Author : Nindirau
Title : [Ficlet] Can’t Open Up My Lips
Length : One Shot (Ficlet)
Genre : Angst
Cast : No Minwoo Boyfriend, Lee Jieun (OC)
~~
I can’t open up my lips, I can’t move my feet
I’ve been watching you turn your face away from me
I didn’t have his strong heart, tears keep on falling
Breathless, crying because you’re falling
~~
Sudah lama aku menyukainya, sejak pertama aku melihatnya di hari pertama masuk sekolah. Wajahnya yang manis, tingkahnya yang lucu dan tidak dibuat-buat. Dan juga dia sangat pintar menyanyi. Aku pernah mendengar dia bernyanyi sekali ketika festival sekolah kami. Suaranya yang mampu meraih not tinggi memukau banyak orang, termasuk aku. Setelah dia bernyanyi di festival, orang-orang banyak yang mengidolakannya. Bahkan dia sudah mempunyai nama fansclubnya sendiri
Dia itu yeoja yang sangat polos. Setiap kali ada seorang namja yang menyatakan perasaan kepadanya, dengan wajah malu-malu, dia berkata “Aku masih belum ingin mempunyai hubungan sampai sejauh itu.”
Di satu sisi aku merasa lega karena dia selalu berkata seperti itu—setidaknya dia belum menjadi milik orang lain—dan aku masih punya kesempatan. Tetapi di sisi lain aku justru sering merasa khawatir, bagaimana jika suatu hari nanti dia sudah bertemu dengan namja yang tepat untuknya dan itu bukan aku?
~~
Sudah setahun aku berada di sekolah yang sama dengannya, tetapi sepatah katapun belum pernah terucap dari mulutku. Entah bagaimana menjelaskannya, tetapi jika aku menatap wajahnya, seluruh rangkaian kalimat perkenalan yang sudah aku persiapkan dengan matang sama sekali tidak bisa kuingat. Aku hanya bisa terpaku menatapnya. Kupikir mungkin sebaiknya aku menyerah, tetapi Tuhan seakan memberiku kesempatan langka. Aku berhasil mengetahui tempat dia bekerja sambilan. Ternyata dibalik wajah polosnya yang seperti anak kecil dia bekerja setiap hari di sebuah Café. Aku pun langsung mengunjungi café tersebut dan ternyata yang menyambutku pertama kali adalah dia. Dia berkata “Selamat datang.” Sambil menebar senyumnya yang bisa membuat jantungku bekerja dua kali lebih cepat. Aku harus pintar-pintar mengendalikan perasaanku di depannya agar tidak terlihat bahwa aku sangat menyukainya
Dia mengantarkan minuman yang kupesan, dengan sebuah cake. Heran. Aku bahkan tidak memesan makanan
“Ini untukmu. Free cake untuk setiap pengunjung pertama.” Katanya lagi-lagi sambil mengulum senyum manisnya. Aku jadi merasa canggung sendiri. Tetapi bukankah ini kesempatan untukku? Aku tidak ingin menyia-nyiakannya
“Terima kasih, kau murid Performing Arts juga kan?” tanyaku langsung. Tidak peduli bahwa pertanyaanku sama sekali tidak ada hubungannya
Dia mengangguk pelan, “Ne. kau juga? Aku baru pertama kali ini melihatmu.”
Perkataan yang dia ucapkan membuat diriku serasa terpukul. Ternyata dia sama sekali tidak mengenaliku meskipun aku selalu berada di dekatnya—walalu itu jaraknya 5 meter—demi melihat wajahnya. Harusnya, setidaknya dia tahu wajahku
“Ah, iya. Wajar kalau kau tidak mengenaliku. Kau kan sangat terkenal.” Bahkan suara tawaku saja terasa hambar
Aniya, aku tidak seterkenal yang kamu bayangkan. Ngomong-ngomong, siapa namamu?” Tanya dia ramah
Ingin sekali aku melonjak kegirangan kalau saja tidak ada pengunjung lain yang masuk. Dengan senang hati aku mengulurkan tanganku, “No Minwoo imnida.”
Dia menyambut uluran tanganku, “Lee Jieun imnida. Semoga kita bisa berteman baik ya, Minwoo-ssi.”
~~
Semenjak perkenalan itu, hampir setiap aku rajin mendatangi café tempat Jieun bekerja. Entah hanya sekedar memesan minuman atau makan. Sepertinya Jieun tidak merasa risih karena setiap hari café selalu aku datangi. Justru dia selalu menyambutku dengan hangat. Beberapa kali dia juga memberiku cake gratis padahal aku bukan pengunjung pertama yang datang. Ketika Jieun kutanyakan tentang hal tersebut dia menjawab, “Karena kau temanku makanya terkadang aku memberimu bonus. Tidak apa kan?”
Perlakuan Jieun terhadapku yang termasuk ‘istimewa’ ini membuatku berfikir apa Jieun juga menyukaiku?
Dalam hati aku berharap bahwa jawabannya adalah ‘Iya’
~~
Sudah kuputuskan, aku akan menyatakannya kepada Jieun.
Kutulis semua luapan perasaanku di selembar kertas, lalu kulipat menjadi kecil dengan bentuk yang lucu. Kebiasaanku jika berhadapan dengan kertas, pasti akan kulipat-lipat sehingga dapat berbentuk sesuatu. Aku berjalan memasuki café. Yang ada dalam bayanganku adalah Jieun menyambutku dengan hangat. Tetapi begitu aku membuka pintu café, yang menyambut bukan Jieun, justru orang lain
~~
Akhir-akhir ini tingkah Jieun sangat aneh. Setiap saat dia selalu melirik ke arah jendela café dan dari ekspresinya kusimpulkan bahwa dia sedang ingin melihat sesuatu. Tapi apa? Siapa?
Karena hal itulah Jieun sudah jarang menyambutku lagi di depan pintu café, serta mengantarkan makanan atau minuman yang kupesan. Sepertinya dia mengoper tugasnya kepada orang lain. Aku jadi berfikir, sebenarnya apa yang dilihat oleh Jieun sampai-sampai dia berubah menjadi seperti ini?
Hari ini pun aku memasuki café dan bertingkah seperti orang bodoh. Hanya memesan minuman—yang jelas bukan diantarkan oleh Jieun—lalu duduk melekat di bangku seraya melihat aktivitas Jieun. Saat ini dia sedang menyapu sambil melamun di pinggir Jendela. Belum ada tanda-tanda kalau dia akan menghampiri Jendela dan melihat seseorang—entah kenapa aku yakin Jieun ingin melihat seseorang—dari lantai dua café.
Tiba-tiba Jieun menjatuhkan sapunya dan beranjak menuju jendela. Dia melihat dengan seksama sosok di balik Jendela itu. Kali ini aku bisa melihat siapa sosok yang akhir-akhir ini selalu Jieun lihat. Sesosok namja yang kuperkirakan usianya jauh lebih tua dariku. Wajahnya tidak terlihat dengan jelas karena aku melihatnya dari jauh, tetapi aku yakin itu pasti seorang namja.
Dan Jieun terus memandanginya
~~
Ini sudah lewat 2 bulan sejak terakhir kali aku berbicara dengannya. Keadaan sekarang sama persis dengan sewaktu aku belum berkenalan dengannya. Aku hanya bisa memandanginya tanpa bisa mengucap sepatah katapun.
Setiap kali dia melihat jendela agar bisa memandang namja itu, perasaanku tidak karuan. Aku tidak bisa memandang wajahnya yang tersenyum sendiri ketika melihat namja itu. Aku tidak bisa memandang wajahnya yang berseri-seri ketika namja itu berkunjung ke café untuk pertama kalinya. Aku benar-benar tidak bisa
~~
Dari awal aku memang sudah merasakan perasaan khawatir, jika seandainya dia sudah menemukan orang lain yang bisa menarik hatinya.
Setiap saat aku selalu berharap bahwa kejadian yang kutakutkan ini tidak akan pernah terjadi
Setiap saat aku selalu berharap bahwa akulah yang akan membuat hatinya tertarik
Setiap saat aku selalu berharap bukan namja itu yang akan mengisi hatinya
Sekarang itu hanyalah keinginanku yang tidak kunjung tersampaikan
Aku memandang Jieun untuk kesekian kalinya, wajahnya tersipu malu ketika namja itu akhirnya menyatakan perasaannya padanya
Sakit. Ya. Hati ini sangat sakit sekali
Jika aku bisa memutar waktu kembali, aku akan tetap menyatakan perasaanku walau aku tahu dia tidak menganggapku ada—sebagai namja yang bisa mengisi hatinya.
Tetapi yang terjadi saat itu, lagi-lagi mulutku terkatup erat. Aku tidak bisa membuka mulutku untuk sekedar mengucap 1 kata, “Saranghae.”
Dan kini aku hanya bisa meremas kertas kecil ini dengan erat
FIN
~~
FF ini sudah pernah dipublish di http://fanfictionschools.wordpress.com ^^
Ini ficlet pertama saya. Kali ini main castnya si maknae boyfriend, Minwoo. Jujur, saya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin membuat FF dengan cast Minwoo. Soalnya saya lebih suka Jo Twins ketimbang si maknae ini #DitabokFansMinwoo.
Tetapi setelah iseng ngelihat MV yang dibintangi sama Minwoo, saya jadi mulai suka gara-gara perannya yang kasihan banget di MV itu. Ini Ficlet juga sebenernya ceritanya hampir sama (atau mungkin justru sama?) dengan cerita di MV yang berjudul sama dengan Ficlet ini (saya tidak tahu harus memberi judul apa lagi). Dan sebenernya karakter “Lee Jieun” itu mau aku buat jadi IU beneran. Tetapi karena takut fansnya Minwoo nggak terima ya sudah aku anggep dia OC aja tapi tetap dengan nama aslinya IU ^^
Hope you’ll LIKE and COMMENTs . I always waiting for your comments :)