Title                       : A kiss (part 2)

Author                  : Nurani adi / @abcdedot

Main cast             : choi minho (SHINee) , han injung (imaginary cast)

Support cast       : SHINee member, manager hyung, han dal hee

Length                  : twoshoot

Genre                   : romance, comedy (?)

Rating                   : PG-16

minho pov

“minho-ssi, ikut aku” ucapnya tiba-tiba setelah dia meminta istirahat dan semua kru meninggalkan kami.

“mwo?”

“ikut aku” dia mengatakkannya dengan tanpa membalikkan badan, aku mengikutinya karena aku rasa aku tidak punya pilihan lain, kemudian dia berhenti di sebuah pintu bertuliskan “ruang ganti”. Aku bertanya-tanya apa yang akan dilakukan atau di tunjukannya pada ku.

Aku masuk mengikutinya dan setelah dia menutupi kembali pintunya, dia menghadapku, menatap tepat di mataku, dan tatapannya sangat……entahlah aku tak bisa menggambarkannya.

Jantungku tiba-tiba berdebar dengan cepat, entah kenapa, tapi berduaan dengan gadis dingin ini di tambah tatapan “lainnya” itu membuatku sangat gugup.

“minho-ssi, kau belum pernah berciuman?” tanyanya tanpa basa-basi

MMWWWWO? Dia membawa ku ke tempat ini hanya untuk menanyakan hal itu??? Dia masih menatapku, mengharapkan jawabankah? Aku tidak mungkin mengatakan belum pernah, tapi aku pembohong besar kalau mengatakan sudah pernah. Grr

“anni, aku sudah…pernah” suaraku terdengar gugup dan aku tahu dia takan percaya

“benarkah?” dia menatapku dengan mengerutkan keningnya sehingga menaikkan salah satu alisnya, benarkan tebakanku, dia memang tidak percaya.

“ya! Kau membawa ku kesini hanya untuk ini?” lagi-lagi suaraku tak bisa diajak kompromi, alih-alih meyakinkan malah terdengar seperti suara maling gugup yang tertangkap basah.

“hahahaha” dia tertawa sangat keras, membuatku bingung.

“kau..hmffh. berbohong” ucapnya sambil menahan perutnya yang bergetar karena tertawa. Aku hanya bisa melongo, memikirkan apa yang harus kulakukan setelah ini, dan hal ini membuatku semakin gugup dan tentu saja malu.

“mianhe” ucapnya kemudian, mungkin dia melihat perubahan di wajahku sehingga membuatnya berhenti tertawa. Aku berjalan menuju pintu, gadis ini benar-benar tidak tahu sopan santun, aku merasa tidak perlu lagi diam di tempat ini.

“minho-ssi” dia memanggilku, aku menghentikan langkahku dan menurunkan tanganku yang hampir mencapai gagang pintu.  suara heelsnya terdengar mendekatiku.

“minho-ssi” ucapnya sambil memegang tanganku, meremasnya lembut dan menariknya sehingga sekarang kami berhadapan, sangat dekat. Aku yakin kini dia bisa merasakan debaran jantungku. Dia kemudian menempelken bibirnya di birbiku, menciumku, dengan lembut, aku mematung, tidak melakukan perlawanan apapun, dia kembali menciumku dan bahkan kini mengalungkan Sebelah tangannya di leherku. Jantungku berdetak 1000kali lebih cepat, napasku memburu, akhirnya, aku membuka mulutku dan mulai mencium dia.

Tiba-tiba dia berhenti, menurunkan tangannya dan mendorongku dengan halus, dengan terpaksa aku melepaskan tanganku yang entah dari detik keberapa bertengger di pinggangnya, memeluknya.

“lakukan lah seperti itu, kau bisakan?” ucapnya dengan nafas tersenggal, kemudian berjalan keluar ruangan dan meninggalkan ku .

Aku masih tidak bergerak, tangan kanan ku spontan menyentuh bibirku yang kini basah, dia…baru saja menciumku???

Injung pov

 

Aku keluar dan meninggalkan minho di ruangan ganti, perasaanku benar-benar tidak karuan.

‘aku baru saja mencium seorang namja yang baru kukenal kemarin dan jantungku berdetak seakan mencoba melompat dari tempatnya, ini benar-benar gila!’ aku masih merutuki diriku sendiri atas perbuatanku yang sangat amat memalukan itu.

‘gwenchanaeo, gwenchanaeo..’ aku terus mengulangi kata-kata ini dalam hatiku. Aku mencoba mengingat mengapa aku sampai melakukan hal Sejauh itu. ah yaa aku ingat, minho akan meninggalkanku dan hatiku tergerak untuk melakukan sesuatu padanya, aku memang gila! Aku merasa diriku lebih gila lagi setelah aku menyadari aku menikmati ciuman tadi . ARGHH

“baboooooo” ucapku sambil mengetok kepalaku sendiri.

———-

istirahat selesai, kami akan kembali melakukan beberapa scene yang tadi sempat terhenti, kissing scene kami, aku harap kali ini minho melakukannya dengan baik, walau aku tahu mungkin kini akulah yang tidak bisa melakukannya dengan baik. Aku menghembuskan nafasku dengan keras, berusaha mengurangi gugup dan debaran jantungku yang sejak kejadian aku-menciumnya-diruang ganti- melompat-lompat tidak karuan.

Minho terlihat sudah siap di posisinya, aku tidak punya pilihan lain selain menyelesaikan ini semua, baiklah, aku pasti bisa!

“and……action” ucap sang sutradara sedikit berteriak.

Kami berhadapan, -ternyata minho sedikit lebih tinggi dariku- Minho menyentuh pipiku dan menatapku lekat-lekat, telapak tangannya terasa hangat di pipi dinginku, benar-benar membuatku lupa kalau kami sedang shooting!  Dia mendekatkan wajahnya, dan hendak menciumku, tapi aku menolaknya dengan mendorongnya dengan halus, sesuai dengan yang ada skrip kami. Aku berjalan membelakanginya tapi kemudian dia memeluk ku dari belakang, baiklah kali ini jantung ku hampir keluar, aku pikir dia akan menarik tanganku sepeti yang dituliskan dalam skrip, tapi ternyata dia melakukan hal yang berbeda, entah ini improvisasi atau apa aku benar-benar tidak mengerti, dia melingkarkan tangannya dia pinggang mungilku, aku menunggu kata-kata “CUT” dari sutradara tapi aku sama sekali tidak mendengar apapun, hh lagi-lagi aku tak punya pilihan lain. Aku memegang tangannya, berusaha melepaskan diri dari pelukannya tapi dia  malah mempererat pelukannya

“jangan pergi.. tolong” dia membisikan kata-kata ini dan langsung membuat bulu roma ku berdiri (?).

“CUT” ucap sang sutradara, untunglah.. akhirnya dia mengatakan kata ini. Minho menurunkan tangannya . aku merasa sangat lega.

“bagus sekali minho-ssi” MWOOOOO? apa aku tidak salah dengar? Dia memuji improvisasi minho? Yang benar saja! Minho  seharusnya menarik tanganku dan kemudian menciumku dan kemudian mengatakan “aku akan merindukanmu” bukan seperti ini!! Si sutradara masih berbicara panjang lebar tentang bagaimana adegannya setelah ini, ini sungguh gila, aku menatap minho dengan sinis, tapi dia justru masih tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya, menyetujui semua yang dikatakan sutradara.

“lanjutkan adegan yang tadi, in jung-ah setelah dia memelukmu seperti tadi, kau berbalik dan mencium minho, kau mengerti?”

“mwo? Jadi aku yang harus….?”

“ye, aro?” si sutradara memotong ucapan ku seperti  tahu apa yang akan aku katakan. Aku hanya bisa menganggukan kepalaku, jadi aku yang harus mencium minho? Aku sudah melakukannya di ruang ganti dan sekarang harus melakukannya lagi?! Kini aku benar-benar menyesal telah dengan sembrono mencium namja gila ini!

Yeah, pada akhirnya aku melakukan semuanya, aku mencium dia lagi, aku Ulangi, LAGI. padahal awalnya aku ingin mengajari minho cara berciuman tapi justru aku harus mengulangi ciumanku lagi, dan bahkan di depan kamera, aku memang gila tapi minho lebih gila!!

Shooting sudah selesai, aku masih menyesal dengan apa yang telah kuperbuat hari ini, aku merasa sangat bodoh dan memalukan. Saat ini aku hanya ingin pulang! Aku mengedarkan pendangan mencari eonniku, dia memang tidak datang ketempat shooting, tapi dia sudah berjanji untuk menjemputku dan akan datang sebelum aku menyelesaikan pekerjaanku, tapi ternyata dia masih belum datang. Hari mulai gelap dan aku masih disini, terlebih aku masih harus berjalan di atas catwalk setelah ini. Hh aku menarik nafas dan menghembuskannya dengan keras, aku rasa ini akan menjadi kebiasaan baruku.

Minho pov

Akhirnya shooting berakhir, aku memang mengganti beberapa adegan, entah kenapa, tapi setelah dia mencuri ciuman pertamaku di ruang ganti tadi siang, aku tiba-tiba terpikir akan hal itu, aku tahu dia kesal, dia beberapa kali melemparkan pandangan dinginnya padaku dan sama sekali tidak menyapaku diluar scenario kami.

Aku membawa mobilku menuju pintu keluar sambil mengingat-ingat semua yang terjadi hari ini, aku berciuman dua kali, dan aku benar-benar menikmati keduanya, aku masih bisa merasakan manisnya bibir injung di bibirku, juga degup jantung kami yang terasa seperti lomba lari (terlebih saat kami sedang di depan kamera), semua hal ini terasa sangat ganjil tapi menyenangkan di waktu yang sama.

Injung berdiri sekitar 5 meter dari mobilku, aku rasa dia sedang menunggu seseorang, terlihat dari cara dia memandang sekeliling dan ketukan-ketukan kakinya yang menyiratkan kalau dia sudah tidak sabar.

Aku kemudian mematikan mesin mobilku, agar injung tidak menyadari kehadiranku dan aku bisa memandanginya lebih leluasa. Yeoja ini cantik, anni, dia sangat cantik, tubuhnya sempurna, semua yang ada di wajahnya terlihat saling mendukung satu sama lain, termasuk ekspresi tanpa senyumnya,.

“benar-benar cantik” ucapku spontan dan sangat pelan.

Aku menyalakan kembali mesin mobilku, dan mengeremnya tepat di depan injung, aku rasa aku akan mengajaknya pulang bersama. Aku menurunkan kaca mobilku.

“kau tidak pulang?” tanyaku, setelah injung benar-benar menyadariku, apa dia masih kesal?

“aku menunggu jemputan” injung mengatakannya sambil membuka hpnya, dan seketika air mukanya berubah.

“aishhhhhh” umpatnya, kemudian menekan beberapa tombol dan mendekatkan hp ke telinganya, aku masih di dalam mobilku, menunggu apa yang terjadi selanjutnya.

“eonni, kau tidak bercandakan?” dia kini berbicara dengan hpnya, tentu saja dengan eonninya. Kini mukanya terlihat sangaaaaaaaat kesal, aku yakin jawaban eonninya lah yang membuatnya seperti ini, dia masih menempelkan hp di telinganya, samar-samar aku bisa mendengar suara seorang yeoja di seberang sana, berkata maaf berulang-ulang.

“ye, aro” dia berbicara dengan suara termalas yang pernah kudengar, kemudian mengembalikan hpnya kedalam tas.

“kenapa kau masih disini?” dia menatapku tanpa ekspresi.

“kau butuh tumpangan kan? Naiklah” aku membukakan pintu mobil untuknya dan mempersilakan dia masuk, dia terlihat bimbang untuk beberapa saat, tapi kemudian.

“mm baiklah, aku hanya akan menumpang sampai menemukan taksi” injung menghempaskan tubuhnya di jok mobilku, lagi-lagi jantungku berdegup seperti ini, aku menghela napas agak panjang berusaha setenang mungkin.

“minho-ssi kau bisa berhenti disini” aku mengalihkan pandanganku padanya, bingung, aku tidak melihat satu taksipun di luar sana, dan hari makin gelap.

“kau yakin?” dia mengangguk, aku menepikan mobilku, tapi kemudian berubah pikiran, bagaimana bisa aku menurunkannya disini, bagaimana jika dia diganggu oleh preman atau semacamnya? Jalanan ini cukup sepi, aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu injung-ah.

“tapi  aku ingin mengantarmu sampai rumah” aku membelokan setir dan kembali melajukan mobilku. Dia terdiam, aku hanya bisa mendengarkan suara hembusan napasnya dan itu membuatku sedikit tenang.

“aku berhenti disini” ucapnya setelah hampir 15 menit sejak terakhir dia minta turun, aku memandangnya sekilas, kemudian mengalihkan pandangan, kami berada di tengah seoul, di depan sebuah hotel. Aku mengerutkan kening, sedikit heran dengan gadis Disamping ku ini.

“disini?” tanyaku

“ya, aku masih punya pekerjaan” dia tersenyum sekilas, membuat pipiku menghangat (?).

Injung hampir mencapai gagang pintu saat aku mencekal tangan kirinya, dia berbalik memandangku dengan wajah tanpa ekspresinya.

“mwo?”ucapnya, tepat setelah injung mengatakan ini aku mendekatkan wajahku dan membiarkan bibirku mencapai bibir injung, aku mengecupnya perlahan, aku tahu dia terkejut, sangat terkejut sampai mendorong tubuhku dengan kasar.

“ya! Apa yang kau lakukan!?” suaranya terdengar sangat marah dan….. gugup? Aku hanya menatapnya, Percaya tidak percaya dengan apa yang kulakukan barusan, ya tuhan aku sungguh memalukan, aku memaki diriku sendiri, tapi melihat injung akan keluar begitu saja kini dengan wajah marah  lagi-lagi hatiku menyuruh melakukan sesuatu.

“injung-ah” aku memegang tangannya lagi, berusaha mencegah dia keluar dari mobilku.

“saranghae” aku mengatakannya dengan suara agak bergetar, aku memang gila, aku baru mengenalnya beberapa hari dan aku mengatakan mencintainya? Dia berbalik dan menatapku, tatapan tak percaya.

“kau gila” dia mendesis pelan dan mencoba melepaskan tanganku.

“ya, aku memang gila, tapi aku juga memang mencintaimu” kali ini suaraku terdengar lebih yakin, sama seperti perasaanku padanya, ya aku yakin ini cinta.

Dia masih berusaha melepaskan tanganku, tapi aku memegangnya lebih kuat, Aku mendekatan tubuhku, memeluknya.

“saranghae” ucapku lagi, dia tidak membalas pelukanku sehingga aku memeluknya lebih erat, aku bisa merasakan debaran jantungnya saat ini juga, dan aku menyukai debarannya, injung-ah kau juga mencintaiku kan?

Aku melepaskan pelukanku kemudian tersenyum, senyum yang biasanya membuat para gadis histeris (tapi tidak dengan dia), wajah kami sangat dekat, hidung kami bahkan hampir bersentuhan. Dia tidak melakukan apapun selain menatapku, aku menutup mataku dan membiarkan bibirku menyentuh bibir injung, lagi.

Dia terkejut untuk beberapa saat dan kemudian membalas ciumanku! Kyaa apa Artinya ini? Apa dia juga merasakan perasaan yang sama denganku?

“minho-ah” ucapnya dengan nafas tersengal setelah dia behasil mendorongku setelah ciuman singkat kami. dia terdiam untuk beberapa saat, tapi kemudian…

“nado saranghae minho-ah”

-FINN-

Gimanaaaaaaa? Maaf ya kalau rada-rada aneh Huhuhu T.T makasih buat yang udah baca, commentnya di tunggu yaa 🙂 🙂 🙂