Title: The Hooded One: Genii Cucllati [FirstAction]

Author: SWORDMASTER

Cast[s]:

– Euclair Slønberrn

– Lee Sungmin as Alastir

– Cho Kyuhyun as Marcus Slønberrn

– Bang Cheolyeong as Mir

Genre: supernatural, drama

Length: continue, 4.051 words

Rating: 15+

Disclaimer: plot 100% punya daku, DILARANG KERAS menjiplak baik sebagian atau keseluruhan. Tolong hargai kerja keras penulis dan penggagas yang membuat dengan memakan banyak energi! [Dan jangan salahpahamkan fiksi ini dengan karangan Michael Scott, fiksi ini samasekali berbeda dan TIDAK sedikitpun bermaksud untuk meniru]

Note: daku saranin yang mau baca lihat prolognya dulu disini. Ntar di akhir daku mau minta usul, jadi tolonglah komentarnya, ya, ya, yah…

PLEASE READ, COMMENT AND LIKE

NO BASHING AND NO PLAGIARISM!

FIRSTACTION

BAHKAN ditengah kegelapan yang mencekam itu, Euclair dapat melihat sebentuk lingkaran kelereng sehijau zamrud serta kilat setengah lingkaran sewarna tembaga.

Teriakan histerisnya teredam sesuatu yang hangat. Tubuhnya tertindih beban. Semakin ia berusaha membebaskan diri, semakin kuat beban tadi menindih tubuhnya yang terbaring diatas lantai keramik dingin baru-baru ini. Ia bisa merasakan aliran udara bersuhu tinggi meniup batang hidungnya.

Suara napas berat terdengar menggema di seluruh penjuru ruang. Hanya satu yang membunyikan suara itu: sesosok makhluk yang kini membekap dan menjatuhkan Euclair segera setelah gadis itu berteriak, sesosok makhluk yang datang tiba-tiba entah dari mana dan mengejutkan Euclair dengan tampilannya yang mengerikan selepas tengah yang gelap dan sunyi, sesosok makhluk bertudung dan bermata sebelah.

Makhluk itu selalu mendesis setiap Euclair membuat gerakan, seperti memintanya untuk diam. Euclair menelan kepanikan dan ketakutan. Pikirannya menunjukkan kecurigaan bahwa makhluk diatas tubuhnya ini juga akan membawanya pergi seperti ghoul membawa Marcus ke tempat yang ia tidak tahu. Namun diluar dugaannya samasekali, makhluk itu bicara,

“Hei, jangan panik! Tidak ada yang perlu kau takutkan!”

Jawaban Euclair terdengar sebagai gumam belaka. Sinar matanya terkejut. Makhluk itu bicara layaknya manusia normal dengan suara agak sengau dan serak mengambang diantara aksen kalimatnya yang tak begitu jelas. Rambut pirang pucatnya lengket oleh keringat, menjuntai lepas di sisi leher Euclair. Wajahnya demikian dekat dengan wajah Euclair sampai-sampai ia bisa menghitung kerut-kerut di sudut matanya yang lancip. Aroma tubuhnya nyaris seperti air menciprati tanah gersang.

Tanpa melepas satu tangannya yang menutup kuat mulut Euclair, makhluk itu menggunakan satu tangan lainnya untuk menarik kain cokelat kusam diatas kepalanya yang tertutup rambut tebal. Sesaat kemudian ia menggeleng, membuat keringatnya terpercik ke berbagai penjuru. Agak mengherankan jika di dinihari yang sanggup membuat setiap jari memutih ini ia justru berkeringat sedemikian banyak.

“Jangan khawatir, aku tidak akan menyakitimu…” bisiknya kemudian. Napasnya seperti habis mengulum permen peppermint; sejuk dan lebih segar daripada bau tubuh dan keringatnya yang memuakkan. Sebentuk senyum lucu tercetak, memamerkan gigi geliginya yang bersusunan unik, seperti gigi kelinci. Euclair berhenti meronta.

Makhluk itu melepas Euclair dan membantunya bersandar. Selama beberapa menit Euclair hanya diam dan terpana antara takut dan kagum. Dengan penerangan seadanya—yang hanya berasal dari cahaya bulan ditengah petak-petak transparan jendela kaca—makhluk itu tampak seperti manusia. Namun melihat penampilan luarnya yang mencurigakan itu Euclair ragu-ragu bahwa makhluk itu manusia, sampai ia teringat buku yang barusan dibelinya dari loakan.

Genii Cucullati.

“Jangan takut, aku baik. Aku kemari untuk melindungi dan membantumu. Namaku Alastir.”

Alastir berucap pelan sambil menatap mata Euclair yang sebiru palatin. Tangannya menggenggam tangan Euclair, mengelusnya, menepuknya, lalu menggenggamnya lagi seolah meminta agar tenang karena dirinya bukan ancaman. Ia terus tersenyum pada gadis dihadapannya yang duduk bersandar pada kaki meja tua rosewood. Diatas telapaknya tangan Euclair terasa sedingin es. Ia menangkup lembut tangan dingin itu selama beberapa menit keheningan yang menyusul.

Ge-Genii…

“Aku Genii Cucullati. Tapi tenang dan percayalah, aku tidak akan menyakitimu.”

“Kenapa?”

Kali ini kesunyian bersumber dari Alastir. Sang Genii Cucullati yang datang sendiri itu tak bersuara demi berpikir memberikan jawaban yang agak masuk akal. Lehernya yang licin dan berkilau akibat keringat ia garuk-garuk. Sekilas ia melihat Euclair mengamati sesuatu yang terpasang agak longgar di lehernya. Kemudian tangan gadis Viking itu terulur, bermaksud untuk menyentuh—

“—Aku sendiri juga tak tahu kenapa. Aku hanya menuruti naluriku untuk datang dan melindungimu. Makanya aku kesini…” bersamaan dengan gerak Alastir menepis tangan Euclair dengan halus dan sopan. “Sudah, kupikir kau perlu lebih banyak istirahat. Sekarang tidurlah di tempat yang lebih layak, aku akan menjagamu, jangan takut.”

“Kau tidak—“

“—Aku akan menjagamu.”

Euclair lebih dari sekedar tertegun. Seperti sebuah keyakinan tumbuh bahwa Tuhan mengiriminya orang asing yang sangat baik ini untuk menjadi malaikat pelindung baginya, untuk sementara menggantikan kakaknya yang dibawa pergi entah kemana. Hanya saja saat ini ia tak ingat bahwa Genii Cucullati adalah pemakan daging yang sadis. Bahkan lebih sadis dari ghoul.

Sekian lamanya Euclair mematung memandang sebelah mata hijau Alastir yang teduh.  Sebelahnya lagi tertutup lingkaran hitam besar. Melihat reaksi Euclair yang agak mengkhawatirkan ini, Alastir mencetuskan ide. Langsung ia angkat tubuh ringan Euclair dan dipikulnya gadis itu menuju sebuah kamar yang dikiranya pantas dijadikan tempat untuk tidur, sebuah kamar dengan sebuah kasur medium dan sebuah laptop. Ini kamar Marcus, yang sebenarnya berhubungan langsung dengan kamar Euclair melalui sebuah pintu internal. Alastir baringkan Euclair disitu, menyalakan lampu-lampu, menyelimutinya, lalu duduk di sisi dipan sambil terus waspada dan awas. Alastir tahu tak sedetikpun Euclair melepas pegangan tangannya dari jari-jari tangan kirinya.

Lewat sebelah matanya yang berkilat terkena cahaya, Alastir berhasil menemukan kenyataan bahwa Euclair tidak baik-baik saja. Rumah ini berantakan, tak terawat dengan baik. Tak ada yang menaruh perhatian di bagian penerangan rumah dan Euclair sendiri juga kurang ‘tertata’. Gadis itu sendiri, membiarkan lubang dinding di gudangnya yang berbau anggur begitu saja, bahkan tak mengunci pintu gudang itu sehingga siapapun bisa masuk dengan mudah, termasuk Alastir. Melakukan aktivitas biasa bagi seseorang seperti Euclair samasekali tak terhitung sebagai hal mudah, apalagi jika kondisi psikisnya seperti ini.

ALASTIR belum siap untuk berkata jujur mengenai alasannya datang dan menolong Euclair. Ia hanya merasa tak bisa diam ketika pertama kali melihat Euclair berjalan terburu-buru ditengah kerumunan sambil mendekap sebuah bungkusan kain kecil di tangannya. Ia tak bisa mengalihkan perhatiannya ke arah lain begitu melihat liuk kaki jenjang Euclair menyilang secara profesional, menjatuhkan jejak tak nampak diatas balok-balok segiempat paving batu. Rambut honey blonde-nya tampak kontras berterbangan dengan rambut seseorang di sampingnya—sementara Alastir menebak sebagai saudaranya. Pandangan mata biru palatinnya menunjuk tegas ke depan, dagunya sedikit terangkat, langkahnya pasti menepak, namun wajahnya tetap lembut dan cantik…

…seperti biasanya.

Tiada yang mampu melunturkan lukisan wajah itu dari ingatan Alastir. Bahkan sekalipun dirinya memang Genii Cucullati yang dibuang oleh kakaknya dari tempatnya dulu, yang berarti ia bukan manusia, Euclair tetap sanggup menyusupi hatinya dengan cara-cara yang ia sendiri tak tahu. Ia mengamati Euclair setiap waktu yang ia miliki, berkali-kali menjadi seorang stalker. Ia hanya tak tahu bagaimana mewujudkan pikiran itu. Rasanya ada sesuatu dalam diri Euclair yang mengingatkannya akan kampung halamannya.

Ia sedikit merasa bersalah ketika mengetahui bahwa ada ghoul menyerang kediaman keluarga Slønberrn di Würzburg dan menculik lelaki berambut putih—saudara Euclair, menurut Alastir—saat ia tak ada. Saat serangan itu terjadi Alastir sedang memaki Ollathair, makhluk yang terkurung dalam wujud chimaera di dimensi yang lain, alam yang lain, dunia yang lain. Sepatutnya Alastir menghormati Ollathair, atau sering juga disebut Dagda, karena Ollathair lebih berkuasa dan kuat darinya. Tetapi ia malas melakukan hal itu. Kutukan chimaera membuat Ollathair melemah, bahkan Alastir percaya Ollathair kini lebih lemah darinya. Jarang sekali Alastir meninggikan orang yang lebih lemah dari kemampuan yang ia miliki.

Dan maka untuk menebus rasa bersalahnya, kemarilah Alastir, bermaksud menjaga gadis yang selama ini menarik perhatiannya sampai rasa takutnya hilang. Mungkin melalui cara ini Alastir akan belajar bagaimana menunjukkan rajut-rajut perasaan yang selama ini terjalin satu arah darinya, suatu perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Ia merasa mendapat jalur yang mulus; Euclair lunak. Sekali pertemuan tak terduga itu Euclair bisa langsung percaya bahwa Alastir adalah orang baik. Dan mungkin karena begitu percayanya, sampai-sampai Euclair tak berkenan melepas cengkeraman tangannya pada jemari Alastir. Takut kalau-kalau terjadi sesuatu dan Alastir pergi sehingga Euclair sendirian. Alastir tahu, ketakutan Euclair sudah mencapai taraf kronis. Andai Euclair tak cukup kuat menahan efek dari rentetan kejadian didepan matanya, gadis itu bisa langsung gila dan akan sangat sulit untuk menyembuhkannya.

Dalam kesunyian panjang di dinihari penuh kejutan yang melelahkan, Alastir tersenyum. Satu-satunya lampu yang menyala di rumah adalah sebuah bohlam terang benderang di kamar tempat Alastir duduk menjaga tidur Euclair. Satu tarikan napas keras terdengar bersamaan dengan gerak naik dada Euclair yang lebih tinggi dari sebelumnya, lalu kembali ke ritme normal lagi, disertai getar-getar kecil kedinginan. Alastir merapatkan selimut sambil mengamati lekuk wajah Euclair yang nampak buruk. Garis-garis ketakutan tergambar jelas di kelopak mata dan dahinya. Sebagian besar napasnya terkesan menyesakkan. Rambut honey blonde-nya yang biasanya terurai lemas keatas punggung terlihat sangat kusut. Tangannya berkeringat dingin.

Ingin rasanya Alastir menghilangkan bau-bau aneh yang melekat di tubuhnya. Ia telah berlari menembus genangan air, menebar debu gatal ketika alas kakinya memukul-mukul tanah, kemudian sudah banyak berkeringat ketika sampai kemari. Satu hal yang tak bisa ia tanggalkan, atributnya sebagai Genii Cucullati: jubah penutup bertudung. Lagipula Alastir tak ingin membuat banyak orang penasaran karena matanya yang tinggal satu, dan dirinya sudah banyak muncul dalam berita-berita terkenal seantero jagat dalam perannya yang beragam—meski mungkin tak ada yang menyadari kehadirannya. Ia pun tak ingin menyusahkan Euclair.

Alastir tak habis pikir, bagaimana bisa Euclair memiliki rambut honey blonde sedang saudaranya perak keemasan. Atau selama ini Alastir yang salah kira, bahwa ternyata lelaki berambut pirang itu bukan saudara kandung Euclair, melainkan seseorang yang lain. Tapi siapa? Saudara angkat? Tetangga? Teman? Sahabat? Atau…

SINAR matahari pagi membuat rumah kelam keluarga Slønberrn jadi terang. Euclair terbangun, heran sekaligus bersyukur melihat Alastir masih disebelahnya dalam keadaan sadar. Tudungnya kembali terpakai. Senyumnya terukir indah sebagai garis lengkung tipis pada wajahnya yang tertutup bayang. Jemari kurusnya tak bergerak dalam genggam erat Euclair.

Tak sedikitpun tersadari, tatap mereka bertumbuk, tak bergeser hingga bermenit-menit selepas Euclair membuka matanya. Euclair tak bisa untuk tidak terus menatap mata tunggal hijau zamrud beraura menghanyutkan yang lembut menyapu setiap sisi jiwa serta pikirannya, namun bisa juga lancip merajam dalam berbagai kesempatan tak terduga. Ia jatuh terpeleset. Ia bertekuk lutut pada hipnotika singkat yang terlontar secara tak langsung dari Alastir.

Tangannya yang semula menggenggam kini diangkat pelan dan penuh penghayatan oleh lelaki asing dihadapannya. Tanpa penolakan, Euclair menyaksikan punggung tangan pucatnya dicium oleh Alastir sebelum sang Genii Cucullati berucap,

“Selamat pagi… Clair.”

Euclair tersentak; ia bahkan belum memperkenalkan dirinya pada Alastir. Bagaimana lelaki itu bisa mengetahui namanya?

Sorot mata Alastir kembali fokus pada iris biru pekat Euclair yang melebar seiring keterkejutannya. Gadis itu lagi-lagi tak berkutik, kembali memandang Alastir dengan sedikit… takut. Ya, memang Alastir tak sedang menusuk-nusuk dirinya dengan sinar tajam mengancam, namun justru pandangan lembut menghanyutkan itu agak mengusik ketenangannya. Tanpa mengurangi rasa hormat, Euclair memilih menarik tangannya dan membuat jarak dengan Alastir.

“Kau masih takut?”

Gamang. Euclair bisa saja jujur bahwa ia takut, takut pada Alastir, tapi hal itu pula bisa membahayakan dirinya bila Alastir terus mendekat. Kalau ia berbohong dengan mengatakan bahwa ia berani, Alastir akan meninggalkannya, dan itu berarti tak ada yang melindunginya dari bahaya karena Euclair benar-benar tak tahu siapa lagi yang bisa menjaganya selain Alastir.

Dari pupil matanya yang melebar Euclair melihat senyum Alastir semakin jauh tertarik hingga menyerupai seringai. Euclair tak bergerak. Ia tak kuasa menolak tatkala Alastir mengangkat paksa tubuhnya dan mendudukkannya di tepi tempat tidur, menghadap langsung dirinya sementara Alastir sendiri berlutut dan berpegangan di lutut Euclair.

“Bukankah sudah kubilang, bahwa kau tidak perlu takut, karena aku tidak mungkin menyakitimu…”

“Kenapa?”

Ketakutan mulai mencetak diri di kedua mata Euclair. Tubuhnya mulai bergetar. Alastir menghela napas panjang sebelum meraih kedua telapak Euclair dan mengelusnya dengan ibu jari, mencoba menenangkannya.

“Aku tak tahu. Ada sesuatu yang memintaku untuk sadar dan melakukan semua ini. Lagipula…” Alastir memindah pegangan tangan kanannya menuju juntai-juntai rambut merah Euclair diatas pundak, “…kau mengingatkan pada sesuatu yang lampau bagiku, entah apa, aku tak bisa ingat…”

Ekspresi wajah Alastir melembut. Euclair kembali seperti biasa tanpa bekas-bekas traumatik pada setiap detil tubuh yang terlihat dari luar. Dengan kesadaran sendiri Euclair menjulurkan lengan, menarik dan menyingkap kain kumal selimut Alastir sehingga figur lelaki itu tampak keseluruhan, menampilkan lapisan kulit lembut seputih susu yang membungkus jalinan otot yang terbentuk sempurna hingga batas pinggang, sukses menghapus keyakinan Euclair bahwa Alastir adalah Genii Cucullati yang sepenuhnya lembut dan cute.

Tiba-tiba pengelihatannya tersita sebuah objek logam yang terpasang di leher Alastir. Sementara ia menduga pantulan objek itulah yang dilihatnya beberapa jam lalu, yang nampak seperti setengah lingkaran. Namun dari jarak sedekat ini Euclair memastikan dirinya salah. Objek itu tak setitikpun bisa disebut ‘setengah lingkaran’, dalam artian lebih pantas disebut ‘tiga perempat lingkaran’ yang terbuat dari tembaga—atau perunggu, Euclair lupa ciri keduanya. Ujung-ujungnya melintang di depan leher, sedang sebagian besar batangnya mengelilingi tengkuk. Bentuk tumpul kepala naga membuka rahangnya luas-luas di tiap-tiap pucuk.

“Apa ini?” gumam Euclair sembari meraba benda logam itu.

Torc, perunggu.”

“Setahuku torc tak pernah memiliki bentuk ujung seperti ini.”

“Kau mengenalku, Clair—siapa Alastir yang kau tahu?”

Euclair terpaksa berpikir walau ia tak ingin. Ia mencari-cari nama itu: Alastir. Lalu sekitar satu menit kemudian ia menemukannya diiringi keterkejutan mencolok. Ia ingat siapa Alastir yang selama ini ia tahu.

“Alastir, kau… pejuang?” Alastir mengangguk pelan. Dia merasa sedikit geli waktu Euclair menggunakan ujung jemarinya yang mengeriput untuk meraba-raba menelusuri sisi-sisi wajahnya. “Tapi kupikir… kau hanya—“

“—Percayalah, aku ada disini sekarang. Cobalah untuk tidak menganggapku sebagai penyusup yang penuh kepura-puraan.”

“Kupikir tokoh-tokoh seperti kalian tidak nyata…”

Aku nyata.”

Euclair menelengkan kepala ke kanan, menginterogasi sekujur tubuh Alastir yang terlihat sedemikian jelas dari tempat ia melihat. Kemudian ia berdiri meski tak serta merta tegak layaknya ia pada hari-hari biasa. Ia menarik Alastir agar ikut. Tak lupa memungut jubahnya, Alastir menurut dengan senang hati, mempertegas aksen ramah melalui senyumnya yang senantiasa terkembang dari waktu ke waktu.

SUARA ketukan sepatu mengalun samar dari kejauhan. Marcus mendapat kembali kesadarannya, merasakan tekanan kuat di kepala yang membuatnya pusing. Sesaat ia berusaha menggerakkan tangan, ia terkejut, tangannya tak bergerak.

Perlahan ia berusaha membuka matanya, namun sama, tak dapat bergerak barang semili pun. Berulang dicobanya pada anggota tubuh yang lain, hasilnya tetap sama. Akhirnya dengan berat hati Marcus mengakui bahwa otot volunternya telah lumpuh secara keseluruhan.

Tetapi meskipun otot-otot volunternya lumpuh, inderanya berfungsi dengan baik, bahkan sangat baik.

Ketukan alas kaki terdengar makin jelas mendekat, sedikit menggema terkena batas-batas ruang. Sebelah kepala Marcus menyentuh lantai lembab dan hidungnya menghirup udara dingin berbau busuk. Ketukan beberapa kali terpantul dinding sebelum berhenti, tepat di depan ujung hidungnya, Marcus mengira.

I know you’ve been waken up since awhile ago.

Marcus belum pernah mendengar nada itu seumur hidupnya. Diucap dengan kaku dan penuh penghayatan setiap kata, nyaris tak menggema, dalam dan tenang namun menghanyutkan bagai sungai dalam tanpa riak air.

Don’t worry, you won’t feel any hurt just because of this…

Niat Marcus ingin menjerit kesakitan ketika sebentuk ujung belati berjalan mulus menoreh punggung tangan kanannya. Rasa perih menjalar cepat, mematikan semua hal lain yang sebelumnya terekam oleh indera perabanya. Terluka di bagian tangan adalah suatu hal yang sangat dihindari oleh alkemis yang memang lebih banyak bekerja dengan tangan, hampir semua pekerjaan. Dan luka itu… seperti mengukir sesuatu.

Marcus menahan sakit sambil merasakan kemana ujung belati itu mengarah. Meliuk lancar, pucuk panas itu menciptakan barisan karakter kapital di tangan Marcus yang sudah berdarah-darah. Marcus membatin apa yang tereja disana,

M-I-R.”

EUCLAIR memandang heran Alastir yang tak menyentuh sedikitpun makanan didepannya. Lebih heran lagi karena bahkan Alastir tak sudi menggerakkan mata pada mangkuk penuh berisi sup jagung kental yang masih mengepul diatas meja makan pinus, melainkan menatap kearahnya lewat bulatan kelereng mata multi-ekspresi andalannya, sambil tersenyum-senyum simpul. Sikap ini total membuat Euclair bingung.

“Kau tak makan?”

“Melihatmu sudah membuatku kenyang.”

“Kau tak makan?” Euclair mengulang pertanyaannya tanpa merasa terganggu dengan jawaban Alastir yang terkesan terang-terangan menggoda.

“Aku makan daging.”

Pupil Euclair meluas, menghitamkan area biru sejenak sebelum kembali lagi, menandakan rasa kaget. Begitu cepatnya perubahan ekspresi Euclair hingga Alastir yang tak mengalihkan pandangannya pun tak sempat menjadi saksi. Tanya Euclair kemudian,

“Kau tidak lapar?”

“Sudah kubilang, melihatmu makan seperti itu membuatku cukup kenyang. Bukanya aku tidak menghargai masakanmu, hanya saja—kau tahu—Genii Cucullati tak memakan itu semua. Kami hanya makan daging, dalam beberapa kasus, manusia.”

“Oh…” Euclair mendesah disusul keheningan yang membosankan dan terasa sangat panjang.

Selama beberapa menit keheningan itu tak ada hal berarti yang terjadi antara mereka. Hanya suara kecil denting keramik yang bertemu dengan logam sesekali terdengar ketika Euclair menyendok sisa-sisa sup di dasar mangkuk setengah bola dan tegukan air melewati kerongkongannya dibalik lapisan luar leher sehalus sutera. Sampai Euclair dan Alastir sama-sama teringat suatu hal,

“Kau—“ bersamaan.

“Wanita lebih dulu, silahkan.”

“Kau benar-benar Genii Cucullati?”

“Ya. Apa kau masih ragu?”

Terlihat Euclair menerawang sekilas, “Jarang Genii Cucullati sendirian seperti kau. Biasanya bertiga atau lebih…”

“Dulu aku—atau kami—bertiga. Sebelum kedua rekanku dibunuh oleh seorang pemberontak yang terobsesi untuk hidup abadi tanpa alasan jelas—yang melimpahkan perbuatan tak terpuji itu padaku. Ini,” Alastir menunjuk sebelah matanya yang tertutup kain hitam, “seharusnya bukan aku, tapi dia yang mendapatnya.”

Ujung-ujung alis Euclair merendah seolah menaruh rasa iba. “Ah, ya. Lalu, kau termasuk Genii Cucullati yang membawa keranjang telur atau yang membawa pisau?”

“Pisau,” Alastir cepat-cepat menambahkan, “tapi aku bersumpah aku tak akan menyakitimu, seujung rambut sekalipun!”

Euclair tersenyum manis untuk pertama kalinya yang tertuju lurus pada Alastir, membiarkan lelaki bertudung itu tampak lucu saat terlukis semburat merah muda di kedua pipinya. Denting-denting benda keras terdengar makin sering dan nyaring seiring habisnya sup Euclair.

“Kau… sendirian?” kata Alastir setelah ia memastikan perkataan Euclair telah sampai di ujung.

“Sebelum ada kau.”

“Maksudku, dimana lelaki yang biasa bersamamu? Yang berambut putih…”

Seketika kegiatan Euclair berhenti. Genangan air menumpuk di pelupuknya, membuat pandangan matanya buram. “Kakakku… diculik oleh ghoul.”

Jadi pendapatnya selama ini benar, pikir Alastir. Ia tak perlu merasa aneh melihat Euclair tak menanyakan darimana ia tahu karena Euclair sekarang terlalu rapuh untuk disentuh lebih jauh. Alastir mencoba menanyainya pelan-pelan,

“Kakakmu… diculik ghoul?”

Euclair mengangguk sekali. Pandangannya tak menunduk tapi tegak ke depan, menusuk Alastir yang kembali bertanya dengan ekspresi agak ‘ilmiah’ sehingga pandangan mereka kembali bertemu.

“Siapa nama kakakmu?”

“Marcus, Marcus Slønberrn. Orang biasa memanggilnya Mark.”

“Apa Marcus pernah melakukan aktivitas poltergeist di rumah ini?”

“Tidak, setahuku. Meskipun dia itu okultis dan percaya pada barang-barang berbau klenik, dia tak sekalipun mau melakukan aktivitas poltergeist, dimanapun. Dia tahu poltergeist bisa mendatangkan efek buruk. Kakakku hanya tertarik pada—yah, semacam—alchemy.”

Punggung Alastir lurus, dagunya terangkat antusias, mata tunggalnya berkedip dua kali tanda ia serius dan sangat tertarik. Ada baiknya di saat semacam ini ia tak mendapat interupsi.

Alchemy? Sampai dimana kakakmu menguasainya? Apa dia sudah sampai pada tahap pembuatan ramuan Elixir of Life?”

“Entah, tak banyak yang kutahu tentang ilmu yang didalaminya itu.”

Alastir terpejam, memorinya terpilah memunculkan ingatan akan apa yang dilihatnya tadi malam. Diatas meja dekat pintu menuju ruang di sebelah kamar tempat Euclair tertidur, terletak sebuah gelas—sebenarnya lebih menyerupai tabung—berisi bongkahan-bongkahan berpendar hijau dalam jumlah sedikit. Alastir pernah melihat benda itu satu kali sebelumnya, dan ia yakin betul, itulah The Philosopher’s Stone, batu ajaib kunci utama dalam seni alchemy. Transmutasi logam dasar tak mungkin bisa dilakukan tanpa Philosopher’s Stone. Dan membuatnya sama sulit dengan membuat ramuan penahan-usia Elixir of Life. Kalau Marcus bisa menemukan keduanya maka tak berlebihan Alastir mengatakan ia tahu kemana Marcus dibawa ghoul-ghoul itu, karena hanya satu kemungkinannya…

“Berapa usiamu, Clair?”

“Aku? Duapuluh satu. Kau?” Euclair  kembali stabil karena baginya Alastir hanya mengajaknya dalam bincang-bincang harian biasa.

“Aku tak bisa menghitungnya lagi. Memangnya aku tampak seberapa tua?”

“Delapanbelas. Aku yakin kau lebih tua dari itu.”

Di mata Alastir Euclair tampak sesuai menyandang usia diatas duapuluh. Tapi Marcus? Seberapa tua dia? Dari kejauhan Marcus nampak sebaya saja dengan Euclair, tak lebih tua seharipun. Apa dia telah menggunakan Elixir of Life?

“Jauh dari yang kau bayangkan. Aku menyaksikan secara langsung bagaimana Comte de Saint Germain ditangkap di Edinburg karena dicurigai sebagai mata-mata. Aku memang bukan ahli fisika, tapi asal kau tahu, aku adalah salah satu orang yang melihat bagaimana Fulcanelli mengubah beberapa substansi di Castel de Lere dengan substansi yang katanya berasal dari Ferrous Pyrite.”

Philosopher’s Stone?”

Melihat Alastir mengiyakan, ketekejutan di wajah Euclair tak terbendung, segera membentuk ketakutan untuk kesekian kali. Ia tak percaya bahwa ia baru dan sedang berhadapan dengan Genii Cucullati berusia ratusan tahun yang datang dan mengaku akan menolongnya. Rasanya seperti berputar dalam lorong fantasi, dan dalam lorong itu ia melihat peristiwa berabad silam saat peradaban belum semaju sekarang.

“Aku tak menggunakan Elixir of Life. Beginilah adanya diriku. Sejak aku dibuang dari tempatku karena fitnah itu, dan kehilangan mata kiriku, aku merasa… sulit, untuk mati. Terkadang aku bosan. Selama ini aku hanya melihat orang-orang kehilangan nyawanya satu-persatu dan hal itu sangatlah menyakitkan.”

“Kau ingin kembali?”

“Ya. Agar bisa kembali, aku harus menemukan pelaku asli dari pembunuhan dua rekan Genii Cucullati-ku, menangkapnya, lalu membawanya ke Beldovior—ke tempatku—untuk diadili. Dengan begitu aku bisa hidup seperti apa yang telah digariskan padaku… dan aku bisa mati.”

“Kau akan pergi…?”

Sebelum Euclair benar-benar menangis, Alastir meraih ujung jemarinya sejauh ia bisa, membagi kehangatan tubuh dan menghiburnya dengan pandangan lembut yang menenangkan setiap orang yang sanggup memandangnya, menampilkan sisi lembut dibalik tampilan seramnya. Air muka Euclair terlihat meleleh. Euclair merasa dirinya terlalu cepat bersimpuh takluk pada lelaki tepat didepan sosoknya yang baru ia temui beberapa jam lalu. Tapi ia tak kuasa mengelak. Mata itu, aura itu… seolah merasuki dirinya.

Alastir mencondongkan tubuh, tepat sasaran menikam Euclair dan membekukan wanita itu seketika dibawah matanya yang tajam bagai mata anak panah,

“Akan kubantu kau menemukan kakakmu dan membawanya kembali padamu. Aku tahu siapa yang telah merenggutnya…”

SETELAH mati-matian menahan pedih lukanya yang terasa membakar tangan, Marcus menyadari, tak ada suara. Entah Si Pengukir itu telah pergi, atau sengaja diam menyaksikan bagaimana seorang alkemis menderita atas perlakuannya. Tak lama kemudian ia akan menyadari bahwa pendapat kedua-lah yang benar.

Whatta beautiful hand. You’re too cute to be an alchemyst…

Bahasa Inggrisnya terucap lancar dengan sedikit aksen Perancis yang terngiang sebentar di liang telinga. Luka Marcus benar-benar membuatnya bahagia. Oleh karena itu diangkatnya tangan penuh darah itu, menekannya kasar dengan sebatang jari di tangan satunya sampai ia kembali melihat darah mengalir keluar membentuk deretan huruf yang menyusun namanya dengan tinta organik. Tak ada yang bisa memuaskan hasratnya lebih dari melihat seorang alkemis terluka. Apalagi jika korbannya sehalus dan setampan orang dibawah lututnya ini, Marcus Slønberrn, alkemis yang sembarangan menunjukkan Philosopher’s Stone pada adiknya diatas Alte Mainbrücke sehingga Mir—namanya—sempat menangkap basah, menjadikannya target yang berharga dan pantas dikejar. Kalaupun Marcus tak bisa membuat ramuan hidup abadi Elixir of Life untuk dirinya, setidaknya dia bisa memberinya harta.

Am I too bad? But it’s okay. Sooner or later, you’ll be my next slave, because I’ve marked your body… and your life.

Mir melempar tangan Marcus ke lantai batu. Setelah berjongkok tak begitu lama, ia belai wajah Marcus yang kemerahan seolah menahan dingin dengan sisi belatinya yang kotor, menodai kulit tipis itu dengan darah dari tubuhnya sendiri. Kemudian ia dorong pundaknya sampai Marcus jatuh telentang, membawa belatinya berkeliling di sekitar leher dan dadanya dengan hati-hati agar tak sampai Marcus terluka. Sudah cukup Mir menandai Marcus di satu tempat. Menggoresnya berulang hanya akan membuat belati kesayangannya semakin kotor dan lengket.

Tiba-tiba Mir berhenti. Ada suatu hal yang mengganggu euforianya terhadap tubuh Marcus, sangat mengganggu sampai-sampai konsentrasinya hilang total. Tapi itu tak lama. Sedetik kemudian ia menyeringai lebar, menampilkan batang-batang taring yang luar biasa panjang dibalik bibirnya yang tipis menyerupai penumbra di wajahnya yang sewarna kulit bulan tertimpa bayang dinding.

It seems like we got some problem out there—no, you got some problem right here

Tanpa perlu melihat ekspresi Marcus, Mir tahu alkemis itu sedang bingung. Mir menggeleng, ia merasa bodoh bicara pada orang yang 100% lumpuh hingga menyerupai mayat seperti Marcus karena ia bicara sendiri tanpa jawaban, persis orang gila. Gelengannya terulang satu kali, lalu ia menjelaskan, dengan berat hati,

She’s looking for you, boy. I need your opinion. What do you think if I just kill her? Or I need to give her a little torture first, like this?

Mir tahu, jantung Marcus berdegup kencang saat ini. Memikirkan Euclair sendirian di luar sana saja jiwa Marcus rasanya seperti tercabik-cabik gergaji Manasvin. Apalagi melihatnya meneteskan darah akibat luka, rasanya seperti terbakar neraka Ifrit, dan tak ada jalan untuk lari. Euclair terlampau berharga baginya. Jangan sampai, Marcus penuh menekankan, jangan sampai Euclair merasa sakit. Apapun akan ia lakukan asal Euclair tak perlu mencicipi apa yang dinamakan dengan ‘rasa sakit’ itu. Menukar nyawa pun ia bersedia.

I know, Mark, you love her, you love your precious lil’ sister. But… you mustn’t fallin’ love with your sibling. Am I not right?

Darah Marcus mendidih dalam pembuluh sementara Mir terus berceloteh,

You have such a big mouth, yet you’re so weak. You can’t protect her anymore, don’t you? Whatta poor boy…

Makian Mir serasa memotong-motong tubuh Marcus menjadi bagian-bagian kecil. Tawa nyaringnya yang melengking kemudian bagai ribuan jarum yang menghujani Marcus sekaligus. Tapi Mir ada benarnya juga, Marcus tak bisa apa-apa. Jika terjadi sesuatu Marcus tak akan bisa datang untuk Euclair. Rangkaian kalimat terakhir Mir membuat Marcus benar-benar kecewa dan ingin sekalian mati saja,

Sorry, I’m notta very good person, Mark. I’m going first. I wanna taste her body before I turn you into my everlasting slave…

First Action/END

The Hooded One/TO BE CONTINUED

Author’s note:

Sesuai perkataan daku tadi, daku mau minta usul. Kira-kira siapa cowok yang pantes jadi tokoh kalo ability-nya gini: bisa ngilang alias invisible, senjatanya pake panah emas, terus bisa teleportasi? Ntar dia jadi peran protagonis kok. Tolong bantu daku ya, para reader yang terhormat, daku sungguh-sungguh bingung T,T

Terakhir, daku mau minta maaf dan terimakasih pada para reader yang senantiasa datang dan meninggalkan jejak disini. Kalian membuatku terharu T,T [mewek lagi]. Maaf kalau banyak typo lagi. Kan kemaren ada tuh, yang salah nama. Seharusnya ‘Euclair’ malah jadi ‘Erris’. Maaf, karena di saat bersamaan daku mengerjakan proyek dengan tokoh utama wanita bernama ‘Erris’. Maaf juga kalo bahasa Inggrisnya belepotan. Cuman kayaknya Mir lebih cocok ngomong pake bahasa Inggris gitu daripada bahasa laen karena dia antagonis. Hehe… Maaf, maaf…

Mind to follow @DeadSwordmaster?