Title : I Think I Love You

Genre : Romance

Rating : PG-13 / T / General

Casts : Jang Hyun Seung (BEAST), Jang Hyun Ra

Disclaimer : Hyun Seung bukan punya saya. Hyun Ra itu Tam eonnie. Saya cuman punya plot cerita…

A/N : OKEEE! Akhirnya saya bisa posting side story-nya FFLAAA~! Wahahah! Yak! Ide cerita saya dapatkan dari kuis di FFLA juga. Yang dimenangkan oleh tiienzVIP4evah!! Yah, silahkan kalau request ff buat pemenangnya~ Readers yang mau request juga boleh, kok… #JDAK

Oke! Yang belum baca dan voting di FFLA, silahkaan~ Di buka saja linknya FFLA!

Yak, semoga suka (terutama Tam eonnie). Happy reading~ Jangan lupa comment~ 😀

***

“GGYYAA!”

“HEH! GANTI BUSUR BIOLA GUE, KAMPRET! ITU MAHAL TAU!”

“ADOH! KAKI GUE KEINJEK HIGH HEELS!”

“Yang keinjek high heels pasti sakit, tuh! Wahahah! Bolong, dah, itu kaki!”

“Mampus, ini gimana cara keluarnya?” gumam Hyun Seung pelan. Jelas saja, semua orang entah kenapa mendadak menjadi brutal semua. Dasar artis-artis gila…

“Aw!” pekik gadis di belakangnya yang sedari tadi diseret Hyun Seung untuk keluar dari gedung itu. “Siapa yang ngelempar sepatu, sih? Dipikir kalo kena orang nggak sakit apa?” gerutu gadis itu.

Hyun Seung menolehkan kepalanya, menatap gadis itu sembari tersenyum. “Hyun Ra, kau tidak apa-apa?” tanyanya pada akhirnya sembari tetap mencari jalan keluar dari kerusuhan ini.

Gadis bernama Hyun Ra itu terdengar gugup. “Tidak. Cuma, tadi ada sepatu nyasar. Untung bukan sepatu hak yang kena kepalaku. Berbahaya,” jawabnya pelan.

Hyun Seung tertawa pelan dan bergegas membuka pintu keluar yang AKHIRNYA bisa ia capai setelah perjuangan berat melewati rintangan yang menghadang. Oke, itu memang sangat berlebihan.

Ketika mereka sudah berada di luar gedung (malang) itu. Benar saja, tidak terlalu ramai dan hanya ada mobil-mobil wartawan yang dengan sabar menanti di luar. Hyun Seung segera mengenakan topi yang tadi ia pinjam dari Dongwoon dan cepat-cepat pergi dari tempat itu bersama Hyun Ra sebelum ada yang sadar bahwa seorang Hyun Seung BEAST sedang menggandeng tangan seorang gadis di malam hari dan di tengah jalannya acara pembagian awards. Bisa-bisa itu menjadi berita terheboh tahun ini. Mengalahkan berita seorang Kim Jonghyun yang pacaran dengan Shin Sekyung.

“Oppa, kita mau kemana?” Hyun Ra bertanya ketika mereka sudah berada di jarak aman, biarpun suara teriakan orang-orang di gedung itu masih sayup-sayup terdengar.

Hyun Seung berhenti berjalan. “Memangnya kau mau kemana?” jawabnya sembari tersenyum kepada gadis di sampingnya itu.

“Entahlah… Oppa sendiri?”

“Kita pergi ke Cafe. Bagaimana? Aku lapar. Meladeni kegilaan orang-orang aneh itu memang menguras tenaga. Kau setuju?” jawab Hyun Seung enteng dan mengajak Hyun Ra untuk kembali berjalan. “Aku tahu sebuah Cafe yang bagus di dekat sini.”

“Cafe? Oppa, bagaimana kalau ada paparazzi, fans, atau siapapun yang mengenali oppa di sana? Nanti oppa bisa terkena masalah,” jawab Hyun Ra terdengar khawatir.

Jujur saja, Hyun Seung harus mengakui bahwa dia merasa senang saat ia mengetahui bahwa gadis yang bersamanya ini ternyata mengkhawatirkannya sejauh itu. Tapi, tidak. Hyun Seung tetap mencoba mengabaikannya. Berpikir bahwa gadis ini hanyalah fans-nya dan ia sedang melakukan fan service pada gadis ini. Mengajaknya berjalan-jalan itu masih termasuk kategori fan service bukan?

“Tenanglah. Pemiliknya adalah teman dekatku. Kau tenang saja. Aku sering mampir ke sana. Ayo!” jawab Hyun Seung mengacuhkan tatapan tidak setuju dari Hyun Ra.

Mereka berdua memasuki sebuah Cafe bernuansa tenang yang tidak terlalu ramai. Beberapa orang memang menoleh dengan heran ke arah mereka, tetapi setelah itu orang-orang itu kembali mengabaikan Hyun Seung dan juga Hyun Ra yang telah mengambil tempat di dekat jendela yang tepat menghadap ke arah gedung Seoul Olympic Stadium. Cafe itu memang berada cukup dekat dari gedung itu.

Setelah memesan makanan dan mengobrol sebentar dengan pelayan Cafe itu (yang ternyata sudah sangat akrab dengan Hyun Seung) mereka berdua hanya duduk diam sembari melihat ke arah gedung Seoul Olympic Stadium yang pasti sekarang sedang rusuh sekali.

“Menghindari kerusuhan seperti ini ternyata bagus juga, ya.”

“Eh?” Hyun Ra menoleh dengan heran ke arah Hyun Seung.

“Biarpun nanti pasti semuanya pasti menggosipkan kita, tapi setidaknya kita bisa keluar dari sana. Aku masih ingin hidup normal,” lanjut Hyun Seung yang balas menatap Hyun Ra.

Hyun Ra memalingkan wajahnya dengan enggan, wajahnya mulai memerah. “Ya. Karena setiap orang yang keluar dari sana setidaknya pasti mengalami luka-luka. Lebih baik berada di sini. Selain bisa mengisi perut dan kenyang, kita juga bisa beristirahat. Membacakan nominasi sebanyak itu benar-benar membuat lelah. Dan juga… aku senang bisa bersamamu, oppa. Sarang – UPS!” Hyun Ra yang sadar bahwa ia nyaris mengucapkan kata ‘Saranghaeyo’ itu bergegas menutup mulutnya menggunakan tangannya. Tidak. Ia tidak bisa mengatakan hal itu terang-terangan di depan Hyun Seung sekarang.

Hyun Seung memiringkan kepalanya. “Maksudmu?”

“Tidak, tidak! Maksudku aku memang menyukaimu. Tapi hanya sebatas fans! Tenang saja, oppa. Aku bukan maniak yang akan mengurungmu di suatu tempat hanya karena terobsesi denganmu. Aku menyukaimu sebatas fans. Oke? Jadi tolong, jangan berpikir yang aneh-aneh tentangku,” lanjut Hyun Ra panik. Lagipula Hyun Ra tidak bisa mencintai Hyun Seung sebagai seorang wanita. Karena di mata Hyun Seung, ia hanyalah fans-nya. Hyun Ra tidak bisa mengharapkan lebih dari itu.

Hyun Seung tersenyum, setengah getir. “Tidak apa. Aku sudah sering mendengar hal itu,” Hyun Seung tetap tersenyum. Mencoba mengabaikan debar jantungnya yang semakin cepat itu.

Sementara Hyun Ra hanya dapat menunduk. Wajahnya memerah dan ia sangat gugup saat ini. Begitupun dengan Hyun Seung. Entah kenapa, otaknya seperti mati rasa. Ia tidak bisa berpikir tentang apapun. Bahkan topik pembicaraan yang paling mudahpun ia sama sekali tidak tahu saat ini. Hyun Seung sama sekali tidak fokus pada apapun, kecuali pada gadis yang sekarang duduk di hadapannya itu. Yah, pada akhirnya salah satu dari mereka harus membuka pembicaraan.

“Oppa.”

“Hyun Ra.”

Hyun Seung dan Hyun Ra berpandangan dengan heran lalu tertawa karena mereka bicara bersamaan.

“Kau duluan,” lagi-lagi mereka bicara dengan kalimat yang sama dan juga saat yang sama pula.

“Tidak. Oppa saja. Lagipula pertanyaanku juga tidak begitu penting,” ucap Hyun Ra geli.

Hyun Seung menggeleng. “Ladies first. Silahkan. Lagipula aku bisa dibunuh oleh seseorang kalau harus membiarkan seorang wanita menjadi nomor dua.”

Hyun Ra masih saja menahan tawanya. “Err… Begini. Aku masih tidak mengerti. Kenapa oppa membawaku kabur dari acara itu? Bukankah oppa bisa pergi seorang diri?”

Hyun Seung tertegun. Jujur saja, ia juga tidak mengerti alasan kenapa dia bisa ‘menculik’ Hyun Ra dari acara itu. Semua itu terjadi secara spontanitas.

“Aku… tidak tahu. Entahlah, Hyun Ra,” jawabnya pada akhirnya. Ia menundukkan kepalanya.

“Kalau begitu, kenapa harus aku?”

“Eh?” Hyun Seung menengadahkan kepalanya dan menatap Hyun Ra dengan heran. “Maksudmu?”

“Kenapa harus aku yang kau ajak untuk menemanimu kemari? Kenapa bukan member BEAST yang lain? Atau… siapapun. Kenapa aku?” ulang Hyun Ra. Kali ini ia mulai memajukan tubuhnya menjadi lebih dekat ke arah Hyun Seung.

Hyun Seung tersenyum. “Kalau menurutmu kenapa?” ucapnya sembari ikut memajukan tubuhnya mendekati Hyun Ra.

“Bukankah kau yang mengetahui jawabannya, oppa. Kenapa malah bertanya balik?” balas Hyun Ra. Tanpa sadar ia sekarang sudah berada cukup dekat dengan Hyun Seung.

Jarak mereka yang sudah cukup dekat membuat keduanya dapat merasakan hembusan nafas yang terasa di wajah mereka masing-masing. Hyun Seung mulai merasa wajahnya memanas hanya dengan menatap kedua mata indah milik gadis di hadapannya itu. Perlahan, ia memajukan kepalanya mendekati wajah Hyun Ra. Hyun Ra yang menyadari maksud Hyun Seung hanya menutup kedua matanya, jantungnya berdetak tak karuan. Dan tepat sebelum kedua bibir mereka bersentuhan…

“Ehm! Permisi pesanan anda datang,” seru seorang pelayan yang sekarang sedang tersenyum geli dan melirik ke arah Hyun Seung.

Hyun Seung dan Hyun Ra langsung menarik tubuh mereka kembali, menjauh. Wajah mereka sangat merah. “Err… Terima kasih…” ucap Hyun Seung lirih pada pelayan itu yang pergi dengan senyum geli terukir di wajahnya.

Hyun Ra menghindari tatapan mata Hyun Seung dengan fokus pada makanan di hadapannya. Ia menyuapkan sesendok makanan, lalu mengunyahnya perlahan. Jantungnya masih berdetak cepat. Apalagi ketika ia mengingat bahwa ia dan Hyun Seung tadi nyaris… Ah! Bahkan menyebut kata itu dalam hatinya ia tidak bisa. Ia terlalu gugup sekaligus malu yang bercampur menjadi satu.

Hyun Ra menggerutu dalam hati. Diam-diam, ia mulai menyumpahi sang pelayan (sialan) yang mengganggu momen langka itu. Langka? Tentu saja! Kapan lagi ia bisa merasakan hal seperti itu dengan idolanya itu? Menunggu sampai 1000 tahun pun hanya kecil kemungkinannya! 1 berbanding 1000, bahkan lebih. Dan saat ini momen itu dirusak oleh seorang pelayan? Sungguh, ingin sekali rasanya Hyun Ra mencekik pelayan itu, menginjak-injak wajahnya menggunakan hak sepatu paling tajam, lalu membuang mayatnya ke sungat terdekat.

Ketika Hyun Ra masih sibuk menggerutu (dan juga mengutuk pelayan tadi) di dalam hatinya, Hyun Seung yang sedari tadi diam mulai bersuara,

“Maaf…”

“Eh?” Hyun Ra mendongakkan kepalanya dan kembali menatap Hyun Seung yang saat ini hanya menunduk sembari memainkan makanannya untuk menutupi wajahnya yang memerah. “Kenapa oppa harus minta maaf?”

Hyun Seung memandang dengan heran ke arah Hyun Ra yang saat ini sedang menatapnya polos. Entah kenapa, Hyun Seung merasa sangat menyukai tatapan mata itu. “Kau tidak marah?” lanjutnya.

“Marah untuk apa?”

Hyun Seung mendesah pelan. Entah ia harus merasa sedih ataukah senang mendengar jawaban Hyun Ra itu. “Karena aku tadi berniat untuk…” Hyun Seung, entah kenapa ia juga merasa berat mengatakan hal itu.

“Ah, itu…” balas Hyun Ra lirih. “Tidak. Aku sama sekali tidak marah, oppa.”

“Benarkah? Kalau begitu…” Hyun Seung tersenyum sembari mendekatkan dirinya ke arah Hyun Ra lagi. “Bagaimana kalau kita lanjutkan yang tadi?”

Hyun Ra membelalakkan matanya. “Oppa!” serunya setengah kesal setengah senang.

Hyun Seung tertawa melihat reaksi gadis di hadapannya itu. Dan sekarang, Hyun Seung memang harus mengakui. Bahwa ia sudah jatuh cinta pada gadis manis bernama Jang Hyun Ra itu.

Hyun Seung sebenarnya tidak terlalu mempercayai cinta pada pandangan pertama yang sering disebut oleh orang-orang. Tapi sekarang, ia benar-benar sudah jatuh cinta pada Hyun Ra. Bahkan sejak ia pertama kali melihat gadis itu saat pembacaan nominasi di gedung Seoul Olympic Stadium itu tadi. Dan Hyun Seung benar-benar yakin dengan perasaannya ini.

“Oppa,” ucapan Hyun Ra menyadarkan Hyun Seung dari lamunannya.

“Ya?” tanyanya.

“Bukankah kau tadi juga ingin bertanya padaku?” lanjut Hyun Ra. Lagi-lagi dengan tatapan mata polos yang disukai Hyun Seung itu.

“Ah, ya,” Hyun Seung mulai ingat bahwa ia juga ingin bertanya pada Hyun Ra. “Hyun Ra, aku ingin kau jujur. Kenapa kau bisa menyukaiku?”

Hyun Ra menghela nafas pelan. “Aku… tidak tahu. Aku menyukai semua yang ada padamu, oppa,” ucap Hyun Ra lembut sembari tersenyum.

“Kalau begitu, kenapa kau bisa yakin kalau kau memang benar-benar menyukaiku?” Hyun Seung mulai merasakan perasaan bahagianya membuncah-buncah saat ini.

“Cinta tidak membutuhkan alasan, kan? Untuk apa mencintai seseorang kalau masih menuntut alasan? Yang kita cintai itu orangnya, bukan fisik ataupun kekayaannya. Bukan pula kelebihan dan juga bakatnya lalu kita malah mengabaikan kelemahannya. Buatku, cinta itu berarti mencintai semua yang ada pada diri orang yang kita cintai. Apapun itu,” tak ada keraguan yang terpantulkan dari diri Hyun Ra ketika ia mengatakan hal itu, sedikitpun.

Sekarang, Hyun Seung sudah benar-benar yakin pada gadis itu. Ia mencintainya. Ia menyukainya. Ia menyayanginya. Apapun itu.

“Hyun Ra,” ucap Hyun Seung tenang. Ia menatap tepat ke dalam mata gadis itu sekarang. “Kalau aku berkata bahwa aku ingin menjadi orang yang kau cintai. Bagaimana?”

“Oppa…” Hyun Ra terkejut. Ia tidak mampu berkata apapun lagi sekarang.

“Aku tahu ini memang terlalu cepat. Kita baru bertemu satu setengah jam yang lalu dan saling mengenal paling lama sejam yang lalu. Dan tiba-tiba saja aku sudah nyaris menciummu…” Hyun Seung menarik nafas dalam-dalam dan menggenggam tangan Hyun Ra. “Tapi harus kuakui. Aku sudah mulai menyukaimu sejak aku melihatmu saat membacakan nominasi tadi. Dan jantungku selalu berdebar cepat semenjak kita keluar dari gedung itu.”

“Maksud… oppa…” Hyun Ra merasa jantungnya sudah akan meledak sekarang.

Hyun Seung tersenyum. “Ya. Aku mencintaimu, Hyun Ra. Aku menyayangimu. Aku menyukaimu siapapun kau. Apapun yang ada pada dirimu. Jadi…” Hyun Seung menggenggam tangan Hyun Ra semakin erat. “Kau mau?”

Hyun Ra benar-benar merasa saat ini dirinya tengah melayang karena terlalu bahagia. Tanpa perlu berpikir dua kali, Hyun Ra mengangguk cepat. “Ya,” ucapnya tegas. Tanpa sadar, air mata bahagia mulai mengalir turun dari kedua matanya.

Hyun Seung menghapus pelan air mata Hyun Ra. “Terima kasih…”

EPILOG

Seung Young dengan gusar memencet-mencet nomer telepon yang sudah ia hafalkan di luar kepala. Ia berjalan mondar-mandir sembari menempelkan ponselnya ke telinga dan mendengarkan nada dering di ponselnya.

“Yeoboseoyo?”

“Hyun Ra, DI MANA LO?” seru Seung Young panik ketika orang yang ia tuju – Hyun Ra – menjawab teleponnya.

Hyun Ra menjauhkan ponselnya dari telinga selama beberapa saat. “Gue lagi di…”

“APA? Di dorm BEAST? Lo diculik sama Hyun Seung, kan? BILANG! Lo diapain sama dia? Sini, biar gue santet tu bocah!”

Hyun Ra tertawa. “Nggak. Tenang aja, eomma. Hyun Seung oppa nggak ngapa-ngapain gue, kok.”

“Terus lo diapain sama diaaa~! Bilang, dong! Jangan bikin orang panik gini. Lo juga sekarang di manaaa~?”

Hyun Ra kembali tertawa mendengar suara Seung Young yang sangat terdengar seperti ibu-ibu depresi kehilangan anak. “Besok aja, deh, gue ceritain. Udah, ya. Dah, eommaaa~”

“Hyun Ra!” hanya itu yang didengar oleh Hyun Ra sebelum ia benar-benar memutuskan telepon kali ini.

“Yah, semoga besok eomma nggak ngamuk beneran,” gumamnya sembari tersenyum. Hyun Ra menoleh ke arah samping. Di mana terlihat sosok idolanya – yang sekarang sudah menjadi pacarnya – itu sedang tidur dengan pulas di pundaknya. Hyun Ra mengusap rambut Hyun Seung pelan. “Selamat tidur, oppa,” ucapnya lalu ikut memejamkan matanya.

FIN

Oke. Saya tahu banget kalau ini abal… Gila aja…

Sudahlah. Silahkan tulis pendapat anda di comment. Daann~ yang belum vote di FFLA silahkan vote dulu, ya~ Gomawooo~ 😀

Iklan