Annyeong!

Huwaaaa… akhirnyaaa hiatus nya selesai jugaaa !!! Menyenangkan sekali akhirnya bisa posting lagi, berkarya lagi, dan semoga bisa baca komen-komen dari readers lagi. *banzaaaiii!!* \\^O^//

By the way, chukkae buat author Dicta, Tam Puth, Rahina, Cici, Zen yang baru masuk SMA, dan thyz yang mau masuk universitas. Dan chukkae juga buat readers yang juga baru masuk sekolah/universitas. Happy new life, guys ! ~(^O^~)(~^O^)~

Saya? Haha… masih ribet sama persiapan OSPEK buat mahasiswa baru. Ihiiyy! Doakan ya semoga bisa ketemu brondong cakep ntar.  XD~

Hemmm… pada masih inget kan sama FF *jelek* pertamaku dulu? Yapp, ‘My Another Side’. Saya kangen sama pasangan ini. Jadii, saya bikinin mereka sekuel. Hehe…

Do you all miss them too? I hope u do.

Happy reading all ~!!

_________________________________________________________________________

Author : Adiez-chan

Title : Trust and Marry Me

Cast : Choi Seung Hyun (TOP Bigbang), Lee Chaerin (CL 2NE1)

Genre : Romantic

Disclaimer :

ADIEZ-CHAN © ALL RIGHT RESERVED

ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE ! NO OTHER AUTHORS ! PLEASE DON’T COPY AND RE-POSTING WITHOUT CONFIRM ME!
NO PLAGIARISM!

KEEP COMMENT AND LIKE. NO SILENT READERS HERE PLEASE.

_______________________________________________________________

 

 

~Proloque~

“Yoboseyo?”

“Seunghyun oppa?! Uwaa… akhirnya kamu menghubungiku. Syukurlah… bagaimana keadaanmu di sana?”

“Mianhae, Chaerin. Sinyal di tempat ini putus sama sekali. Aku baik-baik saja.”

 “Bogoshippeo…” ucapnya manja, dan Seunghyun bisa mendengar adanya kerinduan yang sarat di balik suaranya.

Tahukah gadis itu betapa dia juga merindukan pemilik suara ini? Sangat rindu…

Hening.

Seunghyun mengamati luar gedung yang sudah porak poranda oleh tsunami dalam remang cahaya bulan. Walau gedung yang kutempati ini pun tidak lebih baik dari tempat lain, atap-atapnya sudah banyak yang lepas dari tatanannya, dinding-dinding yang runtuh, dan lantai yang anjlok ke lantai di bawahnya. Namun setidaknya, gedung ini masih bisa dipakai untuk sekedar melepas lelah sejenak.

“Oppa?”

“Nee?”

“Mengapa diam?”

“I wonder what the person I’m going to marry is doing right now. Na ddo bogoshippeo, Chaerin.”

Senyap sekali lagi. Garis bibir lelaki itu menyunggingkan senyum tipis, membayangkan reaksi Chaerin di seberang telepon. Tanpa melihatnya pun, Seunghyun bisa membayangkan garis-garis merah yang dengan cepat menjalari pipi putihnya, senyum kecil yang mencoba menutupi malunya, dan debaran jantung yang berdetum memburu di dada kanannya.

Dia kemudian melanjutkan, “Chaerin, besok aku pulang dengan penerbangan sore. Bisa jemput aku di bandara?”

“Pulang?! Yokatta…  Tentu saja aku bisa!”

***

“Choi Seunghyun, kamu tahu kan apa yang sedang terjadi di Jepang sekarang?” pimpinan rumah sakit di hadapannya menatap Seunghyun dengan mimik serius.

“Tahu, professor.” Seunghyun mengangguk pelan. Dia bisa membayangkan keadaan Jepang yang saat ini sudah porak poranda oleh tsunami dan gempa beberapa waktu yang lalu. Kota yang hancur, gedung-gedung yang tidak berbentuk, kontak yang terputus dengan dunia luar, dan… nyawa-nyawa yang melayang sia-sia.

“Saya memutuskan untuk mengirimkanmu ke Jepang untuk menjadi sukarelawan di sana.”

Kedua mata Seunghyun seketika menatap atasannya itu dengan pandangan tidak percaya. Namun wajah serius dari lelaki berumur itu sudah menunjukkan sebuah keseriusan lebih dari cukup. Dia akan benar-benar dikirm ke Jepang.

“Kamu berangkat lima hari lagi. Bersiap-siaplah.”

Seunghyun hanya bisa terdiam. Hanya satu yang kini dipikirkannya. Bagaimana dia mengatakan berita ini pada Chaerin?

***

“Oppa? Baru kembali dari rumah sakit?” Chaerin menyerbunya dengan pertanyaan ketika Seunghyun baru saja memasuki apartemen Chaerin dengan gundah. Dia hanya mengangguk dan tersenyum tipis sebagai jawabannya. “Duduk saja dulu, makanannya hampir jadi.”

Seunghyun berjalan lamat-lamat ke arah meja makan. Sudah menjadi kebiasaannya untuk makan malam bersama Chaerin, yeoja-chingu nya, berbincang sejenak, dan pulang ketika malam sudah mulai larut. Dia menatap Chaerin yang sibuk dengan masakannya dengan pikiran yang kalut, bingung memikirkan harus merangkai kata seperti apa untuk mengucapkan berita yang baru saja didapatnya.

“Nah, sudah selesai.” Chaerin mengamati hasil masakannya dengan tatapan puas. Kemudian dia duduk di seberang meja dan tersenyum menatap Seunghyun. “Selamat makan, oppa…”

Garis bibirnya melengkung sedikit terpaksa. Namun Chaerin tidak menyadari hal itu dan memulai menyendokkan makanannya. “Chaerin…” Lelaki itu akhirnya memanggil gadisnya ragu.

“Humm?”

“Aku… akan dikirim ke Jepang…” ucapnya lirih.

Gerakan gadis yang dipanggilnya itu terhenti. Dia melayangkan sendok berisi makanannya di udara dan menatap Seunghyun tajam. “Untuk apa?”

“Menolong korban tsunami dan gempa… Kamu tahu kan apa yang sedang terjadi di sana sekarang?”

Klontaangg!!

Sendok Chaerin seketika terjatuh dan beradu dengan piringnya. Matanya menatap Seunghyun tajam. “Tidak boleh.”

Seunghyun terdiam. Dia tahu reaksinya akan begini.

Apa yang harus dilakukannya sekarang?

***

Esoknya…

“Chaerin, aku harus ke Jepang…” Seunghyun kembali mencoba bertanya pada gadisnya, di tempat yang sama, di momen yang sama.

“Aku sudah bilang kemarin, kan? Aku tidak mau kamu pergi.”

***

 

Dan esoknya…

“Chaerin, aku…”

“Tidak boleh!”

***

 

Dan esoknya lagi…

“Ehem…”

“Jawabanku akan tetap sama, Seunghyun oppa! Tidak boleh!”

Seunghyun terdiam. Dia bahkan belum memulai perkataannya. -__-‘’

Apakah dia harus pergi tanpa persetujuan gadis ini?

***

“Chaerin, aku mohon izinkan aku ke Jepang…” Seunghyun memeluk Chaerin dari belakang dan berbisik dalam nada yang lelah, ketika malam menjelang dan meja makan sudah mereka bereskan. Pembicaraan ini sudah ke sekian kalinya dia mencoba, hingga besok adalah hari keberangkatannya ke negara itu.

Chaerin berbalik menatap tajam tanpa ekspresi dan membalasnya dingin, “Aku sudah bilang, aku tidak mau kamu pergi.”

“Chaerin…”

“Kenapa kamu masih bersikeras, oppa?! Apa aku kurang jelas mengatakannya?!” perasaannya terasa campur aduk, hingga suaranya naik satu oktaf lebih tinggi dan bergetar. Tiba-tiba saja bulir-bulir air mata sudah jatuh dari kedua manik mata yang terus memandang Seunghyun dengan terluka.

“Chaerin, dengarkan aku…”

Tangannya dengan cepat menutup kedua cuping telinganya. Dia menggelengkan kepalanya, dan menutup matanya erat, seolah membuat suatu pertahanan untuk suara-suara yang akan keluar berikutnya. “Aku tidak mau dengar!”

“Chaerin, jebal…”

Seunghyun memegang kedua tangan gadis itu dan mencoba menjauhkannya. Namun semakin dia mencobanya, semakin kuat Chaerin menutup telinganya. Dan Seunghyun memiliki kekuatan lebih sebagai lelaki. Sekuat apapun perlawanan yang dilakukan Chaerin, pada akhirnya tangan itu berhasil menjauh. Seunghyun mencengkeram tangan itu kuat dan menatapnya lekat. “Jebal, Chaerin…”

Kemarahan selalu membuatmu lebih kuat, begitu juga dengan Chaerin. Emosinya berhasil membuatnya berhasil melepaskan genggaman tangan Seunghyun. Dia kemudian memandang Seunghyun dengan pandangan yang marah sekaligus terluka dan berteriak, “POKOKNYA AKU TIDAK MAU MENDENGAR KAMU HARUS PERGI JAUH! TIDAK KE MANAPUN!!”

BRAAKK!!!

Chaerin membanting pintunya keras hingga memekakkan telinga dan menguncinya dari dalam. Gadis itu kemudian menghempaskan dirinya sendiri ke atas ranjang besarnya dan terus mengurai air mata yang sejak tadi mengalir deras dari kedua matanya.

Dok! Dok! Dokk!

“Chaerin? Dengarkan aku, jebal…”

Dia mendengarnya ketukan dan ucapan memohon samar dari balik selimutnya. Namun dia berusaha untuk tidak menghiraukannya.

Tidak sedikitpun.

Dok! Dok! Dokk!!

“Chaerin? Keluarlah…”

Dia hanya mengatupkan kedua bibirnya dan menutup kedua telinganya erat, seolah ingin menghalangi suara apapun mengkontaminasi pikirannya. Derai air matanya tak bisa berhenti membuat aliran sungai di pipi dan dagunya.

Mengapa lelaki itu tak mau mengerti? Tidakkah lelaki itu tahu bahwa dia sudah terlalu banyak kehilangan dalam hidupnya?

Dan dia tidak ingin mengalaminya lagi.

Tidak dengan Choi Seung Hyun.

Tak berapa lama, suara-suara itu berhenti. Hanya sebuah keheningan yang akhirnya bertahan dan menyelimuti ruangan itu. Dan dia memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak dan menenangkan diri.

***

Seunghyun menyerah, pasrah. Dia mengerti bila Chaerin sudah terlalu banyak kehilangan. Dari kedua orang tuanya, hingga Kwon Jiyong, mantan kekasihnya yang hingga kini mungkin masih dicintainya. Seunghyun sangat mengerti semua itu.

Sangat.

Namun dia tak pernah mengira, bahwa perlawanannya akan sekuat itu. Sekeras kepala itu. Sekekanakan itu. Mungkin baginya dia hanya akan pergi ke Jepang, hanya untuk beberapa minggu, untuk tugas negara. Namun entah kepergiannya itu diartikan apa oleh Chaerin.

Pergi untuk selamanya?

Ya. Mungkin memang itu yang dia takutkan.

“Heehhh…” Seunghyun kembali mendesah pelan dan menghela nafas panjang, seperti yang selalu dia lakukan ketika pada akhirnya untuk berulang kali dia mencoba mengerti apa yang diinginkan gadisnya.

Apa dia harus pergi ke Jepang tanpa persetujuan gadis itu?

Seunghyun berbalik dan menjauhi pintu kamar Chaerin. Dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa depan kamar Chaerin. Dia memutuskan untuk tidak pulang malam ini, setidaknya tidak hingga gadis itu mengizinkannya. Berulang kali dia mengubah posisi tidurnya, namun segala pikiran tentang Chaerin selalu mengusiknya, mencoba mengusirnya dari sebuah kenyamanan.

Chaerin. Chaerin… trust me, please…

***

Kriieettt…

Chaerin membuka pelan pintu kamarnya, meninggalkan suara berdecit di setiap gerakannya. Sebagian kepalanya melongok ke luar kamar dan bola matanya mengedar ke ruangan besar di depannya mencari sesuatu. Lebih tepatnya, seseorang. Choi Seunghyun.

Ke mana lelaki itu? Apakah dia sudah pulang? Tanpa berpamitan padanya?

Kakinya melangkah keluar dengan perlahan dan tanpa suara, mencoba memastikan bahwa hanya dia yang tersisa di ruangan apartemennya. Dia terus melangkah hingga kecepatannya bertambah dan meninggalkan suara bak tarian seiring keyakinannya bila dia memang sudah sendiri.

Namun sontak dia berhenti.

Matanya membulat sebesar yang dia mampu. Jantungnya seketika mencelos hebat. Seluruh tubuhnya seolah berubah menjadi patung batu dan tak bisa bergerak sedikitpun dari posisinya. Dia bahkan tak tahu bagaimana dia seharusnya berekspresi.

Seunghyun masih di ruangan yang sama dengannya.

Tertidur lelap di sofa dan nampak lelah.

Chaerin perlahan mendekat dan menatap lelaki itu lengkap. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana gurat-gurat kelelahan nampak jelas di daerah dahi dan pelipisnya, serta kantung mata di bawah bola matanya. Apa mungkin semua ini karena dirinya?

Mungkin saja, karena persiapan ke Jepang begitu melelahkan. Gadis itu tahu sejumlah training kilat yang diikuti Seunghyun untuk persiapan ke Jepang. Namun dia menutup mata dari semua itu, berharap keegoisannya akan berbuah dengan tidak jadinya kepergian lelaki itu.

Apakah egois bila dia ingin Seunghyun tetap di sini? Tetap aman bersamanya?

Apakah egois bila dia tidak ingin Seunghyun pergi ke tempat yang sudah jelas tidak aman?

Apakah egois…

bila dia tidak ingin kehilangan seorang Seunghyun…?

Lama-lama Chaerin tidak tega pada Seunghyun, walaupun mungkin cuaca tidak terlalu dingin dekarang, pasti tetap saja tidur di sofa tanpa selimut akan terasa menggigit kulit. Chaerin berbalik mengambil sehelai selimut dari kamarnya dan memasangkannya perlahan pada Seunghyun hingga seluruh tubuhnya kini tertutupi oleh selimutnya.

“Mianhae, oppa… Selamat tidur…” bisiknya pelan, hampir seperti desisan ular hingga dia sendiri tak yakin apakah dia mendengar ucapannya sendiri.

Kemudian Chaerin berbalik dan bermaksud meninggalkan Seunghyun. Namun sebelum selangkah pun dia ambil, tiba-tiba ada sesuatu yang menyergap tangannya.

Tangan Seunghyun.

“Jangan pergi.”

Sekali lagi jantungnya mencelos. Ketika kepalanya berbalik ke belakang, Chaerin bisa melihat kedua bola matanya yang menatapnya lelah dan memohon. Dia mengigit bibir bawahnya keras, memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan. Namun yang terjadi kemudian adalah sebuah adegan tanpa gerakan. Seolah keduanya takut untuk mengambil langkah selanjutnya.

“Kemarilah, Chaerin…” ucapnya lagi sambil mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dan menggunakan selimutnya sebagai jubah yang menutup punggungnya.

Chaerin tak punya pilihan lain selain menurutinya. Kakinya melangkah perlahan dan akhirnya duduk tepat di sebelah Seunghyun. Namun kedua tangan Seunghyun menyentuh pundak Chaerin cepat, memutar keduanya hingga posisi Chaerin kini membelakanginya dan mencoba menariknya mendekat kepadanya. Kemudian, kedua tangan itu merengkuh tubuh mungilnya. Kini tubuh mereka seakan satu, di balik jubah selimut yang dibungkuskan Seunghyun pada Chaerin dan dirinya.

Semua terjadi begitu cepat, hingga Chaerin tak sempat menyadarinya. Ketika dia menyadari tak ada jarak antara punggungnya dan dada Seunghyun, debaran jantungnya seketika berdetum begitu cepat.

“Chaerin…”

Gadis itu tak menjawab apapun, seolah menunggu kata-kata yang sejak kemarin sudah sangat muak didengarnya.

“Boleh aku tahu, kenapa kamu melarangku ke Jepang?”

Gadis itu kini menyadari, lelaki itu tidak pernah tahu alasannya, dia tidak pernah mengutarakan apa yang sejak kemarin mengusiknya. Namun bukankah seharusnya lelaki itu tahu?

“Aku tidak mau kehilanganmu, oppa…” ucapnya kemudian dengan lirih. Dia terdiam sejenak, menunggu lelaki itu berkata, namun tak ada suara dari bibirnya, hingga dia memutuskan untuk melanjutkan, “Aku sudah terlalu banyak kehilangan. Appa ku, eomma ku, hingga Jiyong oppa…

“Dan aku tak sanggup bila aku harus kehilanganmu juga.”

“Tapi aku hanya ke Jepang, Chaerin… untuk menolong korban tsunami. Kamu tahu itu, kan?”

“Karena itu aku melarangmu oppa… Karena kamu di sana untuk menolong mereka! Bagaimana bila nanti ada tsunami lagi ketika kamu di sana?! Bagaimana kalau terjadi gempa susulan? Jepang itu sedang tidak aman, oppa!! Dan aku tidak mau ambil risiko dengan membiarkanmu di sana!” nada suara Chaerin kembali meninggi. Ada emosi yang sarat di sana. Ketakutan, dan kekhawatiran yang sangat.

Seunghyun tersenyum tipis. Mengapa gadis dalam pelukannya itu memikirkan semuanya terlalu jauh? Dia yang menjalaninya saja begitu tenang tanpa memikirkan sedetail itu. “Apakah kamu percaya padaku, Chaerin?”

Chaerin mengangguk pelan. Gadis itu percaya sepenuhnya pada lelaki itu. Namun hati kecilnya tetap saja menyisakan sedikit ragu. Mungkin karena masa lalu selalu sulit untuk dilupakan.

Seunghyun merengkuh Chaerin dalam pelukannya semakin dalam,“Aku tidak akan meninggalkanmu. I promise to you…”

Hatinya seketika terenyuh. Ucapan itu berhasil meluruhkan seluruh kekalutannya, menyisakan ketenangan tanpa batas.

Seunghyun oppa…

Salah satu tangan Seunghyun melepaskan pelukannya sejenak dan merogoh saku celananya. Dar saku itu, dia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dan membukanya di depan Chaerin.

Jantung Chaerin, untuk ke sekian kalinya, berdetum begitu cepat dan memburu. Dia tak bisa mempercayai penglihatannya.

Sebuah cincin.

“Will you marry me?” bisik Seunghyun tepat di telinga Chaerin.

Kepala Chaerin berbalik dan menengadah ke atas, menatap Seunghyun dengan mata berbinar. “Should you ask this? Don’t you already know my answer?”

Seunghyun tertawa kecil tanpa suara. “I wanna hear your answer, lady. Directly.”

Gadis itu tergelak. Lelaki itu selalu bisa merubah suasana hatinya. Bagaimana mungkin dia bisa menolaknya setelah semua yang dilakukannya, dirasakannya? Setelah lelaki itu memberikan seluruh cinta seumur hidupnya kepadanya. Setelah dia juga menyerahkan seluruh hidupnya kepada lelaki itu.

“Yes, I will.”

Seunghyun tersenyum lega dan memasangkan cincin itu ke jari manis Chaerin. Kemudian dia mempererat pelukannya dan berbisik untuk ke sekian kalinya, “Sometimes I still can’t believe that you are mine.”

Chaerin hanya tersenyum. Bahagia.

“Oppa, kamu tidak tidur?”

“Mana bisa aku tidur dalam keadaan sebahagia ini? Kita begini terus saja hingga besok pagi. Tidurlah dalam pelukanku…” dia terdiam sejenak, dan melanjutkan dengan bisikan mesra tepat di samping cuping telinga Chaerin, “Chagiya…”

***

 

 

~Epiloque~

Kedua bola mata Chaerin berputar mencari sosok lelaki diantara sekian banyak orang yang berdatangan di pintu kedatangan bandara. Hingga tatapannya terhenti pada sosok tinggi dan tegap dan menenteng sebuah koper. Tangannya terangkat dan melambai memanggilnya, “Oppa!”

Lelaki itu kemudian menyunggingkan satu senyum tipis ketika melihat Chaerin dan membalas lambaian tangannya. Dia mempercepat langkah kakinya yang panjang, seolah tak sabar ingin menatap gadis itu lebih dekat. Langkah-langkah kaki itu berubah menjadi berlari dan berhenti tepat di hadapan Chaerin. “Sudah lama?”

“Tidak juga…”

Mereka terdiam. Dalam hening, sebenarnya Chaerin berharap Seunghyun melakukan yang lebih. Seperti kejutan-kejutan kecil yang selalu dia lakukan. Misalnya kecupan di bawah hujan. Dia menatap lelaki itu lekat, dalam pandangan berharap.

“Kenapa wajahmu seperti itu?”

“Ani.” Chaerin mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Seunghyun tidak pernah berhubungan dengan gadis lain selain dia. Lelaki itu menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuknya. Dan Seunghyun sudah cukup mengerti pikiran-pikiran kecil seorang Chaerin. Atau terlalu mengenalnya?

Garis bibir Seunghyun membentuk sebuah lengkungan kecil. Tangannya bergerak menyentuh punggung Chaerin dan menariknya mendekat ke arahnya. Dia mendekatkan sepasang bibirnya tepat di samping cuping telinga gadis itu dan berbisik, “Bogoshippeo…”

Dalam sepersekian detik, kata-kata itu berhasil membuat kedua pipi Chaerin memerah, senang. Tangannya kemudian terangkat dan membalas pelukan Seunghyun. “Na ddo…”

________________________________________________________

Fin.

 

Yapp ! bagaimana? Semoga puas yaaaa… Sebenarnya ini cerita udah terngiang-ngiang sejak lama, tapi aku simpen dulu soalnya takut kehilangan feel buat nyelesein Great Confession. Jadii… kalo ini ceritanya agak aneh, mianhae…🙂

Hummm… ada yang inget sama cerita  Great Confession Part.5? dari cerita inilah Chaerin mendapatkan cincin putih yang melingkar di jarinya.😀

How sweet of you if you remember that. :”)

Udah ahh . KEEP COMMENT AND LIKE yaa… NO SILENT READERS HERE PLEASE.

GOMAWOYOOOOOOOOOOOO!!!!!!!!!! (_ _)