Annyeongg!!!

Huwaaa… lama sekali aku tidak nge-post!! Ada yang kangen akuuu??!! Hohooo… 😄

Dan kali ini aku membawa FF lama yang sudah aku telantarkan. Buat yang menunggu, mianhae… soalnya aku ngak bisa mecah pikiran. Jadi, untuk pemostingan Bag Story ini aku memutuskan untuk menghiatuskan dulu FF YG Family ku. Hhe..

Pokoknya aku akan berusaha lebih teratur nge-post Bag Story ini kok. 🙂

Mungkin ada yang lupa sama ceritanya? Wajar… langsung cek ke Prolog dan Part 1 aja yaaa…

Oke okee, Happy ramadhan untuk semuaa, dan happy reading~!!

__________________________________________________________

 

Title : Bag Story : U Make Me Fall Into U (Yunho’s Story) (Part.2)

Cast : Yunho (DBSK), Kang Tae Hyun (OC)

Genre : Comedy, Romantic

Disclaimer :

ADIEZ-CHAN ©ALL RIGHT RESERVED

ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE ! NO OTHER AUTHORS ! PLEASE DON’T COPY AND RE-POSTING WITHOUT CONFIRM ME!
NO PLAGIARISM!

KEEP COMMENT! NO SILENT READERS HERE, PLEASE!

 

 

 

Kang Tae Hyun POV

“Selamat malam, selamat datang…” aku mencoba tersenyum seramah mugkin pada seorang pengunjung yang baru saja memasuki ruangan café. Kemudian aku mendekati meja yang baru saja orang itu tempati dan menyodorkan selembar kertas menu, “Ini daftar menunya, Tuan. Mau pesan sekarang, Tuan?”

Lelaki itu melihat sejenak lembaran menu tersebut dan menutupnya. “Saya pesan seafood lasagna dan Cape Codder.”

“Baik, Tuan. Jadi, saya ulangi sekali lagi, Seafood Lasagna dan Cape Codder.” Lelaki itu mengangguk. “Harap tunggu sejenak, Tuan. Akan segera kami sajikan.”

Setelah itu aku mendekati dapur dan mengulang pesanan tersebut.

Begitulah sehari-hari aku hidup. Yeah, seperti yang kalian tahu, aku harus bekerja membanting tulang untuk terus kuliah. Salah satunya dengan menjadi waitress di salah satu restoran besar di pulau Jeju ini. Untunglah pimpinan restoran ini memperbolehkan anak kuliah ingusan seperti aku untuk bekerja disini. Bila tidak, harus membayar menggunakan apa nantinya aku?

Dan pekerjaan ini merupakan rahasia terbesarku. Tidak ada yang boleh tahu bila aku bekerja di sini! ABSOLUTELY NO!!

Kenapa?

Tentu saja karena penampilan seorang Kang Tae Hyun berubah total di sini. Di kampus, aku selalu menguncir rambutku seadanya, hanya berpakaian T-shirt, jaket, jeans dan sneakers. Bahkan bila belajar di dalam kelas, aku harus menggunakan kacamata besar dengan bingkai yang cukup tebal. Itu cukup membuatku dicap nerd dan tidak modis.

Namun di sini, aku harus menggunakan kemeja putih yang dipadu dengan seragam dress hitam setengah lutut yang sleeveless dan apron berenda putih. Kakiku yang cukup jenjang harus beralaskan sepatu high heels stiletto 5 cm yang berwarna senada dengan dressku. Belum lagi sapuan make up natural yang menyempurnakan wajah tirusku dan rambut panjangku kuikat tinggi hingga menampilkan leherku yang cukup jenjang.

Yeah, I know. Perubahanku cukup hebat.

Berbicara tentang teman-temanku, untung saja mereka mengira ciuman itu asli. Alhasil sekarang aku sudah mengantongi uang 400.000 won! Wohooo!!

Ciuman? AAARRGGGHHH!! Aku jadi mengingatnya lagi kaaann?!! Padahal aku sudah susah-susah aku menghapusnya dari memori otakku. Dan sekarang aku harus mengingatnya lagi.

Dasar namja—

“Selamat malam, selamat datang…” seorang rekanku menyapa seorang pengunjung yang baru saja masuk ke dalam restoran.

Mendengar salam yang sangat familiar itu, seketika badanku berbalik sambil ikut mengucap salam. “Selamat ma—“

Kontan mataku terbelalak selebar yang aku mampu. Aku rasanya tidak bisa lagi mempercayai penglihatanku sendiri. Pengunjung itu… dia.

IYA!! DIA!! ORANG GILA ITUU!! HAIISSHH!!

Lelaki itu sepertinya juga terkejut melihatku. Ah iya, mungkin ditambah dengan penampilanku yang ekstrim ini. Kami membeku untuk beberapa saat. Dan kemudian, dia tersenyum. Ah tidak, dia menahan tawanya. Dasar menyebalkan!!

Kamu mencoba menantangku?! Coba saja!!

“Selamat malam, Tuan. Selamat datang. Mari saya antarkan ke meja anda…” aku mencoba tersenyum semanis mungkin, namun tentu saja semua itu tidak atas sukarela.

Kini wajahnya terlihat memerah karena usahanya yang semakin keras untuk menahan tawanya. Kurang ajar!!

***

 

Yunho POV

Rasanya malam ini akan lebih menarik jika aku menghabiskannya di luar. Mengingat besok aku benar-benar tidak ada pekerjaan. Mungkin restoran yang direkomendasikan Changmin di dekat pantai itu bisa memuaskan rasa hausku oleh gemerlap mewah kota Seoul.

Aku memasuki pintu kaca restoran itu, dan sesaat kemudian sapaan khas waitress langsung tertangkap telingaku. “Selamat malam, selamat datang…”

Bibirku membentuk satu kengkungan kecil kepadanya. Kemudian, seorang pelayan lain berbalik dan ikut mengucapkan salam, “ Selamat ma—“

Ucapannya terhenti. Seperti duniaku yang seolah berhenti ketika menatapnya dengan kedua bola mataku. Apakah mataku bisa dipercaya?

Kang Tae Hyun.

Benarkah itu Kang Tae Hyun yang tadi siang hampir berciuman denganku? Benarkah dia? Mengapa sekarang dia berbeda?

Aku ingin memujinya, namun yang keluar hanya tawa yang ingin meledak keras. Karena itu, tangan kananku secepat kilat langsung membekap mulutku untuk menahan ledakannya.

Dia terlihat marah karena tindakanku, namun mungkin profesionalitasnya sedang diuji di sini. “Selamat malam, Tuan. Selamat datang. Mari saya antarkan ke meja anda…” Bibirnya mencoba untuk tersenyum, terlihat sangat terpaksa, terlalu lebar dan tidak didasari dengan hati. Wajahnya benar-benar lucu. Rasanya ledakan tawaku sudah ingin menghancurkan tempat ini sekarang.

***

Aku masih tidak bisa percaya bahwa yeoja itu adalah yeoja yang tadi berpakaian kucel di depanku. Oke, tadi tidak kucel. Tapi hanya biasa. Yeah, tentu saja penampilan tadi terbilang ‘biasa’ bila aku melihat penampilannya yang menakjubkan ini sekarang.

Tae Hyun menyodorkan daftar menunya padaku, tentu saja masih dengan senyum yang sama, keterpaksaan. “Ini daftar menunya, Tuan. Anda mau pesan sekarang, Tuan?”

“Nde,” Tanganku membolak-balikkan daftar tersebut sambil sesekali melirik ke arahnya. Dia terlihat tidak sabar sekali menghadapiku. Berulang kali dapat kulihat dia memperhatikan sekeliling sambil bergumam tak jelas. Lucu sekali.

“Hei.” Bisikku memanggilnya.

Dia kontan mengembalikan pandangannya ke arahku. “Iya, Tuan. Jadi pesan apa?”

Aku berbisik lagi padanya. “Hei, apa make-up mu tidak terlalu tebal? Bagaimana bila rambutmu itu kamu gerai saja? Dan rasanya pakaianmu itu terlalu pendek. Dan oh Tuhan, apakah high heels mu itu tidak menyusahkan?”

Kedua matanya seketika membulat dan menatapku dengan tatapan tajam, seolah aku bisa terajang dengan halus jika aku tak pandai berkelit diantaranya. Namun sesaat kemudian, dia kembali memaksakan senyumnya, hingga rasanya senyumannya terlalu lebar. “Tuan, bisakah tuan hanya membaca daftar menu saja. Tuan mau pesan apa?” dia menekankan setiap kata-katanya, bahkan di dia seolah menggarisbawahi bagian kata ‘hanya’ dan ‘pesan’.

“Tapi…”

“Bagaimana, Tuan? Apa? Ingin nanti saja memesannya? Baiklah, Tuan…” dia mengatakan deretan kata yang aku rasa tidak pernah keluar, bahkan walau hanya terselip di bibirku.

“Tunggu! Aku ingin Rosé, Côte d’Azur,” ucapku cepat sebelum dia sempat membalikkan badannya dan meninggalkanku. Rasanya vermouth cukup untuk menikmati malam panjang ini.

Sekali lagi, aku melihatnya menarik nafas panjang menahan amarah yang sudah di ubun-ubun. “Oke, Rosé, Côte d’Azur saja, Tuan? Ada pesanan lain?”

“Dengan shrimp lasagna.”

“Baiklah. Shrimp lasagna dan Rosé, Côte d’Azur. Tunggu sebentar, Tuan,” ucapnya sambil mencatat pesananku dan berbalik meninggalkanku.

Mataku tak bisa lepas dari lekuk tubuhnya yang menjauh. Bahkan ketika bayangannya menghilng di balik sekat-sekat restoran, kedua bola mataku ini masih tak rela untuk berpaling

Ya Tuhan, ternyata itu benar dia. Kang Tae Hyun.

Dan kini dia terlihat sangat cantik. Benar-benar cantik.

Make-up-nya tidak berlebihan, sungguh pas memoles wajah moleknya. Bajunya tidak terlalu pendek, cukup menutupi pahanya yang kecil dan menggoda. Bahkan high heels yang ditumpunya pun berhasil menyempurnakan penampilannya.

Namun aku terlalu canggung mengakuinya.

Mengakui bahwa ternyata dia sangat cantik dengan dandanan waitress itu. Dia sangat indah dengan segala yang dia tampilkan padaku.

Dan tanpa sadar, jantungku mulai kehilangan iramanya.

***

To : Sulli

Aku bertemu dengan seorang wanita. Berdoalah dia akan menjadi kakakmu. 😀

 

***

 

Kang Tae Hyun POV

“Bagaimana kalau ciuman pertamanya kita simpan untuk pertemuan kita selanjutnya?”

Huwaaa… dari kemarin adegan itu tanpa sadar sudah terputar sekian kali dalam kepalaku, hingga rasanya aku muak mengingatnya. Mengingat setiap detil kejadian itu, ketika aku bisa melihat dengan jelas tekstur wajah lelaki itu dalam jarak tidak lebih dari tiga centimeter, ketika aku bisa merasakan seluruh tubuhnya membeku ketika perlahan bibir lelaki itu semakin mendekati bibirku. Ketika seakan seluruh sistem tubuhku berhenti dan kematian seolah telah merasukiku tanpa sadar.

Ketika akhirnya bibir itu berhenti bersamaan dengan kata-kata menyebalkan itu.

Aku tak tahu apakah aku harus lega… atau marah.

Dan kemudian kami bertemu di restoran dan dia melihatku sepanjang malam dengan pandangan seduktif dan menyelidik. Tak sedikitpun aku merasakan pandangannya lepas dari gerak-gerikku. Apa maksudnya?! Apakah dia mencoba menjatuhkanku dengan cara seperti itu?! Ya Tuhan, rasanya lelah di badanku lima kali lipat lebih berat daripada biasanya!

Oke, Kang Tae Hyun!! Berhenti mengingat orang gila yang bahkan belum kamu tahu namanya!! STOP!!

Kepalaku menggeleng cepat-cepat, berusaha menghilangkan kelebatan ingatan menyebalkan itu dari benakku. Kemudian pandangan mataku beralih pada pepohonan yang mulai rimbun dan menghijau di sekeliling kampus.

Musim panas…

Kepalaku mulai terasa pusing lagi. Sekarang memang waktunya pulang dan istirahat. Karena nanti malam aku harus mulai bekerja lagi. Hufftt…

Aku mencengkeram tali ranselku, mencoba membangkitkan semangatku sendiri dan terus berjalan keluar gerbang fakultasku dan melihat…

Dia. Lagi.

KENAPA ORANG INI LAGIII???!!!

“Yoo!! Kang Tae Hyun-ssi!!” dia melambaikan tangannya dan menunjukkan senyuman termanis sedunia menurut versinya. Menurutku? Ooo! Tentu saja tidak! Kang Daesung saja punya senyum yang jauh lebih charming daripada orang ini!!

Aku bergegas berlari ke arahnya dengan terus menatapnya tajam seolah ingin melahapnya saat itu juga. “YAAA!! Apa yang kamu lakukan?!!”

“Berkunjung?” tanyanya balik padaku dengan wajah sok manisnya.

Huh!! Aku muak melihat wajahmu!

“Tidak perlu! Sekarang pergi jauh-jauh dariku!”

“Andwae! Aku baru saja datang ke sini. Tidak sopan sekali kamu menyuruhku pulang.”

Aku mendengus sebal dan menatap sekeliling. Oke, sekarang bisa kurasakan pandangan penuh tanda tanya dari gadis-gadis di sekitarku yang menatap namja ini dengan penuh kekaguman. Bahkan samar-samar aku bisa mendengar mereka berbisik memujinya. Haiisshh!

Oh Tuhan! Sadarkanlah orang seantero kampus ini bila NAMJA DI DEPANKU INI SANGAT MENYEBALKAN!!

“Lalu maumu apa?” manik mataku kembali menatapnya dengan hasrat membunuh.

“Temani aku cari baju.”

“Bukankah kamu punya kaki? Tak bisakah kamu ke toko sendiri, memilih bajumu sendiri, dan pergi jauh-jauh dari hidupku?!!” teriakku jengkel dalam suara yang setengah berbisik.

“Tidak bisa. Aku tidak tahu daerah sini. Bagaimana bila aku nanti tersasar? Bagaimana bila nanti ada orang yang menculikku?” dia membulatkan matanya seolah dia adalah anak anjing kecil yang memerlukan tempat tinggal.

Haiisshh!! Tuhan, aku ingin menelannya bulat-bulat sekarang juga!!

“Jeju ini kecil. Dan oh come on!! Siapa yang mau menculikmu?!”

“Kang Tae Hyun-ssi, ayolaaahh…”

“Aku sibuk!”

Aku berjalan meninggalkannya dengan langkah cepat. Berdebat dengan orang ini akan membuang waktuku sia-sia. Lebih baik aku pergi sekarang dan cepat-cepat menghilang dari kerumunan yeoja yang semakin banyak hanya untuk menyaksikan wajahnya. Hiissshh!!

“Kang Tae Hyun-ssi…” dia mengejar langkahku dan menyergap pundakku cepat, “Kamu temani aku atau…”

Mataku –sekali lagi- menatapnya tajam dan berdesis bak ular. “Atau apa?”

Dia menyunggingkan senyum liciknya dan melihat ke sekeliling kampus. “Atau aku akan menyebarkan kalau kamu bekerja di restoran itu dengan baju yang uhuyy itu.”

Mataku terbelalak selebar-lebarnya dan jantungku seolah langsung berhenti berdetak. “App—“

“ANYONE!! KALIAN TAHU, KANG TAE HYUN INI—“

Dia berhenti berbicara. Tentu saja, karena cepat-cepat tanganku bergerak untuk membungkam mulutnya sebelum dia berbicara lebih jauh lagi. “ARASSEO!! Aku akan mengantarmu, oke!”

Dia tersenyum lebar. “Begitu kan lebih baik… Oh ya, namaku Yunho. Ingat itu, Tae Hyun-ssi…” kemudian dia berjalan terlebih dulu dan menyuruhku mengikutinya.

Untuk ke sekian kali hari ini, sejak aku bertemu dia siang ini, aku mendengus sebal.

***

Normal POV

Tae Hyun benar-benar dibawa keluar masuk toko yang berderet rapi. Sebenarnya apa yang Yunho cari pun gadis itu tak mengerti. Dia hanya mengikuti setiap langkah lelaki itu yang menelisik setiap isi toko. Hingga akhirnya kini, mereka berhenti di salah satu toko, yang bahkan gadis itu tak tahu lagi namanya.

Lelah. Itu yang dirasakannya. Namun sepertinya Yunho masih bersemangat untuk meneliti rentetan baju lelaki di depannya. Tae Hyun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan mendesah pelan.

Tiba-tiba pusing itu kembali menyerang kepala Tae Hyun. Semua yang dilihatnya seolah menjadi ganda dan berputar-putar mendekatinya. Dia mencoba menutup matanya dan menggerakkan kepalanya, berharap semua yang dilihatnya menjadi normal, tapi tak berhasil. Matanya melirik Yunho, lelaki itu masih berkutat dengan baju-baju yang disusun rapi di gantungan toko. Tangannya kemudian bergerak menyentuh dahinya. Namun sebelum tangannya berhasil menggapai puncak kepalanya, badannya sudah limbung dan ia pun terhuyung ke belakang disertai  dengan pandangan yang makin berkunang.

GRAPP!!

Sebuah tangan sudah menahan punggungnya sebelum badannya mencapai lantai toko. “Tae Hyun-ssi, gwenchanayo?”

Wajah di depannya menampilkan mimik khawatir menatapnya. Untuk beberapa saat kemudian, Tae Hyun hanya terdiam dan menatapnya, hingga dia mendapatkan pandangannya kembali. “Yunho-ssi. Nee, gwenchana.” Lalu dia mencoba berdiri dan melepaskan tangan Yunho yang masih menyentuhnya.

“Jinchayo? Wajahmu terlihat pucat sekali. Bagaimana kalau kita ke klinik atau rumah sakit?”

Sudut mata Tae Hyun melirik Yunho sinis. Bukankah lelaki itu yang membuatnya begini?! Dalam keadaan yang tidak fit, tertekan karena ancamannya, dan dia masih mengajaknya jalan-jalan keliling kota. Tentu saja kini dia hampir saja pingsan. Rasa kesal akhirnya menjalar cepat ke kepalanya, melebihi rasa sakitnya sendiri. “YAA!! Aku tidak mau dikhawatirkan oleh orang menyebalkan sepertimu!!”

Yunho terkejut untuk sesaat. Bahkan ketika dia melihat tatapan marah dari gadis kecil itu, dia hanya bisa terdiam dan menggigit bibir bawahnya. “Arasseo. Terserah kamu saja. Ayo pulang.”

Kini berganti Tae Hyun yang terhenyak, menyadari ucapannya terlalu keras. nada suaranya kini sedikit melunak, “Kamu sudah selesai?”

“Sudah. Rumahmu di mana?”

“Aku langsung ke restoran. Aku harus bekerja lembur malam ini.”

Dan perjalanan keduanya akhirnya hanya dilalui oleh keheningan.

***

“Aku tidak memesan Daiquiri. Aku memesan Margarita! Bagaimana kamu ini?!” bentak seorang pengunjung restoran dengan nada penuh emosi khas ibu-ibu tua tanpa suami.

“Jeongmal joseonghamnida. Akan saya ganti. Sekali lagi, jeongmal joseonghamnida.” Tae Hyun membungkuk sedalam-dalamnya kepada pengunjung tersebut, mengambil Daiquiri di meja itu dan membawanya ke belakang.

Salah seorang temannya berjalan menghampirinya. “Hyun-nie, gwenchana? Tidak biasanya kamu salah menyajikan pesanan.”

“Gwenchana, unnie. Daiquiri dan Margarita sama-sama berwarna putih. Aku jadi salah mengambilnya,” ucapnya sambil tersenyum tipis, mencoba menenangkan temannya itu.

“Oke. Lain kali hati-hati.” Temannya itu kemudian beranjak meninggalkannya dan memnghampiri pengunjung lain.

Setelahnya Tae Hyun hanya bisa mendesah pelan. Tentu saja alasannya bukan itu. Dia sudah bekerja di sini untuk waktu yang lama, dan berbagai macam cocktail seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Tidak mungkin sekali bila dia salah mengenali Daiquiri dan Margarita, sama tidak mungkinnya jika dia salah mengambil Limoncello yang berwarna kuning lemon dan Cape codder yang berwarna merah.

Alasan sebenarnya, apalagi kalau bukan Yunho. Tidak, dia tidak menyukainya. Hanya saja dia sedikit merasa bersalah terhadap orang itu. Dia telah mengucapkan kata-kata kasar padanya. Dan kini, rasa bersalah itu semakin kuat menghantuinya.

Damn!

Hingga akhir jam kerjanya selesai pun, rasa bersalah itu masih menyelimutinya. Namun, minta maaf? Ooo tidak bisa! Bukankah lelaki itu dulu yang membuatnya begini?! Huh.

Tae Hyun keluar dari restoran yang buka 24 jam itu dengan dandanan asalnya. Jaket, jeans, sneaker dan kacamata tebalnya. Mungkin yang masih tertinggal hanya ulasan make-up dan tatanan rambutnya. Dan ketika itulah dia melihat lelaki itu.

Lagi. Untuk kesekian kalinya.

Apakah dunia begitu sempit hingga dia harus berulang kali bertemu dengan wajah menyebalkan itu? Apakah Jeju sudah kehilangan lahan lagi hingga dia harus berkeliaran di sekitar gadis itu?

“Kenapa kamu di sini?” tanyanya ketus.

“Menunggumu.” Yunho menjawab dengan wajah sepolos mungkin. Dan itu membuat Tae Hyun semakin merasa kesal. Memangnya lelaki itu tidak ada pekerjaan lain selain berkeliaran di sekitarnya?!

“Aku tidak minta untuk ditunggu.”

“Aku hanya ingin.”

“Terserahlah.” Tae Hyun berjalan meninggalkan Yunho.

“Chakkaman!” Yunho berlari mengejar langkah cepat gadis itu.

“Ani. Aku tidak akan menunggumu.”

Dan rasa pusing itu kembali menyerangnya. Pandangannya kembali terasa buram dan berputar seolah ingin melahapnya. Badannya terhuyung ke belakang hingga hampir jatuh ke jalanan.

Hampir. Karena lelaki itu berhasil menahan punggungnya yang lemas sebelum kulit mulusnya mendarat di aspal yang kasar.

“Tae Hyun-ssi! Ayo ke rumah sakit sekarang!”

“Andwae. Aku tidak punya uang.” Susah payah Tae Hyun mencoba berdiri dengan sisa-sisa tenaganya. Namun belum sempat dia mampu berdiri, badannya seketika melemas dan kesadarannya menghilang. Hal terakhir yang dapat didengarnya adalah teriakan Yunho memanggil namanya.

***

Silau.

Mata yang baru saja terpejam itu mengerjap-ngerjap sejenak, mencoba beradaptasi dengan keadaan sekitar.

“Tae Hyun-ssi? Kamu sudah sadar? Gwenchanayo?”

Tae Hyun menoleh, mencari asal suara yang memanggilnya. Dan kenapa dari seluruh manusia di muka bumi ini, gadis itu harus melihatnya. Ya, lagi-lagi Yunho.

“Kamu lagi. Ini dimana?” tanyanya lirih.

“Rumah sakit. Kamu terlalu memforsir dirimu sendiri hingga darah rendahmu kambuh.”

Tae Hyun menatapnya kesal. “Aku kan sudah bilang, aku tidak punya uang.”

“Aku yang membayarnya.”

“Kalau begitu aku harus membayarmu, kan? Haiisshh! Menyebalkan.”

“Tidak perlu, Tae Hyun-ssi.”

Tae Hyun mencoba berganti posisi, dia mencoba bangun dari tidurnya dan duduk di ranjnag kecil itu. “Oke. Kalau begitu kamu mau apa sebagai ganti uangmu?”

Yunho memutar kepalanya sejenak, memikirkan sesuatu. Dan Tae Hyun sudah merasakan firasat buruk tentang semua itu ketika melihat senyum licik yang muncul di bibir Yunho. Haruskah dia menarik ucapannya kembali?

“Bagaimana bila kamu menjadi pelayanku sehari penuh?” Yunho mengerling dan menyeringai licik menatap Tae Hyun.

Sontak kedua mata Tae Hyun membulat dan menatap Yunho dengan sebal. Kali ini dia bahkan ingin membuangnya dari jendela rumah sakit yang pasti sudah jauh dari tanah, kemudian membakarnya hidup-hidup di api unggun dengan tarian-tarian kuno khas Afrika. Sungguh lelaki menyebalkan!

“YAAA!!! TIDAK AKAN PERNAHH!!”

___________________________________________________

To be continued.

 

Bagaimana bagaimanaa?? Semoga puas yaaa… mianhae kalo kurang feelnya,kependekan ato apapun. Maklum, udah lama ga bikin FF. hhe…

Saran kritik monggo langsung diisi di komen bawah ini. No silent readers please!

Gomawoyoooooo…. ^^

 

Keterangan :

Nama minuman yang ditulis di atas itu nama-nama cocktail terkenal di seluruh dunia. Saya dapet dari salah satu postingan di satu web. 🙂

daripada saya jelasin satu-satu, mending langsung cekidot ke webnya ajaa di sini.