author : Ilakis_Sekar
title     : Please Don’t Cry My boy
genre : sad romance
leght  : one shoot
main cast : Bigbang’s Daesung, 2NE1’s Bom

disclaimer : All of casts in this Fanfic is NOT MINE … all credits of casts belong to “YG ENT.” and all story here belong to MINE! Take out with full of credit [Copy This Disclaimer please]

summary : inspired by  Bom’s Don’t Cry song ^^

PS : FF ini sudah pernah diposting sebelumnya di blog pribadi penulis, jadi kalo ada yang udah pernah baca ini bukan plagiat ^^ dan gamsha buat admin yang sudah rela ngepost-in😀

Happy Reading ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Love seems to change easily,
In place of our own greed, a painful scar is left,
gotta let you go …
And please don’t cry

Aku mencoba menahan amarahku. Aku terluka. Hatiku tersayat dan tergurat. Oh… masih ada deritan sembilu yang menusuk tapi dia masih menambahnya, menggores luka dalam yang meninggalkan jejak kelam.

Laki-laki itu berdiri di sisiku, berteriak meluapkan amarah yang sebelumnya terkotaki. Bagai tak mau kalah seribu kata membuncah dan keluar dari mulutku. Mengalahkan toleransi diri masing-masing , kami berdua saling beradu. Berharap bukan kami yang kalah.

Aku ingin pergi darinya…. Meninggalkannya…. Tapi kemudian tangis pecah dan penyesalan menjemput.

Kang Dae Seong. Dialah pria yang selama ini mengisi relung hatiku. Bahkan hingga detik ini ketika aku memutuskan menyelesaikan segalanya. Tak bisa kupungkiri, memang hanya dia  yang sanggup membuatku begini. Aku terjatuh berkali-kali hingga perih tak terasa lagi.

Kini beda cerita, aku menang… dan aku ingin mengakhiri semua penderitaan yang ada.

I guess I was not really the person for you..
I couldn’t hold back my stupid heart which pained you..
And please don’t cry….

Ya… aku memang bukan wanita yang pantas untuknya. Perbedaan diantara seorang Park Lee Bom dengan Kang Dae Seong terlalu jauh. Terlalu sering aku membuatnya terluka. Sama seringnya dengan luka hatiku yang diukir olehnya.

Tak ada alasan yang sama bagiku untuk terus seperti ini. Aku menangis setiap saat karena Dae Seong. Diapun menangis setiap saat karenaku. Ini bukan cinta yang utuh dan nyata. Ini cinta yang menyakitkan. Saat cinta begitu menyakitkan, haruskah itu dipertahankan?

Kami berdua dijodohkan, saling mengenal, mencoba menelisik hati satu sama lain. Kami mencoba menumbuhkan benih-benih cinta yang disemai kedua orang tua kami. Memang cinta itu tumbuh, namun penghalang besar itupun tumbuh. PERBEDAAN. Terlalu banyak kata beda dalam hubungan ini.

Here’s the end for both of us,
and until the world would allow our love then,

Kini sudah kumantapkan hati dan pikiranku untuk mengakhiri semuanya.

“Dae Seong…. Let’s break up…” aku berujar pelan dan lirih. Aku bahkan tidak tahu apa Dae Seong mendengarnya atau tidak. Mataku tetap tertuju ke bawah. Melihat marmer-marmer indah yang menyelimuti alas gedung tempat kami berada saat ini.

“Kau yakin? Tidak bisakah kau mencoba bertahan?” suara jernihnya masih sama mengisi relung kalbuku.

“Ne.. sudah terlalu lama aku menahan sakit… aku bisa mati kalau begini terus. Kita terlalu sering bertengkar dan beradu pendapat. Aku sudah terlalu lelah… hubungan ini… kurasa….”

“orangtuamu?” selanya.

“ne?” tanyaku kaget. “Ya.. orangtuamu… mereka, tidak akan marah dengan keputusanmu?” dia melanjutkan lagi.

“aku tidak tahu… tapi yang aku tahu hanya satu, mereka bisa melihat bahwa kita berdua terlalu terluka dengan keputusan ini….” Aku kembali mendalami marmer-marmer berwarna abu-abu kemerahan yang begitu membius.

“kau tahu… aku tidak pernah berharap ini terjadi Bomie…”Dae Seong berkata lirih lebih untuk dirinya sendiri. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku mengenggam jari jemarinya singkat, mencoba mencari kehangatan yang sama. Nihil. Tangannya sangat dingin saat ini. Aku melepaskan genggaman itu dan kemudian pergi keluar dari gedung gereja St. Peter dimana seharusnya kami menggelar pernikahan kami sebulan lagi.

It’s okay baby please don’t cry,
this long journey is about to end
But someday, we will meet again,
In the next life, we will see each other again

Tidak Dae Seong… jangan… jangan menangis seperti itu. Jangan gundah seperti itu.

Kini aku sedang berada di ruang keluarga di rumahku. Aku menikmati kesendirianku saat ini. Aku menghabiskan waktu minum tehku kali ini dengan menyaksikan penampilan live dari Dae Seong. Mantan kekasihku yang juga mantan tunanganku itu memang adalah seorang penyanyi. Suaranya sangat indah dan merdu menyapu telingaku.

Kali ini dia sedang menyanyikan lagu terbarunya, Baby Don’t Cry. Lagu itu seperti pesan untukku agar jangan menangis. Sayangnya, bagaimana aku tidak menangis melihat dia menyanyi dengan bulir-bulir air mata yang menetes di setiap nada yang menggema. Aku tahu dia sangat terluka, karena akupun tak kalah terluka dengan perpisahan ini.

Inilah keputusan yang sudah kubuat. Kumohon Dae Seong jangan menangis. Akupun berjanji untuk tidak menangisi perpisahan ini lagi.

Percayalah, jika dikehidupan mendatang kita bertemu lagi, maka aku akan menjadi milikmu. Karena mungkin dikehidupan mendatang aku sudah belajar untuk menahan egoku dan mengerti keinginanmu. Mungkin dikehidupan mendatang kita berdua sudah tidak lagi saling bertengkar dan menyakiti satu sama lain.

Berjanjilah padaku untuk tidak meneteskan air mata untukku dan hubungan kita lagi, kekasih hatiku untuk selamanya, Kang Dae Seong.

-finished-