Author : Lolillo

Title : Heart’s Desire

Length : Continue

Genre : fantasy, romance

Cast : Sooyun (own character), Junho (2PM)

Support cast: MBLAQ member & 2PM member (Seungho, G.O, Mir, Joon, Cheondoong, Taecyeon, Chansung, Junsu, Nichkhun, Wooyoung), Jung Jihoon (Rain), Park Jinyoung (JYP), Miss A Min.

Halo! Ini pertama kalinya aku buat FF dan mempublishnya, jadi maaf ya kalo masih banyak banget kekurangannya🙂

Semua karakter di FF ini murni karanganku kok, aslinya mereka nggak jahat dan menyeramkan hahaha😀

Gumawo buat semuanya yang udah nyempetin baca, dan yang ngasih comment juga jeongmal gumawo!😀

Kritik dan saran sangat ditunggu, ya..

Happy reading!😀

Part 7

Perlahan, Sooyun membuka matanya, dan cahaya lampu putih terang menyakiti matanya. Perlahan ia tersadar dan menyadari keadaan di sekelilingnya. Sebuah kamar, kamar yang familiar. Ah, iya, ini kamarnya!

Sooyun memutar otaknya untuk mengulang kejadian yang berlangsung sangat depat malam kemarin. ia meletakkan tangannya di leher kanannya, awww… terasa perih. Sudah tidak ada bekas gigitan di sana, tapi kesakitan yang ditimbulkan akibat gigitan itu masih jelas bisa Sooyun rasakan.

Ia ingat sekarang, Junho menggigitnya, dan entah bagaimana bisa terjadi, kekuatannya kembali. Ia melempar vampir itu, kabur, menghajar saudara-saudara, merusak pagar dengan angin ribut, lalu berlari menjauh dari situ. Tapi kok, sekarang ia bisa ada di… kamarnya?

Cklek, pintu dibuka dari luar, masuklah seorang perempuan berbaju pelayan dan menatap Sooyun dengan senyum yang merekah. “Nona, syukurlah Nona sudah sadar.”

“Huh?”

“Kemarin malam, Nona datang kesini, mendobrak pintu, dengan bekas gigitan di leher yang berdarah-darah. Setelah itu Nona nggak sadarkan diri, untung saja ayah Nona bisa menyembuhkan, sehingga Nona bisa sembuh dari blood coma.

Sooyun mengangguk pelan, Junho brengsek! Pasti dia menghisap darahku begitu banyak hingga aku hampir kena blood coma. Kukira dia orang baik…

Dalam diam, Sooyun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia memilih baju dari lemari dengan cepat dan masuk ke kamar mandinya. Masih nggak percaya akhinya ia kembali berada di kamar itu, bebas dari keenam vampir sadis itu.

Setelah bersih dan rapi, Sooyun mengenakan pakaian miliknya—akhirnya—ia memilih diam di kamar, sampai sebuah ketukan di pintu menyadarkan ia dari lamunan.

“Masuk.”

“Selamat pagi, Sooyun.”

Sooyun tertegun, ada ayahnya, Jung Jihoon, berdiri di ambang pintu, menatapnya lurus dan… tersenyum? Sejak kapan ayahnya tersenyum kearahnya.

“Pa-pagi, Ahboji-nim.” Sooyun membalasnya dengan berdiri dan membungkuk dengan hormat. Ia tidak berani menatap ayahnya, apalagi setelah kejadian buruk yang menimpanya selama ini kan karena kenekatannya, tidak mau menghiraukan larangan ayahnya.

“Sudah merasa baikan?” Jihoon dengan lembut berjalan kearah Sooyun dan membelai rambutnya yang panjang sedikit dibawah bahu. Sooyun mengangguk dalam diam.

“Kalau begitu, mari kita sarapan bersama, para kakakmu sudah menunggu di ruang makan.” Jihoon merangkul anak bungsunya, lalu berjalan bersama menuju ruang makan.

*

                Mir melipat kakinya di sofa ruang keluarga sambil menonton TV, ia sibuk memindah-mindah channel. Sebentar, ia bosan dan mengalihkan pandangan ke Seungho yang baru datang dari lantai atas dengan sebuah amplop berukuran agak besar di tangannya. Joon yang baru datang dari dapur ikut bergabung.

“Apa itu?” Tanya Joon sembari duduk dengan sebotol darah di tangannya.

Seungho diam, ia duduk di salah satu sofa, dan membaca tulisan berwarna emas di bagian depan amplop yang bertuliskan ‘Winter Ball’, sebuah undangan pesta. Pesta tahunan para vampir yang dilangsungkan saat musim dingin. Seluruh vampir di Korea berkumpul dalam pesta besar yang berbentuk pesta topeng itu.

“Winter Ball?” Mir mengintip, lalu tersenyum, “waaah, pasti menyenangkan sekali. Pasti akan disajikan darah-darah terbaik dan pastinya banyak vampir cantik.” Mata Mir menerawang ke langit-langit ruang keluarga.

“Persiapkan diri kalian.” Jihoon tiba-tiba muncul dari balik pintu, mengetahui topik pembicaraan mereka. Ketiga anaknya mengangguk bersemangat. Jihoon beranjak pergi, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu, “oh iya, ajak Sooyun.”

Ketiganya terbelalak, dan saling menatap satu sama lain. Dari Sooyun lahir, Jihoon tidak pernah mengizinkan anak bungsunya itu ikut ke acara pertemuan vampir seperti ini. Jika Sooyun datang, maka semua vampir akan tau kalau Sooyun itu anak perempuan, bukan laki-laki.

“Oh,” Mir membuka suara dengan canggung, “aku ingat kalau aku punya tuxedo dan kemeja yang sudah kekecilan. Mungkin akan pas untuk dikenakan Sooyun.”

“Aku juga punya banyak dasi, bisa kupinjamkan untuknya.” Sambung Joon.

“Tidak, kalian temani dia ke department store, carikan dia dress terbaik untuk Winter Ball nanti.” Jihoon berkata lagi.

HAH? Joon dan Mir ternganga. Nggak salah nih? Sooyun ke Winter Ball pake dress? Nanti kalau vampir-vampir lain tau hal ini, bukankah itu jadi masalah untuk Jihoon? Bagaimana kalau Park Jinyoung tau hal ini?

“Baiklah, Appa. Kami akan mencarikannya pakaian yang terbaik.” Seungho ikut bersuara, lalu memberi kode kepada kedua adiknya, sudahlah… kita ikuti saja maunya Jihoon Appa. Mir dan Joon mengangguk dalam diam.

*

                “Kau dari mana?” Cheondoong menghela nafas saat menemukan Sooyun berjalan ke kamarnya dengan wajah penuh keringat dan mengenakan setelan hitam-hitam untuk berlatih.

“Latihan.” Jawabnya santai.

“Cepat mandi, Sooyun-ah. Seungho Hyung dan Mir sudah menunggu di bawah.” Cheondoong membuka pintu kamar Sooyun dan mendorongnya masuk.

“Ha? Menunggu? Untuk apa?”

“Nanti kau juga akan tau.” Cheondoong menutup pintu kamar Sooyun dan turun ke lantai bawah, meninggalkan Sooyun di kamarnya sendiri yang mencari baju ganti di lemari sambil kebingungan.

Keenamnya pun pergi setelah matahari benar-benar hilang dari langit, menuju bangunan besar dengan lampu-lampu yang meriah di kota Seoul. Sooyun melenggang santai ke bagian baju-baju cowok tapi tiba-tiba ia merasakan seseorang menarik tangannya.

“Ya! Kita kesana, bukan ke sini.” G.O menarik pelan tangan Sooyun lalu menyusul saudaranya yang lain berjalan kearah yang satunya. Sooyun makin terheran-heran, kenapa mereka mengajakku ke bagian baju perempuan?

Hingga sampailah mereka di bagian dress, di sekeliling Sooyun terhampar gantungan dress-dress cantik dengan berbagai model, warna dan merek. “Yang mana yang kau suka? Pilihlah.” Kata Seungho kalem.

“Hah?” Sooyun memandangi kelima kakaknya dengan keheranan. “tunggu, apa maksudnya semua ini? Kenapa kalian mengajakku ke toko baju?”

“Ya tentu karena kami mau membelikanmu baju, Sooyun-ah. Kalau kami mau membelikannya makanan, pasti kami akan mengajakmu ke restoran.”

“Kok… dress?” Sooyun masih bingung.

“Karena kami mau membelikanmu dress. Sudahlah, seorang filsuf bilang, terlalu banyak bertanya akan membuatmu terlihat bodoh. Lebih baik sekarang kau pilih mana yang kau suka, dan dicoba. Mungkin ada beberapa yang cocok untukmu.” Cheondoong menjawab cepat, lalu menuntun Sooyun menuju salah satu tempat dress-dress indah berbagai model digantung.

Setelah Cheondoong dan Sooyun menjauh, Mir tertawa kecil. “Aku tidak percaya kita pergi membeli dress untuknya.”

“Aku lebih tidak bisa membayangkan adik kita mengenakan dress…” Joon tersenyum kecil, “aku bener-bener nggak ngerti apa yang ada dipikiran Ahboji.”

“Mungkin… dia menyesal tentang apa yang terjadi dengan Sooyun beberapa minggu yang lalu?” G.O menebak asal, “latihan keras dari Ahboji bertahun-tahun kan membangun karakternya sebagai vampir yang suka menyerang vampir lain. Dan karena dia menyerang Junho dan Junsu, perkelahian terjadi, dan… mereka membawanya.”

“Ah sudahlah, yang penting kan masalah itu sudah selesai. Hanya pastikan saja mereka berenam tidak mengganggu adik kita lagi.”

Setelah berjam-jam berlalu, setelah Sooyun mencoba berpuluh-puluh dress dengan bermacam warna dan model, mereka selesai juga berbelanja. Keenamnya berjalan ke parkir di basement dan tiba-tiba Sooyun terhuyung ke samping.

“Gwaenchana?” Joon memegangi Sooyun sebelum adiknya itu jatuh ke tanah. Ia menatap mata Sooyun dan melihat kilatan biru di bola mata adiknya. “kau butuh darah.”

“Tunggu sebentar, kucarikan korban untukmu.” Mir berlalu dari situ. Ia mencegat seorang pemuda yang tampak seumuran dengannya yang baru saja keluar dari mobil. Seungho hanya mengamati dari jauh, kasihan juga manusia itu… tapi biarlah, daripada adikku kekurangan darah.

Tidak berapa lama, Mir memapah pemuda tak sadarkan diri itu, disenderkannya di kap mobil dan disodorkan ke Sooyun. “silahkan nikmati mangsamu, kuyakin kali ini kau akan menikmatinya. Ini kan darah laki-laki.”

Sooyun mengangguk pelan, lalu menggigit leher korbannya, menyesap darahnya cepat hingga ia merasa tenaganya kembali lagi. Tapi lidahnya seakan mati rasa, tidak ada rasa manis seperti halnya waktu pertama kali ia meminum darah laki-laki di FlyingFish.

“Bagaimana rasanya?” Tanya Mir iseng.

“Hambar.” Jawab Sooyun datar.

Sepanjang perjalanan pulang, Sooyun tertidur di mobil sementara kelima kakaknya saling diam dengan pertanyaan di benak masing-masing.

“Ada sesuatu yang aneh,” Cheondoong membuka suaranya, “bagaimana mungkin dia nggak suka darah cowok?”

“Apa mungkin karena dia kebanyakan minum darah perempuan?” Celetuk Joon.

“Bodoh,” Seungho menyenggolnya, “sebanyak apapun darah perempuan yang dia minum, itu nggak ngaruh sama sekali.”

“Sebentar,” G.O yang duduk dibalik kemudi ikut berkomentar, “kalauu kalian ingat, waktu Sooyun pulang ke rumah kita, lehernya berdarah—”

“Salah satu dari mereka menggigitnya, aku bisa tau itu.” Sambung Mir, “Apa itu artinya… Ia terikat dengan salah satu vampir dari mereka berenam?”

“Tapi Ikatan Darah terjadi kalau mereka sudah saling menghisap darah masing-masing, kan?” Tanya Joon.

“Bukan nggak mungkin Sooyun juga sudah menghisap darah salah seorang dari mereka.” Seungho menambahkan, air mukanya berubah serius.

Cheondoong menyimpulkan, “jika benar Sooyun terikat dengan salah seorang dari mereka… dan Jihoon Appa tau—”

“Ini gawat.”

*

                “Nona,” panggilan kepala pelayan menyadarkan Sooyun dari lamunannya, ia baru saja selesai mandi, masih dengan bathrobe dan rambutnya masih basah. Wanita berusia 30 tahun dengan setelan formal itu membuka pintu kamar Sooyun dan menyuruh masuk beberapa perempuan asing dengan bermacam-macam barang di tangan mereka.

“Ada apa ini?” Tanya Sooyun bingung.

“Lho, Nona lupa kalo malam ini akan diadakan Winter Ball?” Sooyun diam, lalu menggeleng. Ia tau tetapi dia nggak tau apa-apa tentang acara itu, dan apa yang harus ia lakukan untuk menyiapkan diri.

“Nah, Jung Sajangnim menyuruhku untuk mempersiapkan Nona dengan sebaik mungkin untuk Winter Ball nanti. Ini adalah orang-orang yang akan mendandani Nona Sooyun agar Nona terlihat cantik saat Winter Ball nanti.”

“Mendandani? Cantik?” Sooyun mengerutkan dahinya, agak asing dengan kata-kata itu.

Tapi Sooyun pasrah saja saat orang-orang ini memulai pekerjaannya, menata rambut dan mendandani wajahnya. Ia merasa canggung, ini pertama kalinya ia didandani. Selama ia hidup, rambutnya selalu diikat, disembunyikan dibalik topi, atau bahkan dipangkas cepak seperti laki-laki.

“Nona Sooyun, sudah selesai. Anda bisa melihat diri anda di kaca.” Kepala pelayan mempersilahkan Sooyun. Ia berdiri, berjalan menuju kaca besar di kamarnya, dan terbelalak. Ini… bener bayangannya yang ada di kaca?

Sooyun melihat seorang cewek dengan balutan dress hitam tanpa lengan yang pas di badan dan jatuh dengan indah hingga beberapa inci diatas lutut, dengan rambut yang bagian atasnya dijepit dan diberi hiasan pita yang berukuran agak besar, bagian bawah rambutnya dan poninya dibiarkan tergerai.

Belum selesai dengan keterkejutannya, Sooyun disodorkan sebuah kotak berisi sepatu. Sepatu dengan hak tinggi warna hitam dengan warna merah di solnya. Ia mengenakannya perlahan, dan hampir terjatuh karena nggak biasa berjalan dengan sepatu setinggi ini.

Kepala pelayan tertawa kecil melihat polah Sooyun, “Nanti pasti Nona akan terbiasa berjalan dengan sepatu ini. Hanya perlu beberapa menit untuk beradaptasi.”

Sooyun mengangguk dengan kikuk, setelah semuanya selesai, ia berjalan perlahan dari kamarnya. Para Hyung pasti akan tertawa melihatku… Ia berjalan pelan mengikuti kepala pelayan menuju lantai bawah. Perlahan ia menuruni tangga, berhati-hati agar ia tidak kehilangan keseimbangan dengan sepatunya.

“Para tuan muda, Nona Sooyun sudah siap.” Kepala Pelayan malah memanggil kelima kakaknya hingga mereka yang tadinya sedang sibuk sendiri, semuanya menoleh kearah tangga, menatap Sooyun. Masing-masing sudah siap dengan setelan tuxedo hitam, kemeja putih, dasi, dan celana panjang berwarna senada.

“Whoooaaa…” Joon ternganga melihat Sooyun yang baru turun dari tangga. Keempat saudaranya juga merespon sama, semua terbelalak melihat Sooyun malam itu. Begitu berbeda dengan adik bungsu yang selama ini mereka tau.

“Sooyun-ah neomu yeppeo!” Mir menghampiri Sooyun dengan senyum lebar di bibirnya.

Sooyun menunduk, lalu tersenyum canggung, “gumawo, Hyung.”

“Ya!” Seungho menghampiri adik bungsunya ini, “kau ini sudah cantik begini, masa memanggil kami dengan ‘Hyung’?”

“Lalu?” Sooyun bertanya polos.

“Panggil kami… Oppa.” Seungho menyunggingkan senyum tipis.

“Mwo?”

“Iya, panggil kami Oppa, Sooyun-ah.” G.O menimpali, ikut tersenyum iseng, “kau ini kan adik perempuan kami.

Sooyun tertawa kecil, Oppa? Ia membuka mulutnya ragu, “O…ppa? Seungho… Oppa? Ah, aneh sekali! Aku nggak mau memanggil kalian Oppa.”

“Kalian semua sudah siap? Ayo kita berangkat.” Jihoon menuruni tangga dan menginterupsi pembicaraan mereka. Ia berhenti sejenak dan menatap anak bungsunya. Sooyun hanya menunduk, takut ayahnya akan marah jika ia berdandan seperti perempuan kali ini.

Tapi, Jihoon malah tersenyum, “Appa menyesal, kenapa Appa tidak menyadari lebih awal kalau anak perempuanku cantik sekali seperti ini…”

Eh? Sooyun terkesiap, ia memandang ke ayahnya dengan wajah penuh tanya, tapi nggak berani berkata apa-apa.

“Kau… sangat mirip ibumu.” Jihoon tersenyum simpul, senyum yang menghangatkan hati Sooyun, ia merasa berdiri di sebelah orang asing, bukan ayahnya sendiri. Selama ini yang ia tau, ayahnya nggak pernah sehangat ini padanya.

“Nah, kalian semua sudah siap? Ayo kita berangkat.” Jihoon memastikan tuxedo dan dasinya sudah rapi, lalu berjalan menuju mobil yang diparkir di halaman rumah. Keenam anaknya mengekor sambil masing-masing membawa topeng masing-masing.

“Hyung,” Sooyun menoleh ke Mir yang duduk di belakang kemudi, “apa yang akan kita lakukan di Winter Ball nanti?”

“Berpesta.” Jawab Mir santai sambil menyetir, “bertemu vampir-vampir lain, mengobrol, berdansa, meminum darah-darah terbaik, dan bersenang-senang. Ah, bukan hal yang nggak mungkin kau bisa bertemu vampir tampan disana.”

“Huh, aku tidak berminat.” Sooyun melengos. Eh, tunggu sebentar,  “memangnya… semua vampir di Korea menghadiri pesta ini?”

Mir mengangguk.

Sooyun menelan ludah, berarti… akan ada Junho disana?

*