Title : Perfect Fouettes en Tournant
Author : Diyan Yuska
Length : Oneshoot
Genre : Romance
Cast :
– Bigbang G-Dragon as Kwon Ji Yong
– Beast Gi Kwang as Lee Gi Kwang
– Sandara 2ne1 as Sandara
– Park Soon Hee (OC)

Soon Hee POV

Aku mengangkat wajahku sesaat dari buku yang sedang kutulis. Karena aku dapat merasakan ada seseorang yang tengah memperhatikanku. Dan benar saja. Ada seorang namja1 yang sedang berjongkok tepat dihadapanku dan dia memposisikan wajahnya sejajar dengan wajahku hingga membuatnya leluasa menelusuri setiap gurat di wajahku. Namja itu memamerkan seulas senyum. Senyum yang selalu berhasil membuatku merasa teduh dan nyaman bersamanya selama setahun terakhir ini.

Ah, sejak kapan dia berjongkok begitu di depanku? Kenapa aku tidak sadar?

Mianhae2… Aku sudah membuatmu menunggu lama.” ujar namja itu masih dengan senyumnya.

Aku ikut mengulas senyum.

Gwenchana3.” ucapku pendek.

Aku mengarahkan tatapanku lurus ke raut tampannya. Tanganku perlahan terulur menyentuh wajahnya. Entah kenapa hatiku tiba-tiba tergerak untuk melakukan hal itu. Aku mulai dari anak-anak rambutnya yang halus dan hanya dapat dilihat dari jarak dekat yang menguntai di dahinya. Namja itu membiarkanku. Jemariku kemudian beranjak menyusuri salah satu sisi pipinya hingga berakhir pada garis rahangnya yang keras. Rahangnya itu tegas membingkai sisi bawah wajahnya. Kedua sisinya saling bertemu pada dagunya dengan bentuk menggoda. Ketika mataku beranjak ke atas, kembali yang kutemui adalah seulas senyum yang belum juga lekang dari wajahnya.

“Aku beruntung.” gumamku kemudian. Namja itu menatapku dengan sorot penuh tanda tanya. Aku menarik nafas sejenak sebelum memberi penjelasan. “Aku beruntung hanya kakiku yang cacat dan bukan mataku yang buta. Jika aku buta, aku tidak akan bisa melihat wajahmu. Melihat kau yang tersenyum padaku.” ujarku.

Sepasang alis namja itu bertaut. “Ucapanmu romantis sekali hari ini, padahal aku datang terlambat dan sudah membuatmu menunggu lama.”

Aku tersenyum kecil. “Kau pikir kau saja yang bisa romantis, huh?” tanyaku setengah menantang.

Yaa!! Park Soon Hee, kau benar-benar ingin menantangku?” matanya membola menatapku. Lalu namja itu menggeser kursi rodaku yang berada disisiku dan ikut duduk di bangku taman yang sedang aku duduki. Ia menarik daguku dengan satu tangannya hingga membawa wajahku lurus menatapnya. Wajahnya mendekat dengan cepat dan bibirnya tahu-tahu sudah mengecup bibirku sekilas dengan begitu lembut. Semua itu ia lakukan dalam gerakan serba cepat hingga tak memberiku kesempatan untuk bereaksi walaupun reaksi berupa gerak refleks sekalipun. Aku bahkan juga tak sempat memejamkan mataku untuk menikmati kecupan singkat itu dan yang aku lakukan hanyalah membeku dan membelalakkan mataku padanya yang kini menyunggingkan senyuman lebar. Dia benar-benar berusaha keras ternyata.

Tega sekali ia melakukan ini padaku di tempat umum. Taman ini sedang ramai-ramainya dan orang-orang di sekitar mulai menatap kami. Dan sesuatu yang kucemaskan terjadi.

Aigooonamja itu tampan dan kelihatannya baik. Tapi kenapa ia mau pada gadis cacat itu, ya?”

“Mungkin namja itu cuma kasihan…”

Aku hanya lumpuh. Aku tidak tuli. Aku bisa mendengar ucapan dua gadis SMA yang melintas tak jauh dari kami dan berbisik-bisik sambil melihat kearahku dengan tatapan aneh. Aku benci mendengar semua itu. Aku benci mendengar kenyataan bahwa mungkin aku memang tidak pantas untuk namja ini. Dan aku lebih benci lagi melihat reaksi namja disampingku itu sekarang. Ada yang lain dalam ekspresinya dan sorot matanya seakan membenarkan bisik-bisik kedua gadis SMA tadi.

Benar…

Ia hanya kasihan padaku… Ia hanya merasa bersalah padaku…

“Jiyong-ah…”

Aku memanggil nama namja itu. Suaraku yang lirih dan mencicit sudah menjadi pertanda betapa besar keraguanku saat memanggil namanya.

Namja itu menoleh padaku dan menatapku dengan sorot menunggu. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya kuat hingga hembusannya terdengar bagai desahan nyaring. Kali ini aku akan bicara. Tentang sesuatu yang memang seharusnya sudah kuungkapkan dari dulu. Tentang sesuatu yang terus kutunda semenjak aku sadar bahwa aku ternyata memang sangat mencintai namja ini. Tapi ternyata aku sudah begitu egois, memanfaatkan hatinya yang lembut dan rasa ibanya terhadap kecacatanku untuk tetap menahannya bersamaku. Aku sudah melupakan satu hal, bahwa ia mungkin juga ingin meraih kebahagiaannya sendiri. Meraih cintanya yang sejak dulu tidak pernah dapat kusentuh.

“Jiyong-ah…” Sekali lagi aku memanggil namanya.

Ne4. Apa yang ingin kau katakan Soon Hee-ah?” Dia berucap dengan nada sabar.

“Jika…” Ucapanku terhenti, menggantung seiring dengan meragunya hatiku.

Oh, Tuhan… Oettokhe5? Benarkah aku sanggup mengatakannya? Tapi kali ini aku benar-benar harus menguatkan hatiku. Mengakhiri semua kepalsuan ini sesegera mungkin. “Jiyong-ah… Jika kau sudah lelah denganku, aku… akan melepaskanmu. Pergilah.”

Aaahh… akhirnya aku benar-benar mengatakannya. Aku sudah mengatakannya. Meski terasa menyesakkan dan mataku mulai memanas, tapi kini hatiku lega. Karena aku sudah mengatakan apa yang sudah seharusnya aku katakan sejak dulu. Sejak hari itu.

Bahwa dia tidak perlu memaksakan untuk mencintaiku hanya karena rasa kasihan…

…………………………………………………………………………….………………….……

Ketika hati terpaut pada seseorang dan kau mulai menamakannya sebagai sesuatu yang disebut cinta, segala hal tentangnya menjadi lebih indah di matamu.  Keinginan agar ia selalu menatapmu mencuat begitu saja jauh di dasar hati tanpa kau sadari sekalipun. Kau ingin hanya kaulah yang ada dalam tatapannya. Dan saat kau sadar tatapannya tak pernah terarah padamu, kau terluka…

Cinta itu seketika terasa begitu menyakitkan.

 

Flashback Begin…

Soon Hee POV

“Ayo bersemangatlah, Soon Hee-ah…” Sandara menepuk pundakku perlahan. Senyuman lebar mengembang di wajah cantiknya. Dan sepertinya ia sama sekali tidak terganggu dengan tetes-tetes keringat yang membasahi dahinya. Jelas sekali ia masih punya banyak stok semangat.

Sementara aku? Aku kini sudah terduduk dengan di sudut ruangan sambil memijit kakiku yang masih mengenakan point shoes. Arrrggghhh… menyakitkan sekali rasanya. Sepatu itu seperti baru saja menggigit-gigit kakiku dan aku cemas sekarang jempol kakiku sudah habis dimakannya.

“Berapa kali lagi kita harus melakukan kita harus melakukan fouettes, Dara-ah?” tanyaku setengah mengeluh.

“Sampai kau bisa melakukan 32 putarannya dengan sempurna, kalau tidak, mana bisa tarianmu disebut fouettes en tournant, huh?” jawab Dara pasti.

“Huffftt…” Aku mendesah panjang. Menyebalkan sekali. Diantara semua gerakan balet yang pernah aku pelajari, aku paling benci yang namanya fouettes en tournant. Entah apa alasannya, aku tidak pernah bisa melakukan gerakan yang satu itu dengan sempurna. Pernah suatu ketika aku sampai dibuat menangis tersedu-sedu di tengah hujan karena saking malunya menjadi satu-satunya balerina yang tidak bisa melakukan fouettes en tournant dengan baik. Untuk balerina yang sudah masuk tingkat atas sepertiku, maksudku. Padahal Miss Sophie—guru baletku—sudah memberi jam belajar tambahan untukku. Tapi tetap saja, aku tidak bisa melakukannya. Aku selalu bermasalah setiap kali akan mulai melakukan retire.

Akan tetapi, kali ini aku akan berusaha. Aku sudah sampai berkeras meminta bantuan Dara—sahabatku yang juga jadi seniorku di sanggar balet—khusus hanya untuk mengajariku fouettes en tournant. Bahkan aku juga sudah meminjam ruang latihan tari di kampus sebagai tempat latihan, Yah, walaupun aku baru bisa latihan pada malam hari saat ruangan itu sudah tidak digunakan.

Semua ini aku lakukan karena—sekali saja—aku ingin memperlihatkan fouettes en tournant-ku yang sempurna di depannya. Di depan namja yang sudah merebut hatiku tanpa ampun.

“Wah… sampai malam begini kalian masih latihan?” Aku  dan Dara sontak menoleh ke arah kepala yang menyembul dari celah pintu ruang latihan yang sedikit terbuka. Ada Jiyong disana dengan senyuman lebarnya.

Nah, namja inilah yang kumaksud. Namja yang sudah merebut hatiku itu.

Senyumanku terulas seketika dengan kehadiran Jiyong. “Jiyong-ah, kau datang?” tanyaku. Dan betapa sadarnya aku saat itu, ada berapa banyak nada girang yang menyertai seruanku barusan.

Ne. Aku menjemputmu.” ujar Jiyong masih dengan senyumnya.

Chinca6?!” seruku girang.

Aku dan Jiyong bertetangga dan kami juga berteman semenjak kecil. Saat masih di masa-masa sekolah dulu, aku dan Jiyong selalu pulang bersama. Tapi semua kesibukan kuliah, jadwal latihan balet yang kuikuti dan kesibukan Jiyong saat ini yang sedang merintis band barunya membuat hal itu perlahan mulai jarang kami lakukan.

Ne. Aku rindu saat-saat kita pulang bersama seperti dulu…” ujar Jiyong yang kontan membuat rongga dadaku kembang kempis. Hanya kalimat seperti itu saja, sudah membuatku perasaanku melambung tinggi.

Aku buru-buru menoleh pada Dara dan menatapnya dengan tatapan memohon, “Dara-ah, latihan kita hari ini kita sudahi dulu, ya? Aku berjanji besok aku akan melipat gandakan jam latihanku, kalau perlu sampai kakiku copot!”

Dara menghela nafasnya perlahan. Alisnya terangkat menyertai ekspresinya yang sedang menimbang-nimbang.

“Baiklah. Aku pegang janjimu. Ingatlah, pertunjukannya sudah semakin dekat, kau harus tampil sempurna di pertunjukan pertamamu.” kata Dara akhirnya.

“Huaaaa…. gomawoyo7, Dara-ah…” Seketika aku menghambur memeluk Dara. Gadis itu segera melepas tawanya.

Nene… pergilah, sana! Jiyong sudah menunggumu…”

“Kau pulang bersama kami saja, Jiyong pasti tidak akan keberatan mengantarmu. Benarkan, Jiyong-ah?!” tawarku dan segera pandanganku beralih meminta persetujuan Jiyong.

Ne. Aku akan mengantarmu, Dara-ah. Ikutlah bersama kami…” kata Jiyong mendukung tawaranku. Ia menatap Dara serius. Sepertinya Jiyong cukup berbakat dalam hal membujuk.

Hanya saja sepertinya tawaran itu tidak cukup menggiurkan bagi Dara. Gadis itu tersenyum canggung, “Ani8. Dongsaeng9-ku akan menjemputku sebentar lagi, aku akan pulang bersamanya.” tolak gadis itu.

Untuk sesaat, dahiku berkerut bingung. Aku kenal dongsaeng Dara. Dia seorang gadis tomboi yang bekerja sebagai DJ di beberapa klub malam. Dan aku pernah beberapa kali mendengar cerita Dara, tentang kesibukan dongsaeng-nya itu di malam hari yang selalu bekerja full shift.  Apa dongsaeng-nya itu benar-benar akan menjemput Dara? Apa dia tidak bekerja malam ini?

Aku sedikit cemas. Bagaimanapun malam hari seperti ini yang seharusnya Dara sudah bisa beristirahat di rumahnya, kini ia justru disini untuk membantuku latihan. Dan ia menolak untuk kami antar.

Tapi… saat aku menyadari betapa kecanggungan itu menguasai raut wajah dan setiap gerak-gerik Dara, aku tahu sepertinya dia punya alasannya sendiri untuk menolak tawaranku dan Jiyong. Maka akhirnya kuputuskan untuk membiarkannya tetap pada keinginannya.

“Baiklah, kalau begitu Dara-ah. Kalau begitu aku pulang duluan, ya?” kataku. Mataku masih menelisik ekspresi yang muncul di wajah Dara. Masih saja kecanggungan itu yang meraja disana. Namun sekali lagi aku membiarkannya. Dengan segera aku berlari ke ruang ganti untuk mengganti kostum baletku. Aku tidak ingin Jiyong menungguku terlalu lama.

………………………………………………………………………………………………………

Dara POV

            Sosok Soon Hee dan Jiyong akhirnya menghilang dibalik daun pintu ruang latihan yang sudah tertutup rapat. Keduanya akhirnya pergi dan kini aku sendiri memandangi daun pintu itu seakan aku bisa melihat apa yang ada di baliknya.

Tanpa aku sadar, aku mendesah. Aku baru menyadari desahanku sendiri saat hembusan nafasku mengeluarkan uap yang mengawang di udara sekitarku. Tepat disaat itu aku mendengar ponselku yang aku letakkan di sudut ruangan latihan berdering. Ada pesan yang masuk. Aku segera beranjak untuk mengambil ponselku itu.

Tunggulah disana. Aku akan menjemputmu setelah aku mengantar Soon Hee.

Dari Jiyong rupanya. Aku sudah menduganya. Tidak ada dongsaeng yang akan menjemputku, dia pasti sudah tahu tentang kebohonganku itu.

Lagi-lagi aku mendesah. Kini aku merasa aku sudah terjebak dalam suatu lingkaran setan. Kebohongan untuk menutupi kebohongan yang lainnya. Dan rasa bersalah itu kembali mennyesakkan dadaku.

Mianhae, Soon Hee-ah…”

Aku tahu bagaimana perasaan Soon Hee pada Jiyong. Aku juga tahu sudah berapa lama ia memendam perasaannya pada namja itu. Dia selalu bercerita tentang semua perasaannya pada Jiyong. Tapi perasaanku sendiri sulit untuk kukendalikan. Aku juga jatuh cinta pada namja itu. Dan ketika aku tahu perasaanku tidak sepihak, maka aku mengabaikan sesuatu yang selama ini aku namai sebagai persahabatan.

Aku malu pada Soon Hee. Terlebih karena aku sudah bersikap seperti pengecut, memaksa Jiyong untuk tetap merahasiakan hubungan kami. Aku hanya takut Soon Hee terluka dan aku pun tidak ingin cintaku mengalah.

………………………………………………………………………………………………………

Soon Hee POV

Hari ini akhirnya datang. Hari dimana seharusnya aku berdiri dipanggung pertamaku dengan fouettes en tournant-ku. Tapi yang justru aku lakukan kini hanya terus berlari menerobos dinginnya udara malam. Kostum baletku yang tipis membuat dingin itu semakin leluasa menerobos setiap celah pori-poriku, menembus beberapa lapisan lagi di bawahnya hingga akhirnya terasa menusuk-nusuk di tulangku. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin berlari. Berlari sejauh yang aku bisa. Agar aku bisa menjauh dari Jiyong, dari Sandara dan dari semua perasaanku sendiri yang kini begitu ingin aku hapus hingga tak bersisa.

Betapa naifnya aku selama ini. Bagaimana mungkin aku tidak menyadari sama sekali bahwa sahabatku dan namja yang kucintai menjalin hubungan dibelakangku?!

Pabo10! Sekali lagi aku mengutuki betapa naifnya aku. Jika saja aku tadi tidak sengaja memergoki Dara yang sedang nyaman dalam pelukan Jiyong beberapa saat sebelum pertunjukan dimulai, mungkin saat ini aku sudah berdiri di panggung menarikan tarian yang aku namai sendiri sebagai Perfect Fouettes en Tournant to You dan berharap Jiyong akan melihat hasil kerja kerasku selama minggu-minggu terakhir dalam 32 putaran indah fouettes. Menatapku dengan tatapan terpesona dari bangku penonton terdepan yang sengaja aku kosongkan khusus untuknya.

Dan ternyata di hari ini, di saat yang sama aku ingin mengungkapkan perasaanku pada Jiyong, aku justru dibuat seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.

Aku masih ingin berlari. Tapi kakiku kini benar-benar lelah. Point shoes yang masih kukenakan bukan pilihan yang tepat untuk diajak berlari. Terlalu menyakitkan dikakiku. Akhirnya aku berhenti berlari dan aku terduduk lemas di trotoar jalan dan mematung begitu saja. Pandangku menerawang membiarkan orang-orang yang hilir mudik di trotoar itu memandangku dengan tatapan aneh, terlebih karena kostum yang kukenakan. Aku tidak peduli dan aku tidak memikirkannya. Pikiranku kini mutlak dikuasai oleh kehampaan. Aku bahkan juga tidak menangis. Aku tidak ingin menangis, meski dadaku rasanya sudah akan meledak karena menahan desakan emosional dari dalam diriku, aku tetap tidak menangis. Tidak.

Aku mengepalkan kedua tanganku erat-erat. Salah satunya masih menggenggam sebuah surat yang tadinya akan kuberikan pada Jiyong. Sebuah surat yang sudah kutulis sekian lama, tentang perasaanku pada namja itu.

Dan ternyata…

Miris. Kenapa garis nasib tega sekali membuatku terluka seperti ini? Aku bahkan belum sempat menyatakan isi hatiku pada namja yang kucintai itu. Kenapa untuk sekedar menyatakan perasaanku dulu dan merasakan perasaan berdebar-debar saat menunggu jawaban atas perasaanku itu pun aku tidak diberi kesempatan?

“Soon Heeee… Soon Hee-ah…”

“Soon Hee… Soon Hee-ah…”

Samar-samar kudengar suara-suara yang memanggilku. Aku menoleh dalam gerakan lamban ke arah sumber suara itu. Jiyong dan Dara ada disana, beberapa meter jauhnya dariku. Pandangan mereka beredar ke segala sudut mencari keberadaanku.

Aku diam dan masih mematung. Namun tatapanku mengarah pada Sandara. Kecemasan itu terpapar jelas dalam setiap gerak-geriknya. Dia masih mencemaskanku. Berarti ia masih sahabatku, bukan?! Entah pada siapa aku harus bertanya. Karena jujur, di dalam diriku aku tidak lagi menemukan jawabannya.

Detik-detik berjalan. Hanya saja aku tidak merasakan bagaimana perputaran semesta itu dalam melewatkan satu detik hingga sampai ke detik berikutnya. Namun aku bisa merasakan setiap gerakan yang tercipta di sekelilingku  berlangsung perlahan bagai gerakan-gerakan adagio yang lamban. Dan tiba saatnya, sorot mataku beradu pandang dengan tatapan Sandara dan Jiyong.

Dengan refleks kaki-kaki mereka, keduanya berlari membawa tubuh mereka masing-masing semakin mendekat padaku. Dan ternyata kaki-kakiku juga punya refleksnya sendiri. Aku bangkit dan mulai berlari lagi. Berlari membelah badan jalan seakan dengan begitu akan memberi jarak aman antara aku dan mereka.

Hanya saja, aku tidak pernah benar-benar sampai pada jarak aman yang aku harapkan itu. Aku berhenti. Cahaya terang menyorot lurus ke wajahku membuat tangan-tanganku berusaha untuk menghalangi silau yang menusuk mataku dan membuatku tak lagi bisa melihat apa-apa. Aku hanya bisa mendengar suara mesin yang berdesing semakin mendekat dan suara Sandara dan Jiyong yang memadu dalam satu nada lengkingan yang naik beberapa oktaf. Lalu aku merasakan sesuatu menabrak tubuhku dengan keras membuat tubuhku terpental jauh. Segalanya terasa berputar, seakan bumilah porosku dan aku yang berputar terhadapnya.

Hanya sesaat. Aku bahkan tidak sempat merasakan sakitnya. Aku hanya merasa ngilu yang menjalari sekujur tubuhku. Perlahan-lahan segalanya semakin redup. Hingga akhirnya semuanya hilang dalam kegelapan yang gulita.

Satu hal yang kuingat sebelum aku kehilangan segala-galanya, aku tidak akan melepaskannya. Surat itu. Karena hanya itulah yang tersisa dari perasaanku.

Flashback End

………………………………………………………………………………………………………

Jiyong POV

            Pernahkah kau mencintai sesuatu sekaligus membenci hal yang menjadi bagian dari sesuatu yang kau cintai itu, Jiyong-ah?

Aku pernah…

Aku mencintai balet, tapi aku membenci fouettes en tournant.

 

Kau tahu kenapa?

Penari-penari balet menari dengan ujung kakinya. Menunjukkan kontrol yang mutlak berada pada satu titik berat. Titik itulah yang menentukan segalanya. Aku menikmatinya. Menikmati setiap kepuasan menjadi berkuasa atas setiap gerakanku sendiri hanya lewat satu titik. Seperti aku yang menikmati setiap perasaanku padamu lewat suatu titik tolak yang kusebut cinta.

Namun ketika aku mulai melakukan fouettes en tournant dan mengangkat sebelah kakiku, aku selalu kehilangan kontrol atas titik kekuasaanku. Perputarannya membuatku limbung dalam kamuflase titik-titik berat lainnya. Dan aku membencinya.

Tapi kelak, aku tak ingin membencinya lagi. Justru aku ingin menunjukkan fouettes en tournant yang sempurna di depanmu. Agar kau tahu, betapa aku ingin meleburkan perasaan-perasaan lain yang kurasakan hingga menyatu dalam cinta ini.

Pada akhirnya, aku hanya ingin mengatakan aku mencintaimu Jiyong-ah… dan lihatlah betapa besar cinta itu…

           

Aku masih mengingatnya. Setiap rentetan kata di surat yang ditulis sendiri oleh Soon Hee. Gadis itu menggenggam surat itu erat bahkan saat tubuhnya dihantam dengan keras oleh mobil itu di malam yang naas tepat setahun yang lalu itu.

Sejak hari itu kaki-kakinya menjadi kaku selamanya. Kecelakaan itu membuat Soon Hee kehilangan baletnya. Kehilangan fouettes en tournant-nya sekaligus kehilangan cintanya karena di saat yang sama pula dia mengetahui kalau gadis yang kucintai adalah sahabatnya sendiri, Sandara.

Aku dan Sandara menyayangi Soon Hee dan saat itu rasa sayang tersebut segera berbaur dengan segala perasaan bersalah yang terasa menghimpit-himpit. Hingga keputusan untuk mengalah itu menjadi jalan yang aku dan Sandara ambil. Sandara menjauh dan aku tetap bersama Soon Hee. Aku akan berusaha keras untuk mencintai Soon Hee. Dan itulah yang kulakukan selama setahun belakangan ini. Tapi ternyata…

“Jiyong-ah… Jika kau sudah lelah denganku, aku… akan melepaskanmu. Pergilah.”

Sedang bicara apa gadis ini? Tak pernah terlintas di pikiranku setelah setahun berlalu Soon Hee akan mengatakan hal ini. Pergi? Aku?!

“Apa yang sedang kau bicarakan Soon Hee-ah?” tanyaku.

Gadis itu diam untuk sesaat. “Pergilah Jiyong-ah, aku tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja dengan kursi rodaku. Sudah cukup kau memaksakan perasaanmu untuk menebus rasa bersalahmu padaku. Aku tidak pernah menyalahkanmu atau Dara, Jiyong-ah. Aku tidak pernah mempersalahkan hati manusia yang digerakkan oleh Tuhan, lalu saling mencintai… Aku tidak pernah mempersalahkanmu untuk keadaanku saat ini.”

Ya Tuhan, aku merasakan betapa bergetarnya suara gadis ini saat mengucapkan semua itu. Apa yang membuat semua hal itu mendadak terlintas di kepala gadis ini? Apa selama ini aku kurang berusaha? Aku sudah berusaha keras untuk mencintainya dan melupakan Sandara…

“Aku tidak memaksakan perasaanku Soon Hee-ah…” bantah Jiyong.

“Kau bohong.” Gadis itu dengan cepat memotong ucapanku. “Aku tahu kau masih mencintai Dara. Aku tahu. Maka jangan bohongi aku lagi, cukup sampai disini saja. Jangan berikan celah padaku untuk memilikimu dengan cara yang egois seperti ini.”

Aku terdiam menatap Soon Hee yang kini juga terdiam. Kami hening untuk beberapa saat.

Ketika ia akhirnya gadis itu berbicara lagi, ia kembali mengulangi permintaannya, “Pergilah Jiyong-ah… Carilah kebahagiaanmu sendiri, tanpa rasa bersalahmu padaku…”

………………………………………………………………………………………………………

Soon Hee POV

Sosok Jiyong sudah menghilang dari beberapa menit yang lalu. Tapi aku masih memandangi arah kepergiannya dengan tatapan mengawang. Akhirnya ia setuju. Jiyong akan meraih kembali cintanya.

Tanpa sadar aku tersenyum kecil. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, setelah aku terbiasa untuk setiap detik kebersamaanku dengan Jiyong. Aku juga tidak tahu. Tapi kini aku lega. Aku sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Maka kuhapus kristal-kristal air di sudut mataku. Aku tidak perlu menangis untuk kebahagiaan orang yang kucintai, bukan?!

Senyumku melebar. Kepalaku menengadah menatap langit sore di taman itu. Kumparan-kumparan awan yang kini digradasi oleh warna-warna kemerahan membuatnya bertambah indah dipandangi.

Blitz!

Kilatan cahaya yang mengilat dengan cepat mendadak menyilaukan mataku. Aku terusik dan mencari sumber cahaya itu. Ada seorang namja disana yang sedang mengarahkan kameranya padaku. Apa dia baru saja memotretku?

“Hei, apa yang kau lakukan?!” protesku.

Namja itu tersenyum lebar.

“Senyuman ketika kau merelakan kebahagiaanmu sendiri untuk kebahagiaan orang yang kau cintai adalah senyuman terbaik…” ujar namja itu, “ Akhirnya aku mendapatkan objek yang bagus. Aku kira aku tidak akan mendapatkan apa-apa setelah seharian menunggu disini.”

Aissshhh… apa sih maksud namja ini? Dan siapa dia, tahu-tahu muncul begitu saja?

Dan seperti ia bisa membaca pikiranku, namja itu mendekat dan duduk disampingku, persis di tempat yang sama dengan Jiyong tadi.

“Lee Gi Kwang imnida…” kata namja itu seraya mengulurkan tangannya padaku.

Aku menyambut jabatan tangannya, “Park Soon Hee…” kataku.

Ne, Soon Hee-ah… Senang berkenalan denganmu.”

Senyuman namja itu masih saja lebar. Aku terpaku menatapnya. Menatap senyuman yang begitu ringan itu. Ia tersenyum seakan-akan ia hidup tanpa beban. Dan satu hal, dia tidak bertanya tentang kursi rodaku seperti yang biasa orang-orang lakukan saat bertemu denganku pertama kalinya. Dia hanya tersenyum dan terus tersenyum padaku. Senyuman yang sudah berhasil memaksaku untuk ikut tersenyum bersamanya.

“Terkadang kehilangan bukan sepenuhnya berarti kehilangan. Kehilangan kadang hanya menjadi suatu cara untuk kita menyadari keberadaan yang lainnya. Ingatlah baik-baik hal itu, Soon Hee-ah. ” Namja itu berbicara lagi.

Aku diam. Apa yang namja ini sedang coba katakan padaku?

“Apa maksudmu?” tanyaku.

Dan kembali lagi, ia hanya tersenyum.

………………………………………………………………………………………………………

Tuhan punya banyak sekali rahasia

Kau beruntung, jika kau nanti mengetahui satu diatara sekian banyak rahasianya…

Sebuah hadiah yang kadang diberi sebagai pengganti atas sesuatu yang kau anggap hilang…

 

Flashback Begin… Again…

 Author POV

Senyuman itu terus terulas sementara Gi Kwang terus mengarahkan kameranya mencari sudut-sudut pencahayaan yang tepat. Dia sudah mendapatkan puluhan gambar, tapi ia belum berniat untuk berhenti.

Ia masih ingin menikmati setiap gerakan perputaran yang dipertunjukkan oleh gadis yang sedang menari di dalam ruangan sementara ia berdiri dekat celah pintu yang terbuka sedikit. Celah itu cukup untuk melewatkan lensa kameranya hingga ia bisa memotret gadis yang sedang menari itu.

Saat-saat dimana gadis itu berjinjit dengan ujung satu kakinya dan kaki lainnya menempel dilutut di sertai putaran demi putaran penuh adalah pemandangan yang sempurna bagi Gi Kwang.

“Hei, apa yang kau lakukan? Kau mengintip?!”

Gi Kwang sontak menoleh kaget. Ada seorang gadis lain yang baru saja datang dari arah ujung koridor dan gadis itu kini memelototi Gi Kwang dengan tatapan menyelidik.

Ani. Aku… aku hanya… engh…” Gi Kwang gelagapan menjawab pertanyaan gadis itu. “Pokoknya aku tidak mengintip. Mianhae noona…” Gi Kwang menundukkan kepalanya pada gadis itu dan ia segera beranjak dari sana. Sepertinya semuanya sudah cukup untuk hari ini.

“Tunggu dulu!”

Tapi ternyata gadis itu tak membiarkan Gi Kwang. Ia justru menarik tas Gi Kwang dengan keras. Entah bagaimana detilnya, tetapi tarikan gadis itu berhasil membuat isi tas Gi Kwang berhamburan keluar. Semua potret-potret yang ada di dalamnya—hasil bidikan kamera Gi Kwang selama beberapa hari terakhir—kini berserakan di lantai. Buru-buru Gi Kwang berjongkok dan mengumpulkan gambar-gambar yang berserakan itu.

“Ini…?!” Gadis dihadapan Gi Kwang itu ikut berjongkok. Ia memungut salah satu lembaran foto yang ada di lantai dan mencermatinya baik-baik. Dalam gerakan cepat Gi Kwang menarik lembaran foto itu dari tangan gadis itu.

“Aku terburu-buru. Mianhae…” Gi Kwang menundukkan kepalanya lagi dan segera pergi dari sana dengan langkah terburu-buru. Sementara si gadis masih terpaku disana dengan dahi yang berkerut. Baru setelah beberapa saat gadis itu menyunggingkan senyuman kecil dan segera masuk ke ruang latihan. Di dalam ruangan itu sudah ada Soon Hee yang masih serius melatih fouettes en tournant-nya.

Soon Hee menghentikan gerakannya, “Dara-ah…” Soon Hee tersenyum pada gadis yang baru saja masuk itu. “Ah, gomawoyo… Kau benar-benar datang rupanya? Kau benar-benar mau membantuku berlatih?”

“Ah, kau ini… tentu saja aku akan membantumu, Soon Hee-ah.”

Senyuman Soon Hee melebar.

“Oh ya, Soon Hee-ah… sepertinya kau punya penggemar rahasia, ya…” kata Dara sambil mengerling menggoda pada Soon Hee.

Mwo11? Apa maksudmu?” tanya Soon Hee tak mengerti.

“Tadi di luar aku bertemu seorang namja yang menyimpan banyak sekali foto-fotomu. Satu tas penuh, asal kau tahu.”

Mwo?” Soon Hee melepas tawa. “Tidak mungkin!” tanggapnya.

Flashback end

Dan waktupun terus berjalan…

………………………………………………………………………………………………………

—END—

Footnote:

[1] Lelaki

[2] Maaf

[3] Tidak apa-apa.

[4] Ya

[5] Bagaimana ini?

[6] Benarkah?

[7] Terima kasih

[8] Tidak

[9] Adik

[10] Bodoh

[11] Apa?

Istilah:

Adagio : Gerakan-gerakan balet dengan tempo lambat.

Point Shoes : Sepatu khusus balet.

Fouettes en tournant : Gerakan dalam balet dimana penari berjinjit dengan ujung jari salah satu kaki, kaki kedua dilemparkan dan diposisikan di lutut dimana tiap lemparan kaki membentuk satu kali putaran.

Retire : Posisi kaki di lutut saat melakukan fouettes en tournant.

Voting ini terbuka bagi semua kalangan, author tetap, author free writer, dan readers.. Silakan memvote FF kesukaan kalian, HANYA BOLEH SATU KALI!

WARNING!! Sebelum kalian menekan tombol vote, pastikan kalau ini merupakan FF yang menurut kalian terbaik. Kami tidak akan bertanggung jawab jika terjadi pendoublean voting dan menyebabkan FF ini didiskualifikasi.. Harap pengertiannya!😀