Title   : Fact and Fiction
Cast    :
– Lee Hyuk Jae (Eunhyuk Super Junior)
– Choi Seung Hyun (TOP Bigbang)
– Cho Kyuhyun (Kyuhyun Super Junior)
– Kenichi Matsuyama (Japan Actor)
– Lee Hwanhee (OC)
Genre   : Romance, Psychology
Length : Oneshoot
Rating  : PG-15/straight
Author : Iis Afriyanti (zantzhwanhee)
Summary: satu kilasan memori mengantarkanmu pada ingatan yang terpendam, sementara tujuh kilasan memori akan membawamu kepada dirinya…

Mengapa kita kesini?”

Dia tidak menjawab, pemuda dengan yukata 1 biru tua dengan ornament garis-garis asimetris yang memesona terus mendaki anak-anak tangga itu.

“Kau sedari tadi diam saja. Jawablah pertanyaanku! Kenapa aku harus mengikutimu? Aku lelah!“

Ku telusuri jalan berbatu yang terus menanjak membentuk teras-teras kecil di sepanjang langkan bukit. Di atas sana berdiri sebuah kuil tua. Napasku terengah dan keringat mengalir membasahi yukata milikku yang berwarna putih berhiaskan bunga sakura berwarna ungu muda yang bermekaran menampik semilir angin saat hendak menerbangkan serbuk-serbuk sarinya. Di bawah sana, para pelancong dan penduduk asli turut bersemarak mengikuti perayaan. Tapi, aku tak mengerti apa yang mereka rayakan. Pohon-pohon bambu berhiaskan semacam kertas permohonan yang diikatkan di tiap tangkai bambu hiruk terbawa angin. Hiasan-hiasan kertas lipat berwarna-warni nampak begitu hidup membuat rona cerah. Pohon-pohon bambu itu memenuhi sepanjang kanan-kiri jalan yang menuju ke kuil, sehingga seperti halnya kanopi yang menutupi langit-langit dan membentuk terowongan bambu. Kertas-kertas yang berwarna-warni bergelantungan indah bak lentera-lentera yang tersulam.

“Siapa kau sebenarnya?”

Pemuda itu menoleh barang sejenak. “Kau akan temukan jawabannya di atas sana.“

~oo0O0oo~

Seoul, Korea. 1st July 2011

Hwanhee’s POV

“Hei, bangun Kelinci keciiil..!”

Wajah Eunhyuk yang lebih serupa hantu di siang bolong terpampang jelas di hadapanku. Matanya yang dipaksakan bulat itu lebih nampak seperti biji kacang almond yang aneh. Senyumnya lebar, menampakkan barisan gigi putih bersih yang semakin membuatku merinding saja. Ia terlihat bahagia sekali, tak peduli bila tubuhku basah oleh keringat.

Mimpi buruk itu lagi. Aku mendesah lega karena sudah berada di alam sadar sepenuhnya. Mimpi yang selalu sama setiap malamnya dan tanpa ampun menyiksaku. Tapi, Eunhyuk sepertinya lebih dari sekedar mimpi buruk!

“Oppa2! Bisakah kau sekali saja tak membuatku kaget setiap bangun tidur? Menyebalkan sekali!“ gerutuku sambil menyingkirkan wajahnya dengan paksa. Tapi wajah itu kembali mematut dirinya di hadapanku.

“Ah, aku catat itu!“ Eunhyuk mengetuk beberapa kali dahinya dan menuliskan sesuatu disana dengan pena fiktif.

Ku perhatikan wajahnya yang semakin lama semakin aneh saja. Hah, bagaimana bisa aku mendapatkan saudara laki-laki seperti dia? Kau tahu, ini sama saja dengan kutukan! “Kenapa senyummu aneh begitu? Pasti ada yang tidak beres!“ tebakku asal, sebenarnya tidak perlu aku mengatakan itu karena otaknya memang tak pernah beres.

Eunhyuk tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar dari sebelumnya, ah hentikan itu. “Aku akan membawa beberapa teman malam ini. Tidak banyak kok. Hanya beberapa. Boleh kan?“ Eunhyuk mengedipkan matanya beberapa kali menggodaku.

“Terakhir kali kau berkata ‘beberapa‘, temanmu itu sukses menghancurkan rumah dalam semalam. Haruskah aku percaya?“ Aku mendelik sebal padanya.

Mata Eunhyuk bersinar-sinar. “Ayolah~ Kau kejam sekali pada Oppa-mu ini. Ya? ya? ya? ya? Jika kau berminat, kau boleh saja bergabung dengan kami! Bagaimana? Dari pada aku harus mengantarkanmu ke rumah si makhluk bawah karang laut itu, ya kan? Sudah waktunya kau melihat namja3-namja yang lebih baik dari pada berkutat pada makhluk yang selalu bersamamu itu! Aku akan kenalkan kau pada Donghae, dia itu namja tampan di kantorku. Ia baik sekali pada semua gadis! Dan ah, hampir saja aku lupa. Ada lagi, Siwon namanya. Dia… bla… bla… bla…“

Lirikan mata Eunhyuk benar-benar menyiksa saraf-saraf penglihatanku. Bergabung dengan teman kantor Eunhyuk baik untuk kesehatan, karena mereka semua luar biasa tampan sekali! Selalu saja dapat membuat jantungku berhenti berdetak beberapa detik. Namun, mungkin hanya Eunhyuk saja yang aneh. Pernah suatu hari Eunhyuk berkata padaku yang langsung membuat mulutku terbungkam, “Mungkin aku aneh saat ini, tapi lihat saja nanti orang aneh lah yang akan menguasai dunia!“ Meskipun begitu, aku tetap saja menyayangi Eunhyuk karena dia satu-satunya orang yang aku punya di dunia ini.

“Kurasa lebih baik kau antarkan aku ke rumah makhluk bawah karang laut itu. Tapi, janji padaku untuk tidak membawa yeoja dalam4bentuk apapun ke rumah ini! Arasseo5?!“

“Yattaaa!!“ seru Eunhyuk senang sambil menerjang tubuhku langsung tanpa ampun dan memelukku sampai terjerembab kembali ke tempat tidur.

~oo0O0oo~

Seung Hyun masih menikmati makan malam dengan sedikit agak bernafsu tepat di taman belakang rumahnya yang bergaya Inggris, saat aku menghampiri setelah diantarkan oleh salah seorang pengurus pribadinya. Tubuhnya hanya terbungkus T-shirt tipis kebesaran berwarna coklat dan jins berwarna khaki. Salah satu tangannya memegang garpu perak, dan yang lain membawa sebuah buku. Ku lirik sesaat buku itu berjudul Death and The Maiden: The Liebermann’s Papers karya Frank Tallis. Penulis sekaligus dokter yang sangat dipuja Seung Hyun akan pemikiran-pemikiran terhadap kasus-kasus kepolisian dan ia selesaikan dengan teori-teori psikoanalisis dari sang tokoh utama Max Liebermann di bawah besutan tokoh psikologi yang terkenal dengan teori Ice Berg-nya.

Sigmund Freud.

Aku menempatkan diri di hadapannya dan segera melahap gulungan Fettucine yang sudah hampir masuk ke mulut Seung Hyun. Ia melirik ku dengan takjub sesaat, namun setelah itu mendengus kesal. Aku membalasnya dengan kerlingan mata khas Eunhyuk.

“Kali ini apa yang membuatmu ke rumahku?“ tanya Seung Hyun acuh tanpa matanya terlepas dari barisan kata-kata Tallis. Choi Seung Hyun, namja terdekatku semenjak aku dan Eunhyuk pindah ke Korea. Berbeda dengan Eunhyuk yang kelebihan energi, Seung Hyun terlihat seperti terprogram untuk tidak merespon dengan emosi apapun pada lawan bicaranya. Walaupun ia terlihat sangat tidak peduli, sebenarnya dia sangat memperhatikan keadaanku. “Eunhyuk membuat pesta untuk para bujangan lagi?“

Aku mengangguk dengan mulut penuh dengan Fettucine, “Dia menyarankan kau bergabung lho! Dan dia juga sudah bersumpah untuk tidak berbuat yang aneh-aneh padamu.“

“Apa yang bisa dipercaya dari kakakmu itu?“ Seung Hyun melengos ke arah lain. Perlahan dia meraih cangkir teh yang isinya masih hangat. Ia mencecap teh itu sesaat dan menawarkannya padaku, tapi aku menggeleng. “Sudah memesan minum pada Bibi Eun Soo?“

“Sudah. Dua gelas Latte! Boleh kan? Aku haus sekali,” ujarku setengah meringis.

“Sesuka kau saja.“ Seung Hyun menggelengkan kepalanya tanda maklum. “Jadi, kau akan menginap disini malam ini?“

“Sepertinya begitu, karena teman-teman Eunhyuk tak mungkin pulang begitu saja. Kau baca apa sih? Serius sekali! Kali ini Kakek Liebermann itu bercerita tentang apa?“

“Kau tak suka psikologi kriminal, ku jelaskan sampai berbusa pun kau akan tertidur nantinya. Kau tak paham.“

“Kenapa tidak mendongengkanku cerita itu saja sebelum tidur?“ godaku.

Seung Hyun melirikku dengan pandangan yang sulit dijelaskan.

~oo0O0oo~

“Kau percaya dengan Deja vu?“

Aku terus meniti anak-anak tangga itu satu persatu mengikutinya yang tak jauh beberapa anak tangga di depanku. Kuil itu terlihat dekat, namun mengapa terasa jauh sekali. “Tidak. Untuk apa aku mempercayai yang aku tak mengerti? Rasanya seperti mempercayai bahwa aku pernah mengenalmu. Mustahil sekali.“

“Kau memang mengenalku. Mengenalku dengan baik.“

“Kau pasti bercanda. Aku baru bertemu denganmu disini.“

“Dimana tepatnya?“

Aku terdiam. Entah dimana tepatnya. Ini seperti tak pernah ada awal mula dan tanpa titik akhir. Ku teliti sepanjang anak tangga yang menuju ke kuil. Ya, benar. Dimana tepatnya? “Aku tidak tahu.”

Pemuda itu tersenyum padaku sekilas. “Begitulah diriku, aku adalah seorang yang tanpa awal dan entah kapan akan berakhir. Aku hanya sebuah sisipan dalam hidupmu. Tidak ingatkah kau bahwa kita sebenarnya selalu bersama, berpikir bersama, dan memahami bersama.“ Ia meraih tanganku lembut.

Aku menatapnya semakin tidak mengerti.

~oo0O0oo~

2nd July 2011

Seung Hyun’s POV

Ku perhatikan raut wajahnya pagi itu yang nampak gelisah dalam tidurnya. Peluh membasahi seluruh tubuhnya, napasnya agak tersengal, sesekali mengeluh dan bola mata dalam kelopaknya bergerak-gerak tak tentu arah. Apakah ia sedang bermimpi buruk? Aku tak tahu, namun aku sangat terkejut saat melihat butiran air mengalir dari kelopak matanya yang terpejam itu. Hwanhee menangis dalam tidurnya. Ku sentuh perlahan jemarinya, dan…

Sekejap matanya terbelalak, hampir saja aku terjengkang karena kaget. Matanya tidak fokus dan bergerak liar mencari sesuatu. Tangannya menjerat erat jemariku, kuat sekali!

“Oppa… oh, syukurlah kau menyentuhku!“ Akhirnya dia berhasil memfokuskan pada diriku yang berada tepat di sebelahnya. Tangannya tetap memegang erat seperti tak ingin lepas sama sekali. Hwanhee menarik tubuhku ke dalam pelukannya dan ia pun terisak disana. “Syukurlah, Oppa. Aku takut sekali! Aku sudah berusaha berteriak padamu, tapi rasanya ada yang mencekikku,“ ujarnya dengan napas memburu.

Aku terdiam mendengar kalimatnya yang berantakan itu. Lembut ku usap punggungnya dan menawarkannya air putih untuk menenangkan diri. Sesaat setelah itu, Hwanhee sudah mulai mengontrol dirinya kembali meskipun masih sedikit shock. “Mimpi buruk?“

“Kenapa aku bisa tidur disini?“ tanya Hwanhee bingung tanpa menjwab pertanyaanku.

“Kau bermain lego6 sampai tertidur setelah kau menyerah tak bisa membuat Istana Buckingham. Apa yang kau mimpikan?“ tanyaku lagi.

Hwanhee mengambil napas dalam-dalam, “Buruk sekali. Mimpi yang sama setiap malamnya dan sekarang sepertinya mimpiku itu berlanjut. Apa ada yang salah dengan otakku?“

“Kau mau ceritakan padaku?“

“Ini kedengarannya aneh. Kau pasti tidak bisa mempercayai ini dan menganggapku gila. Eunhyuk saja mengatakan aku harus minum obat anti halusinasi!“ Hwanhee beringsut menjauhiku.

“Tak ada yang perlu dianggap gila bila masih dapat dijelaskan dengan logika.“

“Berjanjilah untuk tidak menertawaiku ya?“ Hwanhee meneliti wajahku yang tidak menunjukkan reaksi apapun. “Baiklah, aku anggap kau menyetujuinya. Aku bermimpi mengenai sesuatu, lalu aku ingin membuka mata antara sadar dan tidak aku mencoba untuk bangun. Namun, ada sesuatu yang tidak beres. Aku tak bisa bergerak, nafasku sesak, seakan ada makhluk tak terlihat yang menginjak dadaku. Aku ingin berteriak, tapi seakan ada seseorang yang mencekik leherku, aku… aku merasa akan mati saja.“ Ia melirik manik mataku sekilas, “Apakah kakek Liebermann bisa menjelaskan hal itu padaku?“

Aku berpura-pura mendecak kesal, “Sudah kubilang, dia masih muda. Jangan menyebutnya kakek.“

“Tapi kan dia hidup di tahun 1903 di Vienna! Itu saja sudah lebih dari seratus tahun, kau tahu itu.“

Gemas, aku mengacak-acak rambut Hwanhee. “Nanti aku jelaskan hal itu padamu dalam perjalanan pulang. Tadi Eunhyuk meneleponku bahwa ia tak bisa menjemputmu. Lebih baik kau bersiap-siap sekarang.“

~oo0O0oo~

Hwanhee’s POV

“Pernah mendengar istilah sleep paralysis?“

“Kakek Liebermann yang berkata begitu?“

“Tidak,“ gerutu Seung Hyun sambil memposisikan tongkat perseneling dan setir secara bergantian. “Kau tak perlu takut, kejadian seperti itu sebenarnya biasa disebut lumpuh tidur atau The Old Hag Syndrome. Selama dreaming sleep otak mu mematikan fungsi gerak sebagian besar otot tubuh sehingga kau tak bisa bergerak. Kadang, otak kita tidak mengakhiri mimpi atau lumpuh kita dengan sempurna ketika terbangun,” jelasnya.

“Jadi, itu bukan karena aku akan mati?”

“Tentu saja bukan! Kau sepertinya banyak pikiran, itu sebabnya tidurmu terganggu. Kau harus lebih banyak meluangkan waktu untuk istirahat. Apa yang kau impikan sebelum sleep paralysis itu terjadi?“

Aku tertegun sesaat. Entah mengapa aku teringat perbincangan dengan Eunhyuk saat di balkon beberapa hari yang lalu…

“Kau harus minum obat anti depresi!“

“Untuk apa?”

“Aku tidak ingin kau bermimpi yang aneh-aneh lagi. Nanti otakmu jadi tidak waras!”

“Kau kejam sekali padaku. Atau kau ingin membuatku mati overdosis ya?“

Eunhyuk tak menatapku, ia masih saja sibuk dengan tanaman kaktusnya yang berhiaskan manik-manik lucu. Senyumnya hilang, tak pernah kulihat wajahnya mengeras seperti itu. “Dengarkan aku, Hwanhee-ah. Usahakan agar kau tidak mimpi mengenai pemuda itu, kuil dan sebagainya. Aku tidak suka! Jika perlu kau tidak usah juga menceritakannya padaku.“

“Kau Oppa ku! Pada siapa lagi aku harus bercerita? Dan bagaimana aku bisa menghindari mimpi yang selalu sama setiap harinya? Jika itu mudah, sudah ku lakukan dari dulu!“

“Itu hanya mimpi! Kau tidak perlu sampai mendebatnya denganku kan? Kau hanya perlu berdoa sebelum tidur dan jangan berpikiran yang tidak-tidak. Nanti mimpi itu akan hilang sendiri.“

“Oppa, ini sudah seminggu lebih. Masihkah itu disebut normal?“

“Kau bukan Alice yang memimpikan Wonderland dari kecil hingga dewasa kan?“

“Itu kan dongeng!“ seruku hilang kesabaran. “Mengapa sekarang kau menjadi keras kepala begini sih?“

Eunhyuk kini menatapku dengan pandangan yang sulit ditebak, “Kau anggap saja mimpi itu sebagai dongeng. Mudah bukan?“

“Aku… seperti mimpi di Wonderland.“

Aku dapat melihat sekilas bibir Seung Hyun tertarik membentuk sebuah senyuman. “Sepertinya menyenangkan, andai saja aku bisa bermimpi sepertimu.“

Manik mataku mendelik padanya takjub, “Memangnya kau tidak pernah bermimpi?“

“Tentu saja pernah. Hanya saja, tidak seimajinatif dirimu. Hanya ruangan yang putih, kosong, dan aku merasa sendiri. Namun, aku bersyukur. Karena kehadiranmu bukanlah sebuah mimpi.“

Aku merasa pipiku panas. Sepanas karburator mobil ini! Ah, otakku sudah tidak beres.

~oo0O0oo~

“Apa yang mereka rayakan di bawah sana?“

Pemuda itu melirik jauh ke bawah sana, perayaan yang membuat semua orang begitu bersuka cita dengan hiasan berwarna-warni dari kertas yang menggantung di sepanjang jalan. “Mereka merayakan pertemuan kembali kita, tentunya.“

“Siapa yang kau maksud dengan ‘kita‘?“

“Kita, bintang Altair dan Vega.“

Aku mendengus remeh. “Kau semakin aneh. Aku ingin pulang saja!“

“Pulang? Memangnya…. kau masih punya tempat tinggal?“

“Apa maksudmu?“ aku mendelik padanya dengan tajam.

“Aku lah tempatmu berpulang. Kemana lagi kau akan pulang selain padaku?“ wajahnya seakan mendekat padaku. Bisa dibilang terlalu dekat, sampai aku bisa merasakan hembusan napasnya dan hidungnya yang nyaris bersentuhan denganku. “Kau tidak mungkin meninggalkanku untuk yang kedua kalinya kan?“

~oo0O0oo~

3rd July 2011

“Oppa?“

Suara langkah-langkah kaki berat itu bersumber dari gudang belakang dekat kamar Eunhyuk. Aku terganggu bila Eunhyuk sudah mulai memindahkan barang-barang yang tidak terpakai ke dalam gudang, karena ia selalu saja berisik dengan suara seperti kardus jatuh berdebam dan barang pecah belah yang tak sengaja terjatuh. Ku lirik jam dinding tua di ruang tengah, pukul 9 pagi. Mengapa ia belum berangkat ke kantor? Sebentar lagi Seung Hyun akan menjemputku ke kampus, aku harus memastikan Eunhyuk tidak terlambat masuk kerja.

“Oppa? Mengapa kau belum berangkat kerja?“ Ku lirik ke dalam gudang dengan melongokkan kepala di ambang pintu. “Oppa?“

Kosong.

Aneh sekali. Aku ingin menutup pintu gudang, namun sebuah suara seperti gesekan pena dan kertas menghentikanku. Suara itu berlanjut dengan suara seperti layaknya seseorang membolak-balik halaman kertas. Lalu, terdengar gumaman-gumaman pelan. Ia seperti mengatakan sesuatu dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Aku mencoba mempertajam pendengaranku, gumaman itu masih berlanjut. Ia seperti mengatakan hanya dalam satu kalimat yang berulang-ulang. Entah mengapa adrenalin ku terpacu, antara takut dan rasa ingin tahu yang membuncah.

Ku dekati arah sumber suara itu, semakin jelas saja gumamannya ketika aku sampai pada tumpukan kardus-kardus bekas. “Oppa?“ panggilku lagi.

Tanabata matsuri…

Apa yang dia katakan?

Tanabata matsuri…

Kardus itu tertutup rapat dan bertuliskan ‘Don’t open it!‘. Aku mengenal tulisan itu sebagai tulisan tangan Eunhyuk. Ku buka perlahan selotip yang menutupinya dan…

Debu tebal menutupi tumpukan album foto dan video lama yang tertata rapi di dalamnya. Ku periksa satu-persatu. Suara aneh tadi sontak menghilang. Mataku menebar arah pandang ke penjuru gudang tersebut. Tak ada siapa-siapa selain diriku sendiri. Mungkin suara tadi hanya delusi, ah aku terlalu terbawa suasana. Tapi, mengapa Eunhyuk menyimpan barang-barang ini di gudang?

Aku terpaku menatap sebuah foto yang aku kenali sebagai diriku saat kecil. Aku mengenakan kimono di depan satu set boneka Jepang yang disebut Hinaningyou7. Disana aku tersenyum lebar sekali. Ku alihkan perhatianku pada sebuah tulisan di belakang foto itu.

Tulisan Eunhyuk!

Perayaan Hina matsuri8! ^O^ semoga Hwanhee semakin tumbuh besar dan cantik! Dia berfoto bersama Kenichi! ^O^v (03-03-2000)

Ku tatap lagi foto itu. Siapa yang dimaksud Eunhyuk dengan Kenichi? Tak ada siapa-siapa selain diriku. Foto berikutnya adalah aku dan Eunhyuk yang sedang memakai yukata berwarna cerah dan ikat kepala sambil memegang beberapa plastik berisi ikan mas. Latarnya sebuah toko ikan mas dan banyak banner berbentuk seperti ikan crap yang bersusun tiga berwarna-warni. Banner itu tertiup angin dan melambai-lambai di udara. Ada tulisan lagi di belakangnya.

Perayaan Kodomo no Hi9! ^O^ Aku, Hwanhee, dan Kenichi berfoto bersama setelah mendapatkan ikan di toko Oguri Sensei! Yattaaa~~😄 (05-05-2000)

Kenichi lagi! Siapa Kenichi? Di foto itu hanya aku dan Eunhyuk saja. Tak ada orang selain kami yang terekam lensa kamera. Foto berikutnya, kami sekeluarga berempat berfoto di depan sebuah tangga yang sangat tinggi. Di puncak tangga itu terdapat sebuah gerbang kuil, kanan kirinya berhiaskan pohon bambu yang digantungi oleh kertas berwarna-warni serta hiasan lain dari kertas. Kami semua tersenyum bahagia dengan yukata yang cerah.

Kuil ini….

Aku mengenalnya…

Tanabata matsuri10 di Sendai!😄 Aku, Eunhyuk Oppa, Appa, Eomma dan Kenichi berfoto bersama di kuil. Apa permohonanmu di Tanabata Matsuri kali ini? (07-07-2000)

Kenichi… kali ini tulisanku sendiri. Aku membatu. Ternyata aku juga mengenal Kenichi. Gumaman tadi juga menyebutkan Tanabata Matsuri. Apa hubungan perayaan itu dengan Kenichi?

“Hwanhee-ah, ternyata kau disini! Aku sudah mengetuk pintu beberapa kali, jadi aku masuk saja. Kita sudah terlambat, ayo kita berangkat sekarang!“

Aku menoleh dan menemukan Seung Hyun mendekatiku. Dia terlihat sangat cemas. Namun, ada seseorang lagi bersamanya. Dia hanya diam di ambang pintu dengan yukata berwarna biru bergaris asimetris. Aku terkesiap sesaat. Dia…

“Hei, kau memperhatikanku tidak? Apa yang kau lihat sih?“ Seung Hyun menoleh ke arah ambang pintu. Dahinya berkerut bingung, “Hwanhee-ah, sebenarnya apa yang kau lakukan disini?“

Aku mengacuhkan Seung Hyun. Pemuda itu masih disana. Bibirnya bergerak untuk mengatakan sesuatu.

“Watashi ga matte ita11

…“

Kemudian, dia tersenyum padaku.

~oo0O0oo~

Eunhyuk’s POV

Jarum spidometer di dasbor mobil menunjukkan kecepatan di atas rata-rata normal. Aku berpacu dengan diriku sendiri agar cepat sampai ke rumah sakit yang ditujukan Seung Hyun beberapa menit yang lalu. Andai saja aku bisa membeli sebuah mobil dengan mesin turbo dan kendali otomatis, tak mungkin sampai serepot ini berkelit antara mobil-mobil lain yang membuat parade seenaknya di depan. Setelah meraung-raungkan klakson mobil, akhirnya mereka memberiku jalan diiringi sumpah serapah yang mengudara.

Persetan dengan semua itu!

Suara decitan antara ban dan aspal mobilku mampu menolehkan kepala setiap orang yang ada di lobby rumah sakit. Ku banting begitu saja pintu mobil dan berlari menuju kamar rawat sesuai dengan petunjuk Seung Hyun.

Kamar 707.

Tak lama, aku menemukan sesosok tubuh gadis tergolek tak berdaya di ranjang tempat tidur. Wajahnya pucat dan dahinya berlapis perban dengan sedikit darah merembes disana. Nampaknya ia sedang kelelahan sehingga tidak menyadari kedatanganku. Hanya Seung Hyun yang menyambutku dengan suara parau.

“Apa yang terjadi?“ suaraku tersangkut di leher.

“Hwanhee terjatuh dari tangga lantai 7 ke lantai 6 di fakultasnya. Sepertinya terpeleset. Tadi dokter sudah memeriksanya, dan beruntung hanya luka kecil. Ia hanya tertidur, mungkin kelelahan.“

“Biasanya dia selalu menggunakan lift. Aneh sekali!“

“Maaf, aku tak bisa menjaganya dengan benar.“

“Sudahlah Seung Hyun-ah. Aku mengerti kau tak harus selalu bersama Hwanhee setiap saat. Lagipula aku tahu, fakultas Psikologi dan Sastra cukup jauh.“ Aku mendekati tempat tidur Hwanhee dan perlahan mengusap lembut rambutnya, kemudian pipinya. Ada rasa tak rela bila Hwanhee terluka sedikit pun. Harusnya aku lebih sering memperhatikannya, terlebih lagi beberapa hari aku sudah membuatnya bingung dan tanpa tumpuan. Ku tatap Seung Hyun yang masih tak terpaku menatap Hwanhee. “Seung Hyun-ah, aku bisa menjaga Hwanhee disini. Jeongmal gomawo12, kau bisa lanjut untuk kuliah. Nanti kau bisa menjenguknya setelah jam kuliah berakhir. Aku tidak ingin adikku ini mengganggu belajarmu,“ ujarku sambil tersenyum.

Seung Hyun terlihat seperti mencari-cari kata untuk memulai pembicaraan bukan mengakhirinya. Aku menunggunya. “Sebenarnya, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu. Mengenai kondisi Hwanhee.“

“Katakan padaku,“ ujarku penasaran.

“Kau tahu, kemarin Hwanhee cerita padaku bahwa ia mengalami mimpi aneh yang selalu sama setiap harinya. Dan pasti setelah bermimpi ia mengalami sleep paralysis. Apakah Hwanhee pernah bercerita padamu mengenai mimpinya?“

Aku terkesiap tak percaya dengan apa yang dikatakan Seung Hyun. “Kau sedang membuat penelitian pada adikku?“

“Tidak. Sungguh, aku hanya berusaha untuk membantu Hwanhee memecahkan masalahnya. Aku tidak ingin mimpi itu nantinya mengganggu tidurnya terus menerus. Kau tahu, mimpi itu bisa saja membawa sebuah pesan dari alam bawah sadar kita tentang hal-hal yang terlupakan. Kemudian, muncul ke permukaan alam sadar melalui hal-hal yang kita ingat atau mungkin pernah terjadi.“

“Kau pikir itu Deja vu? Jangan konyol, Seung Hyun-ah. Aku tak pernah percaya dengan segala teori psikologismu itu,“ bantahku.

“Hyung13, percayalah padaku.“ Seung Hyun menatapku dengan pandangan sungguh-sungguh.

Lututku terasa lemas seketika, entah aku harus memulainya dari mana. Segalanya kenangan di Jepang yang selama ini aku coba untuk pendam dan lupakan ternyata malah membuatku terjebak di dalamnya. Aku terduduk dengan tak berdaya di sebelah Seung Hyun. Ku tundukkan kepala dan mengusap wajahku yang lelah dengan beban yang selama ini aku tanggung sendiri. Sudah saatnya aku mencurahkannya pada orang lain. Sudah saatnya aku membuka sisi kelam dalam kehidupanku. “Kau… kau tidak akan pernah mengerti, Seung Hyun-ah. Terlalu sulit, aku tak tahu harus memulainya dari mana. Kau pasti menganggapku gila.“

“Hyung, masih banyak hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika di luar sana. Bahkan sangat aneh dan tidak masuk akal. Tetapi, mengapa kau tidak ceritakan dari hal yang mudah saja?“

Aku menghembuskan napas pasrah. “Baiklah, sebelumnya apa kau pernah mendengar tentang invisible friend14?“ tanyaku, Seung Hyun kemudian mengangguk. “Dulu sekali, sekitar lebih dari 10 tahun yang lalu, Hwanhee mempunyai seorang teman khayalannya. Waktu itu kami masih tinggal di Jepang. Namanya Kenichi. Tepatnya Kenichi Matsuyama. Dia selalu menganggapnya ada dan menjadi bagian dari keluarga kami. Namun, tetap saja aku tak bisa melihat bagaimana wajahnya karena hanya dia yang tahu. Pernah suatu kali aku duduk di kursi makan, lalu Hwanhee datang padaku sambil terisak. Kau tahu kenapa? Karena kursi itu sudah di duduki Kenichi. Dan aku dianggap menyakitinya. Sebagai Oppanya, aku tak bisa menghiraukannya begitu saja, maka aku anggap saja Kenichi benar-benar ada. Semua itu ku lakukan agar tidak melihat Hwanhee menangis lagi. Kemana pun kami pergi, Kenichi selalu ada. Di foto, di video yang kami rekam bersama Appa dan Eomma, dan dalam keseharian kami. Tapi, jelas hanya Hwanhee yang tahu. Aku pernah bertanya padanya, bagaimana rupa Kenichi. Ia menjawab…

“Kenichi itu tampan. Sangat tampan. Yukatanya berwarna biru bergaris-garis. Dia selalu tersenyum. Dia tidak pernah marah. Meskipun marah, ia hanya diam saja. Dia mengerti aku. Dia tidak pernah protes atau jahil seperti Oppa.“

“Sekitar bulan Juli 2001, pada perayaan Tanabata Matsuri seperti biasa kami sekeluarga ke kuil dan menggantungkan beberapa kertas tanzaku15ke pohon bambu yang biasa disebut sasaki. Namun, hari itu berbeda. Kau tahu? Hwanhee menangis dan tidak mau ke kuil hanya karena ia tidak menemukan Kenichi dimana pun. Setelah ku paksa dengan hadiah takoyaki16, akhirnya Hwanhee mau ke kuil meskipun dengan wajah berlipat-lipat. Dia hanya berharap Kenichi telah menunggunya di kuil. Dan itu benar…

“Oppa! Kenichi di atas sana! kita harus kesana. Ayo, Oppa! Dia sedang berdoa. Aku juga mau berdoa bersama Kenichi!”

“Aku mengikutinya dari belakang. Hampir saja ia mencapai anak tangga paling atas, tiba-tiba saja pijakannya pada tangga batu itu goyah. Tubuhnya limbung dan…”

“Apa yang terjadi, Hyung?” tanya Seung Hyun merespon.

“Dia jatuh. Merosot begitu saja ke kaki anak tangga. Kepalanya berdarah banyak karena terantuk batu. Appa segera menggendongnya dan membawanya ke dalam mobil. Malang sekali, di tengah perjalan menuju rumah sakit Hwanhee tersadar dari pingsannya. Dia bangun dan berteriak…

“Hentikan mobilnya! Hentikan mobilnya, Appa! Aku belum menjemput Kenichi. Aku tak mau meninggalkannya di kuil. Hentikan! Hentikan!“

“Appa yang hilang kendali membuat mobil menjadi oleng dan… yah, kau tahu. Kecelakaan itu. Kecelakaan yang menewaskan Appa dan Eomma ku. Dan mulai saat itu aku membenci Kenichi,“ gigiku gemeletuk saat menyebut nama Kenichi, “Aku sangat membencinya. Hingga rasanya aku ingin sekali membunuhnya. Membunuhnya dalam pikiran Hwanhee. Maka dari itu, aku membawanya ke psikiater agar sembuh. Pengobatannya berhasil, tapi rasanya Kenichi tetap hidup. Begitu beberapa hari lalu dia sudah mulai mengingat Kenichi dalam mimpinya, aku cemas bukan main. Aku… ah, Seung Hyun-ah, aku tak tahu apa yang harus dilakukan. Aku ingin hidup tanpa bayang-bayang fiktif itu.“

Seung Hyun menepuk pundakku beberapa kali, “Jika aku menjadi dirimu, Hyung. Aku akan menghadapinya. Satu-satunya jawaban dari ketidakmungkinan itu adalah menemuinya langsung. Kita harus ke kuil itu, dan mencari tahu mengenai siapa Kenichi.“

Aku terdiam, entah mengapa aku merasa setuju dengan pendapatnya. Selama ini aku terlalu takut makhluk fiktif itu akan merenggut Hwanhee kembali dari diriku. Sedetik kemudian, jemari-jemari lemah bergerak menggapai tanganku. Aku menoleh pada Hwanhee yang mulai tersadar. Segera saja aku dekati dirinya, “Hwanhee-ah, Oppa disini sayang. Oppa akan menjagamu…“

“Oppa, kare wa watashi o matte iru to itta tanabata matsuri o17

…“

Aku tertegun.

~oo0O0oo~

“Kita hampir sampai…”

Pemuda itu tetap tak mau melepaskan tanganku dalam genggamannya. Seolah aku tak boleh benar-benar lepas. Ia juga tidak membiarkan tubuhku limbung karena terpeleset. “Rasanya perjalanan ini panjang sekali. Aku kelelahan,” ucapku sambil tersengal.

“Anggap saja ini perjalanan hidupmu. Panjang dan rumit, bukan?“

“Ya, serumit dirimu.“

Pemuda itu tertawa geli, menampilkan barisan gigi yang rapi dan memesonaku. “Aku perlu mengingatkan padamu, di anak tangga paling atas nanti kau tak boleh menginjaknya ya.“

“Kenapa begitu?“

“Anak tangga paling atas itu merupakan kedudukan untuk Dewa. Kita harus melangkahinya jika ingin sampai di depan kuil, aku tak akan melepaskanmu begitu saja. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu nanti disana. Kau mau tahu?”

Aku mengangguk.

“Aku akan menunjukkanmu sebuah cermin.“

~oo0O0oo~

Sendai, Japan. 7th July 2011, Tanabata Festival.

Hwanhee’s POV

“Hei, Hwanhee-ah tunggu!“

Aku dan Eunhyuk hampir saja mencapai puncak anak tangga kuil bila suara itu tidak membuat kami berhenti dan menoleh. Seung Hyun menaiki anak tangga dua-dua agar bisa menyusul kami secepatnya. “Seung Hyun Oppa! Bagaimana bisa kau menyusul kami ke Jepang?“ tanyaku heran.

“Hah, biarkan aku bernapas dulu,“ ucap Seung Hyun tersengal. “Di bawah ramai sekali aku sampai sulit menemukan kalian.“

“Memangnya kau habis membajak pesawat siapa bisa tiba disini?“ timpal Eunhyuk penasaran.

“Ah, Hyung. Kebetulan dosenku cuti ke St. Petersburg. Jadi, aku bebas. Lihat, apakah yukata ini terlihat cocok denganku? Beruntung Tanaka, yang pernah menjadi shitsugi18 di rumah kakek meminjamkan yukata ini padaku.“ Seung Hyun berputar memperlihatkan yukatanya yang berwarna hitam bergaris abu-abu. Nampak sekali membentuk tubuhnya menjadi lebih berisi.

“Kau terlihat tampan,“ ujarku sekenanya.

“Aku juga tampan kan? Seharusnya kau mengatakan tampan dulu padaku, Kelinci kecil!“ Eunhyuk merengek tak terima. Aku dan Seung Hyun terbahak menatapnya.

Baru saja kami akan melangkah untuk menginjak anak tangga terakhir, aku menahan langkah Eunhyuk dan Seung Hyun bersamaan. Mereka menatapku bingung. “Kita harus melangkahi tangga terakhir. Tangga terakhir ini hanya untuk Dewa. Kenichi yang mengatakan itu padaku.“

Eunhyuk dan Seung Hyun saling bertukar pandang lalu mengikuti yang seperti lakukan.

Sebuah kuil berdiri di hadapanku. Kuil yang tak pernah ku duga bisa mencapai puncaknya. Dan sekarang semuanya terasa jelas. Seseorang kejauhan di dalam kuil sana tengah membelakangiku. Tubuhnya tinggi semampai, putih dan nampak tenang. Ia mengenakan yukata yang aku sangat kenal dan hapal. Biru bergaris asimetris. Entah mengapa aku merasa jantungku berdetak lebih cepat dari pada sebelumnya. Apakah ini hanya fiktif atau benar-benar fakta? Apakah ia masih Kenichi teman khayalku, atau dalam bentuk manusia nyata? Tapi, dia benar-benar ada. Dia benar-benar terasa hidup.

Kenichi, tunjukkan padaku apa yang kau inginkan dari ku selama ini.

Eunhyuk tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, dia pasti hapal pula di luar kepala ciri-ciri Kenichi yang pernah aku ceritakan semasa kecil. Ini memang sulit dipercaya. Hampir saja dia menarik tanganku untuk kembali ke sisinya, namun Seung Hyun menahannya dan membiarkan aku pergi menghampiri sosok itu.

Perlahan aku mendekat dan berdampingan dengan sosok itu. Aku belum berani menatap wajahnya secara langsung. Ku telan segala rasa takutku untuk meliriknya sekilas. Dan… mirip!

“Mau berdoa juga?“

Deg! Darahku berdesir.

“Ah, ya. Tapi, aku sudah lupa bagaimana melakukannya,” jawabku gugup.

Kini dia menoleh sepenuhnya padaku, aku seperti tersambar kilat saja. Entah mengapa pipiku terasa panas. Apakah dia semisterius ini? Kini kami sama-sama tumbuh dewasa. Dan dia semakin… entahlah, mungkin lebih tampan dari pada yang ku bayangkan sebelumnya. “Aku sepertinya mengenalmu. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?“

“Benarkah begitu? Kau tidak mengenalku?“ ujarku bingung.

Pemuda itu menggeleng, “Aku hanya seperti pernah mengenali wajahmu dan yukata yang kau kenakan. Aku… aku merasa benar-benar telah mengenalmu lama sekali. Aku merasa aneh dengan situasi ini, tapi seseorang pernah mengatakan padaku bahwa aku akan bertemu dengan seorang gadis di kuil ini pada saat Tanabata matsuri. Dan… ah, aku mungkin sedang tidak beres. Tidak seharusnya aku mempercayainya.“

Aku tercengang, sulit dipercaya. “Sama. Kau sama sepertiku. Aku juga merasa dirimu terlalu mirip dengan seseorang. Yukatamu, dan cara kau menatapku. Dia mengatakan padaku jika aku akan mengetahui siapa dirinya disini dan menunjukkanku sebuah cermin.“

Kami saling bertatapan intens, mencoba memahami diri masing-masing arti dari semua teka-teki rumit ini. Sampai suatu ketika, bibir kami mengucapkan hal yang sama.

“Kenichi Matsuyama…”

Aku makin tidak mengerti. ”K-kau mengenalnya?”

“Kau juga? Bagaimana bisa? Dia teman khayalku sewaktu kecil. Dan hanya aku yang tahu. Siapa namamu?“

“Hwanhee..“  suaraku parau tak mampu lagi berucap.

“Aku Kyuhyun. Cho Kyuhyun.“

Dia bukanlah Kenichi.

Kini, aku mengerti arti dari semua ini. Aku mengerti siapa yang menjadi cermin itu. Rencana yang amat cantik namun rumit. Dan biarlah aku dan Kyuhyun yang tahu bagaimana keindahan dari kerumitan itu sendiri.

Pernahkah kau percaya bahwa jodoh akan datang dengan cara yang sangat tidak terduga?

Pernahkah kau percaya bahwa mimpi akan membawamu pada sebuah kenyataan?

Dan pernahkan kau percaya bahwa kita telah terhubung dengan seseorang di luar sana yang menjadi cerminan dari diri kita?

Aku percaya. Dan mulai sekarang, kau juga harus percaya pada keajaiban-Nya dalam merangkai dan menyatukan nasib sepasang insan di dunia.

~oo0O0oo~

Eunhyuk’s POV

“Oppa, kau hutang takoyaki padaku 10 tahun lalu jika aku mau ke kuil! Sekarang aku menagihnya!“

“Yattaaa~~ kau masih ingat, hah?“ seruku kaget. Aku melirik sosok pemuda yang tengah berdiri tenang di samping Hwanhee, ku teliti tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala. Pemuda itu lagi-lagi hanya tersenyum. “Hei, Hwanhee-ah benarkah dia Kenichi?“

“Dia bukan Kenichi, tapi Kyuhyun Oppa. Jangan sampai aku harus menjelaskanmu berkali-kali.“

Aku mendengus kesal. Beruntung Kyuhyun bukanlah Kenichi, jika benar Kenichi dia mungkin sudah ku gelindingkan sampai ke bawah kuil. Kekekeke~ Tapi, ini malapetaka! Benar-benar malapetaka. Kenapa Kyuhyun tampan sekali? Aku bisa kalah tampan bila berdampingan seperti ini. Menurunkan kasta-ku saja! Aisssh…

“Seung Hyun Oppa dimana?“ tanya Hwanhee bingung.

Aku memilih diam saja. Tahukah kau Hwanhee, mungkin dia sedang patah hati karenamu. Kekekeke~

Tak jauh dari sana, seorang pemuda lainnya yang memakai yukata biru berornamen garis-garis asimetris menatap dengan pandangan teduh. Perlahan tangannya terulur, menggantungkan kertas tanzaku ke sasaki terdekat. Matanya kemudian terpejam.

Dan hilang.

~oo0O0oo~

TAMAT


1 Pakaian tradisional jepang sejenis kimono, namun dengan bahan yang lebih tipis. Biasanya dipakai ketika musim panas.

2 Bahasa Korea, Oppa = sebutan ‘kakak’ laki-laki dari adik perempuan

3 Ibid, namja = pemuda/anak laki-laki

4 Ibid, yeoja = pemudi/anak perempuan

5 ibid, arasseo = mengerti

6 Sejenis alat permainan bongkah plastic kecil yang terkenal di dunia dan bisa dibentuk menjadi apa saja.

7 Boneka kerajaan Jepang yang disusun sedemikian rupa membentuk tingkatan sesuai dengan jabatan.

8 Perayaan hari anak perempuan atau doll festival di Jepang.

9 Perayaan hari anak laki-laki di jepang.

10 Perayaan hari bintang tentang legenda pertemuan kembali antara putri Orihime dan Hikoboshi.

11 Bahasa Jepang, berarti ‘Aku menunggumu.‘

12 Bahasa Korea, berarti terima kasih banyak.

13 Bahasa Korea, berarti sebutan ‘kakak’ laki-laki dari adik laki-laki.

14 Invisible friend = teman khayalan

15 Kertas permohonan

16 Jajanan khas Jepang dari daerah Kansai yang terbuat dari adonan tepung dan diisi potongan gurita di dalamnya.

17 Bahasa Jepang, berarti ‘Dia menungguku dan mengatakan tentang Tanabata Matsuri’

18 Bahasa Jepang, berarti butler atau pelayan khusus.

Voting ini terbuka bagi semua kalangan, author tetap, author free writer, dan readers.. Silakan memvote FF kesukaan kalian, HANYA BOLEH SATU KALI!

WARNING!! Sebelum kalian menekan tombol vote, pastikan kalau ini merupakan FF yang menurut kalian terbaik. Kami tidak akan bertanggung jawab jika terjadi pendoublean voting dan menyebabkan FF ini didiskualifikasi.. Harap pengertiannya!😀