Tittle      : 5 Years Love

Author   : violetkecil

Rating    : General

Genre     : Romance

Length   : Oneshot

Cast       : Cho Kyuhyun, Lee Minah, Min Hyorin

Lorong itu masih sama.

Di sini aku berdiri sama seperti lima tahun yang lalu. Menatap lorong-lorong sepi melalui sisi hatiku. Lima tahun yang lalu aku hanya berani menatapnya dari jauh. Hanya berharap dia menyadari keberadaanku tapi tanpa berani mendekat. Kulihat langit mulai mendung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Namun sedikit pun aku belum beranjak dari tempatku berdiri. Pikiranku melayang entah kemana.

Aku menggelengkan kepala untuk menepis semua kenangan itu. Tapi semuanya sia-sia. Mendung kali ini membuka semua pintu kenangan itu.

Mendung dan hujan. Saat dimana terakhir kali aku dapat melihatnya. Dia berdiri di depan gedung itu sambil menatap rinai hujan yang jatuh perlahan. Aku pun melakukan hal yang sama. Kulihat dia bersandar pada salah satu pilar. Matanya terus menatap rintik hujan. Sepertinya dia berharap hujan segera reda. Tapi aku tidak, aku justru berharap hujan itu tidak cepat reda. Satu menit saja lebih lama hanya agar aku bisa menatapnya. Tapi Tuhan berkata lain, hujan reda dan kulihat dia bergegas pergi. Tanpa kuduga dia menoleh ke arahku dan tatap matanya membuatku terpaku. Dia bahkan tidak tersenyum dan berlalu begitu saja.

Bagaimana bisa dia pergi begitu saja meninggalkan aku yang tengah sibuk menenangkan detak jantungku dan mengatur napasku. Kau tahu, inilah rasanya mencintai diam-diam. Hanya mampu menatap tanpa berani menggapainya. Hanya mampu merasakan tanpa mengatakannya. Menyedihkan memang tapi aku menerimanya.

Lamunanku berhenti ketika seseorang menepuk pundakku.

“Ayo kita pulang. Bukankah semua urusanmu sudah selesai?”

“Iya, baiklah,” sahutku. Hyorin sahabatku sangat baik mau menemaniku mengurus beberapa hal di sekolahku ini. Sepanjang perjalanan menuju apartemen aku lebih banyak diam. Hyorin pun tidak bertanya. Dia mungkin sudah tahu suasana hatiku saat ini.

“Kita sudah sampai.”

“Terima kasih Hyorin. Kau mau mampir dulu?”

“Lain waktu saja. Telepon aku jika ada yang kau perlukan.”

“Baiklah, sekali lagi terima kasih ya.”

“Iya, sama-sama.”

Aku langsung menuju apartmenku dan bergegas menuju kamar tidur. Aku merasa sangat lelah hari ini dan hari-hari yang mungkin akan lebih melelahkan baru akan dimulai. Ini hari keduaku di Seoul setelah  lima tahun meninggalkan kota ini. Ada banyak yang telah berubah. Aku pun sudah berubah. Dari gadis polos yang mencintai seseorang diam-diam menjadi seorang yang bertekad tidak ingin mencintai seorang pun lagi. Buat apa mencintai jika hanya membuat luka. Kata-kata itu terlanjur mengakar kuat di hatiku.

Aku sudah terluka jauh sebelum aku tahu cinta itu apa. Semuanya berawal dari kepergian ibuku dua tahun yang lalu. Ibu pergi selama-lamanya membawa luka yang dia pendam sendiri. Dan sosok pria yang selama ini aku hargai, seorang ayah yang nyatanya lebih memilih pekerjaannya. Dia bahkan tidak terlihat sedih saat ibu pergi. Ayah seperti apa yang membiarkan istrinya terluka dan kemudian bahkan tidak menghiraukanku. Dua tahun ini ayah hanya memberiku semua fasilitas lengkap tapi tanpa cinta dan kasih sayang sedikit pun.

Dan di sinilah aku sekarang. Menjauh darinya. Semuanya. Meninggalkan semua masa lalu jauh di belakangku. Aku mengusap air mata yang tanpa kusadari jatuh. Sudahlah, aku harus kuat. Aku akan memulai hidupku yang sesungguhnya besok. Semoga penuh pengharapan dan kebahagiaan.

***

Mama says that happiness is from magic rays of sunshine that come down when you are feeling blue (The Waterboy, 1998).

Pagi yang cerah. Aku menggeliat di atas tempat tidurku. Kulihat jam di dinding ternyata sudah menunjukan jam enam pagi. Aku beranjak dari tempat tidur dan membuka tirai jendelaku. Sinar hangat matahari pagi menerobos masuk, menyentuh setiap sisi ruang yang kosong. Aku menghirup udara dan memenuhinya di rongga paru-paruku. Sejuk.

“Ayo semangat!!!” teriakku.

Aku pun bergegas menyiapkan diri dan keluar dari apartemen menuju restoran kecil yang ada di depan apartemenku. Aku memesan secangkir susu coklat hangat dan roti bakar. Aku sarapan pagi sambil melihat berkas dan buku yang aku bawa untuk persiapan kuliahku hari ini. Tanpa sadar aku bertemu pandang dengan seorang pria yang duduk di seberangku.

Tatapan mata itu hangat dan begitu aku kenal. Tapi aku tidak bisa melihatnya lebih jelas karena dia buru-buru memasang kacamata hitamnya dan berjalan keluar restoran.

***

“Bangunlah! Ketika kau bermimpi, raihlah! Mimpimu menunggu menjadi kenyataan.”

“Hyorin-a, kau ada waktu luang kan hari ini? Aku tunggu di café bisaa ya?”

“Iya.”

Aku menunggu kedatangan sahabatku itu sambil membaca novel. Hari ini aku senang sekali. Aku diterima mengajar piano di salah satu perusahaan manajemen artis. Setidaknya itu akan menambah penghasilanku selain dari usaha butikku di London. Dan kali ini aku akan mentraktir Hyorin.

“Minah, maaf aku terlambat.”

“Iya, tidak apa-apa. Kau darimana tadi? Apa yang kau bawa?”

“Dari tempat temanku mengambil majalah ini. Mau lihat? Ada artikel dan foto-foto Super Junior loh. Mereka keren semua loh,” kata Hyorin sambil menyodorkan majalah itu kepadaku.

“Super Junior?” tanyaku ragu.

Hya!!! Kau tidak tahu tentang mereka?”

Aku menggelengkan kepala, “Aku pernah mendengarnya tapi tidak tahu pasti,” jawabku polos. Aku hanya tahu bahwa orang yang dulu aku suka merupakan salah satu anggota grup itu dan aku tidak pernah berkeinginan untuk mencari tahu lebih.

“Kau ini,” kata Hyorin kesal sambil menjitak kepalaku.

Aduh… sakit!” teriakku.

Hyorin pun langsung menjelaskan panjang lebar kepadaku sambil menunjuk foto-foto yang ada di majalah itu. Aku mendengarkannya dengan malas. Selama lima tahunku di London aku menutup semua hal yang berhubungan dengan orang itu. Dan itulah alasannya aku tidak tertarik sedikit pun dengan grup itu.

“Tunggu sebentar,” selaku. Tanpa bisa aku hindari mataku terpaku pada sosok itu.

“Ada apa?” tanya Hyorin bingung karena melihatku terdiam.

“Tidak apa-apa” jawabku. Aku sekilas membaca artikel yang tertulis. Ya, itu memang dia. Cho Kyuhyun yang aku kenal. Tidak banyak hal berubah darinya. Lima tahun sudah berlalu dan aku masih merasakan jantungku berdetak sama cepatnya seperti saat itu.

“Minah, kau baik-baik saja?” tanya Hyorin sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku. “Kau mengingatnya lagi? Cho Kyuhyun yang sekarang adalah anggota Super Junior? Apakah kau masih tetap memendam perasaan yang sama seperti lima tahun lalu?” tanyanya menginterogasiku.

“Sudahlah. Hal itu tidak penting. Kita di sini bukan untuk membicarakan hal itu,” kataku sambil menutup majalah di depanku.

“Hyorin, aku diterima kerja di tempat yang aku ceritakan kemarin,” lanjutku mengalihkan pembicaraan.

“Benarkah? Selamat ya,” kata Hyorin sambil menjabat tanganku. “Tapi apakah kau tahu bahwa itu agensi yang sama dengan …” Hyorin ragu melanjutkan kata-katanya.

“Ya, aku baru saja tahu dari majalah yang kau bawa,” jawabku singkat sambil meminum coklat hangat yang tadi aku pesan.

“Apakah tidak apa-apa?” tanya Hyorin khawatir.

“Tenang saja. Aku sudah menutup rapat hatiku. Aku bukan lagi aku yang dulu,” jawabku meyakinkannya.

“Tapi kau tidak harus memaksakan diri. Bukankah penghasilanmu dari usaha butik sudah lebih dari cukup?” tanya Hyorin lagi.

“Aku hanya ingin mencari kegiatan baru,” jawabku santai.

Hyorin tampak sangat mengkhawatirkanku, tapi tenang saja. Aku akan mengendalikan semua perasaanku. Aku melupakan semua hal yang menyakitkan hatiku. Aku harus memulai semunya dengan baru, batinku.

***

Aku menghempaskan tubuhku di sofa kamarku. Hari ini aku mendengar suatu hal yang tidak pernah aku duga. Aku tidak sengaja bertemu Hyorin teman sekolahku dulu di rumah sakit tempat aku memeriksakan kesehatanku rutin. Ternyata dia sedang menjenguk Minah yang sedang sakit. Hyorin bilang kalau radang ususnya kambuh lagi dan sekarang semakin parah.

“Kenapa gadis itu begitu lemah? Apakah hal tersebut yang membuatnya terlihat begitu murung? Sebulan ini aku diam-diam memperhatikannya dan dia berbeda dengan dulu. Senyuman yang sangat aku suka itu seperti menghilang,” gumamku.

Aku beranjak menuju laci dan mencari album foto itu. Album itu masih tersimpan rapi. Aku membuka lembar demi lembar. Melihatnya membuatku tersenyum. Senyum itu sangat hangat seperti hangatnya sinar matahari pagi. Aku berhenti pada lembar terakhir, sebuah foto yang terakhir kuambil, senyuman terakhir yang kulihat.

Aku ingat hari itui untuk kesekian kalinya aku mengambil fotonya secara diam-diam. Saat pulang sekolah kulihat dia sedang menatap rintik hujan yang jatuh. Aku bergulat sendiri dengan perasaanku, aku ingin menghampirinya, aku ingin mengatakan semua perasaanku selama ini kepadanya, tapi aku tidak bisa. Aku sempat bertemu pandang dengannya dan hal itu justru membuatku mengurungkan niatku. Aku beranjak pulang dan ketika besoknya aku mendapati dia tak ada lagi, aku menyesal. Lima tahun ini aku menyimpan semua perasaan itu dalam-dalam. Kesibukan selama ini membuatku hampir melupakannya. Tetapi satu waktu itu aku melihatnya dan hari ini aku mendengar kabar tentangnya, semuanya membuka pintu perasaanku kembali.

Aku memegang dadaku yang tiba-tiba terasa sesak, “Apakah kau tahu lima tahun ini aku hanya mampu menyimpannya untuk diriku sendiri?” batinku.

Sebulan yang lalu aku bertemu dengannya di kantor manajemen. Dia melihatku dan aku tidak mampu mengalihkan pandanganku darinya. Aku ingin menghampirinya tapi dia membuang pandangannya dariku dan berlalu. Aku merasa bahwa kehadiranku tidak diinginkan dan aku memilih menghindar. Aku hanya mampu memandangnya dari jauh. Aku ingin mengungkapkannya. Rasanya menyakitkan menyimpan semua ini sendiri selama ini.

Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur sambil memeluk album foto itu. Cinta sudah membuatku menjadi seperti ini. Apa yang harus aku lakukan?

Keesokan paginya aku bangun lebih awal karena aku berniat untuk menjenguk Minah. Aku mengendarai sendiri mobilku menuju rumah sakit. Aku memastikan tidak ada yang akan mengetahui penyamaranku hari ini. Aku menuju kamar tempat Minah dirawat dan kulihat dia masih tidur. Aku menaruh bunga mawar merah muda kesukaannya di vas samping tempat tidurnya dan aku duduk di kursi yang ada di sampingnya. Wajahnya begitu pucat. Aku mendesah dalam hati. Seandainya saja saat itu aku memberanikan diri mengatakan padanya. Apakah aku sudah terlambat?

Aku terkejut ketika ada yang membuka pintu. Ternyata Hyorin yang datang dan dia sama terkejutnya denganku. Hyorin mengajakku bicara di luar dan aku pun mengikutinya.

“Apakah kau masih menyukainya?” tanya Hyorin tiba-tiba. Aku hanya diam.

“Maafkan aku,” lanjut Hyorin sambil mengaduk-aduk segelas teh di depannya.

Aku menatapnya, “Untuk apa?” tanyaku.

“Kau sama seperti Minah. Lima tahun dan masih tidak berubah.”

“Maksudmu?” tanyaku bingung.

“Aku seharusnya mengatakannya padamu sejak lima tahun lalu. Lima tahun lalu Minah mencintaimu dan terus begitu sampai sekarang. Aku tidak berani dan takut memberitahumu hal itu,” jawabnya.

“Kau …” Aku tidak mampu melanjutkan kata-kataku. Kenyataan yang baru saja aku dengar membuatku bingung, marah dan kesal. “Tapi kenapa?” tanyaku.

“Karena lima tahun yang lalu aku juga mencintaimu. Aku tidak bisa mengatakan hal itu. Aku takut dan aku cemburu. Ketika Minah pindah, aku pikir semuanya selesai. Aku pikir Minah akan melupakanmu dan kau juga akan melupakannya. Tapi tidak. Aku merasa bersalah menyimpan hal itu selama ini,” jawabnya.

Aku menatap matanya, “Hyorin,” panggilku.

“Maafkan aku.”

“Sudahlah. Tidak ada gunanya lagi hal itu sekarang.”

“Tapi dia masih mencintaimu, masih menunggumu.”

Aku terdiam dan Hyorin pun tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Aku harus bagaimana? Lima tahun sudah berlalu dan cinta itu tetap ada.

“Dua bulan lagi aku akan menikah. Aku juga berharap Minah bisa menemukan seseorang yang terbaik untuk menemaninya. Dia sendiri dan kesepian,” kata Hyorin memecah kebisuan.

“Selamat untukmu rencana pernikahanmu Hyorin. Apakah orangtua Minah tidak ikut kembali ke Seoul?”

“Terima kasih. Tidak, ibunya sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu dan ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya.”

Hari ini, untuk kedua kalinya aku terkejut atas apa yang aku dengar. Minah, gadis itu pasti sangat kesepian. Sejak pembicaraan terakhirku dengan Hyori, aku mencoba mencari waktu yang tepat untuk memperbaiki kesalahanku lima tahun yang lalu.

***

Aku membuka pintu apartemen yang sudah seminggu ini aku tinggalkan. Kertas-kertas masih berhamburan di atas meja ruang duduk. Aku menaruh tasku di atas kursi dan menuju dapur.

“Ayah mau minum apa?” tanyaku dingin. Ya, ayahku datang ke Seoul untuk menjengukku tapi setelah enam hari aku dirawat. Aku masih beruntung dia ingat kalau memiliki aku sebagai putrinya.

“Tidak usah. Kau beristirahat saja,” jawabnya sambil melihat-lihat lembar kertas-kertas itu.

Oh Tuhan, aku lupa membereskannya. Kertas-kertas itu …

“Duduklah di sini,” panggil Ayah.

Aku mengikuti kata-katanya dan aku sudah siap menjawab semua pertanyaan yang mungkin akan dia lontarkan. Tapi ternyata bukan tentang kertas-kertas itu yang dia ungkapkan.

“Maafkan ayah, dua tahun ini ayah merasa sangat berdosa padamu dan ibumu. Maafkan ayah. Kau tahu, sangat sulit juga bagi ayah untuk melewati semua ini.”

“Aku tahu dan ayah tidak perlu meminta maaf. Tidak ada yang salah,” jawabku menahan tangis. Ayah memelukku dan ini pelukan pertamanya setelah dua tahun ini.

“Kemana perginya kasih sayang ayah selama dua tahun ini?” batinku.

Tiba-tiba ponsel ayah berdering dan dia harus pergi untuk urusan bisnisnya. Baru saja aku menemukan sosok ayah kembali tapi kenapa dia harus pergi lagi? Aku terduduk di lantai. Aku tidak mampu lagi menahan air mataku. Kali ini saja biarkan aku menangis. Biarkan aku kalah oleh air mataku sendiri. Aku lelah harus menjadi kuat.

Ketika aku membuka mataku, hari mulai beranjak gelap. Rupanya aku tadi tertidur, mataku sekarang terasa perih dan dada ini masih sesak. Bagaimana aku bisa menatap matahari besok hari?

“Aku tidak boleh menyerah,” batinku.

Aku pun membereskan kertas-kertas di atas meja. Semuanya berisi sketsa wajah sosok itu. Cho Kyuhyun. Melihat sketsa-sketsa itu justru membuatku menangis lagi. Aku merasa sangat terluka. Pedih sekali rasanya ketika menemukannya lagi dan aku justru berusaha mengabaikannya. Aku berusaha menghindarinya karena aku takut. Aku takut mengakui bahwa aku masih mencintainya. Aku takut akan cinta yang aku rasa, pahit atau manis kah?

***

Aku mendengar suara denting piano dari ruangan tempatku mengajar dan itu adalah lagu yang aku suka. Aku membuka pintu dan terpaku di sana. Dia, dia ada di sana. Aku tetap terpaku di tempatku berdiri. Bahkan ketika dia sudah selesai memainkan piano, aku masih terdiam. Dia menghampiriku dan tersenyum kepadaku. Tatapan matanya begitu hangat dan lembut. Aku memegang dadaku yang tiba-tiba terasa sakit. Dan sekarang dia tepat di depanku.

“Jangan pergi lagi ketika aku belum sempat mengatakan apapun,” katanya sambil menyerahkan sebuah album foto kepadaku.

Aku mengambil album foto itu dengan ragu dan tidak berkata apa-apa. Dia beranjak pergi. Ketika aku berbalik, dia sudah berjalan menjauh.

“Ya Tuhan, kenapa aku begitu bodoh?” batinku.

Aku menuju piano dan setangkai bunga mawar merah muda kesukaanku ada di atasnya. Aku membuka album foto itu dan betapa terkejutnya aku melihatnya. Setiap lembarnya adalah potret wajahku. Semuanya tersenyum dan di setiap lembarnya ada catatan kecil waktu diambilnya foto itu. Lembar terakhir berisi fotoku yang kukenali merupakan hari terakhirku di sekolah itu. Ada catatan kecil di bawahnya.

Maafkan aku. Aku mencintaimu, tapi kenapa kau pergi sebelum aku sempat berkata sepatah pun?

Mataku mulai berkaca-kaca dan tiba-tiba selembar kertas terjatuh dari dalam album.

Lima tahun ini aku menunggumu. Aku masih di sini, masih menyimpan perasaan yang sama. Masih mencitaimu. Lima tahun ini aku hanya mampu mengatakannya untuk diriku sendiri. Sekarang bolehkah aku mengatakannya padamu. Apakah aku sudah terlambat?

Jam enam sore ini aku tunggu kau di pilar terakhir kita bertemu saat itu.

Cho Kyuhyun.

Air mataku jatuh lagi. Kenapa baru sekarang? Aku melirik jam tanganku. Jika aku berangkat sekarang, aku mungkin tidak akan terlambat. Aku mengusap air mataku dan bergegas pergi.

Setibaku di sana langit mulai mendung. Aku berlari ke gedung itu. Langkahku terhenti, dia sudah berdiri di sana, dipilar yang sama. Tiba-tiba hujan turun dan dia menoleh ke arahku. Pertahananku runtuh. Aku masih mencintainya. Selalu dan perasaan itu masih ada.

Dia, Cho Kyuhyun yang aku cintai berjalan menghampiriku, “Maafkan aku,” katanya sambil menggenggam kedua tanganku.

“Kenapa baru sekarang?” tanyaku. Aku tak mampu lagi menahan tangisku.

Mianhae…” jawabnya. Dan kali ini dia menghapus air mataku yang jatuh.

“Tahukah kau? Aku selalu mencintaimu dan mengharapkanmu. Lima tahun ini aku bahkan tidak bisa mengubah perasaanku,” kataku ditengah isak tangis.

Jeongmal mianhae. Aku tidak tahu. Maukah kau memaafkanku?” tanyanya sambil menatap mataku.

Aku tidak mampu menjawabnya dan hanya menganggukan kepalaku. Dia memelukku, “Gomawoyo,” bisiknya lembut di telingaku.

“Jangan pergi lagi. Jangan pergi dari pandanganku. Tetaplah di sini,” lanjutnya sambil meletakkan tanganku di dadanya.

Aku mencoba tersenyum, “Terima kasih sudah mencintaiku dan tetap menyimpannya selama lima tahun ini,” kataku.

I’ll love you more,” ucapnya sambil mengelus lembut rambutku dan mencium keningku.

Lorong itu masih sama, hujan masih turun, tapi kini ada cinta yang terungkap. Rinai-rinai air hujan sudah memercikkan sejuta kebahagian. Mengalirkan perasaan akan cinta.

“Hujan sudah reda, kau mau kita kemana?” tanya Kyuhyun padaku.

“Aku ingin sekali makan es krim berdua di café depan sekolah. Aku harus menunggu selama lima tahun untuk hal ini,” jawabku sambil tersenyum.

“Baiklah. Ayo!” ajaknya sambil menggenggam tanganku.

Kami berlari kecil ditengah-tengah sisa rintik hujan. Ada jejak-jejak yang tertinggal di belakang. Perih dan luka akan cinta sebentar lagi terhapus di sana. Ada manisnya cinta menunggu untuk direngkuh.

-End-

Author’s note:

FF ini author ikutkan FFL Contest tapi ga masuk T_T jadinya setelah itu author post di blog ini (http://fanfictionschools.wordpress.com/2011/07/04/oneshot-5-years-love/#comment-398)

Author mau coba posting di sini juga ^^ ayo donk komennya ^^ Don’t be silent reader ^^