Title     : [HeeSeira Couple] Lost in Paris

Author : Seichiko a.k.a Dhitia

Length : One Shot

Genre  : Romance, Comedy (?)

Cast     :

Kim Heechul

Kim Seira

Choi Minho

Super Junior

Other Cast

Recommed song: Cho Kyuhyun – 7 Years of Love

*****

Heechul memandang jadwal yang ada dihadapannya dengan kesal. Sabtu besok ia harus terbang ke Indonesia untuk menghadiri acara KIMCHI. Dan setelahnya, akan ada acara SM Town Live in Paris. Jika Heechul terus terbang ke luar negeri, lalu bagaimana nasib hubungan dirinya dengan Seira? Tanpa meninggalkan Korea sekalipun, hubungan mereka sudah sangat datar.

“Fiuh…” Heechul menghembuskan nafasnya dengan sebal.

“Hyung, gwaenchana?” tanya Ryeowook yang sedang lewat dibelakang Heechul.

“Wookie-ya, kapan kita akan berangkat ke Paris?” tanya Heechul dengan wajah sendu.

“Molla. Yang pasti kita harus ke Indonesia dulu hyung. Baru setelah itu kita akan terbang ke Paris. Memang kenapa?”

“Indonesia ya…” Heechul menganggukkan kepalanya pelan. Namun setelah itu kembali mengeluarkan wajah babo dan menyandarkan kepalanya pada dinding.

“Yaa! Hyung, berhenti bersikap autis karena Seira!” protes Kyuhyun setelah mem-pause PSP yang sedang ia mainkan. Lama-lama Kyuhyun bisa ikut autis juga karena tingkah Heechul.

“Kau mana tahu rasanya menjadi aku,” jawab Heechul (sok) bijak.

Mendengar jawaban Heechul yang seperti itu, bulu kuduk Kyuhyun meremang. Segera saja Kyuhyun mengambil handphone yang ada meja, dan untuk sementara menaruh PSP yang sejak tadi ia mainkan.

“Yobosaeyo…” sapa seorang gadis diseberang telepon.

“Seira-ya, katakan pada kekasihmu itu untuk berhenti bersikap autis. Kepalaku terasa mau pecah karena melihatnya.”

“Biar saja kepalamu pecah. Itu bukan urusanku, Cho Kyuhyun-ssi.” Seira hanya menanggapi dengan datar. Ia pikir ada masalah apa Kyuhyun meneleponnya malam hari begini, ternyata hanya masalah Heechul. Aneh, galak, menyebalkan, itu sudah menjadi sifat dasar Heechul. Jadi permohonan yang sia-sia jika ada yang meminta Seira untuk menghentikan sifat dasar Heechul itu.

“Yaa! Kim Seira, aku ini lebih dewasa daripada kau. Jadi panggil aku oppa,” protes Kyuhyun. Sejak setahun lalu, Kyuhyun selalu merasa jika Seira itu yeoja yang sangat kurang ajar. Seira tidak pernah mau memanggil Kyuhyun dengan panggilan oppa, karena alasan yang sangat menyebalkan pula.

“Aku akan memanggilmu oppa jika kau mau membuang PSP-mu itu, hahaha~” tawa Seira meledak saat menghina Kyuhyun.

“Yaa!” setiap mendengar tawa Seira, maka siapapun akan ikut tertawa juga karenanya. Itulah yang kini sedang Kyuhyun lakukan.

Heechul melirik Kyuhyun yang sedang tertawa lebar sambil menelepon seseorang. Awalnya Heechul tidak curiga, namun Heechul tidak sengaja mendengar Kyuhyun mengeluarkan satu kata, ‘SEIRA’. Mwo? Seira? Siapa yang sedang Kyuhyun telepon?

“Hahaha, Seira-ya hentikan tawamu itu!” ujar Kyuhyun yang perutnya mulai terasa sakit.

“Aku tidak pernah memintamu untuk tertawa,” lagi-lagi Seira membalas dengan datar. Dimata Seira, Cho Kyuhyun adalah namja sempurna bersuara emas namun sedikit babo. Ya, Tuhan sangat adil saat menciptakannya.

“MWO?” pekik Heechul saat mendengar pembicaraan Kyuhyun. Dengan kasar ditariknya handphone milik Kyuhyun dan kini berpindah ke tangannya.

“Yaa! KIM HEECHUL!” Kyuhyun berteriak frustasi saat Heechul merebut handphonenya. Kyuhyun bukannya pelit, namun perebutan tadi bisa berakibat fatal pada handphonenya jika meleset sedikit.

“Yaa! Kim Seira, beraninya kau menerima telepon dari namja lain!” omel Heechul geram. Seandainya kini Seira ada dihadapannya, maka Heechul bersumpah akan menelan Seira bulat-bulat.

“Heechul oppa?” tanya Seira sedikir takut.

“Tentu saja, memangnya siapa lagi!”

“Ah, oppa. Jadi saat ini kau sedang berada disebelah Kyuhyun. Kalau begitu kenapa ia tidak memberitahuku?”

Heechul melirik sadis ke arah Kyuhyun. Ternyata Kyuhyun adalah biang kerok dari permasalahan ini. Kyuhyun yang menyadari adanya marabahaya, segera melarikan diri ke dalam kamar.

“Sei-ya, aku tutup ya teleponnya.” Tatapan mata Heechul mengarah sadis pada kamar Kyuhyun.

Okay.”

Seira berniat untuk menutup teleponnya, namun ada satu suara yang kembali memanggilnya.

“Sei-ya…”

Seira kembali mendengarkan perkataan Heechul. “Ne, oppa.”

Heechul menarik nafas panjang, lalu berkata sesuatu pada Seira. “Sei-ya, good night. Sebelum tidur jangan lupa berdoa, dan ehm… mimpikan aku.”

“Tidak akan oppa,” jawab Seira datar.

Clik!

Heechul mematikan handphonenya karena merasa kesal dengan perkataan Seira. Yaa! Kapan Seira bisa membaca hatinya? Setiap Heechul bersikap romantis sedikit, Seira pasti akan mengacuhkannya.

“Hah…” Heechul merebahkan tubuhnya pada sofa dan kembali melirik jadwal yang ada diatas meja. Indonesia, lalu Paris. Entah negara mana lagi yang akan Heechul kunjungi, tanpa Seira tentunya. Tunggu, pergi tanpa Seira?

Satu ide mendadak muncul di kepala Heechul. Ide yang sangat briliyan tentunya. Heechul semakin yakin bahwa dirinya adalah namjachingu paling cerdas di dunia. Dengan satu gerakan Heechul mengambil handphone dan menekan angka yang sudah ia hafal. Hanya orang ini yang dapat membantu Heechul, tidak ada yang lebih mengerti hubungannya dengan Seira selain orang ini.

“Yobosaeyo…” sapa suara diseberang.

“Annyeong…” balas Heechul ramah.

“Ada apa?”

Heechul diam sejenak dan menarik nafasnya jengah, kemudian menyampaikan ide yang baru saja melintas diotaknya. Jika ditolak, Heechul harus menerimanya. Namun jika idenya diterima, maka Heechul bersumpah akan menjalankan misinya dengan baik dan hati-hati.

*****

…Seira’s Bed Room, 09.10 PM…

 

Seira menaruh kembali handphonenya di atas meja belajar. Baru saja Heechul meneleponnya, ah ani, lebih tepatnya Kyuhyun yang menelepon. Namun Seira yakin jika Heechul merebut handphone Kyuhyun, karena berikutnya suara Heechul-lah muncul ditelinga Seira.

Indonesia, Paris…

Seira menatap layar laptopnya, untuk yang kesekian kali dalam satu hari ini. Bulan ini terasa sangat menyedihkan. Paling tidak ada dua jadwal Super Junior yang sudah Seira hafal diluar kepala. Dua konser yang menjadi pembicaraan para ELF hampir diseluruh belahan dunia, dan menjadi TT di twitter. Bukannya Seira tidak senang jika Heechul memiliki banyak job, namun ia merasa kesepian.

“Paris? Menara Eiffel? Yaa!” jerit Seira setengah kesal.

ENVY! Seira sangat iri dengan Heechul. Kekasihnya itu bisa jalan-jalan keliling dunia, gratis. Sedangkan Seira? Butuh menabung berapa tahun jika ia ingin pergi ke Paris? Aissh, Seira sangaaat iri!

“Dongsaeng-ya…” tiba-tiba ada satu tangan yang memeluk bahu Seira dari belakang. Leher Seira nyaris putus karena rangkulan kuat itu.

“Aissh, eonnie. Lep-phas-khan rang-ku-lan-mu…” suara Seira terputus karena rangkulan Dara eonnie yang sangat kuat itu.

Dara melepaskan rangkulannya, kemudian merebahkan tubuhnya disebelah Seira dan ikut menatap layar laptop yang sedang menampilkan berita tentang SM Town Live in Paris.

“Paris ya?” tanya Dara pada dirinya sendiri. Kepala Dara mengangguk saat membaca berita tersebut.

Seira melirik aneh ke arah Dara. Entahlah, Seira selalu merasa jika kakak semata wayangnya itu sangat senang bersikap aneh. Lain kali Dara bisa bersikap sangat baik pada hubungan Heechul-Seira, namun lain waktu Dara bisa bersikap sangat galak.

Contoh tragis terjadi saat Heechul terlambat mengantar Seira pulang sekitar lima bulan yang lalu. Hal itu terjadi karena ban mobil Heechul pecah ditengah jalan, jadilah mereka berdua terlambat pulang. Dengan memasang wajah angkuh, Dara berdiri didepan pintu masuk. Begitu melihat mobil Heechul, Dara segera melepas high heels yang dipakainya, dan memukul bahu Heechul dengan ujung sepatunya yang lancip itu.

“YAA! KIM HEECHUL, beraninya kau tidak menepati janjimu untuk mengantar Seira pulang jam delapan malam! Sekarang sudah jam berapa, hah?!” bentak Dara kencang.

Heechul meringis saat sepatu Dara melayang di bahunya. Pertama kali dalam sejarah Heechul mati kutu saat berhadapan dengan keluarga kekasihnya. “Mianhae, tadi ban mobilku pecah jadi…”

Brak!

Dara menutup pintunya dengan kasar, ditinggalkannya Heechul yang masih mematung seorang diri di luar pintu.

Hanya wajah babo yang dapat Seira berikan, karena ia masih shock dengan perbuatan Dara. Sejak kejadian itu, Heechul tidak pernah terlambat mengantar Seira pulang. Jika sudah berjanji, maka Heechul akan berusaha menepati. Meskipun sesungguhnya Heechul masih ingin bersama Seira.

Setiap mengingat kejadian itu, Seira akan tertawa keras. Namun kali ini sedikit berbeda. Seira sedang tidak ingin tertawa, itu hanya akan menambah rasa kesepian dan sedikit rindunya pada Heechul.

“Eonnie…” suara Seira terdengar lirih, bahkan nyaris tidak terdengar.

“Ne.” Dara menoleh ke arah Seira, tidak biasanya dongsaengnya terlihat sedih begitu.

“Tidak jadi.” Seira mengalihkan pandangannya pada jendela kamar, dan berhenti memandang laptopnya. Rasa kesal itu mendadak muncul dan memenuhi kepala Seira.

“Seira-ya, bagaimana skripsimu?” tanya Dara sambil berjalan mengelilingi kamar Seira. Kini ditangan Dara terdapat setumpuk kertas, hasil dari lima bab yang sudah Seira kerjakan selama beberapa bulan ini.

“Aku sudah menyelesaikan lima bab, tapi otakku kembali buntu. Aissh, eonnie… ajaklah aku berlibur. Aku bosan terus menerus melihat kertas. Lama-lama mataku bisa berbentuk kotak seperti kertas-kertas itu,” rengek Seira.

“Aigoo, jangan merengek seperti anak kecil. Jika eomma tahu, kau bisa dijadikan kimchi olehnya.”

Seira melepaskan rangkulannya pada tangan Dara dengan kasar. “Eonnie pelit! Jika tidak mau mengajakku liburan ya sudah. Aku juga tidak ingin pergi bersama eonnie, wuuueek!” Seira menjulurkan lidah dan menutup wajahnya dengan bantal.

*****

…June 5th, 07.30 PM…

 

Jino menghentikan mobilnya dalam jarak yang cukup jauh dari rumah Seira. Tadi saat pulang, Seira mengatakan jika ia tidak ingin Jino mengantarnya sampai rumah. Alasannya karena Seira ingin menyehatkan diri dengan berjalan kaki. Namun Jino yakin bukan itu alasan utamanya. Seira sedang lari masalah, itulah keyakinan Jino.

Ck~ Jino kembali berdecak saat melihat sikap aneh Seira. Kapan Seira akan berubah seperti dulu? Saat dirinya belum mengenal Heechul. Saat hubungan Jino dan Seira sangat dekat, bahkan dulu tidak ada jarak yang membentang diantara mereka berdua. Jino sungguh merindukan saat-saat dulu.

“Seira-ya, sudah sampai.” Jino menepuk pundak Seira yang sedang melamun.

“Ne?”

“Sudah sampai, tadi kau bilang hanya ingin kuantar sampai sini.”

Seira memandang sekitar. Ternyata ia sudah sampai. Aissh, Seira babo! Begitu besarkah pengaruh seorang namja aneh bernama Heechul, sehingga membuyarkan semua konsentrasi yang Seira miliki.

“Baiklah. Jino-ya, aku pulang. Annyeong…” Seira membuka pintu mobil Jino dan melambaikan tangannya dengan dengan senyum lebar.

Jino masih memandang sosok Seira. Sosok yang sudah lima tahun lebih menjadi sahabatnya. Hingga Seira menghilang diujung jalan, barulah Jino kembali ke dalam mobil dan beranjak pergi dari tempat itu.

Seira berjalan menunduk tanpa memperdulikan suasana disekitarnya. Sampai ada seseorang yang menabraknya dengan kasar.

“Mianhae…” Seira menunduk dan meminta maaf, tanpa melihat siapa yang baru saja menabraknya.

Seira hendak menyingkir, namun kaki itu terus mengikuti dan menghalangi langkah Seira. Dengan kesal Seira menengadahkan kepalanya, dan…

Djik!

Satu sentilan mendarat pada kening Seira. “Yaa! Appo!” seru Seira kencang.

“Ssttt… jangan berisik! Kau ingin ada orang yang mengenali kita ya?” orang itu membungkam mulut Seira dengan satu tangannya.

Karena kesal, Seira gigit saja tangan orang itu. Rasakan!

“Appo! Yaa! Yeoja vampir menyebalkan!”

“Mwo? Yaa! Heechul oppa yang duluan jahat padaku!”

Hyeh, Heechul baru menyadari perbuatannya pada Seira. Jika dipikir ulang, Seira memang benar. Heechul-lah yang terlebih dulu memukul kening Seira. Sebenarnya Heechul tidak berniat memukul pada awalnya, namun tangannya tidak dapat diajak diskusi. Setiap melihat Seira, hal yang paling ingin Heechul lakukan adalah mengusap kepala Seira. Tapi karena grogi, maka usapan itu akan berubah menjadi pukulan pelan dengan seketika.

“Sudahlah, aku malas bertengkar denganmu.” Heechul memanyunkan bibirnya, kemudian menarik tangan Seira hingga masuk ke dalam pagar rumah.

Seira terdiam, menyadari kini tangannya masih ada didalam genggaman Heechul. Tangan Heechul itu selalu terasa dingin, bercampur dengan tangan Seira yang juga dingin akibat tidak terbiasa. Perlahan Seira mulai melepaskan genggaman tangannya.

“Sei-ya, aku punya sesuatu untukmu.” Heechul menggaruk belakang kepalanya karena jantungnya yang mulai berdetak kencang.

“Mwo?” tanya Seira acuh. Mungkin Heechul akan memberikan sesuatu pada Seira. Mengingat jika Heechul sudah kembali dari Indonesia.

“Ini…” Heechul memberikan sebuah kotak kaca pada Seira.

“Permen?” Seira memperhatikan kembali kotak tersebut. Kotak yang tidak terlalu besar, dan didalamnya terdapat permen warna-warni.

“Permen itu sangat lucu bukan? Kekeke~” tanya Heechul dengan wajah (sok) aegyo, membuat Seira menahal mual.

“Yaa! Heechul oppa jangan bercanda lagi,” ujar Seira dengan wajah datar. “Dengar ya oppa, semua permen itu sama. Tidak ada yang istimewa, jadi untuk apa kau memberikanku permen seperti ini?”

“Aissh, jinjja. Kau benar-benar keterlaluan! Aku sengaja memberikanmu permen itu, langsung dari Bandara sebelum aku kembali ke Dorm.”

“Mwoya?” Seira memperhatikan Heechul dengan teliti, dan ternyata benar, Heechul terlihat sangat lelah dan sedikit kusam.

Jika ada kekasih paling tidak peka sedunia, mungkin Seira-lah pemenangnya. Heechul selalu menghela nafas karena ulah kekasihnya itu. Berkali-kali Heechul mencoba jujur, namun hasilnya sama, Seira tetap menganggapnya tidak serius. Atau Heechul harus berteriak pada dunia bahwa ia sangat menyukai Seira? Ah ani, jika itu sampai terjadi, maka Seira akan menghinanya seumur hidup. Mau ditaruh dimana wajahnya yang sangat tampan ini?

“Jadi oppa baru tiba di Korea?” Seira menurunkan intonasi suaranya karena merasa sedikit bersalah. Seira tidak menyangka bahwa Heechul akan menemuinya langsung dari Bandara.

“Tentu saja. Kau pikir aku habis dari mana, hah? Sebenarnya permen itu hanya alasan, aku baru membelinya tadi di Bandara. Aku sengaja datang ke rumahmu karena merasa rindu padamu setengah hidup! Aku bahkan belum mandi sejak kemarin. Yaa! tidak adakah sedikit rasa kasihan untukku!” seru Heechul galak. Heechul tidak dapat membohongi perasaannya lagi. Mulai detik ini, Heechul bersumpah akan mengatakan segala perasaannya dengan jujur. Jujur saja Seira tidak dapat membaca hatinya, apalagi jika Heechul memendam perasaannya?

“Gomawo…” Seira membuka kotak tersebut, lalu mengambil satu permen berwarna pink dan memakan permen tersebut. “Permen ini enak,” seru Seira dengan wajah riang.

Heechul memandang gadisnya, perlahan rasa kesalnya mulai menghilang. “Yaa! Jangan bersikap menyebalkan lagi padaku, atau…” Heechul menghentikan kalimatnya.

“Atau?”

Heechul mendekatkan tubuhnya pada Seira, lalu mengusap kepala Seira dengan kencang. “Atau… aku akan mengurungmu seumur hidup, hingga kau tidak bisa lari dariku!” ancam Heechul sadis.

“Andwae!”

“Kekeke~”

*****

…June 9th, 06.30 AM…

 

Brak!

Pintu kamar Seira terbuka dengan kasar. Ini masih sangat pagi, dan Dara eonnie sudah mengganggu Seira dengan bantingan kencang. Nyaris saja Seira melompat dan jatuh dari kasur seandainya tidak ada guling besar yang menghalanginya.

“Yaa! Eonnie!” seru Seira kencang. Merasa bahwa semua orang dirumah ini sangat senang menindas Seira.

Dara tidak menghiraukan Seira, yang kini Dara lakukan adalah membuka lemari pakaian Seira dan mengambil sebuah koper besar yang sudah lama tidak terpakai. Dibersihkannya koper tersebut, lalu memasukkan beberapa pakaian Seira ke dalamnya.

“Eonnie,” pekik Seira bingung. Kini rasa kantuknya mendadak hilang. Apa yang sedang eonnie lakukan? Memangnya Seira mau dibuang dari rumah ini?

“Cepat cari paspor dan visa!” perintah Dara, dan membuat jantung Seira berdetak kencang. Memangnya keluarga mereka mau kemana? Kenapa harus menggunakan paspor?

“Hosh, hosh, hosh… eonnie, memangnya kita mau pergi kemana?” Seira mulai mengatur nafasnya yang tadi sempat naik-turun karena Dara eonnie.

Dara menepuk tangannya saat semua persiapan selesai. Lalu memandang Seira dengan gemas. “Yaa! Anak manja, kemarin kau bilang ingin pergi berlibur. Karena eonnie sedang baik hati, maka eonnie kabulkan permintaanmu itu.”

“Jinjjayo?”

Of course, honey!”

“Hwoa, eonnie daebak!!!” jerit Seira senang. Seira segera memeluk dan mencium pipi eonnie-nya itu dengan wajah berbinar.

“Tentu saja, aku ini eonnie paling baik sedunia.”

“Gomawo eonnie…” Seira seakan teringat sesuatu. “Keundae, memangnya kita mau liburan kemana eonnie?”

“Ra-ha-si-a! Nanti jam dua belas, pergilah ke Bandara. Eonnie akan menunggumu disana. Sekarang eonnie ingin ke kantor dulu untuk menyelesaikan sedikit masalah. Pesawat kita akan berangkat sore nanti, ara?”

Seira hanya mengangguk tanda setuju. Kemanapun eonnie mengajaknya pergi, Seira akan menyetujuinya. Asalkan pergi dari Seoul untuk beberapa waktu, itu sudah cukup untuk menyegarkan kembali otak Seira yang sempat menggila karena skripsi.

Untuk beberapa hari ini, Seira akan mengatakan annyeong pada skripsi tercinta. Dan mengucapkan welcome pada tempat yang nanti akan ia kunjungi. Asik, Dara eonnie memang daebak! Ia selalu bisa membuat Seira senang. Meskipun kadang dengan cara yang sederhana.

 

*****

…Incheon Airport…

 

Seira memandang koper yang kini berdiri disebelah kakinya. Tadi eonnie bilang akan menunggu Seira di Bandara, tapi mana? Sudah setengah jam Seira menunggu, dan eonnie belum muncul.

“Hemn…” satu suara menegur Seira dari samping.

Seira menoleh, dan melihat satu sosok yang sangat Seira kenal. Meskipun sosok itu kini telah menjelma menjadi perampok. Memakai masker hitam, kacamata hitam dan syal yang melilit lehernya hingga wajahnya hanya terlihat setengah.

“Heechul oppa…” panggil Seira setengah tidak percaya.

“Sssttt, jangan berisik!”

Seira menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara lagi, ia takut jika Petals akan menusuknya jika tahu siapa yang ada disebelah Seira.

“Apa yang sedang oppa lakukan disini?” bisik Seira.

Heechul tidak menjawab, namun tangannya memberikan sesuatu pada Seira… Tiket ke Paris.

“Mwo?” mata Sera membulat tidak percaya.

“Ayo ikuti aku.”

“Tapi…”

Terlambat! Kini tangan Heechul sudah melingkar di bahu Seira. Dengan tubuhnya yang kecil, tentu saja Seira tidak dapat melepaskan rangkulan Heechul. Lagipula ide Heechul untuk menarik Seira pergi cukup bermanfaat, karena detik berikutnya suara para ELF mulai riuh terdengar.

 

Dara memandang pesawat yang baru saja lepas landas. Sejak satu jam yang lalu, sebenarnya Dara sudah sampai di Bandara, namun ia sengaja tidak menemui Seira. Ia ingin Heechul yang menemui Seira, sesuai dengan janjinya seminggu yang lalu.

Ya, seminggu yang lalu Heechul datang ke kantor Dara. Dengan wajah sedih Heechul meminta Dara agar mengizinkannya mengajak Seira pergi ke Paris. Awalnya Dara sangat tidak setuju, tapi pada akhirnya Dara menyerah. Terlebih saat melihat Seira yang begitu ingin pergi liburan.

“Jika kau sampai menyentuh Seira seujung rambut, akan kubunuh kau… Kim Heechul-ssi!” ancam Dara dengan nada angkuh.

Heechul tertawa saat mendengar ancaman Dara. Jika Dara mengatakan hal tersebut, bukankah tandanya ia setuju dengan ide Heechul?

“Jika adikku sampai tersesat lagi, matilah kau!!!” Dara kembali mengancam Heechul.

“Gomawo, Dara-ssi.”

Saat mengizinkan Heechul untuk mengajak Seira, Dara kurang menghitung resiko yang lainnya. Yaitu masalah appa dan eomma. Appa sangat marah saat mendengar perkataan Dara.

“YAA! KIM SANDARA, APA YANG SUDAH KAU PERBUAT?!” suara appa meninggi dan terdengar sangat kesal.

“Aissh, appa. Aku hanya ingin Seira berlibur, apa itu salah?”

“Tentu saja salah. Adikmu itu masih kecil, dan kau membiarkan ia pergi berdua dengan Heechul, ke Paris!”

“Memangnya kenapa kalau ke Paris? Bukankah semua tempat liburan itu sama saja?” ujar Dara enteng.

“Paris itu kota yang romantis, bagaimana jika Heechul menggunakan kesempatan itu untuk merayu Seira. Aissh, jinjja!” Appa menggaruk rambutnya frustasi. Heechul yang seorang idola tentu memiliki banyak wanita didalam hidupnya. Mr. Kim sangat khawatir akan hal itu,

“Appa jangan berlebihan. Heechul tidak akan berani berbuat jahat pada Seira, karena aku sudah mengancamnya.”

Eomma, sejak tadi eomma hanya diam saja. Tapi karena kalimat terakhir dari appa, eomma jadi ikut buka suara. “Yaa! Mr. Kim, kau itu sangat tidak berjiwa muda rupanya. Lihatlah Heechul… dia dan Seira hanya berstatus pacaran, namun ia sudah mengajak Seira pergi ke tempat yang sangat romantis. Sedangkan kau? Kau tidak pernah mengajakku ke tempat romantis seperti itu!”

Perlahan Dara mulai mundur dan pergi dari pertengkaran kedua orang tuanya yang sangat tidak penting. Yang salah dari kedua orang tuanya adalah, kadang senang bersikap childish. Sangat mirip dengan sifat Seira.

*****

…Paris…

 

Seira merenggangkan tubuhnya yang terasa sakit. Selama dua belas jam perjalanan harus ia tempuh hanya untuk liburan. Jika ia tahu akan sesakit ini, lebih baik Seira tinggal dirumah saja.

Tadi malam saja kaki Seira terasa mati rasa. Ditambah dengan telepon dari Dara eonnie yang mengatakan jika Seira harus berdamai dengan Heechul selama berada di Paris. Karena Dara tidak dapat ikut Seira pergi. Yaa! Seira merasa dijebak!

Morning…” sapa Heechul dari beranda kamar sebelah, saat Seira bangun dan berniat membuka pintu kamar hotelnya.

“Ne,” jawab Seira singkat.

Heechul tersenyum melihat wajah Seira yang matanya masih membengkak karena kurang tidur. Seperti apapun wajah Seira, Heechul tetap menyukainya. Wajah yang tidak pernah pergi dari pandangan Heechul.

“Yaa! Berhenti memandang wajahku, Kim Heechul-ssi!” sindir Seira tajam.

“Hahaha, jadi kau masih merasa kesal padaku?”

“Tentu saja, oppa dan eonnie memang senang menindasku. Kalian berdua sengaja menjebakku sampai seperti ini kan?!”

“Menjebak?” Heechul merasa bingung dengan pemilihan kata Seira untuk menggambarkan situasi mereka saat ini. Menjebak? Aissh, jinjja! Jika ada orang lain yang mendengar, pasti akan berpikir negatif. Heechul itu bukan penculik yang sengaja menjebak Seira untuk meminta uang tebusan bukan?

*****

…La Zenith de Paris…

 

Hari kedua SM Town Live in Paris. Seira memandang panggung yang mulai dipenuhi dengan balon dan semua SM family [Super Junior, TVXQ, SHINee, F(X), SNSD] berkumpul di satu titik untuk mengucapkan salam perpisahan kepada para penggemar mereka di Paris.

Heechul mengalihkan pandangan disekitarnya, dan kini matanya jatuh pada satu sosok yang perlahan pergi dari sisi panggung.

Seira merasa lelah, ia ingin kembali ke hotel dan merebahkan kakinya pada sofa. Sudah dua hari ini Seira terus mengikuti Heechul pergi. Sungguh Seira merasa bosan, untuk apa ia melihat aksi panggung Heechul saat menjadi Lady HeeHee. Aissh, Seira sangat membencinya. Seira sangat takut jika ia kembali membenci Heechul hanya karena penampilan aneh Lady HeeHee.

“Sei-ya…” Heechul menarik tangan Seira hingga membuatnya menepi ke belakang panggung.

“Oppa, kenapa kau ada disini? Bukankah acaranya belum selesai?” Seira bertanya bingung.

Heechul melepaskan genggamannya. “Jika kau ingin aku fokus menjalankan sesuatu, maka berhenti membuatku khawatir! Berhenti pergi dari pandanganku secara diam-diam! Kau…”

“Hyung,” panggil satu suara dari belakang Heechul.

Seira melihat siapa yang memanggil, ternyata adalah Choi Minho. Omoo, baru kali ini Seira melihat Minho secara langsung. Ternyata jika dilihat dari dekat seperti ini, Minho tampan juga.

“Minho-ya, sedang apa kau disini?” tanya Heechul sinis karena melihat tatapan Seira yang berubah baik saat melihat Minho.

“Aku yang harusnya bertanya. Kenapa hyung ada disini? Acaranya belum selesai hyung,” ucap Minho gemas.

“Aku bosan.”

Minho memicingkan matanya, kemudian melihat Seira dengan pandangan menyelidik. Siapa gadis yang sedang bersama Heechul? Kenapa Minho baru melihat gadis itu sekarang?

“Hyung, siapa gadis itu?” tanya Minho curiga.

“Kim Seira, dia adalah yeojachinguku. Memang kenapa? Tidak boleh?!”

“Omoo~” Minho menutup mulut agar suaranya tidak terdengar kencang. Heechul bilang gadis mungil manis ini adalah kekasihnya, tidak salah? Kenapa gadis semanis Seira mau berpacaran dengan Heechul yang aneh.

“Wae?” sifat Heechul hari ini benar-benar galak.

“Anio hyung. Aku hanya bingung, kenapa gadis semanis Seira mau berpacaran denganmu?” tanya Minho polos.

Plak!

Heechul memukul kepala Minho yang sangat kurang ajar. Yang idola itu Heechul, tapi kenapa yang dipuji justru Seira. “Dia itu lebih dewasa daripada kau, jadi jangan pernah menggodanya!” desis Heechul tajam.

“Jinjjayo? Aissh, aku tidak menyangka. Wajah Seira itu sangat aegyo, aku yakin tidak ada orang yang mengira bahwa usianya lebih dewasa daripadaku.”

“CHOI MINHO!!!” Heechul menggertakan giginya menahan geram. Choi Minho minta dihajar rupanya.

Seira menguap dan matanya mulai memerah menahan kantuk, dengan langkah pelan Seira pergi dari pertengkaran dua orang yang sangat tidak penting. Heechul yang galak, dan Minho yang terlalu polos. Tidak ada yang lebih menyenangkan diantara mereka berdua… (-_-“)

“Seira-ya,” kali ini giliran Changmin yang menegur Seira.

Heechul terdiam, ia tidak menyangka jika tingkat kepopuleran Seira diantara para namja itu sangat besar. “Kau mengenalnya?” Heechul bertanya curiga.

Jika Heechul terdiam, maka Minho malah menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Kesempatan emas ini harus Minho gunakan untuk menyelamatkan nyawanya. “Seira-ya, annyeonggg.” Minho melambaikan tangannya ke arah Seira. Begitu Heechul menoleh, Minho segera berlari dan meninggalkan belakang panggung tanpa pamit pada Heechul.

“Tentu saja hyung. Aku tahu namanya dari Kyuhyun. Dia bilang Seira itu kekasihmu. Aigoo Seira-ya, jika dilihat dari dekat kau itu sangat manis.” Changmin menjawil pipi Seira gemas. Pantas saja Kyuhyun selalu mengatakan jika Seira adalah gadis berwajah aegyo yang bernasib sedikit sial, karena ia berpacaran dengan Heechul yang galak.

“Changmin oppa, jadi apa saja yang sudah Cho Kyuhyun katakan padamu?” tanya Seira penasaran.

“Dia bilang…” Changmin menelan ludahnya dengan kelu, kini tatapan Heechul menerkamnya. Membuat Changmin terkena serangan jantung mendadak.

Seira menyadari bahwa nasib Changmin yang sedang dipertaruhkan disini, jadi Seira berniat menyingkir. Sungguh kasihan jika nasib Changmin harus berakhir ditangan Heechul. “Baiklah, aku pergi dulu oppa…”

“Yaa! Seira jangan tinggalkan aku,” pinta Changmin dengan nada memelas.

“Shim Changmin…” desis Heechul tajam.

“Ampun hyunggg.”

*****

…Tommorow, 02.00 PM…

 

Hari terakhir di Paris. Heechul harus memanfaatkan waktu yang tinggal beberapa jam lagi. Ia ingin mengajak Seira berjalan-jalan mengelilingi kota Paris. Sungguh hari ini adalah kesempatan yang sangat langka.

Heechul mengetuk pintu kamar Seira. Kepala gadisnya itu muncul dari balik pintu, dan masih memasang wajah kantuk.

“Sei-ya…” panggil Heechul.

“Ne…” Seira masih merapatkan matanya kembali.

“Sei-ya…” ulang Heechul.

“Yaa! Oppa!!!” jerit Seira kencang, saat wajahnya diciprati air oleh Heechul. Ternyata sejak tadi, Heechul sudah menyembunyikan satu gelas air dibalik pungungnya. Ia sengaja melakukannya agar Seira mau membuka mata.

“Irona! Jangan tidur lagi, karena aku ingin mengajakmu mengelilingi kota Paris.” Heechul mendorong bahu Seira hingga masuk ke dalam kamar. Heechul segera menyeret bahu Seira hingga ke dalam kamar mandi. “Lima belas menit lagi harus sudah selesai!” perintah Heechul sebelum keluar dari kamar Seira.

“Yaa!” teriakan Seira memenuhi kamar mandi. Bisa tidak Heechul itu diganti dengan Donghae atau Siwon oppa?

Lima belas menit kemudian Heechul benar-benar mengetuk pintu kamar Seira. Heechul sempat menahan nafas karena melihat penampilan Seira siang ini. Memakai T-shirt putih dan rambut disanggul keatas yang memperlihatkan tengkuk jenjang Seira. Membuat penampilan Seira terlihat sederhana namun tetap terlihat cantik. Jika sudah begini, Heechul tidak dapat menyalahkan namja yang terpesona pada Seira.

“Berhenti memandangku, Kim Heechul-ssi!” Seira berkata datar dan segera mengunci pintu kamarnya, lalu berjalan menuju lift dan meninggalkan Heechul yang masih memantung di depan pintu.

Heechul berjalan keluar hotel, dibelakangnya Seira mengekor dan berusaha menutupi wajahnya agar tidak telihat orang. Atau paling tidak, semoga tidak ada orang yang mencurigai Seira.

“Heechul oppa…”

Seira mencari sumber panggilan itu. Seorang gadis berjalan mendekati Heechul. Gadis itu tinggi, bertubuh barbie, cantik. Seira mundur secara perlahan dan menjauh dari Heechul. Ia sangat malu jika disejajarkan dengan gadis itu.

“Yoona-ya.” Heechul melambaikan tangan pada Yoona.

“Oppa, kemana saja.” Yoona menarik tangan Heechul hingga sejajar dengan dirinya. “Ayo kita jalan-jalan.”

“Tapi…” Heechul tidak dapat menolak Yoona, karena dirinya yang tengah berada di tempat umum. Heechul takut jika penolakannya akan menarik perhatian orang banyak. Dengan ujung matanya, Heechul berusaha mencari Seira yang kini berjalan menjauh.

“Fiuuhhh…” Seira berusaha menghirup oksigen yang semakin menipis. Saat di luar hotel seperti ini, udaranya terasa lebih banyak, Seira dapat menghirupnya dengan lega. Sangat berbeda saat berada di lobby hotel tadi.

Seira menoleh kebelakang, berharap bahwa Heechul akan mengejarnya. Setelah sepuluh menit menunggu, Seira menyerah. Harusnya Seira tahu jika akan seperti ini. Seira sadar, amat sadar malah. Apa artinya Seira jika dibandingkan dengan gadis sesempurna Yoona?

“Heechul oppa babo!” ujar Seira pelan. Nyaris saja air matanya meleleh, jika Seira tidak menyadari dirinya yang sedang berada di tempat umum. Seperti ini ya rasanya diabaikan? Hey, kenapa terasa sedikit sakit.

Untuk membuang waktu yang berdetak sangat lama, Seira berjalan mengelilingi kota Paris seorang diri. Seira yakin ia tidak akan tersesat, awalnya…

“Omoo~” pekik Seira saat menyadari jalan yang ada dihadapannya. Jalan yang tadi dipenuhi pertokoan, kenapa sekarang berubah? Tidak ada keramaian lagi, yang ada hanyalah gedung-gedung tua dan pelukis yang berjejer disepanjang jalan.

Seira berlari ke tempat semula, namun tetap tidak ada keramaian itu. Omonaaa, Seira tersesat untuk yang kesekian kali.

Seira berusaha menghentikan taksi yang sedang melintas, namun usahanya terasa sia-sia saat menyadari satu hal. Dirinya tidak membawa tas, handphone, atau uang. Karena Seira pikir ia akan pergi dengan Heechul. Lalu bagaimana Seira dapat kembali ke hotel? Sedangkan Seira tidak bisa berbahasa Perancis, bahasa Inggrisnya saja sangat payah. Seira jadi ingin menangis.

 

Heechul pergi menyelinap saat Yoona masuk kedalam sebuah toko. Heechul tidak memiliki banyak waktu, ia harus menjemput Seira sebelum gadis itu menghilang.

“Aissh, jinjja!”

Seira sudah tidak ada di sekitar hotel. Heechul sangat mengkhawatirkannya. Yang Heechul tahu, tadi Seira tidak membawa tas sama sekali. Jika gadis itu tersesat maka tamatlah riwayat Heechul. Bukan karena Heechul takut pada ancaman Dara, namun Heechul tidak yakin dapat bernafas lega ketika Seira tidak ada. Batas oksigennya tanpa Seira hanya bertahan satu minggu.

“Sei-ya…”

*****

 

Seira berlajan dengan lemas, ia tidak tahu harus berjalan sampai mana. Seingat Seira, ia hanya berjalan disekitar hotel. Kenapa sekarang hotel itu tidak terlihat. Kaki Seira mulai lemas, perutnya lapar dan kepalanya berdenyut kencang.

Diujung jalan sana, ada sekelompok orang yang sedang bermain musik. Karena penasaran, Seira mulai berjalan mendekati. Mereka menyanyikan lagu Bruno Mars – Just the Way You Are secara akustik, membuat telinga Seira sangat nyaman.

Tanpa sadar bibir mungil Seira ikut menyanyikan lagu tersebut, lagu yang sangat indah.

 

When I see your face

There’s not a thing that I would change

Cause you’re amazing

Just the way you are…

 

Seira tersendak ketika mendengar satu suara kencang yang menyanyikan lagu tersebut. Choi Minho?

“Choi Minho?” desis Seira tidak percaya. Ia bertemu dengan Choi Minho disini, itu artinya… Seira tidak perlu khawatir lagi. Ia tidak akan tersesat karena ada seseorang yang ia kenal sekarang.

“Seira-ya,” wajah Minho terlihat bersinar saat melihat Seira ikut berdiri disebelahnya.

“Akhirnya aku bertemu dengan orang yang kukenal disini.” Seira berjalan mendekati Minho. “Minho-ya, tadi aku tersesat…”

“Aigoo, bagaimana bisa kau tersesat?”

“Molla.” Seira menggelengkan kepalanya yang hari ini terasa sangat babo.

“Pantas sejak tadi aku tidak melihatmu.”

Seira menatap Minho dengan puppy eyes miliknya. “Minho-ya, ayo kita pulang. Jebal, aku tidak suka tersesat seperti ini.”

“Itu…” Minho menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. Seira sangat berharap banyak pada Minho sepertinya.

“Mana yang lain?” Seira menyapukan pandangannya, berusaha mencari member yang lain.

“Tidak ada.”

“Ne?” Seira berteriak frustasi.

“Tadi aku berkeliling bersama Jinki hyung, tapi entah kemana ia sekarang. Sepertinya Jinki hyung tersesat.”

Djiks!

Seira tidak dapat menahan tangannya untuk tidak menjitak kepala Minho. Siapa bilang Minho itu tampan? Minho yang sebenarnya itu sangat babo!

“Minho babo, yang tersesat itu kau.”

“Jadi begitu ya, kekeke~” Minho terkekeh pelan. Meskipun kepalanya agak sakit, namun Minho senang bisa melihat Seira disini. Apalagi tersesat berdua dengan Seira. Minho senang.

“Aissh, jinjja! Sekarang harapanku sudah tidak ada lagi,” Seira berjongkok dan menunduk kesal, merasa tidak ada harapan untuk kembali lagi ke hotel. Tersesat bersama dengan namja babo benar-benar menguras otak.

“Tenang saja, aku membawa handphone dan banyak uang. Jadi kita bisa berkeliling kota Paris hari ini,” tawar Minho.

“Kalau begitu kita telepon Heec…” Seira menghentikan kalimatnya. Ia berniat untuk menghubungi Heechul, tapi niat itu langsung Seira batalkan. Ia tidak ingin mengganggu Heechul dan Yoona.

“Telepon siapa?” ulang Minho.

“Ah, ani. Kau benar, kita bisa berkeliling kota Paris hari ini. Aku rasa tersesat bersama member SHINee terdengar sangat keren,” ujar Seira dengan senyum manis. Hari ini lupakan semua masalah, dan tersesatlah Kim Seira.

“Jinjja? Aissh, aegyo Seira…” Minho menarik pipi Seira pelan. Ia sangat gemas dengan wajah tanpa dosa milik Seira.

Are you ready?” Seira memberikan dua jempolnya pada Minho.

Okay!” Minho juga memberikan jempolnya pada Seira.

*****

Tujuan pertama Seira adalah Louvre, sebuah galeri seni yang besar. Disana tedapat berbagai macam benda seni yang menarik. Dari lukisan, keramik, benda-benda seni yang sangat digemari masyarakat kota Paris.

Sepanjang perjalanan, Minho terus memperhatikan Seira. Matanya enggan beranjak dari sosok Seira yang sesekali menoleh ke arahnya dengan senyum lebar. Betapa beruntung Heechul, karena memiliki gadis yang mempesona seperti Seira.

“Lukisan ini sangat bagus…” puji Seira. Dihadapannya kini berjejer lukisan pemandangan yang membuat matanya berbinar.

Pemandangan dengan setting Menara Eiffel, Lembah Khasmir, Himalaya, Fuji, bahkan Nami Island juga ada. Ternyata masyarakat Perancis sangat mencintai kebudayaan.

“Lapar.” Minho memegang perutnya yang terasa sakit karena menahan lapar.

“Na do,” Seira ikut mengeluh, perutnya semakin kencang mengeluarkan suara.

Seira dan Minho memutuskan untuk makan disebuah café bergaya klasik. Perjalanan mereka sebentar lagi, karena jam sudah menunjukkan pukul 06.00 PM. Ada satu tempat lagi yang harus mereka kunjungi sebelum pergi meninggalkan Paris.

“Seira-ya…” Minho ingin sekali menanyakan hubungan Seira dengan Heechul. Ia sangat penasaran bagaimana mereka berdua bisa bersatu hingga satu tahun lamanya.

“Mwo,” jawab Seira sambil memasukkan satu sendok cream soup ke dalam mulutnya.

“Bagaimana hubunganmu dengan Heechul hyung. Ah ani, maksudku bagaimana bisa kau dan hyung… ya… pacaran.”

Seira menengguk secangkir cokelat hangat yang ia pesan. “Hubunganku dan Heechul oppa?”

“Ne,” Minho mengangguk yakin.

“Tidak ada yang istimewa diantara kami. Aku dan Heechul oppa, ya seperti yang kalian lihat.”

“Bagaimana bisa kalian bersama? Menurutku sifat kalian sangat jauh berbeda,” pertanyaan Minho mulai menjurus lebih jauh.

“Mollayo. Aku hanya berjalan sesuai dengan apa yang ada dihadapanku.” Mata Seira memanas, mendadak pemandangan di lobby hotel tadi melintas. Yoona hanya satu dari sekian banyak gadis yang digosipkan dengan Heechul. Seira tahu Heechul asli bukanlah namja yang suka pada banyak gadis. Heechul hanya menganggap mereka sahabat. Tetapi di Paris ini, ada banyak fans SoHeeChul. Tadi saja Seira melihat poster bergambar SoHeeChul. Dibanding Yoona, Seira lebih takut pada Sohee. Gadis tinggi yang sangat cantik itu benar-benar cocok dengan Heechul.

“Seira-ya,” Minho menyadarkan Seira dari lamunannya.

“Jika suatu saat nanti Heechul oppa pergi dariku, mengatakan selamat tinggal padaku, maka aku juga akan menerimanya…” Lirih Seira mengatakan perasaannya pada Minho. Ia tidak yakin dapat memendamnya sendiri. Seira takut, ia takut tidak dapat menahan perasaannya pada Heechul.

Minho mengusap kepala Seira, merasa ada sesuatu yang Seira sembunyikan.

“Jangan memendam sesuatu sendiri. Kau bisa sakit karenanya,” ujar Minho lembut. Minho tidak ingin ikut campur hubungan orang lain, ia hanya ingin memberi semangat pada Seira.

“Dongsaeng-ya, gomawoyo…”

“Jangan panggil aku dongsaeng. Aku itu bukan adikmu, ara? Lagipula wajahmu terlihat lebih muda daripadaku,” ucap Minho dengan wajah memerah.

“Yaa! Jangan memasang wajah seperti itu, kekeke~”

“Kim Seira menyebalkan,” bisik Minho, kemudian satu senyuman malu terukir diwajahnya.

*****

…07.00 PM…

 

Heechul meminta manajer Hwan untuk mengantarnya berkeliling kota Paris. Harusnya mudah menemukan Seira di tempat yang tidak telalu besar seperti Paris. Kenyatannya, sudah tiga jam Heechul mencari Seira tanpa membuahkan hasil.

“Aissh, jinjja!” Heechul mengacak rambutnya frustasi.

“Heechul-ssi, jangan seperti itu. Kita pasti bisa menemukan Seira,” manajer Hwan berusaha menenangkan Heechul.

“Kau tidak akan mengerti! Gadis itu tidak tahu jalan. Menghapal jalanan di Seoul saja ia tidak mampu, apalagi tempat asing seperti ini.” Heechul kembali mengingat kejadian Seira yang tersesat di Ansan. Itu baru Ansan, masih kota Seoul. Bagaimana dengan Paris? Heechul tidak yakin jika Seira mampu menemukan jalan kembali ke hotel. Yang membuat Heechul gila, Seira pergi tanpa uang dan handphone.

“Aku juga mencemaskannya. Ia sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Para member yang juga cemas, ara? Kau pikir dengan sikap temperamen seperti itu Seira akan muncul dengan tiba-tiba?”

Heechul terdiam. Harusnya ia tahu jika manajer Hwan juga mengkhawatirkan Seira, bukan hanya dirinya sendiri. Leeteuk dan Yesung juga ikut mencari Seira. Mereka sengaja menyebar agar Seira cepat ditemukan.

“Manajer Hwan, aku merasa lelah,” ujar Heechul tiba-tiba.

“Ne?”

“Aku lelah, aku ingin berdiam diri sejenak. Aku ingin keluar dari mobil ini.”

Heechul berjalan sendiri mengitari taman, sedangkan manajer Hwan menunggu di mobil. Heechul membayangkan lagi kejadian tadi. Saat Yoona menarik tangannya, dan membuat Heechul terlepas dari pandangan Seira untuk yang kesekian kali.

Lagi-lagi Seira lepas dari genggaman Heechul. Seira meninggalkannya, dan itu membuat Heechul merasa bersalah. Jika Yoona bukan sahabatnya, mungkin Heechul akan membentak gadis itu karena berani membuat Seira terluka.

Tidak banyak yang dapat Heechul berikan pada Seira. Sifat galak, temperamen, rumor dengan banyak wanita. Semua yang mengitari hubungan mereka hanya menambah rasa sakit Seira. Jika Seira selalu menampakkan sifat dingin dan tidak peduli, itu hanyalah akting. Heechul tahu Seira yang sebenarnya. Gadis polos dengan pemikiran yang sangat sederhana.

Yoona adalah teman baik Heechul, Seira mungkin mengetahuinya. Sohee idola Heechul, Ia juga yakin jika Seira sangat memahami hal itu. Tapi ada satu hal yang tidak Seira tahu. Bahwa kenyatannya, hanya Seira-lah yang paling istimewa dihati Heechul. Seira adalah sahabat, idola, sekaligus orang yang paling Heechul cintai didunia ini. Sangat disayangkan, Seira tidak tahu kenyataan yang satu itu.

“Sei-ya, mianhae…”

*****

…Menara Eiffel, 20.00 PM…

 

Menara Eiffel, I’m coming…” Seira membuka tangannya lebar, merasakan hembusan udara segar yang meliputi sungai Seine.

“Na do…” Minho ikut berteriak.

Hah, Seira menghembuskan nafasnya jengah. Ditempat seromantis ini, Seira harus melewatinya bersama dengan Minho, bukan Heechul. Bagaimana bisa takdir berjalan seperti itu pada Seira.

“Mianhae,” ucap Minho lembut, matanya terus menatap Menara Eiffel tanpa berkedip.

“Mwo?”

“Mianhae. Harusnya Heechul hyung yang berada disisimu, bukan aku. Ah, atau aku telepon Heechul hyung saja.” Minho berusaha mengambil handphonenya didalam saku jaket.

“Hajima,” cegah Seira.

“Ne?”

“Hari ini aku kan sedang tersesat bersama Choi Minho, bukan Kim Heechul.”

Minho terkekeh pelan, dan kembali memasukkan handphonenya. Jika saat ini Minho yang Seira butuhkan, maka Minho rela melakukannya.

“Kau haus tidak?” tanya Minho pada Seira, mengingat jika mereka berdua harus berjalan kaki selama lima belas menit untuk sampai di Menara Eiffel.

Seira menganggukan kepala.

“Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan membeli minuman untukmu.” Minho berjalan ke belakang, berusaha mencari penjual minuman.

Seira mengalihkan kembali pandangannya pada Menara Eiffel. Sampai ada satu tepukan yang mendarat dibahunya. Seira menoleh.

“Seira-ya, pakai ini. Nanti kau bisa sakit jika terkena udara dingin.” Minho yang tadi berjalan menjauh kini kembali mendekat. Dilepaskannya jaket yang ia pakai, kemudian memberikan jaket itu pada Seira.

“Gomawo…”

Minho membalas dengan flaming charismatic miliknya.

Seira kembali menatap Menara Eiffel yang berdiri tegak dan menyinari sekitar sungai Seine yang gelap. Seira sangat menyukai Menara Eiffel, ia berharap bisa melihatnya sejak kecil. Bukan karena Menara Eiffel itu romantis, melainkan karena sejarahnya.

Menara yang dibangun oleh seorang bernama Gustave Eiffel pada tahun 1887-1889. Pada awal pembangunannya, Eiffel mendapat banyak kritikan dari masyarakat. Siapa sangka jika Menara Eiffel yang dulu dibenci, kini menjadi salah satu kebanggaan masyarakat kota Paris. Semua orang harus berterima kasih pada Gustave Eiffel.

Seira tersenyum memandang karya indah dihadapannya. Eiffel saat malam hari benar-benar cantik, dipenuhi oleh lampu berwarna kuning yang membuatnya bersinar seperti emas.

“Eiffel…” Seira berkata lirih, matanya masih sibuk mengagumi Eiffel.

“Sei-ya… bongoshipo…”  satu suara berteriak memanggil nama Seira. Seira menoleh mencari sosok itu. Dan ternyata, suara itu berasal dari jarak tiga puluh meter. Suara seorang namja.

“Heechul oppa…” Seira terpaku memandang sosok yang kini juga menoleh ke arahnya.

“Mwo, Sei-ya!” Heechul berjalan mendekati Seira. Dengan perlahan Heechul meraih pundak Seira, dan membenamkan Seira kedalam pelukannya.

“Yaa! Heechul oppa!” Seira berusaha melepaskan pelukan Heechul. Heechul oppa sialan! Ia sengaja mengambil kesempatan untuk memeluk Seira.

“Diam!” seru Heechul galak. Untuk satu menit, Heechul ingin menumpahkan rasa rindunya pada Seira.

“Aissh, jinjja! Kau mau membuatku mati karena kehabisan nafas ya oppa!” omel Seira setelah Heechul melepaskan pelukannya. Heechul tersenyum ke arah Seira, namun ada satu titik yang mengalir diujung mata Heechul. Seira terdiam, speechless.

“Akhirnya aku menemukanmu.”

“Yaa! Aku tidak akan hilang semudah itu, arasseo?” Seira berkata dengan nada sinis.

“Arayo…” Heechul kembali menatap Seira dalam dan dengan senyuman lega. Inilah Seira, gadis dingin yang selalu membuat Heechul jatuh cinta. Meskipun saat itu Seira sedang memarahinya.

Dari balik pohon, Minho menatap Heechul dan Seira dengan lega. Sepertinya Minho harus menyingkir, ia ingin memberikan waktu agar mereka berdua segera menyelesaikan masalah. “Seira-ya… aku pergi,” Minho berkata pada dirinya sendiri.

“Oppa, gwaencahana?” Seira rasa ada yang salah pada otak Heechul saat melihat air mata Heechul yang mengalir.

Chu!

Bukannya menjawab, Heechul malah mendaratkan satu ciuman dipipi kiri Seira. Kini kedua pipi Seira benar-benar telah ternoda oleh Heechul.

“Yaa! Oppa!” Seira mengusap pipinya dengan kasar, semoga ciuman Heechul tidak pernah membekas dipipinya. Huwee, ada yang asin dimulut Seira saat mengusap pipinya, mungkin itu adalah air mata Heechul.

Seira menginjak kaki Heechul kencang, namun Heechul tidak membalas. Yang ia lakukan hanya diam, dan merangkul bahu Seira dari belakang hingga Seira sesak nafas.

“Kau marah karena aku pergi dengan Yoona?” tanya Heechul tepat ditelinga Seira.

“Anio, aku tidak memikirkan hal itu!” Seira mengalihkan pandangan hingga wajah Heechul kini tepat dibelakang kepalanya.

“Mianhae, jeongmal mianhaeyo…”

“Untuk apa?”

Heechul menepuk kepala Seira pelan. “Aku salah, aku tidak pernah menjaga perasaanmu. Aku selaluuu saja membuatmu pergi dariku. Jika kau tersesat dan tidak dapat ditemukan, mungkin aku akan meninggalkan Korea dan menetap di Paris.”

“Cissh, jangan berlebihan oppa!” desis Seira angkuh.

“…”

“Ah, aku tahu. Oppa ingin menikah dengan wanita Perancis kan?” tebak Seira asal. Kemarin saat konser Heechul mengatakan jika ia sangat mengagumi wanita Perancis.

“Aissh, jinjja! Jika kau tidak ditemukan, tentu aku akan tinggal di Paris untuk mencarimu, bukan menikah dengan wanita Perancis.”

Seira menyipitkan mata, merasa curiga dengan Heechul. “Tidak usah sok baik padaku oppa. Tadi siang saja kau meninggalkanku!” sindir Seira tajam.

“Mianhae, aku terpaksa pergi dengan Yoona.”

“Tapi oppa senang kan? Sudahlah mengaku saja!”

“Aku benar-benar terpaksa.”

Seira melebarkan matanya kesal. “Jika oppa merasa senang juga tidak apa-apa, itu bukan urusanku!”

“Aigoo, anak ini sangat menyebalkan! Kalau begitu akui saja jika kau cemburu pada Yoona,” Heechul membalas perkataan Seira yang terdengar sinis.

“Na?” Seira menunjuk dirinya sendiri.

“Iya, kau! Nona Kim Seira!” Heechul menunjuk kening Seira dengan jarinya.

“Aku tidak cemburu. Aku malah senang jika oppa pergi bersama Yoona. Dengan begitu aku bisa berkeliling kota Paris sendiri tanpa ada yang mengganggu.”

“Kau berkeliling kota Paris?”

“Ne, memang kenapa?!” ujar Seira galak.

Heechul menggaruk kepalanya. “Tapi kau kan tidak membawa uang. Memang kau mengelilingi kota Paris dengan berjalan kaki?”

“Ani…”

“Lalu?”

“Tadi aku berkeliling kota Paris bersama Minho,” jawab Seira polos, tanpa melihat wajah Heechul yang berubah merah menahan kesal.

“Minho, Choi Minho?!” Heechul berusaha menahan emosinya.

“Ne, Choi Minho.” Detik berikutnya Seira seakan teringat sesuatu. Minho, tadi ia bilang ingin membelikan minum padanya. lalu kenapa sampai detik ini belum muncul. “Oppa, Minho tersesat lagi. Tadi ia bilang ingin membelikan minum untukku, kenapa sampai sekarang ia belum kembali?”

“Biar saja Minho menghilang,” ujar Heechul datar.

“Yaa! Oppa, kau itu harusnya berterima kasih pada Minho. Karena dia, aku jadi tidak tersesat sendiri.”

“Memangnya kau tersesat berdua dengannya?”

“Tentu saja, kau pikir kenapa sampai detik ini kami belum kembali ke hotel. Itu semua karena kami berdua tersesat!”

Heechul meninggikan alisnya. Bagus, sekarang Seira dan Minho tidak hanya saling mengagumi, namun juga tersesat berdua. Dan mereka melewati satu hari ini bersama. Heechul benar-benar kalah telak oleh Minho.

“Kalian kemana saja selama tersesat?!”

“Kami pergi ke galeri seni, makan sore, lalu berjalan kaki selama lima belas menit ke Menara Eiffel,” jawab Seira jujur.

“Bagus, berapa lama waktu yang sudah kau lewati bersama Minho?” suara Heechul mulai meninggi.

Seira baru menyadari bahaya yang ia perbuat sendiri. Seira benar-benar lupa jika Heechul itu pencemburu. “Ah oppa, aku hanya berjalan-jalan sebentar. Setelah itu kami hanya duduk disekitar sini. Hanya sebentar, op-pa…”

“Duduk berdua disini? Di tempat romantis seperti Menara Eiffel?!”

Seira berjalan mundur karena Heechul yang semakin mendekatinya. Atau Seira berteriak saja minta pertolongan orang lain?

“Op-pa…” Seira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Seira takut Heechul akan kembali menghukumnya.

Heechul mendekat dan berdiri dibelakang Seira. Kemudian tangan Heechul menjuntai dan menarik bahu Seira dalam rangkulannya.

“Yaa! Lepaskan!!!”

“SHIREO! Ini adalah hukuman untukmu!”

“Ohokkk…” Seira merasa Sesak nafas, namun Heechul tidak juga melepaskan rangkulannya. “YAA! HEECHUL OPPA BABO!!!”

*******