Author: Lee Hyungseo
Title: If I was A Demon…
Length: Chapter 1 of 7 (abt 2055 words)
Genre: Action, Angst, Drama, Romance
Cast:
– Super Junior (Terrorist stronghold: Lee Donghae, Lee Sungmin, Eunhyuk, Kangin, Kim Kibum); (Police stronghold: Choi Siwon, Leeteuk, Yesung, Hangeng, Kim Heechul)
– TVXQ! (Shim Changmin)
– OC (Lee Hyungseo, Heo Minri, Kim Minhyun, Park Youngna)
Summary: Lee Donghae,  seorang pimpinan kelompok teroris yang dikejar oleh tim kepolisian Siwon. Simpel, tapi akan jadi cerita yang kompleks karena ada banyak adegan ironi yang unexpected.😀
Author’s Notes: Fic ini udah pernah di-publish di Faebook dan di Fanfiction.net  (http://www.fanfiction.net/u/2862160/Lee_Hyungseo) dan berhubung fanfic lama, jadi tanpa ada niat narsis sedikitpun, salah satu OC-nya Lee Hyungseo. Harap dimaklumi.😀

INCHEON, Korea Selatan.
21:49 malam.

Bandara utama Incheon International Airport masih terlihat ramai seperti biasanya. Bandara besar itu dipenuhi ratusan orang dengan tujuan penerbangan yang berbeda-beda, kebanyakan menuju pada kota besar yang sama. Beberapa dari orang-orang itu nampak terburu-buru menyeret koper-koper besar mereka. Sebagian lagi ada yang hanya duduk-duduk sambil membaca surat kabar. Satu persatu pesawat mulai berangkat sesuai dengan jadwalnya masing-masing, lalu disusul dengan pesawat-pesawat yang tiba membawa penumpang yang sebagian besar baru terbangun dari tidur lelapnya.
Dari kejauhan terlihat seorang pekerja bandara yang asing. Dengan cekatan ia mendorong troli berisi koper-koper segala ukuran. Sesekali ia terlihat tengah bersiul santai. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat pekerja bandara lain memanggilnya.
Pekerja bandara asing itu menoleh. Diujung sana terlihat seorang pekerja bandara lain yang tubuhnya lebih tinggi. Wajahnya terlihat sedikit garang.
“Kau,” kata pekerja bandara bertubuh tinggi itu. “Orang baru disini, eh?”
Pekerja bandara asing itu menaikkan topinya. Ia mengangguk.
“Oh… jangan macam-macam, ya. Dua bulan lalu ada pencuri yang menyamar menjadi pekerja bandara disini.” Ia berdehem sebelum akhirnya tertawa keras. Sejenak kemudian ia meninggalkan pekerja bandara asing itu, masih sambil tertawa.
“Oh, iya, satu lagi.” Pria itu berhenti, nampak akan berbalik lagi. “Bisa tidak nanti kau bawakan—”
Tiba-tiba terdengar suara tercekik dari pria bertubuh tinggi itu. Ia baru menyadari lehernya telah tertancap sebuah pisau lipat berukuran kecil yang mematikan. Ia tahu siapa yang melempar pisau itu. Namun sebelum ia sempat berteriak, tubuhnya sudah ambruk lebih dulu. Rasanya tak ada suara yang bisa keluar dari mulutnya.
Pekerja bandara bertubuh besar itupun tewas seketika.

xxXxx

PEKERJA bandara asing itu mendengus, kesal karena wajahnya terungkap semudah itu. Dengan kasar ia mencabut pisau lipat yang menancap di leher pekerja bandara tadi, lalu diseretnya tubuh itu ke tempat yang tidak bisa dijangkau umum. Kemudian, sambil menggerutu ia mengambil sebuah walkie-talkie dari dalam saku celana panjangnya. Ditekannya nomor saluran yang sesuai. Beberapa saat kemudian ia mendengar suara gemerisik dari tempat lain.
“—hae-hyung—” kata suara di walkie-talkie itu putus-putus. “—cepat sekali…”
“Ulangi lagi, Kyuhyun.”
Donghae-hyung,” kata suara itu lagi, kali ini terdengar jelas. “Kau menghubungiku lebih cepat.”
“Ada sedikit masalah,” ucap pria bernama Donghae itu. “Aku terpaksa menghabisi satu orang lagi. Bisa kau suruh Kangin membawa helikopternya lebih awal? Aku dan Sungmin akan menunggunya di atap bandara. Lalu kau menyusul.”
Itu bisa kuurus, yang penting kau keluar dengan selamat dulu, Hyung.”
Donghae menghapus keringat yang mengalir di dahinya. “Aku sedang menuju ke atas. Tunggu sampai—”
Langkah Donghae terhenti lagi, kini di anak tangga menuju ke atas. Ada seseorang yang sepertinya secara tidak sengaja sedang berdiri disana.
“Ah…” Pria paruh baya itu menatap Donghae dengan aneh. “Apa yang kaulakukan disini?”
Tanpa berpikir dua kali, Donghae mengambil pisau lipatnya, lalu dengan cepat ia melempar pisau lipat itu tepat kearah pria paruh baya dihadapannya. Pisau lipat itu menancap jauh kedalam leher pria tadi, merobek saluran pernapasan pria itu hingga ia tewas seketika.
Tubuh pria itupun menggelinding begitu saja menuruni tangga. Dan tanpa bicara apa-apa lagi, Donghae bergegas melanjutkan perjalanannya ke atap bandara itu sambil sesekali berbicara dengan Kyuhyun di walkie-talkie.
“Kyuhyun, aku menghabisi satu orang lagi…”

xxXxx

SEMENTARA itu, jauh di atap bandara yang transparan, Lee Sungmin mengintai keadaan sekitar dari balik Karabiner 98k-nya. Ia bukan seorang sniper yang handal, tapi kemampuannya adalah yang terbaik diantara personil lainnya. Dari balik teropong rifle-nya ia dapat melihat sekumpulan orang-orang berlalu lalang di lingkungan bandara. Target mereka nampaknya belum tiba, lagipula Donghae belum memberi tanda padanya.
Sejenak kemudian ia melihat iring-iringan mobil kementrian jauh dibawahnya. Sungmin mendekatkan lagi matanya pada teropong. Ia memastikan bahwa targetnya sudah ada dibawah sana. Beberapa saat kemudian, muncul seorang pria paruh baya yang dikawal beberapa bodyguard bertubuh kekar. Begitu melihat para bodyguard itu, keyakinan Sungmin menjadi bulat. Ini dia, batinnya.
Tiba-tiba terdengar gemerisik dari walkie-talkie-nya. Itu Donghae.
“Aku sudah melihat target,” kata Sungmin lebih dulu.
“Kyuhyun sudah siap di lantai bawah. Tunggu aba-abaku.”
Hening. Donghae dan Sungmin sama-sama memperhatikan target mereka dari tempat yang berbeda. Pria itu berjalan menjauhi mobilnya dengan diiringi beberapa orang. Selama beberapa detik Donghae menunggu momen yang tepat supaya misinya kali ini dapat berjalan lancar.
“Tunggu sampai target berada tepat pada arah jam 12,” ucap Donghae.
Sungmin menurut. Ia menunggu dengan tegang. Targetnya masih berjalan, dan terus berjalan… hingga akhirnya ia menginjak tempat yang tepat.
Sungmin menembakkan Karabiner-nya. Peluru rifle itu melesat cepat. Terdengar suara memekik dari bawah sana. Namun yang memekik itu bukan target mereka, melainkan sosok lain berseragam mirip agen rahasia yang tiba-tiba muncul dari belakang rombongan orang-orang itu.
“Meleset! Kita ketahuan!” ucap Donghae panik. “Bubar dari masing-masing pos! Kita dikepung sekelompok agen!”
Saat itu juga terdengar suara letusan senjata api di sekeliling Sungmin. Posisinya diketahui agen-agen yang berada dibawah sana. Suara Donghae pun telah menghilang dari balik walkie-talkie. Sungmin hanya bisa berharap pimpinannya itu bisa lolos lagi kali ini.

“LEDAKKAN! Sekarang!”
Bagian depan bandara Incheon pun seketika luluh lantak. Hampir semua orang yang masih berada disana tewas seketika. Sementara sebagian kecil lainnya berlarian dengan panik. Selang beberapa detik, terdengar lagi ledakan kedua yang diiringi dengan suara letusan senjata api yang bersusul-susulan.
Donghae mencapai atap bandara dengan selamat. Ia mengendap-endap, memastikan tak ada yang mengikutinya. Donghae melangkah perlahan menuju tempat dimana helikopternya akan berhenti. Tiba-tiba terdengar suara letusan pistol yang hanya beberapa sentimeter darinya. Donghae melonjak kaget. Ia spontan menembak balik dan mencari tempat berlindung, namun sosok misterius itu terus menembakinya walaupun sosok itu tahu peluru yang ditembakkannya tidak akan mengenai Donghae.
Sosok itu melangkah dengan tenang. Namun sebaliknya, itu justru membuat Donghae merasa kuatir. Dia pastilah bukan pria sembarangan, pikirnya. Namun akhirnya terdengar suara baling-baling helikopter, dan Donghae tahu siapa itu.
Ia mendongak keatas. Nampak olehnya sebuah AH-6 Little Bird melayang diatas kepalanya. Dari dalam sana muncul Kangin dengan kedua tangannya memegang pistol, menembaki sosok yang tadi menyerang Donghae. Tapi sosok itu terus luput dari peluru yang dilesatkan Kangin. Pria itu berhasil kabur tepat pada waktunya.
Donghae tidak ingin membuang waktu lagi. Ia langsung menaiki tangga tali yang terjulur dari helikopter itu, lalu memanjat dengan cepat. Beberapa saat kemudian ia melihat Kyuhyun dan Sungmin mencoba menyusul dibelakangnya. Sedikit demi sedikit mereka bertiga berhasil menaiki tangga tali itu dan mencapai badan helikopter. Donghae merebahkan dirinya dengan napas terengah. Ia masih dapat melihat sekumpulan mobil polisi dengan sirine yang menyala-nyala memburunya dari bawah. Tapi mereka sama-sama tahu, itu percuma saja. Helikopter yang ia naiki sudah lebih dulu melesat sebelum polisi-polisi itu sempat menghubungi angkatan udara.

xxXxx

BUSAN, Korea Selatan.
Dua hari kemudian.

Entah untuk yang keberapa kalinya, Heo Minri merasa beruntung dapat memiliki rumah sendiri didekat pantai. Rumahnya sederhana. Tidak terlalu besar, dan tidak kecil juga. Tapi rumah bernuansa modern yang ia tempati nampaknya menjadi salah satu rumah yang menarik minat orang-orang disekitarnya. Paduan serasi warna kelabu yang terang dengan strip biru disepanjang dinding luar rumahnya membuat bangunan yang sudah dibangun sejak lima belas tahun itu terkesan asri. Apalagi jika melihat taman sederhana yang ia buat sendiri. Taman itu dipenuhi pot berisi bunga petunia ungu-putih dan anggrek bulan. Paduan yang sangat serasi.
Selain itu, jendela yang ia buat super-besar memungkinkan cahaya matahari dapat dengan bebas memasuki bagian dalam rumahnya. Minri selalu menyukai cahaya matahari pagi. Itu membuatnya rileks, setidaknya begitulah menurutnya.
Tapi salah satu hal yang tidak begitu Minri sukai adalah suara bel pintu di pagi hari. Siapa sih yang datang disaat ia harus bersiap-siap ke tempat kerja? Akhirnya dengan setengah hati, gadis yang baru berulang tahun kesembilan belas itu membuka pintu.
“Pagi!”
Minri melonjak kaget melihat tamu paginya. “Donghae?”
“Kenapa mukamu seperti orang yang habis melihat hantu begitu?” Donghae menggaruk kepalanya. Sebenarnya ia kasihan juga melihat wajah lelah kekasihnya itu. Jelas terlihat kalau Minri kurang tidur.
“Ah… kenapa kau kesini? ‘Kan aku harus ke tempat kerja.”
“Aku justru mau mengantarmu. Tidak boleh?”
“Eeeh! Kata siapa? Boleh kok!” Wajah Minri berubah sumringah. “Aku ambil tas dulu, ya!”
Beberapa menit kemudian Minri kembali dengan membawa tas tangan cokelat yang selalu dipakainya untuk bekerja. Melihat Minri muncul dengan riangnya membuat Donghae merasa begitu senang. Ia selalu berpikir, mungkin setiap momen bersama Minri adalah saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Ah… gadis itu memang tak pernah tampak sedih. Karena itu Donghae selalu berusaha menjadi seorang lelaki yang baik untuk Minri.
“Kau selalu nampak cocok dengan baju perawat,” ujar Donghae sambil menyalakan mesin mobilnya. “Seandainya aku bisa jadi dokter.”
“Eh? Sudah terlambat kalau kau baru mengatakannya sekarang.”
“Hei, jangan meremehkanku. Aku tahu banyak tentang ilmu kedokteran.”
Minri tertawa. “Kalau kau yang bilang begitu, jadi meragukan.”
“Enak saja.” Donghae membalas Minri dengan mencubit hidung gadis itu. Minri mengaduh pelan. Entah kenapa, terlintas pikiran konyol di kepalanya untuk memakai masker supaya hidungnya tidak menjadi tempat balas dendam Donghae lagi.
Minri baru akan berbicara saat tiba-tiba Donghae menghentikan mobilnya. Pria itu menatap lurus kedepan, seolah ada sesuatu yang begitu mengejutkan hingga membuat lidahnya tercekat.
“Kenapa berhenti?” tanya Minri.
“Err…” Donghae nampak akan memutar balik mobilnya. “Mungkin lebih baik kalau kita lewat jalan belakang, lebih cepat sampai…”
Namun belum sempat Donghae memutar mobilnya, terdengar suara kaca pintu mobil yang diketuk. Seorang polisi muncul dari balik kaca itu saat Donghae membukanya. Minri dapat melihat sebuah pistol yang bertengger diantara ikat pinggang polisi itu. Sepertinya ada razia atau semacamnya…
“Ada yang bisa kubantu?” tanya Donghae ragu.
Polisi itu menggeleng dan tersenyum. “Kami hanya sedang meningkatkan keamanan disini, mengingat kasus terorisme dua hari yang lalu.”
“Err… jadi?”
“Ah, sudahlah… lagipula itu tidak penting. Boleh aku tahu kemana tujuan kalian?”
“Rumah sakit Busan National University. Aku bekerja disana,” jawab Minri. Mendengar itu, polisi tadi tersenyum lagi. “Boleh kami lewat?”
“Tentu… silakan. Hanya saja… kami memohon kerja sama kalian untuk menangkap teroris ini, jadi kalau kalian melihat gerak-gerik yang mencurigakan dari orang-orang di sekitar kalian—”
“—segera lapor. Kami tahu kok,” potong Donghae. Setelah mengucapkan terima kasih, Donghae melesatkan lagi mobilnya. Kali ini melewati jalan memutar, karena Donghae hanya tidak ingin perjalanan mereka diganggu oleh sekumpulan polisi lagi.
Sementara itu, sang polisi hanya memperhatikan BMW yang dikendarai Donghae dari kejauhan. Entahlah. Pria dibelakang kemudi itu mengingatkannya pada sesuatu.
Seseorang.
“Hangeng-sshi!”
Polisi itu menoleh. Ia dapat melihat salah satu rekannya memanggilnya sambil mendekat. “Ada apa?”
“Err, aku titip pos ini sebentar, ya.”
“Memangnya kau mau kemana, heh?”
“Aku mau ikut menjenguk Leeteuk. Hanya sebentar kok.”
“Ah, benar juga. Aku bahkan belum sempat menjenguknya. Sampaikan saja salamku padanya, ya,” kata polisi itu sambil tersenyum. “Oh, iya. Waktu itu kau bilang dia dirawat dimana?”
Rekan polisi itu berkata datar. “Rumah sakit Busan National University.”

“AKU bingung, kenapa tadi kita menghindari polisi?”
Donghae tak menjawab. Bau rumah sakit membuat kepalanya pening. Dimana-mana yang terlihat hanya sekumpulan orang sakit yang tidak berdaya. Entahlah… Donghae memang tipikal orang yang tidak suka melihat orang-orang seperti itu. Ia sendiri tidak mengerti kenapa.
Lorong rumah sakit Busan National University terasa jauh lebih panjang dari yang Donghae ingat. Meja resepsionis, kamar-kamar pasien, ruang pemeriksaan… semuanya nampak berubah. Ia melongok memperhatikan satu persatu kamar pasien yang mereka lewati. Ada berbagai macam orang dengan berbagai macam penyakit disitu. Rasanya ia ingin cepat-cepat keluar dari tempat memuakkan itu. Bau rumah sakit yang pekat semakin membuatnya gila.
Mereka terus berjalan, sampai akhirnya Minri berhenti didepan sebuah kamar pasien dengan pintu yang sama dengan pintu kamar pasien pada umumnya; berpelitur cokelat dengan kaca pasien yang memungkinkan orang diluar untuk melihat ke dalam.
Minri menyuruh Donghae untuk menunggu, dan pria itu menurut. Pintunya memang tertutup, namun Donghae masih bisa mendengar percakapan didalam kamar pasien itu.
“Bagaimana tanganmu? Sudah terasa lebih baik?” Suara Minri terdengar paling jelas. Disaat yang sama suaranya juga terdengar sangat teduh.
“Jauh lebih baik,” kata pasien itu.
“Wah, ini berkat bantuan Siwon-sshi juga.”
Lalu terdengar suara pria yang lain. “Bukan apa-apa,” kata pria itu. Nampaknya ia adalah pria bernama Siwon yang disebut Minri tadi.
Setelah itu Donghae tak mendengar apa-apa lagi. Hanya keheningan sampai akhirnya sejenak kemudian terdengar suara seseorang yang hendak keluar dari kamar pasien. Donghae pun mendongak, penasaran ingin melihat siapa itu.
“—sebentar, ya!”
Pintu kamar pasien terbuka. Donghae yang duduk di kursi tunggu yang terletak tepat dihadapan kamar nomor 132 itu langsung mengenali siapa yang keluar dari dalamnya. Seorang pria dengan postur tubuh tegap, model rambut hampir flat-top yang serasi dengan matanya yang bulat, kulitnya begitu putih sampai-sampai Donghae mengira orang ini dilahirkan di tengah salju. Pria itu menatap Donghae seperti Donghae menatapnya. Pandangan keduanya menunjukkan kalau mereka sama-sama merasa bingung.
Hanya saja… pria ini…
Donghae yakin seratus persen, inilah pria yang menembakinya di atap bandara utama Incheon International Airport.

— To be Continued