Tittle        : Mianhaeyo …

Length      : Twoshot

Genre       : Romance, Friendship

Cast          : Boyfriends, Han Kiri, and other

Author      : dhee95line

Note         : FF ini milik saya dan murni hasil pemikiran saya. Karena masih baru dan amat sangat amatir, maka sangat ditunggu Saran, Kritik dan Komentarnya agar bisa membuat FF yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Gomawo… Happy reading.. ^o^/

DON’T COPY WITHOUT PERMISION, PLEASE!!

 

Part 2

Apa yang dilihatnya sekarang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak selama sesaat. Lalu kemudian Kwangmin segera berlari menghampirinya.

 “Kiri-ya…ireona Kiri-ya… Kiri-ya…” serunya berulang-ulang.

***

Author POV

Saat itu, Kwangmin baru menyadari ada begitu banyak tablet obat yang tersebar di kamar itu, dan Kwangmin pun mengambil sebuah botol tempat obat-obat itu.

“inikan… bukankah ini obat penahan rasa sakit?” tanyanya pada didiri sendiri

Ia pun bangkit dan menidurkan Kiri di tempat tidurnya, setelah itu ia membereskan obat-obat yang tercecer di lantai. Saat Kwangmin sedang mengambil air ke dapur, Kiri siuman.

“Kiri-ya… kau sudah bangun?” tanya Kwangmin kaget saat melihat Kiri terduduk di pinggiran tempat tidurnya.

“sudah berapa lama aku…” Kiri tak melanjutkan ucapannya

“sekitar 45 menit..” kata Kwangmin mengerti maksud pertanyaan Kiri. Kiri mengangguk pelan, lalu terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Tak ada yang tahu, aku bilang kau kesulitan menemukan tempat minuman itu dan kau ditelfon orang tuamu” kata Kwangmin lagi seolah tahu apa yang ada di pikiran Kiri. Dalam beberapa saat mereka hanya terdiam.

“Kiri-ya…. sebenarnya…apa…sebenarnya kau… kau kenapa?” tanya Kwangmin terbata.

“jika ku bilang aku tak apa-apa, apa kau percaya oppa?” tanya Kiri balik

“tentu tidak, keadaanmu itu mengatakan kau ada apa-apa. Beberapa waktu terakhir ini kau sering terlihat pucat dan sekarang? Mana mungkin kau tidak apa-apa” kata Kwangmin menuntut jawaban

“aku…aku hanya kelelahan, akhir-akhir ini tugasku banyak di sekolah” jawab Kiri kemudian dengan sebuah senyum yang dipaksakannya tapi tetap menatap lurus kedepan.

Kwangmin hanya menghela napas panjang. Ia menyentuh dagu Kiri lembut dan membuat Kiri kini melihat kearahnya. Dengan posisi begini, Kwangmin semakin bisa melihat mata indah Kiri yang kini terlihat begitu menderita, dari mata itu pula Kwangmin tahu bahwa Kiri berbohong.

“Kiri-ya, aku tahu kau berbohong. Mata mu berkata ada hal yang kau sembunyikan dari kami semua” kata Kwangmin membujuk. Kini Kwangmin bisa melihat kalau mata Kiri mulai basah.

“oppa…. kenapa kau selalu tahu saat aku berbohong? Kenapa kau selalu tahu kalau aku sedang tidak baik?” tanya Kiri dengan Air mata yang mulai membasahi pipinya.

“kumohon, ceritakanlah padaku. Apa yang terjadi dengan dirimu Kiri-ya?” bujuk Kwangmin lagi.

“tidak oppa, tidak untuk saat ini. Bisakah kau tetap merahasiakan kejadian hari ini.” Ucap Kiri sambil menghapus air matanya. Kini ia menatap Kwangmin dengan tatapan memohonnya, dan itu membuat Kwangmin tak bisa berbuat apa-apa.

“baiklah” kata Kwangmin akhirnya. Mereka pun kembali bergabung dengan yang lainnya dan bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

***

Semenjak hari itu hubungan Kwangmin dan Kiri menjadi lebih dekat. Sebenarnya karena Kwangmin yang tak mau sesuatu terjadi pada Kiri, apa lagi ia tahu Kiri menyembunyikan sesuatu yang mungkin akan cukup berbahaya bagi kesehatannya. Member yang lainpun semakin perhatian pada Kiri, apa lagi Minwoo. Meski tak tahu kalau Kiri menyimpan suatu rahasia tentang dirinya, tapi member yang lain tahu kalau Kiri kini berbeda, ada yang salah dengan dirinya.

Hal ini membuat Youngmin cemburu, dan sebagai pelampiasannya ia jadi sering dengan sengaja jalan berdua dengan gadis lain. Baik itu di sekolah atau pun di tempat kerja. Ini cukup membuat Kiri terluka dan semakin drop dari hari ke hari, dan tentu saja membuat Kwangmin dan member boyfriend lainnya geram. Seperti saat itu saat ada berita kalau Youngmin telah jalan bersama dengan Suzy Miss A. Bahkan hubungan mereka terus diungkit di berbagai variety show maupun Talkshow.

“aku pulang!” seru Youngmin yang baru pulang setelah schedule nya hari itu. Di dalam dorm, para member lain telah berkumpul dengan wajah serius.

“kalian kenapa? Serius sekali?” tanya Youngmin sambil bergabung bersama yang lain.

“sebenarnya kau ini kenapa sih? “ tanya Minwoo kesal.

“apa maksudmu? Aku sama sekali tidka mengerti!” sanggah Youngmin

“Aish~ kau memang benar-benar…. ah, aku tak tahu harus menyebutmu bagaimana” kini Jungmin yang mengomel.

“harusnya aku yang bertanya.kenapa kalian memarahiku seperti ini, huh?” Youngmin mulai kesal

“apa kau tidak sadar? Kelakuanmu akhir-akhir ini telah membuat sesorang terluka. Apa kau lupa kalau kau memiliki seorang yeojachingu, huh?” bentak Kwangmin

“aku tidak lupa, lalu kenapa? Toh aku tidak jadian dengan gadis-gadis itu” ucapan Youngmin ini sungguh menyulut emosi, apalagi Minwoo. Ia mengepalkan tangannya kesal dan hendak memukul Youngmin.

BUGH…

Sebuah tinjuan keras bersarang di wajah Youngmin. Tapi ini bukan ulah Minwoo melainkan Kwangmin. Saking kerasnya pukulan Kwangmin sampai-sampai Youngmin terdorong jatuh kebelakang.

“YA! Kau gila apa? Kenapa kau memukulku?” bentak Youngmin marah

“kau yang gila, sengaja berselingkuh didepan semua orang. Ingat, Kiri itu hanya seorang gadis biasa, hatinya begitu rapuh. Kenapa kau tega menghancurkannya hingga separah ini!” bentak Kwangmin balik. Youngmin bangkit dan berusaha membalas tapi ditahan oleh Hyunseung dan Jungmin.

“aku hanya membalas apa yang sudah ia perbuat padaku” bentak Youngmin

“apa maksudmu?” tanya Minwoo tak mengerti.

“kau kira aku tak tahu apa yang kau, Kwangmin dan Donghyun hyung lakukan dibelakangku hah? Aku tahu kalian juga menyimpan perasaan pada Kiri. Apa lagi kau Minwoo, aku lihat saat dipantai waktu itu. Caramu melihatnya begitu berbeda, aku benci itu.” Jelas Youngmin dengan wajah memerah karena marah.

“itu…itu tak seperti yang kau pikirkan” bantah Minwoo

“dan mengapa kau melampiaskannya pada Kiri, jika kau marah pada kami, kenapa harus menyekiti Kiri juga?” lanjut Minwoo

“karena dia juga sama saja dengan kalian, meski tahu kalau dia yeojaku tapi dia tetap dekat dengan kalian. Lalu, apa bedanya denganku sekarang?”

PLAKK…

Sebuah tamparan mendarat lagi di wajah Youngmin. Kini bukan salah satu member yang melakukannya tapi seorang gadis dengan wajah yang telah basah dengan air matanya.

“Oppa… teganya kau berkata seperti itu…” seru Kiri kecewa

“kenapa kau bisa berpikir kalau aku tega menduakanmu?” lanjutnya lagi. Youngmin hanya diam, begitupun yang lainnya.

“jika memang…. kau sudah tak bisa mempercayaiku lagi… mungkin…mungkin seharusnya… hubungan ini tak berlanjut lagi…. itu kan yang kau inginkan?” kata Kiri terbata

“Yah, sebaiknya kita memang tak lagi meneruskan hubungan ini. “ kata Youngmin kemudian.

Mendengar hal itu, hati Kiri yang telah susah payah ia bangun kembali kini kembali runtuh. Meski ia bilang ingin mengahiri semuanya, tapi ia tak menyangka rasanya akan sehancur ini jika kata-kata itu keluar dari mulut Youngmin.

Dengan susah payah ia kumpulkan kembali serpihan hatinya. Tubuhnya pun terasa sangat lemah, ia merasa kakinya sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya.

“baiklah, kalau begitu. Gomawo untuk semuanya. Hubungan kita berakhir sampai sini saja.” Kata Kiri dengan sisa kekuatannya.

“oppadeul, terimakasih untuk segalanya. Selamat tinggal” pamitnya pada para member yang lain sambil membungkuk dan pergi.

“Kiri-ya!! Kiri-ya!!” panggil Kwangmin dan Minwoo berbarengan

“kau sungguh namja yang tidak punya hati” bentak Minwoo.

Kemudian Kwangmin dan Minwoo segera berlari menyusul Kiri, sementara Youngmin masuk ke kamarnya dan mengunci diri disana.

Walau bagaimanapun, Youngmin tak bisa membohongi hatinya sendiri. Ia tahu semua yang dilakukannya telah membuat Kiri terluka. Tapi sungguh, dari dalam hatinya ia pun mengutuk semua yang ia lakukan. Apalagi setelah tadi melihat wajah Kiri yang sangat terluka. Belum pernah sekalipun ia melihat wajah Kiri yang sehancur itu.

“apa yang sudah aku perbuat? Kenapa aku begitu bodoh?” sesal Youngmin

***

“Kiri-ya… tunggu Kiri-ya…” seru Minwoo, dan setelah bersusah payah mengejar akhirnya Minwoo bisa menangkapnya dan kemudian memeluknya erat.

“Kiri-ya… mianhae!” ujar Minwoo

“Minwoo oppa…. “ hanya itu yang bisa Kiri ucapkan. Bibirnya terlalu kelu untuk bisa berkata yang lain. Dan Kiri hanya bisa menangis dalam pelukan Minwoo.

Donghyun yang tadi mencari ke arah yang lain akhirnya menemukan Kiri, tapi yang ia lihat bukan hanya Kiri seorang. Ia melihat Kiri dan Minwoo yang sedang berpelukan, meski dalam jarak yang tidak terlalu dekat tapi Donghyun bisa melihat kalau saat itu Kiri sedang menangis di pelukan Minwoo.

Di tempat lain yang tak jauh dari sana, tanpa Minwoo, Kiri dan Donghyun sadari masih ada orang lain yang sedang memperhatikan mereka. Tersirat wajah kekecewaan yang begitu mendalam di wajah orang itu.

“maaf, karena aku tak bisa menjagamu. Aku memang tak pantas untukmu. Tapi, jika tuhan ijinkan aku untuk bisa membuatmu kembali tersenyum seperti dulu lagi, apa pun akan aku korbankan demi kesempatan itu.”

***

Hari natal tinggal menghitung jam saja. Itu tandanya sudah hampir 3 bulan sejak Kiri dan Youngmin berpisah. Tak ada ciri-ciri kalau Youngmin berubah sejak kejadian itu, ia masih tetap sama. Youngmin yang imut dan manis yang dipuja banyak gadis.

Tapi perubahan yang bergitu drastis terjadi pada Kiri. Kini ia tak seriang dulu, kejadian yang menyakitkan itu membuatnya seakan lupa bagaimana cara tersenyum dengan tulus seperti dulu. Meskipun begitu, Kiri masih tetap berhubungan dengan member boyfriend yang lain –sebenarnya mereka yang menghubungi Kiri duluan- dan mereka sedikit mampu membuat Kiri tak terlalu pemurung.

***

Kiri POV

Di malam natal yang indah ini, aku justru duduk diam sendirian di taman yang sepi ini. Dari kejauhan bisa kulihat orang-orang yang berlalu lalang dengan wajah gembira dan ceria. Mereka berjalan bersama keluarga, teman, dan pasangan mereka. Hati kecilku menangis dan terluka melihat semua itu.

“kenapa…kenapa…kenapa justru di hari yang sangat indah ini kau tak ada di dekatku? Kenapa di saat semua tersenyum bahagia, aku justru merasa terluka?” gumamku dalam hati.

Semua memori menyakitkan itu terus berulang di pikiranku, di setiap hariku, bahkan di setipa mimpiku. Meski aku merasa sangat terluka dengan perlakuannya, tapi keadaan seperti ini justru lebih menyiksaku.

Saat sedang melamun sendirian, tiba-tiba aku merasa suhu hangat menjalar dari bahu ke seluruh tubuhku. Aku tersentak kaget, ku alihkan pandanganku ke arah belakang dan kulihat kau –bukan , seseorang yang begitu serupa denganmu tengah berdiri sambil tersenyum padaku.

“kenapa kau duduk sendirian disini saat malam natal?” tanyanya dengan senyum manis yang dulu selalu kau berikan untukku.

Melihatnya saat ini, membuatku semakin teringat padamu. Hati kecilku sedikit mengeluh, kenapa orang ini bukan dirimu? Kenapa justru dia yang datang saat aku sedang butuh dirimu? Kenapa dia yang selalu ada untukku? Kenapa?

“Ya! Ditanya malah terus melamun begitu!” serunya lagi membuyarkanku, aku hanya membalasnya dengan senyuman engganku.

“aniyo… hanya …. sedang ingin sendirian” balasku pelan sambil memandang ke bawah menatap kedua kakiku. Dia tak menjawab, hanya sunyi yang akhirnya menemani kami beberapa saat.

“Kau … masih memikirkannya?” tanyanya lagi. Mendengar itu, kualihkan pandanganku padanya, tapi ia hanya menatap kosong ke arah depan.

“mianhae” ucapku kembali menundukkan kepala. Terdengar desahan napas panjang darinya.

“kurang keraskah usahaku selama ini? Atau aku memang tak pantas untukmu?” tanyanya pelan

“oppa… bukan begitu… aku hanya tid-“ ucapanku terpotong olehnya

“gwenchana, aku hanya bercanda. Oh, iya dia baru pulang minggu depan. Jadwalnya terlalu padat disana.” Jelasnya sambil –memaksakan diri- tersenyum.

“arra” jawabku singkat. Kemudian kami kembali diam.

“mungkin sekarang saat yang tepat untuk mengatakannya padamu” katanya memecah keheningan diantara kami. Aku hanya memandangnya dengan tatapan tak mengerti. Tapi baru saja aku hendak bertanya, sebuah alunan musik yang lembut dan sangat ku kenal mengalun di sekitar kami dan dia pun mulai bernyanyi.

Kyeoure taeeonan areumdaun dangsineun
Nuncheoreom kkaekkeuthan namanui dangsin

Gyeoure taeeonan sarangseureon dangsineun
Nuncheoreom malgeun namanui dangsin

Hajiman bom, yeoreumgwa gaeul, gyeoul
Eonjena malgo kkaekkeuthae

Gyeoure taeeonan areumdaun dangsineun
Nunchereom kkaekkeuthan namanui dangsin

Hajiman bom, yeoreumgwa gaeul, kyeoul
Eonjena malgo kkaekkeuthae

Gyeoure taeona areumdaun dangsineun
Nuncheoreom kkaekkeuthan namanui dangsin

Saengil chukhahamnida, saengil chukhahamnida
Saengil chukhahamnida. Dangsinui saengireul

“Saengil chukae, Kiri-ya !” katanya setelah menyelesaikan nyanyiannya, sambil menyerahkan sebuah kotak biru kecil yang indah dengan hiasan pita putih di atasnya.

Aku bingung, senang, terharu, tapi juga sedih. Aku memang sering bercerita pada Kwangmin oppa kalau salah satu impianku adalah mendengar seseorang menyanyikan lagu itu disaat ulang tahunku yang memang kebetulan bertepatan dengan musin dingin. Tapi aku berharap kalau orang yang menyanyikan itu adalah orang yang aku sayangi dan juga menyayangiku.

Tapi tunggu…. Sesaat aku tersadar, selama ini orang yang selalu ada di sisiku saat aku membutuhkan seseorang untuk berbagi adalah dirinya. Saat aku sedang senang pun dialah yang akan kuhubungi setelah aku menghubungi keluargaku. Tapi…tapi..kenapa aku justru tak bisa mencintainya? Kenapa selama ini aku tak bisa sekali pun memandangnya? Kenapa ?

“Kiri-ya…” panggilnya menyadarkanku dari lamunanku. Sebulir air mata meleleh di pipiku, tapi buru-buru ku hapus namun tanganku ditahannya.

“mungkin kau berharap saat ini yang ada disini adalah Youngmin hyung. Kau wajar kecewa dan merasa sedih sekarang. Menangislah”  katanya lembut, kemudian tanpa dikomando Air mataku pun langsung mengalir dengan derasnya.

“mianhae oppa… jeongmal mianhae…” kataku disela tangisku.

“gwenchana… aku tahu kalian masih saling menyayangi. Kembalilah padanya… jadilah Kiri yang dulu” bujuknya.

Aku hanya diam sambil berusaha menyerap kata-katanya, tapi kemudian aku merasakan sakit yang amat sangat di dadaku dan kepalaku. Rasa sakit ini memang sering datang, tapi aku tahu ini akan menjadi rasa sakitku yang paling menyakitkan sekaligus yang terakhir aku rasakan.

“oppa… boleh aku meminta tolong padamu?” tanyaku sambil menghapus air mataku.

“keure” katanya sambil menatap mataku tajam

“bolehkah aku pinjam bahumu untuk malam ini saja? Bolehkah aku beristirahat di bahumu sekali ini saja? Dan maukah kau nyanyikan lagu Winter Child lagi untukku?” tanyaku seraya menahan rasa sakit yang menjadi ini.

Aku tahu waktuku tak lama lagi, dan setidaknya aku ingin sekali saja bisa menghabiskan saat-saat ini bersama seseorang yang selalu ada di dekatkudan selalu mendukungku selama ini.

“Ne, arra” lalu tak menunggu waktu lama, alunan lembut dari suaranya terdengar begitu menenangkan.

Sambil berusaha tenang, aku sandarkan kepalaku di bahunya dan menutup mataku menikmati suara lembutnya.

“oppa….maukah kau memaafkanku? Memaafkan atas semua luka yang kuberi untukmu… semua rasa sakit yang pernah kau rasakan karnaku… dan juga meminta maaf karena tak bisa membalas semua perhatian serta perasaan tulusmu…. maukah kau memaafkan aku yang bersalah ini?” gumamku pelan, aku tahu Kwangmin oppa bisa mendengarku tapi dia terus saja menyanyi.

Kubuka mataku perlahan untuk melihatnya, meski kini pandanganku sudah mulai buram tapi aku masih bisa melihat kalau kini mata Kwang oppa telah berkaca-kaca. aku tersenyum tipis dan kembali menutup mataku.

“tolong sampaikan juga rasa terima kasihku untuk Donghyun, Hyunseung, Jungmin, Minwoo dan terutama Youngmin oppa. Bilang pada mereka terima kasih karena telah begitu perhatian padaku selama ini.” Kataku sambil terus menahan rasa sakit yang kini telah benar-benar terasa sangat menyakitkan.

Kemudian aku merasakan tetesan air yang hangat jatuh di pipiku, dan aku juga merasakan getaran tubuh Kwang oppa yang kini hanya diam. Dia menangis.

“uljima..” seruku lembut

“tapi setidaknya…. bisakah kau menunggu hingga Youngmin hyung pulang dari jepang? Mau kah kau menunggu hingga saat itu?” tanyanya dengan suara sedikit terisak.

“aku tak mampu menyatakan pesanmu ini padanya.” Lanjutnya lagi.

“aku…akan…mencoba semampuku. Dan berjanjilah kau takkan terluka dan menangis lagi karna aku setelah ini” kataku dengan sedikit terbata. Ia hanya mengangguk.

***

Setelah kejadian di malam itu, Kiri menepati janjinya kepada Kwangmin untuk menunggu hingga Youngmin pulang dari Jepang dan datang menemuinya. Di Rumah Sakit, Youngmin terlihat begitu terluka dan merasa bersalah.

Di malam kepulangannya, ia mendapat telfon kalau Kiri kini tengah koma di Rumah sakit. Dan segera saja ia pergi ke Rumah Sakit, disana ia dapati Kwangmin tengah ada bersama tubuh Kiri yang hanya bisa tertidur tak berdaya dengan selang-selang yang memenuhi tubuhnya di ranjang rumah sakit.

Kwangmin menjelaskan kalau selama ini Kiri mengidap penyakit Kanker stadium akhir, dan meski dokter memperkirakan Kiri takan bertahan lebih dari seminggu saat ia memeriksakan diri ke dokter tanggal 20 Desember lalu, tapi buktinya ia masih bertahan meski dengan keadaan tak sadarkan diri.

***

Author POV

“Kiri-ya… mianhae.. jeongmal mianhae… aku memang tak pantas menjadi namjachingumu… maaf karena aku selalu mengyakitimu… jebal, jangan pergi secepat ini.. aku masih ingin kita kembali seperti dulu lagi” ucap Youngmin sambil terisak di samping ranjang Kiri. Ia memegang tangan Kiri erat, ia tak ingin Kiri pergi meninggalkannya begitu saja.

Saat Youngmin terus menangis, ia merasakan gerakan kecil dari tangan Kiri. Ia terkaget dan segera memperhatikan wajah Kiri dengan seksama dan ternyata ia melihat kalau mata Kiri juga bergerak-gerak.

“Kiri-ya.. kau mendengarku? Kiri-ya.. ireona ..” katanya lembut sambil mengusap kepalanya.

“young..op..ppa….” seru Kiri lemah.

“aku disini… aku akan selalu disini Kiri-ya…” kata Youngmin dengan wajah berbinar.

Setelah beberapa saat mencoba membuka matanya dan menyesuaikan pandangannya, Kiri pun bisa melihat Youngmin yang kini tengah berdiri disampingnya dengan jelas. Ia bisa melihat kalau Youngmin baru saja menangis dari mata merah dan sembab Youngmin.

“oppa, kenapa kau menangis?” tanya Kiri pelan

“ani, aku hanya kelelahan” bantahnya sambil menghapus sisa air mata di wajahnya. Kiri terkekeh pelan.

“kau memang ta pernah mau mengaku!” ejek Kiri

“tapi, sebaiknya kau memang tak menangis, kau jelek kalau menangis” lanjut Kiri lagi.

“Ya! Kau tidak sopan sekali…” kata Youngmin pura-pura marah namun terus tersenyum.

“Oh, iya… saengil chukae chagiya…tapi kadomu tertinggal di koperku. Jadi, kau bisa meminta apa saja sebagai gantinya..” kata Youngmin sambil memamerkan senyum termanisnya.

“emm… baiklah” kata Kiri sambil terlihat berpikir, meski sudah sadar dan bisa mengobrol dengan Youngmin, tapi Kiri masih tetap terlihat pucat, bahkan semakin bertambah pucat. Youngmin sempat akan memanggil dokter, tapi dilarang oleh Kiri.

“aku…pertama aku minta kau harus akur dengan Kwang oppa… lalu…. kau tidak boleh menangis karena seperti kubilang, kau jelek kalau menangis oppa… lalu aku ma bilang maaf dan terimakasih atas segalanya….” Kiri kembali terlihat berpikir. Youngmin merasa ada yang tidak beres. Ia merasa waktu Kiri tidaklah lama, tapi ia tetap ingin mengingkari kenyataan itu.

“dan yang terakhir… mau kah kau… menciumku sekali ini saja? Aku ingin setidaknya pernah merasakan first kiss bersamamu.”kata Kiri dengan wajah sedikit bersemu malu meski tetap tak bisa menutupi kepucatan wajahnya.

“kau bicara apa… aku akan melakukannya setiap hari kalau kau memang mau “ kata Youngmin dengan senyum jahilnya.

Youngmin merasa ada yang tidak beres. Ia tahu waktu Kiri tidaklah lama, tapi ia tetap ingin mengingkari kenyataan itu. Sebenarnya Youngmin merasa enggan untuk mencium Kiri. Bukan karena tak suka atau bagaimana, ia hanya takut kalau setelah ia mencium Kiri, itu hanya akan menjadi ciuman pertama dan terakhir mereka seperti kata Kiri. Namun ia mencoba menyingkirkan semua pikiran itu.

Youngmin mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Kiri, pertama ia mencium kening Kiri lembut. Tangannya dan Kiri saling berpegangan, seolah saling tak ingin kehilangan satu sama lain. Kehangatan ciuman bibir Youngmin di kening Kiri terasa begitu hangat bagi Kiri. Jika ia bisa, Kiri ingin sekali menghentikan waktu saat itu. Ia masih ingin merasakan semua ini lebih lama lagi.

Kemudian Youngmin mulai menurunkan wajahnya agar sejajar dengan Kiri. Kiri tersenyum dan kemudian menutup matanya. Dengan perasaan sedikit ragu Youngmin pun menempelkan bibirnya diatas bibir Kiri. Saat itu, ia bisa merasakan hembusan napas Kiri yang tak beraturan.

Mereka berciuman agak lama, kemudian Youngmin melepas ciumannya dan memandang Kiri dengan lembut dan kemudian mengelus kepala Kiri. Dengan mata masih terpejam, Kiri terlihat menikmati perlakuan Youngmin itu.

“gomawo oppa… untuk segalanya…” kata Kiri sambil tetap terpejam namun sambil tersenyum. Senyum paling manis yang pernah Youngmin lihat selama ini.

Tapi kemudian, Youngmin merasakan kalau tangan Kiri sudah tak lagi menggenggam tangannya. Seiring dengan itu, Youngmin mendengar bunyi yang cukup memekakkan telinga serta mengiris hatinya.

Ia palingkan wajahnya kearah monitor yang mengeluarkan bunyi menyakitkan itu, dan ia busa melihat sebuah garis lurus kini terpampang dilayar monitor itu. Garis lurus itu, seakan tengah membelah hati Youngmin menjadi berkeping-keping.

Kembali ia lihat Kiri yang kini tertidur di ranjangnya. Ia terlihat begitu tenang dan masih dihiasi dengan senyum yang diberikannya untuk Youngmin.

“kenapa…kenapa kau pergi… sudah kubilang kau tidak boleh pergi…” kata Youngmin pada Kiri yang kini tlah tertidur selamanya dihadapannya. Air mata menetes dari matanya, ia menangis…. menangis dalam diam…

***

Semua pelayat telah meninggalkan makam Kiri sejak beberapa jam yang lalu. Kecuali Youngmin dan Kwangmin serta Minwoo yang masih tetap berada disana. Youngmin tengah terduduk sambil menangis dalam diam di depan makan Kiri, sementara Kwangmin dan Minwoo hanya bisa memandangnya dengan tatapan entah bagaimana.

“hyung.. sebaiknya kita pulang sekarang… tak baik terus terlarut dalam kesedihan… kau harus belajar merelakannya…” bujuk Minwoo yang tak tahan melihat Youngmin yang terus menangis sejak prosesi pemakaman ini dimulai.

“mana bisa aku melupakannya semuda itu… aku takkan mnungkin melakukan itu semua…” jawabnya disela-sela tangisannya. Kemudian Kwangmin menariknya hingga berdiri dengan paksa.

“sadarlah… kau tak bisa terus begini… aku tahu kau sedih, kami juga sama… tapi terus seperti ini takkan membuat Kiri kembali lagi ke samping kita…” bentak Kwangmin

“kau mungkin bisa berkata begitu… apa kau tahu bagaimana rasanya saat seseorang pergi untuk selamanya saat ia sedang berada di dekapanmu, huh? Kau tak bisa mengerti perasaanku…” balas Youngmin dengan membentak juga.

“aku tahu… tapi Kiri pun takkan suka jika kau terus seperti ini. Ia ingin kita tetap meneruskan hidup kita. Lagipula Kiri tak pernah meninggalkan kita…. ia akan selalu ada di hati kita semua … jadi berdirilah, dan hadapi masa depanmu dengan hidup lebih baik agar Kiri juga tenang di atas sana…” kata Kwangmin bijak.

“lagipula…. kami tak memintamu melupakannya, kami hanya ingin kau relakan kepergiannya. Sepertikata Kwangmin, Kiri akan selalu ada di hati kita semua, jadi bangkitlah dan hiduplah dengan lebih baik. Jangan bebani Kiri dengan air matamu ini…” kata Minwoo menambahkan.

Youngmin terlihat berpikir, lalu ia pun menghapus Air matanya dan berdiri dengan lebih tegap.

“kalian benar, tak seharusnya aku terus begini… ayo kita pulang” kata Youngmin, Minwoo dan Kwangmin tersenyum senang dan mereka pun berjalan menuju mobil untuk kembali ke dormnya.

***

Separah apapun rasa sakit ini menggerogoti tubuhku, tapi senyuman dan tawa kalianlah yang membuatku kuat hingga kini. Jika nanti aku memang harus pergi menghadap-Nya, aku harap kalian tak menangisi kepergianku itu. Ini hanya masalah waktu dan takdir, karena setiap manusia toh akan kembali pada-Nya suatu saat lagi. Satu yang perlu kalian ingat, meski nanti kita akan terpisah jauh tapi aku akan tetap menjaga dan memperhatikan kalian dari atas sini. Kalian pun bisa tetap melihatku di setiap malam sebagai salah satu bintang yang akan bersinar paling terang di langit malam.

-THE END-