Author : selvialala
Title : Memories Of You
length : oneshoot
genre : romance, sad, friendship
cast : Lee Kiseop, Lee Jinki, Jessica Jung, Shin Hyun Mi

***

Hyun Mi POV

Angin musim gugur berhembus pelan menerpa lembut wajahku. Kupejamkan mataku menikmati setiap belaian angin musim gugur ini yang menjadi saksi bahwa kita pernah bersama.

Lamunanku bergerak kemasa lalu, masa dimana kita masih bersama. Ya, saat itu adalah masa-masa yang sangat indah yang pernah kurasakan bersamamu. Sebelum kau pergi meninggalkanku disini.

Hari ini, tepat 1 satu tahun kau meninggalkanku tanpa kabar yang jelas. Meninggalkanku yang sudah terbiasa bersamamu. Meninggalkan luka yang mendalam dihatiku.

”Hyun Mi?”

Suara seseorang dari arah belakang mengagetkanku dan membuyarkan lamunanku. Kulihat Onew tengah berdiri dibelakangku sambil tersenyum.

Aku membalas senyumnya dan mempersilahkannya duduk dihadapanku.

”Lama sekali kau datang.” ujarku

”Mianhe jagiya, tadi manager hyung mengadakan rapat dadakan.” Onew memperlihatkan smirk-nya yang mampu membuat semua yeoja disini tergila-gila padanya.

Ya, saat ini aku berpacaran dengan Lee Jinki atau yang lebih sering dipanggil Onew. Dia adalah salah satu member dari boyband Shinee yang sangat terkenal di seluruh Asia.

Onew datang disaat yang tepat saat aku sedang membutuhkan seseorang tempat untukku bersandar. Namja yang sebelumnya hanya menjadi khayalanku saja, saat ini semuanya menjadi kenyataan.

Saat aku terpuruk dengan kepergianmu, Onew datang membawa secercah harapan untukku. Dengan senyumannya, dia mampu membuatku tersenyum lagi tanpamu. Walaupun awalnya aku hanya menganggapnya sebagai seorang kakak, namun Onew mampu membuat hatiku bergetar saat sedang bersamanya. Dan Onew mampu membuatku sedikit melupakan bayangmu.

”Gwenchana. Aku tau pekerjaanmu.”

Onew tersenyum dan menggenggam kedua tanganku. ”Gomawo, lalu kenapa kau melamun disini?”

Hatiku berdesir saat merasakan sentuhan tangannya. Sentuhannya mampu menghangatkan hatiku yang masih sakit karenamu.

”Aniyo, hanya sedang memikirkan sesuatu. Kau sudah makan?” tanyaku sambil berusaha mencari matanya yang tertutup oleh kacamata yang digunakannya setiap kali pergi bersamaku.

”Belum, kau sendiri?” tanyanya kembali.

Aku menggelengkan kepalaku pelan. Kulihat dia tersenyum dan langsung bangkit berdiri dari duduknya.

”Bagaimana kalau kita makan siang bersama hari ini? Bogoshipoyo Shin Hyun Mi, saranghae.” ucapnya sembari menarik tanganku untuk berdiri didepannya.

Aku tersenyum mendengarnya. Tanpa aba-aba, Onew menarik tanganku dan memeluk pinggangku. Aku pun menyandarkan kepalaku ke dadanya yang bidang dan dapat kudengarkan detak jantungnya yang lembut.

”Nado oppa.” jawabku didalam pelukannya.

***

Flashback

Hari ini aku akan bertemu dengan teman SMA ku yang sudah 3 tahun ini kita tidak bertemu. Aku akan menjemputnya hari ini di bandara. Namanya Jessica, aku dan dia adalah teman satu kelas saat SMA dulu. Dan saat lulus SMA, dia melanjutkan kuliahnya di London. Sedangkan aku tetap di Korea.

”Shin Hyun Mi?” kudengar seseorang memanggil namaku.

Kutolehkan kepalaku kearah asal suara tadi. Kulihat Jessica telah berdiri tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini dengan membawa koper yang diletakkan disampingnya.

”Jessica? Ah, aku sangat merindukanmu!” seruku dan langsung berjalan menghampirinya.

Jessica tersenyum menyambut kedatanganku. ”Aku juga merindukanmu.”

Kami berpelukan cukup lama sampai handphonenya bergetar dan membuat kami tertawa. Ternyata sedari tadi kami menjadi pusat tontonan orang-orang disana karena kami berpelukan lama sekali.

”Halo?”

Aku menunggunya yang sedang menerima telepon dengan mengedarkan pandanganku ke sekeliling bandara. Kulihat beberapa orang lalu lalang dengan wajah asing dan wajah-wajah orang asia lebih mendominasi.

”Ayo!” tiba-tiba tanganku ditarik oleh Jessica dan berjalan keluar bandara.

”Hei, pelan sedikit. Kau ini kenapa? Jangan terlalu terburu-buru.” gerutuku dari belakang, pasrah ditarik oleh Jessica.

Lalu tiba-tiba Jessica menghentikan langkahnya. Aku yang tidak melihat itu terus berjalan dan berhasil menghamtam tubuh Jessica.

”Aaww, sakit tau.” rintih Jessica sambil mengusap keningnya yang bertabrakan denganku barusan.

Aku pun melakukan hal yang sama dengan Jessica. Tubuh Jessica memang tidak terlalu besar, namun cukup sakit jika menabraknya.

”Mianhe, aku tidak melihatmu berhenti tadi. Lagipula kenapa kau berhenti ditengah jalan seperti itu? Bikin kaget saja kau.”

Jessica tertawa melihat ekspresiku saat ini. ”Kita harus cepat-cepat. Nanti temanku dari London akan menyusul kesini, dia ada study dari kampusnya. Nah, kita harus menjemputnya nanti. Aku malas kalau menunggu dibandara sampai dia datang nanti.” jelas Jessica dengan nada bicara yang tenang.

Aku berpikir sebentar tentang penjelasan Jessica tadi. Benar juga apa yang dikatakannya, aku juga pasti tidak akan mau jika diminta untuk menunggu dibandara sampai orang itu datang.

”Baiklah, ayo kita ke apartemenku. Kau taruh saja barangmu disana terlebih dahulu. Baru nanti kau pindahkan ke apartemenmu.” tawarku pada Jessica.

Jessica terlihat menimbang-nimbang tawaranku padanya. Sampai akhirnya dia tersenyum dan mengangguk tanda setuju.

”Baiklah, ayo kita keapartemen mu. Disana ada makanan kan? Aku lapar sekali, sejak tadi belum makan.” keluh Jessica.

”Huh, bilang saja kau memang sengaja tidak makan dari sana. Supaya kau bisa makan gratis ditempatku. Iya kan?” tebakku.

Jessica hanya tersenyum tidak jelas disampingku. Kini, kami berjalan berdampingan menuju tempat mobilku diparkirkan. Disepanjang perjalanan kami terus berbincang-bincang tentang kuliahnya di London dan tentang kuliahku disini.

Kami terus berbincang hingga lupa akan waktu. Saat itu, ponsel Jessica kembali berdering tanda ada panggilan masuk. Aku tertegun mendengar nada panggilan masuk itu. Dan Jessica pun sepertinya merasakan hal yang sama denganku.

”KITA TERLAMBAT!!”

***

Aku dan Jessica berlari mengelilingi bandara tempat kami akan menjemput teman Jessica yang ternyata sudah menunggu kami selama 1 jam dibandara.

”hosh,, hosh,, dimana dia? Kenapa kita tidak menemukannya?” ujarku terengah-engah sehabis berlarian menyusuri gate demi gate tempat kedatangan luar negri.

”Aku juga tidak tau. Bagaimana kalau dia tersesat? Haish!!”

Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling tempat itu dan sepertinya tidak ada tanda-tanda yang mengenali Jessica disekitarku.

”Tadi dia bilang, dia akan keluar dari gate berapa?”

Jessica terdiam mendengar pertanyaanku barusan. Matanya membulat sempurna seakan menyadari sesuatu.

”Jess?”

”Haish!! Paboya kau Jessica!!” Jessica memukul-mukul pelan kepalanya sendiri dengan tangannya.

Aku bingung melihat kelakuannya yang tiba-tiba seperti ini. ”Waeyo?”

”Aku lupa menanyakan dia ada di gate berapa!!” seru Jessica histeris.

Apa? Jadi sedari tadi aku berkeliling, itu merupakan hal yang sia-sia?

”Mwo??!!”

Jessica terburu-buru merogoh saku celananya dan saku jaket yang dia kenakan saat ini. Aku hanya terdiam shock mendengar penjelasannya tadi.

”Handphone? Dimana handphoneku?” tanyanya panik.

Aku tersadar dari kekagetanku dan ikut mencarinya didalam tas yang aku bawa.

”Dimana kau terakhir meletakkannya?” tanyaku yang juga ikut panik bersamanya.

Jessica terdiam beberapa saat lalu menepuk pelan keningnya sendiri.

”Aku tinggalkan dimeja makan rumahmu.” jawabnya dengan nada pasrah.

”Haish, lalu bagaimana sekarang? Kita tidak tau temanmu itu ada dimana.”

Jessica terduduk lemas disalah satu kursi yang ada dibelakang kami. Aku pun mengikutinya dan duduk disebelahnya.

”Aku juga tidak tau. Mianhe Hyun Mi, aku juga bingung kenapa aku menjadi seperti ini.” ujarnya lesu.

”Kita menunggu saja disini atau pulang ke apartemenku?” tanyaku menatap lesu kearah depan.

”Entahlah, kita disini dulu saja. Aku masih ingin disini.”

Akhirnya kami duduk berdiam diri sambil memandangi keadaan sekeliling bandara. Hyun Mi menundukkan kepalanya, terlihat sekali bahwa ia sangat tidak bersemangat kali ini. Sedangkan aku hanya bisa melihat sekelilingku dan memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.

”Jessica?”

Suara berat seseorang mengagetkanku dan Jessica dari lamunan kami. Aku menolehkan kepalaku dan melihat seorang namja tengah berdiri dihadapan Jessica dengan tas dan koper yang dibawanya.

Jessica tersentak kaget mendengar suara yang memanggil namanya barusan dan segera mendongakkan kepalanya.

”Kiseop? Ah!! Kau kemana saja? Kau tau sedari tadi kami mencarimu?!” bentak Jessica saat melihat namja tadi.

”Mianhe, tadi aku sedang berkeliling untuk mencarimu yang tidak kunjung datang. Aku kira kamu lupa untuk menjemputku.” jelas namja itu dengan wajahnya yang manis.

Aku hanya terdiam melihat dan mendengar pertengkaran mereka. Jessica terlihat setengah emosi ketika berbicara dengan namja itu. Sedangkan namja itu menjawab semua perkataan Jessica dengan tenang.

”Ya ya ya, maafkan aku. Lalu siapa temanmuu ini?” ujar namja tadi memandangku.

Jessica membalikan tubuhnya dan kini ia menghadap kearahku.

”Ah aku lupa, mianhe Hyun Mi.”

Aku bangun dari dudukku dan tersenyum kearah Jessica. ”Gwenchana.”

”Baiklah, perkenalkan ini sahabatku di Korea. Namanya Shin Hyun Mi.”

Aku membungkukan badanku sedikit kearah namja itu sebagai tanda hormat kepada orang yang baru dikenal.

”Namaku Lee Kiseop. Senang bertemu denganmu.” ujarnya lalu juga membungkukkan badannya kearahku.

***

Flashback end

Kenangan tentangnya terus berkelebat cepat didalam benakku. Saat itu adalah saat pertemuanku dengannya. Saat pertama kali aku melihat senyumnya dan berbicara dengannya adalah saat-saat yang tidak akan mungkin dapat kulupakan.

”Kita mau makan dimana?”

Suara Onew mengagetkanku yang kembali melamun sambil memandang jendela luar. Aku menolehkan kepalaku dan kini menghadapnya.

”Terserah kamu saja.” jawabku sambil tersenyum simpul.

Onew membalas senyumku dan menggengam tanganku. ”Jangan terlalu banyak melamun chagiya.”

Aku menatap tanganku yang digenggam olehnya lalu menatap wajahnya yang kini sedang fokus untuk menyetir.

”Ne, aku hanya teringat sesuatu.”

***

Flashback

”Kajja!!” ajak Kiseop kepadaku.

Sudah 2 bulan ini kami selalu bersama. Kiseop namja yang baik dan menyenangkan. Dia mampu membuatku selalu tersenyum jika aku tengah bersamanya. Kiseop selalu saja membuatku merasa nyaman saat bersamanya, entah dengan cara apapun.

Tanpa kusadari hatiku mulai bergetar saat aku sedang bersamanya. Setiap harinya aku selalu menunggu Kiseop datang menjemputku untuk sekedar berjalan-jalan atau menemaninya melakukan tugasnya disini. Aku selalu menunggunya untuk menyunggingkan senyumnya padaku.

Entah Kiseop merasakan hal yang sama sepertiku atau tidak. Tapi itulah yang kurasakan saat ini. Apakah ini yang dinamakan cinta? Entahlah, tapi aku bahagia saat ini bersamanya.

”Ne, tunggu sebentar.” ujarku.

Aku tersenyum senang saat dia sedang menungguku diluar, sedangkan aku bersiap-siap didalam kamar. Aku merasakan ada sesuatu yang melengkapi hidupku saat ini.

Seperti dugaanku sebelumnya, Kiseop mengajakku berjalan keliling Seoul bersama. Tidak pernah kurasakan berkeliling Seoul sangat menyenangkan seperti saat ini. Dengan Kiseop disebelahku, dan juga dengan dinaungi oleh langit musim panas yang sedikit lebih teduh dari biasanya.

”Aduh, kau ini. Jalannya bisa lebih cepat tidak? Lamban sekali.” protes Kiseop kepadaku yang berjalan dibelakangnya.

”Kau saja yang jalannya terlalu cepat.” cibirku dan berusaha menyamakan langkah kakiku dengannya.

”Memang dasarnya kau saja yang lamban.” gerutu Kiseop ketika aku sampai disebelahnya.

Aku tidak menghiraukan perkataannya dan memperhatikan suasana disekelilingku dengan antusias. Lalu kurasakan seseorang menggengam lembut tanganku. Kutolehkan kepalaku kearah tanganku. Kulihat tangan Kiseop menggengam tanganku erat.

Aku mendongakan kepalaku dan melihat kearahnya. Kiseop yang merasa aku perhatikan, mengubah arah pandangannya dan menatapku.

”Waeyo?” tanyanya santai.

Kurasakan lidahku seperti tertahan oleh sesuatu. Mulutku terbuka namun tidak mengeluarkan suara apapun.

”Begini lebih baik. Agar kita tidak terpisah.” ujarnya sambil mempererat genggaman tangannya.

Dapat kurasakan kini wajahku memerah akibatnya. Kutundukkan kembali wajahku dan kembali meneruskan langkah kakiku.

”Aku lapar, kita makan dulu ya.” ajaknya kepadaku.

Aku menatapnya dan mengangguk tanda setuju. Kami berjalan berdampingan menuju restaurant tempat kami biasa makan. Masih dengan tangannya yang menggengam erat tanganku.

***

Hari ini Jessica menyempatkan diri untuk datang ke apartemenku. Sudah 3 bulan dia tinggal di Korea untuk melanjutkan studinya, namun sampai saat ini aku masih melihatnya sendiri. Entah sampai kapan dia betah menyendiri seperti sekarang ini.

”Kapan kau akan mempunyai kekasih?” tanyaku tiba-tiba.

Jessica nampak terkejut dengan pertanyaanku dan melihatku dengan sorot mata curiga.

”Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?” Jessica balik menanyaiku.

Aku mengangkat bahu tanda tidak tahu, ”Entahlah, hanya sedang berpikir saja.”

Jessica semakin bingung melihat sikapku saat ini. Entah apa yang kini sedang kupikirkan sampai aku menanyakan hal itu kepada Jessica.

”Katakan padaku siapa yang saat ini ada dihatimu?” tanya Jessica langsung kepadaku.

Aku terlonjak kaget dengan pertanyaannya dan refleks langsung menatap Jessica. Jessica juga terlihat tengah menatap kearahku.

”Maksudmu?” tanyaku pura-pura bodoh.

”Jangan berbohong Shin Hyun Mi, aku sudah sangat mengenalmu.”

Aku mengalihkan pandanganku darinya dan mencoba untuk mengatur detak jantungku yang tiba-tiba berdetak begitu kencang.

”Aku tidak mengerti maksudmu Jessica. Sudahlah, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Kita sudah lama tidak makan siang berdua.” ujarku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.

Namun sepertinya Jessica tidak terkecoh dengan usahaku barusan. Dia masih saja tetap memandangiku dengan sorot mata curiga.

”Kau menyukai Kiseop kan?” tuduhnya langsung.

Aku melotot mendengar perkataannya barusan. Bagaimana mungkin Jessica bisa tau semuanya?

”Hah? Kau ini ada-ada saja. Jangan bergurau.” aku berusaha tertawa untuk menutupi kegugupanku. Namun, sepertinya usahaku gagal karena tawaku terdengar seperti tawa sumbang.

”Akui saja, aku tau selama ini kalian selalu bersama. Jangan kira aku ini tidak tau menahu tentang hubungan kalian.”

Dengan gugup, aku berjalan meninggalkan Jessica menuju kearah dapur. Aku mencoba untuk menenangkan degup jantungku yang berdegup sangat cepat seperti habis berlari.

Tok tok tok

”Biar aku saja yang membukanya.” ujar Jessica dari ruang tengah.

Aku kembali meneruskan pekerjaanku mencuci gelas minumku dan Jessica. Didalam hati aku berpikir, mengapa Jessica bisa begitu tepat menerka perasaanku kepada Kiseop? Apakah begitu nampak terlihat?

”Hai Hyun Mi, mau kubantu mencucinya?”

Suara seseorang yang sangat aku kenali mengejutkanku dari arah belakang. Karena terkejut, hampir saja aku menjatuhkan gelas yang sedang pegang.

”Hah! Kiseop! Kau mengaggetkanku saja.”

Kiseop hanya tertawa melihat reaksiku dan kini ia berjalan menghampiriku.

”Kau saja yang terlalu banyak melamun. Makanya, jangan melamun terus, wajahmu aneh kalau sedang melamun.” ujarnya sembari mencubit pelan hidungku.

Aku sungguh terkejut dengan perlakuan Kiseop kepadaku. Entah semerah apa wajahku saat ini. Sungguh aku sangat malu dengan wajahku saat ini.

”Hei, kenapa wajahmu memerah? Kau sakit?” tanyanya. Kini ia memegang keningku mencoba mengukur suhu tubuhku.

”Ehem!!”

Aku menoleh cepat kearah asal suara itu. Kulihat Jessica telah berdiri didepan pintu dapur dengan tangan terlipat didepan dadanya.

Refleks aku menepis tangan Kiseop yang masih ada di keningku dan menatap Jessica dengan malu.

”Sedang apa kalian berdua disini? Romantis sekali.” sindir Jessica sambil berjalan menghampiri kami.

”Eh, aniyo. Itu…”

Belum sempat aku menjawab pertanyaan Jessica, Kiseop berbicara mendahuluiku.

”Tadi aku menyangka bahwa Hyun Mi sedang sakit. Oh iya, apakah kalian ada waktu hari ini? Aku ingin mengajak kalian ke menara N Seoul. Katanya disana pemandangannya indah sekali.” ajak Kiseop bersemangat.

Aku melirik kearah Jessica yang ternyata juga sedang melihat kearahku. Aku memikirkan tawaran Kiseop tadi. Ke menara N Seoul?

”Em, mianhe Kiseop-ah. Aku tidak bisa ikut, hari ini aku ada meeting bersama para dosenku di kampus. Kalian pergi berdua saja, mianhe sekali lagi.”

”Gwenchana Jess, kau bagaimana Hyun Mi? Bisa tidak?” tanya Kiseop dengan penuh harap.

Aku melihat kearah Jessica. Jessica terlihat seperti memintaku untuk menerima ajakan Kiseop melalui sorot matanya.

”Baiklah, aku siap-siap dahulu.” ujarku lalu berjalan masuk kekamarku.

***

Setibanya kami di menara N Seoul, Kiseop langsung menarik tanganku menuju balkon yang tertuju langsung kearah kota Seoul yang indah. Cahaya malam hari di kota Seoul bagaikan kerlap kerlip bintang dilangit yang menghiasi seluruh kota dengan indah.

Aku memejamkan kedua mataku dan menikmati sejuknya angin malam diatas sini. Sampai kurasakan tangan Kiseop kembali menggenggam tanganku erat. Kubuka mataku dan menatapnya bingung.

”Aku sedang berfikir.” ujarnya.

”Tentang?”

Kiseop mengubah arah pandangannya dan kini ia menghadap kearahku, ”Tentang hatiku.”

Apa maksud ucapannya? Aku hanya terdiam mendengarnya.

”Would you be my girl Hyun Mi?”

Pertanyaan Kiseop yang mendadak membuatku sontak tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhku. Otakku seakan lumpuh sesaat ketika mendengarnya mengucapkan itu.

Melihat reaksiku yang hanya diam ditempat, Kiseop membalikkan badannya dan memandang kearah ribuan cahaya lampu yang menerangi kota.

”Mungkin ini terlalu cepat, tapi Saranghae Hyun Mi. Jeongmal Saranghaeyo.” Kiseop menghela nafas pelan saat telah berhasil mengucapkannya.

Perlahan, akal sehatku kembali mengambil alih tubuhku yang sempat beku sesaat. Kuputar tubuhku hingga kini akupun ikut memandang kearah yang sama dengan Kiseop.

”Nado saranghae.” ucapku sembari menyandarkan kepalaku ke bahunya.

Tangan Kiseop merangkul pinggangku dan menariknya perlahan mendekat kearahnya. Kiseop memeluk pinggangku lembut dan mengecup puncak kepalaku.

”Gomawo Shin Hyun Mi.”

Sisa malam itu kami habiskan dengan berdiam diri sambil melihat semaraknya kota Seoul pada malam hari.

***

Semenjak kami resmi menjadi sepasang kekasih, kehidupanku menjadi lebih berwarna dari sebelumnya. Aku merasa Kiseop akan selalu ada saat aku sedang membutuhkannya. Kiseop selalu dapat memberikanku kekuatan untuk menjalani hari-hariku.

Selama berbulan-bulan kami bersama, namun tidak pernah kulihat Kiseop bersedih atau mengeluh. Dia selalu tersenyum dimana pun dan kapan pun. Aku sempat berfikir bahwa hubungan kami mungkin akan sampai ketahap pernikahan.

Sampailah pada hari itu. Hari dimana Kiseop tidak datang menemuiku ataupun menghubungiku. Tidak biasanya Kiseop melakukan hal itu kepadaku. Awalnya aku berfikir bahwa dia sedang sibuk akhir-akhir ini. Atau mungkin dia sedang mendapatkan tugas yang cukup untuk menyita seluruh waktunya. Ya, itulah yang awalnya kupikirkan.

Namun, kejadian itu terus berulang hingga 1 bulan lamanya. Kiseop tidak pernah datang menemuiku atau menghubungiku lagi. Saat aku menyadari perubahan sikapnya itu, aku berusaha untuk menghubunginya. Berhari-hari aku mencari kabar tentangnya, namun hasilnya nihil.

Semua informasi yang aku dapat, tidak dapat menunjukkan keberadaan Kiseop saat ini. Begitu pula dengan Jessica, dia pun sama hal-nya denganku. Tidak merasa putus asa, aku tetap terus mencoba untuk menghubungi handphonenya.

Berhari-hari aku tidak memperdulikan keadaan diriku sendiri. Yang kulakukan hanya duduk termenung di balkon kamar menunggu Kiseop datang dengan senyumnya yang mampu membuatku merasa tegar menjalani hari-hariku. Memandangi handphone yang tidak kunjung menandakan adanya sms atau telefon dari Kiseop.

Hari-hariku kini lebih banyak diisi oleh tangisan. Tangisan akibat luka yang ditinggalkan Kiseop tidaklah mampu mengobati lukanya. Jessica lebih sering datang saat mengetahui keadaanku seperti saat ini.

Kejadian demi kejadian yang sempat aku lakukan bersama Kiseop kembali berkelebat di otakku. Semua senyuman itu, semua candaan itu, semua sentuhan itu, semua tatapan mata itu, semua..semua..

Semua itu kini sudah tidak dapat aku rasakan kembali!! Semuanya hilang! Hilang bersama hilangnya dirimu! Aku meratapi nasib diriku sendiri. Mengapa semua ini harus terjadi kepadaku?

Mengapa harus aku yang ditinggalkan? Mengapa harus aku yang dicampakkan? Mengapa harus aku yang jatuh cinta kepadanya? Mengapa? Mengapa?

”Hyun Mi, kau makan ya. Kau sudah seminggu tidak makan.” Jessica kembali membujukku untuk makan.

Namun, selera makanku sudah hilang saat aku menyadari bahwa aku ditinggalkan oleh seseorang yang sangat aku sayang.

”Hyun Mi, nanti kau sakit kalau seperti ini terus. Aku,, hiks.” kudengar Jessica kembali terisak melihat keadaanku saat ini.

Sungguh, aku pun tidak ingin menjadi seperti saat ini. Aku juga tidak ingin melihat sahabatku menangis seperti itu.

”Mian,, mianhe Hyun Mi. Mianhe,, hiks,,”

Jessica kini berlutut dihadapanku dengan matanya yang sembab. Dia menggengam tanganku dengan tangannya yang bergetar akibat isakan tangisnya.

”Aku,, aku,, maaf Hyun Mi..”

Aku melihat Jessica yang masih menangis dihadapanku. Aku mengelus puncak kepalanya perlahan dan menggengam tangannya pelan.

”Ada apa?” tanyaku.

Kudengar suaraku sendiri saat ini. Sangat serak dan parau.

”Dia, dia, sakit.”

Aku mengentikan gerakan tanganku dipuncak kepalanya dan menatapnya bingung, ”Siapa?”

Jessica kembali terisak hebat sebelum mengatakannya, ”Kiseop, Kiseop sakit. Saat ini dia sedang di London. Maaf,, maafkan aku Hyun Mi,”

Bagaikan tersambar petir disiang hari, kabar itu seakan pisau yang menusuk jantungku. Apa maksudnya? Kiseop sakit? Sakit?

”Sakit apa?” suaraku yang awalnya sudah parau, mendengar kabar itu suaraku menjadi semakin parau.

”Tumor otak, aku,, aku juga baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu. Maaf maafkan aku Hyun Mi baru memberitahumu saat ini.” Jessica menggenggam kuat tanganku dan menunduk dalam-dalam.

Tubuhku terasa dingin dan kaku. Tumor otak? Tapi kenapa aku tidak mengetahuinya? Selama ini dia tidak menunjukkan hal yang dapat membuatku curiga.

”Kenapa kau baru memberitahuku saat ini?”

”Kiseop yang memintaku untuk merahasiakannya darimu. Dia tidak ingin membuatmu khawatir dengan keadaannya. Tapi aku tidak tega melihat keadaanmu yang seperti ini, aku minta maaf Hyun Mi. Maafkan aku.” pinta Jessica pelan dan kembali menundukkan kepalanya.

Aku hanya bisa diam mendengar itu semua. Apa maksud semua ini Lee Kiseop? Kenapa kau hadir didalam kehidupanku jika kau hanya ingin membuatku terpuruk seperti sekarang ini? Buat apa kau memberikanku kebahagiaan yang hanya bertahan untuk sementara?

Tanpa kusadari air mataku menetes perlahan tanpa bisa kucegah. Jessica kembali terisak pelan bersamaku. Keadaan ini berlangsung sampai saat Jessica pamit pulang. Air mataku tetap terus mengalir walaupun sesungguhnya tubuhku sudah lelah untuk terus menerus menangis.

***

flashback end

Lagu It’s hurts dari 2NE1 mengalun pelan dari radio yang dipasang ditempat kami makan siang saat ini. Lagu ini makin mengingatkanku akan kenanganku bersama Kiseop. 2 bulan setelah kepergiannya, Jessica memberikan lagu ini kepadaku. Entah apa maksudnya, namun aku merasa ada sesuatu yang tersembunyi dari lagu itu.

”Sehabis ini kita ingin kemana?” lagi-lagi suara Onew membuyarkan ingatanku tentang Kiseop.

Aku menoleh kearahnya, ”Bagaimana kalau kita pergi ketaman bermain setelah ini?”

”Baiklah.” ujarku riang.

Ya, saat ini hanya ada Onew dihadapanku. Aku akan berusaha untuk menjadi yang terbaik untuknya dengan cara melupakanmu dari hidupku. Bukan seutuhnya aku akan melupakanmu, namun kau hanya akan kukenang sebagai bagian terindah dari masa lalu itu.

Aku akan memulai kisah cintaku kembali bersama Lee Jinki. Pria yang telah menempati seluruh relung hatiku setelah kau pergi meninggalkanku.

The End