Title : Dear Diary
Author : kikie__fumi46
Length  : Oneshot
Genre  : Friendship, Romance
Cast  :
1. Jung Yunho
2. Lee Jieun
3. Lee Chaerin
4. Cho Kyuhyun
5. Park Yoochun
6. Kwon Jiyong

DEAR DIARY

4 Juni 2011

Bukankah kita berada di bawah langit yang sama? Dan bukankah kita berdiri di atas tanah yang sama? Aku tahu jawabnya ya. Tapi, kenapa kita berbeda?

26 Mei 2011

Aku melihat senyummu yang indah itu sembari kau memperlihatkan sebuah boneka panda berukuran sedang di hadapanku. “Yunho oppa1 memberikan ini sebagai hadiah ulang tahunku.” katamu dengan riang. Aku balas tersenyum padamu.

Dari dulu hal seperti ini sudah biasa terjadi. Kau memang selalu mendapatkan apa yang kau inginkan, berbeda denganku. Dulu apa yang kau dapatkan itu selalu kau bagi denganku. Tapi sekarang berbeda. Kau sudah tidak akan membaginya lagi denganku. Aku pun tahu akan hal itu, tapi mengapa hati ini terus terasa sesak, terasa begitu sakit? Apa karena kita berbeda, karena aku tidak bisa mendapatkan apa yang kuinginkan?

1 Januari 1994

Tahun baru. Aku menghabiskan waktu sepanjang liburan denganmu, bermain di bukit dan sungai kecil di dekat rumahmu. Pagi ini kau mengajakku ke rumahmu.

“Jieun~ ayo kita pergi main!” serumu sambil menatap ke jendela kamarku di lantai 2. Aku melongok keluar jendela, melihatmu sedang melambaikan tangan padaku, lalu berkata, “Ya~ tunggu sebentar!”

Aku bergegas menuruni tangga dan melihat eomma2 di koridor. Aku segera berpamitan dan langsung menyerbu keluar rumah. Kau terlihat manis hari ini dengan pakaian barumu yang kuyakini sebagai hadiah tahun baru. Aku segera menghampirimu.

“Ayo cepat, eomma sudah menunggu.” katamu sambil menggandeng tanganku. Kami berlari kecil menuju rumahmu.

“Eomma, aku datang.” serumu. Aku berjalan tepat di belakangmu, mengikutimu masuk ke rumahmu. Kulihat ahjumma3 tersenyum ramah padaku.

“Ini Jieun, untukmu.” kata ahjumma sambil menyodorkan sebuah bungkusan padaku.

“Ayo lekas buka.” katamu tidak sabar. Kubuka bungkusan itu dan kukeluarkan isinya, sebuah baju yang persis dengan yang dipakai olehmu sekarang, hanya berbeda warna. Aku menatapmu dan ahjumma dengan heran. Kalian hanya balas tersenyum padaku.

“Terima kasih, ahjumma. Terima kasih, Chaerin.” kataku.

3 April 1995

Hari ini aku piket. Sepulang sekolah aku bergegas mengerjakan tugas piketku. Aku berkata padamu supaya kau pulang duluan. Kau bergumam samar lalu pergi diiringi senyum manis itu. Selesai piket, aku segera beranjak dari kelas dan pulang. Ketika aku berjalan keluar sekolah, aku melihatmu menangis dan sedang dikelilingi beberapa anak laki-laki. Aku segera berlari menghampirimu.

“Jangan ganggu Chaerin!” teriakku. Aku mengenali salah satu wajah anak laki-laki itu, dia Cho Kyuhyun. Aku mengambil ranting pohon cukup besar tidak jauh dari situ dan menyuruh mereka menjauh dari Chaerin.

Setelah akhirnya mereka pergi, aku langsung menghampirimu. Air matamu terus keluar dan aku tak tahu harus berbuat apa. Aku merangkul pundakmu dan mengajakmu pulang, sembari menyodorkan sapu tanganku padamu. Kau segera menerimanya. Ya, kami memang selalu saling menolong dan berbagi.

10 Juli 2000

Penerimaan siswa baru di SMP. Dan takdir lagi-lagi mempertemukan aku denganmu. Di sekolah yang sama dan kelas yang sama. Kau dan aku menjerit girang begitu mengetahui hal ini. Kau segera memelukku erat dan berkata, “Senangnya bisa bersama denganmu lagi, Jieun.”

Aku tersenyum dan mengangguk. “Aku juga senang, senang sekali.” kataku sambil balas memelukmu. Kehidupan yang baru ini pun akan kami lewati bersama.

15 Desember 2000

Kau mengagetkanku siang ini dengan berkata bahwa kau ingin mencalonkan diri sebagai ketua kelas pada semester depan. Padahal dulu kau sama sekali tidak ingin menonjolkan diri di kelas ataupun merepotkan dirimu sendiri dengan menjadi pengurus kelas, sama sepertiku. Tapi itu dulu. Sekarang kau sudah berubah, berubah pada masa beranjak dewasa ini.

16 Febuari 2001

Kau mendapatkan apa yang kau inginkan, menjadi ketua kelas. Tidak sulit tentunya, mengingat kau memiliki wajah yang meyakinkan dan manis, juga dengan prestasi yang tidak bisa dianggap remeh, kau bisa menjadi ketua kelas. Aku tersenyum menatapmu yang terlihat sangat gembira hari ini.

Aku mulai merasakan perbedaan di antara kami. Chaerin pintar dan terkenal, tidak hanya di antara teman-teman sekelas tapi juga para guru, berbeda denganku yang tergolong murid ‘biasa’. Tidak ada yang istimewa dariku. Rasanya aku merasa kau semakin jauh sekarang, jauh dan tidak seperti dulu. Mungkin kami memang berbeda.

18 Agustus 2004

Kau tumbuh menjadi gadis SMA yang cantik. Aku yakin kau pasti memiliki banyak fans, tak hanya di sekolah tapi juga di lingkungan rumahmu. Dan tidak dapat dipungkiri, hampir semua laki-laki di sekolah ini menginginkanmu menjadi pacarnya. Semua itu terbukti saat pulang sekolah. Begitu kau membuka loker, pastilah ada 1 atau 2 pucuksuratcinta untukmu, dan hal itu terjadi hampir setiap hari.

Aku? Aku tidak banyak berubah. Hanya sekarang tinggi badanku sudah bertambah. Rambutku masih sebahu seperti sejak aku masih kecil dan aku masih dengan status murid ‘biasa’ yang kusandang sejak SMP. Aku tidak terkenal di kalangan anak laki-laki, dan aku tidak pernah mendapatsuratcinta di loker seperti Chaerin.  Satu hal yang sama sejak dulu, kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan, tidak sepertiku yang mungkin harus sampai berusaha setengah mati untuk mendapatkan sesuatu.

15 Oktober 2004

Malam ini kau menginap di rumahku, dan sepanjang malam kita asyik mengobrol. Salah satu topik yang menarik bagiku adalah kisah percintaanmu.

“Park Yoochun menembakmu? Park Yoochun dari klub sepak bola itu?” tanyaku penuh rasa penasaran padamu yang sedang duduk tepat di depanku. Kau mengangguk sambil tersipu malu. Aku tersenyum.

“Jieun~ah, aku bingung. Apa aku harus menerimanya?” tanyamu.

“Bukankah kau juga menyukainya, Chaerin? Aku tahu kau sering memperhatikan Park Yoochun sewaktu klub sepak bola latihan di lapangan. Sudah, terima saja.” bujukku sambil menggenggam erat tanganmu. Tatapan matamu seolah ragu dengan bujukanku.

25 Oktober 2004

Sial, apa di mata seorang Park Yoochun aku ini salah seorang dari fansnya? Itu salah besar! Aku bukan fansnya dan tidak menginginkannya untuk menjadi pacarku. 3 hari yang lalu Chaerin menolak pernyataan cintanya, aku tidak tahu apa alasannya menolak Park Yoochun. Dan tadi sepulang sekolah dengan konyolnya dia menyatakan cinta padaku, pernyataan cinta pertama yang kudapatkan di SMA.

Aku tidak menyukaimu Park Yoochun, dan aku tahu aku hanya sebagai pelarian dan pelampiasan bagimu karena ditolak oleh Chaerin. Kau tahu aku ini sahabat karib Chaerin dan memang sejak kamu tertarik padanya dan melakukan ‘pendekatan’ padanya, otomatis kita sering bertemu. Tapi bukan berarti aku juga menyukaimu, yang mungkin sama seperti Chaerin menyukaimu. Kau memang memiliki wajah tampan, tapi aku tidak menyukaimu. Aku bukan Lee Chaerin, aku ini Lee Jieun, kami berbeda.

28 September 2006

Aku membaca email darimu, email yang dikirim dari Jepang. Ya, Lee Chaerin sekarang ada di Jepang, sedang melanjutkan sekolahnya disana. Masih jelas dalam ingatanku waktu kau berkata ingin melanjutkan sekolah di Jepang dan menjadi seorang pengacara.

Aku tentu saja masih tinggal diSeoul. Aku bersekolah disini, cita-citaku tidak setinggi Chaerin, cita-citaku hanya menjadi seorang akuntan. Kami memang berbeda, semakin berbeda dan memiliki jalan hidup sendiri.

24 Maret 2007

Ini pertama kalinya aku merasa sebagai orang paling beruntung di dunia. Hari ini aku bertemu dengan seorang seniorku, dia bernama Jung Yunho. Sejak pertama kali melihatnya dan berkenalan dengannya di forum kampus, jujur aku langsung jatuh cinta padanya. Klise memang, tapi aku benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seniorku itu.

Jung Yunho, pemuda dengan badan yang tinggi, tegap dan cukup berotot. Matanya yang tergolong sipit dan selalu dihiasi dengan kacamata segi-empat semakin membuatnya terlihat ganteng. Senyumnya selalu terbayang dalam benakku. Aku berharap bisa sering bertemu dengannya di kampus, bahkan kalau bisa setiap hari. Aku selalu ingin menyapanya dan melihat senyumnya. Aku bahkan ingin terus bersamanya. Inikah rasanya jatuh cinta?

9 Mei 2007

Aku bangun kesiangan pagi ini, karena semalaman aku menelepon Chaerin dan menceritakan padanya tentang Jung Yunho, senior idamanku itu. Aku baru tidur sekitar jam 3 pagi. Tapi aku bersyukur bangun kesiangan pagi ini, karena saat aku terburu-buru menuju kampus aku bertemu dengan Jung Yunho. Dia membawa motor warna hitam metalik, mengenakan jaket kulit dan helm yang membuatnya terlihat sangat ganteng dan keren. Dia menawari tumpangan ke kampus padaku. Aku sempat ragu, tapi akhirnya aku menerima dengan senang hati. Sepanjang jalan aku terus berharap kampusku ada di ujung dunia supaya aku bisa terus bersamanya, bersama Jung Yunho. :D

6 Juni 2008

Aku menangis sesenggukan hari ini. Tapi ini tangis bahagia. Hari ini ulang tahunku dan aku mendapat hadiah yang luar biasa. Selain ucapan selamat dari keluarga, teman, dan Chaerin, aku mendapat kejutan dari Jung Yunho. Sekitar jam 1 pagi ini, dia datang kerumahku sambil membawa kue tart lengkap dengan lilin di atasnya dan tak lupa dengan diiringi lagu ‘Selamat Ulang Tahun’. :) Sebenarnya dia datang dengan beberapa teman kampusku, tapi yang membuatnya spesial, dialah yang membawakan kue tart itu untukku.

Dia memberiku hadiah sebuah jam saku antik. Katanya itu spesial untukku yang suka menghabiskan waktu di perpustakaan, supaya aku tidak lupa waktu. Aku tersenyum, tanpa sadar air mataku jatuh. Teman-teman kampusku langsung heboh melihatku menangis, begitu juga dengan Jung Yunho. Aku sangat bahagia sekarang. “Terima kasih.” kataku di sela-sela tangisku. Bisa kurasakan tangan hangat Jung Yunho menyentuh pundakku dan berkata, “Iya, sudah jangan menangis, Jieun~ah. Selamat ulang tahun, ya.”

14 Febuari 2009

Hari ini Valentine, dan aku sudah menyiapkan sekotak coklat spesial buatanku untuk Jung Yunho. Tapi aku bingung bagaimana cara memberikannya. Saat aku berjalan di koridor kulihat sekelompok perempuan sibuk berdiskusi sesuatu. Waktu aku melewati mereka, kudengar sekilas pembicaraan mereka.

“Ayo kita letakkan coklat ini di ruangan klubnya saja. Di atasnya kita tuliskan pesan ‘Untuk Jung Yunho oppa’, bagaimana?” kata seorang perempuan dengan rambut ikal. Tak lama kemudian, sekelompok anak itu pergi menuju ruang klub Yunho, iseng kuikuti mereka. Ruang klub kosong, dan yang mengejutkan ternyata disana sudah ada setumpuk kotak coklat lengkap dengan berbagai ucapan hari Valentine. Aku terkejut.

Setelah sekelompok anak tadi pergi aku masuk ke ruang klub dan menatap tumpukan coklat itu. Aku menghela napas berat. Harusnya aku sadar, Jung Yunho memiliki banyak fans. Dengan berat hati, aku menyelipkan kotak coklatku diantara tumpukan kotak coklat itu tanpa menuliskan pesan untuknya.

22 Juni 2009

Malam ini kuhabiskan dengan Chaerin, kami mengobrol lewat ponsel.

“Cepat nyatakan cinta padanya kalau begitu.” katamu dengan semangat.

“Tapi Chaerin~ah, aku tidak yakin kalau dia juga menyukaiku dan akan menerima pernyataan cintaku. Kalau ditolak bagaimana?” kataku putus asa.

“Sebaiknya dicoba dulukan. Nanti kau keduluan orang lain loh.” bujukmu padaku.

“Masa aku yang harus menyatakan cinta padanya?” kataku ragu.

“Tidak ada salahnyakan, yang penting kau menyukainya. Ayolah Lee Jieun~”

“Tapi. . .” aku tidak melanjutkan kata-kataku.

“Aku penasaran, siapa sebenarnya orang yang sedang kau taksir ini, Jieun? Siapa namanya?” tanyamu penuh rasa ingin tahu.

“Nanti akan kukenalkan padamu kalau kau sudah kembali ke Seoul.” kataku pelan.

5 September 2009

Semalaman aku tidak bisa tidur, seharian aku tidak konsentrasi mendengarkan kuliah dosenku di kampus, sepanjang waktu aku terus memikirkan Jung Yunho. Kalian tahu? Dia mengajakku kencan hari minggu nanti. Betapa senangnya aku. Tuhan, terima kasih, terima kasih banyak. Tidak sabar menanti hari itu datang. :)

6 September 2009

Hari bersejarah dalam hidupku. Seharian ini aku kencan dengan Jung Yunho. Berjalan-jalan, menonton film, sampai makan malam bersama. Sungguh, hari ini tidak akan kulupakan seumur hidup. ^^ Kepalaku sedikit pusing, mungkin karena kelelahan berjalan-jalan hari ini, atau mungkin karena tadi siang aku naik roller coaster? :p. Tapi aku tetap bahagia, dan itu karena Jung Yunho. :)

17 Juli 2010

Betapa terkejutnya aku melihatmu yang tiba-tiba muncul di hadapanku siang ini di kantor tempat kerjaku. Lee Chaerin, kau kembali keSeouldiam-diam dan memberi kejutan padaku. Kau berubah menjadi semakin cantik sekarang dan kau telah menjadi semakin dewasa. Aku langsung memelukmu erat, melepas kerinduan, dan malam ini kau menginap di rumahku. Cerita panjang lebar membuat kami baru terlelap jam 2 pagi.

“Jieun~ah, ayo cepat beri tahu aku laki-laki yang kau sukai itu.” bujukmu. Aku hanya tersenyum menatapmu. Chaerin, sebenarnya kau sudah bertemu dengannya tadi siang. Ya, saat kau muncul di kantorku, kebetulan aku sedang bersama Jung Yunho. Oh ya, aku memang sekantor dengan pria idamanku sejak kuliah itu, rasanya semakin jodoh saja. :D Tadi aku pun sudah mengenalkanmu padanya. Tapi aku belum memberitahumu kalau dia laki-laki pujaanku. Belum saatnya, kurasa.

7 Agustus 2010

Mungkin mengenalkanmu pada Jung Yunho adalah sebuah kesalahan, kesalahan yang mungkin akan kutanggung akibatnya kelak.

“Jieun~ah, temanmu yang waktu itu datang ke kantor siapa namanya?” tanya Yunho padaku siang ini saat makan siang. Aku diam sejenak dan menatapnya heran.

“Lee Chaerin. Memangnya ada apa?” tanyaku. Yunho hanya mengangguk samar lalu melanjutkan makannya.

“Tidak, hanya ingin tahu saja.” jawab Yunho singkat.

“Dia menyukai temanmu itu, Jieun. Benarkan??” celetuk Kwon Jiyong sambil merangkul pundak Yunho, lalu tertawa jahil.

“Eh?” tanyaku kaget, sementara Yunho dan Jiyong sibuk berdebat dan tertawa bersama. Benarkah itu? Apa aku tidak bisa mendapatkanmu, Jung Yunho, dan harus merelakanmu? Aku pusing tiap kali mengingat hal ini, mengingat kalau mungkin Jung Yunho memang menyukai Lee Chaerin.

4 September 2010

“Jung Yunho itu ganteng juga ya, Jieun.” katamu padaku di telepon. Napasku tercekat seketika. Apa ini pertanda kalau kau menginginkan laki-laki yang sama denganku? Jangan, kumohon Tuhan, untuk kali ini saja, jangan biarkan Lee Chaerin menyukai Jung Yunho.

“Ya, kurasa juga begitu.” sahutku singkat.

“Eh, mana janjimu mengenalkanku pada laki-laki pujaanmu itu, Jieun? Aku sudah penasaran sekali.” aku hanya terdiam.

“Mungkin lain kali, Chaerin, dia sedang sibuk sekali sekarang.” jawabku asal. Mana bisa aku mengatakan kalau Jung Yunholah laki-laki pujaanku sementara kau juga mungkin mulai menyukainya. Apa yang harus kulakukan? Memikirkan ini membuat kepalaku sakit.

24 Desember 2010

Malam natal terburuk dalam hidupku. Selain kulewati sendirian, malam natal ini semakin terasa kelam ketika aku tahu kalau kau diajak Jung Yunho menonton sebuah drama musikal malam ini. Dan semakin terasa suram ketika aku membaca pesan singkat darimu.

“Jieun, Jung Yunho menyatakan cinta padaku!!! :) ” hatiku teriris membaca ini.

Bagaimana tidak, lelaki yang kucintai sejak betahun-tahun lalu bisa kau miliki hanya dalam waktu beberapa bulan. Memang sejak pertemuanmu dengan Yunho yang tidak sengaja itu, kalian sering menanyakan tentang satu sama lain padaku. Aku yakin kalian saling jatuh cinta pada saat pertama kali bertemu. Bahkan bulan lalu, Yunho memintaku untuk menjodohkannya denganmu. Apa yang bisa kuperbuat? Aku hanya bisa menurutinya, dan hasilnya, kalian menjadi sepasang kekasih sekarang. Perih di hatiku memperparah sakit kepala yang belakangan sering kurasakan. Tuhan, tak bisakah hidupku lepas dari bayangan Chaerin?

29 Januari 2011

Kepalaku sakit, hatiku perih, napasku berat, jiwaku serasa pergi sedikit demi sedikit dari ragaku. Melihat kalian bahagia menjadi sepasang kekasih adalah cobaan berat dalam hidupku. Mendengar cerita kalian tentang satu sama lain membuat luka dalam di hatiku. Rasa sakit ini semakin akut. Kuatkan aku, Tuhan, demi sahabatku, Lee Chaerin.

10 Febuari 2011

Jiwaku terkoyak menatap selembar kertas dalam genggamanku. Sore ini aku mengambil hasil pemeriksaan di rumah sakit. Eomma yang membujukku untuk ke dokter karena sakit kepala yang belakangan sering kurasakan. Semangat hidupku hilang sudah.

Kanker otak menyerangku dan harapan menipis karena kini sudah stadium akhir. Waktuku tidak lama lagi. Aku menangis di pelukan eomma malam ini. Eomma terus menghiburku dan menguatkanku dengan berkata masih ada harapan. Tapi itu tidak berhasil karena sebenarnya aku juga sudah tidak kuat lagi melihat Chaerin dan Yunho, menyaksikan kebahagiaan mereka, rasanya lebih baik aku mati saja. Bahkan sampai akhir waktuku, sahabatku, Lee Chaerin, tetaplah seorang yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, berbeda denganku. Dunia ini sangat tidak adil. Apa sebenarnya rencana Tuhan di balik semua ini?

27 Maret 2011

Aku tidak bisa mengatakan tentang kanker otak itu pada Chaerin dan juga Yunho. Lebih baik tetap seperti ini sampai waktuku habis. Aku tidak ingin menjadi beban dan membuat kalian khawatir berlebihan padaku. Biarkan aku melihat senyum dan tawa kalian, mendengar suara kalian, yang mungkin untuk terakhir kalinya. Biarkan aku belajar untuk mengikhlaskan semuanya. Jung Yunho, tidak tahukah kau selama ini aku mencintaimu?

3 Juni 2011

“Jieun~ah, kau baik-baik saja? Kau kelihatan pucat.” kata Yunho sembari merangkul pundakku dan membantuku berdiri. Aku hampir jatuh tadi, kehilangan keseimbangan karena rasa sakit yang mendadak menyerang kepalaku. Aku tersenyum padanya.

“Tidak apa-apa, hanya sedikit tidak enak badan.” kataku sambil menatapnya. Tatapan matanya begitu hangat menyiratkan kekhawatiran. Sorot mata yang selalu kurindukan, yang sudah lama menghilang darinya untukku. Kurasakan lengannya melingkari pundakku, genggaman tangannya yang hangat, yang juga menguatkanku. Semua itu yang selalu kurindukan dan yang tak pernah bisa kumiliki. Jung Yunho, aku mencintaimu, sangat mencintaimu.

6 Juni 2011

Mungkin ini adalah tulisan terakhirku. Dear Diary, bisakah aku minta tolong? Tolong sampaikan pada Lee Chaerin, bahwa dia adalah sahabatku, yang selalu kusayangi sampai kapan pun, dalam keadaan apa pun. Dan tolong katakan pada Jung Yunho, bahwa selama ini aku mencintainya, sejak dulu, sekarang, besok dan sampai akhir aku menutup mata.

– TAMAT –


1 Panggilan dari adik perempuan untuk kakak laki-laki

2 Panggilan untuk Ibu

3 Panggilan untuk Tante

Voting ini terbuka bagi semua kalangan, author tetap, author free writer, dan readers.. Silakan memvote FF kesukaan kalian, HANYA BOLEH SATU KALI!

WARNING!! Sebelum kalian menekan tombol vote, pastikan kalau ini merupakan FF yang menurut kalian terbaik. Kami tidak akan bertanggung jawab jika terjadi pendoublean voting dan menyebabkan FF ini didiskualifikasi.. Harap pengertiannya!😀