Title    : [HeeSeira Couple] Special Day For You

Author : Seichiko a.k.a Dhitia

Length : One Shot

Genre  : Romance, Comedy (?)

Cast     :

Kim Heechul

Kim Seira

Park Jino

Super Junior

Other Cast

Annyeong readers… kangen udah lama ngga muncul di FFL. Kali ini author bawa HeeSeira Couple lagi. Ini sih FF lama, dibuat sesudah [HeeSeira Couple: Lost in Paris]. FF ini edisi ultah Heechul oppa, jadi mian ya kalo ngga update. Yang penting author udah ngasih kado buat Chulppa. Masalah recommed song kali ini, author juga bingung nyambung atau engga. Yang jelas tiga lagu itu yang seneng banget author dengerin waktu buat FF ini. Okay, langsung aja lah author beri. Happy reading all… 🙂

Recommed song: Super Junior – No Other,  Leeteuk Feat. Joo – Ice Cream

Infinite – Can U Smile

*****

“Hyung, bagaimana kabar Seira?”

Ingin sekali rasanya Heechul menelan makhluk yang bernama CHOI MINHO. Kenapa? Karena sejak beberapa minggu yang lalu, tepatnya setelah Heechul kembali dari Paris, pertanyaan itulah yang selalu Minho lontarkan setiap bertemu Heechul. Telinga Heechul sampai panas dibuatnya. Dan menyebalkannya lagi, Minho tidak mau tahu tentang panasnya hati Heechul. Ia terus saja menanyakan kabar Seira setiap waktu.

“Hyung, kapan kau mau mengajak Seira lagi?”

Kali ini giliran Changmin yang bertanya, saat tidak sengaja bertemu Heechul di SMEnt. Arrggghhh… Heechul semakin frustasi. Gadisnya itu, gadis babo bernama Kim Seira, apa tidak bisa mengurangi sedikit pesonanya?

*****

“Hyung, waeyo?” tanya Ryeowook yang bingung melihat perubahan pada sifat Heechul akhir-akhir ini.

“Karena apa lagi, tentu saja karena Seira! Wookie-ya, berhenti melemparkan pertanyaan bodoh seperti itu!” sindir Kyuhyun tanpa menoleh, matanya sibuk menatap layar PSP yang sudah seperti kekasihnya.

“Seira lagi? Memang ia kenapa hyung? Seingatku Seira baik-baik saja. Ah, atau dia sedang sakit? Aigoo~ aku ingin menjenguknya hyung…” seru Ryeowook yang sudah memasang wajah aegyo miliknya, namun begitu Heechul menoleh, nyali Ryeowook menciut.

“Diam kau, atau…”

“Aku akan diam hyung, jinjja!” Ryeowook mengunci mulutnya dengan satu tangan.

Tanpa menoleh lagi, Heechul pergi ke Dorm lantai 12. Ia ingin menyendiri dan menjernihkan otaknya yang mulai keruh karena Seira. Dengan kepala yang disandarkan pada tangan, Heechul memandang langit kamarnya yang kini terlihat berwarna abu-abu.

Heechul mengambil handphone yang ada diatas meja. Dengan sekali gerakan wajah Seira muncul dan membuat kepala Heechul kembali berputar. Heechul mengeluh dalam hati saat melihat sosok Seira dalam foto, lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan.

Entah sejak kapan, Seira mampu menjadi sebuah kebiasaan dalam hidup Heechul. Heechul tahu jika ia bisa hidup tanpa Seira, bahwa dunianya tidak akan berhenti hanya karena seorang gadis keras kepala bernama Seira. Namun kenyataannya, Heechul tidak ingin melakukan hal tersebut. Ia tidak ingin hidup tanpa Seira, paling tidak untuk saat ini dan selama beberapa puluh tahun berikutnya.

Heechul kembali mengingat kejadian yang dialaminya saat di Paris. Ada banyak namja yang menaruh perhatian pada Seira. Onew, Changmin, bahkan Minho yang uasianya lebih muda dari Seira saja ikut tertarik padanya. Minho pernah mengatakan jika Seira itu gadis yang sangat manis dan menggemaskan, bahkan saat ia tersesatpun ia terlihat manis. Dengan nada bercanda, Minho mengatakan jika kelak HeeSeira putus, Minho bersedia mendekati Seira dengan senang hati.

Kini menjaga Seira terasa sangat sulit. Karena ia terlalu mempesona dengan segala tingkahlakunya.

“Yaa! Choi Minho babo!” omel Heechul setiap mengingat wajah kharismatik Minho yang menyebalkan.

Jika saja Heechul kuat mengangkat gedung SMEnt, maka Heechul bersumpah akan mengubur Minho hidup-hidup didasar gedung saat ia mengatakan ingin mendekati Seira. Andai Minho kimchi, maka Heechul akan menelan Minho tanpa tersisa.

Heechul sangat cemburu, marah, ingin memukul Minho. Namun ia tidak dapat melakukannya. Heechul hanya dapat melampiaskan rasa marahnya pada udara. Ia ingin menarik rambut Minho atau menutup pandangan Minho dari Seira, namun lagi-lagi niat itu ia batalkan.

“Sei-ya…” Heechul berkata pelan, dan kembali memandang foto Seira.

Tepat disaat Heechul memikirkan Seira, gadis itu menelepon. Suatu yang sangat kebetulan sekali.

“Yobosaeyo, Sei-ya…” jawab Heechul riang.

“Ne, oppa.”

“Ada apa meneleponku malam hari begini? Jangan bilang jika kau merindukanku, kekeke~” ujar Heechul narsis.

“Aku? Merindukanmu? Jangan bercanda oppa!” balas Seira datar.

Heechul kembali menghela nafas. Andai Seira ada dihadapannya, mungkin Seira akan bertanya mengapa wajah Heechul berubah mendung seperti sekarang.

“Oppa, kau masih hidup kan?” tanya Seira saat Heechul berhenti bicara padanya.

“Ne.”

“Ah oppa, ada yang ingin aku bicarakan.”

“Mwo?” Heechul mulai bersemangat dan mengegakkan kepalanya yang tadi sempat melemah.

“Besok kita tidak dapat betemu. Aku harus menyelesaikan skripsiku, karena sebentar lagi aku akan ujian oppa. Lagipula, bukankah besok jadwal oppa cukup padat,” Seira berkata sok tahu.

“Ne, kau benar…” ucap Heechul pada akhirnya. Ia hanya bisa pasrah. Sesungguhnya Heechul sangat ingin bertemu Seira, ia rindu.

“Aku hanya ingin mengatakan itu saja oppa.”

“Aku tutup ya teleponnya,” suara Heechul nyaris menghilang, dan tangannya bersiap untuk mematikan teleponnya.

“Okay. Ah oppa, chakkaman!” seru Seira kencang.

“Apa lagi?”

“Oppa, jangan terlalu lelah. Kau bilang tidak ingin wajah mulusmu itu ternoda, kalau begitu jangan tidur terlalu malam hanya karena sibuk bermain twitter.”

Omonaaa, ada angin topan rupanya. Karena malam ini otak Seira bergeser. Biasanya Seira tidak pernah memperhatikan Heechul seperti itu, kenapa Seita tiba-tiba berubah.

Heechul tersenyum senang. “Sei-ya, gonawoyo. Aku janji tidak akan bermain twitter sampai pagi lagi.”

“Benar oppa, lebih baik begitu.”

“Ne, aku berjanji!” ucap Heechul dengan wajah berseri.

“Lebih baik oppa menggunakan waktu luang untuk mendownload video Big Bang atau B2ST saja. Dengan begitu oppa akan meringankan sedikit pekerjaanku,” ujar Seira dengan nada amat sangat polos.

“Ne??!” Heechul shock dengan apa yang baru saja Seira ucapkan. Jadi Seira melarangnya bermain twitter bukan karena peduli pada kesehatan Heechul, melainkan karena Seira ingin Heechul membantunya mendownload video BB idola Seira. Cissh~ sampai langit runtuhpun Heechul tidak rela!

“Yaa! Oppa, jangan pernah berteriak sesukamu! Telingaku bisa pecah, ara?” omel Seira kesal.

“Kau yang menyebalkan! Aku pikir kau peduli padaku, tapi apa? Kau malah memintaku untuk melakukan hal-hal yang sangat aku benci. Yaa! Kim Seira-ssi, sampai kapan kau mau membuatku nyaris mati karena menahan kesal seperti ini!” akhirnya semua perasaan Heechul meluap tanpa bisa ditahan lagi. Biar saja jika Seira tahu perasaan Heechul yang sesungguhnya.

“Op-pa…” pekik Seira tertahan, tidak menyangka jika Heechul akan mengatakan hal tersebut. Selama ini yang Seira tahu, Heechul adalah namja yang sangat pencemburu. Namun Heechul tidak pernah mengatakannya secara langsung. Dan malam ini semuanya terlihat sangat jelas, bukan hanya warna abu-abu yang terlihat samar.

“Ah sudahlah, aku mengatakan dengan jujurpun kau tidak akan mengerti.”

Seira terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

“Tidurlah, kau bilang jadwalmu besok sangat padat.”

“Ne.”

“Good night…”

“Ne, oppa.”

“Yaa! Cepat tutup teleponnya lebih dulu. Aku lelah menunggumu!” protes Heechul saat Seira tidak kunjung menutup sambungan teleponnya.

“Ah, ne oppa.” Jemari Seira segera menekan tombol pada handphone, dan menghentikan pembicaraan mereka.

Barulah saat sambungan telepon putus, Heechul mematikan handphonenya dan menaruh kembali di atas meja. Salah satu kebiasaan aneh Heechul sejak berpacaran dengan Seira: Jika dalam keadaan tenang, Heechul pantang memutuskan pembicaraan mereka berdua di telepon terlebih dahulu.

*****

Morning…” sapa Jino yang kini sudah bertengger manis dipintu gerbang rumah Seira.

“Berhenti bersikap sok tampan dihadapanku, Park Jino-ssi!” seru Seira dengan wajah datar.

“Omooo~” Jino segera menangkap beberapa file milik Seira yang nyaris terjatuh karena tangan mungilnya penuh dengan barang-barang.

“Gomawo,” ujar Seira singkat sebelum masuk kedalam mobil.

Jino menepuk tangannya pelan. “Baiklah, Kim Seira agashi… hari ini apa saja jadwal kita?” tanya Jino seolah menjadi pelayan Seira.

“Kekeke~ Jino babo! Yaa! Berhenti bersikap aneh!” ledek Seira dengan senyum lebar.

Hari ini jadwal Seira sungguh padat. Ia harus meminta tanda tangan Mr. Kwan sebagai penyempurna skripsinya yang akan disidangkan Jumat besok. Dan rumah Mr. Kwan itu sangat jauh, di daerah Busan. Jadilah Seira meminta Jino untuk menjadi pengawalnya sehari. Dengan balasan, Seira harus meminjamkan PSP terbaru miliknya pada Jino selama dua hari. Sungguh, teman yang sangat pamrih… (-_-!!)

Perjalanan berjam-jam membuat kepala Seira terasa meledak, dan kakinya mulai pegal karena duduk di mobil. “Jino-ya, berhenti dulu. Kakiku mulai sakit,” keluh Seira sambil memegang lututnya yang terasa kram.

Jino menghentikan mobilnya, dan memandang suasana disekitarnya dengan kening berlipat. Seira meminta berhenti disini? Ditempat yang sangat sepi dan dipenuhi ilalang seperti ini?

“Jino-ya…” keinginan Seira untuk turun mobil semakin menjadi.

“Aissh, jinjja! Yaa! Seira babo, kau ingin kita dirampok ya? Tempat ini sangat sepi. Sebaiknya kita berhenti didepan saja.”

Karena takut dirampok, Seira menurut. Ia tidak ingin laptop yang kini bagai nyawanya dirampok oleh penjahat.

Setengah jam kemudian, Jino menghentikan mobilnya. Seira memandang takjub apa yang kini ada dihadapannya. Laut lepas, pantai. Seira dapat mencium aroma laut yang menyegarkan. Dengan langkah ringan Seira keluar mobil, dan melepas sepatunya untuk berlari mengelilingi pantai.

“Hwoaaa, Park Jino daebak!!!”

“Tentu saja, aku kan namja paling hebat didunia!” ujar Jino narsis. Jino ikut melepas sepatunya setelah mengunci pintu mobil.

Seira berlari kecil di tepian pantai. Kakinya belum rela untuk melangkah masuk ke dalam air.

“Waeyo?” tanya Jino bingung, ketika melihat Seira enggan memasukkan kakinya ke dalam air.

“Jino-ya, aku tidak membawa pakaian lagi. Jika aku bermain air, nanti pakaianku bisa basah. Aissh, menyebalkan! Padahal pantai ini sangat sangat sangat indah!” Seira mengeluh kencang.

Jino teringat bahwa ia membawa pakaian ganti didalam mobil. Sebenarnya itu bukan miliknya, melainkan milik noona dan kakak iparnya. Sepasang kaos couple. Mungkin agak aneh jika Jino memakainya bersama Seira, tapi tidak ada pilihan lain.

“Sepertinya dimobil ada pakaian lagi.”

Seira mengekor dibelakang Jino. Dan begitu Jino mengeluarkan pakaian itu, mata Seira menatap heran. “Jino-ya, kau menyimpan kaos couple seperti ini didalam mobilmu?”

“Ani, ini bukan milikku. Pakaian ini milik noona. Yaa! Kalau tidak mu pinjam ya sudah. Aku simpan saja lagi.” Jino bersiap untuk memasukkan pakaian itu, namun Seira mencegah.

“Hajiman! Ne, aku memang membutuhkan pakaian itu. Cepat berikan!”

Setelah berganti didalam toilet umum, Seira muncul lagi. Kini penampilan Seira terlihat sangat santai. Dengan kaos bergaris dan jeans pendek serta rambut digulung yang membuat Jino mabuk.

“Seperti kembar idiot!” desis Seira ketika melihat Jino yang juga sudah berganti pakaian sama seperti dirinya.

“Seira-ya, jangan terlalu lama main. Ingat tujuanmu datang kesini,” Jino kembali mengingatkan.

“Huft, tidak bisa melihat orang senang!”

“Omooo~ Seira-ya, ayo kita berfoto gaya ulzzang lagi,” ajak Jino. “Apalagi pakaian kita hari ini sangat serasi.”

“Ide yang bagus, tapi… siapa yang mau memotret kita?” tanya Seira bingung, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.

“Cogiyo… Noona, bisa bantu potret kami?” ujar Jino kepada wanita yang duduk agak jauh dari mereka sambil mengeluarkan handphonenya.

“Ne.”

“Gomawo…”

Seira dan Jino berdiri membelakangi laut, keduanya sudah memasang tanda peace dan bersiap untuk di foto. Namun satu ide licik melintas diotak Jino.

“Hana… dul…”

Jino menarik tangan Seira hingga kaki Seira masuk kedalam air. Karena tidak waspada, Seira terkena jebakan Jino.

“Set…”

Clik!

Tepat saat kamera memotret, Seira benar-benar kacau. Dirinya membelakangi kamera, wajah Jino terlihat evil ketika sedang menarik tangan Seira agar masuk kedalam air.

“Yaa! Park Jino kau!!!”

Plak!

Tangan Seira melayang tepat diatas kepala Jino. Seira kesal karena wajahnya tidak terlihat didalam foto itu. Terlebih lagi, eonnie yang tadi mengambil gambarnya tidak mau mengulang. Hancur sudah fotonya hari ini.

Jino merebut handphone yang sedang Seira pegang. Dengan jarinya yang lincah, Jino mengupload foto tersebut ke akun twitternya dengan title: Kekeke~babo!.

Seira masih memanyunkan bibirnya saat handphone yang ada didalam tas tiba-tiba bergetar. Ternyata ada panggilan masuk dari Heechul oppa. Ada angin apa Heechul meneleponnya pagi hari begini.

“Ne, oppa…” jawab Seira singkat.

“YAA! KIM SEIRA! SEDANG APA KAU BERSAMA DENGAN JINO??!” teriak Heechul kejam, tanpa mengatakan halo atau annyeong terlebih dahulu.

“Aissh, jinjja! Yaa! Heechul oppa, apa yang kau lakukan hah?!” balas Seira tidak kalah kencang. Sial sekali nasibnya pagi ini, karena mendapat teriakan kasar dari Kim Heechul.

“Kau…” ujar Heechul geram. “Kenapa kau bisa bermain dipantai bersama Jino pagi hari begini? Dan… kenapa kalian bisa memakai kaos couple seperti itu?!” desis Heechul tajam.

Seira menelan ludahnya yang kini terasa kelu. “Pantai? Kaos couple?” kini pandangan Seira jatuh pada Jino. Ingin rasanya Seira menusuk Jino detik ini juga karena Seira tahu jika ini semua ulah Jino, namun Seira takut tidak dapat pulang kerumah jika menusuk Jino sekarang. Lebih baik menusuknya nanti saja jika sudah kembali kerumah.

Seira tidak dapat menjelaskan semuanya, ia takut Heechul akan semakin cemburu. Yang bisa Seira lakukan hanya diam. Hingga telepon terputus pun, Seira hanya terdiam. Jino jadi iba pada Seira.

*****

 

…Super Junior’s Dorm, 12th Floor…

MWOYA???

Kim Seira benar-benar cari masalah rupanya! Tadi pagi Heechul membuka twitter, dan mendapati foto Seira berdua Jino sedang bermain di pantai. Mereka berdua memakai kaos couple yang memang… ehmn, mungkin cukup serasi! Dan itu membuat kepala Heechul mengeluarkan asap. Selama ini, Heechul tidak pernah foto berdua dengan Seira. Ia takut jika ada yang melihat foto mereka berdua. Sangat berbanding dengan Jino yang selalu meluangkan waktu untuk foto bergaya ulzzang bersama Seira.

Heechul kembali menatap foto tersebut dengan pandangan kesal.

Sial! Difoto itu Seira terlihat sangat cantik. Meskipun hanya terlihat belakangnya saja, tapi Heechul tahu jika pakaian itu akan terlihat sangat cocok dengan Seira. ENVY! Heechul benar-benar iri pada Jino. Ia bisa berfoto dengan Seira kapanpun, berbeda dengan Heechul yang harus menyembunyikan identitas Seira sebagai kekasihnya.

“Yaa! Kau menang! Puas kau Park Jino?!!” jerit Heechul geram.

Lagi-lagi kalah! Kenapa Heechul selalu kalah jka dibandingkan dengan namja yang ada disekitar Seira. Sejak dulu Heechul selalau kalah pada Jino, ia sangat sadar hal itu. Dan saat di Paris, Heechul kalah telak oleh Minho. Minho yang baru mengenal Seira beberapa hari saja sudah punya kisah tersendiri bersama Seira. Yaitu saat mereka tersesat berdua di Paris! (baca HeeSeira Couple: Lost in Paris)

Sedangkan Heechul? Tidak ada kenangan yang paling istimewa dihitungan tahun hubungan mereka. Heechul akui jika ia sangat menikmati kebersamaannya bersama Seira, meskipun hanya sebentar dan dihiasi oleh pertengkaran.

Heechul ingin lebih. Ia ingin ada sesuatu yang istimewa didalam hubungan mereka. Sesuatu yang tidak akan pernah Seira lupakan. Sesuatu yang harus melekat didalam otak dan hati Seira untuk selamanya.

08-01-2011

Dua hari lagi ulang tahun Heechul. Sebaiknya ia memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat satu kenangan manis dalam hubungannya. Dan Heechul kembali teringat perkataan Seira kemarin yang mengatakan bahwa pada tanggal 9 Seira akan melaksanakan ujian.

“Ne, oppa…” jawab Seira dengan malas ditelepon.

Heechul tahu jika Seira masih marah karena bentakannya tadi pagi, namun Heechul sudah tidak peduli. “Sei-ya, besok apa saja kegiatanmu?”

Seira mengerutkan alisnya, merasa aneh dengan pertanyaan Heechul.

“Yaa! Sei-ya, aku sedang bertanya padamu.”

“Ah, oppa. Kenapa kau bertanya seperti itu. Biasanya kau tidak pernah peduli dengan kegiatanku,” ucap Seira polos.

Heechul benar-benar terpojok dengan perkataaan Seira. Tapi mau bagaimana lagi, itulah kenyataannya.

“Hemn…” Heechul menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. “Sei-ya, aku ingin membuat penawaran bagus untukmu. Mau tidak?”

“Mwo?” Seira bertanya curiga.

“Aku sedang baik, jadi aku ingin menawarkan jasa padamu.”

“Mwoya?”

“Aissh, jinjja! Kau itu benar-benar menyebalkan! Yaa! berhenti mengeluarkan kata ‘MWO?’ padaku.”

“Oppa yang aneh, kenapa menyalahkanku,” ujar Seira enteng.

“Sudahlah, aku ingin menawarkan diri untuk menjadi pengawal pribadimu satu hari. Bagaimana???”

Seira menaikkan alisnya. Tawaran yang cukup menarik. Heechul oppa mau menjadi pengawal pribadinya, itu tandanya… Seira bisa memerintah Heechul sesuka hati. Yeay, pasti menyenangkan. Tanpa berpikir dua kali, Seira menyetujui ide Heechul yang sedikit gila itu.

“Ne oppa, aku setuju.”

Good, kalau begitu besok pagi aku akan muncul dirumahmu. Bersiaplah…”

“Okay!”

“Chakkaman…”

Seira hendak menutup teleponnya ketika suara Heechul kembali muncul.

“Apa lagi oppa?”

“Sei-ya, kenapa kau mudah sekali menyetujui ide dariku? Biasanya kau akan menolak permintaanku yang aneh,” tanya Heechul sedikit curiga.

“Kekeke~ bukankah dikawal gratis oleh member Super Junior itu terdengar sangat keren oppa?” Seira menjulurkan lidahnya dan terkekeh sendiri.

“Baiklah, aku tutup teleponnya…” suara Heechul terdengar malas.

Clik!

Kim Heechul itu sungguh tidak sopan pada kekasihnya sendiri. Nyaris saja Seira melempar handphone untuk kedua kalinya jika tidak takut dimarahi eomma.

*****

Saturday… July 09, 2011

06.00 am

Seira baru saja selesai merapikan rambutnya, ketika pandangannya tidak sengaja beralih keluar jendela dan mendapati satu mobil terparkir manis diluar pagar rumahnya. Masih dengan mata setengah terpejam, Seira berjalan turun dan membuka pintu gerbang.

“Omooo~” oekik Seira saat menyadari siapa namja berjaket tebal yang sedang menyandarkan tubuhnya pada mobil.

“Aissh, aku tidak menyangka jika keluar rumah pagi hari akan terasa dingin seperti ini.”

“Heechul oppa.”

“Cepat bawa aku masuk, atau kau akan menjadi single karena kekasihmu yang tampan ini pingsan membeku!” protes Heechul dengan mulut yang mengeluarkan asap.

“Jangan bercanda dipagi hari oppa!” kata Seira datar. Kemudian berjalan mengekor dibelakang Heechul.

Tanpa bersuara, Heechul dan Seira duduk dimeja makan. Dan ketika eomma Seira menoleh, eomma nyaris tenlonjak kaget karenanya.

“Aigoo, kalian berdua! Yaa! sejak kapan kalian duduk disini?”

“Sejak lima menit yang lalu ahjumma,” Heechul menjawabnya dengan suara pelan.

“Mwoya?” pekik Dara yang baru turun dari kamar atas. Pemandangan yang aneh saat mendapati Weird Couple duduk manis dimeja makan pagi hari begini.

“Dara-ssi…” Heechul menunduk hormat pada calon kakak ipar yang usianya hanya terpaut beberapa bulan darinya.

“Mwoya?” kali ini giliran appa Seira yang menyampaikan rasa terkejutnya.

“Ahjussi…” Heechul kembali menunduk hormat pada appa Seira.

“Hari ini aku akan menjadi pengawal pribadi Seira…” ujar Heechul disela-sela sarapannya.

“MRORAGO?” teriak eomma, appa dan Dara bersamaan.

Heechul nyaris menutup telinga karena teriakan ketiga orang itu. Benar-benar keluarga vampir!

08.00 am

“Semuanya sudah lengkap?” tanya Heechul untuk kesekian kalinya. Hari ini adalah hari paling bersejarah didalam hidup kekasihnya itu. Seira akan sidang, dimana nasibnya sebagai mahasiswi akan dipertaruhkan hanya dalam hitungan jam.

Sepanjang perjalanan menuju Seoul University, berkali-kali Heechul melirik Seira yang sedang asik mendengarkan i-Pod. Gadisnya itu, apa dia tidak sadar jika dirinya sangat cantik. Wajahnya mulus, hidungnya mancung, matanya bulat dengan double eyelid, dan yang paling cantik… senyumannya.

Heechul sungguh jatuh cinta pada Seira. Pada sikap Seira yang selalu dingin padanya. Pada jalan pikiran Seira yang childish. Pada semua sikap aneh Seira yang bisa muncul setiap waktu.

Jika ada yang bertanya apa hadiah ulang tahun yang Heechul inginkan, tentu ia akan menjawab… SEIRA. Heechul ingin Seira selalu ada dihidupnya. Andai Seira tahu seberapa besar perasaan Heechul padanya.

 

11.30 am

“Haahhh, oppa!” Seira masuk kedalam mobil Heechul yang terparkir dihalaman kampus. Sesungguhnya Heechul ingin ikut masuk ke kampus Seira, namun Seira menolak. Ia takut jika kedatangan Heechul akan menimbulkan keramaian tersendiri.

Seira tidak ingin acara sidangnya berubah menjadi acara fanmeeting Super Junior Heechul.

“Sei-ya, bagaimana sidangnya?”

Seira menatap Heechul dengan wajah memelas. Heechul jadi takut jika didalam tadi ada hal buruk yang menimpanya.

“Oppa, aku…”

“Ne?”

Seira mengeluarkan tanda peace pada tangannya. “Tentu saja aku bisa menjawab pertanyaannya oppa,” ucap Seira bangga.

“Sei-ya daebak!!!” Heechul mengusap kepala Seira lembut. Kini gadisnya telah menjelma menjadi wanita dewasa. Heechul bangga pada Seira.

01.15 pm

“Oppa lelah tidak?” Seira memasukkan potongan puding kedalam mulutnya. Siang ini mereka berdua makan disebuah restoran yang cukup sepi pelanggan.

Jujur, sebenarnya Heechul cukup lelah menemani Seira. Satu hal yang harus Heechul akui sekarang juga. Ternyata seorang Jino itu cukup hebat. Ia bisa bertahan menemani Seira hingga bertahun-tahun lamanya. Heechul harus banyak berterima kasih pada Jino yang telah menjaga Seira.

“Ani, aku senang bisa menemanimu seperti ini.”

“Jheongmal? Keundae, bukankah oppa ada jadwal pemotretan nanti sore. Sebaiknya oppa pulang, nanti malam aku bisa mengambil hasil ujiannya sendiri.”

“Shireo! Ini tidak sesuai dengan perjanjian. Bukankah aku janji akan menjadi pengawalmu satu hari, bukan setengah hari.”

“Tapi…”

Hap, Heechul menyumpal mulut Seira dengan roti cokelat. Bibir Seira yang hobi membantah itu memang harus dibungkam seperti itu. Jika tidak pembicaraan mereka berdua akan semakin panjang.

“Aku akan mengantarmu lagi nanti sore, kau tidak perlu khawatir. Masalah pemotretan itu, aku akan meminta izin untuk pulang cepat.”

Seira mengeluarkan potongan roti yang memenuhi mulutnya. “Oppa, kau sudah cukup lama menemaniku hari ini. Jadi beristirahatlah jika sudah selesai pemotretan. Nanti malam aku akan menelepon oppa untuk memberitahukan hasil sidangnya.”

Heechul tetap menolak dan bersikeras pada keputusannya. “Shireo! Aku akan tetap menemanimu! Suka, atau tidak suka!”

“Hah, terserah kau sajalah oppa.”

Seira mengusap mulutnya yang dipenuhi cokelat. Sebelum pulang, Heechul meminta Seira untuk memberikan pengingat pada handphone Heechul.

03.00 pm

Seira memandang handphonenya yang sejak tadi tidak berbunyi. Seira mulai lelah, ia lelah menunggu telepon dari Heechul. Tadi ia bilang mau menelepon jika perkerjaannya sudah selesai. Tapi hingga kini tidak ada kabar apapun dari Heechul.

“Angkat oppa…” ujar Seira saat menelepon Heechul. Sudah tiga kali Seira coba, namun hasilnya gagal. Heechul tidak mengangkat handphoennya.

“Aissh, jinjja! Heechul oppa babo!”

Seira melirik jam dinding dikamarnya dengan kesal. Ini sudah sore, dan Seira harus ada di kampus lagi pukul lima sore nanti. Tadinya Seira sudah tenang karena janji yang Heechul katakan, tapi semuanya gagal total.

“Jino-ya…” pada akhirnya Seira kembali lagi pada Jino. Sahabat yang selalu ada untuknya 24 jam.

“Waeyo?”

“Fiuhhh…”

“Yaa! Kau kenapa? Apa ada masalah?” tanya Jino khawatir.

“Ani…”

“Lalu?”

“Jino-ya, apa kau bisa mengantarku ke kampus? Nanti sore ada pengumuman dari hasil sidang.”

“Tentu saja bisa,” jawab Jino yakin. “Keundae, bukankah seharusnya kau pergi bersama Kim Heechul?”

“Itulah…” desah Seira perlahan.

“Ara, aku akan menemanimu. Kau bersiap sekarang, setengah jam lagi aku akan sampai di rumahmu.”

“Ne,” kata Seira pada akhirnya.

Seira melempar handphonenya diatas ranjang. Rasanya kesal! Jika Heechul oppa tidak berniat memberikan waktunya untuk Seira, katakan saja!

“Yaa! Heechul oppa menyebalkan! Babo!!!”

Seira meninju boneka beruang besar yang Heechul berikan padanya sekitar enam bulan yang lalu.

“Jika tidak ingin memberikan waktu untukku katakan saja secara langsung!”

“Apa itu? Menjadi pengawal satu hari?!”

“MENYEBALKAN!”

“PEMBOHONG!!!”

“Eh?” Seira terkejut ketika ada tetesan yang jatuh diatas bantalnya. Jika karena atapnya yang bocor jelas saja tidak mungkin. Seira menyentuh ujung matanya perlahan, ternyata berasal dari sana. Air itu berasal dari ujung mata Seira.

04.30 pm

“Omonaaa…” Heechul menutup mulutnya ketika melihat jam besar yang terpajang di ujung dinding. Sudah jam setengah lima sore. Bagaimana ini, padahal Heechul berjanji akan menemani Seira. Tapi sudah sore seperti ini saja ia masih terjebak di lokasi pemotretan.

“Heechul-ssi, cepat ganti pakaianmu,” seru seorang staff yang terlihat sangat sibuk.

Heechul masih mematung didepan jam, memandangnya dengan kening berlipat.

“Heechul-ssi,” tangan manajer Hwan menepuk bahu Heechul, dan membuatnya terlonjak kaget.

“Bisa aku pinjam handphone sebentar?” tanya Heechul sambil mengadahkan tangannya.

“Ne.” Manajer Hwan memberikan handphone itu dengan wajah aneh. Tapi ia segera memaklumi. Mungkin perubahan pada diri Heechul itu terjadi karena ia akan bertambah usia nanti malam. Tipe Peter Pan complex.

“Mwo?” Heechul terkejut ketika mendapati nama Seira saat pertama melihat handphonenya. Ada tiga panggilan tak terjawab, pasti Seira sudah berusaha untuk menghubunginya sejak tadi.

“Yaa! Kim Heechul kau mau kemana hah?!” teriak manajer Hwan panik ketika Heechul berlari keluar ruangan secara tiba-tiba.

“Aku ingin pergi menemui Seira!”

“Kau!” manajer Hwan menahan Heechul dengan menarik hoodie yang Heechul kenakan.

“Aku sudah janji pada Seira!” Heechul memberikan alasan kenapa ia ingin kabur dari lokasi pemotretan.

“Tapi kau harus bersikap profesional. Biar aku yang bicara pada Seira.” Manajer Hwan merebut handphone Heechul dengan kasar.

“Yobosaeyo…” sapa Seira pelan.

“Seira-ya, annyeong.”

“Nugu?” Seira merasa jika itu bukanlah suara Heechul.

“Manajer Hwan.”

“Ah, oppa.”

“Seira-ya, aku tidak tahu ada masalah apa antara kau dan Heechul. Tapi aku ingin minta waktu Heechul sebentar, paling tidak sampai ia menyelesaikan pemotretannya hari ini.”

Heechul mendekatkan telinganya pada handphone, sehingga ia bisa mendengar suara Seira dengan jelas.

“Arayo, aku tidak akan mengambil waktu Heechul oppa lagi. Aku tahu jika pekerjaannya itu lebih penting dibandingkan apapun. Aku benar-benar paham oppa.”

Heechul terdiam, kata-kata Seira yang barusan itu sangat dalam. Demi apapun, Heechul merasa bersalah. Untuk kesekian kalinya Heechul menyakiti hati Seira. Membuat Seira berlalu dari pandangannya.

“Seira-ya…” manajer Hwan merasa bersalah karena sudah menelepon Seira. Sungguh tidak ada maksud untuk membuat Seira terluka seperti ini.

“Aku tutup ya oppa teleponnya.” Sebelum manajer Hwan berbicara, Seira segera menutup teleponnya.

“LIHAT APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN!!!” bentak Heechul kencang. Ia benar-benar marah pada manajer Hwan.

“Mianhae. Aku tidak menyangka jika itu akan membuat Seira terluka,” jelas manajer Hwan pelan.

“Jangan pernah mengatakan jika kau peduli pada Seira! Itu hanya kata-kata murahan!” Heechul pergi meninggalkan manajer Hwan yang masih mematung sendiri. Masih memikirkan kebodohan yang baru saja ia lakukan.

“Seira-ya, mianhae…”

 

05.00 pm

“Nugu?” tanya Jino pada Seira, saat ini mereka berdua telah sampai di parkiran kampus.

“Apa?”

“Siapa yang tadi meneleponmu? Kenapa wajahmu berubah setelah berbicara padanya?” suara Jino terdengar sangat lembut.

“Dia, adalah orang yang sudah mengingatkanku. Karenanya, aku jadi sadar siapa diriku yang sebenarnya.” Seira tersenyum hambar pada Jino. Merasa bahwa kalimat manajer Hwan tadi ada benarnya.

“Seira-ya…” Jino mengusap bahu Seira lembut.

Perlahan ada menetes dari ujung mata Seira.

“Uljima…”

“Jino-ya, aku takut tidak lulus sidang.” Seira menatap Jino dengan sisa air mata yang terlihat samar.

Jino memperhatikan Seira kembali. Lagi-lagi Seira berbohong. Ia kembali berkata bohong pada Jino. Mau sampai kapan Seira seperti itu? Jino tahu jika Seira menangis bukan karena takut tidak lulus ujian. Melainkan ada masalah lain.

Seira berusaha menahan kesal didadanya. Dan ia segera berjalan memasuki kelasnya, untuk mengetahui bagaimana hasil sidangnya tadi pagi.

“Kim Seira… lulus dengan nilai A.”

Seira loncat senang saat mendengar kalimat tegas yang baru saja Mr. Kwan katakan. Seira lulus sidang, dengan nilai A. Kabar yang sangat baik ditengah cuaca hatinya yang sedang memburuk.

“Chukkae,” Jino mengusap ujung kepala Seira sedikit kencang.

“Aigoo, Park Jino menyebalkan. Yaa! Berhenti merusak rambutku!” omel Seira dan menarik kencang tangan Jino agar menjauh dari kepalanya.

“Sahabatku ini sudah besar! Sudah lulus kuliah, berarti sudah siap menikah,” ledek Jino.

Mata Seira melebar seketika. “Yaa! Namja babo!”

Jino merangkul leher Seira hingga nyaris tercekik. “Ayo aku traktir. Malam ini dompetku adalah milikmu juga.”

“Jinjja? Kalau begitu aku bisa menggunakan uangmu untuk membeli handphone baru?”

“Tentu saja tidak bisa.”

“Wae?’

“Karena didompetku hanya ada selembar  lima puluh ribu won, hahaha.”

“Park Jino pelit!”

Tidak jauh dari kampus mereka, terdapat pasar malam yang cukup ramai. Pasar tradisional itu sengaja dibuka hanya setiap malam minggu. Hanya dengan berjalan kaki lima belas menit, mereka sudah bisa sampai ketempat tersebut.

Seira menatap takjub jalanan yang kini disulap menjadi pasar oleh para pedangang. Ramai, banyak makanan, dan dipenuhi lampu warna-warni yang membuat Seira loncat senang.

“Aku mau itu…” Seira menunjuk bakso ikan yang dalam jarak sepuluh meter aromanya sudah tercium. Sungguh makanan yang sangat menggoda.

“Aku mau itu…” Jino menunjuk udang bakar yang sedang terpanjang rapi diatas meja.

“Aissh, jinjja! Aku ingin ke toilet. Jino-ya, bisa pegang tasku sebentar?” Seira menyerahkan tasnya pada Jino.

“Okay.”

Jino melirik pintu toilet yang tidak kunjung terbuka. Jangan-jangan Seira tenggelam di bak mandi, ah ani… Jino segera menghilangkan pikirannya yang mulai melantur.

Tas Seira bergetar, Jino yakin jika ada panggilan masuk dari handphone Seira. Karena Seira tidak juga muncul, Jino memberanikan diri untuk mengambil handphone itu. Siapa tahu itu adalah telepon penting.

Weird Oppa, calling

“Weird oppa?” tanya Jino pada dirinya sendiri. “Memangnya siapa yang Seira maksud dengan weird oppa?”

“Yobosaeyo,” sapa Jino sopan.

Alis Heechul mengeriting, kenapa ada namja yang mengangkat telepon Seira. “Nugu?” Heechul berusaha bersikap sopan.

“Park Jino, aku adalah sahabat Seira.”

“Yaa! Kenapa kau bisa mengangkat telepon Seira?” tanya Heechul galak.

“Ah, Heechul-ssi.” Jino baru sadar siapa yang sedang menelepon Seira.

“Kenapa handphone Seira bisa ada padamu?”

“Itu… Seira sedang ke toilet. Dan aku hanya membantu untuk menjaga tasnya,” leher Jino terasa kering.

“Memang kalian sedang ada dimana?”

“Aku dan Seira sedang ada di…” Jino melemparkan pandangannya ke sekitar.

*****

08.00 pm

Jino berusaha menaham debarannya setiap melihat Seira tersenyum. Ia takut jika hatinya akan berubah merah muda, sangat takut. Sudah bertahun-tahun Jino berusaha keras untuk menjadi sahabat yang baik tanpa imbalan jatuh cinta. Jino berhasil! Namun entah kenapa, sejak Seira berpacaran dengan Heechul, Jino merasa ada yang berbeda didalam hatinya.

Kadang Jino cemburu, jika Seira menghabiskan harinya bersama Heechul. Terlebih jika Seira pergi ke bioskop bersama Heechul. Kebersamaan yang lima tahun mengitari Jino, kini berkurang.

Jino tahu, meskipun terlihat acuh, tapi seira itu sangat memperhatikan Heechul. Andai saja Heechul namja yang punya banyak waktu untuk Seira, Jino rela melepaskannya. Nyatanya, Heechul hanyalah namja sibuk yang tidak punya banyak waktu untuk Seira. Selalu membuat Seira kecewa dengan janji yang kadang tidak ditepati. Dan jika sudah kecewa seperti itu, Seira akan pergi mencarinya. Seolah merasa tidak peduli dengan masalahnya dan Heechul. Tapi sekali lagi, mata Jino tidak dapat ditipu. Ia tahu jika Heechul mengingkari janji, Seira akan merasa kecewa dan sedih. Air mata itu akan keluar untuk makhluk menyebalkan bernama Kim Heechul.

“Jino-ya…” Seira menepuk bahu Jino dengan kencang.

“Ne.”

“Kau mabuk ya?” tanya Seira asal.

“Tidak, memang kenapa?”

“Wajahmu itu…” Seira menunjuk wajah Jino. “Kau terlihat sangat babo, kekeke~ hemft!” Seira membungkam mulutnya sendiri karena menahan tawa.

Jino menyentil kening Seira dengan ujung jarinya. “Kau yang babo, ke toilet saja lama sekali. Aku pikir kau tenggelam di bak mandi,” ujar Jino masih dengan memasang wajah babo.

“Aissh, jinjja! Yaa! Berhenti mengatakan hal-hal yang babo, Park Jino-ssi.” Seira menginjak kaki Jino yang ada didekatnya.

Jino tidak membalas Seira dan bersikap sedikit berbeda. Jino melirik jam tangan, masih ada waktu setengah jam lagi. Jino harus memanfaatkan setengah jam ini sebaik-baiknya.

“Seira-ya, ayo kita berkeliling.” Jino menarik pergelangan tangan Seira dan membuat Seira berjalan sejajar dengannya.

Seira berjalan pelan dan sesekali memutarkan tubuhnya saat melihat jajaran toko yang menjual berbagai macam benda.

“Wah, bagus sekali…” Seira menatap sekitarnya dengan pandangan takjub. Ada penjual makanan, gulali, cokelat warna-warni, membuat mata Seira senang.

Jino menatap Seira yang kini berjalan dihadapannya, gadis itu… apa ia tidak sadar jika Jino selalu mengkhawatirkannya.

“Wahhh… aku mau beli permen kapas ini,” tunjuk Seira pada penjual permen kapas yang sudah tua itu.

Jino kembali melirik jam tangannya. Okay, waktu Jino sudah habis. Dengan langkah pelan Jino berjalan mundur dan meninggalkan Seira yang masih asik membeli permen kapas. Jino bersembunyi dibalik penjual boneka yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Seira berdiri.

Tidak lama kemudian, Jino melihat satu sosok yang sangat Jino kenal. Ia berhenti sejenak, mengedarkan pandangan untuk mencari Seira. Dan begitu melihat, ia segera berjalan menghampiri Seira.

“Seira-ya, aku pergi…” ujar Jino pelan.

*****

08.30 pm

Hossshhh, nafas Heechul mau berhenti rasanya. Sudah lima menit ia berlari kencang dari parkiran menuju pasar malam yang ada di dekat kampus Seira. Tadi Jino bilang jika mereka berdua ada disini. Dan begitu manajer Hwan berteriak pemotretan selesai, Heechul segera melarikan mobilnya menuju tempat ini.

Heechul mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Ditempat ramai seperti ini, tentu saja sangat sulit mencari Seira.

“Sei-ya, dimana kau?” tanya Heechul pada dirinya sendiri.

Sekali lagi Heechul menajamkan matanya, dan begitu mengarah kekiri, Heechul menemukannya. Heechul menemukan Seira. Heechul hendak berjalan menghampiri, namun langkahnya sempat berhenti sejenak.

Aigoo, Seira sangat cantik malam ini. Ia memakai dress diatas lutut berwarna cream, rambut digulung yang membuat tengkuknya terlihat jenjang, dan membawa permen kapas berwarna biru. Heechul yakin jika Eunhyuk melihat Seira malam ini, pasti ia akan jatuh cinta.

“Sei-ya…” Heechul tersenyum melihat Seira. Gadisnya itu sangat cantik. Baru kali ini Heechul melihat penampilan Seira luar biasa cantik seperti ini. Biasanya Seira sangat tidak peduli dengan penampilannya.

Heechul berjalan mendekati Seira yang masih tidak menyadari kehadiran Heechul. “Hemn…” tegur Heechul yang kini berdiri disebelah Seira.

Seira yang sedang mengambil uang menoleh, dan segera menutup mulutnya dengan uang yang ia pegang. Ia takut jika ia berteriak kencang saat melihat Heechul yang tiba-tiba berdiri disebelahnya.

“Oppa!” seru Seira tidak percaya.

Heechul menarik uang yang dipegang Seira, dan menyerahkannya kepada penjual. “Ahjussi, gomawoyo.” Heechul menunduk hormat pada penjual itu, dan segera menarik tangan Seira untuk pergi menjauh.

“Oppa, apa yang kau lakukan disini?” tanya Seira bingung. Kini mereka berdua tengah duduk dibangku taman yang agak sepi.

“Menjemput kekasihku, apa tidak boleh?” Heechul berkata enteng.

Seira menundukkan wajahnya, dan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada permen kapas yang tadi ia beli.

“Sei-ya, gwaechana?” tanya Heechul yang bingung melihat perubahan pada wajah Seira.

“Oppa tidak perlu menjemputku jika sedang sibuk,” ucap Seira pada akhirnya.

Heechul menatap Seira tajam. Inilah pengaruh dari kalimat manajer Hwan tadi sore. Sikap Seira berubah dan membuat Heechul merasa bersalah.

“Jadi itu yang membuatmu berubah pendiam seperti sekarang?”

“Ne?” tanya Seira tidak mengerti.

Heechul menghembuskan nafasnya dengan perlahan. “Sei-ya, mianhae. Jeongmal mianhaeyo…”

*****

11.00 pm

Sudah dua setengah jam Heechul dan Seira duduk berdampingan tanpa membicarakan sesuatu. Mungkin diam adalah jalan yang terbaik. Kadang, ada satu moment yang lebih baik dilewatkan seperti ini. Dua orang duduk berdampingan dan melewatinya dengan diam. Diam memang tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi paling tidak, itu bisa menenangkan.

“Sei-ya, aku salah!” ucap Heechul lirih. “Aku bersalah padamu. Aku tidak menepati janjiku untuk menjadi pengawalmu hari ini.”

“Sudahlah, aku tidak menyalahkanmu. Bukankah jadwal oppa memang padat?” Seira tersenyum sinis tanpa menoleh.

“Ya, aku memang sibuk. Dan aku tahu itu membuatmu sedih. Aku yang seperti ini. Sibuk, tidak punya banyak waktu, selalu ingkar janji. Aku sadar jika itu akan membuatmu terluka. Dan mungkin suatu saat nanti, perlahan… kau akan menghilang dari pandanganku.”

Alis Seira keriting, tidak biasanya Heechul mengatakan hal serumit ini padanya. “Oppa…”

Heechul menoleh dan menatap mata Seira dalam. “Sei-ya, mianhae… aku tahu aku bukan namja yang baik. Selalu membuatmu kecewa, sedih, marah. Tapi apa kau tahu? Saat aku membuatmu sedih, disini…” Heechul menepuk dadanya dengan kencang. “Disini… juga ada sesuatu yang terasa sakit.”

“Aku tidak pernah sedih karenamu,” ujar Seira berbohong.

“Jinjja?”

Seira menunduk dan berusaha menutupi wajahnya yang memerah akibat pernyataan Heechul. “Tentu saja, aku tidak pernah peduli padamu.”

Heechul mengusap kepala Seira hingga Seira semakin menunduk. Heechul senang, itu tandanya Seira sudah kembali menjadi Seira yang Heechul kenal. “Arasseo. Mana mungkin seorang Kim Seira mau peduli padaku. Selama ini, aku yang selalu mengejarmu.”

“Itu benar, kau yang tergila-gila padaku oppa. Kalau aku sih tidak!” seru Seira sombong.

“Ne, aku memang tergila-gila padamu.”

“Kau yang selalu menyukaiku, kalau aku… aku tidak menyukaimu.”

“Arasseo…” Heechul tersenyum mendengar kalimat sindiran yang Seira katakan.

Seira terdiam, puas telah mengatakan hal-hal yang bisa meringankan sedikit bebannya. Paling tidak, rasa kesalnya sudah menghilang. Seira melirik jam tangannya. Aigoo, sebentar lagi jam 12. Sebentar lagi ulang tahun Heechul oppa.

“Oppa, aku ingin ke toilet. Tunggu disini sebentar.” Tanpa mendapat persetujuan dari Heechul, Seira segera berlari ke arah toilet.

“Aissh, jinjja! Kenapa Seira lama sekali,” Heechul merasa khawatir karena Seira tidak kunjung muncul.

“Hana… dul…” Seira mengitung dalam hati, dan berjalan mendekati Heechul dari arah belakang.

“Yaa! Kemana anak itu?” omel Heechul, rasa khawatir jika Seira akan kabur semakin menjadi.

“Set…”

Plak!

Heechul menoleh saat ada tepukan kencang di bahunya dari belakang. Heechul bersiap memukul orang itu karena bersikap kurang ajar.

“…”

“HAPPY BIRTHDAY HEECHUL OPPA…” jerit Seira kencang.

“Mwo?” tepat saat Seira berteriak, di langit ada taburan kembang api yang bersinar terang. Heechul terpaku, Seira benar-benar gadis yang hebat.

Seira memberikan tart dengan taburan cahaya dari lilin yang ada ditangannya pada Heechul. “Tiuplah… dan jangan lupa ucapkan permohonanmu.”

Heechul memejamkan mata sejenak, dan meniup lilin itu hingga padam semua. “Sei-ya, gomawoyo…” Heechul kembali mengusap kepala Seira dengan lembut.

Seira kembali duduk di bangku taman, berusaha meluruskan kakinya yang sedikit pegal.

“Kau yang membuat tart ini?” Heechul memperhatikan kue tart yang tadi Seira berikan. “Dan kau yang menyalakan kembang api tadi?”

“Ne, aku meminta mereka semua untuk menyalakan kembang api,” ucap Seira sambil menunjuk sekumpulan anak berusia lima belas tahun yang sedang berkumpul.

Mata Heechul berbinar. Ini hanya hal yang sederhana, namun membuat hati Heechul tersentuh dan bahagia luar biasa. “Sei-ya, kau memang daebak!!!”

“Tentu saja,” Seira berkata bangga. Tapi tiba-tiba, kriiiuuukkkk…

Heechul memperhatikan suara yang barusan. Aigoo, perut Seira berbunyi. Pasti gadisnya itu belum makan sejak siang tadi. “Kau lapar?”

“Ne, aku sangat lapar. Kue ituuu…” pandangan Seira jatuh pada kue yang sejak tadi sangat dilindungi Heechul. “Kue itu buatku saja ya oppa,” pinta Seira dengan wajah aegyo.

“Andwae! Kau kan sudah memberikannya padaku. Jadi ini milikku, dan kau tidak boleh memakannya sedikitpun!”

“Aissh, jinjja! Oppa pelit!”

“Lagipula… aku kan ingin menjaga baik-baik kue buatanmu ini,” ucap Heechul dengan wajah malu.

“Mwo? Kue buatanku? Yaa! Jangan bermimpi oppa. Aku mana bisa buat kue? Ini hasil karya ahjumma yang berjualan diujung jalan sana,” jawab Seira apa adanya.

Mata Heechul menatap tidak percaya. Jadi Seira tidak mempersiapkan hadiah buatannya pada Heechul. Benar-benar kekasih yang menyebalkan.

“Lalu apa hadiah spesial untukku?” tanya Heechul pada Seira.

“Tidak ada, seharian tadi aku sibuk berjalan-jalan dengan Jino. Jadi tidak sempat membuat sesuatu yang spesial untukmu. Lagipula salah oppa sendiri, kenapa tadi membuatku kesal?!” Seira berganti marah pada Heechul.

“Kenapa kau yang marah, harusnya aku yang marah. Yaa! kekasihmu yang tampan ini sedang berulang tahun, dan kau tidak memberikan hadiah yang spesial. Kau juga sibuk jalan-jalan bersama Jino.”

“Jika kau tidak ingkar janji, mungkin aku akan memberikan sesuatu untukmu.”

Heechul kesal mendengar kalimat pedas dari bibir mungil kekasihnya itu. Tadi dia bilang tidak marah, sekarang marah. Seakan teringat sesuatu, Heechul berganti marah pada Seira. “Dan kau, kau pergi dengan namja lain menggunakan dress seperti ini? Yaa! Kau mau membuatku mati muda karena menahan kesal ya?”

“Mamang pakaianku kenapa?”

“Pakaianmu itu sangat seksi. Kau mau membuat Jino jatuh cinta padamu?!” sindir Heechul tajam karena merasa cemburu.

“MWO? Aissh, jinjja! Pakaian Lady HeeHee-mu itu jauuuh lebih seksi daripada pakaianku. Jadi kau juga sengaja memperlihatkan tubuhmu itu pada seluruh dunia?!” sindiran Seira tidak kalah tajam.

“Aku namja, dan kau yeoja. Tentu saja berbeda.”

“Beda apanya? Dan kemarin, kau habis pemotretan tanpa pakaian atas kan? Yaa! kau mau membuat seluruh gadis gila karenamu ya oppa?!”

“Hyeh,” Heechul teringat pemotretan yang kemarin. Ah, tentu saja Seira sudah melihat fotonya. Foto yang memperlihatkan bahu tegap Heechul. Bahkan ada fotonya yang berada diranjang dengan ditutupi selimut.

“Kau mau menyangkal apa lagi?!” omel Seira galak.

“Itu kan… tuntutan pekerjaan,” kalimat Heechul terdengar tidak jelas.

“Arasseo, arasseo… semuanya memang karena tuntutan pekerjaan.”

Kali ini Heechul benar-benar merasa tersindir dengan kalimat Seira. “Kau juga, selalu pergi bersama Jino. Dan yang kemarin, kenapa kalian bisa memakai kaos couple seperti itu?” Heechul merubah topik pembicaraan.

Seira membulatkan matanya, sedikit merasa takut. “Itu juga hanya, tuntutan persahabatan…”

“Tuntutan persahabatan?” kening Heechul berlipat.

“Ne, aku dan Jino sudah lama bersahabat. Apa salahnya jika memakai pakaian yang sama,” Seira memberi alasan yang tida masuk akal. Tapi mau bagaimana lagi. Jika Seira mengatakan alasan yang sebenarnya, bahwa ia memakai pakaian kembar karena takut pakaiannya basah saat bermain air bersama Jino, bisa tamat riwayat Seira.

“Yaa! Nona Kim Seira, kita berdua bahkan tidak pernah berfoto bersama. Dan kau memakai pakaian kembar dengan namja lain!”

“Wae? Oppa cemburu?”

Heechul berusaha menahan geram. Sudah jelas-jelas Heechul cemburu, masa Seira tidak dapat membaca hatinya. “Ne, aku cemburu. Aku amat sangat cemburu. Bagaimana bisa aku yang kekasihmu, dikalahkan oleh seorang Park Jino?!”

“Ckckck~ terimalah nasibmu, Kim Heechul-ssi.” Seira menggelengkan kepalanya tanda turut berduka.

Heechul kesal, kenapa ia selalu kalah dari Seira. Heechul melirik jam tangannya. Aigoo, sudah jam setengah satu malam. Heechul harus mengantar Seira pulang, sekarang!

“Sei-ya, pakai ini. Kau bisa sakit jika memakai dress seperti itu.” Heechul memberikan jaket hitamnya pada Seira, hingga Heechul hanya memakai kaos berwarna hitam.

Dengan kue tart yang Heechul peluk ditangan kiri, dan tangan Seira yang ia genggam ditangan kanan, Heechul berjalan cepat meninggalkan pasar malam menuju parkiran kampus.

“Oppa, berhenti sebentar.” Seira mengatur nafasnya yang mulai naik turun karena mengikuti Heechul.

Heechul menoleh, dan melepaskan cengkraman tangannya yang sejak tadi melingkar ditangan Seira. “Kau lelah?” tanya Heechul, kembali merasa bersalah.

“Yaa! Apa harus aku jawab? Tentu saja aku merasa lelah mengikutimu, kau berjalan seperti ingin perang saja!” omel Seira sambil merenggangkan kakinya yang terasa sakit.

“Mianhae. Tapi ini sudah larut malam, aku harus segera mengantarmu pulang. Atau…”

“Atau apa?”

“Atau appa-mu tidak akan pernah menyukaiku,” Heechul menunduk dan berusaha menormalkan wajahnya.

“Sudahlah, kita pulang sekarang…” Seira berjalan meninggalkan Heechul dibelakang sampai mereka tiba di parkiran.

Heechul bersiap membuka pintu mobil, namun Seira mengatakan sesuatu yang tidak pernah Heechul kira sebelumnya. “Oppa, appaku itu tidak pernah membencimu. Ia hanya… sedikit mengkhawatirkanku.”

“Keuraeyo?”

Seira mengangguk kencang. “Ne, jadi jangan pernah mengatakan hal yang buruk tentang appa.”

Heechul tersenyum dan membukakan pintu untuk Seira. “Gomawo…” ucap Heechul dengan senyum lebar.

“Chakkaman…” Seira teringat sesuatu dan berdiri kembali.

“Apa lagi?” Heechul menoleh kesal.

Chu!

Satu kecupan mendarat dipipi kiri Heechul, hanya dua detik. Namun mampu menyihir Heechul hingga mulutnya terbuka lebar. MWO? Seira menciumnya. Seorang Kim Seira mau mencium pipi Heechul?

“Anggap saja hadiah ulang tahun spesial dariku…” ujar Seira ringan, saat mendapat tatapan aneh dari Heechul.

Heechul masih terdiam dengan wajah yang semakin memerah. Heechul sangat senang mendapat hadiah seperti ini. Andai Heechul bisa ulang tahun setiap hari.

“Yaa! Oppa, berhenti memasang wajah babo seperti itu!”

“…”

“Oppa, jangan berpikiran terlalu jauh! Aku memberimu kado itu, karena hanya kado itulah yang murah dan dapat dilakukan dengan cepat. Jadi jangan berpikiran yang macam-macam lagi!” seru Seira menahan kesal dan rasa mual yang mulai datang.

“Mwo? Kado yang murah?” Heechul tidak mengerti dengan kalimat Seira barusan.

“Ne, jadi jangan mengkhayal lagi!”

“Aissh, jinjja! Yaa! Kim Seira kau benar-benar keterlaluan. Kau harus aku hukum!” Heechul menarik tangan Seira hingga mendekat padanya.

“Apa yang mau kau lakukan oppa? Yaa! Menyingkir dariku!” jerit Seira kencang, dan berkali-kali menginjak kaki Heechul.

Heechul mengeluarkan handphonenya, dan semakin merapatkan tubuhnya pada Seira. “Ayo kita berfoto.”

“Ne?”

“Foto. Kita tidak pernah berfoto bersama bukan?”

Seira terdiam. Ya Heechul oppa benar, mereka memang tidak pernah berfoto bersama selama ini.

“Anggap saja hadiah ulang tahun untukku yang kedua.”

Seira mengangguk setuju, dan berdiri disebelah Heechul. Seira sudah memasang wajah manis dan senyum agar wajahnya kali ini terlihat lebih cantik dibanding Heechul.

“Hana… dul… set…”

Tepat saat hitungan ketiga, beberapa detik sebelum Heechul memotret, Heechul merangkul pundak Seira hingga tidak ada jarak diantara mereka berdua.

“Yaa! Heechul oppa!” pekik Seira saat menyadari rangkulan dibahunya. Sudah diberi kisseu, sekarang Heechul oppa meminta rangkulan. Benar-benar parasit!

“Kekeke~ anggap saja hadiah ketiga untukku,” Heechul tersenyum dengan wajah sok tidak bedosa.

“KIM HEECHUL MENYEBALKAN!!!”