Title : Friend Is Love
Author : amartinaa
Length : Oneshot
Genre : Romance
Cast :
Choi Minho ~ Cho Yudi ~ Cho Kyuhyun
Park Jungsoo, Choi Siwon, Han Geng, Kim Kibum, Lee Donghae

Sekolah pulang lebih awal hari ini, memberi kebahagiaan besar bagi hampir semua murid SMA Hakwon. Hanya satu murid yang tidak merasakan euforia yang sama. Cho Yudi. Karena jika sekolah usai lebih awal, dia hanya akan mendapati pemandangan yang sama: pertengkaran kedua orangtuanya. Selalu begitu. Setiap hari. Jadi yang Yudi lakukan sekarang adalah melamun di sebuah bangku panjang di utara jauh gedung sekolahnya. Hanya melamun dan sendirian.

“Meratapi nasib?” tanya seseorang yang berdiri didepan Yudi sambil menyodorkan sekaleng sari buah yang dingin. Yudi mendongak dan tersenyum sambil menerima minuman itu tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan temannya.

“Aku tidak punya teman,” sahutnya ringan, sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaan temannya.

“Atau tidak ingin punya,” timpal murid laki-laki itu.

“Bukannya tidak ingin. Hanya saja aku lelah jika harus bercerita tentang hidupku yang malang kepada temanku sekedar untuk meminta pengertian dan penerimaan mereka akan diriku. Belum lagi saat mereka juga harus mengalami hal buruk karenaku.”

“Kau masih menganggap dirimu pembawa sial?”

“Tidak. Aku tidak pernah menganggap diriku pembawa sial. Aku hanya tidak ingin menyeret orang lain ke dalam masalahku. Aku tidak ingin minta maaf untuk sesuatu yang tak kuinginkan untuk terjadi.”

“Kau tidak pernah minta maaf padaku.”

“Kau sendiri yang menyeret dirimu dalam masalahku.”

Kemudian mereka tertawa. Menertawakan sesuatu yang tidak lucu. Karena terkadang beban kita akan sedikit terangkat ketika kita berani menertawakan diri sendiri.

“Baiklah. Aku akan meninggalkan dirimu sendirian agar tidak terlalu menyeret diriku sendiri. Jika kau butuh seseorang, carilah aku,” ujar murid laki-laki itu sambil menepuk pelan bahu Yudi sebelum beranjak pergi.

“Minho-ya!” Murid itu menoleh. “Terimakasih,” ucap Yudi seraya mengangkat kalengnya yang hampir habis. Minho tersenyum dan melanjutkan langkahnya. ***

Malam makin merayap dan jam di tangannya menunjuk angka 9.35 saat kakinya hampir sampai di rumahnya. Yudi memperlambat langkah. Andaikan aku tak harus pulang.

“Wanita rendah bodoh! Apa kau tidak bisa mengurus rumah? Apa aku harus selalu memarahimu untuk membuatmu mengerti tentang tugasmu? Pergi dari rumahku!”

Yudi melihat seorang wanita paruh baya yang didorong hingga jatuh dengan suara keras oleh seorang pria tegap yang garang. Hanya merintih dan terisak yang bisa dilakukan wanita itu.

“Omma!” teriak Yudi sambil berlari menghampiri ibunya. Yudi berjongkok di samping ibunya dengan sedikit menyeret lututnya dan menyebabkan kaos kakinya robek disertai luka gores yang cukup besar.

“Omma, gwenchana1?” tanya Yudi panik sambil membantu ibunya berdiri. Tapi ibunya malah menyentak kasar tangannya. “Menjauh dariku, kau anak tidak tahu diri! Kau pikir aku bodoh? Kenapa baru pulang sedangkan banyak temanmu sudah sibuk berkencan sejak siang? Gara-gara kau rumah masih berantakan. Tidak ada makanan yang bisa disumpalkan ke mulut besar ayahmu. Dan aku yang terkena tamparannya. Kau puas?” semburnya sambil mendorong bahu Yudi. Kemudian Yudi melihat ibunya berdiri dengan susah payah dan berlalu dari hadapannya, berjalan dengan langkah lelah sambil menyeret kopernya.

“Kau sudah pulang ternyata. Berdiri!” Suara rendah dan besar itu kembali terdengar. Yudi terkejut saat tangan besar ayahnya menarik tasnya ke atas, memaksanya berdiri. “Kyuhyunnie, bawa dia ke kamarnya untuk melakukan tugas terakhirnya.”

Dan Kyuhyun tidak perlu repot untuk tahu luka di kedua lutut adiknya masih menganga saat jari-jarinya mencengkeram kuat lengan kanan Yudi dan memaksa gadis itu melangkahkan kakinya masuk ke rumah. Yudi menuruti Kyuhyun sambil meringis kesakitan.

BRUK!

Lutut Cho Yudi menghantam lantai kayu kamarnya saat didorong oleh sang kakak, menyebabkan sengatan listrik yang kuat dan cepat menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia meringis lagi, namun tak ada rintihan yang keluar dari mulutnya.

“Segera berkemas dan pergi dari sini. Bertindaklah dengan cepat, Nona!” ***

Yudi berjalan terpincang sambil menyeret koper kecilnya. Tak ada tujuan. Ia bahkan tidak sadar ke mana kakinya melangkah. Sampai kemudian lututnya terasa kebas dan linu. Ia berhenti pada sebuah kedai 24 jam dan membeli kopi kemasan kaleng seraya duduk mengistirahatkan lututnya. Yudi mendesah. Matanya mulai mengantuk, tubuhnya lengket, dan lututnya perih.

Kopi dalam kaleng minumannya telah sampai pada tetes terakhir. Dengan berat hati Yudi membuangnya. Kemudian ia menyilangkan kedua lengannya di atas meja di depannya, menenggelamkan kepalanya di antara kedua lengannya, tak kuasa untuk tetap terjaga. Ternyata, tak selamanya kopi bisa mengusir kantuk. Bahkan jantungnya tidak berpacu lebih cepat karena kafein dalam kopi yang sudah berdiam dalam perutnya.

Entah berapa lama Yudi tertidur saat dia merasakan lututnya terasa sangat perih bercampur sensasi dingin. Kepalanya terangkat, dan dengan cepat mendapati seseorang tengah berlutut di depannya, menempelkan sesuatu yang seperti kassa lebar di atas luka di lututnya. “Minho-ya?”

Seseorang yang dipanggil Minho itu mendongak setelah menyelesaikan pekerjaannya. “Bodoh. Jika tidak segera diobati, kau bisa infeksi,” cercanya datar. “Akhirnya kau keluar juga dari rumah itu,” lanjut Minho dengan nada mengejek sambil duduk di samping Yudi. Yudi tertawa kecil. “Akhirnya aku diusir juga dari rumah itu,” ujarnya mengoreksi kalimat Minho. Minho hanya tersenyum simpul, kemudian hening. Mereka sama-sama memandang ke langit yang hitam tanpa bintang.

“Mau tinggal bersamaku?” tanya Minho memecah keheningan. Yudi tertawa sebelum dengan cepat menjawab, ”Tidak.”

“Sudah kuduga,” komentar Minho. “Lalu bagaimana?” lanjutnya. Yudi  mengerutkan kening, kemudian menengadahkan tangan kanannya di depan mata Minho, yang memutar kepala menghadapinya.

“Pinjami aku uang,” ujar Yudi menjawab kebingungan di wajah temannya. “Pinjami aku uang tanpa bunga dan tanpa batas pengembalian,” tambah Yudi sambil nyengir lebar. Minho tertawa dan menepuk tangan Yudi yang terayun di udara. “Mana aku bawa uang sebanyak itu, Nona? Aku tidak membawa uang tunai.”

“Kalau begitu, tarik dari ATM-mu.”

“Bodoh!” seru Minho seraya menyentil pelan kening Yudi. Kemudian ia membuka dompet dan menyerahkan selembar kartu kreditnya.

“Aku minta uang, Tuan. Bukannya kartu kredit,” gerutu Yudi manyun. Sekali lagi Minho menyentil pelan, kali ini mendarat di hidung mancung Yudi. “Sama saja. Tinggal gesek, kan? Kalau kau ingin uang tunai, bisa juga ditarik dengan ini.”

Yudi mengangguk mengerti sambil memandang kartu kredit dengan nama Choi Minho terembos dengan mewah dan kokoh. “Araseo2. Kalau begitu, simpan setiap tagihan yang datang padamu untuk kubayar. Arachi3?” kata Yudi yang dijawab dengan anggukan oleh Minho. Kemudian mereka ber-high five dan tertawa sambil kembali memandang langit yang suram. Lalu Yudi merebahkan kepalanya di bahu Minho, mendesah berat. “Seringkali aku ingin pingsan. Atau koma. Aku ingin diam dan tak melakukan apapun. Aku benar-benar ingin menarik diri sejenak. Tidak akan ada yang merasa kehilangan aku, kan? Benar-benar hidup yang memuakkan. Bahkan mati pun tidak ada gunanya,” rentet Yudi panjang, kemudian terlelap. Minho tidak mengalihkan pandangannya. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sahabatnya sedang sekarat, meski hanya ada luka di lututnya.

Apa yang bisa dilakukan Choi Minho sebagai sahabat Cho Yudi?

Tiba-tiba ide bagus melintas saat sang pemilik kedai membereskan meja yang baru saja ditinggal oleh pelanggannya. “Ahjumma4, apakah ada rumah dengan sewa murah di sekitar sini?” ***

Yudi bangun dengan kepala sangat pusing. Bertambah pusing lagi saat matanya menangkap sebuah ruangan yang nyaris kosong tempatnya tidur. Ia bertanya-tanya di mana dirinya, sebelum menemukan memo di dekat kopernya.

Kau tidur seperti babi, Nona Cho. Dan kau sangat berat!

Sewa pertama + ongkos ojek punggung adalah 150.000 won.

Ini bill pertamamu dariku. Simpan!

Yudi tersenyum. “Minho-ya, aku ingin membunuhmu.”

Malam menjelang, dan Yudi sudah beranjak tidur saat pintu rumahnya diketuk. Maka dia berdiri dan membuka pintunya, dan mendapati Choi Minho tersenyum lebar. Beberapa orang bertubuh kekar berdiri di belakang namja5 itu.

“Selamat malam, Nona Tukang Bolos. Biarkan kami masuk,” sapa Minho sekaligus memerintahkan Yudi untuk mundur. Dengan cepat, orang-orang berbadan atletis dan tinggi itu masuk dengan perlengkapan rumah tangga standard yang dimasukkan ke dalam rumah. Yudi hanya melongo melihat semua itu. “Minho-ya…”

“Aku rasa temboknya sangat membosankan. Berikan kunci duplikatnya padaku agar orangku bisa mengganti wallpaper rumah sakit jiwa ini. Bukankah kau tidak suka jika ruanganmu polos?” celoteh Minho, sengaja mengabaikan wajah kebingungan Yudi. ***

“Minho-ya~~” sapa Yudi panjang dan ceria sambil memeluk temannya dari belakang, sebelum duduk di samping sang namja.

“Wah wah wah, Nona Cho sudah punya teman rupanya,” sindir Minho, mengalihkan pandangan dari The Alchemist-nya. Yudi hanya tersenyum manis. “Berkat dirimu,” ujarnya ceria. Minho tertawa dan memukulkan novelnya ke kepala Yudi dengan pelan. Kemudian namja itu kembali sibuk dengan bacaannya.

“Terimakasih.”

“Huh?”

“Semua bantuanmu.”

“Hm.”

“Tapi kau harus membantuku sekali lagi.”

“Katakan.”

“Temani aku mencari pekerjaan hari ini.”

Sekali lagi Minho tersenyum, lebih lebar, sambil menyodorkan sebuah kartu nama kepada Yudi tanpa mengalihkan matanya dari si novel. Yudi mengerutkan kening saat menerima kartu nama itu dan membaca apa yang tertera di sana dengan keras, membuat Minho merasa geli.

“Tinggal datang saja. Profilmu sudah kumasukkan kemarin,” sahut Minho datar, lagi-lagi tanpa menatap Yudi. Yudi melongo sekali lagi. “Bagaimana kau melakukannya?” tanyanya bodoh. Sekali ini perhatian Minho teralih, dan ia menutup bukunya. “Apa aku perlu menjelaskannya?” tanya Minho retoris.

“Ah, tidak. Tidak perlu. Itu urusanmu. Tapi… karaoke? Ayahmu punya usaha karaoke juga?”

Choi Minho menatap Yudi dengan geli. “Sebutkan usaha yang ada di otakmu, yang mungkin tidak dimiliki oleh ayahku,” perintahnya super retoris yang membuat Yudi menyengir lebar. “Jasa hutang tanpa bunga dan batas waktu pembayaran?” sebut Yudi dengan bodoh yang membuat Minho tergelak. “Kurasa aku yang merintisnya.” ***

10 bulan kemudian.

“Masuklah,” perintah Minho lembut. Yudi membungkukkan badan dengan hormat dan sopan. “Terimakasih, Tuan Rentenir Choi. Hati-hati di jalan.”

Minho memukul pelan kepala Yudi sebelum pergi dari rumah gadis itu. Yudi memperhatikan Minho menaiki motor sport dan berlalu dari hadapannya dengan cepat. Kemudian ia mengeluarkan kunci dari dalam tasnya, dan memasukkan kunci itu ke lubang di pintunya.

Plok Plok Plok!

Yudi terkejut, kemudian menoleh ke sumber suara. “Oppa6?” panggilnya tak percaya.

“Bagus sekali. Rumah, pacar, motor sport, restoran mewah. Kukira kau tidak akan bisa bertahan hidup, ternyata aku salah. Berapa bayaranmu?”

“Apa?”

“Jangan bodoh, Cho Yudi. Kau pikir dirimu secantik apa hingga ada lelaki tampan bodoh yang mendekatimu? Dia pasti mendapatkan sesuatu yang memuaskan darimu, bukan?”

“Apa maksudmu?”

“Berapa kau jual dirimu?”

Plak!

Tamparan reflek yang keras dan cepat mendarat dengan sukses di pipi kiri Kyuhyun. “Jangan menghinaku!” sembur Yudi tajam. Mata Kyuhyun melebar, memperlihatkan keterkejutan dan kemarahan yang bercampur menjadi satu di kedua mata indahnya. “Kau…” ucapnya dengan kemarahan yang tertahan sambil mendorong bahu Yudi masuk ke dalam rumahnya. Yudi menjerit tertahan, tapi Kyuhyun meraih kedua bahunya dan mendorongnya hingga jatuh terduduk. Telapak tangannya tergores saat menahan berat tubuhnya.

“Beri aku uang,” perintah Kyuhyun dengan pelan namun tajam. Yudi merasakan perih di telapak tangannya, namun perhatiannya tak teralihkan dari sang kakak.

“Tidak punya,” jawabnya pendek. Dan tampaknya jawaban itu terlalu pendek, terlalu singkat, dan terlalu menghina bagi Kyuhyun, sehingga emosinya makin naik. Kyuhyun maju, mencondongkan tubuhnya di atas tubuh Yudi yang terduduk dan mendongak ketakutan. Wajah mereka hanya berjarak lima sentimeter saat kedua tangan Kyuhyun mencengkeram kerah baju Yudi. “Kau menghinaku. Cepat beri aku uang!”

“Sudah kubilang aku tidak punya. Sudah kuhabiskan untuk membayar hutang.”

Plak!

Kali ini Kyuhyun berhasil membalas tamparan adiknya dengan lebih keras dan kejam. Yudi menjerit saat pipi kirinya terasa seperti tertusuk ribuan jarum. Perih.

Berikutnya, Kyuhyun melepas cengkeraman tangannya dari kerah Yudi dan mulai mengobrak-abrik rumah satu ruang itu untuk menemukan semua uang yang diperlukannya.

“KATAKAN DI MANA KAU MENYIMPAN UANG SIALANMU!”

“SUDAH KUBILANG AKU TIDAK PUNYA!”

“BOHONG!”

“AKU TIDAK BOHONG!”

Wajah Kyuhyun berubah menjadi merah, ingin sekali lagi menampar Yudi yang berani membentak dirinya. Napasnya memburu, bahunya naik dan turun menahan emosi yang naik hingga satu tingkat di bawah level tertinggi. Tubuhnya maju sekali lagi untuk mendekati Yudi yang makin ketakutan, saat matanya menangkap sesuatu di belakang Yudi. Sesuatu yang masih tergantung di kedua bahu gadis itu. Kyuhyun menyeringai menakutkan. “Di situ rupanya,” gumamnya percaya diri sambil menarik paksa tas punggung Yudi. Mata Yudi membelalak kaget dan berusaha mempertahankan tasnya.

Buk!

Kyuhyun mendorong keras bahu Yudi dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya berhasil merampas tas yang mereka perebutkan. Punggung Yudi menghantam dinding dengan cukup keras, kemudian melorot dengan perlahan. Air matanya mulai mengalir, sementara pandangannya coba ia fokuskan pada Kyuhyun yang sudah mengobrak-abrik isi tasnya. Semua kantong yang ada di tas itu telah disisir Kyuhyun,  namun ia tak mendapatkan sepeserpun. Kemudian tangannya beralih ke dompet Yudi, dan hasilnya hampir sama nihilnya. Hanya ada seribu won yang bahkan tak cukup untuk naik subway. Kyuhyun hampir frustasi mencari uang adiknya saat matanya dengan jeli menangkap sebuah lempengan berwarna emas terselip di salah satu kantong di dompet itu. “Jadi namanya Choi Minho, ya?”

“Jangan! Oppa, itu bukan milikku!” jerit Yudi sambil menarik satu kaki Kyuhyun, memohon pada kakak tunggalnya untuk mengembalikan apa yang bukan miliknya. Kyuhyun menyentakkan kakinya dengan gerakan seperti menyepak sebuah bola, menyebabkan tubuh Yudi menunduk hampir mencium lantai sebelum dagunya terkena hantaman tulang kering Kyuhyun, dan tubuhnya ambruk ke belakang. “Aku dan Appa7 akan berterimakasih padamu. Lain kali tawarkan tubuhmu pada Presiden,” cemooh Kyuhyun sambil tersenyum licik sebelum pergi meninggalkan Yudi yang berusaha mengejarnya sembari terus memanggil namanya. ***

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, terdengar suara pintu dibuka. Minho ingin segera menghambur masuk, tapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Matanya menatap nanar melihat ruangan di depannya berantakan seperti kapal pecah. Minho mengedarkan pandangan untuk menemukan hal terpenting dari semuanya: Cho Yudi.

Dan itu dia. Di sana. Menunduk menyembunyikan kepala di antara kedua lututnya, diam seperti patung.

“YUDI-YA!” teriak Minho menghambur dan berlutut di depan gadis itu. Yudi mengangkat kepalanya, dan Minho mendapati sepasang mata sembab dengan hidung dan wajah yang memerah. “Minho-ya,” panggilnya lirih dengan air mata yang kembali mengalir.

“Apa yang terjadi? Kenapa berantakan seperti ini? Kau baik-baik saja?” serang Minho panik sambil meraba bahu, lengan, dan kaki Yudi. Tak ada luka.

“Apa ini?” tanyanya retoris sambil mengangkat dagu gadis di depannya. Yudi meringis saat jari Minho menekan bagian dagunya yang merah dan perih.

“Tidak apa-apa. Hanya terbentur,” jawab Yudi mengelak sambil menurunkan tangan Minho dari dagunya dengan tangan kanannya. Minho mengerutkan kening saat punggung tangannya merasakan sesuatu dari telapak tangan Yudi yang terasa kasar di kulitnya. Maka ia membalik tangan kanan gadis itu dan mendapati telapak tangan yang tergores. Minho memeriksa tangan kiri Yudi, dan menghela napas lega saat tak ada luka yang sama di sana.

“Apa yang terjadi?” tanya Choi Minho sekali lagi, kali ini dengan nada tenang dan lembut seperti biasanya, seraya menghapus air mata Yudi dengan ibu jarinya.

“Oppa. Semuanya. Maaf,” jawab Yudi terbata-bata dalam isakannya. Minho terlihat tersentak kecil sebelum tersenyum simpul. “Sudah kuduga.”

“Huh?”

“Pagi ini ada penarikan sejumlah sepuluh juta won dari rekeningku. Dan aku langsung tahu itu bukan kau, jadi aku cepat ke mari dan—“

“Sepuluh juta?”

Sekali ini, Yudi lebih memilih dagunya berdarah-darah hingga dagingnya robek daripada harus mendengar atau mempercayai kata-kata Minho barusan. Tapi impiannya tentu saja tak terlaksana. Dagunya tetap hanya mengalami memar ringan, sedangkan Minho tidak menarik kata-katanya. Sepuluh juta dari rekeningnya tetap hilang.

Kakinya panas dan tidak bisa digerakkan. Air matanya seakan kering, tak bisa lagi digunakan untuk menyatakan kesedihannya. Pandangannya tidak fokus, sehingga dia harus meraba untuk mencari dan menggenggam tangan Minho. “Bagaimana ini? Sepuluh juta. Ya Tuhan… Itu sangat banyak. Terlalu banyak. Bagaimana aku menggantinya? Ya Tuhan… Minho-ya, aku—“

“Tenangkan dirimu. Aku sudah memblokir kartu itu. Kyuhyun tidak akan bisa mengambil lebih banyak lagi.”

Yudi tetap tidak tenang, dan pandangannya belum bisa fokus. Jadi Minho memeluknya, membelai rambut kusut gadis itu, seraya menggumamkan kalimat-kalimat yang membantu menenangkan Yudi yang mulai gemetar. Tak cukupkah mereka mengusirnya? ***

“Terimakasih,” ucap Yudi lemah, saat dirinya sudah merasa lebih tenang. Minho tersenyum, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Kartu ATM. Yudi meliriknya sekilas, namun kemudian terkejut seperti melihat sesuatu yang menakutkan. “Jangan. Jangan lagi. Tidak mau lagi,” sergahnya panik sambil beringsut menjauhi meja. Minho meraih satu tangan Yudi, menahan gadis itu agar tidak makin menjauh darinya.

“Kau tidak akan bekerja dalam beberapa hari. Jadi kau tidak akan punya uang. Pakai saja.”

“Sepuluh juta—“

“Anggap saja itu suatu kerugian atas usaha yang baru kubangun. Jangan khawatir, aku masih bisa mengusahakan jumlah itu dari ayahku.” Minho mengatakannya dengan sangat tenang dan lembut, disertai senyum menawan yang menggetarkan hati setiap gadis normal yang melihatnya. Yudi menatapnya dengan mata lelah, seakan menyerah dalam urusan tarik tunai dari kartu apapun.

Aku ingin menghajarnya, siapapun yang menyakiti gadis ini. Bolehkah? ***

Yudi menatap nanar pada kartu ATM di atas mejanya. Selama setengah jam penuh dia melakukan itu tanpa sedikitpun menyentuhnya. Kemudian terdengar bunyi pintu berderit membuka. Yudi mengira itu Minho, jadi dia menoleh dengan tenang.

Tapi ternyata itu memang bukan Minho.

Matanya membelalak lagi, seperti semalam, dan Yudi menyeret tubuhnya mendekati meja. Ia menggerakkan satu tangannya ke atas meja seperti bertumpu untuk berdiri, namun sebenarnya ia mengambil kartu ATM milik Minho dan segera mematahkan benda itu di tangannya sebelum Kyuhyun mengambilnya.

“Aku melihatnya lagi. Benar-benar tampan. Dan tindakanmu sangat cepat dengan menghubunginya lebih dulu, alih-alih membereskan apa yang kurusak di sini. Cih! Benar-benar jalang,” cemooh Kyuhyun sambil berjalan mendekati adiknya yang kini sudah berdiri sepenuhnya.

“Apa lagi yang kau inginkan? Kau sudah menghancurkan rumahku, mengambil kartu kredit Minho, dan mencuri sepuluh juta darinya. Apa belum puas?”

“Masih terlalu dini untuk merasa puas, Yudi Sayang. Jumlah itu belum menutup tagihan Jungsoo.”

“Jangan terkejut seperti itu,” lanjut Kyuhyun saat Yudi hanya bergeming. “Kau pikir hanya dirimu yang terlilit hutang? Asal kau tahu, aku juga menderita dengan perbuatannya. Uangku dirampas begitu saja untuk membayar hutang yang makin menumpuk. Dan maafkan aku, Sayang, tapi aku tidak ingin menikmati ini sendirian. Berikan aku uang lagi!”

Cho Kyuhyun, dengan pakaian serba hitam yang sungguh menarik dan tampan, berbicara dengan intonasi naik turun yang memikat, namun kemudian merubah kesan itu menjadi tajam dan menakutkan. Sekarang ia sudah berdiri tepat di depan Yudi, mengintimidasi dengan tatapan elangnya. “Apa yang kau sembunyikan?” tanya Kyuhyun tajam sebelum Yudi mengelak dari permintaan sebelumnya. Agaknya Kyuhyun mempunyai mata yang baik ketika memperhatikan salah satu tangan Yudi tetap berada di belakang punggungnya. “Tidak ada.”

Kyuhyun tersenyum tampan sekaligus menakutkan. “Bohong lagi, ya? Baiklah.”

“AAH!”

Yudi menjerit keras saat Kyuhyun menarik paksa tangannya yang tersembunyi, mengarahkannya ke depan dan membuatnya terkilir. Terdengar suara benda ringan yang jatuh di lantai kayu. Kyuhyun mengarahkan ekor matanya pada benda itu, kemudian memungut lempengan yang kini tertekuk di bagian tengah. Emosinya naik sekali lagi melihat ATM Minho sudah hancur dan tidak dapat digunakan lagi. “KAU—“ teriak Kyuhyun tanpa berniat menyelesaikan kalimatnya, dan memilih langsung menampar Yudi.

“BERANINYA KAU! APA KAU INGIN MELIHATKU TERBUNUH? SUDAH KUBILANG AYAH BRENGSEK ITU MENGACAUKAN HIDUPKU! KENAPA KAU MELAKUKAN INI?” Yudi menutup mata saat telinganya berdenging nyeri yang merambat ke otaknya. “IKUT AKU!” perintah Kyuhyun kasar sambil menarik lengan Yudi, mencengkeramnya hingga menciptakan rasa perih yang menyiksa. Kyuhyun terus menariknya, setengah menyeret, dan memaksa Yudi masuk ke mobilnya.

Dalam rasa sakitnya, Yudi masih sempat berpikir kenapa Kyuhyun tidak menjual saja mobil ini untuk membayar hutangnya. ***

“Appa, aku membawanya,” ucap Kyuhyun bergitu mereka sampai di dalam rumah. Seseorang yang dipanggil Appa itu menoleh, diikuti seorang pria tampan di depannya yang ikut menoleh ke arah Kyuhyun. Kemudian Kyuhyun mendorong bahu Yudi, membuatnya berlutut di depan pria tampan berpakaian serba putih.

“Inikah yang kau janjikan?” tanya pria itu pada Kyuhyun dan ayahnya seraya berlutut dan meraih dagu Yudi, mengarahkannya ke atas. Ia tersenyum tampan. “Lumayan.”

“Cukup berpengalaman untuk mendapatkan kartu kredit platinum dari seorang pria tampan yang kaya,” sahut Kyuhyun ringan. Mungkin aku sudah bisa bernapas sekarang.

“Dia… Cantik, bukan? Jungsoo-ssi?” Kali ini Cho Siwon, ayah Yudi, bersuara dengan takut dan ragu sambil memandang pria di depan putrinya. Pria serba putih yang dipanggil Jungsoo itu tersenyum lebar, lebih tampan. “Aku bilang lumayan. Baiklah. Aku rasa saat ini cukup. Jika aku mendapatkan uangku dari pembelinya, maka hutangmu lunas,” jelas Jungsoo tanpa mengalihkan tatapannya dari Yudi.

Pembeli. Apa maksudnya? Yudi tidak ingin berpikir sesuatu yang buruk sedang menghadangnya lagi. Tapi… oh, tidak! ***

“Limaratus juta.”

“Tigaratus.”

“Empatratus limapuluh.’

“Tigaratus limapuluh.”

Jungsoo tersenyum tipis, menikmati saat-saat seperti ini. Saat dirinya harus beradu mulut dan bersilat lidah dengan seseorang yang akan membeli gadisnya. Bukankah negosiasi adalah hidupnya?

“Ayolah. Hutang keluarga itu bahkan lebih dari empatratus juta. Kau kira aku akan menerima tawaranmu? Pergilah,” ucap Jungsoo malas seraya menghirup asap rokok herbal yang baru saja keluar dari mulutnya. Seorang pria yang sedang bernegosiasi di hadapannya tersenyum, mengeluarkan senyuman mautnya. “Bukankah hutang itu sudah dibayar beberapa bagiannya?”

“Yang mereka bayar itu bunganya.”

“Baiklah. Kau sangat menyebalkan. Empatratus tigapuluh juta. Tawaran terakhir.”

Jungsoo tersenyum lagi, lebih tipis dari sebelumnya. “Kau amatir yang hebat. Apa kau pialang saham?” canda Jungsoo sedikit mencemooh yang dijawab dengan senyuman maut yang sama oleh pria itu. “Han,” seru Jungsoo memanggil—memerintah—Han Geng, yang langsung mengerti dengan maksudnya.

“Kibum-ssi, kau sudah mengajukan penawaran dan aku menyetujuinya. She’s fully yours,” kata Jungsoo sambil mendorong pelan bahu Yudi di depan pria bernama Kibum itu. Kibum meraih tangan Yudi, memeluk bahu gadis itu, dan tersenyum. ”Terimakasih. Senang berbisnis denganmu. Kau akan mendapatkan uangnya dari Donghae,” ujar Kibum menggerakkan tangannya ke arah pria di sampingnya yang segera menghadirkan uang senilai empatratus tigapuluh juta won di hadapan Jungsoo. Jungsoo tersenyum. “Aku percaya padamu,” katanya sambil mejabat tangan Kibum. ***

Perasaan Yudi benar-benar tak menentu. Sakit, benci, perasaan terkhianati, semua menjadi satu. Bahkan ia lebih memilih mati daripada menyaksikan dirinya menjadi ladang uang oleh orang-orang yang tidak dikenalnya.

Yudi jatuh terduduk di lantai sebuah ruangan mewah. Ia menyeret tubuhnya hingga pada akhirnya terjebak di antara dua dinding yang saling bertemu di satu sudut. Jantungnya bergerak liar saat Kibum terus melangkah ke arahnya.

Dan sekarang justru Kibum sudah bertumpu pada satu lututnya. Tangannya terangkat, mengarah ke wajah Yudi. Yudi menjerit. Dia mengayunkan kedua tangannya di udara untuk menghalau tangan Kibum yang makin mendekati tubuhnya.

“TIDAK! JANGAN! KUMOHON!” jerit Yudi selantang-lantangnya. Dan dia mengulanginya berkali-kali. Beberapa kali tangannya yang terayun sembarangan mengenai tangan Kibum, namun tampaknya Kibum tidak menyerah. Yudi terus menjerit dan memohon, dan kali ini air matanya mengalir dengan sendirinya. Dan jeritan itu makin keras dan tak terkendali saat terdengar suara pintu terbuka dan tangan Kibum berhasil menyentuh kedua bahunya.

“Nona? Tenanglah, Nona. Apa kau tidak mengingatku?”

Suara itu begitu halus dan sopan, dan sangat berbeda dengan suara Kibum saat berunding dengan Jungsoo. Jeritan dan isakan Yudi berhenti secara tiba-tiba, kemudian mengangkat kepalanya menatap Kibum.

“Saya Kim Kibum, pengawal Tuan Choi. Anda tidak mengingatku?”

“Huh?”

Kibum tersenyum sopan. “Aku membantu membawakan barang-barang Tuan Choi ke dalam rumahmu. Aku juga yang mengganti wallpaper dindingmu. Dan aku juga ikut membantu merapikan rumahmu, saat aku tahu kau dalam kesulitan dengan kakakmu dan segera menghubungi Tuan Choi.”

Yudi bersumpah dirinya pasti sedang bermimpi. Apa-apaan ini? Kenapa jadi begini? Kyuhyun, Appa, Jungsoo, Kibum. Minho.

“Kibum-ssi, pergilah. Kau bekerja sangat baik.”

Yudi masih bingung. Itu pasti. Tapi Minho sudah berlutut di depannya, tersenyum padanya.

“Aku tahu ini menghinamu. Tapi aku tidak punya cara lain untuk membebaskanmu dari mereka selain aku harus membelimu. Maaf,” ucap Minho dengan tatapan sendu dan penyesalan yang dalam. Yudi menatap pria tampan di hadapannya dengan tidak yakin. “Kau?”

“Maafkan aku. Yudi-ya, aku benar-benar takut saat Kibum memberitahuku kau tidak ada di rumah. Kemudian Donghae bilang ada banyak mobil mewah di depan rumah ayahmu. Aku tahu itu rentenir, dan aku tahu ayah dan kakakmu akan menyerahkanmu pada mereka. Jadi aku memaksa Kibum bekerja keras untuk menemukan Jungsoo dan berunding—“

Plak!

Kalimat Minho terhenti oleh tamparan keras dari tangan gadis di depannya. Minho memejamkan mata, menahan perasaan menyesalnya dan siap menerima protes Yudi yang mungkin mengutuknya karena ia membeli gadis itu. Membeli. Ya Tuhan…

“Bodoh! Kenapa kau tidak membiarkan orang lain yang membeliku? Jadi aku tidak perlu terlalu banyak berhutang padamu. Kenapa tidak kau biarkan orang lain yang berada di sini, memukulku, dan pada akhirnya membunuhku? Tahukah kau aku benar-benar ingin menghilang sekarang? Aku bukan penyihir, aku tidak bisa menghilang begitu saja. Aku harus mati untuk pergi dari hidupku yang memuakkan. Aku harus—“

“HENTIKAN!”

Minho berteriak sangat nyaring dan seketika menghentikan Yudi yang meracau tidak jelas. Kemudian Minho mencengkeram kedua bahu gadis di depannya. “Kau pikir aku tidak memikirkannya? Apa kau pikir aku akan membiarkan orang lain yang berada di sini bersamamu, menyentuhmu, menyakitimu? Aku panik saat mendengar kau tidak ada di tempat kau seharusnya berada. Aku frustasi saat mendengar Jungsoo menyuruh Kibum pergi karena tawarannya ditolak. Dan aku hampir gila saat harus bersembunyi di dalam kamar ini demi mendapatkanmu kembali. Aku pasti akan membunuh diriku sendiri jika aku membiarkan tangan orang lain yang menyentuhmu. Tak bisakah kau mengerti perasaanku?”

Choi Minho meledak. Mengatakan banyak kalimat dengan nada tinggi dan mengakhirinya dengan nada frustasi sambil menundukkan kepalanya. “Maaf,” ucapnya lirih sambil melepas cengkeraman tangannya di bahu Yudi saat menyadari hal itu menyakitinya juga.

“Apa kau mencintaiku?”

Minho tersenyum, kali ini sudah lebih tenang, lalu meraih kedua tangan Yudi. “Tidak sampai pada titik itu. Tapi jika kau memintaku, maka detik ini juga aku akan mencintaimu.”

Air mata Yudi mengalir di pipinya yang mulai mengering. “Bodoh.”

Minho tersenyum lagi, kemudian menempelkan kening mereka berdua seraya menghapus air mata Yudi dengan ibu jarinya.  “Aku tahu. Jadi menikahlah denganku.” *** (Tamat)


[1] Ibu, kau baik-baik saja?

[2] Aku mengerti.

[3] Kau mengerti?

[4] Bibi

[5] Laki-laki

[6] Kakak laki-laki (diucapkan oleh perempuan)

[7] Ayah

Voting ini terbuka bagi semua kalangan, author tetap, author free writer, dan readers.. Silakan memvote FF kesukaan kalian, HANYA BOLEH SATU KALI!

WARNING!! Sebelum kalian menekan tombol vote, pastikan kalau ini merupakan FF yang menurut kalian terbaik. Kami tidak akan bertanggung jawab jika terjadi pendoublean voting dan menyebabkan FF ini didiskualifikasi.. Harap pengertiannya!😀