa ke medan perang lagi?”

“Secepat itu?” tanya Ji Eun agak terkejut, “bisa-bisanya kau memikirkan soal perang di saat terluka begini.”

“Aku seorang prajurit, berperang itu kewajibanku,” balas Wooyoung dengan nada mantap, ia melihat ke luar jendela dan tersenyum sedikit, “demi bangsa dan tanah air. Bukankah sudah kewajiban kita untuk melindungi negara?”

Ji Eun bukan tipe yang sensitif atau sangat nasionalis, tapi mendengar kata-kata dari prajurit itu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih kencang. Entah kata-kata penuh keyakinan itu, atau sinar mata sang prajurit yang penuh tekad, atau caranya mengatakan kalimat itu dengan sungguh-sungguh yang membuat bibir gadis itu melengkung dalam sebuah senyum tulus.

***

Wooyoung tidak tahu bagaimana kronologi kejadiannya, tapi satu waktu Ji Eun hanya seorang dokter baik hati yang kebetulan menolongnya dan pada waktu selanjutnya gadis itu terlihat seperti seorang Valkyrie yang dikirim untuk menjemputnya ke surga. Mungkin karena senyumnya yang hangat, atau karena tekad dan dedikasinya untuk menolong orang lain, atau mungkin idealismenya tentang kedamaian yang membuat Wooyoung juga berharap suatu saat dunia damai impian Ji Eun akan terwujud.

Entah bagaimana kronologi kejadiannya. Satu waktu Wooyoung terbaring di tempat tidur dan menghitung hari sampai ia bisa kembali ke medan perang, pada satu waktu lainnya ia berjalan-jalan di luar dengan Ji Eun, berharap saat-saat seperti ini akan berlangsung selamanya.

“Wooyoung-sshi!”

“Hei.”

“Apa maksudmu dengan ‘hei? Kau ini masokis atau apa sih,” gerutu gadis itu sambil mengecek perban di kepala dan lengan pemuda itu. Ia menghela nafas lega ketika melihat tidak ada luka yang kembali terbuka atau infeksi.

Wooyoung hanya nyengir dan kembali membaringkan tubuhnya di atas rumput. Ia memberikan isyarat kepada Ji Eun untuk duduk di sebelahnya.

“Kamu bisa mati muda kalau panik seperti itu terus.”

“Memangnya salah siapa,” ujar Ji Eun menatap tajam ke arah Wooyoung, meskipun pipinya yang menggembung membuat si pemuda justru tertawa melihatnya.

“Rasanya seperti berada di dunia yang berbeda, aku tidak perlu terus waspada akan ada serangan, bisa tidur dengan nyenyak…”

“Bertugas di DMZ sangat melelahkan, ya?”

“Ya dan tidak, lebih ke beban mental karena harus terus siaga tapi seringkali bosan karena tidak terjadi apa-apa,” Wooyoung tertawa kecil, “tapi ‘tidak terjadi apa-apa’ sebenarnya hal yang bagus, ya.”

“Kudengar penugasan di DMZ biasanya—bagaimana mengatakannya ya…”

“Buangan maksudmu? Biasanya prajurit-prajurit buangan yang tidak punya masa depan atau membuat pelanggaran ditempatkan di DMZ.”

“Ya… Seulong-sshi, dia seharusnya sudah diangkat jadi letnan satu, tapi karena dia menentang perintah atasannya, ia dikirim ke sini.”

Wooyoung mengangguk-angguk, “banyak yang seperti itu. Tapi aku dikirim ke sini karena ayahku ingin aku benar-benar merasakan perang, mengetahui ketakutan yang sebenarnya. Menurutnya aku terlalu—“

“AH!”

“Apa?” Wooyoung yang semula berbaring langsung bangkit, melihat sekeliling dengan panik.

“Luka di kepalamu,” ujar Ji Eun khawatir, seperti biasanya dengan sigap ia langsung berada di sebelah prajurit muda itu. Ia menyentuh perban yang sekarang sudah ternoda darah dengan hati-hati supaya tidak menyakiti Wooyoung. Gadis itu mencubit pipi pemuda itu sekuat tenaga sambil menggerutu, “jadi terbuka lagi ‘kan… dasar cacing.”

“Aku tidak apa-apa. Tidak sakit, kok.”

“Tidak apa-apa nenekmu.”

“Hei, sungguh, tenang saja, ini tidak ada apa-apanya dengan luka prajurit lain,” ujar Wooyoung  sambil menyentuh tangan gadis itu. Awalnya Ji Eun seperti ingin mengatakan sesuatu lagi, namun akhirnya ia hanya menghela nafas. Ia berusaha untuk tidak melihat ke arah Wooyoung karena ia tahu warna merah di perban yang terlilit di kepala pemuda itu pasti akan membuat insting dokternya muncul. Ia menghitung sampai tiga di kepalanya, berusaha menenangkan pikirannya.

“Apa kau merindukannya?—berperang maksudku.”

“Berperang demi membela negara adalah impianku,” jawab pemuda itu mengangkat bahu, mempererat genggamannya pada tangan gadis itu, “tapi aku senang di sini.”

“Suatu saat kau harus kembali.”

“Ya, memang…”

Sesaat hening, hanya terdengar suara gemerisik angin saja, dan suara samar-samar di kejauhan. Ji Eun menatap ke arah Selatan, ke arah DMZ. Gadis itu menggigit bibirnya, kemudian akhirnya bicara pelan-pelan, “Apa aku egois jika berharap hari itu tidak akan pernah datang?”

“Kalau iya, berarti aku juga.”

Mereka berdua hanya sepasang kehidupan yang dipertemukan oleh perang. Ketika batas wilayah menjadi suatu tembok penghalang untuk kasih, ketika perbedaan nasionalisme menjadi sandungan bagi sebuah kebahagiaan, dan ketika takdir yang berbeda bertemu dan menciptakan masa depan yang baru. Tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan terjadi di masa depan, tapi setidaknya saat ini saja, mereka ingin percaya bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diraih.

***

“Pasukan seberang mencarinya.”

Ji Eun menggigit bibir bawahnya, tidak tahu bagaimana cara menanggapi perkataan Seulong. Gadis itu meletakan toples obat di lemari, mengulur-ulur waktu untuk menjawab. Waktunya menutup klinik hari ini, Ji Eun menyibukan diri agar memiliki alasan untuk tidak memberikan Seulong respon. Ia mengerti bahwa cepat atau lambat hal ini akan terjadi—hanya saja, ia tetap tidak bisa menerimanya.

“Ji Eun-sshi, dia anak Jenderal Jang! Pihak seberang berkata akan menghentikan serangan jika dia kembali,” desak Seulong lagi. Pemuda itu biasanya tenang dan lembut, tapi dia memang sangat taat pada peraturan. Baginya, pengorbanan untuk tanah air adalah suatu kewajiban. Karenanya ia tidak suka pada keegoisan Ji Eun dan Wooyoung yang membuat garis tipis antara Korea Utara dan Selatan nyaris putus. Ia tidak ingin terjadi perang lagi.

“Ji Eun-sshi, kalian membahayakan kedua Negara.,,”

“Kalau tidak mau membahayakan kedua Negara seharusnya dari awal kalian tidak menyerang mereka!”

Seulong menatap Ji Eun yang terlihat frustasi. Ia tahu ini bukan sesuatu yang mudah, merelakan seseorang untuk pergi dan tahu mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi Seulong punya kewajiban pada negaranya; dan ia tidak akan membiarkan kisah romansa dua anak muda menghancurkan tanah airnya.

“Kalau ini tidak dihentikan akan semakin banyak korban yang jatuh.”

“Aku tahu,” ucap Ji Eun lirih, “aku tahu…”

“Kalau begitu—“

“Seulong-sshi, aku mengerti, kau tidak perlu mengatakan apa-apa lagi.”

Seulong menghela nafas panjang. Ia mengacak-acak rambut hitamnya kemudian berjalan ke arah pintu klinik. Seorang pemuda dengan pakaian kasual, jeans dan jaket hitam membuka pintu. Keduanya saling bertatapan selama beberapa detik. Kemudian Seulong menggelengkan kepalanya dan melirik bergantian ke arah Ji Eun dan pemuda itu.

“Kalian masih terlalu muda, perasaan yang kalian kira cinta hanyalah sebatas ilusi yang tercipta untuk menutupi kejamnya perang,” ujar Seulong, menepuk bahu Wooyoung pelan. Prajurit Korea Utara itu memberikan hormat ke arah kedua orang lainnya sebelum pergi dari sana, meninggalkan beragam pertanyaan dalam benak yang lain.

Giliran Wooyoung menghela nafas. Ia tahu cepat lambat ia harus mengucapkan selamat tinggal, meskipun selama ini ia mengubur pengetahuan ini dalam-dalam hanya untuk mengecap rasa cinta meski sebentar. Semua awal memiliki akhir, semua pertemuan memiliki perpisahan. Ini terjadi setiap saat, siapalah dia untuk menyalahkan Tuhan atas takdirnya? Prajurit itu tersenyum miris. Tidak ada yang bisa disalahkan. Kata-kata seperti andai ia terlahir di Korea Utara atau Ji Eun lahir di Selatan tidak akan pernah mengubah apa yang sudah terjadi.

Pemuda itu berdiri di depan sang dokter, dengan tekad menari di sinar matanya dan tangan terkepal. Jarak mereka yang hanya sejengkal terasa jauh—terlalu jauh.

“Aku harus kembali.”

“Aku tahu.”

“Kita mungkin tidak akan bertemu lagi.”

“Mungkin, tapi ini tanggung jawab kepada negara kita masing-masing, bukan?” Ji Eun tersenyum, meskipun tetesan air mata perlahan mengalir ke pipinya. Apakah ini cinta, apakah ini hanya ilusi seperti kata Seulong ia tidak tahu. Tapi rasanya pahit, mengetahui bahwa ini mungkin kali terakhir ia bisa melihat Wooyoung. “Jaga dirimu baik-baik.”

“Katakan kau tidak ingin aku pergi maka aku tidak akan pergi.”

“Aku tidak mungkin mengorbankan nyawa orang tak bersalah demi kita. Aku tidak seegois itu—dan aku tahu kau juga tidak seegois itu.”

“Aku—Ji Eun, kau mengerti perasaanku, kan?”

“Aku tahu,” ujar gadis itu masih tetap tersenyum, “karena itu aku ingin kau pergi. Karena kita sama-sama tahu kita tidak akan pernah bisa bahagia diatas pengorbanan orang lain.”

“Ji Eun,” bisik pemuda itu, menyentuh pipi Ji Eun dengan tangan gemetar, “Ji Eun, Ji Eun, Ji Eun, Ji Eun.” Ia terus mengulang nama itu, dalam bisikan yang semakin lama semakin lirih.

“Jangan lupa minum vitamin,” ujar Ji Eun dengan suara bergetar, “Lambungmu lemah jadi jangan paksakan makan makanan pedas. Kebiasaanmu minum kopi juga perlu dikurangi. Kamu—“

Ji Eun menggigit bibir bawahnya, mencegah isak yang nyaris lepas dari mulutnya.

“Wooyoung…”

Begitu namanya diucapkan oleh gadis itu, Wooyoung merasakan pertahanan dirinya yang terakhir hancur. Ia memeluk Ji Eun erat-erat, enggan melepasnya. Persetan dengan apa kata Seulong, ia tahu apa yang ia rasakan. Manisnya waktu yang ia habiskan bersama Ji Eun, rasa cemburu yang terkadang muncul saat ia melihat Seulong dekat dengan Ji Eun, kemudian sakit saat ini—saat ia tahu ia harus meninggalkan gadis itu, mungkin untuk selamanya. Kalau ini bukan cinta maka Wooyoung tidak tahu apa ini.

“Aku sayang kamu…”

***

Seorang pemuda duduk di pos jaga, tempat yang sama dengan tiga bulan lalu, saat terjadi serangan mendadak dari Korea Utara. Rambutnya yang tiga bulan lalu dicukur habis sekarang sudah panjang. Kulitnya yang kecokelatan terbakar matahari terlihat di balik seragam tentaranya. Sebuah senapan disandarkan di sebelahnya. Pemuda itu memeluk lututnya dan menatap jauh ke seberang.

“Wooyoung?”

“Hei, Nickhun. Kenapa?”

Pemuda yang dipanggil menoleh ke arah sahabatnya itu. Baru seminggu ia kembali dari Korea Utara, tapi ia merasa seperti sudah berbulan-bulan lamanya. Mendadak ia sudah berada di lingkungan yang familiar, dikelilingi oleh orang-orang terdekatnya. Jenderal Jang—ayahnya—membuat kesepakatan dengan Korea Utara di Panmunjeum untuk tidak meneruskan pertikaian kali ini. Kedamaian semu kembali hadir di zona perbatasan itu.

Prajurit itu tidak menyesali keputusannya untuk kembali. Bagaimanapun dengan ini ia menyelamatkan banyak nyawa. Setidaknya itu yang ia coba yakini, meskipun tiap menit ia berharap ia berada di suatu tempat yang lain. Kadang ia menyesal, entah berapa kali ia berandai-andai waktu itu Ji Eun menghentikannya untuk kembali. Mungkin sekarang ia sedang berada di samping gadis itu, menghirup aroma vanilla dari rambut cokelatnya.

Nickhun duduk di sebelahnya.

“Aku senang melihatmu kembali,” ujar Nickhun dengan cengiran lebar, memukul punggung Wooyoung cukup keras. “Kau tahu, kita sudah sedekat ini menuju perang yang sebenarnya,” lanjutnya dengan menunjukan jarak yang kurang dari satu senti antara ibu jari dan telunjuknya.

Wooyoung tersenyum kecil.

“Ya, untung aku bisa kembali.”

“Apa maksudmu ‘bisa’? Memangnya mereka berusaha mencegahmu kembali? Dan setelah kupikir, kau tidak pernah menceritakan apa yang kau alami selama berada di Utara!”

Wooyoung tidak menjawab, hanya menatap kejauhan sekali lagi. Ke satu titik, tempat Ji Eun berada. Ia menghela nafas kemudian menoleh lagi ke arah Nickhun, dengan senyum iseng di wajahnya, “Bagaimana hubunganmu dengan Victoria?”

“Kami baik-baik saja, dia baru meneleponku kemarin,” jawab Nickhun dengan senyum puas tapi dengan pipi sedikit memerah, “Tapi hei! Jangan mengalihkan pembicaraan.”

“Hehe…” Wooyoung terkekeh,  ia mengacak-acak rambutnya dan kali ini menatap langit. Langit yang biru dan luas. Di suatu tempat langit ini juga memayungi gadis itu—di suatu tempat, mungkin Ji Eun juga sedang memandang langit ini. Mungkin mereka tidak akan pernah seperti Nickhun dan Victoria yang bebas bertemu kapan saja, mungkin mereka bahkan tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi memori dari tiga bulan yang ia habiskan di seberang akan menguatkannya. Suatu saat—suatu saat mereka pasti bertemu lagi. Sampai saat itu tiba, mungkin ia akan sedikit iri pada Nickhun… tapi harapan itu selalu ada.

[ F I N ]

Voting ini terbuka bagi semua kalangan, author tetap, author free writer, dan readers.. Silakan memvote FF kesukaan kalian, HANYA BOLEH SATU KALI!

WARNING!! Sebelum kalian menekan tombol vote, pastikan kalau ini merupakan FF yang menurut kalian terbaik. Kami tidak akan bertanggung jawab jika terjadi pendoublean voting dan menyebabkan FF ini didiskualifikasi.. Harap pengertiannya!😀