Annyeong !

Humm… ini sebenernya FF udah lumayan lama nongkrong d leppii ku. tapi baru aku publish sekarang. udah aku edit sana-sini. tambah sana-sini. jadi kalo udah ada yg pernah baca di http://www.fanfictionist.wordpress.com , mungkin bisa baca lagi.

udah ah. bingung juga mau curcol apa…

happy reading all~!

________________________________________________________

 

Title : On The Rainy Days (Songfic)

Cast : Yong Jun Hyung (Beast), Park Jiyeon (T-Ara)

Genre : Romantic, Sad

Author : Adiez-chan

Disclaimer :

ADIEZ-CHAN © ALL RIGHT RESERVED

ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE ! NO OTHER AUTHORS ! PLEASE DON’T COPY AND RE-POSTING WITHOUT CONFIRM ME!
NO PLAGIARISM!

KEEP COMMENT PLEASE ! NO SILENT READERS HERE!

 

 

When the world turns dark and the rain quietly falls, everything is still… Even today, without a doubt. I can’t get out of it. I can’t get out from the thoughts of you…

 

Rintik air hujan sore itu kembali membasahi kota Seoul, menyisakan bau tanah basah yang segar berhembus. Lelaki itu terdiam di salah satu sudut café, menatap jalanan dengan pandangan nanar.

Hujan lagi…

Yong Jun Hyung. Lelaki itu benci sekali dengan hujan. Karena cuaca itu selalu mengingatkannya dengan cerita lama yang selalu berusaha dia musnahkan. Setiap memori yang berusaha dia sembunyikan di salah satu tempat tak tersentuh ketika dia menyadari bahwa setiap kepingannya tak akan bisa punah.

Hujan selalu membuat serpihan cerita lama itu menyeruak keluar dan terputar kembali ke hadapannya. Seolah semuanya baru saja terjadi kemarin. Dan dia tidak bisa menghindari semuanya.

Semua. Semua kenangan tentang gadis itu… dan kejadian tiga tahun yang lalu…

***

 

Now I know that it’s the end. I know that it’s all just foolishness. Now I know that it’s not true… I am just disappointed in myself for not being able to get a hold of you because of that pride…

 

“Jun Hyung, aku ingin bicara.” Gadis itu menatapnya tajam.

Lelaki itu sebenarnya ingin menyesap espresso-nya, namun urung. Dia meletakkan kembali cangkirnya di meja dan membalas tatapan gadis itu dengan pandangan bingung. “Nde? Ingin bicara apa?”

“Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku menyerah, Jun Hyung. Menyerah. Aku ingin kita putus.” Dia mengucapkannya dengan datar.

Sontak dunia Jun Hyung seakan berhenti. Dia tak mempercayai indra pendengarannya sendiri. “Ma… maksudmu apa, Jiyeon? Putus? Kenapa?”

Jiyeon menghela nafas sebal dan memandang sekeliling ruangan café sebelum akhirnya kembali menatap kekasihnya. “Kenapa? Tidakkah kamu bisa memikirkan alasannya?”

Jun Hyung terdiam. Tak mengerti.

“Aku lelah. Kamu, dengan status artismu, dengan boy bandmu, terlalu sibuk dengan ketenaranmu. Terlalu sibuk dengan fans-fans wanitamu. Aku lelah dengan kesabaranku sendiri. Aku lelah melihatmu bersikap baik dan berlebihan pada setiap fans-mu. Aku lelah dengan kecemburuanku sendiri.”

“Tapi… bukankah kamu sudah mengetahui konsekuensi itu sejak kamu bersamaku?” Tanya Jun Hyung degan tergagap. Rasanya semuanya seperti mimpi yang terlalu nyata. Atau kenyataan yang seperti mimpi buruk.

“Kamu tahu, apa yang membuatku paling tidak tahan dengan semua ini? Kamu tidak mau berusaha sebisa mungkin menyediakan waktu untuk mendengarkan ceritaku.” Jiyeon terdiam sejenak seperti mencari kata-kata yang lebih tepat untuk mengartikan maksudnya, dan melanjutkan, “If you’re too busy to call me, I’ll understand. If you’re late on our date, I’ll understand. Even, if you don’t have time to check on me and ask about my days… I’ll understand…”

Jun Hyung hanya bisa diam dan mencoba mencerna semuanya. Semua alasan itu benar. Tanpa dia sadari, dia telah melakukannya selama dua tahun mereka berhubungan. Dan semuanya terasa begitu menyesakkan ketika akhirnya dia menyadari kesalahannya. Lelaki itu tak pernah menyisakan sedikit waktunya untuk Jiyeon.

Padahal gadis itu hanya meminta sedikit. Hanya sedikit.

“But if I stop loving you, It’s your turn to understand. Mianhaeyo.” Ucap Jiyeon sekali lagi, kemudian beranjak meninggalkan Jun Hyung yang mematung.

Hingga beberapa lama kemudian, rasanya seluruh tubuh Jun Hyung mati rasa.

***

 

On the rainy days you come and find me. Torturing me through the night. When the rain starts to stop, you follow. Slowly, little by little, you will stop as well…

 

Jun Hyung membiarkan tubuhnya terbasahi oleh tetesan hujan yang semakin deras. Rasanya setiap tetesannya yang tajam berusaha menusuknya tanpa ampun. Seakan semuanya turut menghukumnya atas kesalahannya selama ini, dan kebodohannya karena tidak berusaha menahan gadis itu untuk pergi.

Langkah kakinya perlahan memelan, hingga akhirnya terhenti. Rasanya seluruh ototnya melemas, dan tulangnya tak mampu lagi menahan bebannya sendiri.

Dunianya hancur. Semuanya meluruh tanpa sisa. Dia bahkan tak sanggup untuk bangun dan berdiri.

Tiba-tiba matanya yang basah menangkap sesuatu. Lebih tepatnya, sebuah bayangan seseorang. Bayangan seseorang yag sangat dia cintai, yang bahkan baru beberapa jam yang lalu memutuskan untuk menyerah berhubungan dengannya.

Park Jiyeon.

Dia mendekat sambil memegang sebuah paying dan menyunggingkan senyumnya yang menawan, “Gwenchana, oppa?”

“Jiyeon? Kamu kembali?” Jun Hyung berucap lirih.

Hujan perlahan berhenti. Tetesannya tak lagi terasa menyakitkan bagi Jun Hyung. Dia mencoba untuk berdiri dan menyambut senyuman Jiyeon.

Namun ketika dia mencoba menyentuhnya, sosok Park Jiyeon perlahan memudar dan menghilang bersama aliran air hujan.

Dan tetesannya kembali terasa perih…

***

 

I must be drunk, I think I need to stop drinking. Since the rain is falling, I think I might fall as well. Well this doesn’t mean that I miss you, no it doesn’t mean that. It just means that the time we had together was a bit sharp.
When it’s the type of day that you really liked, I keep opening the raw memories of you. Making the excuse that it’s all memories, I take a step forward…
I don’t even make the effort to escape

 

Semuanya hanya halusinasi. Tidak ada Jiyeon. Yang ada hanya tetesan hujan yang mencoba merajam tubuhnya. Mungkinkah soju yang diminumnya terlalu banyak? Ataukah mungkin… sistem otaknya sendiri yang membentuk sebuah kelebat indah untuk mengurangi semua sakitnya?

Semua yg ditinggalkan gadis itu masih membekas. Suaranya, senyumnya, kebaikannya, rengekan manjanya, semuanya. Semuanya membekas sangat tajam dihatinya.

……

 

“Sedang apa?”

Jun Hyung yang sejak tadi menatap hujan dari balik atap kaca halte sontak menoleh, mencari arah suara. Dahinya mengernyit, dia tidak kenal gadis itu. Rambut panjang bergelombang, wajah yang innocent, sweater biru langit yang kebesaran berpadu dengan skinny jeans dan flat shoes biru yang senada dengan sweaternya. “Kamu tidak lihat? Aku menunggu hujan.”

Gadis itu tersenyum tipis. “Mau satu payung bersamaku? Kamu terlihat tergesa-gesa.”

Jun Hyung menatap arloji di tangan kanannya sekali lagi, dan menyadari, tak ada pilihan lain. “Baiklah.”

Dan kemudian, mereka meninggalkan halte dalam satu naungan payung. Sunyi menemani perjalanan kecil itu, seolah tak ada yang berani memecahnya. Atau mungkin kecanggungan yang menyelingkupi terlalu besar ?

Hingga akhirnya langkah-langkah kaki itu berhenti di satu gedung, Cube Entertainment. “Khamsahamnida, agasshi…”

Gadis itu menatap gedung menjulang itu sejenak, kemudian kembali memandang heran Jun Hyung. “Kamu artis?”

“Trainee.”

“Oh…” Gadis itu menganggukkan kepalanya kecil, kemudian menatap arlojinya dan menyadari sesuatu. “Ahh, aku terlambat. Semoga berhasil ya… Annyeong!” ucapnya seraya berbalik dan mengambil langkah menjauh.

“Tunggu!”

Gadis itu kemudian berhenti melangkah, dan berbalik, “Nde?”

“Boleh aku tahu namamu?”

Senyumnya mengembang tipis. “Jiyeon. Park Jiyeon.”

……

 

Satu minggu kemudian, Jun Hyung kembali ke halte itu pada hari yang sama, berharap gadis bernama Park Jiyeon itu menampakkan dirinya. Bagaimana mungkin pertemuan sejenak itu bisa membuatnya jantungnya berdebar. Dan harinya terasa semakin gila karena bayangan gadis itu tak henti melintasi benaknya.

Dan gadis itu datang.

“Jiyeon-ssi!”

Gadis itu berhenti dan mengamati Jun Hyung bingung. Sesaat kemudian, dia menyadari sesuatu. “Aaahh! Trainee! Waeyo?”

“Jun Hyung imnida. Nan… johaeyo.”

Jiyeon sesaat bingung, “Nee?”

“Johaeyo.” Jun Hyung mengucapkannya sekali lagi, dengan muka yang semakin memerah, malu.

“Lalu?”

“maukah kamu jadi yeoja-chinguku?”

Tawa gadis itu muncul sejenak. “Jun Hyung-ssi, bagaimana kalau kita mulai dengan berteman?”

……

“Jiyeon, mau aku beritahu sesuatu?”

“Apa?” Jiyeon menoleh dan memandang Jun Hyung bingung.

“Kemarilah, dekatkan telingamu.”

“Nee.” Jiyeon mencondongkan tubuhnya ke arah Jun Hyung dan mendekatkan telinganya.

Jun Hyung tersenyum tipis dan berbisik, “Saranghaeyo.”

Semburat merah dengan cepat menjalari wajah Jiyeon. Kemudian dia beralih membisikkan sesuatu di telinga Jun Hyung, “Na ddo.”

Dan jantung Jun Hyung rasanya berhenti berdetak. Sedekat itukah dia dengan kematian?

……

 

Dia sendiri tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama. Namun gadis itu… adalah perngecualian.

 

……

“Oppa! Kenapa kamu ini selalu belepotan bila makan es krim? Seperti anak kecil saja!”

“Eh?” Jun Hyung mengernyitkan dahinya bingung.

Tangan Jiyeon terangkat menyapu bibir Jun Hyung yang berhias krim dan memakannya. Kemudian dia tertawa memperlihatkan deretan giginya.

……

 

“Ayo naik!”

“Eh?” Jiyeon menatap Jun Hyung bingung.

Jun Hyung tersenyum dan menarik tangan gadis itu ke arahnya. “Ayo naik!” dia menepuk kursi kecil di sepeda kayuhnya, tepat di belakang sadelnya.

Jiyeon tersenyum kecil dan duduk di belakangnya. Lalu kedua tangannya melingkar memeluk pinggang Jun Hyung dan menyandarkan kepalanya di punggung lelaki itu.

Dan sepeda itu mulai berjalan.

……

 

Bagaimana rasanya hidup tanpa suara tawa seorang Park Jiyeon?

Dia tak tahu. Dia tak ingin tahu.

 

……

“Oppa! Cepat keluarlah! Jangan di dalam rumah saja…” Jiyeon menarik tangannya dengan tawa yang mengembang.

“Aku malas, Jiyeon… di luar hujan…”

“Karena hujan itu… aku jadi bersemangat! Rasanya menyenangkan ketika rintik hujan perlahan membasahi setiap bagian tubuhmu, oppa… cobalah…”

“Malas ah…”

“Ayolah, oppaaaa…” dia menggembungkan kedua pipinya dan menatap Jun Hyung penuh harap.

……

 

“Huwaaa…! Oppa?! Kenapa badanmu panas sekali?!” wajah Jiyeon berubah panik ketika tangannya menyentuh dahi Jun Hyung. “Sekarang, cepat tidur di ranjang, dan aku akan menyiapkan es untuk mengompresmu.”

Jun Hyung tersenyum tipis. “Tidak usah serepot itu, Jiyeon. Aku baik-baik saja.”

“Ini tidak merepotkan, oppa. Tidak akan pernah merepotkan bila untuk seseorang yang aku cintai.” Kedua sudut bibirnya terangkat dan membentuk satu senyuman indah.

……

 

“Uwaaa… senjanya indaaahh…” Mata Jiyeon berbinar melihat semburat jingga yang menggantung di langit.

“Ssstt… diamlah dan nikmati…” bisik Jun Hyung tepat di samping telinga Jiyeon.

Jiyeon mengulum senyumnya dan terdiam memperhatikan langit yang makin memerah.

Jun Hyung melirik gadis di sampingnya dan tersenyum tipis. Kemudian perlahan wajahnya mendekat dan dengan lembut mengecup pipi Jiyeon.

Tersentak, seketika pandangan Jiyeon beralih menatap Jun Hyung. Lelaki yang ditatapnya itu hanya mengangkat kedua sudut bibirnya dan merengkuh tubuh Jiyeon untuk mendekat ke arahnya. Kemudian, sebuah ciuman lembut kembali diberikan Jun Hyung di sepasang bibir gadisnya.

……

 

Hujan masih mencoba menghukumnya. Dia hanya terdiam di bawah luncurannya. Dan menangis tanpa suara.

Sesak. Mengapa Jiyeon tidak membunuhnya saja? Pasti sakitnya tidak akan sesakit ini…

Dan dia kesepian. Dia tetap kesepian di keramaian, menghilangkan Jiyeon dari ingatan bak menceraikan angin dari awan.

***

 

Now I erased all of you. I emptied out all of you… But when the rain falls again, all the memories of you I hid with effort… It all comes back, it must be looking for you…

 

Sudah tiga tahun berlalu. Dan rasanya tetap sama bagi seorang Jun Hyung.

Lelaki itu telah memutuskan untuk merelakan kepergian Jiyeon dari hidupnya, melupakan semua kenangannya. Dia mencoba menyibukkan dirinya sendiri dalam dunia keartisannya, dalam kesibukannya. Tak cukup dengan semua itu, dia menghabiskan semua waktunya hingga dia tak memberi celah bagi setitik pun kenangan untuk kembali hadir dan berputar di benaknya.

Dia berusaha keras untuk semua itu.

Namun ketika hujan datang, semua cerita itu seolah menyerbunya. Seakan menyuruhnya untuk menyesali segalanya dan mencari gadis itu kembali.

Jun Hyung akan tanpa sadar membuat bayangan seolah Jiyeon ada di depannya sekarang, memandangnya dengan tatapan mesra dan senyumannya yang ceria. Dia akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk sekedar mengingat betapa manjanya suara gadis itu ketika memanggilnya.

Dan ketika dia membayangkan segalanya dengan begitu sempurna, bayangan itu pulalah yang mengirisnya perih…

“Hyung, ayo kembali ke asrama…” Gikwang tiba-tiba memasuki café dan mengagetkannya.

“Nee,” Jun Hyung menyeruput espresso-nya sekali lagi dan melirik hujan yang mulai mereda.

“Hyung, kamu selalu saja kesini setiap hujan turun. Masih berusaha mengingatnya? Tak bisakah kamu merelakannya?”

“Molla. She is the part of pain that I love and the pain is the part of her I can never let go.” Ucapnya menerawang. Sesaat kemudian, dia meletakkan beberapa lembar uang won di atas meja dan berdiri meninggalkan café itu bersama Gikwang.

***

 

Now there is no path for me to return. But looking at your happy face, I will still try to laugh since I was the one without the strength to stop you…

 

“Oppa… tunggu…”

Jun Hyung sontak berhenti. Dia mengenali suara itu. Sangat kenal. Bola matanya mengedar ke sekeliling jalan raya. Itu suara yang selalu muncul dalam bunga mimpi malamnya. Suara yak tak pernah bisa dia lupakan. Dari mana suara itu berasal?

“Oppa…”

Suara itu terdengar lagi. Lelaki itu semakin kalap memburu suara itu. Kedua manik matanya berputar liar mencari sosok itu, hingga pada akhirnya terhenti pada satu titik.

Pendengarannya benar. Itu Park Jiyeon.

“Jiyeon… kemarilah…” seorang lelaki tersenyum lebar dan membuka kedua tangannya lebar, seolah mempersilakan Jiyeon untuk masuk dalam pelukannya.

Jiyeon tergelak senang melihat tingkah lelaki itu dan pipinya memerah malu. “Apaan sih, oppaaa…?” Kemudian kedua tangannya bergelayut di lengan lelaki itu.

Rahangnya seketika mengeras. Hati Jun Hyung rasanya hancur. Senyuman lebar itu tak pernah Jiyeon berikan padanya. Apakah selama ini dia memang tidak pernah bahagia bersamanya?

Lelaki itu mencoba mengambil langkah mendekati gadis itu, namun segera terhenti. Rasanya menyesakkan ketika dia menyadari, gadis itu kini bukan miliknya. Dia telah membiarkannya pergi. Dia tak pernah mencobanya untuk menariknya kembali dalam pelukannya.

Kini, seharusnya Jun Hyung ikut bahagia ketika gadis itu juga bahagia.

Perlahan dia memaksakan sebuah senyuman di bibirnya. Walau pada akhirnya yang terlihat hanya senyuman getir dan penuh kepedihan.

Berbahagialah, Jiyeon…

 

***

 

What can I do about something that already ended? I’m just regretting after like the stupid fool I am. Rain always falls so it will repeat again. When it stops, that’s when I will stop as well…

 

Ya. Tak ada yang bisa dia lakukan saat cinta meninggalkannya, tak ada kecuali mungkin menyesali beberapa hal. Dan menyesal saat cinta itu pergi adalah perbuatan yg tak berguna. Sama tak bergunanya dengan mencoba menariknya kembali.

“Hyung? Kenapa berhenti?”

Jun Hyung tersadar dan tersenyum pada Gikwang. “Ani. Tidak ada apa-apa. Ayo pergi…”

Hujan telah berhenti. Maka waktunya mengenang Jiyeon telah habis, dan dia harus kembali pada kenyataan dan dunianya…

-fin-

______________________________________________________

 

bagaimana bagaimanaaa? semoga puaaass !

ini pertama kalinya aku bikin ttg BEAST dan pertama kalinya juga bikin Songfic. jadi mungkin feelnya jadi ga kerasa. mianhaee..😦

KEEP COMMENT PLEASE ! NO SILENT READERS HERE!

 

gomawoyoooooooo !!!!!!!!!! (_ _)