Title                 : hidden string (thousand spectrum of dreams)
Author             : taree
Length             : Oneshot
Genre               : romance, fluff, supernatural
Cast                  :
Seo Joohyun (well-known as Seohyun from So Nyeo Shi Dae)
Jung Yonghwa (C.N.BLUE)
Park Shin Hye  (additional cast)


Setiap orang memiliki benang yang melilit pergelangan tangan mereka, dan ketika mereka menemukan pasangan benang dengan warna yang sama, maka mereka adalah takdir yang telah ditentukan sampai batas waktu bernafas. Setiap satu orang dari pasangan tak direlakan mati, maka benang yang melilit akan menghilang—dan salah satu dari mereka tidak akan pernah diizinkan hidup bahagia.

i.a boy who forgets the world

Hari pertama musim semi, dengan angin sepoi-sepoi bertiup dari arah tenggara lembut.

Hari pertama musim panas, hari kesekian ribu Jung Yonghwa menghabiskan harinya di bawah pohon willow—rindang, batangnya besar dan kokoh, daunnya hijau segar dan juga rimbun. Memayungi sosoknya dari atap langit dan juga matahari yang membakar. Ia terlihat sendirian, dan nyaris setiap orang yang akan duduk di sampingnya langsung berlalu meninggalkannya, malah terkadang mencibir hina.

Tidak ada yang aneh dari sosoknya, ia—Yonghwa, tergolong ke dalam sosok tampan yang setiap hari datang ke taman kota untuk sekedar menghabiskan waktunya di bawah pohon favoritnya sambil bersiul dan melamun, terkadang—satu persepuluh kesempatan dihabiskannya untuk tersenyum sendiri, bercanda ditemani angin.

And he is—actually normal.

Sama seperti halnya Tuhan menciptakan surga dan neraka, dua mahakarya yang terhebat yang pernah ada, tercipta diluar jangka pikiran manusia yang serba terbatas, Yonghwa terlahir dengan beberapa kelebihan dan kekurangan yang membuatnya pantas hidup menjadi seorang manusia. Dianugerahi wajah tampan dan suara merdu tak cukup membuatnya sempurna. Di setiap saat, di bawah matanya selalu terlihat sepasang kantung mata hitam yang sangat besar, dan aura kelelahan tidak ingin berpaling dari sinar matanya. Yonghwa mengidap penyakit insomnia1 berat. Manusia-manusia yang melihatnya selalu merasa takut terhadapnya, terkadang merasa jijik dengan tingkahnya yang selalu tertawa sendiri di saat-saat tertentu—dimana sebenarnya ia sedang berusaha untuk menjadi ceria, sepatah kata yang selalu dapat dirasakan oleh setiap manusia di dunia ini.

Mereka tidak tahu Yonghwa mengidap insomnia karena ia sendiri takut untuk memejamkan matanya. Mereka tidak tahu Yonghwa selalu dihantui nightmare2 yang menyiksanya acap kali ia memutuskan untuk tidur.

Dan hal yang paling buruk yang dialaminya, ia hanya sekali mimpi indah dan ia tak bisa mengingatnya.

ii.a girl who owns the world

Hari kedua musim semi, dan semua tak (dan mungkin tak akan) berubah. Sleepy yet denial3 Yonghwa under the tree, dan hari itu sekumpulan perempuan berpakaian minim kembali membicarakannya dari belakang—tentang kekurangannya. Kantung mata hitamnya, kebiasaannya bersenandung yang dianggap tak wajar, nyaris semuanya. Dan Yonghwa tak punya pilihan selain mencoba tak peduli. Dan ia berhasil.

Matahari nyaris tenggelam, dan Yonghwa baru saja akan bangkit dari tempatnya menghabiskan waktu ketika ia mendengar beberapa alunan nada yang selaras dengan musik yang biasa ia dengarkan di radio, disenandungkan dengan—nyaris—sempurna. Tepat dibalik batang pohon tempat ia berada saat itu.

 

“a-anyone there? I-I mean…there?4 suara seraknya menyapa lemah dan tergagap, setelah tak terhitung berapa lama ia tak pernah berkomunikasi dengan—bahkan satu orangpun. Ia masih diam di tempatnya semula, dan ia tak yakin suaranya terdengar lebih dari tiga puluh sentimeter saja.

Alunan senandung berhenti, “Uhm?” Dari balik batang pohon tua yang besar itu menoleh sosok seorang gadis dengan senyumnya yang ramah. Sinar matanya memantulkan kebahagiaan yang mengalir tanpa henti, namun Yonghwa masih tidak berkutik dari posisinya.

Yonghwa diciptakan sebagai laki-laki yang tidak pernah peduli akan lingkungan, ia `didesain` untuk menjadi acuh tak acuh karena ratusan cibiran, hinaan, dan hal buruk yang selalu dilekatkan padanya, ia seharusnya pergi berlalu dan tak menghiraukannya,

Tapi pada akhirnya ia menoleh dan membalas senyuman hangat. Uap-uap ketidakpeduliannya tiba-tiba menguap, pergi bernaung bersama awan.

Bubuk bintang mulai berkedip genit, dan Yonghwa pun bangkit dari tempatnya duduk untuk pulang. Sekali lagi ia tersenyum ke arah gadis manis yang telah membuat harinya berbeda—kedua bola matanya sibuk mencari celah diantara semua hal yang ada, and there he finds it, satu badge5 nama terkait di jas seragam sekolahnya.

Oh, namanya Seo Joohyun.

And then his mind goes twinkle twinkle like the stars above in the sky.6

iii.magic, love, and wings

Masa depan bukan milik mereka untuk ditentukan.

Pertemuan Yonghwa dan Seohyun yang kedua  ditakdirkan kembali di bawah pohon willow Yonghwa—pohon mereka,  pohon yang selalu menjadi atap yang hangat ketika musim dingin, atap yang sejuk ketika musim panas—atap yang membuat Yonghwa nyaman; tempat berbagi senyum dan aura kesenangan meski tak meledak-ledak seperti apa yang orang lakukan.

Ada satu hal yang membuat Yonghwa lebih tak peduli terhadap cibiran orang hari ini.

Seohyun kembali duduk di bawah pohon willownya—kali ini tepat di samping tempat Yonghwa berbaring menikmati pemandangan langit. Ia masih memberikan senyum sehangat mentari dan tatapan don’t-worry-everything-will-be-fine.

“Untuk pertama kalinya, kita duduk bersebelahan setelah beratus-ratus hari merasa sendirian di bawah pohon dan langit yang sama.” Ucap Seohyun lembut sambil membaringkan tubuhnya berdampingan dengan Yonghwa, menatap langit sore.

Yonghwa membelalakkan matanya, terkejut akan pernyataan Seohyun dan menoleh, “Jadi selama ini kau juga selalu duduk di bawah pohon ini?”. Seohyun terkekeh pelan dan mengangguk, “Menghindari orang-orang yang berusaha memanfaatkanku.”

“Orang-orang bilang, aku memiliki sepasang mata ajaib. Aku selalu bisa melihat benang-benang berwarna melilit pergelangan tangan setiap orang, dan setiap aku menemukan dua orang yang memiliki warna benang yang sama, mereka berjodoh.”

“wow,” tanggap Yonghwa singkat, menggantikan kata-kata ajaib lainnya untuk diungkapkan.

Seohyun terkekeh, lalu melanjutkan, “Tapi aku tidak dapat melihat punyaku sendiri.”

Yonghwa mengangguk pelan, “Berarti bagus,” ia berdeham sekali, “Lebih menyenangkan menjalani hari-hari penuh misteri.”

Tidak sepertiku, bermimpi-pun tidak bisa, batinnya dalam hati.

Seohyun mengangguk, tatapannya kembali teralihkan ke arah langit.

“Masih ada langit yang memperhatikanmu,” ujarnya pelan, disusul cengiran khas Yonghwa. Beberapa detik kemudian Yonghwa merasa hangat, Seohyun menggenggam tangan miliknya dengan erat, “So, I’m Seohyun.”

Yonghwa terkikik mengingat ia sudah lebih dulu mengetahui nama Seohyun, namun ia tetap membalas, “Jung Yonghwa.”

Untuk sesaat, Yonghwa menganggap hal yang terjadi hari itu hanyalah serpihan mimpinya yang hilang. Dan ia melupakan apa yang selama ini menerpanya.

Tapi Seohyun tidak. Seohyun hanya tidak menceritakan satu hal kepada Yonghwa,

Bahwa ia juga tidak melihat lilitan benang di pergelangan tangan Yonghwa—tapi ia bisa membaca apa yang Yonghwa pikirkan.

Satu kali, dua kali, tiga dan tak terhitung berapa kali mereka bertemu; dan ketika obrolan Yonghwa dan Seohyun berakhir, Yonghwa merasakan otaknya dirasuki bubuk-bubuk mimpi. Mimpi yang seharusnya tak bisa ia ingat.

iv.spectrum

Kilau spektrum cahaya menutupi pandangan Yonghwa dari jauh, menyisakan kelap-kelip makhluk langit di malam hari, sampai di titik dimana ia melihat wajah Seohyun tepat berada di hadapannya, melambaikan tangan dan tersenyum. Ia mengangkat tangan kanannya, dan terlilit benang-benang merah yang semrawut tak beraturan, yang menyatu dengan benang yang terkait di tangannya sendiri.

Seohyun berlari menjauh, benang yang melilit tangan mereka tidak ingin putus, Seohyun menangis dan berlutut, air mata yang terjatuh dari pelupuk matanya berubah menjadi kristal-kristal yang berkilau. Beberapa lama kemudian, sekelumit bayangan membawa Seohyun pergi, dan bintang-bintang berhenti berkedip, bulan tidak mau menemani malam, dan dunia Yonghwa berubah sunyi. Yonghwa berteriak, tak ada yang mendengar—bahkan telinganya sendiri tak berfungsi. Hatinya terkunci—no thump thump thump7 dan bibirnya tak bisa membuat garis lengkungan senyum. Yonghwa tak diizinkan bahagia.

Keringat sebesar-besar biji jagung membasahi wajah Yonghwa, terdiam beberapa menit memastikan apakah barusan ia bermimpi—seutuhnya.

Dan ya, mimpi itulah satu-satunya mimpi yang Yonghwa pernah alami, dan tak pernah bisa ia ingat. Dan ia hari itu dapat mengingatnya dengan utuh.

 

v.love doesn’t wait

“Seohyun-ah,” Ucap Yonghwa pelan tepat ketika Seohyun baru saja mendaratkan punggungnya ke batang besar pohon itu—pohon mereka yang rindang.

“Apa kau bisa melihat benang yang terlilit di tanganku?” Yonghwa tak memberi sedikitpun celah untuk Seohyun berbicara. Raut muka Seohyun berubah cemas, senyumnya hilang dari pandangan, dan Yonghwa mengulangi pertanyaannya, “Apa-kau-bisa-melihat-benang-milikku?”

Seohyun meraih tangan Yonghwa, lalu menggeleng.

“Aku senang kau sudah bisa kembali bermimpi. Setelah tiga tahun lebih tersiksa. Maaf.”

Yonghwa berganti menggeleng cepat, “Kau gila. Sudah tiga tahun aku tidak punya siapa-siapa dan oksigen yang kuhirup semuanya sia-sia, dan kau baru kembali sekarang? Kau mau tahu bagaimana rasanya ditinggalkan? Selalu dicemoohi. Aku takut tidur, karena setiap tidur pasti aku selalu melihat kebahagiaan orang lain. Mataku menghitam, dan setiap tidur kepalaku sakit.”

“Aku benci semuanya. Aku benci kau.”

Yonghwa pergi dengan cepat sambil berlari, meninggalkan Seohyun yang masih terkunci di tempatnya. Helai bulu dari sayap emasnya yang tak terlihat berjatuhan, ikut termakan kesedihan.

vi.reborn

Jung Yonghwa kembali hidup dalam kesendirian. Singkatnya, semuanya kembali serba biasa. Ia yakin ia membenci Seohyun karena telah meninggalkannya sampai ia tidak bisa bahagia selama lebih dari tiga tahun.

Something different happens.

Yonghwa tidak takut lagi akan memejamkan mata. Meski ia tak pernah bermimpi, ia tak pernah mengalami keluhan dalam tidurnya seperti apa yang selalu ia rasakan sebelum-sebelumnya. Kantung mata hitam yang bergelayut di bawah matanya sudah hilang dan perasaannya kembali seperti ketika ia baru dilahirkan—

—tapi tidak dengan pohon itu. Pohon itu adalah saksi bisu Yonghwa tertawa, menangis, merutuk dan mengancam dalam diam. Pohon itu adalah saksi bisu penderitaannya selama tiga tahun. Pohon itu adalah saksi kekecewaannya terhadap Seohyun.

Dan Yonghwa tidak akan pernah lupakan itu.

……Excuse me, aku boleh duduk disini?” sosok perempuan berambut pendek sebahu tersenyum riang sambil menyapa hangat. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung duduk di sebelah Yonghwa yang masih melamun. Pipinya yang berisi terlihat makin berisi ketika ia tersenyum. Yonghwa tersenyum canggung dan membiarkan perempuan itu duduk di sebelahnya sambil mengusap wajahnya yang penuh keringat dengan sapu tangan merah marun miliknya.

Menyadari Yonghwa terus menatapnya intens, perempuan itu kembali tersenyum ramah, “Kau juga berkeringat? Musim panas tahun ini tidak ada tandingannya, sepertinya matahari semakin lama semakin turun menembus atmosfir bumi, ya. Ini, Kebetulan aku bawa satu lagi.”. Sebuah sapu tangan berwarna hijau tosca disodorkannya ke hadapan Yonghwa, dan untuk sesaat Yonghwa tertegun.

“…..boleh?” Yonghwa balik bertanya seperti anak kecil, dan manusia di hadapannya dengan refleks terbahak lepas.

“Kau ini kenapa? Oh ya, aku Shin Hye.” Tangan kanannya dijulurkan, menyalakan alarm perkenalan yang baik, sekali lagi, Yonghwa masih tertegun, badannya mulai terasa lemas.

jauh—jauh dari balik teropong milky way8, terlihat jelas sepasang benang merah melilit tangan mereka berdua. Takdir Yonghwa kembali. Dan ia sudah berhak bahagia.

 

vii.lie-lie-bye

Jauh, jauh dari balik sudut angkasa, Seohyun asik bermain dengan teropong langit. Beban yang menimpanya sudah lebih ringan, kecuali pilihannya untuk melepaskan Yonghwa,  yang sudah tak mungkin ditolaknya.

Seohyun dan Yonghwa saling mencintai selama lebih dari dua tahun, dan pada puncaknya ketika mereka akan menikah, Seohyun mengalami kecelakaan yang tak bisa dihindari—ia pun meninggal dan menjelma menjadi bidadari. Benang merah yang melilit tangan mereka berdua seharusnya putus tepat ketika salah satu dari mereka pergi, namun Yonghwa tak mau dan tak bisa percaya. Dan takdir mereka menggantung, tak jelas arahnya.

Yonghwa mengalami lupa ingatan, dan selama itu pula ia tak pernah bahagia.

Seohyun tidak tahu Yonghwa bukannya tidak pernah bahagia—ia tidak diizinkan bahagia selama benang takdir mereka masih saling berhubungan satu sama lain di dimensi yang berbeda, meski tak terlihat.

Seohyun tahu keadaan Yonghwa yang selalu dihina, dicemoohi, keadaan dimana Yonghwa takut memejamkan mata dan merasa sakit yang teramat sangat. Bukannya Seohyun tak rela, tapi disaat Seohyun menangis karena kesedihan yang menggumpal melihat keadaan Yonghwa, air matanya tersalurkan lewat benang takdir mereka menjadi rasa sakit yang tak terhingga—puncaknya, Yonghwa menderita. Dan Seohyun tak tahu harus bagaimana.

Ia kembali ke bumi untuk membuat Yonghwa mengingat bahwa ia telah meninggalkan Yonghwa dalam penderitaan sendirian, agar Yonghwa membencinya, agar benang mereka terputus, agar kutukan selesai dan Yonghwa bisa kembali bahagia meski tak bersamanya. Ia tahu, hidup Yonghwa masih panjang, dan Yonghwa sudah lama menderita.

Yonghwa masih tidak bisa mengingat dengan sempurna, kebenciannya hanya sepanjang ingatannya tentang kepergian Seohyun yang tiba-tiba, tanpa mengingat bahwa Seohyun sudah meninggal.

 

I’m sorry I lied, I really am.

Bye-bye, Yonghwa, have a nice love.

Sincerely with love, Seo Joohyun.

viii.refraction

“Hi, Yonghwa, how are you?” Seohyun menyapa dengan suara khasnya diantara serbuk-serbuk gemerlap yang menyelimutinya.

“Aku baik. Aku pikir aku tidak akan melihatmu lagi,” Yonghwa menghembuskan nafas lemah, “Ada apa lagi?”

“Maaf membuatmu menderita selama tiga tahun; maaf juga meninggalkanmu. Jika aku masih bisa kembali, aku akan kembali, tapi aku tidak bisa. Aku pergi terlalu jauh, dan kau tidak bisa menjangkaunya.”

Yonghwa tidak membalas, sorot matanya berubah nanar, sekelumit bayangan membawanya pergi ke kejadian-kejadian tiga tahun lalu, dan kelenjar air matanya sudah siap bekerja.

“Tidak. Jangan. Kau sudah sejauh ini menderita, tapi sekarang kau bisa tersenyum lagi. Jangan sia-siakan kesempatanmu. Takdir barumu sudah menanti. Aku hanya ingin pamit pergi.”

Kembali, Yonghwa terbangun dari mimpi dengan keringat yang tak berhenti mengalir di wajahnya. Ia mencoba menyentuh dadanya, there’s thump thump thump—sebagian hatinya kembali. Dan sisanya masih terkunci, separuh hatinya masih mencintai Seohyun.

Tapi takdirnya masih menunggu. Shin Hye masih menunggu. Pohon mereka masih menunggu.

ix.epilogue

Musim gugur merupakan musim terhangat dan teromantis selain musim semi. Beratus hari berlalu dan daun-daun pohon itu akan ber-regenerasi menjadi pohon yang baru, umur yang tua dan generasi yang baru. Daun-daun yang sudah cokelat berjatuhan dari pohonnya, berjatuhan di atas kepala Yonghwa seenaknya.

“Jadi, Shin Hye, kau mau menikah denganku?”

Seohyun-ah, will you marry me?

Yonghwa menyembunyikan kedua tangannya di balik badannya, dan tepat setelah Shin Hye mengangguk, dipasangkannya mahkota yang terbuat dari daun-daun yang telah gugur di kepalanya. Dan Yonghwa berjanji tidak akan lagi menyia-nyiakan kesempatan untuk tersenyum.

Aku tersenyum untuk Shin Hye, juga untukmu.

Sebuah daun tua jatuh melewati telinga Yonghwa, membisikkan kata-kata manis dari bidadari angkasa yang turut berbahagia,

Yes, I will.

Lagi—lagi—lagi, jauh dari segala penjuru bumi, angkasa, galaksi, Seohyun mengamati kebahagiaan yang Yonghwa rasakan. Bila setengah hati Yonghwa masih terkunci untuknya, maka semua bagian hati Seohyun sudah terkunci sejak lama untuk Yonghwa.

Love doesn’t count time, presence and even dimension.9

 

Benang takdir antara Yonghwa dan Seohyun memang sudah terputus, tapi itu kembali melilit bagian lain dari mereka, perasaan mereka. Selalu ada rasa sakit yang menerpa Yonghwa tiap kali ia mengingat Seohyun, tapi ia sudah menemukan penawar untuk itu. Penawar paling indah.

Yaitu berbahagia—meski tidak bersama Seohyun— selama ia masih bisa bernafas.

x.summary

Alkisah, seorang perempuan bernama Seohyun memiliki kemampuan khusus, yaitu dapat melihat benang yang melilit di setiap pergelangan tangan orang; dan setiap orang yang menemukan warna yang sama di pergelangan tangan orang lain, maka orang lain itulah yang akan menjadi jodohnya.

Seohyun telah menemukan pasangan benang merah yang melilit di pergelangan tangannya, laki-laki itu bernama Yonghwa—alhasil, mereka pun nyaris tak terpisahkan selama dua tahun. Dan puncaknya, ketika mereka akan menikah, sesuatu buruk terjadi pada Seohyun. Ia mengalami kecelakaan, dan nyawanya tak tertolong.

Relasi benang takdir di antara mereka seharusnya putus ketika salah satu dari mereka pergi ke dimensi lain; tapi beda dengan Yonghwa. Ia tak merelakan—bahkan tidak percaya jika Seohyun sudah meninggal. Akhirnya benang merah yang melilit tangan mereka berdua hanya sekedar hilang, dan relasinya menjadi tak jelas.

Seohyun yang telah meninggal menjelma menjadi bidadari, yang selalu mengawasi Yonghwa di setiap suasana. Yonghwa mengalami lupa ingatan karena frustasi, dan hidupnya menjadi kelam. Sementara benang takdirnya dengan Seohyun terus terhubung meski ia sudah tak ingat siapa Seohyun. Ia hanya sekali bermimpi, dan ketika ia bangun ia tidak bisa mengingatnya lagi.

Hal yang di akhirnya diketahui Seohyun adalah bahwa ketika benang takdir antara pasangan yang sudah berbeda dimensi masih terhubung, maka salah satu dari pasangan itu akan mendapat hukuman atau kutukan.

Dan benar saja, Yonghwa tidak diizinkan bermimpi, Yonghwa tak diizinkan senyum dan ia tak diizinkan hidup bahagia—selama benang takdir itu masih terhubung.

Seohyun terus mengawasi dari balik garis angkasa, air matanya yang jatuh berubah menjadi kesengsaraan tanpa ampun bagi Yonghwa. Seohyun merasa sedih, karenanya-lah Yonghwa menjadi seperti itu, maka ia memutuskan untuk kembali ke bumi, mencari cara agar Yonghwa bisa membiarkan Seohyun pergi, agar benang takdir di antara mereka bisa putus dan Yonghwa terbebas dari kutukan itu—agar Yonghwa bisa kembali bahagia.

Berkat kedatangan Seohyun, spektrum-spektrum mimpi Yonghwa yang tak pernah bisa diingat bermunculan menjadi rangkaian puzzle abadi yang membentuk susunan mimpi yang hilang. Saat separuh ingatannya kembali, Yonghwa menyangka Seohyun pergi meninggalkannya tanpa jejak, dan ia membencinya. Benang takdir terputus, relasi antara Yonghwa dan Seohyun hilang, dan Yonghwa terbebas dari hukumannya.

Yonghwa baru bisa mengingat sepenuhnya kejadian yang menimpanya dan Seohyun setelah ia kembali bermimpi bertemu Seohyun, dan ia juga telah mendapatkan takdir baru, sosok perempuan yang cantik dan sedikit boyish10, Park Shin Hye. Takdir baru telah terbentuk, namun separuh hati Yonghwa masih terkunci akan keberadaan Seohyun yang terlanjur berubah abstrak.

Yonghwa hidup bahagia bersama takdir barunya, Park Shin Hye, sementara separuh hatinya masih terkunci untuk Seohyun. Benang takdir mereka yang telah putus kembali mengikat bagian lain, yaitu hati mereka. Yonghwa kembali merasakan sakit acap kali mengingat Seohyun, namun benang takdir yang terlanjur melilit di hati tidak dapat diputuskan. Penawar lain yang dapat digunakan Yonghwa untuk menghapus rasa sakit itu adalah dengan bahagia, karena seberapa besar ia khawatir terhadap Seohyun—meski ia tak bisa kembali, Seohyun tetap mengamatinya setiap saat—menit, detik, kilasan cahaya dan desir angin yang berhembus.

Cinta Yonghwa untuk Seohyun dan Shin Hye adalah dua cinta yang berbeda.

Cinta untuk takdir, dan cinta yang telah ditakdirkan.


[1] Penyakit sulit tidur

[2] Mimpi buruk

[3] Mengantuk, namun selalu menghindari tidur

[4] Ada orang disana? (tergagap)

[5] Papan kecil

[6] Dan pikirannya terawang-awang, bersinar-sinar seperti bintang di atas langit.

[7] Suara detak jantung

[8] Galaksi tempat bumi berotasi dan berevolusi

[9] Cinta tidak menghitung waktu, wujud dan bahkan dimensi.

[10] tomboy

Voting ini terbuka bagi semua kalangan, author tetap, author free writer, dan readers.. Silakan memvote FF kesukaan kalian, HANYA BOLEH SATU KALI!

WARNING!! Sebelum kalian menekan tombol vote, pastikan kalau ini merupakan FF yang menurut kalian terbaik. Kami tidak akan bertanggung jawab jika terjadi pendoublean voting dan menyebabkan FF ini didiskualifikasi.. Harap pengertiannya!😀