=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Title: The Greatest Love of All
Author: WFA
Length: Oneshot
Genre: Flangst (Fluff+Angst)
Cast: Kim Jaejoong of JYJ/TVXQ, Unnamed OC

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

JYJ LIVE IN INDONESIA

9th April 2011

Ini mimpi. Ini pasti mimpi.

Karena peristiwa seindah dan sesempurna ini hanya bisa terjadi di dalam mimpi. Ini tidak mungkin nyata. Dunia nyata seharusnya menyakitkan. Dunia nyata seharusnya tidak mempersembahkan mimpi.

Apa ini mimpi?

Aku mendongak ke langit-langit kamar, mengalihkan pandanganku ke arahnya. Mata kamu bertemu. Tatapan teduhnya seakan membutakanku. Senyum tipisnya yang ramah meyakinkanku bahwa ini adalah kenyataan. Ini bukanlah mimpi. Mungkin ini dulunya hanya mimpi. Namun sekarang… inilah mimpi menjadi nyata.

Aku tersenyum padanya. Dia tidak membalas. Tatapan dan senyumnya statis, tubuhnya kaku tak bergerak. Dia selalu seperti ini. Sudah bertahun-tahun lamanya. Dia hanyalah potret. Sebuah replika akan sosoknya. Gambar di atas kertas. Dialah saksi bisu akan segala yang terjadi di kamar segi empat ini. Dia melihat dan mendengar semua mimpi dan harapanku. Seharusnya dia sudah tahu bahwa mimpi terbesarku…adalah dia.

Sebentar lagi…aku akan bertemu dengannya. Melihatnya. Tersenyum padanya. Menyentuhnya. Mendengar suaranya. Meneriakkan namanya.

Dia tidak akan lagi menjadi sekedar gambar di atas kertas.

Dia akan berevaporasi menjadi sosok yang sesungguhnya.

Dialah mimpiku.

Bukan.

Dialah mimpiku yang menjadi nyata.

Senyumku melebar. Dadaku berdegup kencang. Terlalu kencang. Apakah ini bahagia? Ataukah takut yang kurasa? Apa yang kutakutkan?

“Kim Jaejoong…akhirnya.”

Akhirnya…saat ini datang juga.

▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓

Aku memandang beberapa benda yang berserakan di ranjangku. Berkas-berkas bukti pembelian tiket…kaus merah…lightstick panjang berukiran namanya…dan banner penyemangat buatanku sendiri.

Semua sudah lengkap. Aku tersenyum puas sembari menyeka peluh di dahiku.

Rencana ini harus sempurna tanpa ada cacat sedikitpun. Aku harus menikmati konser itu semaksimal mungkin. Aku tidak ingin dipusingkan oleh kesalahan-kesalahan konyol yang tercipta karena keteledoranku.

Entah sudah berapa kali aku membayangkannya; tentang bagaimana rasanya mempersiapkan atribut pelengkap yang akan kubawa dan kupakai ke konser mereka. Aku tidak menyangka aku akan benar-benar mengalaminya…

Dalam bayanganku, aku selalu berpikir ritual ini hanya akan merepotkan dan membuatku pusing serta cemas. Mungkin iya, tetapi rasa cemas dan pusing itu dengan mudah tertutupi oleh rasa senang dan semangatku yang meluap-luap. Bagaimana tidak? Delapan hari lagi…hanya delapan hari lagi…mimpi itu bukanlah lagi sebuah mimpi.

Mimpi itu akan menjadi nyata.

Aku ingin segera terbangun dari mimpi ini…dan bertemu dengan kenyataan itu.

Bertemu Kim Jaejoong.

Kim Jaejoong yang nyata.

Konsentrasiku dibuyarkan oleh dering telepon genggam di kantung celanaku. Sambil menggumamkan sebuah melodi yang sudah kuhafal mati, aku meraih gadget itu dan membuka kunci otomatisnya.

Sebuah pesan singkat.

“Sudah tahu belum? Konser JYJ batal TT__TT”

Melodi yang meluncur dari bibirku seketika terhenti. Aku membeku. Apa-apaan ini?

Batal, katanya? Yang benar saja!

Aku segera duduk dan berusaha berpikir dengan jernih. Ini pasti hanya bohong. Tapi apa yang membuat temanku berbohong? Apa dia hanya ingin mengerjaiku? Tapi ini bukan hari ulang tahunku…

Tanggal berapa sekarang? 1 April.

April Mop.

Ya, itu dia. April Mop.

Haha, lucu sekali. Hampir saja aku termakan tipuannya.

Sambil tertawa kecil, aku membalas pesan itu. ”April Moooooop!”

Balasannya tidak kunjung datang. Tuh, kan. Pasti temanku sedang malu karena aku tidak tertipu semudah itu.

Baru saja aku mulai melipat kaus merahku, telepon genggamku kembali berdering, menandakan pesan singkat baru telah diterima.

“Ini bukan lelucon April Mop. Cek saja sendiri…”

Aku membeku untuk yang kedua kali. Apa mungkin temanku ini berkata yang sesungguhnya? Apa mungkin ini bukan lelucon murahan April Mop? Apa mungkin konsernya sungguh dibatalkan?

Cek saja sendiri…

Dengan tangan gemetar, aku mengaktifkan laptopku dan jemariku mulai mengetik situs web yang sudah kuingat di luar kepala.

Jadikanlah ini berita bohong! Tolong!

Begitu situs web yang kumaksud selesai dimuat, mataku melahap kata demi kata dengan lapar. Baru saja mencapai kalimat kedua, paragraf berisi pengumuman itu mulai tampak samar. Mataku terasa sangat panas. Tanpa membaca lebih lanjut, aku sudah dapat menangkap isinya dengan cukup gamblang.

Konser. Batal. Maaf.

Aku bahkan tidak peduli untuk mencari tahu penyebab konser itu dibatalkan. Tidak ada gunanya.

Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang yang biasanya sangat empuk. Namun kali ini tidak demikian. Ada sesuatu yang menusuk-nusuk punggungku. Ah… pasti lightstick itu. Harus cepat kupindahkan sebelum benda itu patah karena tekanan beban tubuhku.

Tapi untuk apa? Toh, aku tidak akan membutuhkannya.

Aku merasa sangat…entahlah. Aku tidak tahu perasaanku sendiri. Aku mati rasa, lebih tepatnya.

Aku hanya terbaring di kasurku, dikelilingi oleh benda-benda yang kuperoleh dengan perjuangan dan pengorbanan, namun pada akhirnya sia-sia saja.

Tatapanku kosong ke atas, dan kembali menatap sepasang mata itu. Mata yang selalu memancarkan keteduhan. Senyum yang tidak pernah pudar. Kejam sekali. Padahal aku sedang terbaring putus asa dan kecewa di hadapannya. Tapi dia hanya diam di sana, bahkan berani untuk tersenyum.

Tentu saja. Toh, dia tidak nyata.

Kalau bukan karena rasa sakit di punggungku, aku mungkin percaya bahwa aku masih ada di alam mimpi.

Di mimpi itu, aku sedang mempersiapkan diriku untuk bertemu dengan Kim Jaejoong delapan hari kemudian.

Mimpi yang sangat indah dan menjanjikan.

Namun punggung ini tetap terasa sakit, dan hati ini juga mulai terkena imbasnya.

Menyakitkan. Inilah yang disebut nyata.

Kenyataan…memang menyakitkan.

Aku harap…aku harap aku tidak akan pernah terbangun dari mimpi itu.

Kalau kenyataannya seperti ini, aku harap aku tetap tinggal di dalam mimpi untuk selamanya.

▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓

Aku tidak mengerti apa yang kupikirkan ketika aku menekan tombol ‘send’ itu. Atau lebih tepatnya, aku tidak mengerti mengapa aku sama sekali tidak berpikir.

Hari ini tanggal 9 April dan seharusnya…seharusnya saat ini, tepat pada detik ini, aku sedang melihatnya. Sedang mendengar suaranya. Namun apa? Aku malah duduk diam di kamarku yang sempit dan memandang kosong layar monitor di hadapanku. Orang-orang beruntung di negara lain saat ini mungkin sedang melihat dia. Mendengar suaranya. Berbicara dengannya. Menggenggam tangannya. Ini sungguh gila. Sungguh tidak adil. Apa yang membedakan aku dengan orang-orang itu? Kami hanya terlahir di tanah yang berbeda. Mengapa pula perbedaan kecil seperti itu dapat merenggut hak-ku untuk bertemu dengannya?

Mungkin pikiran konyol dan kekanak-kanakan itulah yang membuatku bertindak bodoh dan memalukan seperti ini. Tapi semua sudah terlanjur. Dihapus pun percuma. Lagipula, sudut hatiku yang terdalam berkata bahwa aku memang ingin dia membacanya.

Aku ingin…paling tidak dia tahu.

Meskipun keberadaanku tidak memiliki arti signifikan baginya…setidaknya dia tahu aku ada.

Dan itu sudah cukup bagiku.

Itu harus cukup bagiku.

Tapi, dilihat dari sisi manapun, tindakan ini terlalu impulsif dan sungguh naif. Ditambah lagi aku memilih untuk melakukannya melalui sebuah media yang sangat…publik.

Untungnya, tindakan tidak masuk akal ini kulakukan di saat kebanyakan orang sedang tertidur. Jadi, mudah-mudahan saja tidak banyak—kalau bisa, tidak ada—orang yang menyaksikan kebodohanku ini.

Ya. Aku menulis surat untuknya. Bukan dalam bahasa Korea, karena aku tidak mengerti. Dan bukan dalam bahasa Indonesia, karena dia tidak mengerti.

Bahasa Inggris adalah satu-satunya jalan keluar. Aku tahu dia tidak terlalu mahir berbahasa Inggris tapi aku yakin dia tidak sebodoh itu. Kamus dan mesin penerjemah sudah bukan barang mewah lagi. Tentunya dia memilikinya, kan?

Yah, itu pun kalau dia bersedia membaca surat bodohku ini. Dia dapat melihatnya saja sudah sangat untung. Hanya Tuhan yang tahu berapa banyak orang yang mengajaknya bicara lewat media komunikasi ini setiap harinya. Bisa saja suratku ini terlewat…

Bodoh, kan? Aku telah mengiriminya surat lewat Twitter.

Seharusnya suratku dibatasi sebanyak 140 karakter, namun sekarang ada banyak situs web yang memungkinkanku mengetik tanpa batas.

Lagipula, bukankah ini tujuan ia membuat akun Twitter sejak awal? Untuk mempermudah komunikasi dengan fans, kan?

Sebelum aku berubah pikiran dan menghapusnya, aku segera mematikan laptopku dan memaksa diri untuk tidak berharap terlalu banyak.

Atau, untuk tidak berharap sama sekali.

▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓

*) ditulis dalam bahasa Inggris

 

Dear Jaejoong,

Aku cinta kamu. Jangan tertawa. Aku tahu kau sudah mendengar kalimat ‘aku cinta kamu’ jutaan kali sebelumnya, tapi tolong duduk dan baca perlahan-lahan sampai akhir.

Ya. Aku cinta kamu. Tapi aku tidak jatuh cinta padamu.

Jatuh cinta butuh proses yang panjang. Dimulai dari mengenal satu sama lain, menjadi teman dekat, saling suka, dan pada akhirnya seseorang sadar kita ia jatuh cinta pada seseorang yang lain itu.

Tapi cinta yang ini berbeda. Aku tidak pernah punya kesempatan untuk merasakan proses panjang yang indah itu bersamamu.

Aku tidak kenal kau.

Hanya karena aku telah menjadi ‘penggemar’mu selama lima tahun lebih, aku tidak mau berpura-pura seakan aku tahu segalanya tentang kau. Mungkin ini terdengar menyedihkan, tapi aku menghabiskan kebanyakan waktuku melihat kau bicara dan beraktivitas melalui video-video tapi aku tetap tidak kenal kau.

Aku tidak tahu apa yang membuat kau tertawa dan apa yang membuat kau bahagia. Aku tidak tahu apa yang membuat kau marah dan membuat kau takut. Aku tidak tahu kopi manis atau pahit yang kau minum di pagi hari. Aku tidak tahu apakah itu film horror ataukah komedi yang kau suka. Aku tidak tahu lelucon macam apa yang akan membuat kau tertawa terpingkal-pingkal.

Siapa yang akan kau temui saat kau tidak sedang bekerja? Kemana kau akan pergi? Apa kau akan diam di rumah ataukah kau akan pergi ke suatu tempat, mengenakan topi dan kacamata hitam besar agar tidak ada yang akan mengenalimu? Tangan siapa yang akan kau genggam saat kau sedih? Kepada bahu siapakah kau akan bersandar saat kau menangis? Nomor telepon siapa yang pertama kali akan kau hubungi saat kau memenangkan sebuah penghargaan?

Aku tidak tahu itu semua.

I love you without knowing you.

Aku tidak tahu kapan. Aku cuma ingat bahwa suatu hari aku terbangun dan di situlah kau berada… menempati ruang paling besar di hati ini. Aku melihat wajahmu dan aku langsung tahu kau istimewa. Aku mendengar kau tertawa dan aku tiba-tiba memutuskan bahwa tawa itu adalah suara paling indah di dunia. Aku melihat kau menangis dan aku menggila karena aku tidak bisa memeluk kau. Untuk memberi semangat. Untuk meyakinkanmu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Untuk sekedar berada di sana dan menyadarkanmu bahwa kau tidak sendiri.

Kau tahu, jika saja Tuhan mendengar doaku dan mengabulkan permohonanku untuk dapat mengenalmu, namun ternyata kau sesungguhnya adalah sosok yang benar-benar berbeda dari laki-laki yang aku tahu hari ini, aku rasa aku tidak akan bisa menghentikan cinta ini. Aku cinta kau sampai pada tingkat di mana aku akan terima semuanya, aku akan terima apapun.

Kau bisa saja menjadi laki-laki keras kepala dan sombong, tetapi aku akan tetap menyayangimu. Kau bisa saja menjadi laki-laki cacat, tetapi itu tidak akan membuatku menjauhimu. Kau bisa saja menjadi seorang brengsek yang egois, tetapi aku yakin jantungku akan tetap berdetak memanggilmu. Atau kau bisa saja menjadi seseorang yang normal dan penampilan aslimu tidak sehebat seperti yang terlihat di lensa kamera, tetapi bagiku, itu hanya akan menjadi bukti nyata bahwa kau benar-benar sekedar manusia biasa. Kau bisa saja kehilangan kepopuleranmu dan jatuh miskin, tetapi aku akan tetap berdiri membelamu tidak peduli apa taruhannya. Aku rela terjun ke lapisan neraka ketujuh selama itu kulakukan bersamamu.

Aku mungkin terdengar bodoh dan kau mungkin berpikir aku sangat tolol karena menulis surat ini. Aku tahu jutaan orang menyatakan cinta padamu setiap hari. Tapi apa yang kau baca sekarang bukanlah sepucuk surat dari seorang penggemar untuk idolanya. Aku hanyalah seorang gadis delapan belas tahun yang menulis surat ini untuk Kim Jaejoong, laki-laki yang kucintai.

Aku tahu kau mungkin berpikir cinta ini palsu. Tapi definisi cinta berbeda untuk setiap orang. Kau tidak akan bisa mendeskripsikannya sampai kau merasakannya.

Jaejoong, kau selalu bilang bahwa kau akan mencintai dia yang paling mencintaimu. Aku cinta kamu, ya, tapi aku tidak bisa menjamin cintaku adalah yang paling besar di antara semuanya. Yang aku tahu, perasaan ini nyata dan ditujukan hanya untukmu.

Jaejoong, aku ingin mengenalmu; mengenal kau yang sebenarnya…seorang Kim Jaejoong saat lensa kamera telah dimatikan; seorang Kim Jaejoong tanpa baju-baju desainernya; seorang Kim Jaejoong tanpa rambut sempurnanya; seorang Kim Jaejoong tanpa make-up melapisi wajahnya…

Jika saja situasi dan kondisi di antara kita tidak serumit ini, dan jika saja Tuhan mengakui usahaku untuk menggapaimu…dan jika saja Dia bermurah hati untuk mengabulkan permohonan terdalamku untuk paling tidak bertemu denganmu, maka aku akan melakukannya. Aku akan katakan dan tunjukkan padamu betapa aku mencintaimu, dan kemudian hanya kau yang bisa putuskan apakah cintaku cukup berharga untuk kau balas.

Dan jika skenarionya benar-benar berjalan semulus itu, maka kita akan jalani proses panjang dan indah itu, dan lalu…aku akan jatuh cinta padamu, Kim Jaejoong.

Dan pada saat itu tiba, akulah orangnya.

Akulah orang yang paling mencintaimu; dia yang mencintaimu dengan cinta yang terhebat.

I’ll love you with the Greatest love of all.

▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓▓

Tanggal 9 April yang kunantikan datang dan pergi tanpa ada kejadian spesial.

Well, life goes on.

Aku tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Sebentar lagi aku akan menempuh ujian besar yang bisa dibilang akan menjadi salah satu penentu masa depanku. Aku harus belajar keras agar menjadi orang sukses dan meraih mimpi dan cita-citaku. Jika mereka tidak jatuh dari langit, biarlah aku yang mengejar mereka sampai dapat.

Tapi harus kuakui, aku bukanlah murid teladan, bahkan jauh dari itu. Nilaiku tidak buruk, tapi juga bukan yang terbaik. Aku benci belajar. Aku jarang memerhatikan pelajaran. Aku hampir tidak pernah menyalin catatan dari papan tulis…

Setelah menatap nanar buku catatanku yang sepi akan pelajaran dan hanya dipenuhi oleh coretan-coretanku yang abstrak, aku menyambar telepon genggamku dan segera mengetik pesan singkat untuk temanku.

“Yah, catatanmu lengkap, kan? Boleh pinjam?”

Balasannya datang dengan segera.

“Boleh. Mau bagaimana?”

Rumah temanku sangat jauh dan sekarang pun sudah larut malam. Aduh bagaimana ini? Mengapa aku sangat pemalas, sih?

Telepon genggamku bergetar lagi.

“Kau download file catatanku saja ya. Formatnya pdf. Dulu pernah ku-upload ke internet. Kalau mau, kukirim alamatnya.”

Oh, thanks God! Dia baik sekali!

Aku segera mengetik pesan balasan tanda setuju.

Namun sampai lima belas menit berlalu, tidak ada pesan balasan darinya. Huh, bagaimana sih? Tadi katanya mau membantu, tapi kok aku tidak digubris? Ujiannya kan kurang dari dua minggu lagi, aduh bagaimana ini?

Ah, sepertinya memang tidak ada cara lain kecuali mencari sendiri bahan materi dari internet. Hah, menyebalkan, aku paling malas dengan yang seperti ini. Bahan materi dari internet  biasanya masih mentah sekali; subjeknya terlalu luas dan tidak tersortir dengan rapi.

Tapi mau bagaimana lagi? Salahku sendiri tidak pernah menyalin catatan!

Tapi memang dasarnya pemalas, baru sepuluh menit browsing sudah bosan duluan. Sudahlah! Nanti saja belajarnya kalau sudah ada niat. Sesuatu yang dipaksakan akan berujung tidak baik, bukan?

Lebih baik aku mengecek Twitter. Barangkali saja ada satu atau dua kutu buku yang sedang online. Siapa tahu mereka mau membantuku.

…Sepi sekali! Tidak ada teman-teman seangkatanku yang sedang online. Huh, mereka pasti sibuk belajar. Mereka kan tidak pemalas seperti aku. Ah menyebalkan. Dengan menggerutu, aku menutup jendela Twitter.

Tiba-tiba terdengar bunyi beep kecil yang diikuti dengan kemunculan jendela e-mail ku.

Twitter Notification: eflower has sent you a direct message!

Hm? Ada perlu apa dia? Tidak membalas pesan singkatku, malah mengirimiku pesan lewat Twitter!

Hey, maaf ya, handphone-ku mati. Ini link-nya: http://mediafire.com/xdhbgjwojd#2

Oh, ternyata handphone-nya mati. Wah, aku jadi merasa bersalah telah berburuk sangka padanya. Dengan gesit aku mengunduh file berisi catatan dari temanku itu. Nah, sekarang saatnya belajar. Menjauh dari internet!

Namun, kembali kudengar bunyi beep yang familiar. E-mail baru lagi. Kali ini dari siapa? Dengan pikiran kosong, aku kembali mengaktifkan jendela e-mail.

Twitter Notification: mjjeje has sent you a direct message!

Mataku melebar.

Tunggu.

Tunggu dulu.

mjjeje?

Kim Jaejoong?!

Hah? Mataku tidak salah lihat?

Aku membaca judul e-mail itu berulang-ulang, perlahan-lahan. mjjeje. m-j-j-e-j-e.

Aku tidak salah lihat!

Masih dengan pikiran kosong (atau karena tidak tahu harus berpikir apa), aku membaca pesan elektronik itu.

Hi…thanks for the greatest love of all :)

Apa ini?

Ini…sungguh darinya?

Kim Jaejoong?

Kim Jaejoong membalas suratku?

Mengapa?

Bagaimana bisa?

Kepalaku dipenuhi oleh ribuan tanda tanya yang berputar-putar tanpa henti. Kabar tentang Kim Jaejoong yang sangat ramah pada semua fans-nya memang sudah sering kudengar, namun sungguh sulit dipercaya ia benar-benar membalas surat bodohku.

Mungkin Jaejoong mengirimi pesan pribadi semacam ini ke ratusan fans lainnya…

Ah, tapi aku tidak peduli.

Meskipun ia mungkin sudah ratusan kali menulis pesan balasan untuk para fans…meskipun aku mungkin bukan satu-satunya…namun pesan ini…pesan yang sedang kubaca berulang-ulang tanpa berkedip ini, meskipun singkat,  namun tetap berasal darinya. Ditujukan untukku seorang.

Ya, dia memang tidak membalas cintaku, tapi… dia membaca surat itu. Surat bodoh itu.

Bolehkah…bolehkah aku mempercayainya?

Apakah ini mimpi yang lain? Ataukah kenyataan yang lain?

Ini sungguh sulit dipercaya. Rasanya hal seindah ini tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Kenyataan seharusnya kejam. Tidak diragukan lagi, hal seindah ini hanya ada di dalam mimpi.

Tetapi… mimpi seharusnya tidak memberikan rasa nyeri seperti ini. Rasanya sangat perih… alih-alih bertemu dengannya dan menyatakan cintaku secara langsung, aku hanya bisa menuangkan apa yang kurasa melalui media elektronik. Dan alih-alih mendengar balasan secara langsung dari bibirnya, aku harus puas dengan membaca balasan singkat melalui ranah maya yang sama.

Mimpi…namun perih.

Kenyataan…namun indah.

Aku tersentak.

Inilah dia.

Inilah yang selalu kutunggu entah sudah berapa tahun lamanya.

Mimpiku yang menjadi nyata.

Kim Jaejoong… terima kasih untuk cinta ini.

Inilah cinta yang terhebat.

This is the Greatest Love of All.

 

Voting ini terbuka bagi semua kalangan, author tetap, author free writer, dan readers.. Silakan memvote FF kesukaan kalian, HANYA BOLEH SATU KALI!

WARNING!! Sebelum kalian menekan tombol vote, pastikan kalau ini merupakan FF yang menurut kalian terbaik. Kami tidak akan bertanggung jawab jika terjadi pendoublean voting dan menyebabkan FF ini didiskualifikasi.. Harap pengertiannya! 😀

Iklan