Author : Rendria Sari Kusumawati a.k.a Rererendria
Title : Wipe the Tears
Length : Continue
Genre : Romance

Cast :

  • Noneon as Nam Ha Young
  • Yang Yoseob (Beast)
  • Jang Hyun Seung (Beast)
  • Park Chorong (Apink)

A/N : Nam Ha Young belongs to mbak Noneon (Sorry to Noneon I can’t find your real picture, so I use IU picture) | Yang Yeosob belongs to himself | Park Chorong belongs to herself | Jang Hyun Seung is Mine | Plot is my idea. So, it means the plot is mine too J | Sorry if you find error grammar from me. Can you check and said to me if you find? Thank You ^_^

HAPPY READING ALL >0<

***

Author P.O.V

—Namja and Yeoja Part—

“Waeyo jagiya? Apakah kau marah padaku?” tanya seorang namja sedikit berteriak pada seorang yeoja yang duduk di depannya. Bising suara memenuhi club malam itu. Ditemani beberapa wanita jalang, dia mulai menikmati malam yang diciptakan untuk Seoul saat itu.

“Ne! Aku marah padamu! Sejak kapan kau mau mengajak mereka? Dasar namja mata keranjang” kata yeoja itu sambil memalingkan muka dari tatapan mesum namja tampan itu.

“Hanya karena ini kau marah? Baiklah, kalian bisa tinggalkan kami berdua. Urusan bayaran kita bahas nanti ok?” kata namja itu kemudian memeberikan ciuman di kening masing-masing wanita jalang itu.

“Kau sudah puas? Sekarang, datanglah padaku…” kata namja itu lagi pada yeoja manis di depannya. Sambil melipat kedua tangannya, dia menunggu yeoja itu bergerak mendekatinya.

Yeoja itu mulai berjalan mendekati namja bermata sipit yang ada di depannya. Senyum terlihat jelas mengembang di raut wajahnya yang masih terlihat muda. Namja yang ada di depannya tersenyum melihat yeoja yang akhirnya datang juga menghampirinya.

Yeoja itu duduk dan langsung menyender pada namja yang sedang menatapnya itu. Yeoja itu kemudian beralih menatap namja yang masih tersenyum menatapnya.

“Jagiya, Saranghae…” kata yeoja itu sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir tipis dengan warna lipgloss yang manis.

“Nado saranghae…” jawab namja yang tanpa ragu langsung melumat habis bibir yeoja itu. Yeoja itu membalas perlakuan ‘kasar’ yang dilakukan namja yang sudah mendekapnya kedalam rangkulan yang hangat. Kegiatan itu berhenti sampai dering ponsel terdengar nyaring dari balik saku si namja.

“Yeobseyo? Ne eomma, aku akan pulang…” jawab namja itu kemudian menutup sambungan teleponnya.

“Waeyo jagi?” tanya yeoja yang sudah membersihkan lipgloss yang belepotan mengelilingi bibirnya.

“Aku harus pulang. Eomma menyuruhku pulang. Sampai bertemu lagi besok di kantor” kata namja itu kemudian mencium bibir yeoja berambut panjang itu untuk terakhir kalinya. Dan kemudian dia pergi…

—Yeoja Part—

“Uisa, ada pasien baru masuk. Dia mengalami kecelakaan cukup parah” kata seorang perawat pada seorang uisa cantik yang sedang jaga malam di Busan Cultural Hospital.

“Baiklah. Kau tunjukkan padaku dimana dia sekarang” katanya kemudian mengikuti perawat itu berjalan. Uisa dan perawat itu masuk kedalam sebuah ruangan tempat korban tabrak lari itu dirawat. Operasi adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan untuk menyelamatkan nyawa pasien yang sedang sekarat itu.

“Kita harus ambil tindakan operasi. Tolong siapkan segala sesuatunya secepat mungkin. Sekarang” kata uisa itu mantab tanpa ada nada keraguan didalamnya.

“Baik uisa” jawab perawat itu kemudian pergi berlalu meninggalkan si uisa dan beberapa perawat yang sudah sibuk dengan kapas untuk membersihkan darah yang terus mengucur.

1 jam berlalu, akhirnya operasi itu berakhir dengan lancar. Uisa itu keluar dari ruangan operasi dan langsung melihat ada beberapa orang menunggu dengan keadaan cemas. Seorang ahjumma melihat uisa itu keluar dari ruangan operasi dan langsung menghampirinya.

“Bagaimana? Apa suami saya selamat?” tanya ahjumma itu sambil memegang kedua tangan uisa itu sambil menangis.

“Operasi berjalan lancar, tapi suami anda masih harus beristirahat untuk sementara waktu” jawab uisa itu ramah sambil mengembangkan senyumannya yang manis.

“Gamsahanida uisa, jeongmal gamsahamnida” kata ahjumma itu berkali-kali pada uisa yang masih menyunggingkan senyumnya.

“Ne, cheonmaneyo. Kalau begitu, saya permisi dulu. Jika ingin bertanya sesuatu, perawat didalam bisa menjawab” katanya sambil menunjuk beberapa perawat yang ada didalam ruangan operasi itu kemudian pergi.

“Anda memang begitu baik uisa. Jeongmal gamsahamnida” kata seorang lelaki muda yang terlihat sebaya dengan uisa muda itu.

“Ne, nado gamsahamnida” kata uisa berparas cantik itu sambil tersenyum kemudian benar-benar pergi meninggalkan keluarga korban kecelakaan yang ditanganinya.

—Namja Part—

“Apa ini?” tanya seorang namja setelah bawahannya memberikan laporan hasil melebur itu.

“Ya tugas yang bapak berikan pada saya? Itu hasilnya pak…” kata bawahan si namja yang berlagak polos agar tidak mendapatkan amukan malam dari si namja berparas cantik itu.

“Kau itu sudah kerja disini berapa bulan?” tanya namja yang sudah melempar berkas ke atas meja yang penuh dengan kertas-kertas perusahaan.

“12 bulan pak. Memangnya kenapa ya pak?” kata bawahan namja itu dengan polos.

“Semua pekerjaanmu salah! Percuma saja kau bekerja disini. Mulai besok pagi, jangan pernah datang ke kantor ini lagi! Besok akan aku siapkan surat pengunduran dirimu! Sekarang keluar! KELUAR!” bentak si namja sambil mengacungan jari telunjuknya ke arah pintu, menyuruh bawahannya pergi.

“Tapi pak, nanti saya tidak punya pekerjaan bagaimana? Pak, saya di rumah punya seorang istri dan 2 orang anak yang masih kecil. Tolonglah saya pak… Saya akan selesaikan berkas ini dengan benar” kata bawahan itu sambil berusaha mengambil berkas yang tadi dia serahkan pada bosnya itu.

Belum sampai selesai bawahan malang membersihkan berkas, si bos yang dari tadi hanya duduk langsung berdiri dan mengambil semua berkas yang ada pada bawahannya. Dia merobek seluruh berkas itu kemudian memberikannya pada si bawahan.

“Tidak perlu kau benarkan. Penyesalan selalu datang terlambat. Dan itu kau, Lee Gi Kwang-sshi!” kata namja yang sudah kembali duduk itu. “Saya harap, anda segera keluar dari ruangan saya” lanjutnya sambil mengarahkan tangannya ke pintu. ‘Mantan’ bawahannya itu akhirnya pergi keluar dari ruangan si bos kaku itu dengan wajah lesu tak berdaya.

“Huft…” desah si bos sambil menyenderkan kepalanya di kursi putar yang empuk itu. Menutup mata membuatnya nyaman saat menghadapi masalah sepelik tadi.

Dering ponsel membuatnya harus bangun dari tidur malamnya itu. Seorang sedang menunggunya berbicara.

“Yeobseyo? Ne? Keadaan eomma semakin parah? Aku akan segera kesana, kau tunggu aku disitu ok? Kau bisa menunggu dengan sabar bukan? Jangan menangis lagi jagiya, oppa akan segera kesana. Dah…”

KLIK~~

Sambungan telepon terputus. Namja itu mengambil jas yang disandarkan di kursi kemudian segera berlari meninggalkan ruangan yang terlalu sepi untuk dinikmati sendiri…

***