Author : Mirrellia
Title : Vampire Destiny
Length : One Shot
Genre : Romance -Fantasy
Cast : Lee Dong Hae Super Junior / Samantha Hwang / Shim Changmin

Sebuah sayap itu seperti kekuatan, mampu membuat terbang dan terbuai dengan pesona udara. Namun juga mampu membuat jatuh dalam sekejap. Karena pada nyatanya, sayap hanyalah helaian bulu yang rapuh dan mudah patah.

PROLOG

Udara dingin menyergap hampir seluruh kota Seoul. Pohon-pohon pinus membeku, menciptakan garis panjang seperti tombak dalam bentuk es. Tetesannya mengalir pelan dan teratur, seolah memiliki irama panjang yang takkan habis. Seorang gadis mengemudikan audi miliknya dengan hati-hati, takut terselip licinnya jalan yang penuh dengan salju. Ia menggeretakkan giginya menahan dingin, meraih tengkuknya berkali-kali seolah mencari kehangatan yang tersisa di sana.

Pohon-pohon yang menjulang tinggi, jalanan yang begitu sepi dan cahaya yang redup membuatnya sedikit khawatir akan sesuatu. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya dan sebuah sensasi mengelitik tiba-tiba merayap di sekitar punggungnya. Ia menoleh ke arah kaca spion mobil. Tak ada apa-apa di kursi penumpang. Gelap dan kosong. Hanya kesendirian yang menemaninya di malam dingin ini.

Ia mendesah, menangkupkan sebelah tangannya di depan dada, merasakan detak jantungnya sendiri. Ponselnya tiba-tiba bergetar, ia mendiamkan namun suara nyaring itu terus  menggema. Gadis itu melirik tas hitamnya yang ada di kursi sebelahnya—tempat Iphonenya tersimpan dengan rapih. Ia mencoba untuk mengambilnya namun tak semudah yang ia kira. Terlalu dalam dan sulit mengeluarkannya dengan menggunakan satu tangan.

Emosinya memuncak karena suara ponselnya terus menggema—seolah menandakan panggilan tersebut begitu penting. Ia berusaha sekali lagi, kini memiringkan tubuhnya dan menahan kemudi dengan tangan satunya.

“Get it.” Desisnya penuh emosi. Gadis itu membenarkan posisi duduknya—hingga sekelebat bayangan melintas begitu cepat di depannya—membuatnya membanting kemudi ke sisi jalan dan segalanya menjadi gelap.

***

Nami Island

[Lee Donghae POV]

Aku memandang seorang guru yang tengah menjelaskan beberapa bahan ujian yang akan di laksanakan minggu depan. Begitu membosankan dan menjengkelkan. Aku sudah mempelajari hal ini selama bertahun-tahun, ah salah maksudku berabad-abad. Aku nyaris tak mampu menahan tawa saat guru itu—Tuan Kim menjelaskan tentang struktur tubuh manusia dan ia salah menyebut bagian utama dari pembuluh darah.

Namun bukannya ia mengomeliku, laki-laki paruh baya itu hanya menatapku tajam dari balik bingkai kacamatanya yang bulat. Aku sering mempermalukannya dan ku yakin sekarang ini ia tak ingin mencari masalah denganku. Lagipula dia itu tidak pantas di sebut sebagai guru, dia dengan otak mesumnya itu sering sekali menggoda gadis-gadis di sekolah ini. Aku sendiri nyaris ingin membunuhnya saat itu juga ketika aku tak sengaja menangkap dirinya sedang mengintip di toilet wanita. Menjijikkan.

“Inikah yang kau lakukan di waktu belajarmu?” tanya sebuah suara yang sudah tak asing lagi bagiku. Tubuhnya yang seringan kapas tanpa risih duduk di pinggir meja sambil memainkan rambut hitamnya yang panjang.

“Bukan urusanmu.” Jawabku berbisik. “Sam, dengar. Aku tak suka jika kau juga muncul di sekolah.” Kataku lagi memperingatkan. Sam itu sudah mati. Maksudku dia hanya roh yang tak memiliki raga dan mampu berkelana kemana saja yang dia inginkan. Aku tak mengerti mengapa dia senang sekali berada di dekatku—hanya karena saat itu aku mengira ia manusia dan berbicara padanya yang duduk seperti orang gila di jalan setapak Namiseom.

“Aku bosan Fishy. Kau tahu, berada di rumahmu dan menjaga semua benda mati yang ada di sana merupakan sebuah rutinitas yang membosankan. Sungguh.” Tukasnya dengan santai dan kini memainkan rambut Sungmin—teman sekelasku—yang duduk tepat di depanku. Tentu saja si kutu buku itu tidak menyadarinya, karena satu-satunya yang bisa melihat Sam hanya aku dan karena itu la menguntitku kemanapun aku pergi.

“Fishy…” panggilnya dan aku berdehem kecil. Berusaha tidak terlihat seperti orang gila karena mengoceh sendiri sejak tadi.

“Apa kau tidak merasa ‘haus’? Aroma pria ini benar-benar harum.” Godanya padaku,mendekatkan dirinya ke arah Sungmin. Aku menelan ludah dengan susah payah. Butuh waktu lama untukku membiasakan diri tidak menghirup aroma tubuh manusia. Dan kali ini Sam benar-benar keterlaluan.

“Sam, jangan memancingku untuk membunuh.” Kataku mengancam. Ku gertakkan gigiku sendiri untuk menahan diri agar tidak bernafas. Terlebih lagi dengan gaya Sam yang seduktif saat mencium aroma dari tubuh Sungmin.

“Ayolah Fishy, aku hanya bermain-main.” Kali ini Sam memutar-mutar tubuhnya di udara. Melempar senyum mengejek ke arahku dan aku ingin sekali memukul kepalanya.

“Lebih baik kau mencari tahu bagaimana cara agar kau bisa ‘menyeberang’. Bukannya asik mengejekku dengan kelakuanmu yang konyol itu. Kau itu mengganggu keabadianku.” Kataku dingin. Mataku lurus ke depan dan menyadari tubuhnya berhenti berputar. Sosoknya menegang dan matanya berubah menjadi dingin saat ku lirik ia sekilas.

Aku tahu ini menyakitkan untukknya.  Sam tersesat. Aku tahu hal ini karena aku sering kali menemukan roh-roh yang tersesat dan tidak mampu menyebrang ke alam baka. Hal itu lah yang terjadi pada Sam, saat pertama kali aku menemukannya dia merasa heran karena hanya aku yang bisa melihatnya. Saat itu aku menyadari bahwa aku melakukan kesalahan dengan menyapa seorang roh. Seharusnya aku—sebagai vampire—tak memiliki wewenang untuk mengkhawatirkan jiwa-jiwa yang tersesat itu. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Ketika aku ingin melangkah mundur ada sebuah ketertarikan yang luar biasa untuk menolongnya. Seperti sebuah sihir yang membentuk benang merah antara aku dan dirinya.

“Aku tahu. Seharusnya aku pergi. Tapi aku tidak ingat mengapa alasan aku harus pergi!” serunya padaku. Terbang ke arahku dan meniupkan kesedihan di sekitar tengkukku yang bebas dari helaian rambut coklatku.

“Sam hentikan.” Kataku pelan. Hal yang di lakukannya membuatku merasakan kesedihan pilu yang ia rasakan. Aku sebenarnya tak  mengerti, aku bisa saja bebas darinya jika aku menginginkan ia pergi. Tapi aku tak bisa mengusirnya—ada sebuah rasa yang meyakinkanku bahwa gadis ini terlalu penting dan aku harus menolongnya. Ayolah, seorang Lee Donghae tidak memiliki hati.

“Maaf Fishy, menggodamu membuat kesedihanku menghilang.” Katanya lagi, kini duduk di kursi kosong sebelahku. Menyilangkan kakinya dan melipat tangannya di depan dada.

“Sam lebih baik kau pergi.” Kataku mengancam. Merasa tolol karena baru kali ini ada seorang gadis—sekalipun dia roh—suka sekali mengejekku dan membuat emosiku memuncak.

“Apa rasanya menjadi vampire dan hidup berabad-abad?” tanyanya dengan pandangan lurus ke depan, menatap ke arah udara yang berkeliaran bebas di sekitarnya.

“Tidak ada rasa. Aku hanya menjalani takdirku.” Jawabku kaku. Sam kembali duduk tegak, kini menopang kepalanya di atas meja menggunakan kedua tangannya. Menatapku penuh arti dan baiklah, dia cantik sekali.

“Takdir?” gumamnya. Menoleh ke arahku dan memamerkan senyum terbaiknya. “Begitu ya? Jadi apakah menjadi roh aneh seperti ini merupakan takdirku?” tanyanya gamang, menantiku untuk menjawab pertanyaannya yang lebih mirip jebakan.

“Tidak. Itu bukan takdirmu. Kau hanya melupakan bagaimana caranya agar kau menerima takdirmu.” Kataku. Berusaha sekeras mungkin untuk tidak menimbulkan spekulasi berlebihan pada dirinya.

“Aku hanya tidak tahu Fishy. Tidak mengerti bagaimana bisa aku tersesat.”

Aku berdehem sebentar, memicingkan mata ke arah Changmin—murid baru—yang menatapku dengan pandangan penuh arti.  Menerka-nerka apa yang di pikirkan namja itu karena aku sama sekali tak bisa membaca pikirannya. Satu-satunya orang yang pikirannya tak terbaca sedikitpun.

“Kau pasti melupakan sesuatu sebelum kau mati. Orang tua kolot biasanya mengatakan hal seperti itu.”

Aku kembali mengalihkan perhatianku pada Sam. Ia kini mengepalkan tangannya dan meninju-ninju udara seolah sedang berlatih tinju dan ada samsak besar di depannya. Sikap Sam cukup menarik sebenarnya. Dia angkuh, keras kepala dan terkadang menyebalkan. Namun entah mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda dari dirinya. Ada sebuah rasa rindu yang melekat ketika menatap kedua matanya yang berwarna abu-abu gelap.

“Yeah, itu kan yang kolot. Kalau aku sih, tidak akan percaya pada hal itu.” Katanya percaya diri. “Apa mungkin aku mengalami amnesia? Tapi jika iya, bukankah itu konyol, mana ada setan yang amnesia?”

Aku tertawa pelan nyaris terbahak mendengar perkataannya. Sungmin menoleh ke belakang dan menatapku dengan pandangan heran, dan sialnya aku lupa menahan nafas selama seperkian detik. Kerongkonganku benar-benar terbakar, harum tubuhnya membuatku tak bisa berpikir jernih. Ku cengkeram ujung meja untuk menahan keinginan menerjang tubuh pria itu. Secara tidak sadar aku mendesis seperti ular, rasanya seperti ada sebuah monster yang ingin menyeruak keluar dari dalam tubuhku.

“Donghae-ya… Gwaenchana?” tanya sebuah suara dengan nada takut. Seisi kelas menatapku dengan heran saat melihatku mencengkeram ujung meja dengan kuat—terlebih lagi memandang Sungmin dengan tatapan ingin membunuh.

“Fishy, maafkan aku. Aku tak bermaksud—“ suara Sam menggema di sekitarku. Rasa haus yang menyakitkan membuatku diriku tak bisa melihat sosok rohnya dengan jelas.

“Siapa saja tolong tahan dia!” Sam menjerit keras. Namun aku tertawa dalam hati karena apa yang ia lakukan hanya sia-sia. Tidak ada satupun yang akan mendengarnya selain aku.

“Bocah ini merepotkan.”

Sebuah tangan menarik tubuhku dengan paksa. Mencengkeram kedua pergelangan tanganku dengan kuat lalu dengan sigap menyeret tubuhku ke luar kelas—menuju toilet pria. Aku sama sekali tidak tahu siapa yang menarikku karena tak ada keberanian untuk menatapnya. Kerongkonganku masih terbakar dan rasa dahaga itu masih menyeruak bebas di sekujur tubuhku.

“Dengar, ini bukan dongeng.” Katanya tiba-tiba dan mendorong tubuhku ke dinding, membuat kepalaku terantuk keras di sana. Aku mengangkat wajahku dan bermaksud untuk menerjang balik ke arah orang yang telah menyeretku. Namun keinginanku langsung lenyap ketika melihat wajahnya terlebih lagi ketika aku menyadari tak ada aroma apapun dari tubuhnya.

“Kau pasti sekarang bertanya-tanya mengapa aku tak memiliki harum manis seperti manusia lainnya.” Katanya dingin. Matanya hitam pekat dan rambutnya yang menutupi pelipisnya membuatnya terlihat sangat menakutkan. Ada kegelapan yang terpancar dari dirinya.

“Siapa kau?” desisku. Menahan tangannya yang masih mencengkeram kerah seragamku dengan kuat.

“Aku seorang warlock.” Jawabnya dingin. “Manusia setengah iblis.” Ia melepas cengkeramannya lalu menyenderkan tubuhnya di pinggiran wastafel yang menghadap langsung ke arahku.

“Mengapa kau menolongku?”

“Karena gadis itu menjerit.”

“Kau bisa melihat Sam?” tanyaku heran dan seharusnya aku tahu pasti jawabannya ya. Karena Changmin adalah jelmaan iblis. Warlock adalah penghuni dunia bawah, sama seperti vampire, peri dan manusia serigala lainnya. Tapi kami sering kali  menjelajahi dunia atas. Berpura-pura menjadi manusia dan bagi kaum iblis sebuah kesenangan menarik manusia bodoh agar menjadi pengikut mereka.

“Tentu saja. Dia pula alasanku berada di sini. Di pulau bodoh ini.” Kata Changmin. ia berjalan mendekat ke arahku lagi. Menciptakan jarak beberapa meter dari tempatku berdiri. “Aku, akan menjadikannya Fey.”

Saat itu juga aku merasakan ada sebuah sengatan listrik yang menyambar tubuhku. Ada rasa khawatir yang berlebihan saat Changmin menginginkan Sam menjadi Fey—pengikutnya.  Fey termasuk golongan peri namun jika kau mengira Fey adalah sekumpulan peri baik hati yang bisa mengabulkan semua permohonanmu kau salah basar. Fey adalah peri terkutuk. Mereka di beri sihir yang kuat namun menggunakannya untuk berbuat kejahatan. Membunuh, menggoda serta menciptakan keganjilan-keganjilan di sekitar manusia.

“Ku pikir kau masih memiliki jiwa manusia. Kau tak sepenuhnya iblis. Mengapa auramu sangat gelap?” tanyaku mengalihkan. Berada di dekat Changmin ternyata membuatku merasa jauh lebih dingin daripada sebelumnya. Padahal aku nyaris seperti patung es yang hidup.

“Bukan urusanmu.” Jawabnya tegas. Raut wajahnya berubah menjadi lebih kejam dan dingin. “Yang harus kau tahu adalah dirimu yang menghalangi rencanaku.”

“Maksudmu?”

“Bodoh.” Changmin memutar tubuhnya. Menaruh kedua telapak tangannya di pinggiran wastafel lalu memandangku dari balik cermin yang menghadap ke arahku. “Eksistensimu berada di dunia ini ada alasannya bukan? Seorang vampire yang hidup ratusan tahun dan pandai menahan diri hanyalah kau. Sejauh mataku memandang, kau satu-satunya vampire dari klan Lee yang masih bertahan. Satu-satunya vampire yang bertahan hanya karena menunggu cinta sejatinya. Vampire terkutuk yang tolol.”

Rahangku mengatup keras. Dengan susah payah aku menelan ludah ketika mendengar perkataannya. Dia benar. Shim Changmin benar. Ada alasan mengapa aku terus bertahan di dunia atas. Alasan konyol yang membuatku tak bisa mengakhiri eksistensiku di dunia. Suatu alasan yang memang akan mengikat abadi padaku karena sebuah peperangan besar antara para peri dan Vampire. Fey—mengutukku untuk jatuh cinta pada gadis yang sama di setiap reinkarnasinya.

“Lalu apa hubungannya dengan Sam?” tanyaku dan tak berusaha memungkiri apa yang di katakan Changmin.

“Tak merasakan sesuatukah?” Changmin balik bertanya. “Benang merah yang hilang mungkin.”

Dahiku mengernyit. Tak mengerti dengan kalimat Changmin yang terdengar ambigu di telingaku.

“Ah, kau pasti tak pernah berusaha untuk menyentuhnya. Ya kan?” tanyanya lagi.

“Jangan berbelit, jelaskan apa yang—“

“Fishy, kau tak apa?” aku menoleh, Sam melayang ke arahku, raut wajahnya terlihat khawatir.

“Semakin baik jika semua pemeran utamanya muncul.” Changmin membalikkan tubuhnya. Menatap Sam dengan pandangan mengejek.

“Changmin-ah, terima kasih menolongnya.” Kata Sam membuat kedua mataku membulat. Memandang kedua makhluk dunia bawah ini secara bergantian.

“Kau mengenalnya?” suaraku nyaris hilang. Jika Changmin memang berniat jahat pada Sam, mengapa Sam bisa sesantai itu padanya.

“Dia, yang akan menolongku untuk menyebrang.” Jawab Sam. Matanya menerawang kosong.

“Manusia iblis ini tidak akan menolongmu, Sam! Dia hanya akan menjadikanmu pengikutnya!” tukasku sengit. Ingin sekali aku menyentuh Sam namun aku tak pernah memiliki keberanian. Aku takut, menyadari bahwa ia tak dapat ku sentuh sekalipun hanya satu detik.

“Itu jauh lebih baik, Donghae-ya.” Sam bergumam. Ia bergerak menjauhiku, melayang ke arah Changmin dan berdiri tepat di sebelahnya. “Jauh lebih baik daripada menjadi roh yang tersesat. Kesendirian itu menyakitkan.”

“Kau tidak pernah sendiri, Samantha!” seruku lagi ingin menerjangnya namun Changmin bergerak meraih Sam dan menghindariku. Tangan Changmin memegang kedua bahu Sam dengan kuat, menariknya seperti ingin membunuh. Sam sama sekali tidak melawan, ia hanya meringis dan memandangku dengan tatapan minta maaf.

“Sam, dengar. Aku akan membantumu. Tapi ku mohon jangan—“

“Cukup Fishy. Aku tahu kau hanya bergurau. Kau keberatan dengan kehadiranku selama ini.” Potong Sam cepat dan Changmin tertawa mengejek. “Max, kau bisa mengubahku sekarang juga.”

“Sayang sekali. Kau tak sempat mengetahui kebenarannya Aiden Lee.” Kata Changmin dan sebuah cahaya hitam pekat memancar dari tangannya—siap ia masukkan pada roh Sam.

“Tidak, Sam. Jangan lakukan itu padanya!!!” detik itu juga aku berlari ke arah mereka dan menghilangkan seluruh ketakutanku untuk menyentuh Sam. Ku tarik tangannya yang ku pikir akan tembus namun ternyata tidak. Dan hal terakhir yang ku ingat sebuah cahaya keperakan muncul dari tubuh Sam—sepasang sayap yang kuat dan kokoh.

***

Musim semi yang indah menghiasi pulau Nami. Pohon-pohon maple yang tumbuh rapi di sepanjang jalan setapak Namiseom membuat segelintir orang menghentikan aktivitasnya. Daun-daunnya yang tumbuh—berwarna coklat tua dan bergaris-garis rapi di setiap ruasnya—membentuk lautan daun coklat menutup awan biru. Aku menghirup nafas dalam-dalam, menghembuskannya lagi secara perlahan.

“Kau suka?” tanyaku pada seorang pria yang tengah menyenderkan tubuhnya di punggungku. Rambutnya yang berwarna coklat seperti daun maple menelusup ke sekitar tengkukku.

“Musim terbaik sepanjang sejarah manusia.” Jawabnya. Aku tersenyum, memandang daun-daun yang tumbuh di dahan-dahan pohon yang menaungi kami berdua dari sinar matahari.

“Terbaik untukmu karena sinar matahari meredup di pulau ini. Begitukan maksudmu?” tanyaku lagi kini mencemooh. Namun ia menggeleng, beranjak bangun dan memutar tubuhku untuk menghadap kearahnya.

“Samantha.” Gumamnya. Menangkupkan kedua tangannya di pipiku. “Malaikat dan vampire. Mengapa Fey itu menghukumku seperti ini?” tanyanya gamang. Aku tersenyum kecut. Menatap kedua matanya yang coklat keemasan. Selalu seperti ini, kami di pertemukan, di beri takdir untuk saling mencintai namun kami tak pernah bisa bersatu karena kami selalu berbeda. Di setiap reinkarnasinya.

“Selalu ada akhir di semua hal, Donghae-ya.” Kataku pelan. “Selama apapun kita berusaha, pasti membuahkan hasil. Jika tidak masa ini kita di persatukan mungkin di masa berikutnya. Begitu seterusnya.”

“Tapi kapan Sam? Tuhan selalu menciptakan dirimu dan diriku berbeda.” Katanya lelah. Tangannya terkulai lemas melepas kedua pipiku. Aku terdiam, mengumpulkan energy agar aku tidak mengeluarkan isak tangis.

“Percayai saja, bahwa Samantha dan Lee Donghae saling mencintai. Terlepas berapa lama waktu memisahkan.” Kataku tegas lalu memeluknya perlahan. “Aku akan selalu menemukanmu Fishy.” Perlahan semuanya kembali hilang.

EPILOG

Donghae menatap sinar matahari yang bersinar cerah dari balik kacamatanya. Peluh-peluh keringat membanjiri tubuhnya yang atletis. Sekalipun keadaan begitu panas, namun hatinya terasa dingin. Seperti sebongkah es yang tak mau kunjung mencair. Sentuhan kecil itu membuat Sam menghilang  selamanya dan menemukan alasan agar ia menyebrang. Bereinkarnasi kembali. Untuk kembali di pertemukan dengan Donghae di masa selanjutnya. Dan seratus tahun itu kembali berlalu bagi Donghae. Seratus tahun yang sama untuk menemukan gadis yang di takdirkan untuknya.

“Bertemu kembali, lagi-lagi kita berbeda.” Tukas sebuah suara sengit namun penuh kerinduan. Donghae tersenyum, melipat kedua tangannya di depan dada dan melirik sekilas ke arah gadis yang berdiri di sebelahnya. Kulitnya putih pucat dan rambut coklatnya tergerai dengan indah. Namun ia bernafas—dadanya naik turun seolah menunjukkan ada pertukaran udara di sana. Tidak seperti dirinya. Kaku, dingin dan seperti patung es yang mampu berjalan.

“Kau manusia dan aku vampire. Sungguh menggelikan.” Kata Donghae dengan nada suara mengejek.

“Bukankah itu jauh lebih bagus? Kau bisa mengubahku menjadi sepertimu dan kutukan ini akan berakhir.”

Donghae meraih rambut gadis itu dan membenamkan wajahnya di sana. Menahan godaan untuk tidak menghirup wanginya yang manis. “Samantha, bukan ini yang aku inginkan.” Katanya pelan lalu membalik tubuh Sam ke arahnya. “Aku, tak sebodoh Edward Cullen yang merubah Issabella Swan menjadi seperti dirinya.” Tambah Donghae lagi lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir Sam. “Aku akan mengakhiri eksistensiku, Samantha Hwang.”

Kesalahan terbesar dalam hidup adalah jatuh cinta pada sesuatu yang salah.